[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #2

cats

Superplayboy

#1 [The End] #2 [The New Girl]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Kim Hyein. Byun Baekhyun. Park Chanyeol. Other cast.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

.

.

.

.

.

Jongin berjalan menekuk muka sepanjang koridor menuju kelas. Sedangkan di sampingnya, Oh Sehun, menundukkan kepalanya lesu. Tiba-tiba Jongin dikagetkan oleh Sehun yang menghentikan langkahnya mendadak. Membuat posisi Jongin sedikit di depan sekarang, lalu ikut berheti ketika Ia sadar berjalan sendiri. Lelaki hitam itu menoleh ke sumber masalah, dilihatnya Sehun yang sedang mengepalkan kedua tangannya di samping badan itu dengan tatapan heran. Sehun kemudian berjalan mendekat pada Jongin, berdiri di hadapannya. Menambah tingkat keheranan Jongin.

“Hei! Ada apa denganmu, ha?” Jongin menghentak perilaku Sehun yang kelewat aneh hari ini. Beberapa menit yang lalu Ia baru saja terdiam membeku saat Jongin memarahinya karena masalah taruhan dengan Hye In, hingga membuatnya memelas seperti itu. dan sekarang, Sehun berdiri dengan wajah serius di depan Jongin dengan tiba-tiba. Ah! Kenapa Bocah ini aneh sekali?.

“Baiklah Oh Sehun, Kau bisa melakukannya. Ini hal yang mudah, bukannya Kau sudah melakukannya berkali-kali? Ayolah… ini demi dirimu Oh Sehun!” Sehun terdengar menyemangati dirinya sendiri dengan menggumam kecil, namun suara lirih itu masih terdengar di telinga Jongin.

“Heh?” Jongin mendelik heran. Sehun kembali menundukkan kepalanya dalam.

Bboing! Bboing!

“Uhk! Apa-apaan kau?!” jongin hampir tersedak ludahnya sendiri saat Oh sehun tiba-tiba memasang aegyo- nya pada Jongin. Jongin terlihat sibuk memukul-mukul dadanya sendiri, memberikan efek dramatis kalau Ia benar-benar tersedak setelah melihat itu. saat Jongin masih sibuk, Sehun sekali melangkah ke depan, mendekat pada Jongin lalu mengepalkan kedua tangannya di depan dagu sambil berusaha membuat matanya yang sipit itu terlihat lebar. Beberapa siswa yang kebetulan lewat di koridor yang sama dengan mereka, hanya saling memandang satu sama lain lalu tertawa sebelum Sehun mengarahkan kepalan tangannya pada mereka.

“Jongin-ah…” Sehun kembali dalam posisinya dengan tambahan bibir yang dikerucutkan. Jongin masih sibuk.

“ya… Kim Jongin!” Sehun berucap lembut, membuat bulu kuduk Jongin berdiri seketika. Lelaki itu terhenti dari kesibukannya lalu menatap jijik ke arah Sehun. Jongin merasa benar-benar mual sekarang.

Ada udang di balik batu

Jongin teringat akan kata-kata itu, lalu berfikiran pasti Sehun ingin ia meminta Hye In menghentikan taruhan ini seperti yang di katakannya tadi saat Ia memarahinya. Dan Jongin tidak ingin naik darah lagi setelah ini, Lelaki itu memilih memutar badan, berniat menjauh. Namun Sehun tetap yak patah semangat, Lelaki Pucat itu kembali menghadapkan dirinya di depan Jongin sambil memasang aegyo-nya itu lagi. Tak ada pilihan, Jongin kembali berbalik ke arah semula lalu berlari secepatnya dengan tangan yang di letakkan di perut.

“Ya! Mau kemana kau?!” Sehun berterak pada Jongin yang semakin terlihat kecil di matanya.

“Aku harus ke toliet!” teriakan balasan terdengar sebelum Jongin berbelok ke kanan, arah di mana toilet berada. sehun berdecak kesal lalu mengacak rambutnya kasar dengan kaki yang dihentakkan di lantai, kembali membuat kekehan kecil siswa lain yang melihat tingkahnya.

~

Pintu rumah berdecit setelah beberapa bunyi tut dari tombol kunci rumah terdengar. seseorang telah masuk, lalu mengganti sepatu yang ia pakai dengan sandal selop yang sudah disediakan.

“Aku pulang!” teriaknya sambil memandang seisi rumah. Seorang wanita paruh dengan tangan kanan penuh jeruk yang siap masuk mulutnya kapan saja dan tangan kiri yang setia menggenggam remote tv yang sedang menayangkan drama di depannya. Wantia itu menoleh ke arah sumber teriakan.

“Oh kau sudah datang… Hye In! Oppa-­mu sudah datang!” teriak wanita itu.

Ha?” Jongin terheran dengan ucapan wanita yang tak lain adalah ibunya kemudian menoleh ke arah tangga, di mana suara langkah kaki tergesa muncul sbeelumnya. Hye In turun dengan setengah berlari, membuat Jongin berharap tak terjadi hal-hal yang tidak diingankan setelahnya, seperti adik perempuannya itu tersandung dan jatuh. Jongin menggeleng cepat, menepis pikiran-pikiran itu.

“Dia terus saja menunggumu…” ucap ibu Jongin tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. Jongin hanya menatap bingung Hye In yang sudah berdiri di depannya. Wajah gadis itu gelisah.

“Jong- ack!” Hye In memekik pelan setelah Jongin menginjak kakinya. Lelaki itu tak punya pilihan lain selain menyelamatkan adiknya itu dari tatapan tajam ibu saat Jongin menginjak kakinya. Hye In baru ingat kalau dia sekarang ada di rumah, peraturan akan usia sangat ditekan. Jongin menjauhkan kakinya dari kaki Hye in, lalu mendapat balasan yang sama. Dan dia harus menahan sakitnya dalam diam, takut ibunya curiga.

Op-oppa…” Hye In berucap pelan sambil memalingkan wajahnya. Menahan muaknya memanggil Jongin dengan kata itu. Pandangan ibu Jongin sudah kembali mengarah pada TV dan sekarang gadis itu menarik lengan Jongin dengan kasar menuju lantai atas. Langkah Hye In berhenti di kamarnya, membukan pintu dengan cepat lalu menutupnya dengan kasar. Lengan Jongin sudah lepas dari cengkraman Hye In sejak mereka sampai di ujung tangga. Jongin melangkah masuk dengan santai, berbeda dengan Hye In yang langsung meloncat dengan brutal ke atas ranjang, membuat benda besar dengan motif bunga itu berdecit.

“Ada apa?” Jongin duduk di tepi ranjang. Hye In meremas ujung bantal yang kini dipeluknya.

Oppa…” suaranya melembut, remasan tangannya pada bantal pun sudah terlihat longgar. Hye In menggigit bibirnya, jijik dengan apa yang barusan ia ucapkan. Sepertinya gadis itu baru saja mengatur emosinya yang entah karena apa. Jongin terkaget dengan apa yang barusan didengarnya.

“Bisa kau ulangi? apa kau baru saja memanggilku Oppa saat Ayah dan Ibu tidak ada?” Jongin bertanya dengan penuh simpati. Membuat Hye In menatapnya geram dan Jongin terkekeh pelan.

“Bisa Kau katakan pada sehun kalau Kau keberatan dengan taruhan ini… Oppa?” ucap gadis itu setelah di rangkulnya lengan Jongin erat-erat. Jongin hanya menatap lengan kirinya dengan lengan Hye In yang melingkar. Sudah kuduga…

Ada udang di balik batu

Kata pepatah yang sebelumnya juga terlintas di pikirannya saat Sehun beraegyo padanya. Kata itu kembali berbutar sejak Hye In memanggilnya oppa tanpa tatapan tajam dari ibunya. Dan benar juga, Hye In memanggilnya Oppa, merangkul tangan Jongin-yang itu sangat langka terjadi-, dan jangan lupakan kalau sekarang ia menyandarkan kepalanya di bahu Jongin dengan mata membulat. Lagi-lagi semua ini karena taruhan bodoh yang Sehun dan Hyein buat tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi setelahnya.

“Ayolah Oppa…” Hye In mengeratkan rangkulannya saat tak mendengar jawaban Jongin sama sekali. Lelaki itu hanya memasang wajah diam. Lalu bangkit dari ranjang, membuat rangkulan Hye In terlepas. Membuat gadis itu terlihat lebih gelisah dibanding sebelumnya. Ah, ia menggunakan trik lama.

Oppa! Kau tau kan Sehun akan sangat tega padaku! Ia akan menyuruhku dengan perintah-perintah aneh!” Hye In mengekor di belakang Jongin yang mulai melangkah menuju pintu kamar. Jongin hanya diam dengan tangan kanan yang sudah menyentuh gagang pintu.

“Ayolah Oppa…” nada ucapan Hye In melemah, ia mulai menyerah dan bersumpah ia akan melakukan apapun yang Jongin minta jika itu membuatnya lepas dari taruhan bodoh itu.

“Apapun yang kau lakukan, itu tak akan mempengaruhiku sedikitpun…” Jongin sekilas membalikkan badan menghadap Hye In lalu kembali berlalu pergi. Meninggalkan Hye In yang menggeram di tengah daun pintu sambil menatap Jongin yang berjalan menuju tangga.

“Ya! Lagipula aku akan menang, Op– Jongin!” Hye In berteriak keras lalu suara debaman keras dari pintu kayu itu berbunyi setelahnya. Membuat Jongin memegang pegangan tangga dengan kuat karena terkejut dan hampir jatuh.

“Lagi pula kemenanganmu tergantung padaku” Jongin mencibir. Lalu berhenti berjalan menuruni tangga ketika matanya menangkap wajah sang ibu yang kelewat menakutkan sambil menatap lantai atas. Jongin menelan ludahnya dengan susah payah, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Berusaha menghindari sesuatu yang berbahaya akan terjadi, dan tentunya ia tak ingin terlibat atau menjadi salah satu sasaran serangannya. O o, beruang lepas dari kandang.

“KIM HYE IN!!!”

~

Setiap pagi, Jongin akan berjalan menebar pesona sepanjang koridor pada setiap gadis yang ada lalu masuk ke kelas, menyapa Park Chanyeol, dan langsung duduk dengan tenang. Namun kali ini berbeda, pagi ini ia harus menggerutu sepanjang koridor-namun tetap mempesona di mata gadis-gadis yang sudah menunggu di koridor- semenjak Oh Sehun dan Hye In bertengkar sepanjang perjalanan ke sekolah. Keduanya tak henti berdebat tentang siapa yang akan memenangkan taruhan. Dan seperti sebelumnya, Jongin hanya diam. Hanya memilih untuk melanjutkan langkah kakinya tanpa memperdulikan ocehan dua manusia di belakangnya, walaupun Jongin akui itu sangat mengganggunya.

“Yo! Brother! Kau sudah datang rupanya” Chanyeol muncul di dari dalam kelas dengan hanya bagian kepalanya yang ia munculkan dari pintu kelas.

“Seperti yang kau lihat” Jongin memberikan high5 seperti biasanya lalu masuk dengan lunglai ke dalam kelas. Meninggalkan Oh Sehun dan Hye In yang masih berdebat di luar. Chanyeol yang masih di posisinya memilih untuk memunculkan seluruh tubuhnya, ia sudah seutuhnya berada di luar kelas sekarang. Lelaki tinggi itu memandang heran Hye In dan Sehun lalu tersenyum gila.

“Kalian bertengkar lagi?” Chanyeol menyela, membuat dua orang yang sedang berdebat itu terdiam sambil memandang Chanyeol sejenak lalu kembali melanjutkan debat. Senyuman gila Chanyeol berubah menjadi senyuman kecut.

“Ya ya ya, baiklah…” Chanyeol kembali masuk ke kelas dan lagi-lagi membiarkan kepalanya menyembul keluar, memandang Sehun dan Hye In sebentar.

“…bukannya sepasang kekasih butuh pertengkaran sebagai bumbu dalam hubungan mereka?” Chanyeol selesai dengan ucapannya dan bergegas menjauh dari keduanya setelah Sehun dan Hye In benar-benar menoleh pada Chanyeol disertai dengan tatapan geram.

“Siapa yang sudi dengan laki-laki albino ini?!”

“Apa Kau bilang?! Aku juga tidak sudi dengan gadis jadi-jadian sepertimu!”

“Kyungsoo lebih baik Darimu!”

“Kau bahkan lebih buruk Dariku!”

Suara mereka masih terdengar saat Chanyeol menghampiri bangku Jongin, lalu ikut duduk di samping Jongin, tentunya di tempat Sehun. Jongin terlihat terkekeh dengan para gadis yang memanggilnya centil lewat jendela kelas. sama sekali tak menghiraukan Chanyeol yang duduk di sampingnya.

“Oh, Jongin!” Chanyeol menyenggol bahu Jongin, dan berhasil membuat lelaki hitam itu menoleh.

Hyung! Sejak kapan kau di sini? Kau membuatku terkejut!” Jongin mengelus dadanya dengan mata melotot lebar. Chanyeol hanya memutar bola mata sebal, Kim Jongin di depannya ini hanya mendrama keterkejutannya tadi.

“Apa kau perlu kusarankan untuk masuk kelas drama, Kim Jongin?” Jongin hanya terkekeh pelan sambil memutar badannya menghadap Chanyeol. Lelaki tiang itu menyandarkan dagunya di kedua telapak tangan dengan siku yang bertumpu pada meja. Jongin menatapnya bingung.

“Ada apa, Hyung?” Jongin bertanya sambil meniru posisi lelaki yang dipanggilnya Hyung itu. Chanyeol tersenyum gila, lalu menggidikkan kepalanya menuju pintu kelas. Jongin mengikuti, lalu menemukan sosok Hye In dan Sehun di sana, tetap dalam keadaan yang sama ketika Jongin meninggalkan keduanya untuk masuk kelas.

“Apa mereka selalu bertengkar seperti itu?” Chanyeol membuka mulut. Diliriknya Jongin yang terlihat menggidikkan bahu, tanda tak tau.

“Entah, tapi aku rasa iya… Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu satu sama lain” Chanyeol mengangguk mengerti.

“Oh Sehun! Kim Hye In! Bisa kalian berhenti bertengkar! Telingaku hampir pecah mendengar ocehan-ocehan kalian!” teriakan yang cukup keras dari Chanyeol berhasil membuat dua orang itu menoleh bersamaan. Sebelum berteriak kompak.

“Diam kau tiang!” teriakan Mereka sampai di telinga Jongin dan Chanyeol, keduanya memasang rekasi yang sama, wajah terkejut dengan mata melebar.

“A-apa… mereka baru saja… membentakmu, Hyung?” Jongin bertanya pelan. Lalu menoleh pada Chanyeol yang terlihat diam dengan mulut menganganya. Ia masih tak percaya.

“Kurang ajar!” Chanyeol menggumam pelan dengan mata terpejam dan tangan yang mengelus dada, berusaha untuk menstabilkan emosinya. Ia akan benar-benar kacau ketika marah. Jongin tersenyum getir dengan kedua tangan mengusap-usap bahu Chanyeol.

“Sabar hyung, sabar…”

~

Seorang gadis baru saja terlihat memasuki toilet dengan tulisan ‘Girls’ yang dipasang di pintu. Gadis itu berhenti di depan wash-stand, menatap pantulan bayangan dirinya di cermin lalu merapikan sebentar helaian rambutnya yang tidak terlalu panjang.

Suara gemericik air terdengar dari keran yang baru saja dinyalakannya. Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah pancuran air, lalu mencucinya di sana.

Angin berhembus lumayan kuat membuat pintu toilet bergerak menutup dengan perlahan, gadis itu tak menyadari sama sekali.

Blam!

Pintu dengan tertutup dengan tiba-tiba, menyebabkan bunyi ‘klik’ yang cukup nyaring terdengar,  bisa dipastkan kalau kunci darurat pintu itu sedang aktif. Membuat gadis yang ada di dalam toilet terlonjak kaget dan langsung menghampiri arah pintu, membiarkan suara gemericik air mengisi ruangan itu ketika gadis yang di dalam tadi belum sempat mematikan keran air. Ia terlalu panik sekarang.

Diputarnya gagang pintu, dengan harapan pintu akan terbuka setelahnya. Nihil, tak terjadi apapun. Gadis itu mengitari toilet, dengan harapan ada orang selain dirinya yang bisa membantu. Lagi-lagi tak ada siapapun saat dia membuka satu persatu pintu kamar mandi, ia terkunci di dalam toilet sendirian. Ditengoknya ke dinding, tidak ada jendela yang bisa mengeluarkannya dari sini. Pantas saja toilet ini sangat pengap.

Ia kembali mendekati pintu lalu menggedornya dengan keras, berharap ada orang yang mendengar lalu menolongnya. Namun peluang ada orang yang mendengarnya terlalu kecil ketika ia terkunci di tengah jam pelajaran.

“Seseorang! Tolong aku!” .

.

.

.

.

.

TBC

cuap-cuap dikit. Maklum penataan kalimatnya agak beda sama yang lain, soalnya ini tulisan dua tahun yang lalu dan baru bisa dipublish akhir-akhir ini :v

ya semoga masih ada yang nunggu lanjutan fanfic ini, semoga masih cinta sama kisah Jongin selanjutnya kayak gimana :3

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #2

  1. heran deh sm sehun-hye in g mau taruhan tp ko mlh taruhan,sapa tuh yg kekunci didlm toilet ,jongin tolongin dia,btw knp dah lama bikin ff baru publish skarang ***kepo deh*bye…next chapt…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s