[EXOFFI FREELANCE] Shouldn’t Have (Chapter 5)

wpid-1444569574016

by bebebaek_

Prolog | chapter 1 | chapter 2 | chapter 3 | chapter 4

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-


.

.

.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit Ae yeon diliputi rasa cemas, ya bagaimana tidak setelah kejadian semalam Sehun mengantarkannya kembali ke rumah sakit menyusul Ji Min.

Setelah sampai di depan rumah sakit ae yeon bergegas turun setelah sebelumnya berterima kasih kepada sehun.

Tepat di depan pintu ruang istirahat residen Ae yeon membuka pintu tersebut perlahan, Ae yeon mendapati Ji Min yang yang sedang berbaring di atas bangsal tempat istirahat di ruangan tersebut, perlahan Ae yeon mendekat dan duduk di tepi bangsal.

“Ji Min-ah, kau tidak apa-apa ?” Ae yeon bertanya pelan dengan menepuk pundak Ji Min.

Tidak ada respon dari Ji Min membuat Ae yeon semakin cemas.
“Ji Min-ah” panggil Ae yeon sekali lagi.

Kali ini Ji Min memberi respon, Ji Min berbalik lalu bangun dan duduk menghadap Ae yeon. Jelas Ae yeon bisa melihat raut wajah sedih Ji Min walaupun sekarang Ji Min berusaha tegar di hadapannya.

“Ji Min-ah kau baik-baik saja ?”

“Eoh, aku baik-baik saja. Apa kau tidak melihat wajahku ? aku bahkan tidak menangis”

Ae yeon menatap Ji Min lekat, yah Ji Min memang tidak menangis hanya saja Ae yeon tahu pasti sekarang sahabatnya itu sedang menutupi kesedihannya.

“Ji Min-ah menangislah, ungkapkan saja semuanya. Aku akan mendengarkanmu” kata Ae yeon dengan wajah cemas.

“Yak, kau ini aku tidak menangis mengapa kau suruh menangis” Ji Min berkata dengan wajah kesal.

“Kau begini malah semakin membuatku cemas”

“Gwenchana Ae yeon-ah, aku hanya lelah dan ingin tidur. Aku tidak memikirkannya karena kami baru saja berkencan jadi mungkin aku belum mencintainya” kata Ji Min dengan raut wajah seolah-olah memang tidak ada apa-apa yang Ae yeon yakini hanya dibuat-buat oleh Ji Min.

“Kau yakin ?”

“Eoh, aku yakin. Jadi kau pulanglah, aku mau tidur sebentar sebelum pergantian nanti malam”

“Ji Min-ah”

“Hhmmm, pulanglah tidak perlu mengkhawatirkanku, bukan kah besok kau yang akan menggantikan ku dipergantian pagi ?”

“Ne” jawab Ae yeon lemah.

“Pulanglah dan beristrihat”

“Baiklah, tapi… jika kau perlu seseorang aku….” Kalimat Ae yeon terputus karena Ji Min berkata.

“Aku tidak apa-apa”.

.

.

.

Mengingat kejadian semalam bagaimana Ji Min berusaha tegar membuat banyak pemikiran berputar-putar dikepala Ae yeon.

“Apakah Ji Min benar-bener tidur ?, dia pasti tidak bisa tidur. Bagaimana jika Ji Min menangis semalaman. Matanya pasti sembab. Atau Ji Min bisa saja membuat keributan dirumah sakit seperti waktu itu… Ishhhhh” Ae yeon menggelengkan kepalanya seolah menjauhkan pikiran-pikiran buruk dikepalanya.

Ae yeon lantas berjalan lebih cepat dan bergegas menuju rumah sakit..

.

.

Ae yeon berhenti tepat di samping sunbaenya yang sedang berdiri disamping meja perawat. Ae yeon mengikuti arah pandangan sunbaenya tersebut dan berkata “Apa yang sedang sunbae lihat ?”

“Eoh, kau.. yak ! membuatku terkejut saja” kesal Baekhyun.

Ae yeon sekali lagi ikut melihat kearah penglihatan baekhyun sebelumnya.

“sunbae terlihat begitu serius ? ada apa disana ?” kata ae yeon lagi.

“Ya, ya Ae yeon-ah. Apa terjadi sesuatu pada Ji Min ?” baekhyun balik bertanya

“Ji Min ?” Tanya Ae yeon dengan raut wajah bingung.

“Eoh, kau lihat” Baekhyun menunjuk kearah Ji Min yang sedang sibuk diruang rawat anak.

“Dia terlihat aneh, bahkan sejak semalam” kata baekhyun lagi.

“Aneh ? Aneh bagaimana sunbae ?”

“Aneh, dia terlihat begitu bersemangat tapi itu terlihat berbeda dan seperti di paksakan” teliti baekhyun.

Ae yeon ikut meneliti ke arah Ji Min “Hhmmm, sunbae. Aku rasa dia memang sedang… patah hati” Kata Ae yeon setelahnya.

“Patah hati ? Lagi” Tanya baekhyun terkejut.

“Ne, tepatnya kemarin” kata Ae yeon.

Dan disaat Baekhyun dan Ae yeon sedang membahas Ji Min, orang yang dibahas tanpa sepengetahuan mereka mendekat dan berkata.

“Apa kalian sedang membicarakanku” Tanya Ji Min segera setelah tiba di depan Baekhyun dan Ae yeon.

Keduanya terkejut. Merasa tertangkap basah akhirnya baekhyun membuka suara “Yak, kau membuatku kaget saja”

Ji Min tersenyum lebar “Eoh, apa kalian membicarakan ku ? ahh aku merasa sedang dibicarakan barusan” kata Ji Min lagi.

“Ji Min-ah, kau tidak apa-apa” Tanya Ae yeon.

“We ?, kau selalu bertanya seperti itu sejak semalam ?”

“Ani, tentang jongd..”

“Ahhh, jangan sebut namja berengsek itu di depanku lagi, aku memang bodoh terpedaya olehnya” potong Ji Min.

“Kau tidak sedih ?” Tanya Ae yeon lagi.

“Sedih ? untuk apa ? aku malah bersyukur karena mengetahui lebih awal kebusukannya” jawab Ji Min mantap.

“Uuuuu Ji Min-ah.. kau keren” puji Baekhyun.

Ji Min tersenyum “Benarkah ? benar.. benarkan sunbae ?” tanya Ji Min antusias.

“Tentu saja, untuk apa bersedih karena namja seperti itu. Tapi seharusnya kau memberinya sebuah kenangan yang tidak terlupakan” baekhyun menyengir diujung kalimatnya.

“Eyyyy itu sudahku lakukan sunbae”

“Benarkah ? Hadiah apa?”

“Tamparan” kata Ae yeon cepat dan setelahnya membuat ketiganya tertawa bersama.

Saat ketiganya masih tertawa dan saling bercengkrama, tiba-tiba Handphone Ae yeon bergetar yang menandakan sebuah pesan masuk.
Ae yeon lantas mengambil Handphonenya di saku kanan jubah putihnya kemudian membuka isi pesan tersebut.

Dari : Se Hun.
Apa kau sibuk ? Bisakah kau datang kesini, aku sedang di caffe dekat rumah sakit.

Membaca pesan dari Sehun, Ae yeon lantas tersenyum simpul kemudian memasukkan lagi handphonenya kedalam saku. Sebelum berbalik Ae yeon kembali menetralkan ekspresi wajahnya dan berkata.

“Aku permisi sebentar ne ?”

Ji Min dan Baekhyun mempersilahkan Ae yeon tanpa ada rasa curiga, lantas ae yeon berbalik keluar ruangan dan bergegas menuju caffe yang dimaksud Sehun.

.

.

.

Setibanya di caffe Ae yeon meliat sekeliling dan menemukan Sehun tengah duduk di kursi kayu sebelah selatan caffe tersebut. Suasana caffe masih sangat lengang. Ae yeon tersenyum singkat kemudian melangkah menghampiri Sehun.

“Ohh, kau sudah tiba?” Tanya sehun sesaat setelah Ae yeon berdiri di hadapannya.

“Hmmmm” jawab Ae yeon dengan senyum manisnya.

“Duduklah, aku telah memesannkan coffe latte untukmu. Bukankah itu kesukaanmu ?”

“Ne” jawab Ae yeon masih dengan senyuman yang semakin mengembang.

Melihat Ae yeon menyesap coffe lattenya sehun memandangnya lekat, hatinya kembali bergetar. Dan bom itu kembali aktif untuk kesekian kalinya di dada sehun. Bahkan hanya dengan menatap gadis di depannya sehun merasa bahagia. Ya bahagia, entahlah sehun masih tidak mengerti dengan perasaannya.

Masih dengan lamunannya menatap Ae yeon di depannya sehun berujar di dalam hati “Ku harap Park Ae yeon itu adalah kau”

Mendapati Sehun yang melamun dengan menatap kearahnya, Ae yeon bingung lantas melambaikan tangannya pelan kearah wajah sehun.

“Sehun-ah ? Kau melamun ?”

Tersadar sehun lantas mengalihkan pandangannya sesaat lalu kembali menatap Ae yeon.

“Eoh” sehun tersenyum malu kemudian kembali bersuara “Akhir pekan nanti kau punya acara ?”

“Tidak, we ?”

“Mau berjalan-jalan denganku ?”

“Ne ?” Ae yeon terkejut dengan ajakan sehun yang tiba-tiba.

Menyadari keterkejutan Ae yeon, sehun tersenyum tipis kemudian kembali berujar “Baiklah, ku anggap kau menyetujuinya”

“Memangnya kau mau berjalan-jalan kemana ?” Tanya ae yeon akhirnya.

“Hmmmm rahasia” jawab sehun kemudian kembali tersenyum.

.

.

.

Sepulangnya dari rumah sakit ae yeon hanya berbaring diatas tempat tidurnya. Merasa bosan akhirnya gadis itu turun ke ruang tengah kediaman keluarga park dan menyalakan telivisi.

Ae yeon memindah-mindahkan saluran telivisi mencari-cari acara yang menarik baginya dan akhirnya memilih untuk menonton acara musik.

Saat ae yeon tengah fokus pada acara yang ditontonnya kedua orang tuanya turun dari kamar dengan berpakaian rapi. Nyonya park mendekat kearah ae yeon dan berkata.

“Ae yeon-ah eomma dan appa pergi dulu ne ?”

Merasa dipanggil ae yeon menoleh kearah sumber suara, ae yeon benar-benar tidak menyadari langkah kedua orang tuanya mendekatinya sebelumnya.

“Eoh, memangnya eomma dan appa pergi kemana ?” Tanya ae yeon.

“Bertemu dengan teman lama” jawab tuan park.

“Hmmm” ae yeon hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya.

“Ae yeon-ah, bagaimana apa kau telah memikirkannya ?” Tanya tuan park kemudian.

Ae yeon mengerutkan alisnya bingung dengan pertanyaan appanya dan akhirnya ae yeon balik bertanya ?

“Memikirkan tentang apa appa ?”

“Tentang perjodohanmu ?”

Ekspresi ae yeon seketika berubah. Entahlah beberapa hari belakangan dia memang benar-benar melupakan perihal perjodohannya denga cucu teman almarhum kakek park.

Aneh ? yah ae yeon merasa aneh. Selama ini setelah dua bulan berlalu tentang perjodohannya oleh kakek park, sejak ae yeon selalu murung hingga saat ini ae yeon telah kembali menjadi dirinya dan tidak lagi memikirkan tentang perjodohan itu, kedua orang tuanya sama sekali tidak pernah menyinggung perihal perjodohan tersebut.

Ae yeon benar-benar lupa, ae yeon terlalu fokus dengan teman barunya ah ya kenalan baru. Entahlah ae yeon merasa nyaman setiap bersama namja itu. Memikirkannya saja membuat ae yeon kembali lupa dengan pertanyaan sang appa.

Lama ae yeon tertegun sebelum tuan park kembali bertanya.

“Bagaimana ae yeon-ah, semua tergantung keputusanmu. Kami tidak akan memaksa”

“Eoh” ae yeon tersadar dari lamunanya “aku masih tetap keberatan appa, bagaimanapun aku memikirkannya. Ku rasa aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku ingin menikah dengan namja pilihanku sendiri, namja yang ku cintai dan sebeliknya namja yang juga mencintaiku” jawab ae yeon dengan mata menerawang. Entahlah saat ini sosok Sehun terbayang dibenaknya saat mengatakan kalimat tersebut.

“Baiklah kalau begitu” kata tuan park setelah mendengar jawaban dari ae yeon. “Kalau begitu kami pergi dulu” lanjut tuan park

“Ne appa, hati-hati”

.

.

.

Selepas kepergian kedua orang tuanya ae yeon kembali fokus pada layar televisi sampai akhirnya chanyeol turun menghampirinya dan duduk disamping ae yeon.
“Apa eomma dan appa pergi ?”

“Ne”

“Kemana ?”

“Entahlah, katanya bertemu teman lama”

“Hmmmmm” chanyeol bergumam kemudian meraih remote televisi dan mengganti saluran menjadi saluran berita.

“Yak, apa yang oppa lakukan. aku sedang menonton acara musik!” Marah ae yeon.

“Yak, kau sudah tidak lagi remaja mengapa masih menonton acara seperti itu. Ini lebih bermanfaat” jawab chanyeol.

Ae yeon mencibir “cih, memangnya hanya remaja yang boleh menonton acara musik. Kakek-kakekpun boleh mengapa aku tidak”

Chanyeol tidak membalas ucapan ae yeon dan fokus pada berita yang di lihatnya.

    Merasa bosan, ae yeon akhirnya bangkit dan bergumam.
“Melihat berita seperti itu membuatku lapar”

Chanyeol menoleh kearah ae yeon dan bersuara “Apa kau akan membuat makanan ?”

“Hmmm” ae yeon mengangguk “Aku akan membuat ramyun, kau mau?” Tawar ae yeon.

“Ckck” chnayeol berdecak “Yak, kau itu dokter, mengapa makan makanan seperti itu” lanjut chanyeol.

Ae yeon menghela nafas pelan kemudian berkata “oppa walaupun aku dokter, sesekali makan ramyun tidak apa-apa bukan ? Kau mau apa tidak. Kalau tidak mau ya sudah”

“Baiklah, buatkan satu untukku” kata chanyeol kemudian tersenyum lebar hingga nampak deretan gigi putihnya.

Setelah beberapa saat ae yeon kembali keruang tengah dengan membaca dua buah cup ramyun di tangannya.

“Ini oppa” ae yeon memberikan satu cup ramyun kepada chanyeol.

“Gomawo” kata chanyeol.

Keduanya sibuk dengan ramyun masing-masing hingga tercipta hening diantara keduanya sampai akhirnya ae yeon bersuara.

“Oppa, acara pernikahanmu dengan hyejin eonni sudah sangat dekat. Apa kau tidak gugup” tanya ae yeon.

“Tidak, untuk apa gugup. Bukankah hari itu hari yang kami tunggu-tunggu” jawab chanyeol “Hari dimana dia resmi menjadi milikku, dan kami akan memulainya. Tinggal serumah dengannya, melewati hari-hari bersama dan semuanya akan kami lalui bersama” chanyeol berujar dengan mata berbinar, senyumnya tidak bisa ditahan hingga tergambar indah diwajah tampannya.

“Apa oppa tidak sedih?”

“Yak, untuk apa bersedih.. bahkan tidak ada alasan untuk bersedih”

“Kau benar-benar jahat. Jadi hanya aku yang merasa sedih ?”

Chanyeol tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dongsaengnya tersebut membuatnya mengerutkan alis dan menatap ae yeon bingung.

“Kau akan meninggalkan aku, eomma dan appa. Apa kau tidak sedih ?” Kata ae yeon akhirnya.

Chanyeol akhirnya mengerti apa yang dimaksud dongsengnya. Chanyeol tersenyum lembut lalu memiringkan tubuhnya menghadap ae yeon dan berkata.

“Yak, aku bahkan tidak pergi kemana-mana, untuk apa kau bersedih. Sesekali kau bisa berkunjung kerumah kami. Dan kami bisa saja sesekali menginap disini” kata chanyeol.

“Tapi tetap saja..”

“Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Aigooo dongsaengku ternyata begitu menyayangiku” goda chanyeol akhirnya lalu memeluk ae yeon.

“Eoh, tentu saja” jawab ae yeon dan membalas pelukan chanyeol.

“Tapi oppa aku benar-benar tidak ingin menginap di rumahmu?” Kata ae yeon disela pelukannya bersama chanyeol.

Chanyeol melepas pelukannya “we ?” Tanya chanyeol kemudian.

“Aku tidak mau, karena kalian pasti akan bermesraan dan itu membuatku risih”

“Eyyy, bukankah itu wajar. Apalagi jika kami telah menjadi suami istri” chanyeol berkata dengan senyuman menggoda.

Ae yeon hanya mendengus mendengar jawaban dari chanyeol dan kembali memusatkan pandangannya kelayar telivisi.

“Ae yeon-ah” chanyeol kembali berkata.

“Hmmmm”

“Bagaimana hubunganmu dengan namja itu ?”

Ae yeon menoleh kearah chanyeol dengan raut bingung “namja ?” Tanya ae yeon.

“Eyyyy tidak usah berpura-pura tidak mengerti. Oh sehun, bagaiman hubungan kalian”

“Hubungan ? Tidak ada apa-apa kami hanya berteman” jawab ae yeon polos.

“Apa ? Jd hubungan kalian hanya berteman. Lalu mengapa aku melihatnya seperti…..” perkataan chanyeol terputus oleh suara ae yeon

“Oppa jika seorang namja selalu mengirim pesan kepada yeoja, selalu memberikan perhatian, dan mengajak jalan-jalan itu artinya apa ?” Tanya ae yeon.

“Tentu saja dia suka pada yeoja itu” jawab chanyeol enteng.

Mendengar jawaban dari chanyeol membuat ae yeon tertegun dan jantungnya kembali berdetak cepat seperti bom yang siap meledak.

“Apakah itu sehun ?” Chanyeol kembali bertanya.

“A-ani”

“Eyyyy sudahlah kau tidak pandai berbohong dihadapanku”

Ae yeon hanya diam dan menundukkan wajahnya. Malu ya tentu saja. Bahkan sekarang wajahnya terasa panas.

“Bukankah aku benar. Jd kalian akan jalan-jalan kemana” goda chanyeol lagi.

“Yak, oppa! Hentikan” pekik ae yeon dan melempar bantal disofa kearah chanyeol lalu berlari menuju kamar.

Chanyeol tertawa terbahak melihat tingkah malu dongsaengnya.

.

.

.

“Jadi bagaimana keputusanmu ji hun-ah” tanya tuan park membuka suara setelah mereka semua selesai makan.

“Maafkan aku, sepertinya kami tidak bisa melaksanakan wasiat itu. Kau tahu sendiri bagaimana berkuasanya tuan kim. Dia sangat berpengaruh dalam perusahaanku” jawab tuan oh dengan wajah bersalah.

“Aku mengerti, kau sama sekali tidak bersalah. Lagipula putriku juga keras kepala tidak ingin dijodohkan” lanjut tuan park.

“Baiklah kalau begitu. Kita sepakat untuk tidak melaksanakan wasiat itu apapun konsekuensinya akan kita hadapi nantinya” lanjut tuan oh.

Tuan park tersenyum lalu menyesap tehnya dan kemudian menyerahkan sebuah undangan “Minggu depan putra sulungku akan menikah, jika kalian memiliki waktu luang datanglah”

Tuan oh menerima undangan dari tuan park lalu berkata “Tentu saja kami akan datang”

.

.

.

Ae yeon telah siap dengan dress soft cream selututnya, rambutnya di kuncir satu dengan menyisakan poni disalah satu sisi keningnya.

Tepat jam 09.00 ae yeon keluar dari rumahnya dan berlari begitu chanyeol melihatnya. Yah ae yeon menghindar dari chanyeol karena ae yeon pasti akan digoda habis-habisan oleh oppanya itu jika dia mengetahui kalau sehun akan menjemputnya.

Tepat di saat ae yeon keluar dari rumahnya mobil Lamborghini Murcielago LP 640 hitam milik Sehun berhenti di di depannya.

Sehun turun dari mobilnya menghampiri ae yeon dengan celana jeans hitam dan kemeja putih yang dilapisi sweater cokelat membuatnya terlihat semakin tampan.

Ae yeon tertegun menatap betapa sempurnanya ciptaan tuhan di depannya saat ini. Sampai di depannya sehun tersenyum dan berkata.
“Kau sudah siap ?”

“N-ne” entah kenapa ae yeon tiba-tiba gugup, merasa malu ae yeon menundukkan kepalanya.

Sehun tersenyum melihat gadis di depannya lantas dia mengambil lengan ae yeon dan membawanya mendekat kearah mobil.

Ae yeon kembali tertegun mendapati tangan sehun menggenggam lengannya.

Setibanya di depan mobilnya. Sehun membuka pintu di samping kursi setir dan mempersilahkan ae yeon masuk. Setelah ae yeon masuk sehun lantas menutupnya kembali dan bergegas menuju kursi setir, masuk dan memasang safety belt. Sehun berniat akan memasangkan safety belt ae yeon, namun ae yeon terlebih dahulu memasangnya sendiri.

Melihat hal itu sehun kembali tersenyum berbeda dengan ae yeon yang terlihat gugup bahkan dari raut wajahnya sangat jelas bahwa dia sedang menahan rasa gugupnya.

“Kau mau kemana ?” Tanya sehun

Ae yeon menoleh kearah sehun sekali lagi menatap namja disampingnya itu dan sekali lagi juga ae yeon menyadari bahwa sehun benar-benar tampan.

“Ae yeon-ah” panggil sehun

“Ne ?” Ae yeon kembali tersadar “bukankah kau yang tahu. Kau bilang rahasia saat itu” lanjut ae yeon.

“Benarkah ? Tapi aku benar-benar tidak tahu kemana orang-orang menghabiskan akhir pekan mereka”

Ae yeon tercengang mendengar penuturan dari sehun. Yah bagaimana dia mengatakan rahasia tempo hari seolah-olah dia telah merencanakan dan mempunyai tempat tujuan, namun pada kenyataannya tidak.

“Ae yeon-ah, kau heran ? Yah aku memang tidak pernah berjalan-jalan seperti saat ini sebelumnya” kata sehun lagi.

“Eoh, ahh bagaimana kalau kita jalan-jalan ke lotte world saja” ide ae yeon akhirnya.

“Lotte world ? Bukankah itu taman hiburan ? Apa tidak terlalu ramai disana”

“Yak, sehun-ah dimana-mana yang namanya jalan-jalan itu memang ketempat-tempat ramai kau ini bagaimana sih”

“Begitu” jawab sehun dengan senyum canggungnya merasa malu dengan perkataannya tersebut.

“Dulu waktu aku kecil appa sering mengajak kami bermain disana bersama eomma dan oppa. Tapi setelah kami dewasa kami sudah tidak pernah lagi ke sana ya itu karena kesibukan kami masing-masing” cerita ae yeon.

“Hmmmm” sehun menyimak cerita ae yeon “baiklah kita akan kesana” lanjut sehun.

“Benarkah ?” Ae yeon tersenyum manis yang dijawab dengan senyuman pula lantas sehun melajukan mobilnya menuju lotte world

Setibanya di lotte world ae yeon bergegas turun dari mobil, dia nampak begitu antusias. Sehun yang melihat sikap baru dari ae yeon menatap gadis itu dengan tatapan ‘kau benar-benar berbeda’.

“Sehun-ah, palli” panggil ae yeon tidak sabar.

Sehun segera menghampiri ae yeon, mensejajarkan posisi berdirinya disamping gadis itu.

“Sehun-ah, kau mau mencoba yang mana dulu ? Tanya ae yeon “ice skatting ? Komedi putar atau kincir angin ?” Lanjut ae yeon masih antusias.

“Mencoba ? Apa kita tidak hanya berjalan-jalan ?” Sehun kembali bertanya.

“Tidak asik, jika kita kemari hanya berjalan-jalan dan tidak mencobanya”

“Benarkah ? Tapi aku sama sekali tidak pernah menaiki semua itu” jelas sehun.

“Jeongmal ?” Tanya ae yeon heran.

“Eoh, aku tidak pernah bermain. Bahkan ini kali pertamaku menjejakkan kaki disini”

Ae yeon terkejut bahkan dia sampai membuka mulutnya karena begitu herannya.

“Gwenchana, ada aku. Aku akan mengajari dan menjagamu” kata ae yeon “kajja!” Ae yeon lantas menarik lengan sehun dan mereka mulai memainkan satu persatu wahana permainan.

Setelah puas bermain dengan wahana kincir angin yang terakhir mereka naiki, ae yeon masih dengan senyuman kegembiraannya sedangkan sehun ? Rambutnya nampak berantakan dan wajahnya oh sungguh sepertinya dia telah begitu banyak kehilangan tenaga.

Setelah keduanya turun dari kincir angin. Masih disekitar area tersebut ae yeon menghentikan langkahnya dan mengambil sesuatu di dalam tasnya.

Ae yeon mengeluarkan handphone miliknya kemudian membuka aplikasi kamera dan mengajak sehun untuk berfoto bersama.

“Sehun-ah, ayo kita selfie” ajak ae yeon.

Sehun menggeleng “kau saja. Aku tidak suka berfoto” jawab sehun

Ae yeon menunjukkan ekspresi tidak sukanya akan penolakan sehun. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan itu membuat sehun gemas melihatnya.

“Ayoolah akan tidak asik jika aku hanya selfie sendiri”

Akhirnya sehun menerima ajakan ae yeon karena tidak tahan meliat gadis itu menampakkan raut kekesalannya yang membuat sehun gemass untuk ah.. tidak.

Ae yeon berjalan kearah sehun “chaa, 1, 2,” clik satu foto diambil. Ae yeon segera melihat hasilnya dan kembali merengut.

“Yak, sehun-ah apa kau tidak bisa tersenyum. Kau nampak begitu kaku”

Sehun hanya diam tidak menanggapi perkataan ae yeon.

“Baiklah, kita ulangi” kata ae yeon dan mendekat kearah sehun.

Ae yeon mengarahkan kameranya “Senyumlah sehun-ah” sehun tersenyum pada akhirnya “nah benar begitu. Baiklah 1,2…” klik. klik. klik

Ae yeon banyak mengambil foto dengan berbagai gaya dan sehun mulai terbiasa akhirnya ikut berpose dengan berbagai gaya lucu.

Saat ae yeon tengah melihat-lihat hasil foto mereka, tanpa diketahuinya sehun menatapnya lekat dan kembali tersenyum.

“Ae yeon-ah, ku rasa aku menyu…” kalimat sehun terputus setelah tiba-tiba segerombolan anak-anak berlari melewati keduanya dengan tawa dan teriakan masing-masing.

Ae yeon memundurkan langkahnya memberi jalan kemana anak-anak tersebut kemudian berkata.

“Eoh, kau berkata apa tadi sehun-ah ? Tanya ae yeon.

“Tidak, ini sudah sore ayo kita pulang. aku akan mengantarkanmu”  kata sehun.

“Hmmmm” ae yeon tersenyum manis.

.

.

.

Ae yeon terbangun dari tidurnya, masih bergemul dengan selimut tebalnya, ae yeon menatap kearah jam diatas nakas tempat tidurnya, tepat pukul 08.45. Ae yeon masih memiliki waktu untuk bersiap-siap kerumah sakit.

Ae yeon meraih handphonenya diatas nakas yang sama tepat di samping jam dan membuka aplikasi galeri foto. Ae yeon tersenyum memandangi foto yang telah diambilnya beberapa hari yang lalu bersama sehun di lotte world.

Puas memandangi dan masih dengan senyuman yang setia bertengger di bibirnya ae yeon meletakkan kembali handphonenya ketempat semula. Tidak sengaja ekor mata melihat kearah tanda merah yang melingkari sebuah tanggal di kalendernya.

“Hhmmmm hari bahagia oppa sebentar lagi akan tiba, semuanya pasti akan kerepotan” gumam ae yeon kemudian kembali tersenyum dan bangkit menuju kamar mandi.

.

.

.

“Hyung dan noona sangat cocok” kata seorang anak laki-laki yang berbaring diatas bangsal rumah sakit lengkap dengan infus disebelah tangannya.

Baekhyun dan ae yeon saling menatap dan kembali memalingkan kepala mereka kearah anak tersebut.

“Benarkah ?” Tanya baekhyun dengan senyum hangatnya.

“Emmm benar. Noona sangat cantik dan hyung begitu tampan”

“Jadi apakah kau menyukai kami ?” Kali ini ae yeon bertanya.

“Tentu saja” jawab anak itu.

“Kalau begitu kau harus meminum obat dengan rutin, dan jangan bersikap seperti tadi kepada noona-noona perawat”

“Aku tidak menyukai mereka. Mereka menyebalkan”

“Hustt anak lelaki tidak boleh berkata seperti itu bukankah kau jagoan” kata baekhyun

“Mmmmm” anak lelaki itu tidak melanjutkan perkataannya mendapati seseorang kini tengah berdiri tidak jauh dibelakang ae yeon.

Mengikuti arah pandangan anak tersebut ae yeon dan baekhyun akhirnya berbalik.

Mendapati sehun tengah berdiri dibelakangnya ae yeon akhirnya bersuara “Eoh, kau datang ?”

“Hmmmm” kata sehun dan melangkah lebih dekat kearah ae yeon.

“Apa sudah lama ?”

“Lumayan juga” sehun menatap kearah baekhyun dan mendapati namja itu tersenyum kearahnya.

Bukannya membalas tersenyum sehun malah membalas dengan tatapan tajamnya yah tatapan tidak suka. Bukan tanpa alasan entahlah mendengar anak lelaki barusan mengatakan bahwa namja itu begitu cocok dengan ae yeon membuatnya tidak menyukainya.

“Ahh benar, ada yang ingin ku berikan kepadamu” kata ae yeon kemudian menarik sehun dari tempat tersebut setelah sebelumnya ae yeon menunduk kearah baekhyun.

Selepas kepergian ae yeon dan sehun. Baekhyun menatap keduanya dengan tatapan bingung. Terlebih dengan sikap sehun namun namja itu hanya menaikkan bahunya singkat dan kembali memeriksa anak-anak diruangan tersebut.

“Ini undangan pernikahan oppaku akhir pekan ini, ku harap kau bisa datang” kata ae yeon dengan menyerahkan sebuah undangan dari tangannya.

Sehun menerima undangan tersebut dan berkata “akan ku usahakan untuk datang” dengan senyum yang mendapat balasan senyuman pula dari ae yeon.

.

.

.

Hari bahagia chanyeol dan hyejin akhirnya tiba, setelah sebelumnya tepatnya tadi pagi upacara pemberkatan pernihakan dilakukan di gereja yeouido full gospel yang merupakan gereja terbesar di dunia.

Suasana haru menyelimuti gereja saat chanyeol dan hyejin mengucapkan sumpah pernihakan.
Namun suasana berubah saat chanyeol mencium hyejin, seisi gejera penuh sorak sorai melihat pangantin tersebut.

Saat ini resepsi pernikahan diadakan di ballroom seokyo hotel, chanyeol telah berdiri tampan menggunakan setelan hitam dengan dasi kupu-kupu melingkar indah di lehernya, sama halnya dengan hyejin yang nampak begitu cantik dengan gaun panjang berwarna putih tulang.

Seluruh dekorasi ruangan bernuansa putih. Hyejin memang mengonsep sendiri acara pernikahannya.

Tepat disamping chanyeol, ae yeon dan tuan serta nyonya park berdiri berdampingan.

Sehun telah tiba di depan seokyo hotel, sehun keluar dari mobilnya dan menyerahkan kuncinya kepada penjaga yang telah menyambutnya untuk memarkirkan mobil.

Setelah beberapa langkah di depan pintu masuk langkah sehun terhenti karena mendengar suara yang begitu familiar memanggil namanya.

“Sehun-ah”panggil tuan oh.

Sehun berpaling kearah sumber suara dan berkata “aboenim”

“Ahhh jadi yang kau maksud temanmu itu adalah putra tuan park?, hahaha mengapa tidak bicara sejak tadi kita bisa datang bersama” kata tuan oh

“T-tidak, maksudku..” perkataan sehun terputus karena tuan park lebih dahulu berbicara.

“Sudahlah sebaiknya kita masuk bersama” ajak tuan oh.

Akhirnya sehun masuk bersama kedua orang tuanya dan tepat saat tuan oh dan nyonya oh akan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga langkah sehun terhenti. Matanya menatap lekat seorang gadis di depannya dengan menggunakan gaun sebatas lutut berwarna putih dan rambut yang dibiarkan tergerai dengan hanya memberi sebuah hiasan di salah satu sudut kepalanya membuat gadis itu begitu cantik.

Sama halnya dengan sehun, ae yeon yang menyadari kehadiran sehun sejak beberapa langkah yang lalu memandang namja itu dengan tatapan kagum, walau hanya menggunakan t-shirt putih polos dengan blazer garis-garis hitam putih, sehun benar-benar tampan. Hingga saat sehun dan tuan oh benar-benar telah dekat ae yeon bersuara .

“Sehun-ah, kau datang?”

Tuan oh dan tuan park lantas terkejut mendapati keduanya telah saling mengenal.

“Jadi kalian telah saling mengenal ?” Tanya tuan park.

“Eoh, dia temanku appa” jawab ae yeon.

“Hahahahaha” tawa tuan oh pecah “Wah ada apa ini ? Apa ini yang namanya sebuah ikatan” lanjut tuan oh.

Mendengar apa yang dikatakan tuan oh baik sehun maupun ae yeon sama sekali tidak mengerti dan hanya menatap bingung kepada kedua orang tuanya.

“Ehem” tuan oh menormalkan suara dari tawanya “kalian dulu telah dijodohkan oleh kakek-kakek kalian hanya saja karena sehun telah memiliki tunangan bahkan sebentar lagi akan menikah perjodohan itu kami batalkan” jelas tuan oh yang sukses membuat ae yeon dan sehun terkejut bahkan chanyeol ikut memandang kearah mereka.

Setelah mendengar cerita dari tuan oh entah mengapa dada ae yeon terasa benar-benar sakit, tubuhnya lemas bahkan kalau saja ae yeon  tidak berpegangan pada meja disampingnya mungkin tubuhnya sudah roboh.

Mata ae yeon terasa panas berusaha menahan sesuatu yang mendesak. Bagaimanapun memikirkannya mengingat semua perhatian dan perlakuan sehun selama ini, apakah dia hanya salah mengartikan atau sehun benar-benar ingin mempermainkannya yang jelas ae yeon ketahui saat ini sehun telah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Mengapa ? Mengapa selama ini namja itu tidak pernah memberitahunya. Memberitahu agar dia tidak menempatkan perasaan atas semua perhatian yang diberikan untuknya.

Merasa sudah tidak dapat menahan air matanya akhirnya ae yeon melangkah menjauh dari sehun, tuan dan nyonya oh serta keluarganya. Dengan tebopoh-bopoh tubuh ae yeon terus berjalan.

Selepas kepergian ae yeon, tuan dan nyonya park menatap cemas kepada putri mereka hanya saja mereka tidak dapat menyusul ae yeon karena banyaknya tamu yang kini telah berdatangan. Sama halnya dengan kedua orang tuanya chanyeol benar-benar menghkawatirkan dongsaengnya.

Sejak ae yeon beranjak dari hadapan sehun, sehun hanya bisa menatap gadis itu bahkan sampai punggung ae yeon telah hilang dari pandangannya. Sehun benar-benar tidak bisa berpikir jernih. “Apa perjodohan ? Ae yeon ? Jd yang ku harapkan selama ini benar. Tapi… dibatalkan ? Menikah ?” Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikiran sehun hingga tanpa dia sadari matanya kini memerah dan kedua tangannya mengepal.

TBC

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Shouldn’t Have (Chapter 5)

  1. konflik akan segera di mulai..
    tapi cerita di awal chapter ini maaf agak membosankan kesan nya gitu2 aja
    tapi aku harapin kelanjutan nya bisa lebih menarik feel nya lbih dapet lagi
    apalagi soal perjodohan sudah di ketahui sehun-ae yeon 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s