[EXOFFI FREELANCE] Old Wounds (Chapter 2)

Cv1Mm81UsAA7dfe.jpg

JiYeol Park Present

Old Wounds (Chapter 2)

Staring

EXO’s Kai

OC’s Kim Jisoo

EXO’s Sehun

Genre

Romence, Idol – life, Merried!, Angst.

Lenght

Chaptered

Rating

PG – 17

disclaimer

This story is pure mine. Don’t read if you don’t like this story, this story just a fiction with alternative universe plot. Hope you like this story and try to be a good reader’s, don’t bash and give me your comment. Thank’s!

.

.

.

.

.

.

.

.

Sinar matahari lamat lamat masuk melalui celah kecil tirai berwarna biru tua dibeberapa sudut kamarnya, membuat jisoo mau tak mau harus membuka matanya dan mendapati sisi kasur disamping kanannya telah kosong. Mungkin jongin sudah pergi pagi pagi bahkan sebelum jisoo bangun. Mereka memang tidur berdua, jongin sebenarnya tidak membatasi jarak diantara mereka namun pria itu hanya membatasi jarak diantara perasaan mereka berdua. Jongin tidak akan membiarkan jisoo mengembangkan perasaan cinta diantara mereka, ataupun sebaliknya. Jisoo sangat segan jika sampai jongin memulai perasaan spesial diantara mereka, semua akan terasa canggung.

Meskipun ada dua kamar lain diapartemen itu, jongin tak berniat sedikitpun untuk mengusir jisoo dari kamarnya. Dan jisoo sendiri juga tidak bisa menjauh dari kamar itu karna ia adalah orang yang terbilang sulit untuk beradaptasi dengan suasana baru, terlebih kamar.

“Aku ingin makan sesuatu yang manis.” Gumam jisoo sembari mengelus elus elus permukaan perutnya yang rata.

Rasa lapar itu tak terbendung lagi. Jisoo segera melompat turun dari kasur menuju kamar mandi untuk menggosok gigi. Kemudian keluar dari kamar mandi dan mengikat rambut hitamnya yang tergerai menggunakan ikatan rambut yang tergeletak disamping bantal. Segera setelahnya gadis itu langsung melesat keluar dari kamar dan berjalan cepat kearah dapur.

Langkah jisoo refleks terhenti ketika mencapai dapur dan mendapati jongin tengah serius berkutat dengan masakan sampai sampai tidak menyadari kehadirannya. Gadis itu tertegun sebentar mengamati punggung tegap berbalut kaos putih polos yang hanya berjarak dua meter darinya sekarang, terlihat tak tergapai sama sekali untuk ukuran jisoo.

Mata jisoo melirik sebentar kearah westafel yang berada tidak jauh dari tempat jongin berdiri. Semua piring dan perkakas masak yang kotor telah menghilang dari bak westafel dan kini area disekitar benda itu terlihat lebih bersih dari semalam, jisoo menebak bahwa jongin pasti terbangun pagi sekali dan langsung mencuci piring. Ini pertama kalinya jongin mau repot seperti ini, dan jisoo tahu alasannya. Pria itu enggan membuat jisoo terlalu lelah, karna jika jisoo lelah maka penyakitnya akan kambuh dan semua itu akan berdampak juga pada jongin. Singkatnya, jongin tidak mau merasa terbebani lagi jika jisoo sampai kelelahan lalu jatuh sakit. Biasanya jongin akan menjatuhkan kesalahan pada jisoo.

“Kai.” Panggil jisoo pelan.

“Akhh…”

Mata jisoo membulat terkejut ketika mendengar suara jongin yang merintih sakit. Tanpa pikir panjang lagi gadis itu segera menghampiri jongin dan melihat apa yang terjadi. Jari tengah pria iti tanpa sengaja tersayat pisau saat memotong selada.

“Kenapa kau bisa tiba tiba ada seperti itu?! Lihat ini, akhh… Ambilkan kotak P3K, jisoo.” Kesal jongin sembari memegangi jarinya yang tergores ujung pisau.

Dengan kalap gadis bersurai hitam itu berjalan cepat kearah kulkas dan mengambil kotak putih disamping kulkas dan segera menyerahkannya pada jongin. Jongin mengobati lukanya sendiri sementara jisoo hanya memperhatikan dalam diam, tiba tiba kewarasan otaknya dipertanyakan saat ini. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia tidak tahu haruskah ia bersikap bodoh dan diam saja atau membantu mengobati luka jongin?

“Ini, taruh lagi ketempat asalnya.”

Mungkin memang tidak seharusnya jisoo berpikiran untuk membantu jongin.

Gadis itu tersadar kembali dari lamunannya dan langsung meraih kotak putih dihadapan jongin tanpa banyak bicara.

“Perlu bantuan?”  Tanya jisoo sok ramah, terlalu dipaksakan untuk bersandiwara.

“Aku hampir selesai. Kau hanya perlu duduk manis dimeja makan. Ngomong ngomong, kau sudah menggosok gigi dan mencuci wajahmu?”

Jisoo mengangguk pelan kemudian berangsur angsur membuat jarak dari jisoo kemudian duduk dikursi yang berada diujung lain meja makan. Pikirannya tiba tiba kosong, sekilas gambaran tentang pagi yang berisik diruang tamu rumahnya yang sempit bersama keluarganya dulu kembali terlintas. Ia dan kakaknya yang berbeda umur enam tahun selalu saja bertengkar berebut potongan daging terakhir sebelum jisoo pergi kuliah, kejadian seperti itu sudah berlalu selama hampir setahun yang lalu. Ia harap kini kakaknya mendapatkan banyak potongan daging dipagi hari agar orangtuanya tak perlu pusing lagi menghadapi tingkah kakaknya yang bisa cerewet melebihi jisoo sendiri, karna selama ia berada disini jisoo tak bisa berbuat banyak selain menelpon mereka karna terpisah jarak yang cukup jauh. Ibu mertua jisoo tidak pernah mengijinkan gadis itu untuk bepergian jauh sendiri kecuali bersama jongin, dan jisoo juga tahu diri untuk tidak terlalu berharap banyak pada jongin yang sibuk pada jadwalnya bersama grup dan individu.

Sekali lagi, jisoo hanya berusaha untuk meyakinkan posisinya. Bahwa ia bukan siapa siapa yang perlu menerima lebih banyak lagi kebaikan jongin dan keluarganya.

**

Sehun menguap sekali lagi sebelum sebuah roti berselai coklat bersarang dimulutnya akibat ulah dari suho yang pagi itu duduk disamping sehun. Mereka semua; personel EXO, tengah sibuk melangsungkan acara sarapan dipagi yang bisa dikatakan ribut itu.

Bisa dilihat disudut ruang makan dekat kulkas, chen tengah sibuk mencoba beberapa pasang sepatu miliknya. Suho ingin menegur tapi akhirnya ia biarkan saja karna hal itu sudah seperti kebiasaan baru chen setiap pagi. Dimeja paling ujung, Lay tengah sibuk membongkar isi sebuah bingkisan besar pemberian fansnya sembari sesekali menyesap kopi dari mug bergambar panda. Dan dikursi lain ada Chanyeol yang tengah mengutak atik ponsel miliknya bersama minseok, membaca berita online mungkin. Dan sisanya masih ada dikamar mandi ataupun diruang televisi.

Tanpa sadar suho tengah melewatkan seseorang, jongin. Ia baru sadar bahwa pria itu tidak ada dimeja makan bersama mereka. Ia langsung menoleh pada sehun; teman bicara jongin dan terkadang menjadi saingan jongin untuk menarik hati fans. Mereka sama sama masih muda, dan suho tahu benar apa yang terjadi dibelakang mereka. Walau awalnya ia tak mau ikut campur, tapi pada akhirnya kedua orang itulah yang mengikut sertakan dirinya.

“Mana jongin?” Pertanyaan itupun akhirnya terlontar dari mulut suho.

Sehun hanya mengangkat bahu, sok tidak peduli walaupun tadi suho sempat menangkap mata sehun meliriknya dari samping.

“Kalau dia tidak menyukai jisoo, lalu kenapa bocah itu masih saja menyempatkan diri untuk mengunjunginya?” Gumam suho sembari meraih ponsel miliknya yang terletak diatas meja, mencoba menelpon jongin.

“Dia memang tidak menyukai jisoo.” Sahut sehun datar.

“Aku tidak yakin.” Balas suho lagi, mencoba memanasi.

“Aku yakin.” Jawab sehun final.

Sehun langsung berdiri dari tempat duduknya, menjauh dari ruang makan menuju kamarnya yang terletak tidak jauh dari ruang makan. Pikirannya tiba tiba menyebar kesegala arah, mengkilas balik pada momen momen indah beberapa tahun lalu yang kini hanya menjadi debu usang disudut hatinya yang mulai gelap oleh rasa rindu dan… penyesalan.

Ini memang konyol, tapi ia tidak akan pernah melupakan saat saat hari kelulusannya. Dimana mantan kekasihnya yang kini menjadi istri dari temannya menyerahkan sebuah surat, bukan surat cinta melainkan surat perpisahan yang bahkan masih menjadi trauma mendalam bagi dirinya sendiri hingga sekarang. Gadis itu memikirkan masa depan dirinya dan membuang sesuatu yang sangat berharga, yang mungkin akan sulit ia dapatkan lagi dikemudian hari.

Sehun masih menyimpan surat itu, diantara beberapa lipatan pakaian lamanya yang kini jarang ia jamah. Kini dengan tangan yang bergerak ragu sehun mengeluarkan surat beramplop putih itu. Disana tertera  nama sebuah rumah sakit besar diseoul.

Operasi penguguran kandungan.

Semua itu tertera dengan jelas disana, bersama sebuah note kecil yang terselip didalam amplop. Tulisan tangan jisoo yang sangat sehun kenali.

‘Kau akan menjadi Idol yang terkenal, sehun.’

Sehun tidak tahu maksud dari ucapan jisoo itu, ia tidak tahu apakah saat menulis itu jisoo tengah menangis atau malah tersenyum. Bagi sehun ucapan jisoo sangat ambigu sehingga ia sulit untuk mengartikannya. Tapi setelah melihat lagi surat keterangan dokter yang datang bersama note itu, sisi lain hati pria itu mengatakan bahwa kekasihnya tengah bersedih sekaligus bahagia saat itu. Sedih karna mungkin ia harus kehilangan calon anak mereka, dan bahagia untuk sehun yang akan segera debut menjadi seorang publik figur.

Bayi itu adalah sebuah kesalahan.

Iya, sehun tahu bahwa perbuatan mereka memang salah. Sehunlah yang salah. Tapi bayi itu sama sekali tidak bersalah, ia hanya hadir disaat yang tidak tepat. Jika saja bayi itu hadir disaat sehun sudah semakin dewasa seperti sekarang, mungkin sehun akan mengambil resiko kehilangan karirnya demi memperjuangkan bayi mereka dan demi jisoo. Tapi semua memang terlalu tiba tiba.

Semakin dewasa sehun, ia semakin menyesali perbuatannya yang pasti meninggalkan trauma tersendiri bagi jisoo. Bisa dibayangkan betapa bersalahnya gadis itu saat menggugurkan janin yang baru ia kandung, Sehun tahu benar bahwa jisoo itu gadis yang terlalu baik dan memiliki hati selembut kapas. Ia bahkan tidak berani memukul seekor anjing liar yang mengambil salah satu sepatunya saat pulang sekolah dan hanya membiarkannya, dan untuk membunuh janin yang tumbuh didalam rahimnya, sehun tahu benar hal itu pasti membuat jisoo merasa sangat berdosa. Ibu mana yang tega menyakiti anaknya sendiri apalagi membunuh anaknya?

Dan sehun, sehun adalah ayah terburuk yang pernah ada. Ia baru menyadari bahwa ia sebenarnya akan menjadi seorang ayah setelah anaknya sudah tidak ada lagi. Sekarang jika diberi kesempatan untuk mengembalikan jisoo kembali kepelukannya, maka sehun akan dengan sigap melakukannya. Apapun untuk menebus semua rasa bersalah dan rindunya yang membuncah.

Pertama dan terakhir kalinya sehun melihat jisoo setelah hampir tiga tahun tidak bertemu adalah saat pernikahan gadis itu. Ia melihat bagaimana jiaoo tersenyum manis kearah setiap tamu acara yang tertutup itu, dan saat itu ia langsung menyadari bahwa perasaan cintanya bahkan tidak sedikitpun berkurang. Ia menyesali senyuman palsu jisoo saat itu. Gadis itu sama sekali tidak bahagia seperti kelihatannya.

Ia ingin merebut jisoo kembali, tapi apakah bisa? Apakah perasaan jisoo juga masih sama padanya?

**

Kekanakan.

Jisoo bergumam dalam hatinya saat tanpa sengaja menemukan sepasang kekasih yang kelihatannya tengah kasmaran bersenda gurau soal masa depan didekat stan buah. Jangan tanya kenapa jisoo bisa berada disana. Yang pasti sekarang ia tengah berbelanja bulanan dan tanpa sengaja bertemu sepasang kekasih remaja yang masih memakai pakaian seragam itu disana, mereka terlihat sangat bahagia sampai sampai tak menyadari bahwa jisoo tengah memandang sinis kearah mereka.

Mereka persis seperti jisoo dulu. Selalu menghayalkan masa depan yang indah bersama kekasihnya, sedangkan mereka tak menyadari ada penghalang lebar diantara mereka. Mereka membayangkan beberapa tahun kemudian kekasihnya itu akan debut sebagai publik figur terkenal dan jisoo juga akan debut sebagai publik figur diagensi yang berbeda, tapi semua itu langsung pupus ketika keuangan keluarga jisoo runtuh dan memaksa gadis itu untuk bekerja membantu ayahnya dan kehilangan kesempatan untuk menjadi bintang. Semua juga semakin runyam setelah jisoo menyadari dirinya tengah berada dalam jurang kehancuran, dan karna itu juga ia harus mengambil resiko yang menghasilkan dosa besar. Lagipula bagi jisoo hal itu lebih baik dibanding keluarga harus menanggung malu seumur hidup karna tidak ada satupun yang bisa bertanggung jawab atas keadaan jisoo saat itu, karna mengharapkan kekasihnya yang baru saja debut sama dengan merusak masa depan kekasihnya. Mungkin mantan kekasihnya.

Jisoo tahu benar bagaimana perjuangan kekasihnya agar bisa debut sebagai publik figur yang kini namanya dikenal seluruh dunia, semua itu akan sia sia jika jisoo meminta pertanggung jawaban.

Mengkilas balik seluruh kehidupannya yang hampir hancur membuat jisoo tanpa sadar mulai tak konsen lagi memilih bahan makan yang akan ia beli.

“Agasshi.”

Jisoo terhenyak dari lamunannya. Matanya berkaca kaca tanpa sadar. Seorang ibu muda yang tengah mengandung kira kira tujuh bulan memanggilnya, refleks jisoo melirik kearah perut ratanya yang tertutupi sebuah sweatet berwarna coklat. Airmatanya tanpa sadar mulai jatuh.

Ia pembunuh dan perempuan paling buruk dimuka bumi.

Ia seharusnya pergi jauh dan bukannya malah menikah dengan jongin yang jelas jelas kenal dengan mantan kekasihnya. Itu hanya akan membuat jisoo semakin teringat pada masa lalunya yang kelam, dan jongin sangat tahu kelemahannya. Ia benci pria itu hingga detik ini walau jisoo tak mau mengakuinya secara gamblang.

“Agasshi.”

“Ah! Ya?” Jisoo akhirnya kembali pada dunia nyata, walau menyakitkan.

“Kau baik baik saja? Wajahmu pucat.” Ucap ibu muda itu dengan nada khawatir.

“Aku baik baik saja. Belanjaanmu sepertinya sangat berat, ingin kubantu?” Jisoo tersenyum, dan ibu muda itu hanya menggeleng membalas senyuman jisoo.

“Tidak perlu repot begitu.”

“Ah, tidak juga. Mari kubantu.”

**

Setelah melewati beberapa lantai akhirnya jisoo mencapai lantai 25 tempat dimana apertemen milik jongin berada. Sembari membawa dua kantong besar berisi belanjaan jisoo berbelok kearah kiri, tepat dipintu ketiga ada sosok yang berdiri didepan pintu apartemen tersebut dan terlihat tengah menunggu seseorang. Jisoo tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karna topi hitam dan masker yang ia pakai, tapi jisoo sangat yakin bahwa pria itu bukan jongin.

Tanpa mengurangi rasa penasarannya jisoo mulai berjalan mendekati pria itu dan langsung terdiam seketika setelah pria itu membuka maskernya, menyadari kehadiran jisoo disana. Saat itu juga jisoo merasa bahwa airmatanya hampir keluar lagi dan kini lebih banyak.

“Oh sehun….”

Jisoo tak percaya bahwa setelah beberapa tahun akhirnya ia bisa menyebut lagi nama pria itu.

-TBC-

Duhh… gimana ya. Pengen sih selalu kirim ff ini bikos ini ff yang bagi ane sangat berkesan dan bikin nangis sendiri waktu bayangin dan nulisnya *Inibeneran*, JiYeol tuh sosok yang teramat cengeng dan melankolis walaupun sering banget nyakitin tokoh tokoh dalam cerita. Kadang ane mikir, kalo tokoh tokoh yang tersakiti dicerita ane itu keluar kedunia nyata gimana ya? Apa ane bakal digebukin? Bwakakak. Untuk sementara ff ane yang berchapter bakal dipause dulu, karna laptop ane lagi rusak dan minta sesajen. Jadi mungkin banyak ff yang bakal tersendat, I’m sorry all. Hiks. But, see you next time~

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Old Wounds (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s