[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Strungle – Rhifaery

photogrid_1481071153213

Strungle – Rhifaery
Chanyeol & Nana || Romance, Fluff || G

Hari yang buruk bagi Park Chanyeol.

Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengatup rapat serta wajahnya yang merah padam layaknya lampu jalanan. Tidak, dia sedang tidak marah sekarang. Lagi pula dia tak berhak marah kepada siapapun kecuali terhadap binatang yang benar-benar sialan baginya.

“Kecoaaakkkk!!!!” Seketika gadis itu menjerit. Berdiri di atas meja dengan mata yang seolah mencari-cari sesuatu. “Park Chanyeol, tolong aku. Mengapa kau diam saja. Kau pria, setidaknya bunuh binatang ini agar tidak mendekat ke arahku!”

Tanpa mengetahui apa yang dikatakan gadis itu, Park Chanyeol hanya mampu mematung. Menyaksikan bagaimana binatang itu bergerak-gerak di ruang tamu miliknya. Hitam, kecil, jelek, dan bau. Tak perlu gadis itu berpikir dia sanggup menyingkirkannya. Melihatnya pun Chanyeol hampir pingsan.

“Telepon Suho!” Perintah Nana. Tak urung perintah tersebut dilakukan gadis itu sendiri karena Chanyeol sama sekali tak berkutik di depan hewan menjijikkan itu. Hanya butuh waktu singkat, sebelum keadaan rumah bertambah kacau, Suho tiba-tiba datang membawa sesuatu pada tangan kirinya.

Plook! Ploook! Dia memukul kecoak tersebut dengan sebelah sandalnya sehingga tewas di tempat. Suho lalu membuang bangkainya, bersamaan dengan hadirnya lengkingan kecil sebagai berwujudan rasa lega. Suho dan Nana tertawa. Sementara Chanyeol merenung.

Apa yang dialami Chanyeol, sudah tentu hal yang buruk bagi sebagian orang yang sedang jatuh cinta. Tujuh bulan ia menyukai wanita bermata sipit itu, ditambah tiga bulan tahap pendekatan dan sebulan latihan pengungkapan. Semua itu akan berjalan lancar jika saja hewan bau yang masih tergolong insekta itu tidak mengacaukannya.

Sejak kejadian itu, Nana pun berubah drastis menjadi pemuja Suho. Menganggap Suho Super Hero, layaknya ultramen yang datang saat tepat, spiderman yang merayap di kolong tempat tidur demi membersihkan koloni musuh atau Sang Thor yang mampu membunuh kecoak dengan palu sandal jepitnya. Karena keberaniannya melawan hewan kotor itu, Suho di dampik sebagai Guardian angel-nya. Yang dicarinya saat emergency atau yang disebut namanya saat panik. Well, sebenarnya itulah posisi yang paling diinginkan Chanyeol selama ini.

“Aku bisa membantumu kembali dekat dengan Nana.” Celetuk Suho yang khawatir akan predikat teman makan teman yang baru-baru ini ia terima. Tentu saja, buru-buru ia menambahi, “Tanpa kecoak!”

“Apa itu menjamin bahwa Nana akan menganggapku pahlawan sepertimu?” Tanya Chanyeol bodoh. Membuat Suho seketika terkekeh.

“Tentu saja, bahkan ini bisa menjamin bahwa Nana akan segera menerimamu menjadi kekasihnya!”

Chanyeol bangkit dari tempat duduknya. Penasaran perihal apa yang Suho katakan.

“Cepat beritahu aku!” Ungkapnya tak sabar. Lalu Suho membisikkan sesuatu di telinganya. Membuat raut wajahnya seketika berubah. Tak lama lagi, Chanyeol pun tersenyum menyetujuinya.

***

“Aku akan pulang jika kutemukan makhluk menjijikkan itu di apartemenmu lagi.” Nana berkacak pinggang memasuki ruang dimana Chanyeol telah berdiri untuk menyambutnya. Semakin masuk ia ke dalam, langkahnya tiba-tiba berhenti memikirkan sesuatu.“Dimana Suho?”

“Dia tidak ada.”Chanyeol menjawab singkat. Menampilkan ekspresi cemberut karena Nana masih saja memperhatikan Suho.

“Duduklah, aku akan membuatkanmu teh!”

`Chanyeol beranjak berdiri lekas menuju konter dan membuat teh. Dilihatnya, Nana yang masih sibuk melihat-lihat majalah. Wajah cantiknya juga segala bentuk keindahannya menjadi hal yang tidak patut untuk disia-siakan. Chanyeol tak akan rela, siapapun merebut perhatiannya sekalipun itu sahabatnya sendiri. Nana yang begitu cantik, untuk mendapatkan yang tercantik memang dibutuhkan perjuangan yang berat bukan?

“HUAAAHHH… KECOAKKKK!!!!” Seketika terdengar lengkingan panjang hingga memenuhi dapur. Lagi-lagi kulihat Nana sudah berdiri di atas meja dengan ekspresi ketakutan. “Sudah kubilang kan, aku tidak akan ke tempatmu jika masih ku temukan hewan menjijikkan itu. Mengapa kau masih saja malas membersihkan tempat tinggalmu??”

Gadis itu berkata cepat sembari menyambar tasnya bersiap-siap ingin pulang. Tapi seketika ia membatalkan niatnya takkalah kakinya bukan hanya dihadang satu hewan menjijikkan tersebut, melainkan lima kawanannya juga sedang mengepungnya.

“Chanyeol, tolong akuuu…?” Ucapnya hampir menangis. Kembali ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi sebelum hewan tersebut menjangkaunya. Bisa dihitung satu jam dari sekarang, bahwa Nana akan mati jika hewan tersebut tak mau enyah.

“Aku akan menjadikanmu kekasihku jika kau mampu menyingkirkan ini.” Nada frustasi sekaligus kejutan hadir dari mulut kecil Nana. Kenyataan bahwa Chanyeol memiliki phobia yang sama hanya memberinya secuil harapan.

Well, Chanyeol yang sebenarnya saat ini tersenyum lebar, sudah mendapatkan penantian yang akhirnya tidak berujung sia-sia.

Pada sisa-sisa keberaniannya, Chanyeol mendekat -meniru Suho- ia mengambil sebelah sandal jepit dari tangan tangannya. Satu tangannya lagi ia biarkan menggapai-gapai di udara seolah menepis bahaya lainnya. Bayangan dari tewasnya binatang bau ini akan membuatnya merasa puas. Lalu Nana yang akan menjadi kekasihnya dan juga Chanyeol akan mengalahkan ketakutannya, yang selama ini membuatnya menjadi pria tak berguna.

Satu… dua… Plookk! Plokkk! Plokkk! Ploookkk!

Chanyeol berhasil! Kecoak itu mati dan Chanyeol memunggutnya dengan tangannya sendiri. Ia berseru dan bersorak layaknya orang yang berhasil membunuh teroris. Memang dirasanya aneh, jika pria itu berhasil dalam waktu yang sesingkat ini.

“Kau sekarang resmi menjadi kekasihku?” Ucapnya bahagia.

Nana yang merasa di ambang kebingungan merasakan bahwa ada yang menjanggal. Tak urung dia pun juga harus menepati janjinya, “Yeah… baiklah!”

Nampaknya Chanyeol tak bisa menahan ekspresi kegembiraannya. Ia hendak merangkul Nana, namun gadis itu menolak sebelum ia membuang bangkai kecoak itu dan mencuci tangannya dengan sebotol sabun. Tak masalah bagi Chanyeol. Yang terpenting ia nanti bisa memeluk Nana sesering mungkin.

“Apa sesuatu telah terjadi?” Pintu tiba-tiba terbuka. Nada bicaranya ringan seolah dibuat-dibuat. Tak perlu bertanya jika sebenarnya dia sudah memahami sesuatu.

Chanyeol menunjukkan lima kecoak yang masih ada di tangannya. Membuat Suho setidaknya terkejut atau lebih dari rasa bahagaia mengetahui sahabatnya telah berhasil. “Lima? Kau benar-benar membunuhnya? Padahal aku hanya meletakkan satu di sana? Kau benar-benar JJANG!”

“Ap-apa maksudmu?” Ucap Chanyeol tak mengerti. Apalagi Nana yang hanya mampu memandang tanpa mengetahui pembicaraan mereka.

“Kecoak mainan itu, sebenarnya aku menaruhnya hanya satu. Kau membunuh empat yang asli?”

BRRRUUUKKK!

Dan tubuh Chanyeol ambruk seketika.

FIN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s