[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Do You Like Me? – Milleny

1480436431717

Do You Like Me?

|| Park Chanyeol, Jane (OC), || Comedy || T

***

Telah kuasumsikan satu hal selama ini. Jangan dekat-dekat dengan orang yang bernama Park Chanyeol. Bila kau didekati orang berinisial PCY, jauhi saja. Kalau susah dijauhi, cukup ikat dan pasung orangnya, atau cara paling efektif dirantai saja. Terkesan rumit? Percayalah itu mungkin ide mujarab demi keamanan dan kenyamanan dirimu.

Kuberi tahu satu hal. Park Chanyeol itu ‘gila’. Ia gila di manapun dan kapanpun ia berada. Beberapa ahli mengatakan bahwa tertawa dinilai memiliki efek ampuh yaitu menyembuhkan berbagai penyakit bahkan memperpanjang usia. Namun persoalannya, bagaimana dengan orang yang menjadikan tawa sebagai napasnya? Ia tertawa terus menerus seperti orang gila. Yang lebih mengerikan, ia selalu nyengir tidak jelas setiap detik setiap waktu. Dan kuberitahu, orang itu Chanyeol.

Park Chanyeol adalah laki-laki kelebihan ukuran tinggi badan yang memiliki telinga lebar seolah-olah bisa dikibaskan seperti sayap kupu-kupu. Giginya sangat putih dan rapih. Rambut hitamnya berkilau ketika diterpa sinar matahari. Kedua netranya sangat indah nan jernih bagai tetes-tetes embun air terjun Niagara. Laki-laki yang tampan dan sempurna.

Sayangnya hanya satu

Ia ‘gila’.

Gila, tidak waras, tukang senyum, parasit, jamur, protista, bakteri. Gelar yang cocok untuk Chanyeol.

Ia selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Aku di taman menikmati embusan angin dan terpaan sinar matahari, ia duduk di sampingku. Aku di kafe menikmati aroma americano sembari memandang rintik-rintik air hujan, ia duduk di hadapanku. Bahkan sampai aku sedang di toilet untuk buang air, ia ada di luar pintu menungguku.

Melalui penelitianku akhir-akhir ini, Chanyeol sering menguntitku kemanapun aku pergi. Ia selalu mati-matian berusaha di dekatku. Ia selalu tersenyum menatapku, bahkan tertawa sampai nyaris berjam-jam—padahal ekspresiku datar-datar saja selama ini menanggapi gurauannya yang segaring olesan upil di bawah meja. Dan yang terakhir… ia selalu mencari celah untuk singgah di rumahku.

Kesimpulannya hanyalah satu.

Ia menyukaiku.

Dan di sinilah kami sekarang. Berdiri berhadapan. Aku yang hanya setinggi dadanya terpaksa harus mendongak hanya demi melihat cengiran konyol itu. Aku berharap meteor tiba-tiba jatuh dan menghantam kepalanya. Sumpah demi apapun, hentikan cengiran konyol itu, Park Chanyeol!

Aku sengaja mengajaknya bertemu di sini. Aku harus meminta kepastian. Kalau bisa, aku akan membuatnya berhenti mengikutiku sambil cengengesan seperti orang bodoh. Maksudku, bukannya aku menolak ia selalu berada di sekitarku. Ia tampan, multitalenta—well, siapa yang bisa menolak fakta yang satu ini?—dan aku tak mau menyia-nyiakan keberadaannya di sekitarku. Masalahnya hanya satu. Aku benci melihatnya seperti orang bodoh ketika berada di sekitarku. Aku ingin ia seperti laki-laki tampan nan keren pada umumnya. Begitu kan lebih baik.

“Park Chanyeol, maaf mengganggu waktumu. Ada yang ingin kubicarakan,” kataku tak ingin basa-basi. “aku hanya ingin meminta kepastian.”

“Aku senang kok,” jawabnya. Jangan lupakan cengiran konyol yang cetar membahana itu. Apa ia tidak tahu kalau aku kesilauan melihat giginya yang seputih susu? “Aku tahu akhirnya kau akan mengakuinya. Senyumku sangat manis, kan?”

“Tidak. Aku benci senyum—maksudku, aku benci cengiran bodohmu itu.”

“Apa?

“ Bisa kau berhenti melakukannya?”

“Apa?”

“Aku sudah tahu rahasiamu.”

Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali. Terlihat terkejut dengan penuturanku yang tiba-tiba. “A-apa? Jadi… jadi kau sudah tahu kalau aku—“

“Kau menyukai…” aku sengaja menggantung kalimatku. Kali ini aku benar-benar yakin kalau laki-laki ini menyukaiku. Ia terlihat begitu gugup. Mukanya merah padam.

Jakunnya naik turun. Benar-benar terlihat sedang gugup. Kena kau Chanyeol! Tapi tenang… secara kau ini… yah mendekati sempurna jadi kau tidak perlu khawatir akan jawabanku.

“Kau suka dengan—“

“Tunggu, tunggu, Jane!” ia menghentikan kalimatku. “Tunggu sebentar—maksudmu… senyum yang mati-matian kutunjukkan padamu selama ini terlihat… bodoh? Benar kau berpikir begitu?”

Aku mengangguk. “Yup. Aku minta kau berhenti melakukannya.”

Ia terlihat tidak terima. Kekecewaan tersirat dalam pandangan matanya. “Kenapa?”

“Kau seperti orang gila.”

“Itu karena…”

Karena kau menyukaku. Bodoh kenapa tak langsung katakan saja dan malah cengengesan seperti orang bodoh?

“Karena kau menyukai—“

“Sungguh, Jane! Aku melakukannya semata-mata hanya karena ingin dapat restu darimu!”

“Hah?” aku mengerjap. “Restu? Restu apa?” apa menyukaiku butuh restu? Kalau begitu, ya, kau kurestui Park Chanyeol!

Tapi…

“Kau… tahu kan kalau aku jatuh cinta dengan Mbak Painem?”

.

.

.

Aku merasa tertampar.

Rahangku terjatuh ke tanah. A-apa? Siapa yang disukainya? Aku tidak salah dengar? Mbak Painem? Mbak Painem pembantu rumahku? Gadis desa yang lulusan SD itu? Yang tidak bisa membaca dan menulis? Yang punya tompel sebesar nyamuk di hidung dan gigi depan ompong satu? Demi Tuhan aku ingin tenggelam dari muka bumi ini sekarang!

“M-mbak… m-mbak…” aku tergagap. Sungguh aku tak tahu musti bagaimana lagi. Aku kehabisan kata-kata. Pengakuan Chanyeol benar-benar menohok ulu hatiku. Aku sakit hati, malu karena telah GR, dan sekaligus… terkejut setengah mati.

Apa-apaan ini, Chanyeol?!

“Selama ini aku mendekatimu supaya beroleh restu untuk mendekati mbak Painem. Kau tahu? Senyumnya manis sekali, apalagi gigi ompongnya… huh benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga…”

Berbunga-bunga jidatmu! Palingan bunga bangkai! Kau belum tahu saja napasnya bau jengkol!

“…aku sudah praktik tersenyum di hadapanmu. Kan kalau kau menyukai senyumku, sudah pasti mbak Painem juga suka. Dan… setiap main ke rumahmu, aku selalu mencari kesempatan memerhatikan mbak Painem yang sedang mengepel lantai… seksi banget.”

Ugh, pengin muntah.

“Gila.”

“Ya, aku benar-benar gila oleh pesona mbak Pa—AKH!”

BUGH! BUGH! BUGH!

Kupukuli tubuhnya tanpa ampun. Apa-apaan laki-laki Korea satu ini? Sudah membuat anak gadis orang Indonesia GR tingkat tinggi, dan sekarang? Aku malu dan aku sakit hati. Aku tidak terima. Sangat. Oh, selain gila ia buta selera juga rupanya!

Di tengah-tengah pukulan yang menyebabkan tubuh tinggi itu menggelinjang hebat, tiba-tiba sebuah kertas terjatuh dari saku kemeja Chanyeol. Aku terdiam sejenak sembari mengatur napas, lantas memungut kertas itu dan membaca isinya.

Painem…
Senyummu bagaikan matahari yang terbit di pagi hari
Bau napasmu sewangi semilir kopi
Tompelmu indah bagai mahkota permaisuri
Kita tak akan bisa terpisah
Maka, cintai aku seperti cintamu pada kain pel

Puisi macam apa ini?!

“Itu… untuk Mbak Painem… bisa kau berik—“

“PUISI?! PUISI UPILMU?!”

PLAK!

Tamparan terakhir.

Menyukaiku apanya?!

Sampai kapanpun orang gila adalah orang yang otaknya tidak waras!

Aku berbalik dan berjalan meninggalkannya. Aku cemburu. Sakit hati.

Tapi ketahuilah, ini lebih baik daripada terus menyukai orang gila.

TAMAT

3 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Do You Like Me? – Milleny

  1. HAHAHAHA ITU TOLONG MBAK PAINEM, CHAN KAMU TERNYATA xD
    Lucu paraaaaaah, suka >< kreatif nih authornya, comedy plus tragis ini mah xD
    Semangat, thor! Ayo kembangin lagi bakatnya dan tulis FF lebih banyak lagi :3

  2. Ok. Seleranya chan…😂 Mbak painem..😂😂
    Puisinya…omo.. tak dpt berkata-kata gue.😂😆

    Renyah comedy storynya…👍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s