[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] CHOOSE TO LOVE ME – ndell

1480587561015

“Choose to Hurt Me”

Author : ndell

Park Chanyeol & Bae Irene

Romance | Friendship | Hurt

Disclaimer : cerita ini muncul karena adanya berita ketika Chanyeol mengatakan bahwa Irene cantik. Dan entah kenapa ide itu muncul secara tiba-tiba. Dan saya sebagai author sangat bersyukur jika para readers menyukainya. Maaf jika ada kekhilafan dalam menulis cerita ini. Happy reading

“Choose to Hurt Me”

Gemericik air memenuhi gendang telinga bersamaan dinginnya udara yang menusuk hingga ke dasar kulit. Chanyeol semakin merapatkan jaket yang ia gunakan. Berharap hal itu dapat mengurangi kedinginan dan kesunyian yang dia rasakan. Di depan sebuah toko ini dia berdiri dengan sebuah payung bening yang ia bawa dari rumah. Matanya terus saja mengelilingi sekitar toko berharap seseorang yang dia tunggu segera muncul.

Sesekali pria yang belum genap berusia 25 tahun ini terus menggosokkan kedua telapak tangannya. Setelah sekitar lima belas menit, manik matanya menemukan seseorang berjaket pink tengah berlari di tengah hujan. Senyumnya langsung merekah, dengan secepat kilat dia membuka payung bening dan segera berlari menghampiri seseorang itu.

“Channie?” wanita itu terkejut akan kedatangan Chanyeol. Sebenarnya ini bukan kali pertama Chanyeol muncul secara tiba-tiba.

“Baru pulang?” Chanyeol merapatkan tubuhnya dengan Irene. Sahabatnya sejak kecil.

Irene mengangguk, mengiyakan pertanyaan Chanyeol lalu melempar senyum yang selalu membuat pria ini tersipu sendiri.  Entahlah, senyuman itu bagaikan gula kapas yang selalu membuat Chanyeol ingin mencicipinya lagi dan lagi.

“Mau ramyun?” Chanyeol yakin sekali, sahabatnya ini pasti belum makan. Irene adalah seorang wanita, dimana mereka akan melakukan hal apapun agar tubuh mereka terjaga. Sekalipun, dengan tidak makan.

Awalnya Irene mengangguk antusias, hingga akhirnya dia ingat bahwa dia masih dalam masa diet yang Chanyeol sendiri juga tidak tahu kapan kegiatan menyiksa diri Irene itu akan berakhir?

“Ayolah Ren, kau tidak akan obesitas hanya dengan makan satu cup ramyun.” Chanyeol terus membujuk Irene dengan hasutan hasutan yang mungkin akan menggoyahkan iman Irene.

Dan akhirnya semua bisikan setan Chanyeol berhasil meruntuhkan benteng kuat yang Irene bangun.

.

.

.

Sebuah kedai ramyun favorit mereka sejak masa sekolah ini yang menjadi pilihan mereka. Dengan sangat semangat Irene terus menggerakkan sepasang sumpit yang ia pegang. Ia tidak berhenti barang sebentar untuk melahap ramyun ini.

“Kau tidak makan berapa bulan sih?” heran Chanyeol dengan tingkah kekanakan Irene.

Jujur saja, Chanyeol suka dengan Irene yang begitu kekanakan. Dimana dia selalu bertingkah manja kepada Chanyeol. Yah, pria ini sudah sejak lama menyukai Irene. Menyukai segala macam yang Irene miliki. Menyukai apapun juga yang Irene lakukan. Bahkan semua yang berhubungan dengan Irene selalu berhasil membuat kedua sudut bibirnya terangkat secara otomatis. Seperti saat ini, saat Irene sedang mengikat rambutnya ke belakang. Kalian juga pasti pernah mendegar, bahwa seorang wanita yang sedang mengikat rambut, cantiknya bertambah sepuluh kali lipat. Mungkin itu yang ada di pikiran Chanyeol.

“Cepat makan ramyunmu. Atau aku yang akan memakannya?” gurauan Irene kali ini juga berhasil membuat Chanyeol tertawa kecil. Setiap lelucon yang Irene buat memang selalu lucu baginya.

“Ren, kita sudah berteman berapa tahun?” Chanyeol mulai membuka lembaran lembaran kenangan tentang pertemanan mereka.

Irene tampak berpikir, mencoba mengingat dan menghitung usia pertemanan mereka. Namun, di luar harapan Chanyeol. Wanita mungil ini malah menggelengkan kepalanya seolah tak mampu mengingat apapun.

Lagi lagi Chanyeol terkekeh pelan dengan tingkah lucu dan menggemaskan Irene. Bagaimana tidak? Irene menggeleng bak anjing yang sedang mengunyah makanannya.

“Sekitar lima belas tahun kita berteman.”

Mendengar itu Irene langsung menjentikkan jarinya, menyetujui jawaban Chanyeol. Irene berusaha menelan ramyunnya dengan susah payah.

“Itu kau tahu. Kenapa tanya?” ujar Irene setelah berhasil menelan seluruh isi di dalam mulutnya.

Chanyeol tidak berniat menjawab. Ia hanya tidak ingin jawabannya malah menjadi malapetaka bagi kisah pertemanan mereka. Namun, tidak selamanya Chanyeol mampu memendamnya sendiri bukan? Chanyeol juga manusia, dia bukan sebuah robot yang dingin dan tidak mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan.

“Chan kau tahu? Besok aku akan kencan.”

Bagaikan disambar ribuan petir yang menghujam jantungmu di siang hari. Chanyeol terdiam dan terpaku mendengar setiap kata yang baru saja meluncur dari bibir tipis Irene. Dia seakan mannequin yang sedang di pajang di deretan toko depan sana.

“Dengan.. Siapa?” dalam situasi dan kondisi seperti ini Chanyeol masih terus berusaha untuk menjadi sahabat yang baik. Dia masih dengan senang hati mendengar setiap cerita yang Irene ucapkan.

“Dia seniorku di kampus. Keturunan China.” Chanyeol dapat melihat mata Irene yang berbinar ketika menyebutkan pria itu.

“China?”

Irene mengangguk sekali lagi, “dia sangat baik. Aku menyukainya.”

Dan inilah, rasanya sebuah samurai berhasil membabat habis jantung Chanyeol. Perih sekaligus nyeri yang bahkan tak sanggup untuk dideskripsikan lagi rasanya.

Hening setelah itu. Chanyeol memilih diam. Bukan untuk mengabaikan Irene, dia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Dia sangat takut jika apa yang dia lakukan sekarang malah membuat semua bertambah rumit.

“Ayo pulang.” Irene mengambil tas selempang putih miliknya lalu menarik tangan Chanyeol agar segera pergi dari kedai ini.

“Ren, tunggu.” Chanyeol menahan tangan Irene. Tidak, ini tidak benar. Sampai kapan Chanyeol akan terus diam seperti ini? Sudah berulang kali dia hanya diam ketika Irene selalu bercerita tentang pria yang akan dikencaninya. Dan diamnya itulah yang membuat Chanyeol semakin terjerumus kedalam perihnya cinta yang tak dapat terungkapkan.

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Pada akhirnya kalimat keramat itu meluncur dengan sempurna dan langsung menabrak indra pendengaran Irene. Tak ayal, jika sekarang wanita berusia 24 tahun itu diam. Sarafnya seolah kaku dan otaknya tidak mampu mengirim sinyal pada seluruh bagian tubuhnya.

Sahabat kecil yang selalu ia panggil ‘Channie’ tengah membuat lawakan paling lucu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Dengan sangat terpaksa, otak Irene berusaha menangkis setiap ucapan itu. Dia terus mengeluarkan gelak tawa agar Chanyeol segera mengakhiri leluconnya.

“Apa aku sedang bercanda?”

Irene menghentikan tawanya. Menatap mata Chanyeol yang penuh dengan keseriusan. Pria ini tidak sedang bercanda. Irene sangat mengenali Chanyeol. Dia bisa membedakan ekspresi Chanyeol ketika serius atau tidak. Dan dia yakin, sekarang Chanyeol sedang serius.

Dengan tatapan lembut, Irene menangkup pipi Chanyeol. Secara tiba-tiba degupan jantung Chanyeol lebih cepat dari sebelumnya. Rasanya ini sangat berbeda.

“Chan, aku tidak hanya menyukaimu. Aku sangat menyayangimu. Tapi mengertilah, sayangku padamu itu melebihi apapun. Kau sahabatku. Aku mohon, jangan minta aku menjadi kekasihmu. Aku tidak ingin, suatu saat kita berpisah. Aku tidak ingin kau membuatku menangis, aku ingin kau yang menjadi sandaranku saat aku menangis. Aku ingin kau yang selalu menghapus air mataku Chan, bukan menciptakannya. Ku mohon, jadilah seperti itu.”

Chanyeol diam tidak menjawab ketika Irene memeluk tubuh jangkungnya. Dia diam mematung tak ingin membalas.

“Lalu bagaimana jika kau yang menciptakan air mata untukku?”

FIN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s