[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Chanyeol – Samdeer

chan

Chanyeol – Samdeer

Park Chanyeol & OC | School-Life | PG

“Hadir bu,” ucapnya saat namanya disahutkan oleh seorang guru bertubuh kurus dan berkacamata. Guru wanita itu memperbaiki kacamatanya, menatap Chanyeol seperti sedang memastikan sesuatu. Guru itu kembali melihat absennya sebentar, lalu menatap Chanyeol lagi. Chanyeol yang merasa dilihati pun menjadi risih. Namun rasa risih itu berganti menjadi rasa takut saat melihat gurunya berjalan menuju bangkunya.

Chanyeol merasa jantungnya berdetak tak normal; lebih cepat dari biasanya. Rasa takut sekaligus rasa heran kini hinggap di hatinya. Perlahan Chanyeol bergerak mundur, saat guru itu mulai mendekat; Ia mencoba menjauh. Tepat ketika guru itu berdiri di ujung mejanya, Chanyeol menunduk dalam-dalam, menghindari kontak mata dengan gurunya.

Kini otaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Apa urusan guru itu dengannya? Mengapa terasa ada yang aneh? Atau-

Chanyeol membelalakkan matanya.

Mungkinkah guru itu tahu tentang perbuatan Chanyeol kemarin? Astaga, itu bisa jadi benar.

Ya, kemarin adalah hari terburuk menurut Chanyeol. Masalahnya, ia terpaksa memanjat pagar belakang sekolah hanya karena terlambat. Untungnya, kemarin tak ada yang melihatnya. Tapi tetap saja ia merasa khawatir tentang itu. Faktanya, di sekolahnya terpasang CCTV yang jumlahnya lebih dari 10 buah. Letaknya sudah jelas di tempat-tempat yang berbeda. Entah di sekitar pagar yang ia manjati ada CCTV atau tidak, tentu ia merasa khawatir.

Bukan hanya itu, kemarin ia tidak hanya mengalami dua kejadian yang tidak diinginkan. Bermula dari jam olahraganya di jam pelajaran kedua. Setelah melakukan pemanasan, ia segera mengambil bola dan memainkannya layaknya seorang ahli. Gayanya benar-benar sombong. Ketika ia menunjukkan skill menendangnya, sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Dengan sialnya, bola itu melambung dengan keras, melewati atas gawang, dan berakhir di salah satu kaca ruang guru. Tentunya menimbulkan bunyi yang keras.

Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung berlari menuju kelasnya, tidak memedulikan gurunya -yang mungkin saja terkejut dengan suara tubrukan itu- yang baru saja keluar dari ruang guru.

Chanyeol merasa gemetar, jantungnya berdetak tak normal.

Bagaimana tidak, raut wajah guru itu sama sekali tak bersahabat. Ditambah lagi setelah Chanyeol berhasil bersembunyi di dalam kelasnya, terlihat guru itu sedang memarahi beberapa murid yang tidak tahu menahu tentang kejadian ini.

Chanyeol merasa sangat gugup. Guru itu mungkin saja tidak memarahinya kemarin, tapi hari ini? Siapa yang tahu.

“Park Chanyeol…” suara guru itu mengagetkan Chanyeol. Ia tersentak, sehingga air liurnya menyebar ke daerah pipinya. Sontak saja, semua teman kelasnya langsung tertawa. Tak terkecuali Kris -teman sebangkunya- yang suara tawanya paling keras diantara lainnya. Chanyeol yang bingung, menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini. Tapi nihil, tak ada satupun jawaban yang berhasil didapatkannya. Hanya wajah konyol dan suara tawa yang membuatnya semakin bingung.

“Apa mimpimu indah?” Padahal sesaat yang lalu ia melupakan fakta bahwa gurunya sedang berada di depannya saat ini, dan kini perhatiannya beralih kepada gurunya. “Mengapa kau tertidur di kelas?”

Tunggu…, Apa Chanyeol tidak salah dengar? Dia, tidur? Bukannya tadi dia sedang menunduk karena takut dimarahi gurunya?

Tunggu…

Sebenarnya apa yang terjadi?

Chanyeol menelan salivanya, menyeka pipinya yang terasa lengket. Ugh! Sial! Air liurnya memenuhi sebagian pipinya. Terasa sangat lengket, seperti sudah mengering. Dia butuh waktu untuk menyadari ini.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik….

Chanyeol bangkit dari bangkunya, menyambar kartu izin, dan berlari secepat kilat menuju luar kelas.

‘Mungkin ia sudah mengerti situasinya.’

—–

“Haah!” Chanyeol membuang dirinya di atas sofa empuk milik rooftop sekolah. Chanyeol menutup matanya. Tanpa butuh waktu yang lama, ia sudah berada di alam mimpinya. Dan sebenarnya, dia masih belum mengerti kejadian yang dialaminya. Yang ia tahu, kejadian beberapa menit yang lalu membuatnya benar-benar merasa malu. Sehingga ia menjadi malas untuk melanjutkan pelajaran. Dia pikir, daripada melanjutkan pelajaran, atau pergi ke toilet, tidur adalah pilihan terbaik.

Bisa kalian bayangkan, kan? Dia – tidur – tanpa – mencuci – muka.

Dan… air liurnya masih belum hilang dari pipinya. Oh! betapa menjijikkannya dia.

SELESAI

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s