[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] BEST LUCK – ErikaJo

15204105_1669310420034712_1967784193_o

Best Luck

written by ErikaJo

Cast: Park Chan Yeol and Song Ye-Na OC || Romance || G

-*-

“Kenapa seisi kantor begitu sibuk? Memangnya ini hari apa?” Ye-Na meraih kalender meja dan memandangnya, memperhatikan tak ada lingkaran merah yang biasanya ia beri jika menyangkut sebuah hari khusus, seperti tanggal pembayaran kontrak flat atau tagihan lainnya.

Pada akhirnya ia hanya mengangkat bahu tak acuh. Lagipula ini bukan masalahnya, mendapati para pegawai wanita di sekitarnya sibuk dengan urusan mereka; berdandan dan bergosip entah apa, sepertinya begitu serius. Ye-Na mendesah keras, berusaha mengacuhkan suara mereka yang begitu bising. Dalam divisinya, hanya ia sendiri yang diabaikan. Ketika para pekerja lain berkumpul, ia hanya akan sendirian.

Bukan karena mereka mengucilkannya, namun karena sikap Ye-Na yang dingin.

Usai memeriksa sebuah proposal yang diberi oleh Se Hun—sekretaris CEO mereka yang bahkan belum pernah Ye-Na lihat, Ye-Na menutup map itu dan mendorong ke belakang kursinya sambil memeluk berkas itu di tangannya. Mendorong roda bangkunya untuk menepi, Ye-Na pun berlalu menapakkan kakinya dari sana, berniat mengembalikan proposal tersebut pada Se Hun.

Menunggu sejenak di depan lift, Ye-Na lekas masuk begitu kedua sisi pintu terbuka. Masuk ke dalamnya, sepersekian detik sebelum ia menekan tombol berupa angka ke lantai berapa ia akan berhenti, sosok jankung berjas hitam mendadak membelah kedua sisi pintu yang hendak tertutup, menyelubung masuk bersama Ye-Na.

“Oh… astaga.” gumam Chan-Yeol mendesah lega.

Ye-Na melirik melalui ekor mata, kemudian berniat menekan tombol lantai lagi. Dalam diam, Chan-Yeol memperhatikannya. Ye-Na menepi dan berdiri di belakang enggan berdekatan dengan Chan-Yeol. Pria itu tentu saja meneleng bingung akan sikap Ye-Na, ia menjadi sedikit canggung. Ye-Na memandang lurus ke depan sambil sesekali menatap ke layar di atas lift guna mengetahui lantai berapa saja sudah terlalui.

Ia berada di lantai 12, dan harus ke lantai 20.

Kala lift masih merangkak naik ke atas, suara berdebum yang begitu keras mendadak mengejutkan keduanya seiring lantai besi yang mereka tapaki tiba-tiba bergoyang seolah jatuh ambruk, Chan-Yeol yang sadar akan keadaan langsung menarik Ye-Na untuk melindunginya. Namun sedetik kemudian usai Ye-Na memucat, lift pun berhenti seiring lampu yang pun memadan sejenak, berkedip sebelum hidup kembali.

“Kau tidak apa? Sepertinya lift ini jatuh. Aku akan menghubungi security.” Chan-Yeol melepas genggamannya pada Ye-Na, menghampiri interkom dan berusaha berbicara di sana, memanggil petugas di bawah. Beberapa kali tak tersambung dengan jelas, Chan-Yeol mendesah keras. Ia lantas meraih ponsel, tak ada sinyal, namun tetap mencoba menghubungi seseorang yang ia kenal dekat.

“Oh! Se—Halo? Hun-a, sepertinya lift yang kutumpangi jatuh. Bisakah tolong panggilkan pemadam kebarakan? Ya, aku baru saja datang dan… hell, jangan lama-lama. Aku bersama seorang wanita di dalam. Baik, aku menunggu.” Mendesah lega, Chan-Yeol menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu menoleh ke belakang memandangi Ye-Na sejenak. “Mm, maaf. Apa kau terluka?”

Ye-Na mengerjap beberapa kali, “Apa aku mengenalmu, Tuan?”

Chan-Yeol berdeham, mengusap tengkuknya canggung dan tersenyum malu. “Tidak. Tapi kita bisa berkenalan,” Ia mengulurkan tangannya pada Ye-Na. “Namaku Chan-Yeol. Park Chan Yeol. Dan kau…”

“… Song Ye-Na.” Ye-Na menyambut perkenanalan Chan-Yeol namun enggan membalas uluran tangan itu.

“Ye-Na…” Chan-Yeol mengeja nama Ye-Na dalam senyuman. “Akhirnya aku tahu namamu,” gumamnya mengundang rasa penasaran Ye-Na yang mampu mendengarnya karena ruang persegi yang kedap dan menggemakan suara itu. “Kau mungkin tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu.”

Ye-Na tak menyahut, hanya diam mendengarkan. Menaikkan sebelah alisnya menanti lanjutan kata-kata pria jankung itu.

“Di hari pertama bekerja, aku bertemu dirimu, satu-satunya wanita yang tak mengindahkanku. Ck, kau begitu tak acuh padaku, bahkan dengan sekitarmu. Ketika aku berusaha mencari tahu siapa dirimu, ternyata aku tahu, kau wanita yang spesial.” Chan-Yeol tersenyum lebar, ciri khasnya yang membuatnya banyak digilai wanita. Ia ramah, suka berbicara dan akrab dengan siapapun. Bukan tipe pria dingin yang menyebalkan.

Ye-Na menoleh, “Apa maksudmu, Tuan? Memangnya, kau siapa?”

“Mm, aku hanya seseorang yang kebetulan menjabat suatu posisi di sini, tugasku tidak banyak. Aku hanya perlu bertemu orang lalu berbicara, menandatangani surat, membaca berkas, dan yang paling utama adalah…” Chan-Yeol tersenyum. “Tugasku hanya duduk di kursi, bermain iMac dan bersantai. Bukankah aku lebih mirip dengan seorang pengangguran?” Ia terbahak kemudian.

Ye-Na tak berpikir banyak. Ia bahkan dibuat cukup bingung dengan penjelasan Chan-Yeol yang agak berbelit. Namun Ye-Na mengangguk kecil sebagai balasan yang diberikan. Bibirnya tetap merapat. Suasana menjadi kaku kemudian, memaksa Chan-Yeol untuk mencairkan atmosfer yang dingin. Sungguh, ia benci jika harus diam begini. Terjebak di lift bersama seorang wanita yang dingin.

Termenung cukup lama, Ye-Na mendadak dikejutkan oleh Chan-Yeol yang tiba-tiba heboh sendiri dengan senyuman lebar yang membuatnya tampak bodoh. Ye-Na bahkan sampai membulat lebar dan berjaga melindungi dirinya sendiri, khawatir dengan sikap aneh Chan-Yeol. Chan-Yeol berbalik, memandang Ye-Na dengan ekspresi berlebihan. “Ye-Na, apa jangan-jangan… lift ini sengaja diberhentikan?”

Mengerutkan dahi tak mengerti, Ye-Na menggeleng pelan. “Maksudmu?”

“Hari ini adalah hari ulangtahunku. Mungkin saja para wanita sedang mempersiapkan kejutan untukku, dengan sengaja mematikan lift ini, lalu ketika lift terbuka, mereka akan berteriak heboh sambil memberiku kue ulangtahun! Lalu aku akan diberi hadiah dan… auh!” Chan-Yeol memekik tiba-tiba ketika Ye-Na memukul kepalanya gemas.

“Hei, bisakah kau sedikit realistis, Tuan? Jangan menyimpulkan kesempatan sendiri. Bukankah kau bilang kau adalah semacam pengangguran? Memangnya siapa yang mau menyambutmu?” Selain dingin, kini Chan-Yeol tahu kalai Ye-Na juga memiliki ucapan yang tajam. Kata-kata yang lolos dari bibirnya seperti pedang bermata dua. Cukup menohok.

“Itu… kau tahu kalau aku ini sebenarnya—”

Mendadak, lift kembali berjalan merangkak naik. Tanpa persiapan apapun bahkan sebelum Chan-Yeol menyelesaikan ucapannya, kedua sisi pintu lift terbuka lebar, bersamaan teriakan selamat ulang tahun menggema keras ditemani sebuah fruit cake lumayan besar. Para pegawai wanita dan pria, memakai topi ulang tahun berbentuk kerucut.

“Selamat ulang tahun CEO tampan kami!” seru mereka semua bersamaan.

“Nah… benar, ‘kan tebakanku?” gumam Chan-Yeol tersenyum lebar. Kala ia menoleh pada Ye-Na, wanita itu membeku dengan tatapan tak percaya. “Demi Tuhan… dia adalah CEO?” Ye-Na balas menatap Chan-Yeol, menelan salivanya sukar.

“Ye-Na,”

“Ya, Presdir.” Ye-Na mendadak gugup.

“Bisakah aku membuat sebuah permintaan padamu? Anggap saja sebagai cara menebus kesalahnmu. Aku pikir… ini adalah hari keberuntungan terbaikku,” Menarik tubuh Ye-Na yang kaku mendekat, ia melanjutkan. “Jadilah pacarku, Nona Song.”

-*-

FIN

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s