[Chanyeol Birthday Project] My promise – Saimmi

myhome

 

[Chanyeol Birthday Project] My promise – Saimmi
Park Chanyeol & Lee Jieun (OC) | Romance, sad.

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran author. Cerita ini terbentuk karena kefrustasian author disela-sela mengerjakan tugas. Jadi ya memang sedikit absurd, tapi semoga kalian suka. Happy reading.
.
.
.

“Chagi aku pulang.” Ucap Chanyeol sambil menutup pintu aprtemennya.

Tidak ada jawaban. Keadaan apartemen Chanyeol pun saat ini gelap gulita. Entah mengapa Lee Jieun tak menyalakan lampunya.

Park Chanyeol berjalan menuju saklar lampu, berniat untuk menyalakannya.

“Jangan dinyalakan.” Ucap seorang.

“Lee Jieun kau kah itu?” Tanya Chanyeol.

Tidak ada jawaban lagi. Chanyeol merasa aneh, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini. Apa dia sedang dijebak atau sedang dikerjain?

Sebuah tangan mungil menggenggam tangan milik Chanyeol. Namja itu tersentak tapi dia tak mengeluarkan suara apapun, dia mengikuti langkah yeoja mungil didepannya. Chanyeol tahu itu Lee Jieun. Yeoja itu membawa Chanyeol ke dalam kamarnya.

Lee Jieun menyalakan lampu di kamar Chanyeol. Namja itu hanya memandang kekasihnya heran.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Ani, hanya heran saja. Kenapa kau mematikan lampu? Dan kenapa kau membawa kamera itu?” Tanya Chanyeol heran.

“Aku punya sedikit kejutan untukmu, lekaslah mandi dan kau akan segera tau apa kejutannya. Dan kamera ini untuk merekam kegiatan kita.” Jelas Lee Jieun.

“Cepatlah mandi aku akan menunggu di luar.” Ucap Lee Jieun lagi.

“Baiklah.” Chanyeol segera berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Dia tak sabar melihat kejutan yang disiapkan sang yeojachingu.

Chanyeol sudah selesai dengan acara mandinya. Dia juga sudah memakai baju santainya. Saatnya melihat kejutannya. Namja itu keluar dari kamarnya.

“Hey Lee Jieun kau dimana?” Tak ada jawaban dari gadis itu. Namun tiba – tiba saja lampu ruangan itu menyala. Rupanya Lee Jieun lah yang menyalakan.

Chanyeol terpaku. Namja itu tak habis pikir bagaimana bisa apartemennya bisa berubah seperti ini.

“Hey chagi, apa kau yang memdekor semuanya?” Tanya Chanyeol. Lee Jieun hanya mengangguk dan berjalan menuju kearah Chanyeol. Oh jangan lupakan kamera yang ada di tangannya.

“Mari ikut aku.” Ajak Lee Jieun.

Lee Jieun berjalan ke arah dapur diikuti Chanyeol dibelakangnya. Gadis itu menunjuk kearah kulkas yang ada disana. Chanyeol menemukan banyak sekali note yang tertempel disana.

“Apa ini juga kerjaanmu?” Tanya Chanyeol lagi.

“Tentu saja.”

“Good morning. Jangan mulai aktivitasmu tanpa sarapan! Saranghae – Lee Jieun”

Chanyeol membaca salah satu note yang ada disana.

“Kenapa kau menulis ini?” Lagi – lagi Chanyeol bertanya.

“Kau selalu melupakan sarapanmu. Jadi aku menulis itu, agar kau tidak lupa.” Jieun terkekeh kecil.

“Emm ara.”

“Sekarang ayo ke meja makan.” Ajak Jieun lagi.

Chanyeol hanya menggeleng – gelengkan kepala. Bagaimana bisa gadis mungil itu memasak makan segitu banyaknya.

“Karena hari ini, hari spesialmu jadi semua masakan ini spesial untukmu. Duduklah.” Ucap Jieun.

“Ck bagaimana bisa. Hey aku selalu merepotkanmu.” Ucap Chanyeol

“Tidak merepotkan jika itu semua untukmu chagi.” Jieun tersenyum, tangan mungilnya meletakkan kamera yang sejak tadi dia pegang. Yeoja itu menyalakan lilin yang sudah tertata diatas kue tart.

“Selamat tanggal 27 November sayang. Kuharap kau tidak menjadi tua yang menyebalkan. Sekarang tiup lilinnya tapi make a wish first.”

Chanyeol menutup mata dan memanjatkan harapannya.

“Apa permohonanmu kali ini?” Tanya Jieun penasaran.

Chanyeol hanya tersenyum. “Aku harap, aku bisa melewati setiap tanggal 27 November bersamamu. Mari melewati momen ini berdua. Apa kau mau?”

“Apa kau yakin hanya akan melewati berdua denganku? Apa kau tak akan melewatinya dengan gadis lain?”

“Tidak akan. Kecuali mungkin itu anak kita. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku hanya akan menikahimu. Jika aku tidak bisa menikahimu maka aku tidak akan menikahi gadis lain.” Ucap Chanyeol mantap.

“Mana bisa seperti itu. Tapi baiklah tak apa. Kau sudah membuat janji dan kuharap kau menepati janjimu.” Ucap Jieun sambil terkekeh.

“He aku serius kenapa kau tertawa?” Tanya Chanyeol.

“Ne ne araseo.”

**
Film itu masih memutar di tv milik Chanyeol. Semua rekaman dirinya bersama sang kekasih ah bukan istrinya disaat hari ulang tahunnya masih terputar disana. Tak terasa bulir air mata membasahi pipi milik Chanyeol. Hari ini adalah tanggal 27 November seharusnya hari ini Chanyeol melewati bersama Jieun, Park Jieun. Tapi gadis itu memutuskan untuk pergi sejak beberapa tahun lalu. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

“Appa.” Panggil seorang gadis kecil. Gadis itu berdiri di depan Chanyeol dan membawa sebuah kue berukuran kecil.

“Saengil chukkae Appa.” Ucap gadis itu. Chanyeol menatap gadis itu, entah mengapa ia tak kuasa menahan tangisnya.

“Bukankah hari ini hari spesial intuk Appa? Kenapa Appa menangis? Harusnya Appa tersenyum.” Tanya gadis itu polos. Micha menoleh ke arah layar tv.

“Apa Appa merindukan Eomma?” Tanya gadis itu lagi. Chanyeol hanya menganggukan kepala menanggapi omongam anaknya.

“Aku juga merindukam Eomma, terkadang aku juga menangis, tapi aku tau Eomma pasti tidak suka melihatku menangis. Pasti dia juga tidak suka melihat Appa menangis. Jadi Appa jangan menangis lagi ne. Sekarang tiup lilinya Appa.” Pinta gadis itu. Chanyeol menutup mata untuk membuat harapan.

“Apa harapan Appa kali ini?” Chanyeol kembali teringat dengan Jieun. Kenapa anaknya ini bisa mirip sekali dengan Jieun.

“Appa berharap semoga jagoan Appa satu ini bisa terus ada disamping Appa.” Ucap Chanyeol.

“Tentu saja aku akan terus bersama Appa. Dan mari melewati setiap tanggal 27 November bersama Appa.”

“Apa kau janji dengan Appa?” Tanya Chanyeol.

“Ne, aku janji Appa.” Ucap gadis itu.

Chanyeol merengkuh anaknya dalam pelukannya. Terlalu banyak sifat aak itu yang menurun dari Jieun.

Jieun-ah apa kau melihat kita sekarang? Apa kau mendengar ucapan anak kita tadi? Bukankah dia berjanji akan melewati setiap tanggal 27 November bersama denganku. Dulu aku yang memintamu untuk melakukan hal itu, tapi sekarang anak kita lah yang memintanya. Dan apa kau bahagia disana, aku menepati janjiku bukan bahwa aku tidak akan menikahi orang lain kecuali dirimu.

“Appa aku ingin melihat bintang.” Chanyeol bangkit dan menggendong anaknya. Keduanya kini memandang langit bertabur bintang.

“Appa lihatlah, bintang itu tampak paling bersinar dari yang lain.”

“Appa anggap saja bintang itu Eomma.”

“Jadi apa ada yang ingin kau ucapkan kepada Eomma?” Tanya Chanyeol.

“Eomma kami merindukanmu.” Ucap gadis itu sambil terus memandang ke langit.

“Sekarang giliran Appa.” Ucapnya lagi.

Chanyeol diam, banyak hal yang ingin ia ucapkan tapi sepertinya itu mustahil. Namja itu menghela nafas kasar. Chanyeol mengulas senyum dan memandang anaknya.

“Jieun-ah kami mencintaimu.”

-Fin-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s