[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Little Chanyeol –kim hyomi

1480545893698.jpg

Park Chanyeol (10 yo)
Park Mina (30 yo)
Choi Jaeyong (28 yo)

Family | G

*

Namaku Park Chanyeol, usiaku sepuluh tahun. Aku memiliki seorang ibu yang sangat cantik bernama Park Mina. Ibuku adalah yang terbaik. Dia pandai memasak dan juga pintar. Ibuku adalah seorang wartawan. Hebat bukan?

Ibuku membuat berita yang dibaca banyak orang. Ibu punya banyak alat perekam. Itulah kenapa aku suka sekali merekam sesuatu. Suaraku, suara burung yang berkicau di pagi hari, juga suara paman Jaeyong. Oh dia adalah tetangga kami. Aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Iya, aku sudah tidak memiliki ayah. Kata ibu, ayah sudah meninggal. Aku belum pernah bertemu dengan ayah.

Paman Jaeyong sangat baik padaku. Dia yang akan menjagaku ketika ibu bekerja. Dia adalah seorang arsitek, jadi dia bisa bekerja di rumah. Paman Jaeyong orang yang baik. Sangat baik malah. Aku menyanyanginya.

*

“Chanyeol-ah, kau ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu besok?” ibu bertanya padaku di suatu malam. Oh, dua hari lagi adalah ulang tahunku.

“Aku ingin cake! Yang besar juga alat perekam baru!”

Ibu tertawa mendengar jawabanku, dia mengusap kepalaku lalu mencium puncak kepalaku. “Baiklah, tapi Chanyeol harus jadi anak baik dulu.”

“Aye captain!”

Aku memeluk ibuku. “Oh ibu!”

“Iya sayang, ada apa?”

“Besok undang paman Jaeyong ke ulang tahunku ya?”

Ibu tersenyum dan aku bisa melihat rona merah di pipi ibu. “Baiklah.”

*

“Mohon bantuannya Jaeyong ssi.”

Aku langsung berlari ke arah paman Jaeyong setelah ibu membungkuk hormat pada paman Jaeyong. Aku sudah merindukan paman Jaeyong. Dua hari ini paman sibuk jadi aku tidak bisa bermain dengannya.

“Paman!”

“Aigoo Chanyeol-ah jangan berlari.”

Paman Jaeyong menangkapku dan langsung menerbangkanku ke udara. Aku tertawa keras dan mencoba menjauhkan wajah paman Jaeyong dari perutku. Dia sedang sekali menciumi perutku, membuatku geli.

“Sudah paman haha lepaskan haha.”

“Astaga kau menggemaskan sekali sayang.” Paman Jaeyong menurunkanku dan dia berjongkok di depanku. Dia mengusak kepalaku. “Ayo pamit dulu sama ibu.”

“Umm.” Aku berbalik menghadap ibu. “Ibu hati-hati di jalan. Cepat pulang dan jangan lupa makan siang. Chanyeol akan jadi anak baik jadi ibu tenang saja.”

“Benar Mina ssi, aku pastikan Chanyeol tidak nakal.”

Oh aku melihatnya lagi. Rona merah di wajah ibu. Dan sekarang disebabkan senyuman tampan paman Jaeyong.

Setelah ibu pergi bekerja, paman Jaeyong menuntunku untuk masuk. Aku bisa melihat banyak sekali kertas berserakan di ruang kerja paman Jaeyong. Wah dia pasti sangat sibuk.

“Nah Chanyeol-ah, apa yang akan kita lakukan hari ini?”

“Oh!” Aku dengan cepat membuka isi tasku, mengeluarkan alat perekam. “Merekam paman yang sedang bekerja! Ibu baru saja membelikanku handycam!”

“Wah bagus sekali, Chanyeol bisa menggunakannya?”

“Tentu saja! Ibu sudah mengajari Chanyeol caranya.”

Dan hari itu aku habiskan dengan merekam paman Jaeyong membuat sketsa untuk proyek barunya. Paman Jaeyong sangat hebat dalam menggambar. Aku jadi ingin jadi arsitek. Tapi aku lebih suka jadi sutradara hehe.

*

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Ibu berjanji untuk pulang lebih cepat dan meniup lilin bersama denganku. Oh kami juga mengundang paman Jaeyong. Aku dan paman Jaeyong sudah duduk di ruang tamu apartemenku. Tapi ibu belum juga pulang.

Sekarang pukul delapan malam, aku masih menunggu ibu untuk pulang.

“Chanyeol-ah, bagaimana kalau tiup lilinnya sama paman saja?”

Aku menggeleng. “Tidak, aku ingin dengan ibu. Ibu sudah janji akan pulang cepat. Sebentar lagi pasti ibu pulang.”

Paman Jaeyong mengusap kepalaku setelahnya. Aku masih menunggu. Lilin di atas kue tart yang tadi aku beli dengan paman Jaeyong sudah hampir habis.

Aku mendengar pintu apartemen terbuka dan aku segera berlari ke arah pintu. Benar, itu ibu. “Ibu!”

“Chanyeol-ah, maafkan ibu.”

Ibu memelukku seraya meminta maaf. Kepalaku menggeleng cepat. “Tidak, ibu tidak perlu minta maaf. Ayo kita tiup lilinnya!Ayo ibu!”

Ibu tersenyum ketika aku menariknya ke ruang tamu. Segera aku mendudukkan diri di samping paman Jaeyong dan ibu berada di sebelahku.

“Sudah pulang Mina ssi?”

“Iya, maaf terlambat.”

“Tak masalah, Chanyeol sudah tak sabar meniup lilinnya.”

Aku menggenggam tangan ibu dan Paman Jaeyong. Ibu dan paman Jaeyong tampak terkejut tapi aku hanya tersenyum. “Ayo kita tiup lilin sama sama.” ucapku.

“Tidak ingin buat permintaan dulu?” tanya paman Jaeyong.

“Ah benar, ibu paman ayo kita buat permintaan!”

Mataku terpejam dengan satu tangan milik ibu dan satu milik paman Jaeyong di masing-masing genggamanku. Aku berdoa, Tuhan terimakasih karena telah memberiku ibu secantik ibuku. Terima kasih sudah memberi kesehatan pada ibu. Juga terima kasih karena mempertemukan kami dengan paman Jaeyong. Aku berharap dia menjadi ayahku.

Aku membuka mataku begitu pula dengan ibu dan paman Jaeyong. “Ayo tiup lilinnya!” seruku semangat dan kami melakukannya. Lilin berbentuk angka satu dan nol itu padam.

“Selamat ulang tahun sayang.”

“Selamat ulang tahun jagoan kecil, apa paman boleh tahu apa permintaanmu tadi?”

Aku menggeleng. “Tidak, kata ibu permintaan itu rahasia. Jika Chanyeol mengatakan permintaan Chanyeol maka permintaan itu tidak akan terkabul.”

Wajah paman Jaeyong langsung berubah kecewa tapi aku tahu jika itu hanya dibuat-buat. Aku mendekatkan wajahku ke telinga paman Jaeyon. “Paman, aku ingin punya ayah sepertimu. Itu permintaanku.”

Segera aku menjauhkan diri dan aku bisa melihat paman terkejut. Astaga lucu sekali wajah paman Jaeyong ketika terkejut. Ibu sepertinya penasaran dengan apa yang aku bisikan di telinga paman Jaeyong.

“Bagaimana paman? Kira-kira permintaanku bisa jadi kenyataan tidak?”

Paman Jaeyong terkekeh setelahnya. Dia mengacak rambutku lalu mengedipkan sebelah matanya. “Baiklah! Permintaanmu akan segera dikabulkan!” serunya bahagia. Aku ikut tertawa dan kami membiarkan ibu kebingungan dengan tingkah kami.

*

Paman Jaeyong membuktikan ucapannya saat ulang tahunku. Satu minggu setelah ulang tahunku, dia melamar ibuku. Aku yakin ibu akan menerima paman Jaeyong, dan benar. Mereka akan menikah dua bulan lagi.

“Paman -“

“Tidak tidak, panggil aku ayah mulai sekarang.”

Aku tersenyum. “Ayah, terima kasih!”

Aku memeluknya dan dia menggendongku dengan sebelah tangan menggenggam jemari ibuku. Aku senang, akhirnya aku punya ayah. Aku senang, permintaanku jadi kenyataan.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s