[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] YOU, WHO WENT AWAY – MEYDA WULAN

1480464467821.jpg
Park Chanyeol & Son Wendy | College-Life, Romance | General
+++


“Beritahu aku, apa Chanyeol menciptakan lagu untukmu waktu kalian pacaran?”

Jujur, pertanyaan temanku barusan berhasil membangkitkan sesuatu dalam diriku yang tidak akan kuasosiasikan dengan kebahagiaan—karena begitu otakku berhasil meregistrasi, bulu kudukku refleks meremang dengan sendirinya. Mengapa, aku juga tidak tahu sebabnya. Lebih-lebih karena sudah lama sekali sejak Chanyeol dan aku memiliki hubungan yang jauh lebih intens dari saling menyapa hai saat berpapasan di koridor sekolah. Dua tahun, aku ingat. Dua tahun semenjak aku lulus dari SMA, dua tahun pula semenjak jarak tercipta antara kami berdua.

“Wendy? Dengar pertanyaanku barusan, ‘kan?”

Buru-buru aku mengangguk. “Um… pertanyaanmu itu… harusnya kau tanya pada Yeji—dia pacaran lebih lama dengan Chanyeol, ‘kan?” kataku.

Temanku mendengus kasar sebelum menyahut, “Sudah, katanya Chanyeol tidak pernah bikin apa-apa untuknya. Kita semua tahu kalau Chanyeol senang membuat lagunya sendiri, bagaimana mungkin dia tidak menciptakan satu pun lagu untuk kita, pacar dan mantan-mantannya?”

Mungkin dialog kami kedengaran aneh di telingamu, tapi Park Chanyeol itu semacam primadona cowok di kota kami, jadi wajar saja kalau begitu banyak cewek yang telah dia pacari—dan pada akhirnya putuskan—termasuk diriku sendiri. Kau pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin aku bisa betah berteman dengan mantan-mantan dan pacar Chanyeol? Bagaimana mungkin aku tidak merasa iri? Cemburu?

Karena kami putus. Bagiku, putus hubungan artinya putus pula perasaan. Kalaupun aku masih menyimpan rasa, aku pasti akan menyimpannya sendirian. Harga diri tak akan pernah mengijinkanku mengumbarnya ke orang lain—tidak Chanyeol, tidak juga temanku. Kurasa itulah yang membuatku—pada akhirnya—berhasil mengakhiri rasa sukaku.

Aku berdeham untuk mengembalikan fokus. “Kau yakin sudah menanyai semua mantan Chanyeol yang kita kenal? Siapa tahu Chanyeol—”
“Tidak ada, Wendy. Aku sudah bertanya ke sana-kemari, dan mereka semua bilang nggak, beberapa dari mereka bahkan nggak tahu kalau Chanyeol suka bikin lagu. Itu namanya keterlaluan atau apa?”

Itulah yang membuatku mengeluarkan lagi kardus kuno bertitel ‘SMA’ ini. Mengaduk-aduk isinya—khawatir kalau benda itu lenyap, dan lega luar biasa ketika persegi transparan dengan tempelan stiker ‘For W, From C’ akhirnya berada di tanganku.
Temanku salah. Park Chanyeol pernah mencipta lagu dan—sulit dipercaya—dia menciptakannya untukku.

Sekarang setelah CD bulat tersebut berada dalam jarak penglihatan, memori-memori lama terseret kembali ke permukaan pikiranku; berenang-renang dengan kurang ajarnya tanpa henti. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mencintai CD ini—beserta isinya, beserta pembuatnya—dengan segenap dan setulus hati. Begitu menggilainya sampai segala kegiatanku akan ditemani dengan lantunan lagunya, begitu tenggelam sampai sehari takkan terasa seperti sehari kalau tidak sekali saja mendengarkannya.
Aku ingin membela diri, bilang kalau itu ‘kan dulu, perasaanku sekarang sudah berubah, tapi saat ini, ketika aku memberanikan diri untuk menyetelnya kembali, aku merasa tidak yakin lagi.

Aku benci mengakui ini, tapi setelah mendengarkannya sekali kemarin—bohong, aku ketagihan dan berakhir memutar lagu Chanyeol lima belas kali—kepalaku jadi terisi dengan lirik-lirik oh-sangat-romantisnya lagi. Aku bahkan mulai menyanyikannya tanpa sadar, seakan-akan saraf otakku di-reset ke masa-masa SMA, di mana aku memang punya hak untuk melakukannya karena, pada waktu itu, Park Chanyeol memang milikku.
Aku ingin tertawa, tapi batal karena aku tengah berjalan di tengah koridor kampus dan coba tebak siapa yang saat ini tengah bersandar di salah satu pilar tiga langkah di depanku?

Tentu saja Chanyeol.

“Oh, Wendy?”

Kepalaku refleks menoleh secepat kilat, tergesa kuubah ekspresiku sambil menyahut, “Ya?”

Chanyeol menampilkan senyuman-sejuta-dolar miliknya yang populer, bikin jantungku melonjak tak tahu diri. “Lihat Areum?” tanyanya.

Bagusnya, pertanyaan Chanyeol berhasil membawaku kembali ke bumi, tempat di mana For W, From C tak lagi eksis, tempat di mana Areum—temanku, sekaligus pacar terbaru Park Chanyeol—adalah poin utama mengapa dia repot-repot menyapaku. Jeleknya, jantungku mencelus dengan begitu drastisnya sampai terasa agak sakit. Ya ampun.

“Belum,” aku tercengang mendengar nada suaraku yang begitu normal, seakan-akan aku tidak baru saja mengalami krisis eksistensial. “Dia tidak sejadwal denganku hari ini.” Tambahku, lalu buru-buru melambaikan tangan dan melanjutkan perjalanan.
Berhasil mengakhiri rasa sukaku, kubilang? Bah, aku memang tukang bohong nomor satu sedunia.

“Kami putus.”

Lagi-lagi, temanku Areum berhasil membuatku bangkit dari lamunan dengan kalimat-kalimatnya. Aku bertanya, “Siapa putus?”

Dia mendengus, “Aku, dan Chanyeol.”

Aku melotot, “Putus? Kukira kalian bakal bertahan selamanya!” itu benar adanya.

Chanyeol dan Areum—sejauh ini—tidak pernah mengalami naik-turun. Hubungan mereka lurus dan penuh cinta.

Areum menyibakkan rambutnya dan menghela napas, “Kami bertemu tadi. Rencananya akan makan siang, tapi aku teringat soal lagu-lagu itu. Jadi kutanya, mengapa kau tidak pernah menciptakan lagu untukku? Gelengan. Kutanya lagi, apa kau pernah menciptakan lagu untuk seseorang? Dia mengangguk, tapi tidak bilang siapa. Lalu aku kesal, kukatakan kalau dia tidak mau membuka diri, lebih baik kita putus. Kukira dia bakal memilihku, tapi memang apa yang kuharapkan? Tentu saja dia memilih yang terakhir. Tololnya aku.”

Rasa bersalah tiba-tiba merambati diriku—entah karena apa, toh, bukan salahku ‘kan kalau akulah yang beruntung mendapatkan kehormatan berupa lagu ciptaan Chanyeol? Tapi tetap saja, rasanya sungguh tidak nyaman.

Bicara terus terang, sebenarnya tidak ada yang spesial dari hubunganku dengan Chanyeol dulu. Kami berdua hanya siswa SMA yang saling jatuh suka. Sudah.

Hanya saja, ada banyak—begitu banyak—hal yang kami lalui bersama saat itu. Perasaan kami, dalam sudut pandangku, terasa dalam dan menyeluruh. Kami dekat, kami saling memahami satu lain. Dia menangkap humorku, dan aku mendengarkan celotehannya soal musik. Dia bilang suaraku enak didengar, dan kubilang permainan gitarnya keren. Dia bilang aku satu-satunya anak perempuan yang tidak memprotes karena dijemput dengan sepeda motornya, kubilang dia satu-satunya anak laki-laki yang tidak ilfeel duluan dengan tawa superlebarku.

Kami jatuh cinta, tapi tepat di saat kami berdua dinyatakan lulus dari sekolah menengah, Chanyeol mengajakku bicara serius. Aku ingat diriku—yang tidak tahu apa-apa—menurut, dan harusnya aku telah memprediksinya. Harusnya aku sudah menangkap radar, atau sinyal, atau apa pun itu yang jelas-jelas mengindikasikan ini.

“Pacar semasa SMA harusnya hanya bertahan sampai SMA.” Begitu kata Chanyeol, dengan tegasnya, dengan tanpa ampunnya, tapi juga dengan nada meminta maaf, karena dia tahu. Park Chanyeol pasti tahu kalau pernyataannya tidak ada dalam kamusku.
Dulu, Chanyeol butuh Wendy, dan begitu pula sebaliknya. Sekarang, Wendy mungkin butuh Chanyeol, tapi tidak sebaliknya, karena Chanyeol punya kehidupan sendiri, urusan sendiri—kami sudah berpisah, bukan?

6 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] YOU, WHO WENT AWAY – MEYDA WULAN

  1. seandainya bisa nge-like ini ff berkali-kali aku pencetin itu tombol berkali-kali :” ini bahasanya suka banget aku kaaak nggak terlalu baku juga nggak terlalu nyantai jadi masih nyeni gituu. penasaran sama yang chanyeol side-nyaaa juga sama sequelnya kalo bisa kaak plispliss

  2. Meyda, kamu emang hobi banget ya bikin ending gereget semacam ini😄 Aku suka gaya bahasa kamu ya ringan dan mengalir sekali, sampe ngga kerasa udah end. Lama ngga baca otp ini, jadi rada kangen sih.
    Keep writing yoo~

  3. Bentar ini Meyda yg kukenal bukan ya, style nulisnya mirip bgt dan nikmat bgt soalnya. Pair favorit pula. Aliran dialog dan eventnya menyenangkan utk dibaca dan endingnya sialan sekali. Andai saja ditulis dari pov Chanyeol pasti akan lebih asyik secara ini kan event bd nya Yeol.
    But its Ok wae masih nyaman kok buat bacaan🙂 keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s