[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Revenge – ujimintz

1480463704612.jpg
Park Chanyeol & Cha Hyemi (OC) || Thriller, Psycho || PG-15

Gelap. Pengap. Amis. Itu yang kurasakan ketika aku bangun dari tidurku, yang entah kenapa tak pernah seperti di kamarku, hanya berupa tempat minim cahaya.
Terkadang aku bertanya-tanya, apakah aku masih tidur?

Tetapi—

“Aku membuat satu nyawa melayang lagi. Dendammu terbalaskan satu.”

—suara itu terasa nyata. Tinggi, rambut cokelat, wajah setengah tertutup oleh masker hitam, dan tangan memegang pisau berlumuran darah.

“Siapa kau?”

Aku kembali bertanya. Pertanyaan yang sama, dan entah untuk ke berapa kalinya sejak aku mengalami situasi ini.

“Aku? Aku yang membalaskan semua dendammu.”

Jawaban yang sama. Dengan suara tawa yang khas, tak pernah berubah —menunjukkan bahwa itu adalah orang yang sama. Tapi entahlah, suara itu terasa familiar.

“Kau tahu aku? Tapi aku tak tahu siapa kau.”

“Kau Cha Hyemi, aku yang dengan senang hati membalaskan dendammu, dan tak akan membiarkan orang yang membencimu bernafas.”

Ini sungguh tak dapat dicerna oleh akalku. Aku bahkan tak merasa takut padanya, mengapa?

“Karena aku tidak pernah menyakitimu. Aku hanya membuat orang yang berusaha membuatmu celaka akan menyesal di neraka.” bahkan seolah tahu isi kepalaku, dia menjawab akurat pada pertanyaan yang sangat mengganjal ini.

“Kali ini—siapa?” pertanyaan yang selalu kulontarkan.

“Kim Jongin, bajingan yang kau anggap kekasihmu itu.”

Aku ingin berteriak namun kututup mulutku segera. Mengapa harus kekasihku? Apa yang salah dengannya?

“Ke-kenapa harus Jongin? Apa yang Jongin perbuat?” aku mulai merangkak menuju mayat Jongin yang tergeletak tak jauh dari orang itu. Kepala dan tubuh Jongin terpisah. Entah, aku berani sekali mengambil kepala Jongin ke pangkuanku.

Aku mengelus wajah Jongin yang penuh luka sayatan. Mata yang selalu mengerling padaku, pada akhirnya takkan bisa terbuka lagi. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Kau tidak tahu, dan tak akan pernah tahu jika aku tak melakukan ini pada kekasihmu. Jongin hanya memanfaatkan tubuhmu. Dia hanya ingin melampiaskan hasratnya padamu. Di luar sana, dia mengencani gadis bernama Jung Soojung. Dia seniormu yang pernah mempermalukanmu, dan dia telah mati kemarin.” si pembalas dendam ini menatap datar ke arahku yang masih menangisi Jongin.

Aku ragu, apakah itu benar?

“Kau tidak percaya padaku sementara aku selalu tahu apa yang kau rasakan?”

Aku menegang. Dia selalu tahu keadaanku?

“Kau bisa membaca fikiranku?”

“Hatiku bisa merasakan apa yang kau rasakan, tapi sepertinya bagimu sebaliknya.” air mata perlahan jatuh menganak sungai di pipi orang pembalas dendam ini.

“Ada apa?” aku benar-benar tidak mengerti.

“Kau mungkin membenciku karena terlalu mempercayai bajingan itu. Padahal kau sudah mengenalku sejak lama, dan dengan mudahnya kau tertipu oleh Kim Jongin keparat itu, melupakan sahabatmu sendiri yang tak pernah berbohong apapun. Aku tak pernah menyebarkan foto tubuhmu, bahkan melihat tubuh polosmu pun tak pernah.” orang itu membanting pisau berdarahnya. Aku menyimpan kepala Jongin di lantai, kemudian berdiri, mendekatinya. Kepalaku terasa berdenyut, pusing.

“Kau siapa?” kutatap lebih lekat wajahnya, mungkinkah dia seseorang yang dekat denganku? Tapi, siapa? Kenapa aku jadi banyak melupakan sesuatu?

Dia mengusap air matanya kasar, menjambak rambut kecokelatannya dan menggeram.

“Aku banyak bersalah untuk kali ini. Maaf mungkin tak ada lagi bagiku.” ia jatuh terduduk. Aku mengikutinya.

“Kau siapa?” ulangku.

“Jika kau tahu aku, apa kau mau memaafkanku?” ia menatapku, tatapannya menyiratkan rasa menyesal yang begitu dalam.

“Aku sendiri tak tahu siapa kau dan apa maksudmu meminta maaf padaku.”

Tangannya yang gemetar membuka maskernya. Setelah ia membuang maskernya, ia menunduk.

“Aku hanya ingin tahu siapa kau yang berusaha melindungiku hingga melakukan hal seperti ini.” ucapku.

Dia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arahku. Aku tertegun.

“Aku gila, aku sudah gila karena mencintaimu, padahal kau hanya menganggapku sahabatmu, tak lebih.” ia tersenyum miris.

“Chanyeol?” Ya, dia adalah Park Chanyeol. Sahabatku sejak sekolah menengah, yang kemudian menyatakan cintanya padaku saat duduk di bangku kuliah semester pertama namun ia terlambat, aku telah memiliki Jongin.

“Iya, ini aku sahabatmu yang gila. Jangan mau dekat dengan orang gila sepertiku.” Chanyeol tersenyum miris.

“Chan, kau melakukan segalanya bagiku. Tapi, kurasa kau salah untuk ini, kau tak seharusnya membunuh mereka.” aku mengelus pundak Chanyeol.

“Jika mereka semua tidak mati, mereka yang akan membuatmu mati duluan. Aku tak mau melihatmu mati konyol karena mereka.”

“Chan—”

Chanyeol memelukku erat.

“Kuharap kau tidak membenciku, aku tahu ini begitu salah tapi tak ada cara lain untuk menghentikannya. Jongin adalah yang terakhir, dan tak akan ada lagi orang yang memaanfaatkanmu.”

“Chanyeol—apa yang akan kau lakukan?!” aku kaget ketika Chanyeol mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Dia memberikan pisau itu padaku.

“Kau boleh menyakitiku sesukamu, karena diantara orang yang telah kubunuh, ada beberapa orang yang sangat kau sayangi, termasuk ibumu sendiri yang membuangmu.” Chanyeol mengarahkan pisau yang kupegang ke arah wajahnya, aku menariknya.

“Tidak, Chanyeol. Kau sahabatku, hanya kau yang saat ini aku punya.” aku melempar jauh pisau lipat itu.

“Tapi aku gila. Aku gila, Hyemi!” Chanyeol mengguncangkan bahuku.

“Kau tidak gila Chanyeol! Aku tahu kau melakukannya karena kau ingin aku hidup tenang!” aku membentaknya, bukan atas dasar marah, aku hanya tak ingin dia merendahkan dirinya.

“Kau tidak tahu, aku yang setiap malam mengukir luka di tubuhmu seakan candu, membuatmu meringis dan keesokannya kau akan melihat orang terbunuh dan kemudian kau akan kembali tidur dan bangun esok paginya dengan hal yang sama. Aku memang tak pernah menyakitimu, tapi aku melukaimu!” Chanyeol berteriak. Aku memeluknya.

“Aku menyayangimu Chanyeol, tak peduli kau gila atau apapun itu kau tetap sahabatku. Aku tak apa setiap hari kau lukai, asal kau mau selalu bersamaku, aku tahu takdir hidupku bersamamu, bukan Jongin.”

Chanyeol mengelus pipiku, menatapku lekat.

“Boleh aku menandaimu?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah silet.

Aku ragu, meringis menatap silet tipis nan tajam itu. Tapi apa boleh buat, Chanyeol yang sekarang memang seperti ini, aku harus bisa menyesuaikannya, setidaknya jika aku ingin memiliki teman hidup.

“Boleh, pelan-pelan.” aku meringis kembali ketika silet itu mengelus wajahku.

“Aku minta maaf.” Chanyeol mulai menggoreskan silet itu di pipiku, pelan namun terasa perih. Aku tak menangis, aku tak ingin Chanyeol merasa bersalah. “Maaf.” Chanyeol membuang silet itu setelahnya mencium pipiku yang ia gores namun tak berdarah, hanya menyisakan garis merah di pipiku.

“Tak apa, Chan. Aku bahagia jika bersamamu.” Aku memeluk Chanyeol erat, berusaha melupakan perih di pipiku.

“Aku juga bahagia bersamamu, walau hanya sebagai teman hidupmu.”

END.

2 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Revenge – ujimintz

  1. Menbung….
    Tau lah mereka saling sayang sebenarnya.
    Ntah sebagai lover, sahabat, atau saudara.
    Sama2 gamau kehilangan satu sama lain.
    Sifat Chanyeol bikin aku keinget masa lalu /?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s