[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] LIGHT IN A TENDERNESS – Leavendouxr

1480465789779
Scriptwriter Leavendouxr
Cast(s): EXO’s Park Chanyeol, Calla (OC)
Genre: Romance, AU
Rated: T
Duration: Ficlet (1081w)
Disclaimer: The casts belong to God. And the plot is mine.
.
.
“Aku mencintaimu, tepat saat kau mengatakan bahwa kau telah hamil satu minggu oleh Valen.”

Enjoy!

.
.
.
.
.

Park Chanyeol menekan bel apartemen seseorang berulang kali dan menunggu dengan sabar. Di satu tangannya teronggok sebuah kantung plastik besar dan satu paperbag. Ia mengetuk-ngetuk ujung sepatunya, dan mulai berhenti saat seorang wanita dengan usia kisaran duapuluh tahun membuka pintunya.

“Oh, kau.” sambut wanita itu, biasa.

Chanyeol tersenyum lebar, “Sepuluh menit lebih sedikit, Cal.”

Calla mendengus, lalu mengusap sudut bibirnya, “Maaf, aku habis muntah.” kemudian membuka akses untuk Chanyeol menjamah apartemennya yang berantakan. Pria itu berdecak, “Wow, aku datang disaat yang tepat, ‘kan? Rumahmu habis terkena badai, ya?”

“Tidak lucu, Park,” Calla membuka kulkasnya, mengeluarkan dua buah Diet Coke dan melempar salah satunya kepada Chanyeol, “tangkap!”

Kemudian wanita itu mengikuti Chanyeol yang sudah duduk di sofa. Iris abu-abunya menyorot satu kantung plastik yang baru ditaruh pria itu di meja, “Apa lagi itu?”

“Buka saja.”

Tangan mungilnya merampas kantung plastik putih dengan label supermarket di kotanya itu dengan curiga, lalu mengeluarkan semua isinya diatas sofa. Empat buah kardus susu beraneka rasa, biskuit cokelat dan serentetan vitamin merk terkenal.

Calla mengangkat dua kardus susu dan segala jenis multivitamin. Matanya memandang malas kearah Chanyeol yang tengah tersenyum. Harusnya ia tahu kalau Chanyeol akan memberikan ini lagi.

“Kuperingatkan, ini yang kedua kalinya kau membawakan barang-barang tidak penting ini. Astaga, sudah berapa kali kubilang untuk tidak memberikan ini kepadaku?” cepat-cepat ia memasukkan kembali barangnya ke plastik dan menyodorkannya kepada Chanyeol, “Bawa pulang lagi. Jangan berikan kepadaku.”

Reaksi pria itu tidak jauh beda dengan biasanya, hanya tertawa kecil dengan menarik lembut lengan Calla, “Hei, cantik, dengarkan aku. Kau sudah membuang semua kotak susu yang kubelikan minggu lalu, dan sekarang kau tidak boleh membuangnya lagi.”

“Oh Tuhan, kau benar-benar membuatku kesal.”

“Psstt, diam. Aku punya hadiah lagi untukmu, sebenarnya.”

“Apa?”

Chanyeol berbalik, mengambil paperbag yang semula ditaruh di belakang sofa, “Ini.”

Wanita itu memandang lama paperbag yang masih terkait dengan tangan Chanyeol, menyadari bahwa merk yang tertulis di permukaannya adalah nama butik langganannya dua tahun ini.

“Ayolah, Cal.” pinta Chanyeol. Calla membuka paperbagnya, mengeluarkan sebuah kotak yang terikat pita merah muda. Ia menarik pitanya, membuka tutup kotak.

Dahinya berkerut, mengangkat sebuah gaun yang semua terlipat dari dalam kotak ke depan wajahnya. Gaun putih pendek beraksen frills berbentuk kumpulan rosette di dada cukup membuat Calla memaku pandangannya lama. Chanyeol menarik pergelangan tangannya untuk berdiri, mendorong pinggangnya perlahan, “Cobalah. Itu untukmu.”

Meski ragu, Calla tetap pergi ke kamarnya untuk berganti baju.

Chanyeol memandang sekeliling ruangan, mulai memunguti majalah-majalah yang berserakan di lantai, menaruhnya kembali dibawah meja. Ia mengambil gelas berisi cairan berwarna kekuningan yang isinya tinggal setengah, juga dua botol obat di nakas. Ia tersenyum perlahan, membuang isi gelas beserta obat-obatan kedalam tong sampah.

Ia tidak percaya, seorang wanita super keras kepala dan cerdas yang dikenalnya hampir sepuluh tahun ini bahkan tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini konyol, pikirnya.

Chanyeol membuka kotak susu hamil rasa stoberi, memasukkan bubuknya kedalam gelas sesuai takaran dan mengisinya dengan air hangat. Sementara ia mengaduk susunya, Calla sudah keluar dari kamar dengan gaun putih membungkus tubuhnya yang agak berisi. Wanita itu menghadap Chanyeol yang mendekatinya sambil membawa susu.

“Perutku tampak lebih besar, kautahu. Ini tampak buruk. Aku benci karena ia membuatku jelek.” katanya, sambil memegang bagian perut hingga belakang pinggul yang memang terlihat membesar.

Chanyeon melejitkan alis, “Tidak ada yang mengatakanmu jelek. Ibu hamil memang begitu, perutnya akan membesar.” pria itu mendengar Calla menggeram pelan, kemudian beralih pada susunya yang sudah ditaruh di meja, “kutebak, kau pasti belum makan pagi ini dan langsung minum jus nanas muda. Benar, ‘kan?”

“Pasti kau membuangnya!” seru Calla, nada suaranya meninggi. Ia memicingkan mata, memandang Chanyeol jengkel.

“Hei, Cal,” Chanyeol beralih menggenggam sebelah punggung tangan Calla yang dihiasi tato bergambar bunga kalalili putih, kemudian membawanya mendekat. Ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya, sementara oniksnya mencoba menjamah light grey yang tampak selalu sempurna di matanya.

“Lihat aku. Aku bicara padamu, cantik.” Calla terpaksa mendongak, hingga kedua matanya bersirobok dengan oniks hangat yang membius relung hatinya.

Satu tangan Chanyeol hinggap diatas perut Calla, yang dalam hitungan bulan lagi akan jadi sebesar semangka, “Ada sesuatu yang hidup di dalam sini. Meski belum berupa bayi sempurna, ia tetap hidup. Ia berkembang sesuai waktunya, bergantung padamu.”

Guncangan emosi mendera wanita itu. Ia menunduk, menahan air mata yang semakin menekan dadanya sembari menggeleng kuat.

“Tidak, Park. Tidak. Kumohon jangan katakan itu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan anak yang bahkan aku tidak tahu dimana ayahnya sekarang! Valen pergi, entah kemana. Bajingan itu meninggalkanku dengan benihnya dan aku―”

“Ia tetap hidup dalam dirimu, Cal, mengertilah itu. Ia akan lahir empat bulan lagi, dan akan memanggilmu ibu. Ia akan sangat mirip denganmu, dengan mata abu-abu yang mengagumkan. Ia akan menemanimu di masa tua.” tutur pria itu, garis wajahnya nampak melembut.

Calla menepis tangan Chanyeol, kemudian memunggunginya, “Aku hanya ingin menggugurkannya, Park. Kau yang harusnya mengerti.”

“Apakah bisa? Kau sudah terlalu lama mencobanya, Cal. Kau memasukkan segala jenis obat untuk membuatnya luruh, tapi tidak pernah berhasil. Pikirkan kalau ia akan terlahir cacat karena kau terus membuang susu dan vitamin, juga mengonsumsi obat-obatan penggugur.”

Wanita itu diam. Hanya ada setitik air mata yang bergerak turun dari sudut matanya, pun isakannya tidak terdengar oleh Chanyeol. Lima detik seusai ia menghembuskan napas berat, suaranya terdengar parau, “Aku tidak menginginkannya, Park.”

“Tapi aku menginginkannya.”

Calla berbalik, memandang Chanyeol terkejut, “Apa?” bisiknya hampa, seperti datang dari benua yang jauh.

“Kuulangi, aku menginginkannya. Aku tidak peduli dari benih mana ia berasal, aku tetap menginginkannya. Aku memintamu menikah denganku. Aku akan mengurus anak ini seperti anakku sendiri. Dalam aktenya, akan ada namaku sebagai ayahnya, dan namamu sebagai ibunya. Aku akan menjadikannya milikku. Anakku. Dengan marga Park di depan namanya.”

Calla tidak bergerak. Air mata wanita itu benar-benar membanjiri wajahnya. Chanyeol mendekat, menarik tubuhnya perlahan sebelum membawanya kedalam pelukan, merengkuh tubuhnya, mendekap kepalanya di dada.

“Aku mencintaimu, tepat saat kau mengatakan bahwa kau telah hamil satu minggu oleh Valen.” bisiknya, teredam tangis Calla.

Chanyeol melepas pelukannya, menangkup wajah indah itu dengan kedua tangannya dan mulai menutup jarak diantara keduanya.

Pria itu telah menawarkan sebuah cahaya di ujung jalan, dan perlahan, wanita itu mengikutinya. Mengikuti cahaya yang membawanya enyah dari kotak gelap yang tidak berbatas.

-fin.

2 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] LIGHT IN A TENDERNESS – Leavendouxr

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s