[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] ME, CHANYEOL, AND RILLAKKUMA – yeolliecone

1480398609003

Park Chanyeol x YOU! || Romance || PG-17

•_•

Happy Reading!

•_•

To : Idiot
Hey! Sudah makan malam?
[09:08:12PM—Sent!]

Setidaknya hanya itu usahaku untuk bisa menghubunginya. Entah sudah berapa pesan yang memasuki kotak masuk Chanyeol dariku. Ku letakkan kepalaku lesu di atas meja belajar setelah melihat pesan yang aku kirim tadi. Menanti balasan yang mustahil untuk benar – benar dibalas saat ini juga. Jujur, hari – hari tanpanya terasa begitu sepi.

Hanya saja, memiliki kekasih seperti Chanyeol, memang terasa agak membingungkan.

Pertama, dia memang tampan. Posturnya yang tinggi ditambah hidung bangir, lengkap dengan matanya yang bulat lucu ketika memandangmu. Kedua, dia pintar bermain musik dan bernyanyi. Suara aksen baritone yang dia miliki, jelas dapat membuat hatimu luluh ketika mendengarkan.

Tapi yang ketiga, Chanyeol mencintai sosok mungil berbulu cokelat bernama Rillakkuma.

Aku, sebagai kekasihnya, harus rela berbagi cinta seorang Chanyeol dengan boneka imut itu. Kubuka galeri foto yang ada di ponsel. Menggeser satu demi satu foto – foto yang sempat kuabadikan. Dapat terlihat foto kita bertiga—aku, Chanyeol, dan Rillakkuma—yang berfoto di sebuah bangku taman panjang, foto Chanyeol yang sedang memeluk boneka mini berbentuk Rillakkuma, fotoku dengan boneka super besar yang juga berbentuk Rillakkuma juga sebagai hadiah dari Chanyeol di ulang tahunku ke-17 tahun, Chanyeol yang sedang bermain gitar, Chanyeol yang sedang bermain drum, Chanyeol yang tidur, mengupil, berkedip, sedang jelek, dan lain sebagainya. Pada intinya, banyak sekali foto tentang laki – laki menyebalkan dan rillakkumanya.

Pukul sepuluh malam, dan aku masih berharap bahwa Chanyeol akan membalas pesanku.

Boneka Rillakkuma raksasa pemberiannya saat ulang tahunku ke-17 terus saja dalam dekapan. Terkadang kujadikan guling juga. Hingga kutenggelamkan kepalaku di atas dada Rillakkuma raksasa ini, meresapi aroma Chanyeol.

“Chanyeol bodoh! Park Chanyeol idiot! Tak pernah buka handphone! Pikun! Sok sibuk! Keriting! Tiang listrik!“ dan bla bla bla. Bibirku terus mencibir sampai berbusa. Memukuli boneka Rillakkuma ini dengan tidak berperikebonekaan. Beruntung bagi boneka ini karena aku tidak memukulnya pakai gunting atau benda tajam yang lainnya.

Wajahku terbenam dalam perut Rillakkuma ini. Hingga air mata—bahkan cairan hidung—menempel kesana kemari. Oh, apa peduliku sekarang? Apa peduli Rillakkuma? Dan apa peduli Chanyeol? Tidak ada.

Tidur. Sepertinya ini cara terakhir supaya masalah pikiran ini selesai. Aku lekas menata posisi yang nyaman sebelum mengambil boneka Rillakkuma jumbo pemberian Chanyeol itu. Memeluknya erat, menempatkan perutnya yang gembil diantara kedua kaki. Baru saja ingin menutup mata, ponselku tiba – tiba berbunyi, telepon masuk.

Kuangkat telepon itu tanpa menatap layar terlebih dahulu. Tidak peduli siapapun yang menelepon. Aku sedang tidak baik hari ini.

“MAAF. Pemiliknya sedang ingin tidur dan tidak ingin diganggu! Hubungi saja lain kali. Terima kasih.”

‘…Wow, sadis’

“……” Tubuhku membeku. Perlu beberapa detik untuk mencerna ucapan dari si penelepon. Suara itu—

‘…yakin tidak mau diganggu, eoh?’

Air mataku menetes. Orang yang menelepon ini—ya ampun, si jangkung-Park-sialan yang sok sibuk itu? Siapapun tolong panggilkan dokter untukku sekarang, cepat!

‘…Halloo??’

“C-chanyeol…” ugh, tidak! Aku tidak boleh gugup! Ayolah, beri dia hukuman! Berlagak dingin, buat dia tersiksa!

‘…Ah, kukira kau sudah benar – benar tidur, Sayang.’

Ya Tuhan! Dia kembali memanggilku sayang. Sekali lagi, ‘SAYANG’

“B-belum,” aku berdeham sebentar. “Belum tidur.”

‘…katanya tadi mau tidur saja? Hahahaha!’

Apa – apaan? Dia tertawa sementara aku tersiksa menahan tangis di sini?

“Tidak jadi.”

‘…Kenapa?’

“Kau menelepon, Bodoh!”

Selanjutnya, kami terdiam. Membiarkan jarum jam berdetak sesuai kewajibannya. Hanya saja, jantungku masih tak bisa berdetak normal.

‘…Sayangku,’

Bibirku terlalu kelu untuk menjawab. Aku hanya diam, menahan isakan lebih. Jika dia tahu aku menangis karenanya, yakinlah kepalanya akan membesar dan ia akan puas menertawaiku. Untuk saat ini, aku ingin menembakkan pistol di kepalaku sendiri.

Eh, tapi aku belum ingin mati.

‘…Marah, eoh?’

Aku tidak menjawab lagi. Biarkan saja dia mengoceh sendiri seperti orang gila.

‘….Hehehe, maafkan aku, Sayang. Aku menghilang terlalu lama ya? Tanpa kabar pula, ’ dia kemudian berdeham. ‘… oke, aku tidak akan bercerita panjang karena kau juga tidak akan mendengarkan semuanya. Ini sudah malam dan—ugh, dingin sekali.’

Mataku melebar mendengarkan kata akhir yang cenderung aneh. Chanyeol gemetar! Ya, suaranya terdengar gemetar dan lebih serak dari biasanya.

‘…jangan marah. Aku tidak suka melihat w-wajahmu k-kalau m-m-marah—‘

“Chanyeol-ah,” panggilku memotong kalimatnya paksa. “Kau di mana sekarang?”

Chanyeol diam sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya, “…keluarlah, pakai pakaian hangatmu. Sepertinya salju pertama akan turun…”

Salju.

Musim yang selama ini aku nantikan, sebentar lagi datang. Pikiranku jernih seketika kala mendengar perkataan Chanyeol. Lekas kuambil mantel, memakainya sembari berjalan tergesa keluar. Dapat kulihat sosok lelaki jangkung, dengan setelan kasual berdiri tepat di depan rumahku. Tangannya masih menempelkan ponsel di telinga kanannya.

“Chanyeol…” panggilku tercengang.

“Selamat malam, Sayangku~”

Aku diam saja saat tiba – tiba raksasa itu mendekat. Membawaku ke dalam dadanya yang bidang. Ia memelukku begitu erat, erat sekali. Hidungku sampai mencium aroma maskulin yang tidak pernah berubah. Kedua tanganku reflek terangkat, mencoba melingkarkan tangan di tubuhnya.

Semoga ini bukan mimpi, Tuhan.

“Hiks… Chanyeol…” tak tahan, air mataku akhirnya tumpah. Aku sungguh merindukan sosok raksasa dan tinggi ini. Kepalaku bahkan tidak sampai pundaknya, ia selalu menempatkan kepalaku di dadanya. Tetap saja, hangat.

“Aku…hiks, aku merindukanmu, Bodoh! Hiks…”

Sedikit menunduk, dia menatap wajahku. Menangkup kedua pipi dengan tangannya yang besar. Jemarinya tergerak untuk menghapus air mata yang mengalir deras begitu saja. Chanyeol lalu tersenyum manis, manis sekali, “I miss you more, babe~”

“Sudah berapa lama kau berdiri di sini, Chanyeol?”

“Tidak terlalu lama, hehehe” jemarinya mencubit hidungku gemas. Sudah bisa kupastikan bahwa hidungku reflek merona karena perbuatannya.

“Tidak terlalu lama?” ulangku. “Bohong.”

Pria ini kemudian tertawa. Membentuk tawa lebar yang sempurna. Ia lalu menjawab, sambil mengacungkan lima jarinya, “Satu jam!”

“Bodoh!”

“Aku pintar, Sayang.”

“Kau berbohong, Chanyeol!” dengusku kesal. “Kau tidak mungkin sedingin ini kalau hanya berdiri selama satu jam! Dan, untung saja aku keluar. Kalau tidak nanti kau bisa…“

Bisa…

Bisa…..

Bisa menghentikan perkataanku dengan bibirnya.

Chanyeol mengunci pergerakan bibirku dengan bibirnya. Kedua daging kenyal itu saling bertemu. Membuatku lumpuh, menutup mata, serta reflek mengalungkan tangan di lehernya. Aku bisa merasakan bibirnya dingin, meraup milikku dengan lembut dan halus.

Aku menyalurkan perasaan rinduku padanya lewat ciuman, begitupun dengannya. Berhimpit begitu dekat, menghapus segala jejak. Tidak peduli akan butiran demi butiran putih dingin yang turun dari langit. Awalnya sedikit, namun lama kelamaan banyak.

Hey, bukankah ini romantis? Ciuman di perayaan satu tahun, saat salju pertama turun!

Jujur, aku tidak tahu berapa lama kita seperti ini. Yang pasti, dadaku serasa sesak. Kupukul dadanya pelan, tanda bahwa nafasku tidak kuat. Chanyeol yang paham langsung melepas tautannya pada bibirku, menempelkan dahi masing – masing sembari mengambil nafas sebanyak – banyaknya.

Kami tersengal, lucu sekali.

“Happy anniversary, Sayang.” ujar Chanyeol di tengah nafasnya yang pendek.

Aku hanya tersenyum. Bahagia sekali hingga sulit untuk diungkapkan.

“Lihatlah!” Chanyeol beralih menatap salju yang turun. “Ini salju pertama!”

Tangan kananku menengadah, menampung salju – salju pertama yang jatuh. Sementara tangan kiriku tetap merangkul pada Chanyeol. Aku benar – benar tidak mau melepas situasi seperti ini. Malam dingin yang menyenangkan.

Dingin.

Oh ya, bagaimana aku bisa melupakan nyawa orang yang satu ini?

“Chanyeol, sebaiknya kita masuk!” ucapku. Bergegas menarik Chanyeol untuk masuk ke dalam rumah. Tapi, Chanyeol justru menahan tanganku. “Kenapa?”

Cengirannya terbit kembali, “Aku punya hadiah!”

Bola mataku berputar malas, “Di dalam saja bisa kan, Park?”

“Tidak! Tidak!” balasnya. Ia lalu membuka ransel yang sedari tadi melingkar di bahunya. Morogoh – rogoh, hingga tampaklah sepasang boneka Rillakkuma seukuran telapak tangan, lengkap dengan pakaian pernikahan.

Lagi-lagi, si coklat Rillakkuma.

“Ta-dah!” ucap Chanyeol, mempersembahkan dengan bahagia. “Hadiah satu tahun kita!”

Aku hanya terkekeh, dan menerima boneka itu. Entah berapa banyak Rillakkuma yang bersarang di rumah karena Chanyeol. “Terima kasih, hehehe.” balasku.

“Kenapa aku membelikan yang menggunakan baju pengantin? Karena lusa nanti, kau akan kubawa ke rumah orang tuaku, dan cepat-cepat melaksanakan pernikahan!” jelasnya. Temponya cepat sekali hingga aku sulit mencerna apa yang dia katakan.

Hanya… apa? Pernikahan?

“Apa?”

“Kau harus setuju!” jawab Chanyeol, lalu menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.

Yah, namanya juga Park Chanyeol. Selalu penuh kejutan meskipun tak pernah lepas dari Rillakkumanya.

= THE END =

4 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] ME, CHANYEOL, AND RILLAKKUMA – yeolliecone

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s