[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] DEJA VU — tanianovena

1480437111300

Chanyeol EXO and Wendy Red Velvet || Romance(?) || Teen(PG13)

Disclaimer: Cuma pinjam nama tokoh, tidak bermaksud menistakan.
Hati-hati typo bertebaran~
.
.

<Park Chanyeol POV>

Sore itu, dikala kereta senja mulai meluncur dengan cepat, diiringi semburat oranye sebagai jejaknya telah menjadi saksi bisu pertemuanku dengannya.
Segaris senyum tipis itu masih saja membekas diingatanku—mengingatkanku betapa manis wajahnya saat dia mengatakan terima kasih.
Aku ingin bertemu dengannya lagi.
Entah, jika Tuhan memang berkehendak untuk mempertemukanku dengannya lagi, aku akan sangat bersyukur.

Ini memang aneh—untuk diriku yang selalu mengatakan bahwa cinta pada pandangan pertama itu dusta—namun hal itu memang terjadi padaku, aku jatuh cinta.

Son Seunghwan.

Hanya butuh satu detik untuk mengukirnya diingatanku. Menakjubkan!

Sering kali aku tersenyum bodoh saat menatap foto yang menjadi lockscreen dan wallpaper ponselku. Itu fotonya, yang kuambil secara diam-diam setiap kami tak sengaja bertemu.

Well, terlebih aku sedang berada di stasiun dan hendak menuju Busan. Mengingatkanku kembali mengenai kejadian pada saat itu.
[Flashback]

Aku sangat terburu-buru saat itu. Ya, nenekku yang berada di Busan mengalami koma dan kini ibuku pingsan di sana. Aku harus bergegas, karena aku khawatir dengan keadaan ibuku saat itu.
Seperti biasa, aku menaiki kereta untuk sampai di sana. Akupun duduk di salah satu bangku tunggu yang ada, melihat ke kanan dan kiri—sangat ramai bahkan berdesakan.
Aku hanya menghela nafas sambil melirik jam tanganku, masih lama, pikirku. Tiba-tiba, fokusku teralihkan oleh pekikan seorang gadis yang ternyata terjatuh tepat di depanku. Aku langsung bangun dan menolongnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku setelah menuntunnya untuk duduk di sampingku.

Gadis itu menggeleng, ia menunjuk lututnya, “Kurasa lecet. Lututku terasa perih.”

“Aku ada obat merah. Biarkan aku mengobatimu sebentar.”

Aku langsung merogoh tas kecilku—yang berisikan makanan dan obat—untuk mencari perban dan obat merah. Dengan hati-hati, kuobati lukanya lalu ku balut dengan perban. Kulirik gadis itu, ia tampak merintih menahan sakit. Kupikir itu lebih baik, daripada infeksi nantinya.

“Sudah selesai.”

“Maaf merepotkanmu. Ah! Aku harus pergi sekarang.” Gadis itu langsung beranjak meninggalkanku setelah mendengar bahwa keretanya akan berangkat sebentar lagi. Ia terburu-buru dan langsung melesat begitu saja. Bahkan ia tak sadar ponselnya ditinggal begitu saja.

“Hey, Noona, tunggu!”

Gadis itu menoleh, “Aku tidak setua itu hingga kau panggil ‘noona’.”

“Maaf, tapi, ponselmu tertinggal.”

Gadis itu terkejut, “Astaga, nyaris saja.”

“Lain kali berhati-hatilah.”

“Terima kasih.”

“Eung… Kalau begitu hmm—”

“Son Seunghwan.”

“Ah yeah, Seunghwan-ssi semoga perjalananmu baik-baik saja.”

“Terima kasih lagi. Kau laki-laki yang baik. Aku pergi dulu.”

Gadis itu berbalik, meninggalkanku. Entah itu halusinasiku atau tidak, yang jelas aku melihatnya sedang tersenyum manis. Secepat kilat, kukeluarkan ponselku dan kuambil fotonya diam-diam. Yah, walau yang kudapat hanya punggungnya, namun itu merupakan kenangan tersendiri.

Dia tidak tahu—atau mungkin dia pura-pura tidak tahu—aku tidak peduli. Aku tersenyum senang melihat hasil jepretan yang aku dapatkan.

Son Seunghwan, semoga kita bertemu kembali.

[Flashback End]

<Author POV>

Chanyeol terkekeh pelan mengingatnya kembali. Memang benar, semua peristiwa atau kejadian yang kau alami akan terasa menggelikan jika diingat kembali.

Chanyeol menghela nafas beratnya seraya menutup mata, berharap, dan berkhayal gadis itu—Seunghwan—terjatuh lagi di depannya lalu ia akan menolongnya.

“Akh! Appo!” Pekik seorang gadis.

Astaga, mungkin aku mulai gila, aku berhalusinasi hingga mengkhayalkan mendengar suara Seunghwannie lagi. Batinnya dalam hati.

“Ashhh.. Jinja, lututku lecet.”

Chanyeol—masih dengan mata tertutup—mengerutkan keningnya. Ia merasa itu bukan halusinasinya. Ia segera membuka matanya dan benar, seorang gadis terjatuh di depannya.

“Aigoo, Seunghwan-ssi.” Pekik Chanyeol sambil berjalan menghampiri Seunghwan—gadis yang terjatuh itu— dan menolongnya.

Deja vu

Hal itu terulang kembali, persis sama.

“Kau tidak apa-apa? Lututmu lecet lagi.” Ujar Chanyeol khawatir.

“Ya, sepertinya lecet. Ah—kau namja yang waktu itu pernah menolongku kan? Aku tak menyangka kita bertemu lagi di situasi yang sama.”

“Hehe… Ya begitulah, kau masih mengingatku—aku senang mendengarnya.”

“Tentu saja, selain kau baik, kau juga tampan dan—ups. Aigoo maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.” Chanyeol tersenyum tipis mendengar pengakuan Seunghwan. Aku tampan haha, pikirnya.

Chanyeol mengobati luka Seunghwan dengan sangat hati-hati. Setelah selesai, ia pun kembali memecah keheningan yang sempat tercipta.

“Jadi, Seunghwan-ssii kuharap ponselmu tidak tertinggal lagi.”

“Jangan terlalu formal begitu, panggil saja Seunghwan—tanpa embel embel apapun—aku lebih nyaman.”

“Baiklah, Seunghwan.”

“Omong-omong, aku sering melihatmu di sekitar kawasan Universitas Goyang.”

“Benarkah?” Jawab Chanyeol penasaran—yang sebenarnya ia sudah mengetahui hal itu namun ia menutupinya, “aku bersekolah di sana, dan kenapa tidak menyapaku?”

“Aku belum tahu namamu. Jadi—ya kubiarkan saja.”

“Ah iya, namaku Park Chanyeol. Panggil saja Chanyeol.”

“Oke, Chanyeol. Dan—oh sebentar, akan kubelikan minum sebagai ucapan terima kasih. Tunggu dulu di sini.”

Chanyeol mengangguk, membiarkan Seunghwan pergi untuk membeli minum.
Sejenak ketenangan Chanyeol terusik dengan getaran yang terasa di kursinya. Ternyata ponsel Seunghwan—yang tergeletak di sebelahnya—bergetar. Mungkinkah ini kebiasaannya? Meninggalkan barang-barang berharga, batinnya.

Tidak sengaja Chanyeol melihat ponselnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat lockscreen yang menampilkan dirinya sedang berdiri di depan gerbang universitas.

“A-apa? Dia juga melakukan hal yang sama?” Gumam Chanyeol tak percaya. Ia pun mengambil dan melihat ponsel Seunghwan, ia terlalu penasaran.

“E-eh?” Pekiknya pelan ketika melihat wallpaper ponsel Seunghwan yang menampilkan wajahnya yang sedang tersenyum saat di stasiun saat itu, “yang benar saja.”

“Chanyeol, apa yang kau—KAU MELIHATNYA?” Seunghwan yang baru saja datang langsung merebut ponselnya dari genggaman Chanyeol.

“Astaga ini, aku bisa jelaskan, Chan.”

Chanyeol terkekeh pelan melihat tingkah Seunghwan, “Santai saja. Kau tidak bersalah. Lihat, aku juga melakukan hal yang sama padamu.” Chanyeol menunjukkan ponselnya yang dibalas dengan pekikan nyaring Seunghwan.

“Ini sudah jelas.” Ucap Chanyeol ambigu. Seunghwan hanya bisa menatapnya bingung meminta penjelasan lebih, “apanya yang jelas?”

“Kau memiliki perasaan padaku, begitu juga denganku,” tutur Chanyeol, “kalau begitu jadilah pacarku!” lanjut Chanyeol dengan jelas.

Seunghwan masih melongo tidak percaya.
“Apa yang kau ragukan? Sudah jelas bukan buktinya?”

“A-aku tahu. Tapi, ini pertama kalinya seseorang menembakku.”

“Benarkah? Kalau begitu, maafkan aku yang tidak bisa romantis,” jelas Chanyeol sambil mendekat kearah Seunghwan, “tapi aku akan berusaha seromantis mungkin jika bersamamu. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?”

Seunghwan mengangguk sambil tersenyum. Chanyeol pun mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel pada bibir Seunghwan. Mulanya ia terkejut, setelahnya ia ikut memejamkan mata untuk menyalurkan betapa bahagianya ia.

Chanyeol melepaskan pagutannya, ia menatap Seunghwan dalam sambil tersenyum manis, “Terima kasih.”

Akhirnya, setelah sekian lama aku menatapmu jauh dalam diam, dan sekarang kita bertemu secara deja vu, namun yang berbeda adalah kau telah menjadi milikku —Chanyeol

END

4 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] DEJA VU — tanianovena

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s