[Chanyeol Birthday Project] I Think, Love is Terrible | by L.Kyo

fb_img_14803451126432183

Title: I Think, Love is Terrible | Author: L.Kyo | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO), Kim Minseok (EXO) | Genre: Romance, Fluff, Comedy | Rating: PG-15 | Lenght: Vignette | Disclaimer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

 

-oOo-

 

 

HAPPY READING

Wanita itu sama halnya dengan ular berbisa, racun dunia. Sudah tahu si wanita adalah penggoda berhati picik tapi pria segarang apapun akan mudah luluh pada mereka. Chanyeol suka Shin Gaeun. Tapi yang paling menyebalkan adalah gadis itu bahkan seakan jijik menyapa balik sapaan Chanyeol, yang sudah ia buat seceria mungkin.

Chanyeol manyun. Bahkan mata kuliah pagi ini sama sekali tak masuk di dalam otaknya. Minseok yang duduk di sampingnya hanya bisa menyikut lirih lengan sahabatnya. Namun yang Minseok dapatkan hanyalah umpatan shit yang keluar dari mulut si Park.

“Aigoo, lihat apa yang kau katakan baru saja padaku?” Bisik Minseok di tengah mata kuliah.

Chanyeol hanya mendengus, tak berselera dengan banyaknya slide bermain-main di tembok dinding kelasnya. Bahkan tulisan font disana seakan hanya sebaris ular yang sedang menertawakannya. “Wanita itu terbuat dari apa sih? Batu baja? Batu bata? Kayu? Atau mereka ditakdirkan tak punya perasaan di dalam rohnya?”

Minseok terdiam mendengarkan seluruh keluh kesah si Chan. “Gaeun, Gaeun lagi. Secantik apa dia sampai-sampai kau tidak bisa mengalihkan matamu?” Minseok sedikit menekan bola matanya ke arah depan, di ikuti Chanyeol mengikuti arah mata Minseok dengan melas.

“Bahkan dilihat dari belakang, rambut coklat gelap indahnya terlihat sempurna. Apa yang tidak sempurna dariku Shin?” Chanyeol merengek, kemudian menghempaskan dahinya ke meja, meratapi nasibnya yang ia sebut dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Gaeun mengenalmu saja tidak. Kalau kau hanya bermodal sapa menyapa, ia tak akan melirikmu. Wanita yang melihat pria seakan kau mengenalnya dan mereka tidak, itu sama saja membunuh dirimu sendiri!” Minseok menekan kata ‘sendiri’ di dalam petuahnya.

“Haa? Bagaimana bisa? Kalau pria tidak agresif, bahkan menyapa sekalipun adalah sama saja bunuh diri? Kau sedang membuat teori murahan ya?”  Chanyeol sigap menegakkan tubuhnya, menatap Minseok bulat-bulat seakan 100% tak setuju dengan itu.

Minseok menarik bahu Chanyeol dan mendekatkan bibirnya ke telinga Chanyeol. “Dengar bodoh! Wanita sebagian besar suka jual mahal. Tapi apa yang aku lihat, Gaeun bukan orang seperti itu. Ia seperti tidak tertarik dengan hal-hal murahan seperti yang kau lakukan. Pendekatan yang kau lakukan adalah 11 12 dengan pria pengecut!”

Muka Chanyeol keruh, menarik tubuhnya menjauhi Minseok. “Kau baru saja mengatakan padaku jika aku sama saja bunuh diri, sekarang kau mengatakan aku pengecut. Apa yang salah denganmu ini? Sepertinya kau senang menghinaku ya?” Chanyeol mengepal tangannya, bersiap menghajar pipi gembul Minseok.

“Tenang. Aku belum selesai bicara. Kau harus melakukan lebih berani lagi. Gunakan sebuah kesempatan agar kalian bersama. Seperti, seperti…” Minseok menggigit bibirnya, sembari Chanyeol menatap Minseok seolah was-was dengan saran Minseok yang akan di berikan.

“Aku akan mematahkan lehermu jika kau mengatakan saran tak berguna”. Tarikan nafas panjang seolah Chanyeol lelah. Tubuhnya ia regangkan seiring layar di depan sudah mati, begitu tepat waktu karena Chanyeol ingin buang air kecil sekarang. “Minseok-ah. Aku ke kamar kecil sebentar. Kau tunggu di sini! Jangan keluar kelas dulu!” Chanyeol menarik celananya lalu berlari kecil.

Chanyeol menunduk 90 derajat pada dosen di depan untuk keluar, bahkan ucapan penutupan mata kuliah saja masih belum mulai. Semua mahasiswa mulai sibuk merapikan laptop dan bukunya. Namun Dosen itu pun seakan lupa mengatakan sesuatu. Ia meletakkan laptopnya dan kembali berdiri tegak di tengah podium.

“Aku lupa untuk mengatakannya pada kalian. Minggu depan saya ijin tidak bisa mengajar. Jadi sebagai gantinya, saya akan memberikan tugas skala kelompok kecil 5 orang untuk membahas budaya Korea dan mempresentasikannya dengan baik. Untuk penanggung jawabnya, jangan lupa nanti malam untuk mengirimkan saya nama kelompok untuk tugasnya. Terimakasih”.

Sahutan bersamaan menyaut seiring Dosen itu berlalu. Satu persatu anak-anak mulai menggoreskan tinta di depan papan. Membuat kelompok sendiri yang mungkin mencari seseorang yang mereka kenal. Minseok bingung setengah mati karena Chanyeol tak kembali. “Kemana sih dia? Bisa-bisa aku tidak dapat kelompok. Ahh bodoh”. Minseok masa bodoh, ia pun bergegas menatap deretan nama yang sudah terbentuk.

Mata bulat Minseok melotot tatkala kelompok Gaeun masih tersisa 2 orang. Bukankah itu seperti sebuah kesempatan emas? Minseok mengambil paksa spidol di atas dan menuliskan sederet 2 nama. “Selesai!” Tapi Minseok sadar seakan ada yang mengawasinya.

Sepasang bola mata menatapnya penuh tanya. Siapa jika bukan Shin Gaeun? Ia hanya mengangguk pelan mengucap salam pada Minseok seolah menyesal ada 2 orang nama yang tidak ia kenal. Ahh atau, Gaeun merasa tidak enak karena ia harus berkelompok dengan orang yang tidak dikenal? Minseok pikir ini akan terasa canggung tapi demi Chanyeol, ia akan mempertaruhkan semua rasa malunya demi kisah cinta si Park.

“Minseok-ah, ada apa? Tugas?” Dengan tak tahu malunya, Minseok yang memicingkan matanya malu, menatap Chanyeol yang sibuk memperbaiki celananya. “Tidak bisakah kau memperbaiki celanamu di Kamar Mandi?” Namun bukan Chanyeol jika ia masa bodoh dengan hal itu.

“Tunggu!” Chanyeol menekan papan yang tertulis jelas di sana. Bagi Minseok, ia sulit melihat perubahan wajah Chanyeol saat ini. Antara shock, malu, ingin mengumpat, bahagia atau setelah ini ia akan mendapatkan bogem mentah.

“Aku akan menghajarmu setelah ini, ta … tapi aku juga ingin mengatakan terimakasih padamu, ta … tapi aku juga tidak tahu kenapa aku sulit mengatakannya!” Chanyeol meremat tengkuk leher Minseok gemas. “Y… Ya! Se … seharusnya kau berterima kasih padaku!”

Chanyeol melepasnya lalu menatap Minseok bulat-bulat. “Lalu apa yang aku lakukan saat di depannya?” Chanyeol butuh saran, menatap Minseok penuh harap. Berharap jika Minseok mengatakan sebuah kalimat semangat namun apa yang Minseok lakukan?

“Gaeun-ssi!” Teriak Minseok tanpa melepas tatapannya. Gadis itu menoleh pada mereka, membuat Chanyeol mematung tak bergerak.

‘Jangan lihat aku, jangan lihat aku!’ Gumam Chanyeol. Dan kaki kanannya mulai berotasi 90 derajat, bersiap melarikan diri kapan saja.

“Chanyeol ingin menghubungimu! Bukankah kita harus sering berkoordinasi untuk mengatur pertemuan mengerjakan tugas? Iya kan Chan?” Minseok menyenggol bahu Chanyeol, menunda aksi Chanyeol yang bersiap melarikan diri. “I … iya benar”. Dan bodohnya Chanyeol tak membalikkan badannya, matanya masih fokus ke depan papan.

“Ahh, benar!” Gaeun melangkah di sisi Chanyeol, namun pria itu belum beraksi. “Ponsel?” Oh God, suara sang Cinderella menggema begitu indah di dekat telinganya. Minseok menahan tawanya, tak tahan melihat semburat wajah kaku di buat oleh temannya. “Po … ponsel? Ini!” Chanyeol mengambil ponsel di dalam sakunya.

Gadis itu terdiam, bahkan mata sebelahnya sedikit memicing. Bagaimana tidak? Tangan besar Chanyeol sedang gemetar hebat. Melihat itu, Minseok ingin memelototi Chanyeol. Tapi arah mata  pria itu sudah melalang buana. “Apa kau sakit?” DEG! Tangan Chanyeol berhenti bergetar diganti dengan rematan kuat.

“Ti … tidak. Min … minseok-ah! Berikan nomerku padanya. A … aku lupa tidak menyimpan nomorku di sini. A … aku lupa”. Chanyeol kemudian menatap Gaeun hati-hati. “A … aku ke … ke Kamar Mandi sebentar!” Detik kemudian Chanyeol tak ada di depannya.

Siapa yang tidak bisa menahan tawanya saat melihat betapa konyolnya wajah Chanyeol baru saja? Itu yang Minseok lakukan saat ini. Gaeun merapatkan alisnya, menatap Minseok dengan pandangan aneh. “Aku tidak tahu seseorang yang terburu-buru ke Kamar Mandi adalah rumor yang bagus untukmu”. Lalu Gaeun berlalu.

Minseok langsung menutup mulutnya rapat, menghela nafas saat gadis itu berlalu. “Benar-benar kasar sekali!” Minseok ingin sekali mengumpat. Bagaimana dengan Chanyeol? Minseok sepertinya harus meninggalkan anak itu. Efek jatuh cinta memang semengerikan ini ya? Masih saja Minseok tak bisa menahan tawanya.

“Chanyeol benar-benar berbeda saat ia bertemu Gaeun. Tck”. Minseok menenteng tasnya lalu menekan kontak ponselnya, menghubungi Chanyeol yang ia yakini bukan Kamar Mandi yang ia tuju. “Chanyeol-ah! Urus saja Gaeun itu sendiri. Aku bilang aku tidak punya nomermu! Jadi, cepat kembali sebelum dia akan pergi”.

Minseok menutup sepihak dan ia tertawa kembali saat di ujung sana sudah mengumpatinya. “Heh, apa enaknya cinta bertepuk sebelah tangan Chan? Sama saja menikmati susu tawar tanpa gula.” Gumam Minseok.

Ya! Jangan pergi kau! Berhenti!” Jari telunjuk Chanyeol seakan menantang Minseok untuk diam di tempat. Tapi bukan sahabat baik jika ia terus-terusan menemani Chanyeol dalam perjuangan cintanya bukan? “Kumohon berhentilah!” Chanyeol setengah berteriak namun sahabatnya itu memang sengaja tak mendengarkan bantuannya.

Lelaki itu menghela nafas panjang frustasi. Tapi cinta itu mengagumkan bukan? Manik matanya menatap gadis di pojokan Kelas sana, menatapnya diam-diam seolah akan menjadi bencana jika gadis itu membalas tatapannya. Kurva bibirnya melengkung tanpa perintah dan gadis itu terlihat begitu sempurna. Kalau sebagai perumpama, gadis itu seperti Dewi katanya.

Kedua tangannya mengepal kuat, meyakinkan dirinya untuk mengejar gadis itu, melupakan rasa malu dan tingkah konyolnya kali ini. Bukannya semua wanita menyukai lelaki cool dan gentle? Chanyeol bukannya tak mengakui dirinya sendiri tapi bukankah sebuah pendekatan adalah moment paling terpenting untuk membentuk karakternya di mata Gaeun. Maka dari itu, ia harus terlihat sempurna bukan?

‘Aku tampan! Aku tampan! Aku tampan!’ Chanyeol menutup matanya dan menggumamkan itu berulang kali. Bukankah membuat sebuah alam bawah ‘tampan’ adalah bukan suatu dosa besar kan? Tapi kadang gumaman itu sudah membentuk rasa kepercayaan yang tinggi. Tanpa sadar Chanyeol sudah di depan Gaeun.

“Gaeun-ssi! Ini nomerku. Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuanku. Dan … “ Gadis itu terdiam cukup lama seakan terkaget karena pria itu bukannya menyapa justru bicara nyerocos seolah dikejar pencuri. “Kau mau makan siang denganku?” Baiklah, ini adalah ajakan terberani yang Chanyeol lakukan. Jakun Chanyeol menurun sejenak, seolah ia menelan saliva nya dalam-dalam.

“Apa?” Setelah gadis itu bertanya, buyarlah semua kepercayaan diri Chanyeol. Ia meremat kedua tangannya yang sudah mendingin. Seolah ia menyadari bahwa yang ia katakan masih terlalu cepat untuk sebuah ajakan menjijikkan itu. “Tidak. Aku salah bicara!” Dan beribu langkah, lelaki itu pergi. Meninggalkan Gaeun yang masih menatap bingung lelaki itu.

-FIN-

2 thoughts on “[Chanyeol Birthday Project] I Think, Love is Terrible | by L.Kyo

  1. Aigoooo, Chanyeol salting ketemu cewek dingin, ㅋㅋㅋ. Baru pertama kali aku ngebayangin si ceye bertingkah kayak gitu, lucuuuuu ~~
    Gaeun-nya lagi, aduh.. Woi buat apa lu jual mahal sama cowok yg my gosh gantengnya gak ketulungan kek hpgitu? Lu rabun ya?
    haah … Bolehkah aku memberi saran? harap tidak tersungging ya, (eh tersinggung deng maksudnya!) Entah kenapa aku merasa alurnya agak bertele-tele, jadi maksudnya si ceye yg pingin nyatain perasaan ato setidaknya si gaeun ‘noleh’ sama dia kurang kesampain dgn baik.
    Yah itu saran dariku! Well, basically I like your story ^_^ but it’s okay to give a feedback, right? Hope u take it easy, dear~~~
    Keep writing ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s