[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GWANAKGU — IRISH’s Story

irish-holmes-in-gwanakgu

HOL(M)ES

FACTS in Gwanak-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Park Chanyeol

Special appearance EXO’s Kai

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in oneshot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2016  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chanyeol of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Namdaemun [Kris]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Bukan salah Jia-yi jika Seoul tiba-tiba berubah menjadi kota yang membingungkan baginya. Terutama, setelah ia lepas dari pengalaman mengerikan—sekaligus haru, mungkin—yang beberapa jam lalu menimpanya.

Sedikit perasaan lega melingkupi Jia-yi ketika ia tahu bahwa Namdaemun adalah satu-satunya wilayah di Seoul yang mendapatkan bencana. Well, Jia-yi memang tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi setidaknya ia bisa bernafas tenang sekarang.

Bus membawa Jia-yi sampai pada sebuah halte kecil di depan gerbang megah menuju Seoul National University. Keramaian tidak jadi hal aneh bagi Jia-yi, meski senja menyambut—dan keadaan Jia-yi sekarang juga tidak bisa dikategorikan rapi—tapi dengan cukup percaya diri ia membawa dirinya melangkah memasuki universitas tersebut.

Sekali lagi Jia-yi melirik sederet kalimat yang Kris tuliskan di atas kertas yang sekarang ada dalam genggamannya. Ia tidak salah tujuan, karena Kris memang menulis ‘Seoul National University’ di sana.

Sekarang ia hanya perlu menemukan pemilik nama yang juga ada di kertas tersebut. Hembusan nafas panjang terdengar lolos dari bibir Jia-yi ketika si gadis berdiri diam di tengah halaman luas universitas tersebut.

“Kau punya pemantik?” bahu Jia-yi sedikit terlonjak ketika sebuah suara terdengar menyapa. Saat ia alihkan pandangan, di belakangnya telah berdiri seorang pemuda jangkung dengan rokok terselip di celah bibirnya.

Sekilas Jia-yi sempat menilai penampilan pemuda tersebut. Celana jeans panjang berwarna biru tua dengan model robek-robek di sisinya, hoodie berwarna hijau lumut yang sudah tampak lusuh, dan rambut hitam acak-acakan.

Aroma alkohol bahkan tercium cukup menyengat dari arah tubuh si pemuda.

Hey, apa kau punya pemantik?” si pemuda lagi-lagi mengulang kalimatnya.

Tidak lantas menjawab pertanyaan pemuda itu, Jia-yi justru melepaskan tas ransel yang ia kenakan. Memeriksa beberapa kantong kecil yang ada di bagian depan tas itu sebelum ia temukan sebuah pemantik api yang lantas diulurannya pada si pemuda.

“Terima kasih.” pemuda itu bergumam, sementara kini tatapan Jia-yi menelusuri.

“Kau berasal dari jurusan apa?” Jia-yi bertanya.

Atensi pemuda sedikit terusik kala mendengar ucapan Jia-yi, diliriknya si gadis sekilas sebelum ia terkekeh.

“Apa kau mencari seseorang?” tanyanya membuat Jia-yi mengerjap cepat.

Wah, pemuda di depannya ini cukup cepat tanggap juga, batin Jia-yi. Gadis itu kemudian mengulurkan kertas yang sejak tadi ada di tangannya pada pemuda itu.

“Kau tahu dia?” lagi-lagi Jia-yi bertanya.

Alih-alih memberi perhatian pada pertanyaan Jia-yi sekarang, pemuda itu justru masih disibukkan dengan usahanya untuk menyalakan pemantik, sehingga ia hanya melirik sekilas ke arah kertas yang Jia-yi ulurkan.

“Ah, kau mencarinya?” tanya si pemuda, sekon kemudian ia mengangguk-angguk paham. Seolah tahu benar apa tujuan Jia-yi mencari sosok tersebut.

“Tentu saja aku tahu. Ayo, kuantar kau ke tempat ia biasa menghabiskan waktu.”

“Kau mengenalnya?” pertanyaan Jia-yi sekarang membuat si pemuda tergelak. Sementara ia mengembalikan pemantik milik si gadis, ia mulai merajut langkah.

“Hmm, aku mengenalnya. Memangnya ada urusan apa sampai kau mencarinya ke tempat ini?” pemuda itu justru balik bertanya.

Jia-yi kini melirik curiga. “Kau bukan dia, untuk apa aku memberitahumu?”

“Benar juga, aku bukan dia…” pemuda itu menggemakan ucapan Jia-yi, seolah ucapan bernada sarkatis yang baru saja Jia-yi utarakan tidak menyinggung perasaannya.

Akhirnya, kedua orang itu berjalan dalam diam. Meski sesekali si pemuda menyapa satu-dua orang yang melewati mereka. Well, penampilan Jia-yi memang cukup mencolok, otomatis si pemuda kembali tergelitik untuk bertanya.

“Apa kau melewati pembangunan gedung di dekat halte? Pakaianmu penuh dengan debu.” komentarnya.

“Aku baru saja bertahan hidup di Namdaemun.” ucapan Jia-yi sontak membuat pemuda itu membulatkan mata, terkejut.

“Benarkah?” tanyanya memastikan.

“Apa aku perlu menceritakan padamu bagaimana rasanya berlarian di tengah jalanan yang hancur?” tanya Jia-yi, diam-diam gadis itu bergidik ngeri juga, meski ia berhasil selamat dari bencana mengerikan itu, kehadirannya di sini mungkin dinilai aneh dan tidak masuk akal.

“Lalu kenapa kau ada di sini dan bukannya di balai pengobatan atau semacamnya?” pertanyaan pemuda itu tentu terdengar cukup wajar, mengingat bagaimana keadaan Namdaemun, yang orang-orang pikir tentu saja semua yang terlibat dalam bencana itu akan membutuhkan perawatan medis.

“Syukurnya, aku baik-baik saja. Meski aku tidak pernah datang ke Seoul tapi aku bisa bertahan lebih baik dari orang-orang yang tinggal di sini.” tutur Jia-yi.

Pemuda di sebelah Jia-yi kemudian tergelak. “Apa kau benar-benar datang dari Namdaemun, huh? Kulihat-lihat dari postur dan penampilanmu… kau pasti tidak bisa bertahan lebih dari dua menit dari bencana mengerikan itu.”

Jia-yi kini balas menatap sengit. “Mau bertaruh? Apa aku harus berharap kejadian yang sama terulang di sini sehingga kau bisa melihat sendiri bagaimana aku bertahan? Dan juga, mengapa kau menilai seseorang dari penampilannya? Kalau aku boleh melakukan hal yang sama, aku bisa saja menilaimu sebagai gelandangan saat tadi kita bertemu.”

Penuturan panjang Jia-yi—yang disertai beberapa kata sarkatis di dalamnya—membuat si pemuda hanya memperhatikan dalam diam dengan senyum terkulum di wajah. Seolah tuduhan Jia-yi tentang dirinya sebagai gelandangan bukanlah hal yang aneh, ia malah terkekeh kecil.

“Benar, kau benar. Banyak orang sering mengira aku adalah gelandangan. Jadi, kupikir aku bisa percaya padamu untuk saat ini.” ia berucap, sekon kemudian pemuda itu mengedikkan dagunya ke satu arah, membuat Jia-yi lantas mengedarkan pandang dan menatap ke arah yang dipandangi si pemuda.

Sebuah ruangan kecil di sudut taman menjadi perhatiannya sekarang. Pintu alumunium tertutup yang menjadi pintu masuk ruang kecil itu lagi-lagi membuat Jia-yi menaruh curiga.

“Orang yang kau cari ada di dalam sana. Ruang itu adalah ruangan yang digunakan oleh nol koma nol satu persen mahasiswa di universitas ini sebagai tempat bagi komunitas mereka.”

“Kau juga bagian dari mereka?”

“Bagaimana kau tahu?”

Jia-yi tersenyum kecil melihat ekspresi si pemuda, sementara ia kemudian melejitkan bahu acuh.

“Insting?” gumamnya sembari mempercepat langkah, rasanya Jia-yi sudah membuang satu hari yang harusnya ia gunakan untuk mencari Jin-yi justru ia habiskan di tempat yang tidak dikenalnya.

Pemuda itu kemudian mengangguk-angguk. Ia sampai lebih dulu di depan pintu ruangan itu, dan dengan santainya ia membuka pintu tersebut sebelum ia mempersilahkan Jia-yi masuk.

“Nah, selamat datang.” ucap pemuda itu dengan nada bersahabat.

Jujur saja, Jia-yi sebenarnya cukup tergesa-gesa. Tapi ia tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang dianggapnya cukup bersahabat untuk bisa ia tanyai tentang semua yang ingin ia ketahui sehingga Jia-yi paksakan dirinya untuk bersabar.

“Siapa yang kau bawa, hyung?” sebuah suara terdengar dari dalam ruangan tersebut.

Ragu-ragu, Jia-yi masuk ke dalam ruangan berpencahayaan minim tersebut. Netranya segera disambut oleh deretan komputer-komputer menyala. Pandang Jia-yi masih mengelana sementara pemuda itu sudah meninggalkannya ke arah pemuda lain yang tadi bicara.

“Jongin. Kupikir nona ini mencari seseorang.” tuturnya.

“Oh, ya? Dia mencari seseorang yang ada di sini?” pemuda—yang tadi bertanya—bernama Jongin itu berucap, diliriknya Jia-yi sementara di tangannya masih ada beberapa lembar kertas.

Selesai dengan kesibukannya memperhatikan sekeliling, Jia-yi akhirnya menyarangkan pandang ke arah Jongin.

“Chanyeol. Namanya Park Chanyeol.”

“Park Chan—hyung! Kenapa kau lakukan hal konyol seperti ini?” Jongin lantas melirik kesal ke arah Chanyeol, sementara ia kembali menatap Jia-yi yang berdiri tidak mengerti.

“Dia Park Chanyeol.” ucap Jongin sambil dengan sengaja menyikut perut Chanyeol. Jia-yi sendiri, mengerjap tidak mengerti. Sejujurnya tubuhnya cukup lelah untuk berhadapan dengan perdebatan, tapi tentu saja memahami bahwa pemuda yang sejak tadi bersama dengannya adalah sosok yang ia cari adalah hal yang cukup mudah bagi Jia-yi.

“Ah, pantas saja dia begitu ingin tahu…” tanpa mengutarakan kekesalannya, Jia-yi lantas melepaskan tas punggung yang ia kenakan di dekat pintu, dengan yakin kini ia melangkah ke arah Chanyeol dan Jongin.

“Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang bisa diajak bercanda, Chanyeol-ssi. Terutama saat ini. Kau juga tahu, aku seseorang yang memaksakan diri untuk pergi ke tempat jauh hanya untuk mencari seseorang.

“Dan juga, aku tidak bercanda tentang aku yang terjebak di Namdaemun. Aku… sedang berdiri di depan Hanvit Bank ketika tiba-tiba saja jalanan terbelah. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat tubuh-tubuh orang lain tergeletak di jalanan, jadi kau anggap aku bercanda tentang aku yang menaiki bus sampai ke sini.

“Aku juga tidak ingin ada di sini, tapi… seseorang yang kutemui di Namdaemun mengatakan bahwa kau bisa membantuku. Jadi, kuharap kau bisa memberiku bantuan. Aku… tidak ingin membuang waktuku di sini, Chanyeol-ssi.”

Penuturan Jia-yi sekarang berhasil membuat Jongin terdiam, tatapan pemuda itu membulat lantaran tidak percaya. Well, Namdaemun adalah topik paling hangat hari ini dan di depannya telah berdiri seseorang yang menyaksikan kejadian tersebut.

“Kau ada di Namdaemun saat sinkhole itu muncul?” Jongin jadi orang pertama yang berhasil menemukan kalimat untuk menyahuti penuturan Jia-yi.

“Aku melihatnya.” Jia-yi berucap yakin. “Aku bahkan berdiri di tepi sinkhole tersebut. Ah… sayang sekali aku sama sekali tidak berpikir untuk mengambil gambar dari sana.” Jia-yi tertawa sarkatis, tahu jika ia sekarang mungkin dianggap konyol oleh dua orang yang mendengar ceritanya.

“Lalu apa tujuanmu ke sini dan mencariku?” akhirnya Chanyeol angkat bicara, pemuda Park itu sendiri sudah duduk di depan salah satu komputer, jemarinya sibuk bergerak di atas keyboard, lagi-lagi sikapnya membuat Jia-yi merasa jika pemuda itu meremehkannya.

“Kudengar kau tahu tentang beberapa petinggi negara. Dan kau juga bisa tahu data-data yang ada di Seoul. Aku juga tidak datang ke tempat ini dengan tangan kosong. Jika kau membantuku untuk menemukan orang yang kucari, aku akan memberitahumu informasi yang cukup menarik.”

Jemari Chanyeol kini berhenti bergerak. Diliriknya Jia-yi sementara Jongin lagi-lagi jadi orang pertama yang memutuskan untuk bicara.

“Siapa yang kau cari? Aku akan menemukannya.” ucap Jongin bersemangat.

“Arshavin.”

“Arsha—”

“—Kenapa kau mencarinya?” alih-alih membiarkan Jongin mendominasi pembicaraan, akhirnya Chanyeol angkat bicara.

“Dia tahu penyebab sinkhole yang muncul di Namdaemun.” sahut Jia-yi singkat.

“Apa? Jangan bercanda!” Chanyeol tergelak, sekon kemudian tawanya pecah, seolah Jia-yi baru saja mengutarakan hal paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya.

“Apa aku terlihat sedang bercanda? Sudah kukatakan padamu, bukan? Aku… tahu informasi yang sangat penting. Jika kau tidak bisa membantuku, aku juga tidak bisa memberitahukan informasi apapun padamu sebagai gantinya.”

Tawa Chanyeol kini teredam, setidaknya nada serius dalam suara Jia-yi menjadi sebuah tanda keseriusan di telinga pemuda Park itu.

“Dan apa untungnya bagiku jika aku tahu informasi itu?” tanya Chanyeol.

Kini, Jia-yi menyunggingkan senyum kecil.

“Tidakkah kau ingin menyelamatkan keluargamu? Seperti aku yang berlari ke Seoul untuk menyelamatkan adikku, kupikir kalian yang ada di Seoul juga pantas tahu tentang apa yang terjadi dan setidaknya menyelamatkan diri.”

“Jongin-ah.”

“Ya, hyung?”

“Dimana Kyungsoo sekarang?”

please wait for the next story: Hol(m)es in Gwanak-gu (2)

Irish’s Note:

KETAHUILAH, kalo ane itu lupa ultah si Cahyo kemarin. Efek seharian terjebak di kemantenan sodara dan jadi pembantu plus plus di kemanten, akhirnya enggak sempet pegang hape, enggak sempet menginget-inget buat ngetik fanfiksi, dan sebagainya.

Kemudian, ane merasa super sedih ketika proyek Gwanak-gu yang harusnya ane kerjain sama Christy Wu sama Shaekiran, harus batal ketika kesibukan jadi hal utama (sebenernya, salah ane sih karena sampe H-7 deadline masih enggak nemu storyline yang fiks buat series Chanyeol ini, maaf ya Christy, maaf Eki T.T) dan akhirnya semalem sampe sekitar jam satu atau dua—lupa nanya sama gebetan astral yang selalu nemenin saat malem—ane disibukkan dengan rombakisasi dadakan storyline sampe series Kyungsoo dan Jongin.

Bahkan, saat ngetik bagian Chanyeol ini  pun (yang baru ane mulai dari jam tujuh tadi) ane masih juga mikirin nasib semua orang yang belum muncul. Kemudian ane merasa begitu emejing karena sebuah ide dadakan muncul sebagai pengalih perhatian dan BUAKAKAKAKAK ya sudahlah ide pengalih perhatiannya masih lama debutnya jadi cukup dia ada di lembar Word dulu aja.

Insya Allah, karena masih Januari jadi mungkin kolaborasinya bisa berhasil yang bagian dua orang itu. Amin, mari berharap enggak ada hal-hal buruk lain terjadi, WKWK. Aku juga masih galau di beberapa member EXO yang belum fiks rekan kolabnya jadi yah… storyline kehidupan memang enggak pernah seindah storyline fanfiksi, ya kan?

Sekian dariku, sampai ketemu di bulan Desember. Salam, Irish!

TEMUKAN JODOH KALIAN (?) DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [4]

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

8 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GWANAKGU — IRISH’s Story

  1. Aku merasa tersakiti pas ceritanya di cut disitu. Ya ampun itu kenapa ceye dibilang gepandangan gitu, merasa ikut berbela sungkawa,, wkwkwkwk.
    Pokoknya kak aku tungguin kelanjutannya. Ngomong ngomong bisa gak ya ultah member exo di satu bulanin biar lanjutannya cepet keluar gitu T_T

  2. Ceye ngerokok ceye ngerokok ceye ngerokok ceye ngerokok ceye ngerokok. Ulululululululu. Entah kenapa di sini ceye kesannya badass gitu, sengkleknya ga seliar di aslinya😄
    Padahal di grup udah rame kapan posting buat birthday project …

  3. KAK IRISSHHHH.

    ANE MERASA DIGANTUNGIN. KENAPA DICUT DI SITU. Udah nebak si ceye itu jail banget sih. Btw ini ceye kok bisa tau tentang pejabat ya? Kukepooo aakhhhhhhhhh ;A;

    Btw aku heran awalnya kok gak kolab sama kak Eki oh nyatanya sibuk pantes juga baru dipost. Kutunggu pokoknya ndak mau tau :3 itu maksudnya ide apa kak rish yg nyantol?.-.

  4. Aaaaaaa, kak irish, eki rinduuuuu…..😍😍😍😍😍/plakk/😂
    Syedih liat notenya, wuakakakakk..😂😂😂
    Salah eki juga sih kak, ada acara real.life ke bumper, hiks. Miris amat dah..😂

    Ini maksud karena masih januari jadi Insyallah collab dua orang itu jadi ama samapi jumpa desember maksudnya apa nih kak Rish? Eki rada blm ngerti, lagi lola beutt..😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s