[Chanyeol Birthday Project] My Little Angel – HyeKim

MYLITTLEANGEL

My Little Angel

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring  With : [EXO] Chanyeol as Park Chanyeol & [OC] Cheonsa as Park Cheonsa

Genre : Thriller, Family, Sad||  Lenght : Vignette || Rating : PG-17

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


Karena Cheonsa sudah berupa malaikat kecil bagi Park Chanyeol


HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

‘Bugh!’

Bogem berat tersebut melayang hingga menyentuh gumpalan daging di hadapannya, sehingga mengakibatkan tubuh ringkih nan gemulai yang beberapa saat lalu tersenyum bak bidadari itu membentur tanah. Kepalan tangan yang layaknya tak melakukan dosa itu digerak-gerakan layaknya berputar kemudian diberi sentuhan angin yang berasal dari mulut—layaknya tangan yang menjadi alat tinjuan itu berupa senjata Si Lelaki. Sesekon, dua sekon, mata gadis yang menjadi korban tersebut perlahan menutup ditambahi rasa sakit yang tersalur dari perutnya akibat ditancapkan benda runcing terbuat dari besi yang lebih pantas dipakai di dapur—pisau.

Bau anyir dengan cairan pekat yang selama ini dinamai darah pun menyeruak malam yang tragis untuk gadis yang terkapar lemah layaknya serpihan debu yang tak berarti di bawah pria brengsek yang dengan lagak santai menarik ujung bibir melihatkan seringaian kejinya tatkala gadis yang ia habisi itu sedang menemui maut. Kelopak mata Si Gadis mutlak tertutup diiringi hembusan karbondioksida yang keluar dari mulutnya sangatlah panjang, pertanda ajal sudah menjemputnya.

“Cuh!” Park Chanyeol—Si Lelaki Jangkung itu, membuang ludah ke  arah sampingnya kemudian mengalihkan antensi kembali pada tubuh mengenaskan di depannya kemudian dirinya menekuk lutut untuk berjongkok serta menyarangkan tatapan menusuk dengan senyum keji pada tubuh gadis tersebut. “Ini balasannya karena sudah berani menyakiti Cheonsaku.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Senandungan merdu yang dikeluarkan bibir tipis berpolesan liptint peach itu terdengar merdu layaknya nyanyian burung di pagi hari. Oknum yang mengeluarkan senandungan merdu tersebut tampak terduduk di sebuah kursi anyaman dan dengan tenangnya menggerakan kedua tangannya secara lihai untuk merajut sebuah syal berwarna merah.

Musim gugur sudah datang dan berada dipenghujungnya, mana hal tersebut berarti ditandakan akan datangnya musim dingin. Cuaca akan semakin dingin dan angin terus-menerus berhembus kencang menggelitik permukaan kulit yang tak berdosa serta menyalurkan sensasi dingin yang meganggu. Maka dari itu Park Cheonsa—gadis yang dengan tenangnya merajut syal berwarna merah itu, berinisiatif merajutkan syal baru untuk kakak lelakinya itu.

“Hah, selesai.” tatkala kerjaannya terselesaikan, Cheonsa mendesah lega demikian sambil merentangkan syal mahakaryanya didepan wajah disertai senyum gembiranya.

Tak tampak dari ujung matanya, sosok kakak yang ia bayangkan akan senang dengan syal yang ia buat itu menampakan batang hidungnya di sisi tembok tempat dirinya berada. Park Chanyeol menyunggingkan senyum manisnya ketika melihat Cheonsa sedang memejamkan mata dan mendekap syal berwarna merah didadanya. Tungkai Chanyeol mulai beraksi dengan rajutan langkah pelan hingga akhirnya sampai di samping adiknya, perlahan tubuh Chanyeol membungkuk guna mensejajarkan diri dengan Cheonsa yang masih duduk nyaman di kursi anyaman.

Ya! Oppa! Kau membuatku kaget!” adalah pekikan yang Chanyeol dapatkan dari Cheonsa saat malaikat kecilnya itu menolehkan kepala ke samping dan langsung terkejut ketika mendapati langsung wajah Chanyeol tepat didepan wajahnya.

Gadis manis itu pun memajukan bibirnya membuat Chanyeol terkekeh gemas dan mengangkat tangannya yang berakhir mengacak-acak rambut adiknya itu. “Maaf membuatmu terkejut, Cheonsaku.”

Ujung bibir Cheonsa pun tertarik dan terkulumlah sebuah senyum lembut terkhususkan untuk kakaknya, namun senyuman indah itu bersifat sementara dikarenakan obsidian bermanik indah itu mendapati pemandangan sebuah warna merah di kerah baju Chanyeol. Darah. Cheonsa lantas memandang kakaknya tepat dimata lelaki tersebut.

Oppa, melakukannya lagi?” pertanyaan yang entah sudah berapa kali itu keluar kembali, manik obsidian yang Chanyeol sukai itu lagi-lagi melihatkan binar khawatir, bibir berlapis warna peach itu pun juga melihatkan senyum dengan hasrat kecewa.

Air wajah Chanyeol derastis berubah, tangan yang tadi mengelus surai Cheonsa pun perlahan turun diikuti bibir yang membentuk berupa garis tanpa ada senyuman atau apapun. Matanya menatap penuh kornea Cheonsa dengan dalam.

“Itu karena mereka menyakitimu, Cheonsa-ya.”

Rajutan yang sudah beberapa sekon lalu ia buat pun seketika melayang mengikuti gravitasi hingga menyentuh lantai disertai dengan bola mata yang menunjukan kekecewaan juga terlihat berkaca-kaca. Cheonsa merengutkan bibirnya menahan isakan atas kekecewaannya untuk Sang Kakak.

“Tapi bagaimanapun dirimu sudah—“

Chanyeol mendekatkan jari telunjuk kebibir Cheonsa menyebabkan gadis manis itu membungkam mulutnya. Chanyeol mendesiskan kata ‘Ssttt,’ dengan pelan lantas menyunggingkan senyum menenangkan.

“Aku tahu, kamu akan berucap aku melakukan tindakan kriminal. Namun…” netra Chanyeol melirik kaki Sang Adik, yang mana kedua tungaki tersebut sudah mengaku lebih tepatnya seluruh saraf kaki adiknya sudah mengaku atau kata lain Cheonsa lumpuh. “…. mereka menghinamu dan mengatakan perceraian orang tua kita disebabkan olehmu. Mereka semua salah juga berdosa. Ayah dan Ibu saja yang tidak mau bertanggung jawab disaat putri kebanggaan mereka berakhir lumpuh seperti ini.”

Akhirnya pelupuk mata Cheonsa mengeluarkan setetes air bening nan hangat tersebut. Bola matanya bergetar begitula bibirnya, berusaha tak meloloskan satu pun isakan. Sementara Chanyeol sudah menyingkirkan jari telunjuk dari bibir adiknya dan memberikan elusan lembut dikepala Cheonsa.

“Jangan bungkam bila ada yang mencemoohmu lagi karena kelumpuhanmu apalagi mengataimu anak tak berguna. Tanpa dirimu bungkampun, aku tahu siapa oknum yang selalu menghinamu. Aku tak akan membiarkan malaikat kecilku tersakiti.” Chanyeol menegakan badan dan berbalik untuk meninggalkan Cheonsa ketika selesai berkata demikian.

Tak pernah Chanyeol sadari bahwa Cheonsa menyarangkan tatapan lekat pada punggungnya yang berbalik pergi.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Langit mulai menggelap kembali. Bulan pun mulai menggantung di langit ditemani para bintang. Angin malam ini lebih liar membuat Park Chanyeol mengumpat kasar tatkala dirinya membetulkan jaketnya lalu kembali menggeret seengok daging yang dilumuri darah tersebut. Mayat. Malam ini kembali dirinya menebaskan satu nyawa yang berani-beraninya membuka mulut untuk mencemooh adiknya.

“Hah!” helaan lelah keluar dari mulut Chanyeol kemudian dirinya melirik mayat yang sedaritadi ia geret tanpa rasa kasian. Setelahnya dirinya membuang ludah dan tersenyum meringis. “Kim Sunhye, kau tak akan pernah membuka mulutmu untuk menghina malaikat kecilku lagi.” kepala Chanyeol tertoleh ke sampingnya di mana terhampar luas lautan yang bebas, tempat yang ia pijaki sekarang adalah pelabuhan.

“Ikan-ikan di sana harus berterimakasih padaku karena selalu memberikan mereka makanan,” ujar Chanyeol sembari memandangi lautan dengan debaran ombak yang tenang tersebut disertai anggukan pelannya.

Kembali Chanyeol memandang mayat yang matanya membelalak terbuka dengan mulut terbuka lebar. Setelahnya lelaki tersebut mulai menggeret mayat Kim Sunhye tersebut, “Nah sekarang…” namun kegiatan tersebut terhenti dengan mulut Chanyeol yang membungkam, ketika dirinya mengangkat kepala, ujung matanya mendapati sosok yang duduk di sebuah kursi roda yang diletakan di ujung satu jembatan yang berada dekat pelabuhan.

“Cheonsa…” gumam Chanyeol pelan dan diselimuti persaan kagetnya akan kehadiran Cheonsa yang berada di ujung jembatan yang di bawahnya langsung menyapa air dingin laut. Malaikat kecilnya itu seakan ingin melakukan… “Tidak, tidak,” ucap Chanyeol panik dengan gelengan kuat. Tanpa sadarpun kaki milik Chanyeol mulai berlari mendekati tempat adiknya tersebut. “Cheonsa! Jangan lompat!” teriakan Chanyeol memecahkan sunyi yang tercipta di pelabuhan.

Kepala Cheonsa tertoleh saat mendengar teriakan khas Chanyeol. Wajah dan tatapannya menampilkan sebuah kesayuan. Hingga akhirnya Chanyeol sampai beberapa jengkal di hadapannya dengan napas terengah dan badan sedikit bungkuk, tak lupa keringat tampak dari kulitnya. Bibir Cheonsa bergetar disertai tangan mencengkram erat kursi rodanya. Dengan ragu, rajutan langkah Chanyeol tercipta mendekati Cheonsa.

“Berhenti!” rajutan langkah yang tak tuntas tersebut terhenti ditambahi obsidian pekat tersebut menjatuhkan diri pada sosok malaikat kecil yang tampak gemetar hebat di atas kursi rodanya. “Kubilang berhenti!” teriakan Cheonsa pecah dengan derasnya air mata yang menyusuri pipinya tatkala Chanyeol keras kepala mendekatinya, namun sekarang lelaki itu memilih diam menatapi Cheonsa.

“Kumohon jangan menjatuhkan diri,” kata Chanyeol dengan wajah juga tatapan memohon tatkala tatapannya menangkap Cheonsa menggerak-gerakan kursi rodanya tambah ke ujung untuk berbaur bersama dinginnya air laut berserta debaran ombak tenangnya.

 “Semua orang benar…” suara serak Cheonsa mengeluarkan frasa dengan cengkraman kerasnya di kursi rodanya. “… aku gadis tidak berguna,” kepala Chanyeol menggeleng diikuti kristal bening dipelupuk matanya jatuh membasahi pipi. “Oppa, bila aku pergi kau tidak akan membunuh lagi demi aku bukan?” ujung bibir Cheonsa membentuk senyuman pedih.

“Cheonsa-ya…” Chanyeol memanggil berusaha mencegah. Kakinya gemetar dan ingin sekali menghampiri adiknya.

Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat langit seakan runtuh menimpanya. Tanpa rasa ragu, Cheonsa mendorong kursi rodanya hingga satu rodanya oleng ke ujung jembatan hingga berakhir melawan gravitasi karena bobot tubuh juga kursi roda tersebut. Malaikat kecil yang Chanyeol sayangi itu menghanyutkan diri ke dalam lautan dingin yang terlihat tenang itu.

“CHEONSA!” teriak Chanyeol diiringi tubuhnya yang ambruk tak lupa dengan air mata mengenang. Malam ini malaikat kecilnya pergi meninggalkannya.

—Fin—


Ini-apa? Ya, yang ada diotak tulis aja sama ane dan btw ini belum revisi loh, jadi kalo ada typo wajarkan saja, kalo ada kasih tau ane bia ane edit LOL.

Berhubung nama Cheonsa yang berarti malaikat jadilah judulnya My Little Angel dengan alur plot gak jelas seperti ini.

Untuk Resti a.k.a CantikaPark terimakasih sudah bersedia minjemin OCnya buat ane nistain intinya buat ane sewa tanpa bayaran /ditempeleng/ I had warn you yeah, bahwa genre yang aku pake bersama Ceye dan OCmu gak akan normal. Karena emang imajinasi sama otak yang buatnya aja udah kelewat gak waras, ini mending dibanding adegan potong-memotong tubuhkan? /plok/

And last, hebede aja buat Ceye :v

CLICK PICTURE FOR VISIT MY PERSONAL BLOG!

CLICK PICTURE FOR VISIT MY PERSONAL BLOG!

3 thoughts on “[Chanyeol Birthday Project] My Little Angel – HyeKim

  1. hah sedih banget,tpi emang si kalo saudara kita dikatain y enggak2 sama org y jelak abangx bakalan mmbalaskn dendam sang adik walaupun dgn cara pling keji sekalipun

    ceye jahat dan keji tpi lbh keji lg krna org2 itu ceye dan cheonsa jdi terpisah selamanya,hah tragis mmng kehidupan tak seindah y kita bayangkn

    ditunggu ff y lain authornim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s