[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Take, A Piece of My Heart

Take a Piece of My Heart.jpg

A fanfiction by Eunike

Dedicated for the birthday-boy Park Chanyeol

Oneshot | Romance, Slice of Life, Song-fiction
PG-15

With Chanyeol and Lalin (OC)
As the main cast

Based on Never Be Alone by Shawn Mendes

[ Do not copy without permission ]

.

Take, A Piece of My Heart

So when we are apart,
You’ll never be alone.

.

“Sepertinya aku akan terus begini; merindukanmu tanpa henti.”

.

.

+++

I promise that one day I’ll be around

I’ll keep you safe

I’ll keep you sound

“…kau benar-benar sudah di depan rumah?”

“Ya, tentu saja. Kau pikir aku bercanda?”

“Tapi bukankah waktu istirahatmu hanya satu jam?”

“Sudahlah, buka saja pintunya, Lalin. Di luar sini cukup dingin.”

Terdapat jeda tiga detik sebelum dan sesudah kalimat itu terlontar, membuat Lalin –yang semula mengerjap-ngerjapkan mata dengan tidak percaya– buru-buru berlari menuruni tangga menuju lantai bawah. Tangannya nyaris tak terlihat karena tertutup lengan sweater yang kepanjangan, tetapi ia berhasil membuka pintu dalam kurun waktu kurang dari lima detik dan berhambur ke pelukan laki-laki itu.

“Aku merindukanmu,” bisik Lalin serak, mengundang Chanyeol untuk ikut melingkarkan lengan pada tubuh mungilnya dan merunduk lantaran tubuhnya terlalu jangkung. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, tetapi tubuhnya menyalurkan hangat yang menyentuh hingga hati Lalin.

Sudut-sudut bibir Lalin membentuk senyum. “Kau sudah makan?” tanyanya, memberi jarak sedikit di antara tubuh mereka yang semula saling merengkuh.

Chanyeol menggeleng pelan. “Kau mau memasak sesuatu untukku?”

“Tentu saja,” sahut Lalin bersemangat. Ia segera menarik tangan Chanyeol untuk masuk ke dalam rumahnya, menuntunnya hingga dapur, dan mempersilakan si laki-laki duduk pada salah satu kursi yang tersedia.

“Aku mau ramen.” Chanyeol menyengir kecil.

Lalin mengangguk mengerti. “Baik, Tuan Muda Park! Koki Lalin akan menyajikan ramen spesial untuk Tuan Muda Park!”

Laki-laki itu tertawa pelan. Sekitar dua puluh menit mereka lalui dengan keheningan yang begitu menyesakkan; Lalin sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuat keadaan tetap cair. Tetapi Chanyeol tampak sama sekali tidak dalam suasana hati yang ceria, dan memilih untuk sibuk dengan tumpukan kertas partiturnya.

Entah sudah berapa lama hubungan mereka berlangsung datar; Chanyeol yang pertama kali Lalin kenal adalah sosok periang, bukan pendiam. Karakternya berubah seratus delapan puluh derajat sejak berita dating mereka terungkap oleh media. Banyak penggemar Chanyeol yang menentang; memaki Lalin yang sejatinya hanya warga Korea biasa, bukan model ataupun idol yang memiliki tubuh ideal dan wajah jelita.

Lalin biasa-biasa saja, kata mereka. Lalin hanya seorang gadis dengan rambut coklat keriting yang sama sekali tidak pernah melakukan perawatan, seorang mahasiswi yang nilainya tidak fantastis, dan seorang penjaga toko bunga yang bahkan menghitung kembalian saja sering salah.

Tetapi jangan salahkan Chanyeol, jika laki-laki dengan pesona memikat itu menatap Lalin dengan cara yang berbeda. Lalin di mata Chanyeol adalah gadis bijaksana dengan pemikiran-pemikiran yang luar biasa, mahasiswi penekun bidang tari dengan sejuta cita-cita, dan seorang penjaga toko bunga yang tahu persis arti keindahan yang sesungguhnya.

Chanyeol jatuh cinta pada Lalin di atas semua kekurangan dan ketidaksempurnaannya yang sempurna. Namun sejak berita itu beredar, Chanyeol mulai mempertanyakan itu semua.

“Lalin,” panggilnya setelah lama terdiam. Perempuan itu masih berdiri di hadapan panci, mengaduk-aduk ramennya yang sudah setengah matang.

Lalin segera berbalik dan mengulas senyum lebar. “Bagaimana latihanmu untuk penampilan di MAMA Awards?” tanyanya, seolah menghindari topik apa pun yang hendak Chanyeol bawa.

Terdapat jeda sejenak; Chanyeol tidak buru-buru memberi respon, tetapi kemudian ikut mengulas senyum sambil menjawab, “Cukup baik. Manager kami sangat ketat soal jadwal latihan, kau tahu sendiri.”

Lalin mengangguk-angguk. Tangannya kemudian beralih untuk mematikan kompor dan menuangkan ramennya pada mangkok. “Silakan, Tuan Muda Park,” katanya sambil terkekeh.

Chanyeol menerima mangkoknya dengan canggung yang tak bisa dijelaskan, dan mulai memakannya dalam diam. Matanya bergerak i ke mana saja asal bukan pada sepasang mata almond milik Lalin.

Lagi, mereka terjebak pada suasana yang begitu tidak mengenakkan. Lalin tahu laki-laki itu sedang menghindari sesuatu. Karena Chanyeol tidak mungkin membaca kertas-kertas partitur selagi ia menyantap makan malam, atau setidaknya ketika Lalin berada di sampingnya. Chanyeol seharusnya mulai bertanya tentang hari-hari di mana ia tidak bisa menemani Lalin. Dan kini keadaan sedang berlangsung dengan tidak seharusnya.

Ada jarak yang menjurang di antara mereka.

Hey,

I know there are some things we need to talk about

“Yeol-ah,” panggil Lalin sedikit serak. “Berhenti menatap kertas-kertas itu.”

Kepala Chanyeol mendongak, akhirnya terpaksa membalas tatapan Lalin. “Kenapa?” tanyanya.

Kenapa?

Lalin tertawa pahit. Pertanyaan Chanyeol adalah hal teridiot yang didengarnya hari ini. “Kenapa?” ulangnya dengan nada sinis yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku ada di sini, Chanyeol. Waktumu untuk keluar dorm hanya satu jam, dan hal yang terus-terusan kau tatap adalah kertas partitur?”

Mangkok ramen di tangannya perlahan ditelakkan ke atas meja. Isinya sudah tinggal setengah.

“Aku merindukanmu, Chanyeol,” bisik Lalin serak ketika laki-laki itu sudah memberi atensi penuh padanya. “Aku merindukanmu dan aku hanya ingin kita berbincang sebentar, selagi kau boleh keluar dari dorm. Selagi kau ada di sini dan aku ada di sampingmu. Selagi kita bisa bertatap muka dan tertawa bersama. Sesulit itukah, Yeol?”

Bibir Chanyeol terkatup rapat; tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“Aku tidak mau menipu perasaan sendiri,” lanjut Lalin. “Aku tahu, hubungan kita akhir-akhir ini hambar. Kau menjauh. Aku tidak tahu kenapa. Tetapi rasa-rasanya, kau sekarang jadi sosok yang tak tergapai. Aku tidak bisa meraihmu.”

“Lalin, konserku sudah sebentar lagi dan aku harus mempersiapkan segalanya dengan–”

“Bukan karena waktu atau jarak, Yeol. Aku bisa terima jika itu profesimu. Aku menghargai lingkup pribadimu. Tetapi kenapa kau tidak pernah benar-benar menaruh perhatianmu padaku ketika kita sedang bersama-sama, seperti sekarang?”

Mata Chanyeol terpejam; mengatur emosi. Emosi yang sama sekali tidak ia pahami; menghimpit dadanya dan membuat hatinya panas dalam waktu bersamaan.

“Kalau aku hanya menjadi bebanmu–” Lalin menarik napas panjang. “–lebih baik kita sudahi saja hubungan kita.”

“Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu? Kau bukan beban–”

“Kalau begitu tunjukkan jika aku bukan bebanmu!” Perempuan itu nyaris menjerit. Matanya sudah panas oleh air mata yang hendak turun tanpa diminta. “Dua bulan. Dua bulan aku menahan semuanya. Aku membiarkan kau bersikap seenakmu. Aku membiarkan kau menghindari tatapanku dan tidak bertanya-tanya soal mengapa ekspresimu selalu tampak tidak nyaman tiap kali kita bertemu. Tetapi sepertinya aku sudah tidak tahan lagi. Kalau kau ingin menyudahi ini semua, sudahi saja.”

Perkataan Lalin adalah yang terpanjang setelah dua bulan hubungan mereka berlangsung hambar. Chanyeol menatapnya melalui kedua bola mata yang terbuka lebar-lebar; seolah tidak mau melewati setiap detail yang tergurat pada wajah Lalin saat itu.

And I can’t stay

Mereka terdiam sejenak. Hening melambai-lambai. Sampai akhirnya Chanyeol menyahut.

“Baiklah. Kita putus.”

Dan bersamaan dengan itu, ia bangkit berdiri, membereskan semua partiturnya dan melangkah pergi. Tanpa berkata apa-apa lagi. Tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Lalin tidak pernah tahu akan seperti apa jadinya hubungan mereka; Lalin juga tidak pernah membayangkan Chanyeol akan tinggal di sisinya selalu. Pun, Lalin tidak pernah membayangkan Chanyeol melangkah pergi.

Dan Lalin tidak tahu bahwa ternyata, ketika tubuh jangkung itu menjauh dari pandangannya; meninggalkan semangkok ramen yang sudah ia masak sepenuh hati dan hanya disantap setengah, adalah hal yang paling melukainya. Layaknya sepotong hati yang ia berikan utuh, namun hanya dihargai separuh.

Just let me hold you for a little longer now

Tidak ada air mata yang turun.

Lalin terlalu takut untuk menangis. Takut jika kesedihannya hanya akan membuatnya semakin mengasihani diri.

Ia menghabiskan sisa waktunya untuk bertanya-tanya; kenapa ia harus datang, jika pada akhirnya akan pergi?

+++

When you fall asleep tonight just remember that we lay under the same stars

“Chanyeol?” Itu suara Baekhyun, yang tengah menuang soju dengan mata bertanya-tanya. “Kemana saja kau? Sudah lewat tengah malam dan kau baru kembali ke dorm. Manager Hyung mencari-carimu sedari tadi..”

Chanyeol hanya menjawabnya dengan gumam pelan dan langsung menjatuhkan diri pada sofa. Mengusap wajahnya yang tampak kebas.

“Kau tidak membuat ulah dengan kekasihmu itu, ‘kan? Ponselmu juga mati, kami semua cemas,” lanjut Baekhyun sambil berjalan mendekat. Menyodorkan segelas soju.

Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun, Chanyeol malah menerima segelas soju itu sambil bertanya, “Soju-nya masih banyak?”

“Masih ada dua botol. Manager Hyung membawakan kami banyak sekali botol soju dan ayam panggang. Kau melewatkan makan malam yang cukup fantastis.” Baekhyun tertawa mengejek. “Ya! Kau belum menjawabku. Dari mana kau tadi?”

Soju di tangan Chanyeol segera habis dalam satu tegukan. Matanya memicing selama beberapa saat, terpaku pada satu titik, sebelum pelan-pelan beralih pada Baekhyun.

Dan Baekhyun tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak melihat luka yang terdapat di kedua bola mata itu.

“Kau kenapa, Chanyeol? Ada masalah dengan kekasihmu?”

“Kekasih?’ Chanyeol bertanya dengan cepat. “Aku tidak punya kekasih.”

“Apa maksudmu? Lalu Lalin–”

“Kami sudah putus.”

Chanyeol berdiri, berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol soju yang masih tersisa. “Jangan bicara dan bertanya apa-apa lagi padaku, jika kau tidak ingin botol ini melayang ke kepalamu.”

Baekhyun mengatup bibirnya rapat-rapat, memperhatikan punggung Chanyeol yang menghilang di balik pintu kamarnya.

Si pemuda jangkung itu segera pergi menuju jendela, memperhatikan langit malam yang menampilkan gelap tak berujung; sama seperti apa yang ia lihat dari hubungannya dengan Lalin.

Matanya memejam erat, berharap dengan begitu sakit yang mendera di dadanya bisa berangsur lenyap. Tetapi nyatanya, tidak. Ternyata luka sudah bersarang di hatinya; jauh sebelum Chanyeol sadar bahwa ia terluka.

Ia terluka tiap kali menatap mata Lalin; yang menanggung begitu banyak beban dari penggemarnya yang tak henti melemparkan kebencian. Ia terluka tiap kali menatap senyum Lalin; yang terulas begitu manis meski hatinya sakit tiap kali mendapat ancaman-ancaman tak manusiawi. Ia terluka tiap kali Lalin berkata ‘aku tidak-apa’, sebab sesungguhnya, perempuan itu tidak mungkin tidak apa-apa.

Dan lukanya terasa lebih menyakitkan, ketika sadar bahwa ia adalah satu-satunya penyebab Lalin harus menderita akibat ulah orang-orang yang mengaku sebagai penggemar Park Chanyeol; dirinya.

Apakah pergi adalah pilihan terbaik? Chanyeol kira, seharusnya begitu.

Tetapi ternyata, apa yang seharusnya terkadang tidak sejalan dengan hati.

“Aku merindukanmu.” Kata-kata Lalin terngiang lagi di telinganya. Kata-kata yang perempuan itu ucapkan tepat di dadanya, dan tidak berani ia jawab di kala itu.

Chanyeol merasa bibirnya bergetar ketika kemudian berbisik, “Aku juga merindukanmu… lebih dari yang kau kira.”

Tetapi percuma, sebab Lalin tidak bisa mendengarnya.

I may be far but never gone

+++

HEADLINE NEWS

Confirmed: Hubungan EXO Chanyeol dan Yoon Lalin Telah Kandas

+++

.

.

.

.

.

.

.

.

And take a piece of my heart

.

.

.

.

.

.

.

.

“Sudah empat tahun, ya, sejak Chanyeol putus dengan kekasihnya. Siapa namanya? Lalin?”

“Yah, kau benar, Yoon Lalin.”

“Dia tidak pernah dikabarkan memiliki kekasih lagi.”

Make it all your own

“Mungkin gagal move on?”

“Jangan bercanda. Chanyeol sendiri yang memutuskan hubungan mereka.”

“Yah, kalau begitu, mungkin saja dia kapok berpacaran karena Lalin mendapat banyak sekali terror.”

So when we are apart

“Bagus dong kalau dia kapok? Chanyeol itu milik penggemar. Tidak bisa diakui hanya milik seorang gadis.”

“Tapi, jika boleh jujur, aku merasa sedikit kasihan.”

“Kasihan? Bukankah dulu kau juga membantuku mengirim surat-surat terror itu?”

“Ya, dan sekarang aku menyesal.”

.

.

.

 

.

.

.

.

.

.

.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah dengar soal desas-desus itu?”

“Desas-desus apa?”

“Sekolah tari yang sedang booming akhir-akhir ini ternyata didirikan oleh Yoon Lalin.”

.

.

You’ll never be alone

.

.

.

Seorang perempuan berjalan cepat melintasi koridor. Rambutnya yang keriting natural terikat rapi, jatuh pada punggungnya dan berayun-ayun seiring kakinya melangkah. Senyumnya terulas begitu menemui banyak orang yang juga berada di koridor lantai itu; menyapanya satu persatu dengan ramah sebelum berbelok untuk memasuki sebuah ruangan. Di pintunya terdapat papan kecil dengan tulisan: Ruang Kepala Sekolah.

“Kenapa orang ini susah sekali dihubungi, sih,” gumam perempuan itu pelan sambil menunduk untuk menatap ponselnya. Sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitar hingga sebuah suara membuatnya membeku.

“Hei, Kepala Sekolah Yoon.”

Suara itu, suara yang sangat ia kenal.

Bibir perempuan itu mengulas senyum lagi. Kini begitu lebar. “Sudah kubilang, jangan panggil aku begitu–” katanya tanpa menutup-nutupi sebuncah rasa bahagia yang mengalir pada setiap kalimatnya. “–Tuan Muda Park.”

Laki-laki yang tengah duduk di ujung mejanya itu tertawa.

Bibir gadis itu membuka lagi, “Selain itu, Tuan Muda Park, sangat tidak sopan untuk duduk di meja seorang kepala sekolah.”

Bahu si laki-laki melejit. “Entahlah. Kurasa aku bisa melakukan apa saja di sini,” katanya. “Asal aku bersamamu.”

“Berhenti merayu.”

“Oh, lihat, pipimu memerah.”

“Tidak–”

Belum sempat perempuan itu menuntaskan kalimatnya, laki-laki yang semula duduk di ujung meja sudah bergerak lebih cepat untuk menariknya ke dalam pelukan. Tubuhnya yang jangkung membungkuk untuk menaruh dagunya pada bahu si perempuan.

“Aku merindukanmu, sangat,” bisik laki-laki itu.

“Kita baru saja bertemu kemarin.” Si perempuan menahan tawa, tetapi tetap membalas pelukan si laki-laki.

“Sepertinya aku akan terus begini; merindukanmu tanpa henti.”

“Kau benar-benar perayu yang handal.”

Jeda sejenak, si laki-laki memanfaatkan waktu tersebut untuk melepas pelukan mereka dan menatap mata perempuan itu dalam-dalam. Ia kemudian berbisik dengan pelan, “Aku tidak akan melepaskanmu lagi, seperti apa yang terjadi pada malam itu.”

“Kenapa tiba-tiba mengungkit masa lalu?”

“Karena dalam rangka menyusun masa depan, kita harus mengulas apa yang telah lalu.”

“Jangan sok puitis.”

“Tidak, Lalin, aku sedang serius.”

Sang gadis malah tertawa. “Baiklah. Apa tujuanmu mengatakan itu, Park Chanyeol?”

Tangan yang semula melingkar pada tubuhnya terlepas, perlahan bergerak untuk menggenggam sepasang tangan yang begitu lembut dan mungil di telapaknya. Katanya kemudian, “Menikahlah denganku, Lalin.”

Terdengar napas tertahan, “A-Apa?”

“Menikahlah denganku, dan kita tidak perlu mengumpat dari media seperti yang kita lakukan bertahun-tahun ini. Menikahlah denganku, dan aku akan menjamin hidupmu bahagia.” Cengiran Chanyeol begitu lebar. “Maukah kau, Yoon Lalin, menerima sepotong hatiku yang utuh? Dan kita bisa menghadapi semuanya bersama.”

Lalin merasa tangisnya hampir pecah. Setelah sekian lama menahan air mata, akhirnya ia membiarkan hal itu membasahi pipinya.

“Kau sungguh tidak romantis, Chanyeol! Kalimatmu sangat cheesy!” seru Lalin sembari melompat untuk memeluk Chanyeol. “Tapi sialnya, aku–”

Bibirnya dibungkam oleh bibir Chanyeol.

“Tapi untungnya, aku menerimamu,” bisik laki-laki itu. “Itu hal yang ingin kudengar.”

Lalin mendengus tertawa. “Lamar aku sekali lagi, Chanyeol. Dengan cara yang lebih elegan dan romantis. Maka aku akan mengatakan hal itu.”

“Baiklah, kuterima tantanganmu. Tapi–”

“Tapi?”

“Tapi sepertinya, tanpa melakukan hal itu pun aku sudah bisa membuatmu mengatakan kalimat itu.”

“Apa maksudmu?”

Chanyeol tersenyum miring, sebelum kembali mempertemukan bibir mereka. Melumatnya dengan lembut dengan mata terpejam dan mulai menyentuh pinggang perempuan itu. Tangannya dengan nakal mengusap punggung Lalin, kemudian mulai turun menuju daerah yang Chanyeol tahu adalah kelemahan si gadis.

“C-Chanyeol–”

“Chanyeol jangan–”

“Chanyeol–

–berhenti mengelitikku!”

Laki-laki itu melepas ciuman mereka dan tertawa puas, tangannya sudah berada pada perut Lalin dan terus memberinya serangan demi serangan yang berbuah tawa geli.

“Chanyeol, astaga! Hahahaha, berhenti!”

“Tidak sampai kau katakan hal yang tadi!”

“Apa-apaan, dasar curang! Hahaha, cepat berhenti!”

“Tidak akan!”

+++

.

.

.

.

.

Yah, meski menyebalkan,

Setidaknya Chanyeol yang Lalin kenal telah kembali.

.

.

.

.

.

FIN

.

.

Author’s note:

INI PANJANG SEKALI YA, 2000+ WORDS.  Maaf kalau alurnya agak-agak… begitu… ya… absurd…. Tapi semoga bisa menghibur!

Dan selamat ulang tahun,  Abang Chan-chan!

Let me know what you think about this fict🙂 Leave a comment below

2 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Take, A Piece of My Heart

  1. EUNIKEEE KANGEN;((( AKHIRNYA BACA CERITA KAMU LAGI SETELAH SEKIAN ABAD😂 tetep samaa aku selalu suka ff kamu, gak jelek alurnya baguuussss kirain aku bakal angst ternyata enggak ya😂 ehc kapan update nyaa:(

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s