[Chanyeol Birthday Project] (Blind) Date ― ShanShoo

20282066-Blind-Date-love-affair-secret-surprise-heart-concept-Stock-Vector

-ShanShoo’s present

(http://ikhsaniaty.wordpress.com/)

Chanyeol x OC

-o-

“Kencannya jadi hari ini, kan?” adalah kata sapa yang menyesaki pendengaran Reyna, kala gadis yang baru menginjak usia dua puluhan itu menerima sambungan pembicaraan. Ia sama sekali tidak tahu kalau Baekhyun akan berbicara begitu padanya, apalagi nadanya kelewat antusias, sampai-sampai Reyna dibuat terkejut.

“Memangnya kenapa? Kalau aku tidak mau, kau akan memaksaku, begitu?” mungkin kalau posisinya saat ini bukanlah di tempat umum, di mana ada banyak sekali para pejalan kaki yang menyusuri tepian trotoar jalan raya serta suara bising bersumber dari kendaraan, Reyna pasti akan berteriak sekencang-kencangnya, dan kalau Baekhyun berada tepat di hadapannya, ia akan menendang kakaknya itu sampai ke planet Mars.

Byun Baekhyun, di seberang sana malah terkekeh puas mendengar gerutuan Reyna. “Aku tidak akan memaksamu, Sayangku.” Katanya, menghela napas sejenak guna meredakan kekehannya. “Tapi kusarankan kau untuk segera bertemu dengannya. Kautahu? Penyesalan tidak akan pernah datang padamu kalau kau―”

“Bertemu dengannya. Yeah, aku tahu itu, Baek. Tapi asal kautahu saja,” giliran Reyna yang menghela napas. Menghentikan kedua kakinya yang beralaskan sepatu keds sembari menoleh ke arah kaca besar sebuah toko pakaian. “Aku. Tidak. Mau. Pergi. Kencan!” sambungan pembicaraan Reyna akhiri secara sepihak. Ia tak mau lagi mendengar berbagai macam omong kosong Baekhyun tentang ia yang akan jadi perawan tua kalau ia tak mau pergi kencan buta dengan laki-laki. O, peduli setan dengan semua hal itu. Reyna tidak percaya, sekalipun Byun Baekhyun adalah kakak laki-lakinya.

Ponselnya berdering kembali, namun Reyna berusaha mengabaikannya. Tekadnya sudah bulat kalau ia enggan melakukan kencan dengan seseorang yang tak ia kenal.

-o-

Matahari masih terasa menyengat tubuh. Reyna memutuskan untuk menyambangi sebuah kafe yang jaraknya sudah tidak seberapa lagi. Sepulangnya ia dari rumah salah seorang temannya, kemudian dilanjutkan dengan percakapan tak berarti dari kakaknya sudah cukup membuatnya lelah. Reyna harus mengisi energinya dengan mengonsumsi minuman dingin di kafe seraya beristirahat barang sebentar.

Pintu kafe terbuka, membunyikan dentingan bel kecil di atasnya. Salah seorang pelayan kafe segera menoleh ke arahnya dan memberikan sapaan selamat datang.

“Aku pesan ice green tea saja,” kata Reyna pada seorang pelayan di belakang konter. Pelayan wanita itu mengangguk mendengarnya, lekas memberitahukan pesanan Reyna pada sang rekan yang sibuk mengolah minuman di belakangnya. Bergegas Reyna memilih tempat duduk yang kosong―omong-omong, hampir semua meja kafe tidak terisi oleh pelanggan, hanya ada beberapa saja yang sibuk memilih menghabiskan waktu siang harinya di sini, seperti seorang wanita karir yang sedang menyesap minumannya sembari pandangan terarah pada layar laptop, sepasang kekasih muda yang sibuk berpacaran sambil menyesap minuman masing-masing, serta seorang laki-laki yang duduk membelakanginya. Reyna memang tak bisa menebak dengan benar apa yang tengah dilakukan laki-laki itu. Tapi Reyna yakin, kalau laki-laki itu menunggu seseorang untuk menemaninya meminum secangkir teh dingin.

Pada akhirnya, Reyna menjatuhkan pilihan untuk duduk di sudut ruangan depan, menghadap ke arah jendela kafe yang menampilkan hiruk pikuk kota. Menghempaskan tubuhnya, Reyna menyandarkan punggung, dan ponselnya yang ia simpan di dalam tas, mulai berdering untuk yang kesekian kalinya. Oke, Reyna tak perlu menebak siapa sang penelepon. Bisa-bisa tensian darahnya meningkat drastis andai ia menerima telepon dari Baekhyun dan memutuskan untuk mendengarkan segala macam ocehannya.

“Awas saja, ketemu nanti, aku akan menghabisimu!” gumam Reyna, kesal. Melirik tajam resleting tasnya yang tertutup, guna melindungi ponselnya dari sengatan tajam milik si empunya.

O, mungkin menurut Reyna, suara gumamannya tidaklah besar. Tapi sayang, pendapatnya harus runtuh, lantaran laki-laki yang tadi duduk memunggungi Reyna kala sedang memesan minumannya, menoleh menatapnya. Maniknya tiba-tiba saja menelisik raut Reyna yang tertekuk kesal. Laki-laki itu mendesah berat, sebelum akhirnya memilih untuk bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Reyna.

“Hai,” sapanya, ramah begitu ia berdiri di samping sang gadis. Reyna lekas mendongak dan pandangan mereka bertemu. Ia dengan mimik keheranan, sementara laki-laki itu dengan senyuman ramahnya. “Bolehkah aku duduk di sini?” pertanyaannya mengundang kerutan samar di kening Reyna. “Aku tidak akan berbuat macam-macam.” Katanya, berharap Reyna mengijinkan dirinya untuk duduk dengannya.

Baiklah, kali ini apa lagi? Sudah dua hal berhasil memperburuk suasana hati Reyna, dan sekarang ia harus merelakan suasana hatinya kian memburuk karena kedatangan seorang laki-laki asing? O, yang benar saja?

“Mm,” yeah, kalian boleh mencemooh Reyna dengan kata-kata kasar sekalipun, tapi sungguh, Reyna tak menduga kalau ia akan membiarkan laki-laki asing itu untuk duduk bersamanya, di sampingnya.

“Oke, terima kasih.” Senyuman itu masih bertahan. Segera ia duduk dan menghirup napas dalam-dalam sebelum berkata lagi, “Sedang menunggu seseorang?”

Reyna memberinya tatapan tak suka, “Tidak.” balasnya, singkat. Hingga beberapa detik kemudian, pelayan wanita tadi mengantarkan pesanan Reyna dan meletakkannya di atas meja.

“Selamat menikmati,” ujarnya, ramah, yang Reyna balas dengan anggukan terima kasih.

“Jadi kau sendirian saja?” laki-laki itu menyambung pertanyaan, tepat setelah sang pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.

Desisan kesal lantas terkuar dari katup bibirnya. Reyna memilih menyesap minumannya terlebih dulu, membiarkan laki-laki di sampingnya menunggu. “Kau bisa lihat sendiri, Tuan.”

Jawabannya malah membuat laki-laki itu terkekeh ringan. “Tuan? Kaupikir aku setua itu dengan penampilan seperti ini?” tanyanya, geli, dan pertanyaan itu membuat Reyna meliriknya perlahan. Mm, well, memang tak seharusnya juga Reyna memanggilnya ‘Tuan’. Karena penampilannya saja benar-benar mencerminkan seorang pemuda dengan kharisma yang begitu kuat menguar dari dalam dirinya. Rambut pendeknya yang berwarna hitam legam pun tak ayal mengganggu konsentrasi Reyna dalam sepersekian sekon. Cocok, menurutnya, dengan garis rahang yang begitu tegas serta ukiran senyum mengembang di bibirnya.

“Kau tak akan memanggilku ‘Tuan’ lagi setelah puas memerhatikan diriku, bukan?” Reyna mengerjap kaget, mengedipkan matanya cepat lalu meminum tehnya.

“Ya, kurasa.”

“Kurasa?” si laki-laki tampaknya masih memperlihatkan seraut wajah geli. Ucapan Reyna benar-benar menggemaskan, batinnya. “Oke, kalau begitu, perkenalkan, namaku Park Chanyeol.”

Reyna melirik lagi ke samping, pada sebelah tangan laki-laki bernama Park Chanyeol itu dengan pandangan malas. Ada dua detik mengisi keheningan, sebelum akhirnya Reyna membalas uluran tangan itu dan menyebutkan namanya, “Byun Reyna.”

“Wow, nama yang cantik. Secantik orangnya.” Chanyeol tersenyum sumringah, namun Reyna hanya menanggapinya dengan dengusan.

“Terserah apa katamu,” Reyna menarik tangannya. “Tapi kurasa―”

“Hei, setidaknya berbaik hatilah padaku, karena aku sedang bosan menunggu seseorang.” Dengan beraninya, Chanyeol menyela ucapan Reyna. Gadis itu tentu merasa terkejut bukan main. Karena, hei, bagaimana bisa laki-laki yang baru beberapa detik dikenalnya ini menyela ucapannya tanpa asa? O, Reyna jadi ingin merubah rencananya untuk membuang Baekhyun ke planet Mars. Ia ingin Baekhyun diganti dengan Chanyeol.

“Lalu?” Reyna berjengit kesal. “Haruskah aku menghiburmu? Atau memberimu sebuah lelucon?”

“Yah, tidak juga,” balas Chanyeol, mengangkat bahunya sekilas. “Menemaniku mengobrol saja sudah cukup, kok.”

“Tapi aku tidak mau,” Reyna berbicara ketus. Ah, peduli amat kalau Chanyeol merasa jengkel. Syukur-syukur ia kembali ke tempatnya semula dan membiarkan Reyna sendirian, menikmati istirahatnya.

“Wah, kejamnya.” Chanyeol berpura-pura bergidik ngeri. “Tapi, senang bertemu denganmu.”

“Kuharap seseorang yang kautunggu segera datang, supaya kau bisa cepat-cepat menjauh dariku.”

“O?”

Reyna membuang pandangan ke arah jendela. “Berhentilah berbicara.”

Bagai tak mengenal rasa lelah, Chanyeol malah terus merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tak penting, seperti: Apa kau sudah makan?; Apa kau tak menyukai minumanmu?; lalu … Apa sikapmu ini adalah bawaan dari lahir?

Nah, untuk pertanyaan terakhir itu, Reyna tanggapi dengan dengusan kesal serta sorot mata yang tajam. Kesan pertama yang didapat saat ia bertemu dengan Park Chanyeol adalah … amat buruk! Reyna tak menyukainya, demi apa pun!

“Berhentilah bertanya, Chanyeol. Aku tak suka!”

“Oke, aku minta maaf.” Chanyeol menyengir lebar di akhir kalimat. “Ini adalah kali pertama aku bertemu gadis sepertimu.”

“Ini juga adalah kali pertama aku bertemu laki-laki cerewet sepertimu!” ujar Reyna. Ia segera menandaskan minumannya, kemudian berdiri dan berjalan ke arah konter, hendak membayar. Sepeninggalnya, Chanyeol mendapati sebuah pesan singkat dari seseorang yang membuat mata bulatnya membelalak lebar. Sementara itu, setelah Reyna selesai membayar, ia mendapat satu panggilan dari Baekhyun, dan ia menerimanya. Alasannya karena ia ingin menghindari sosok Park Chanyeol yang mulai memanggil namanya.

“Ya?”

“Kau di kafe?” tanya Baekhyun, kaget. Namun lebih terdengar seperti pernyataan.

“Dari mana kau tahu?” Reyna balik bertanya, membuka pintu kafe dan mengabaikan seruan Park Chanyeol yang kini turut membayar minumannya.

“Katanya tidak mau kencan?” tanya Baekhyun, menggoda, dan Reyna berjengit kesal.

“Apa maksudmu?”

Terdengar helaan napas dari seberang telepon, dan Reyna menghentikan langkahnya. “Teman kencanmu itu Park Chanyeol, tahu!” Reyna terdiam, membeku. “Dan kau baru saja berkencan dengannya. Bagaimana? Dia orang yang mengasyikkan, bukan? Dia juga bisa membawamu ke suasana menyenangkan, bukan? Dia―”

“Reyna-ssi!” suara itu … suara yang dibenci oleh Byun Reyna. Gadis berpipi tirus itu lantas menoleh ke belakang, pada Chanyeol yang baru saja keluar dari pintu kafe. Menatapnya dalam diam, juga dengan senyuman mengembang. “Mana bisa kita berkencan dengan raut kesal milikmu itu?”

Ada satu hal yang sedang disesali Reyna saat ini. Mengapa ia tidak menanyakan nama sang teman kencannya terlebih dulu pada kakaknya itu? Andai Reyna mengetahui namanya, mungkin Reyna akan mencoba sebisa mungkin untuk menghindari Chanyeol tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.

O, itu suara Park Chanyeol, ya? Wah, aku tidak menyangka―”

 

“Diamlah! Tunggu aku, aku akan membunuhmu, Byun Baekhyun!”

Reyna memutuskan sambungan pembicaraan. Rungunya kembali disesaki dengan seruan Park Chanyeol di belakangnya, “Reyna-ssi, mau pergi ke suatu tempat? Aku akan menemanimu.” Ujarnya, yang dirasa suaranya semakin terdengar jelas, lantaran kini ia berdiri tepat beberapa jengkal darinya.

Tidak ada yang dapat Reyna lakukan selain mendesahkan napas panjang dan membalikkan tubuh ke arah Park Chanyeol. Laki-laki itu mempunyai postur tubuh tinggi menjulang, dan tinggi Reyna hanya sebatas dagunya saja.

“Apa maumu, huh?”

“Mauku?” sahut Chanyeol, berpura-pura berpikir. “Mm … mengenalmu lebih jauh, tidak apa, kan?”

Ya … ya, sepertinya tekad Reyna sudah bulat untuk menendang Chanyeol ke planet Mars. Ya, andai saja Chanyeol tidak memberinya cengiran lebar hingga turut melengkungkan sepasang matanya.

-oOo-

Hi, ChanRey is here~ x)

 Selamat ulangtahun gebetannya Reynaaaaa… yaaa doanya yang terbaik aja deh… oh, ya, semoga kalian berdua cepet jadian yaaa x) /ditendang/

Maapin ya kalo ffnya terkesan ga jelas xD

Makasih udah baca, dan makasih buat yang udah berkomentar♥

12 thoughts on “[Chanyeol Birthday Project] (Blind) Date ― ShanShoo

  1. Aih si Reyna yang muncul. Cie yang ngedate….
    Tumben si reyna jutek, biasanya lugu lugu gimana gitu, iya lugu. Saking lugunya pengen jitak kepalanya :v
    Ah pokoknya selamat ngedate lah. Hbd chan…
    Nice story kak ^^ keep writing and fighting!!

  2. Selamat ulang tahun my happy virus!! Maaf ya aku telat ucapinnya. Kamu dapet tiket liburan ke planet mars dari reyna, dan dapet seluruh cinta dan kasih sayang dari aku!! Kalau aty jadi reyna, aty gak akan pulang ke rumah kalau chanyeol gak nganterin aty😀😀😀

  3. Ya Luhan…. Demi mata bulat Kyungsoo. Si Reyna juteknya ga ketulungan. Untung Chanyeol itu orangnya baik. Aku aja rasanya pengen nendang Reynanya *digepak author*. Ga liat apa si Chanyeol itu perfect. Jarang2 kan pasti lu. Didatengin cowok ganteng yang tingginya overdosis.

    Aku suka walaupun penasaran kira2 akhirnya mereka akan berakhir seperti apa kkkkkk…. 😆😆

    • halo, enaknya manggil apa, ya? aku Isan, 97L btw😀
      wkwkwk kayanya Reyna mah juteknya bawaan dari lahir (kata Chanyeol aja begitu) xD
      eh jan digepak, nanti Reyna balas dendam loh /dibalang/
      wah, kalau aku yang kencan sama Chanyeol mah gak bakalan nolaaak. secara, fisiknya sama sikapnya udah sempurna gitu /eheheheh
      makasih ya udah komen ^^

  4. si baekhyun sukses buat adiknya ngedate sama si chan kekeke….itu si reyna jutek amat jadi cewek, manis dikit (kaya’ abang nya *lirik si byun 🙂 *) kek sama chanyeol :v btw, bagus kok walau singkat🙂 #happychanyeolday

    • waaaaaa ada Kak J di siniiii… duh, kuterharu ih Kak :””
      sifatnya Reyna berbanding terbalik sama abangnya xD
      kalau pacaran sama Baekhyun juga keknya kudu baik2 juga sama adiknya, biar direstuin(?) /lah xD
      makasih kak udah mampir dan komen ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s