[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Monstrous — Joongie

monstrous

M  O  N  S  T  R  O  U  S

Chanyeol x Baekhyun x Kai x Suho

Friendship, Hurt, Psychology | PG – 17Joongie © 2016

.

Sesuatu yang ditutupi dapat menjelma menjadi pisau bermata dua yang melukai setiap sisi. Salah seorang harus memutus, menarik atau membiasakan diri dengan kesakitannya. Apakah selamanya kau akan berpura-pura tidak tahu?

Now playing : EXO — HURT  ♫

Park Chanyeol duduk mendongak menatap langit. Teduhnya naungan pepohonan dan semilir angin yang membelai kulit seolah membawanya dalam ketenangan. Rasanya semakin sunyi, karena dibalut kesan sepi. Sekarang Chanyeol memejamkan mata. Tidak, ia tidak tidur, melainkan mengistirahatkan matanya yang berkantung itu barang sejenak.

“Beginikah cara pecundang menghabiskan waktu?”

Chanyeol tersentak mengenali suara yang menggema dalam gendang telinganya. Sepasang kelopak matanya terbuka. Ia baru akan mencari pemilik suara itu, ketika tiba-tiba saja ada yang datang ke hadapannya bagaikan embusan angin. Air muka Chanyeol langsung berubah suram mengetahui siapa yang kini balik memperhatikannya dengan membelakangi matahari. Sontak ia meneguk apa yang ada di mulutnya.

Dalam fajar biru gelap, suara dalam lamunanku terdengar, siapa yang mengetahuinya ♫

Kai. Laki-laki berkulit kecokelatan nan berperawakan kurus itu tersenyum dengan gigi yang terekspos lebar. Tapi, apa yang membuat Chanyeol meneguk ludahnya adalah memar kebiruan di sekujur tubuh dan noda darah di tepi bibir Kai. Silu rasanya.

“Siapa lagi kali ini?” tegas Chanyeol sembari mengamati Kai menghempaskan tubuhnya yang kelelahan pada bangku. “Ayahmu?”

Embusan angin sedikit menyibak surai Kai. “Menurutmu?”

Chanyeol tertegun. Ia sudah tahu persis akan jawabannya. Sekitar sebulan sudah semenjak dirinya dan Kai dirawat di rumah sakit ini, pun di ruangan yang sama. Namun, ia telah mengenal Kai jauh sebelum mereka menerima pengobatan bersama. Sejauh yang Chanyeol tahu, takdir yang menyedihkan telah menjebak dan memaksa Kai untuk tinggal. Ringkih tubuhnya, mengharuskannya menenggak banyak sekali obat demi mempertahankan hidup. Akan tetapi, satu hal yang tidak dapat dimengerti Chanyeol, atas dasar apa seorang Kai terus melarikan diri dari rumah sakit dan terlibat pertikaian dengan keluarganya? Lihatlah apa yang diperoleh pada akhirnya.

“Kau menyedihkan. Apa yang kau perjuangkan sia-sia,” kata Chanyeol prihatin.

“Bukankah kita ini sama?” Kai menyunggingkan senyuman dengan sedikit tolehan wajah ke samping. Sedari tadi ia hanya membalas pertanyaan Chanyeol dengan pertanyaan pula. Sebelum keheningan mengungkung mereka, Kai melebarkan kedua kakinya dan mulai bersuara. “Kau juga sama menyedihkannya, Park Chanyeol. Seperti anjing rumahan yang hanya mengikuti perintah tuannya. Apa yang kautakutkan di saat kau memiliki taring?”

Deg! Untuk sesaat Chanyeol sempat kehilangan detak jantungnya. Apa yang dikatakan Kai, bukanlah sesuatu yang bisa disanggahnya. Terlebih seringaian serta kedua iris kelam Kai terkesan mengintimidasi. Siluet wajah Kai dalam mata Chanyeol sedikit goyah. Ia gelisah, sebelum senyum hambar terbit dari bibirnya.

Hatiku putus asa ingin bernapas, aku luluh lantak karenamu dan ingin berteriak ♫

“Kau juga sama mirisnya, bukan? Anjing liar yang berlagak tangguh, padahal hanya mengandalkan gonggongan memekakkan.” Chanyeol menutupi gelaknya, kemudian melanjutkan, “Apa kau lupa? Biar bagaimanapun taringmu tidak akan pernah bisa disamakan dengan singa.”

Suara Chanyeol yang halus namun tegas membuat Kai lupa akan pakem berbahasa. Ia tidak berbicara untuk beberapa saat, hingga akhirnya membalas dengan suara bercampur helaan napas, “Kau benar. Aku memang anjing liar yang lupa siapa dirinya dan berteman dengan anjing rumahan yang telah dididik dengan baik oleh tuannya.”

“Aku tahu kau menyedihkan, tapi jangan terlalu menyedihkan jika di hadapanku. Kau juga harus tahu batasmu, Kai.” Meski tidak melotot, intonasi suara Chanyeol cukup menunjukkan kekesalannya.

“Aku terlalu sibuk untuk mencari tahu. Hidupku saja sudah merepotkan,” keluh Kai seraya memainkan jemarinya di udara. “Ayahku seorang bajingan dan ibuku adalah wanita gila yang haus materi. Lalu kakakku? Dia si brengsek yang menjadikanku samsak hidup. Dan sialnya lagi, aku malah terjebak di sini bersamamu.”

“Aku tidak tahu apa lagi yang mungkin akan terjadi padaku.” Kai tertawa hampa, sementara pandangannya menerawang kosong.

“Itu sebabnya hidup dikatakan penuh rahasia,” tambah Chanyeol kala mengamati sehelai daun yang melayang ke pangkuannya. “Dan setiap kehidupan di dunia ini selalu menuju kematian. Itu jadi misteri, sama seperti malam yang menyembunyikan bintang tak terhingga.”

Malam tak ubahnya seperti sungai, hidup dengan banyak rahasia ♫

Keduanya serentak membisu, sibuk bersama pikiran masing-masing. Apa yang dimuntahkan Chanyeol barusan memang benar. Kehidupan adalah misteri tak berujung. Bahkan prediksi seorang peramal kenamaan pun tak selalu menjadi kenyataan. Lantaran malam menyembunyikan banyak hal dalam gelap, sedangkan siang mengelabui dengan fana dalam terang. Serta remangnya cahaya rembulan bisa menyesatkan. Lantas mana yang bisa dipercaya?

“Pernahkah kau berpikir untuk menghilang seperti asap, Chanyeol?” tanya Kai yang sekilas melirik Chanyeol dengan tatapan penuh makna.

Baru akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Kai, ujung mata Chanyeol terlanjur mendapati Baekhyun dan Suho yang tengah mengawasinya dari kejauhan. Ia tidak bisa tenang. Perasaannya kalang kabut. Ada ketakutan yang kental di wajahnya.

“Cukup sampai di sini, Kai. Aku tidak bisa meladenimu lagi, atau mereka akan menaikkan dosis obatku,” ujar Chanyeol tanpa sudi bertemu tatap dengan wajah lawan bicaranya.

Menyadari ada yang tak beres, Kai kontan memutar kepalanya dan berdecih. Perasaan dongkol lambat laun mengambil alih dirinya. Kai berdiri dari duduknya dengan menunjuk geram ke arah dua orang yang melemahkan nyali seorang Chanyeol.

“Lalu, apa kau akan mengabaikanku lagi?” bentak Kai. Demi Tuhan, ia sudah muak sampai ke ubun-ubun. “Apa kau lupa? Baekhyun adalah orang yang membuatmu terperangkap di sini. Dia yang memperlakukanmu seperti anjing rumah!”

Di mataku, aku melihat bayangan transparan kau dan aku ♫

Sia-sia, bentakan itu bahkan tak ditelan oleh Chanyeol. Laki-laki itu membatu, bersikeras mengabaikan keberadaan Kai, dan dengan sekuat tenaga menahan perubahan mimik wajahnya. Jelas saja hal itu kian membakar amarah Kai hingga berteriak menyumpahi Baekhyun. Sampai pada satu titik ia kelelahan, lalu mendekati Chanyeol.

Kai meremas pundak Chanyeol dan berbisik, “Ingat apa yang telah disebabkan bajingan itu? Habisi dia, maka kau bisa mengakhiri semua ini. Kau bisa menggunakan pisau yang kausembunyikan di balik kloset selama ini, kan?”

Sesuatu dalam manik Chanyeol berpijar nan wajahnya berubah garang.

“Diam! Berhenti mengatakan hal buruk tentang Baekhyun!” Chanyeol bangkit, mendorong tubuh Kai dengan kasar, lantas menekan kuat telinganya menggunakan kedua tangan. “Apa pun yang kaukatakan, aku tidak peduli. Selamanya hidupku akan bergantung pada Baekhyun, karena … kau itu tidak nyata, Kai!”

Maukah kau menanggalkan cadar yang menutupimu? Tidak bisakah kau membiarkanku hidup? ♫

 

—Monstrous

“Lepaskan aku! Kau tidak dengar, brengsek?!” maki Chanyeol yang terus meronta dalam apitan dua pria berbadan besar yang menyeretnya.

Baekhyun yang melihatnya merasa tak bisa tinggal diam. Namun, Suho lebih dulu menahan bahunya. Mengurungkan niatnya agar tak menghampiri Chanyeol yang sedang ‘kumat’. “Tidak, Baekhyun. Untuk saat ini sebaiknya kaubiarkan para perawat yang menangani Chanyeol,” sarannya sambil menuntun Baekhyun kembali duduk. “Tenanglah, mereka hanya akan menyuntikkan klorpromazin untuk menenangkannya.”

“Tapi ….”

Titik fokus Baekhyun jatuh kepada Chanyeol lagi, sebelum beralih pandangan ke arah Suho dan mendesah. Ia menuruti Suho yang berperan penuh sebagai dokter di sini. Akan tetapi, Baekhyun juga tak sampai hati melihat Chanyeol diperlakukan seperti tawanan. Setidaknya jangan sekasar itu.

“Aku tidak menyangka kalau Chanyeol akan kumat dan sosok Kai kembali.”

“Kekambuhan bukannya tidak mungkin jika pasien lalai dalam pengobatan. Yah, karena sudah begini kita harus memulainya dari awal lagi dengan terapi kejut listrik yang lebih tinggi dan obat yang baru,” jelas Suho sembari menjejalkan tangannya ke saku jas.

Kenyataanya, Chanyeol mengidap skizofrenia dan halusinasinya mengenai sosok Kai muncul sejak bangku SMA. Hal itu acap kali membuatnya kehilangan pegangan pada kenyataan, sehingga sulit membedakan antara apa yang nyata dengan apa yang hanya ada di pikirannya. Awal mula dari semua ini adalah masa kecil yang kelam. Baekhyun-lah yang pertama kali menyadarinya.

Baekhyun dan Chanyeol bersahabat sejak kecil. Chanyeol tumbuh dalam keluarga yang sengsara. Ayahnya seorang pengrajin arang yang gemar berjudi nan ringan tangan. Sedangkan ibunya adalah wanita penjaja cinta yang justru tak memiliki cinta untuk putranya sendiri. Sementara Baekhyun hampir sama malangnya, dia dibesarkan di panti asuhan dan menjadi saksi hidup atas kekerasan yang diterima Chanyeol.

Nahasnya, kedua orangtua Chanyeol tewas dalam insiden keracunan gas karbon monoksida dari asap pembakaran arang ayahnya. Hanya Chanyeol satu-satunya korban yang berhasil selamat dan itu semua berkat Baekhyun. Desas-desus menyebar, bahwa insiden itu adalah sabotase yang berarti pembunuhan terencana. Tetapi, kasus itu mendingin dengan sendirinya dan polisi tak mengusutnya sampai tuntas. Lagi pula, keuntungan apa yang bisa didapatkan dari keluarga miskin?

Sejak saat itu Chanyeol jadi penyendiri. Hanya mau menerima keberadaan Baekhyun sebelum munculnya sosok Kai. Perilaku menyendiri penderita skizofrenia merupakan cerminan keinginan untuk menghindari berbagai penolakan yang dialami pada masa anak-anak yang dianggap tidak dapat dihindari. Sedangkan Kai merupakan refleksi dari diri Chanyeol sendiri. Mula dari penuturannya diketahui bila Kai memiliki latar belakang yang hampir sama seperti Chanyeol, yakni tumbuh dalam keluarga yang berantakan dan menerima kekerasan sejak kecil.

“Jadi, kapan kau akan menyelesaikan pendidikanmu dan bergabung denganku di sini?” tanya Suho memecah kebekuan.

Baekhyun tersenyum hambar. “Segera. Setelah aku bisa melonggarkan pengawasanku pada Chanyeol,” jawabnya ringan.

“Jujur saja, aku bingung. Kalau kau memiliki latar belakang psikiatri, lantas kenapa kau tidak merawat Chanyeol di rumah? Apa kau tidak iba melihatnya terkurung di sini?” Suho menggaruk pelipisnya dengan jari.

“Sudah jelas karena aku merasa lingkungan ini lebih baik untuk Chanyeol. Kau tidak tahu kejamnya dunia luar, kan?” Baekhyun tersenyum jijik. “Mereka tidak akan pernah bisa menerima keberadaan orang-orang seperti Chanyeol dan cenderung skeptis pada kondisinya. Dalam diri Chanyeol hanya ada hal minus dan aku tidak tahan dengan pandangan mata mereka yang menghakimi Chanyeol. Aku bersumpah akan menyembuhkannya dengan cara apa pun.”

Suho termangu mendengar jawaban Baekhyun, memandangnya dengan wajah simpati. Sejenak kemudian dengan ragu ia bertanya, “Sebenarnya apa yang membuatmu sampai seperti ini pada Chanyeol?”

“Karena aku menyayanginya.”

“Sayang?” ulang Suho tak percaya.

Baekhyun tertawa kecil menangkap kedua alis Suho yang terangkat tinggi. Ia menggoyang-goyangkan tangan, lalu meluruskan, “Jangan salah paham dulu. Bukan ‘sayang’ sebagai kekasih, tapi lebih seperti tanggung jawab seorang kakak.”

Hening. Sementara Baekhyun memberikan waktu pada Suho untuk melepaskan napasnya yang tertahan, ia melanjutkan, “Yah, kau tahu? Perasaan seperti ingin menjamin hidupnya, memastikan senyumnya dan menyelamatkannya dari neraka kesepian.”

Karena akulah yang membuatnya terpaksa hidup sebatang kara …

“Sebagai dokter, aku tidak punya sesuatu yang lain untuk dikatakan, selain kau harus bersabar lebih banyak untuk membuat Chanyeol terbangun dari mimpinya,” ujar Suho dengan menepuk bahu Baekhyun selayang, menegarkannya.

“Terima kasih, Dok,” balas Baekhyun dengan nada bercanda.

—Monstrous

Baekhyun merapatkan pintu kamar inap Chanyeol dengan hati-hati. Dilihatnya Chanyeol duduk termenung di ujung ranjang, juga tak menyadari keberadaannya. Perasaan hancur merayapi batinnya, mendampingi langkahnya mendekat, lalu menyentuh pundak Chanyeol.

“Chanyeol, ini aku,” lembut tutur Baekhyun melirih.

“Baek … Hyun?”

Chanyeol menengadah. Susah payah ia melafalkan nama itu. Sebab obat-obatan yang diberikan padanya seharian kemarin membuat respon motoriknya melambat. Baekhyun menghargai hal itu, termasuk usaha Chanyeol yang menorehkan senyuman. Ia mengapresiasinya dengan belaian lembut di kepala Chanyeol.

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Aku sudah lebih ba—” tiba-tiba Chanyeol terbatuk keras. Ia memegangi kepalanya yang terasa berputar hebat. Ah sial, efek obatnya masih terlalu kuat.

“Kau baik-baik saja?”

Chanyeol mengangguk cepat. Ia menolak ketika Baekhyun menawarkan diri untuk membantunya berbaring. Di sisi lain hati Baekhyun semakin terasa nyeri akan keadaan Chanyeol. Badannya sekilas memang berisi, tapi faktanya itu hanyalah efek samping dari klozapin yang dikonsumsinya. Sedangkan wajahnya? Persis seperti mayat hidup.

“Lihat aku,” pinta Baekhyun seraya berlutut di hadapan Chanyeol. “Aku ini nyata dan keberadaanku diakui semua orang. Kai itu tidak nyata dan dia hanya hidup dalam pikiranmu.”

Chanyeol bergeming.

“Jawab aku. Berapa usia Kai sekarang?”

“Sembilan belas ….”

Baekhyun mengurut keningnya. Emosinya sedikit membuncah serta suaranya meninggi, “Kau juga menjawab hal yang sama sembilan tahun lalu! Saat kau bilang mempunyai teman baru bernama Kai dan berjanji akan mengenalkannya padaku. Tapi nyatanya kau hanya menari dan tertawa sendirian di lapangan.”

“Kumohon sadarlah,” tambahnya dengan lebih parau.

“Tapi … tapi, Kai ….” Pandangan mata Chanyeol kembali liar. Berlari-lari ke sudut ruangan, di mana sosok Kai terus muncul berapa kali pun ia menghindarinya.

Lelah seketika mendera sekujur tubuh Baekhyun. Matanya mulai kemerahan. Sedang tangannya menggenggam erat kuasa Chanyeol. “Maaf, maafkan aku. Kalau bukan karenaku, pasti tidak akan begini. Ini semua salahku,” akunya berurai air mata.

“Maafkan aku, Chanyeol.”

Sungai duka mengalir di pipi Chanyeol kala memperhatikan Baekhyun tengah berlutut dengan bahu yang berguncang keras. Motoriknya mungkin memang terbatas, tapi hatinya masih berfungsi dengan baik. Perlahan Chanyeol menaikkan tangannya, mengusap puncak kepala Baekhyun maka tersenyum getir. “Tidak apa-apa. Aku tahu segalanya, Baekhyun. Aku tahu,” katanya tegar, “Aku hanya ingin kau bersamaku selamanya. Asalkan ada dirimu, semuanya akan baik-baik saja.”

Kau tahu? Tidak setiap kebenaran harus diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, kau hanya perlu memahami dan menerimanya. Sebab akan selalu ada waktu di mana beberapa hal lebih baik berakhir menjadi ‘rahasia’.

Meskipun itu menyakitkan ….

END

Dear Mamas Tiang yang bibirnya minta dinistai, SELAMAT HARI LAHIR :V

Semoga semakin, semakin, semakin, baik hati, rajin menabung, sehat, kaya, sholeh, bijaksana dan berprestasi. Makin disayang fans ya, inget ngga boleh sombong kata Emak di rumah. Dan ditunggu bingkisannya di rumah :’v

2 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Monstrous — Joongie

  1. Crying haaarrdddd😭😭😭😭
    Ah gatau mau ngomong apa… nyes banget thor ffnya aku ga kuat ;_;
    Hatiku rapuh ;__;
    Semangat terus thor bikin ff bagus kayagini!! Semangat!! Good job! Lanjutkaaan😆😆😆😆😉

    • Hai, salam kenal😀
      So sorry for very very very late reply ya huwhuw…
      Iyaaaaah emang ngaduk perasaan pisan ini mah karena Chan tahu apa yang diperbuat Baek tapi diem aja dan nanggung semuanya sedangkan Baek ngelakuin semuanya demi Chan T.T

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s