[Chanyeol’s Birthday Project] Roses for Rose -Twelveblossom

186f38510c3535f1b2d52ba51d9c96cf

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Fluff, Romance & Friendship | Ficlet | General | Line@: @NYC8880L

Rasanya aku menyukaimu, Park Chanyeol. Lalu, bagaimana perasaanmu padaku? —Rose

-oOo-

Park Chanyeol, pemuda berusia delapan belas tahun yang sedang jatuh cinta. Ia mengenakan pakaian terbaiknya. Chanyeol berkali-kali membubuhkan parfum pada tubuhnya. Ia berharap dengan semua itu dapat tampil secara maksimal.

Hari Minggu tepat pukul empat sore, Chanyeol berdiri di depan seorang gadis. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Chanyeol tersenyum lebar, menikmati kegugupan gadis di hadapannya.

Gadis itu sedang menggenggam lima tangkai bunga mawar yang memiliki warna berbeda-berbeda di tangan kanan. Ada warna hitam, peach, merah muda, putih, dan kuning. Kakinya menendang pelan kerikil taman. Ucapan yang ia latih untuk Chanyeol, luntur terbawa angin musim gugur. Nampaknya, gadis itu ingin kabur sesegera mungkin. Ia menyesal meminta Chanyeol untuk menemuinya hari ini. Tetapi, jika ia menunda-nunda pasti akan ada penyesalan yang lebih besar.

Setelah meyakinkan dirinya, gadis itu menatap Chanyeol.

Oh, tatapan pupil cokelat yang sekarang menghujani Chanyeol, membuat pemuda itu mengatupkan cengiran. Chanyeol terpesona. Bukan kali ini saja. Hal tersebut dimulai saat pertemuan mereka di kelas, pada tahun ajaran baru. Sejak itu pula Chanyeol terjerat dalam pesona si mata coklat.

“Jadi, Rose Kim. Kau memintaku datang kemari hanya agar bisa melihatmu menunduk sepanjang hari?” tanya Chanyeol, ia enggan lupa untuk menyelipkan senyum manis di akhir ucapannya.

Rose tampak membuka mulut—akan menjawab, tetapi tidak ada kalimat yang terucap.

Rose kembali bergeming.

Melihat tingkah Rose, Chanyeol menyahut.“Tidak perlu gugup. Kita masih bersahabat, santai saja.”

Rose melotot mendengar ucapan Chanyeol. Bagaimana Rose bisa santai kalau tiga hari lalu dengan tololnya, Rose mengatakan kalau ia jatuh cinta pada Chanyeol?

Well, itu bukan hal yang diduga. Maksudnya, secara tidak sengaja Chanyeol menemukan lukisan tentang pemuda itu di kamar Rose. Di belakang kanvas lukisan terdapat sebait kalimat cinta untuk sahabatnya—Park Chanyeol. Rose sudah tahu-menahu kalau perasaanya tidak akan terbalas karena Chanyeol sudah memiliki kekasih. Kekasih Chanyeol—Soojung, si gadis baik dan cantik.

Jadi, Rose merasa bahwa dirinya hanya itik buruk rupa apabila dibandingkan dengan Soojung. Begitu.

Huh.

Pikiran-pikiran negatif itu sebenarnya tak perlu menghinggapi benak Rose Kim. Gadis itu tidak kalah cantik jika disandingkan bersama Soojung. Menyamai namanya rose yang berarti mawar. Kulitnya semenawan mawar putih, Rose juga wangi karena rajin mandi, dan rambut cokelat panjang tergerai sepunggung. Hanya saja, Rose merasa malu setengah mati pada Soojung. Kebaikan Soojung, malah dibalas dengan rasa suka Rose pada Chanyeol. Rose tidak tahu bagaimana hubungan percintaan Chanyeol. Namun, Rose panik kalau-kalau ikatan mereka retak karena dirinya.

Tujuan Rose kali ini untuk menjelaskan bahwa, kalimat cinta dan lukisan itu hanya main-main. Rose memang tidak cakap dalam berbohong, akan tetapi harapannya selalu membumbung agar Chanyeol percaya.  Sebelum ia menjelaskan, Chanyeol malah membungkamnya. Ia memberikan si gadis lima tangkai bunga mawar.

“Park Chanyeol, mawar ini untuk apa?” kalimat tanya, menjadi pemangkas keheningan Rose.

Chanyeol terbatuk kecil, ia agak kaget Rose bertanya. Pemuda itu mengira bahwa mereka hanya akan berdiam diri, berjuta-juta tahun lagi. “Mawar itu untuk menjawab lukisanmu.”

Rose menggaruk tengkuk. Kebiasaan saat ia gugup. “Kau tidak usah memikirkannya itu hanya—”

“—Hanya apa? Hanya ungkapan main-main? Ayolah, kau ini tidak pandai berbohong,” potong Chanyeol.

Chanyeol bisa menebak, walaupun dirinya bukan cenayang. Kendati demikian, dia tidak perlu menjadi peramal untuk membaca pikiran gadis itu.

“Tapi, aku—maksudku—Soojung—kalian tidak,” ucap Rose terpatah-patah. Ia ingin berdusta. Tetapi, argumen palsu yang berada di ujung lidahnya itu membuat hatinya terasa aneh. Ada rasa sakit mencubit. Rose rasa ia sudah tidak mampu lagi berdusta dan berpura-pura. Menyembunyikan rasa cintanya pada Chanyeol, begitu menyesakkan. Apalagi, mengatakan Rose akan baik-baik saja apabila Chanyeol enggan menggubris kalimat cintanya.

Kegetiran di raut Rose membuat pemuda itu menghembuskan nafas keras-keras. Tangan besar Chanyeol menarik jemari Rose. Membuat tubuh Rose mendekat ke arah Chanyeol. Pemuda itu tidak suka ada jarak di antara mereka. “Soojung yang memilihkan mawar-mawar itu untukmu,” ucap Chanyeol.

“Untukku?” ulang Rose, matanya membola.

“Kata Soojung, itu sebagai ucapan terima kasih sebab kau selalu membantuku memilihkan mawar untuknya,” jawab Chanyeol.

Pemuda itu memang kerap sekali mengajak Rose membeli mawar untuk Soojung. Beralasan kalau ia tidak ahli dalam memilih hadiah. Bisa ditebak, setiap tangkai mawar yang Rose pilih—sejumlah itu pula hati Rose patah.

“Soojung tak perlu melakukannya. Aku tidak layak menerima semua mawar ini,” bantah Rose. Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol.

Rose mengembalikan lima tangkai mawar pemberian Chanyeol, tanda jika ia benar-benar menolak. Pemuda itu menerima mawar yang disodorkan Rose. Lantaran memberengut karena pemberiannya diabaikan, Chanyeol malah tersenyum. “Kau selalu menyimpulkan sendiri. Tidak pernah menanyakan terlebih dahulu,” ujar Chanyeol.

Pemuda itu melanjutkan ucapannya, “Terserah kau butuh jawabanku atau tidak. Aku akan tetap menjawabnya. Kalau tidak, Soojung akan membunuhku. Aku tidak mau mati muda.”

Chanyeol menyerahkan mawar hitam pada Rose—tidak peduli penolakan Rose. “Mawar ini cocok kalau kau tanya bagaimana perasaanku saat, pertengkaran kita di musim semi tahun lalu.”

Telapak tangan Rose dibuka Chanyeol. Dipaksa untuk menerima setangkai mawar hitam. Rose kembali teringat pertengkarannya dengan Chanyeol, tahun lalu di musim semi. Hari itu tepat ulang tahun Rose, namun Chanyeol tidak menepati janji datang ke rumahnya. Sebenarnya, Rose tak bermaksud marah marah dan ia justru memaklumi kalau Chanyeol sibuk. Tapi ternyata, Chanyeol malah sibuk berkencan dengan gadis-gadis yang entah siapa. Logika dikalahkan perasaan. Rose marah akibat cemburu. Ia mendiamkan Chanyeol berhari-hari.

Chanyeol kembali menyelipkan setangkai mawar ke tangan Rose, kali ini bewarna peach. “Itu jawabanku jika pertanyaanmu, kau ajukan pada musim panas tahun lalu. Aku menganggapmu teman yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.”

Rose mengangguk paham. Selamanya Chanyeol tidak akan melihatnya sebagai seorang gadis. Rose hanya teman. Well, teman yang selalu retak hatinya ketika Chanyeol bercerita soal kekasih barunya.

Chanyeol mengusap lembut pipi Rose, “Jangan berpikiran macam-macam, dengarkan sampai selesai. Baru mengambil kesimpulan.”

Rose diam sebagai jawaban. Gadis itu terlalu sibuk, menenangkan hati agar tidak melompat kegirangan. Sentuhan Chanyeol selalu membuat hati dan jantungnya seakan memaksa untuk berlari.

“Mawar putih sepadan untuk menggambarkan perasaanku pada musim gugur hingga musim dingin tahun lalu, Rose.” Chanyeol berkata sembari membagikan mawar putih kepada Rose.

Rose mencium aroma mawar putih pemberian Chanyeol. Gadis itu menyukai mawar putih. Mawar putih memiliki arti persahabatan sejati. Rose mengerti itu. Apa Chanyeol berusaha menegaskan posisi Rose?

“Aku mengerti Chan— ” ucapan Rose terpotong.

“Aku tahu. Rose Kim selalu mengerti Park Chanyeol. Seorang Rose yang selalu pengertian, membuatku tak bisa berhenti mengucapkan terima kasih kepadamu. Itu perasaanku untukmu di musim semi tahun ini,” kata Chanyeol lalu meletakkan mawar merah muda di pangkuan Rose. Tidak lupa Chanyeol meraih tangan Rose yang menganggur kemudian menggenggamnya. “Terima kasih dan memuja,”  gumam Chanyeol tentang arti mawar merah muda.

“Chanyeol, aku tahu kau menolakku. Jangan buang waktumu. Tak perlu merasa terbebani karena tidak dapat membalas perasaanku,” ungkap Rose. Kecanggungannya mulai menguap. Gadis itu menemukan suaranya kembali setelah merasakan kehangatan genggaman jemari Chanyeol padanya.

“Dasar tidak sabaran,” ejek Chanyeol. Pemuda itu melanjutkan, “Mawar kuning ini melukiskan perasaanku untukmu pada saat musim panas tahun ini. Saat aku memergokimu  berkencan dan berciuman dengan Kai.”

Mawar kuning mendefinisikan kecemburuan dan kebencian. Jadi, Chanyeol membenciku karena mengencanu Kai?  batin Rose.

Bulu mata Rose bergerak, diikuti ke dua alisnya yang bertemu. Gadis itu berbisik, “Oh, yang waktu itu.” Masih bercokol diingatan, kencan pertamanya bersama Kai—teman Chanyeol di klub basket. Kencan pertama itu juga mencuri ciuman pertama Rose.

Chanyeol menyisir surai. Tiba-tiba saja ia, merasa panik dan berkeringat, “Melihat kalian berciuman, membuatku sadar kalau—aku menyukaimu—maksudku aku dulu memang menyukaimu—sebagai teman—tapi rasanya beda, kau taukan rasa suka seperti laki-laki pada perempuan.” Kalimat Chanyeol berantakan.

Rose mengangguk-anggukkan kepala. “Biar aku luruskan. Jadi, kau membenciku karena berkencan dengan Kai dan menyukaiku sebagai teman, begitu?” tanya Rose.

“Bukan!” Seru Chanyeol lantang. “Aku menyukaimu—seperti kau mengira aku menyukai Soojung.”

Seruan Chanyeol membuat Rose mengerutkan alis. “Mengira?”

“Aku seharusnya membawa enam tangkai mawar untukmu. Tapi, satu tangkai yang lain tertinggal di pekarangan rumah Soojung.” Chanyeol bergumam pelan. Kalimat yang diutarakannya keluar dari topik.

Rose tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka. Apa mungkin, Chanyeol juga tersesat oleh kalimatnya sendiri?

“Chanyeol, aku rasa—“

“—Mawar yang tertinggal bewarna merah.” Chanyeol memotong perkataan Rose, lalu melanjutkan ucapannya, “Mawar merah menyerupai perasaanku padamu untuk musim gugur tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Aku menyukaimu—maksudku aku mencintaimu, Rose,” lontar pemuda itu gamblang.

Rose kehilangan pembendaharaan katanya untuk membalas Chanyeol. Tiba-tiba dipikirannya terputar beberapa film yang dibintangi Soojung. Oh, Chanyeol mempermainkan gadis-gadis lagi. Bagaimana bisa Chanyeol mencintai orang lain, ketia si pemuda telah memiliki kekasih?

Rose menepuk pipinya. Bukan Chanyeol saja yang patut dihakimi. Rose sendiri merasa sangat bersalah, sebab telah menyukai bahkan mencintai kekasih orang lain. Seseorang seperti Soojung yang sangat baik kepada dirinya.

Raut tidak suka Rose terpampang jelas, membuat Chanyeol salah tingkah. “Apa yang kau pikirkan Rose? Aku baru saja berkata jika aku menyukaimu. Jawaban dari lukisanmu itu—persaanku kepadamu—aku—”

“—Apa kau gila?”

“Kata mereka, aku idiot bukan gila,” jawab Chanyeol mencoba melucu.

Rose menyilangkan tangannya di depan dada. Menatap Chanyeol marah, hidungnya mengembang dan pipinya menggembung. “Aku sedang tidak ingin bercanda Park Chanyeol. Kau tidak boleh menyukaiku,” tegas Rose.

Raut Chanyeol pucat, wajahnya berubah sendu. “Memanngnya, kenapa aku tidak boleh menyukaimu? Apa kau sudah berpacaran dengan Kai?”

“Kau kan kekasih Soojung!” bentak Rose dengan suara serak.

Chanyeol mengatupkan mulutnya. Pemuda itu menepuk dahinya, seakan-akan ia tengah melupakan sesuatu.

Astaga, apa Chanyeol lupa kalau dia tengah berpacaran dengan Soojung? tanya Rose di dalam hati.

“Ah, Chanyeol sakit,” rengek Rose. Kedua pipi gadis itu dicubit oleh Chanyeol.

Pemuda itu menghamburkan tawa. “Aku lupa kalau kau gemar membuat kesimpulan sendiri. Aku dan Soojung tidak pernah menjalin hubungan. Yeah, Soojung gadis impian kebanyakan teman-temanku, tapi dia tidak sesuai seleraku,” kata Chanyeol, sok sekali.

Rose mengernyitkan alis. “Tapi kau suka sekali membelikan Soojung bunga mawar dan kalian sering meminum jus apel bersama.”

Chanyeol memutar bola matanya, “Ayolah, Rose kau sudah berusia delapan belas tahun dan masih saja naif. Aku juga sering memberikan mawar pada ibuku. Hm satu lagi, aku juga sering minum jus apel bersama kakek. Apa itu berarti aku berpacaran dengan mereka?”

Rose nampak mencerna ucapan Chanyeol. “Iya, benar juga,” kata Rose setuju. Gadis itu tertawa, menyadari kebodohannya. “Kau tidak mungkin berpacara dengan ibu dan kakekmu.”

Chanyeol menghembuskan nafas berat, “Gadis ini benar-benar.”

“Aku lega kau tidak berpacaran dengan Soojung—eum, aku akan sangat bersalah kalau—”

Perkataan Rose terhenti saat jemarinya digenggam pemuda itu dengan erat—hari ini Chanyeol benar-benar hobi menyentuh Rose. Air muka Chanyeol berubah serius. Ia menatap dalam-dalam Rose yang beraut lugu. “Bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” Rose menjawab pertanyaan Chanyeol dengan pertanyaan.

“Jawabanmu,” pemuda itu mendengus.

“Sejauh ini kau tidak memberiku pertanyaan,” kata Rose sembari mengusap hidungnya.

Chanyeol mengerjapkan mata, benar sedari tadi ia hanya memberikan penjelasan panjang. Pertanyaan yang sudah melekat di pikiran Chanyeol berhari-hari lalu, belum ia utarakan. “Oh ya, aku memang belum bertanya. Rose, apa kau bersedia menerima mawar merah dariku setiap hari? Maksudku, apa kau mau jadi kekasihku?”

Hati Rose meledak. Okay, bukan meledak dalam arti sebenarnya, namun dalam kiasan. Tentu saja, Park Chanyeol itu tawaran yang menarik. Mana mungkin aku bisa menolak? pikir gadis itu.

Rose sudah akan menjawab pertanyaan Chanyeol, tetapi pemuda itu mengisyaratan untuk menunggu. Rose mengamati Chanyeol yang tengah merogoh saku—mencari sesuatu. Mata Chanyeol berbinar saat ia menemukan ponselnya. Ia mengotak-atik sebentar, sampai beberapa menit pemuda itu menunjukkan layar ponsel kepada Rose.

Rose dapat melihat gambar kebun bunga mawar yang ditampilkan layar ponsel.

Apa maksud Chanyeol?

Yeah, ini sebagai ganti mawar merah untukmu yang tertinggal. Anggap saja, ini setangkai mawar merah nyata.” Chanyeol membimbing tangan Rose agar gadis itu bersedia menerima ponsel-mawar-merah darinya.

Rose terkekeh. “Apa ponsel ini untukku?” Goda gadis itu.

“Rose kau tahukan. Aku perlu berdiet selama satu bulan penuh untuk membeli ponsel itu. Mungkin, bulan depan setelah aku berdiet kembali dan membeli ponsel baru, ponsel ini boleh kau ambil.” Wajah Chanyeol berubah muram.

Rose mengembalikan ponsel-mawar-merah kepada Chanyeol. “Kalau begitu aku tidak bisa menerimanya,” ucap Rose lembut.

Raut Chanyeol semakin suram. “Kau menolakku?”

Rose menghamburkan tawa melihat ekspresi Chanyeol. Pemuda itu membelalakkan mata. Mulutnya terbuka sedikit. Telinganya yang besar, tampak bergerak-gerak.

Gadis itu berjinjit, menyamai tingginya dengan Chanyeol.

Dengan sangat tiba-tiba.

Rose mengecup pipi Chanyeol.

“Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan mawar merah gratis setiap hari.

Cengiran lebar Chanyeol mencuat ke permukaan, menangkap ucapan sahabatnya—oh bukan, sekarang Rose sudah menjadi kekasihnya!

Chanyeol memeluk Rose dengan riang. Udara musim gugur yang lumayan dingin, terasa berganti dengan hangatnya udara musim panas. Aroma mawar yang menguar, menambah kenyamanan pelukan mereka.

Rose bertambah hangat.

Rose bertambah wangi.

Di pelukan Chanyeol.

Atau mungkin itu cuma perasaan Chanyeol saja?

“Lain kali, aku akan benar-benar memangkas habis mawar di pekarangan Soojung, lalu memberikannya padamu. Kau tahu, sayang. Pekarangan Soojung itu kebun mawar!”

“Hmm, boleh.”

-oOo-

a/n: Gombalan di FF ini receh banget huhuhu maafkan. Yang penting, selamat ulang tahun Park Chanyeol~ semoga panjang umur dan bahagia. Tolong, jagain Kyungsoo sama Sehun ya hahaha.

Oh ya, kalian juga bisa baca FF Chanyeol dan teman-temannya di twelveblossom.wordpress.com

Terima kasih sudah membaca^^.

20 thoughts on “[Chanyeol’s Birthday Project] Roses for Rose -Twelveblossom

  1. kata-katanya huhuhu keren banget~~~ Rose ama chanyeol sama naif ya, mereka cocok jadi pasangan, abis sama2 saling melengkapi sih, hahaha
    seneng banget bacanya, diksi dan alur ceritanya yg manis dibawain dengan bagus … (AAAAA so sweet) Dan akibatnya aku yg jomblo ini jadi baper! #waks
    Author … mangat terus buat ff-nya ya ^^

    Btw, selamat ultah chanyeol >♥< moga2 elu bisa makin ganteng, sukses, dan selalu sehat! ♡♡

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s