[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Moon Chaser (Oneshot) – Shaekiran

PicsArt_11-22-11.49.04.png

Moon Chaser

A Fanfiction by Shaekiran

Dedicated for Park Chanyeol’s Birthday

[ EXO’s Chanyeol & Sehun, OC’s Jung Wol

Friendship, AU, Sad (?), Angst (?), Romance (?)

PG-15 | Oneshot ]

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

 

“Aku adalah pengejar bulan,

dan selamanya akan tetap seperti itu.”

 

Angin sore menerpa rambutku perlahan, seperti yang seharusnya mengingat sekarang masih bulan November- musim gugur. Hembusan itu membelaiku perlahan, menciptakan kenikmatan tersendiri sambil memandang lembayung jingga yang kini menghampar di atas sana. Sore itu nampak indah, lebih sempurna lagi ditambah hadirnya dia di sebelahku. Dia yang kini tersenyum sumringah sambil menarik tanganku berlari-lari kecil sambil menunjuk-nunjuk langit kemerahan di atas sana.

 

“Yeol-ah, lihatlah. Mereka benar-benar indah.”, teriaknya heboh sambil menunjuk burung gereja yang terbang bergerombol di langit. Dia tertawa riang, membuatku tak sanggup untuk sekedar mengulum senyum dan ikut tertawa lepas.

 

“Kau benar, mereka indah dan akan selalu indah.”, jawabku kemudian, membuat gadis di sebelahku yang masih heboh ini mengangguk-angguk setuju dengan ekspresi yang tak bisa ku jelaskan. Bagiku, hanya wajahnyalah yang bisa menunjukkan ekspresi sebahagia ini. Raut yang akan selalu terbayang di otakku dengan sempurna.

 

Namanya Ahn Jung Wol. Sungguh, jangan tertawa saat mendengar namanya ataupun mengira kalau sang empunya gelar adalah seorang lelaki. Kalian salah besar, karena Ahn Jung Wol adalah seorang gadis cantik jelita berambut hitam legam sepunggung yang selalu dikuncir kuda, lengkap dengan mata belo besar yang tidak seperti kebanyakan mata orang Korea meski dia 100% adalah asli produk negeri ginseng ini. Yang paling penting, matanya selalu berbinar dan aku suka itu.

 

Aku mengenalnya pertama kali saat dia pindah ke sebelah rumahku. Seorang gadis berusia 7 tahun yang waktu itu rambutnya dikepang dua dan bersembunyi di balik punggung seorang wanita muda yang adalah tetanggaku saat pertama kali aku datang memberikan salam. Usut punya usut, Nyonya Kim -tetangga sebelah rumahku- ternyata bibi gadis kecil tersebut dan sejak itulah Ahn Jung Wol tinggal di sebelah rumahku. Gadis malang yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakan maut secara bersamaan itu kini tinggal dengan keluarga satu-satunya yang dia punya, Nyonya Kim yang adalah adik ibunya.

 

Awalnya aku hanya iseng, penasaran kenapa gadis sebayaku itu tidak mau pernah mau bergaul dan selalu menutup diri, bahkan padaku yang secara khusus ditunjuk bibinya dan sudah dicap sebagai anak baik. Aku melengos saat tawaran pulang bersama yang kulontarkan saat kami duduk di bangku sekolah dasar ditolak mentah-mentah. Jujur, ada sedikit rasa bosan yang menggerogotiku saat dia terus mengacuhkanku, namun bagaikan pantang menyerah aku tetap tidak peduli. Aku malah mengikutinya dari belakang, gadis berkepang dua yang kini berjalan tertunduk kembali ke rumah Nyonya Kim.

 

Aksi mengikutinya kulakukan selama seminggu penuh dan dia benar-benar masih mengacuhkanku. Di sekolah dia sudah dicap sebagai gadis dingin yang tidak punya teman. Dia selalu sendirian saat jam istirahat, duduk di bangku paling belakang sendirian. Tak kuasa melihat sorot kelamnya dibalik poni hitam si gadis, aku meminta ijin pada Baekhyun –teman baik sekaligus teman sebangkuku saat itu- untuk pindah ke meja yang sama dengan Jung Wol. Awalnya gadis itu menolak, namun dukungan wali kelas yang juga peduli pada gadis itu seakan mengokongku kuat sehingga dia hanya pasrah saat aku meletakkan tasku di bangku sebelahnya.

 

“Aku harap kita bisa berteman baik.”, lirihku sebagai salam perkenalan, namun bukan Ahn Jung Wol namanya kalau dia bisa menerimaku begitu saja. Dia masih sama, masih mengacuhkanku dan lebih memilih tenggelam dengan buku sejarah tebal yang ada di tangannya.

 

Hari demi hari kulewati dengan sikap dingin dari gadis yang rambutnya senantiasa dikepang dua itu. Kini sudah genap sebulan dia pindah ke sebelahku dan sudah hampir tiga minggu kami duduk bersebelahan dan aku masih setia mengganggunya –pastinya dalam artian baik. Banyak temanku yang menatapku bingung karena aku selalu saja di sebelah Jung Wol, tak jarang mereka bahkan mencercaku dengan pertanyaan apakah aku menyukai gadis dingin itu. Aku tertawa, memangnya apa yang diketahui oleh bocah 7 tahun tentang cinta? Tentu saja aku menjawab enteng bahwa dia adalah teman baikku –meski Jung Wol agaknya masih tidak mengganggapku ada.

 

Aku selalu bicara panjang lebar pada gadis itu dan bagaikan ada sambar di siang bolong, belakangan ini dia mulai sedikit membuka hatinya untuk menerimaku setidaknya sebagai teman baru. Pertama kalinya dia menjawab semua ocehanku sambil berucap ringan.

 

“Kenapa kau selalu saja berbicara seperti seorang idiot, huh? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?”, dua kalimat panjang itu sukses membuatku ternganga. Akhirnya Jung Wol membuka dirinya juga. Aku masih ingat hari itu. Minggu ketiga November saat kami berdua pulang bersama –sebenarnya aku hanya mengikutinya seperti biasa, 5 langkah di belakangnya.

 

“Memangnya kenapa? Toh idiotku kini membuatmu bicara kan? Sekarang idiotku akan membuatmu tersenyum Jung Wol-ssi.” Hari itu pertama kalinya Jung Wol menatapku langsung hingga aku bisa melihat mata besarnya itu sambil tersenyum sekilas. Dia sedikit menatapku remeh.

 

“Memangnya kau bisa?”, tanyanya balik sambil sedikit tersenyum miring. Aku lantas tertawa.

 

“ Hanya 2 detik dan si idiot ini sudah membuatmu tersenyum Jung Wol.”, lantangku sambil memangku tangan bangga. Mendengar itu dia lantas terdiam, lalu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sadar kalau kini dia tengah tersenyum padaku.

 

“Lalu sekarang, apa idiot ini perlu membuatmu tertawa?”, dan dia benar-benar tertawa tepat setelah aku mengucapkan kalimat sederhana itu. “Dasar idiot.”, selanya di tengah tawa kecilnya itu dan tentu saja aku tak kuasa untuk tidak ikut tertawa.

 

Minggu ketiga November, pinggir jembatan dengan lembayung jingga yang terlukis di langit sore, kali pertama aku dan Jung Wol benar-benar menjadi teman.

 

 

Ah, ternyata aku sudah bicara panjang lebar tentang gadis di sebelahku ini kan? Cih, sepertinya aku kelepasan dan merocos terlalu banyak. Tunggu, sebelum itu apa kalian sudah mengenalku si idiot ini?

 

Perkenalkan, namaku Chanyeol, lengkapnya Park Chanyeol. Seorang lelaki setinggi 185 cm dengan berat 70 kg dan kini berusia hampir 18 tahun. Seperti ceritaku barusan, aku ini seorang idiot yang tidak pernah menyerah mengikuti seorang gadis berkepang dua yang kini beralih menguncir satu rambut panjangnya dengan alasan malu dengan model rambut lamanya. Aku masih tetangga Jung Wol dan secara ajaib masih teman sekelas dan malah sebangku gadis itu selama lebih dari 10 tahun.

 

“Yeol-ah..”, aku mengerjap saat kini gadis bermata belo itu menarik ujung kemeja seragamku sambil tertunduk sayu. Rambutnya kini kecoklatan diterpa sinar kemerahan tanda malam hampir tiba. Aku merangkulnya dalam, kemudian mengelus pucuk rambut si gadis.

 

Wae? Kau berkelahi lagi dengannya?”, tanyaku kali ini dan seperti dugaanku, Jung Wol mengangguk singkat. Aku hanya bisa menghela nafas pelan sambil menepuk-nepuk bahunya. “Gwenchana,” lirihku kemudian.

 

Oh iya, apa kalian tau siapa sosok dia yang kini kami bicarakan?

 

 

Detik dan menit perlahan berganti . Kini kami tak lagi murid sekolah dasar yang sering digosipkan pacaran –sungguh, aku tidak tau darimana rumor itu tak berasal. Setauku, aku dan Jung Wol kini saling mengikat sebagai sahabat. Sekarang aku dan Jung Wol sudah memasuki usia remaja awal, mulai berseragam sekolah menengah pertama di sekolah yang sama, sebuah sekolah yang cukup terkenal dan tidak jauh dari kediaman kami berdua.

 

Masuk di sekolah baru, tentunya aku dan Jung Wol akan punya teman-teman baru juga. Kini ada banyak wajah baru yang siap kami jadikan teman . Asal kalian tau, Jung Wol dingin kini sudah musnah ditelan bumi dan digantikan Jung Wol baru yang sama idiotnya denganku. Gadis ceria yang agak sedikit tomboy dan jauh dari kesan feminim yang dulu ditunjukkannya saat kami pertama kali bertemu di usia 7 tahun. Mungkin ini efek dari berteman denganku di setiap detik yang dia punya. Kini Jung wol tidak lagi hanya tenggelam dengan buku seperti biasanya, sekarang kami malah sering berlomba balap sepeda dari sekolah ke rumah dan sebaliknya. Kadang kami berhenti di pinggir jembatan kecil yang berjarak satu belokan lagi dari gang rumah kami, seperti sekarang dan biasanya. Namun kini emosiku sedikit tersulut saat melihat lutut Jung Wol yang berdarah.

 

“Kenapa kau berkelahi, huh?”, tanyaku dengan nada menaik, dan kulihat Jung Wol menatapku marah.

 

“Mereka menghinaku duluan Yeol! Mereka bilang aku anak yatim piatu dan bibiku terpaksa menampungku!”, teriak Jung Wol sambil menendang besi pembatas jembatan di depan kami. Tak pelak, kini mata belonya sudah penuh tergenang cairan bening yang membuatku langsung mencelos. Dengan langkah cepat, aku menarik gadis itu paksa ke dalam rengkuhanku, memeluknya seerat yang kubisa meski awalnya Jung Wol menolak.

 

“Jangan memukul mereka.”, lirihku dan gadis dalam dekapanku ini semakin memberontak.

 

“Tapi Yeol-“

 

Sssttt.

 

Aku menutup bibirnya gadis yang tengah berusaha memberontak itu cepat dengan jari telunjukku.

 

“Biar aku yang menghajar mereka dan kau hanya terima bersih saja. Kau adalah sahabatku Jung-ah, dan ejekan bagimu juga ejekan buatku. Jadi impas kan? Lagian memangnya kau meragukan judo sabuk hitam sepertiku?”, kali ini Jung Wol nampak terdiam. Dia tertunduk kemudian menempelkan kepalanya ke bahuku.

 

“Patahkan tulang mereka sampai remuk Yeol. Patahkan.”, lirihnya sambil terisak dan aku tak kuasa hanya berdiam diri, lagi-lagi aku mengelus puncak kepala gadis bermarga Ahn itu.

 

Besoknya aku benar-benar menemui gerombolan itu, menghajar mereka seperti kemauan Jung Wol dan memerintahkan mereka agar minta maaf. Ntah karena takut dipukul lagi, mereka langsung menemui Jung Wol dan meminta maaf. Hebat kan? Masalahnya besoknya aku dipanggil ke ruang BK saat jam pelajaran Biologi. Dan kalian tau apa yang terjadi setelahnya? Aku diskors selama semingu karena ketahuan berkelahi. Kumpulan manusia itu melapor pada orangtuanya dan tentunya orangtua mereka mendesak pihak sekolah. Apalagi ternyata ada anak ketua komisi orangtua murid diantara siswa yang kupukul kemarin. Cih, bukankah lengkap?

 

Mendapati kabar kalau putra semata wayangnya diskors, ayah tentu saja tidak tinggal diam. Dia memarahiku habis-habisan dan aku terima saja. Bahkan ayah yang juga mantan atlet judo itu membantingku ke lantai dan bukannya ke atas matras, mempraktekkan sedikit ilmu judonya yang tentunya jauh di atasku. Ibu benar-benar marah kala itu, sama seperti ayah. Beliau bilang dia kecewa padaku. Katanya judo bukan untuk menindas orang lemah dan sebagainya. Aku mendengarkan patuh, kemudian meminta maaf. Akhirnya, mereka mengurungku seminggu penuh di rumah selama skorsku masih berlaku serta menahan handphone-ku. Dan sakitnya, ayah tidak mengijinkanku mngikuti kejuaraan Judo daerah yang sudah kuimpikan.

 

Ahn Jung Wol menemuiku diam-diam di malam pertama aku menjalani masa hukuman, dikurung di kamarku sendiri. Dia mengetuk kaca kamarku, ah sebenarnya melemparkan batu ke jendela kamarku yang ada di lantai 2. Merasa bising, aku lantas menuju jendela dan berniat membukanya, namun ternyata ayah serius tentang mengurungku. Jendela itu terkunci dan aku harus merelakan tidak berbicara dengan Jung Wol seminggu penuh.

 

Tak hilang akal, Jung Wol malah menuliskan beberapa patah kata di atas kertas karton, kemudian menaikkan karton itu agar aku bisa melihatnya.

 

“Maafkan aku Chanyeol-ah.”

 

Singkat, namun bisa membuatku tersenyum. Aku tidak marah pada gadis itu, tidak menyalahkannya atau bahkan membencinya. Jung Wol tak pernah menjadi beban bagiku, tidak pernah membuatku menyesal jika itu semua tentang Jung Wol.

 

“Memangnya kau salah apa?”

 

Tulisku di kertas karton bekas prakarya yang kebetulan masih tersisa sedikit. Bisa kulihat Jung Wol menatapku nanar. Matanya sembab, ntah aku salah liat atau apa, tapi agaknya matanya berair. Dia mengangkat kartonnya lagi –masih karton yang sama.

 

“Maafkan aku Chanyeol-ah.”

 

Dan disitulah aku sadar kalau aku sudah salah. Aku bukannya meringankan beban Jung Wol, tapi malah menambah bebannya dengan rasa bersalah karena aku dihukum seperti ini. Tindakan cerobohku membuat gadis itu tidak enak hati, membuatnya canggung sendiri karena aku. Saat itu aku sadar, kalau aku harus bertindak dewasa. Aku tidak boleh membuat Jung Wol menangis, atau membiarkan seseorangpun membuat Jung Wol menangis. Aku akan menjaganya. Hanya itu.

 

 

“Cih, jadi kau sedih hanya gara-gara dia? Ayolah Jung, jangan seperti ini.”, bisa kulihat Jung Wol yang sedari tadi sesegukan disebelahku kini menempeleng kepalaku cuku keras.

 

“Dasar bodoh!”, pekiknya padaku dengan mata memerah dan hidung yang mulai berair. Sedikit menjijikkan, tapi dia malah terlihat manis di mataku. Hei, apa mungkin aku sudah mengalami katarak atau semacamnya?

 

“Jadi, kali ini kenapa kalian berkelahi, eoh?”

 

Jung Wol menegakkan badannya, kemudian membuang muka, takut bertatapan mata denganku-agaknya.

 

“Aku memarahinya karena manager klub basket memberikannya handuk dan dia menerimanya dengan senang hati.”, jawab Jung Wol sambil menggigit bibir atasnya. Aku terhenyak. Jadi dia menangis hanya karena handuk? Oh ayolah Jung, jangan kekanakan.

 

“Kau pasti mau bilang aku kekanakan, kan?”, gadis itu melanjutkan kalimatnya lagi tanpa perlu menunggu komentarku atas masalahnya. Dia menatapku memicing. Cih, apa dia pikir dia bisa membaca pikiranku?

 

“Tidak, siapa bilang aku mengataimu kekanakan?”, jawabku berbohong kala itu. Jung Wol nampak sedikit kaget dengan jawabanku. Matanya menunjukkan kalau dia penasaran dengan kalimat selanjutnya yang mungkin lolos dari mulutku.

 

“Memang sedikit kekanakan, tapi aku rasa tindakanmu benar. Memang kau harus memarahinya, kan? Itu handuk dari gadis lain, bukan dari Ahn Jung Wol. Benar begitu kan?”, aku meletakkan tangan kananku di atas pucuk kepala Jung Wol, kemudian mulai mengacak-acak surai hitamnya yang kini berkilat cokelat karena hari sudah senja.

 

“Cih, bohong. Kau pasti bohong.”, Jung Wol menangis lagi, bahunya sedikit bergetar. Dengan gerak cepat, aku kembali merengkuhnya, masuk dalam dekapan erat yang kubuat sehangat dan senyaman mungkin untuk satu-satunya gadis yang namanya terukir di relung hatiku setelah ibu.

 

“Aku tidak bohong Jung. Aku tidak akan pernah bisa berbohong padamu, kau tau kan?”

 

 

 

Aku memang bilang tidak pernah berbohong pada gadis Ahn itu, tapi nyatanya aku sudah berbohong sejak dulu, sejak aku sadar tentang perasaan sialan yang muncul ke permukaan saat kami masuk ke sekolah menengah atas. Bukan, sebenarnya aku yang bodoh karena sadar terlalu lama padahal aku yakin rasa itu sudah ada sejak lama, jauh sebelum aku dan Jung Wol menginjak kaki di bangku sekolah menengah atas.

 

“Jadi, kau berniat masuk klub basket?”, tanyaku pada Jung Wol kala itu saat dia mengisi lembar ekstrakulikuler di hari pertama masuk sekolah, Dia tersenyum sumringah sambil menganguk-anggukkan kepalanya, masih kekanakan seperti biasanya.

 

Oh, jadi kau akan tetap masuk klub Judo?”, dia balik bertanya dan tentu saja aku dengan bangga menjawab iya. Judo adalah sebagian dari hidupku, setidaknya itu menurutku sekarang.

 

“Cih, apa kau tidak bosan dengan adegan membanting orang setiap harinya? Dasar maniak bogem, sementang sekarang kau masuk klub judo nasional tingkat junior.”, celoteh Jung Wol lagi, sangat cerewet dan selalu mengkritikku.

 

Yah, bukan salahnya juga mengkritikku. Saat kami kelas 2 SMP – setahun setelah adegan aku dikurung dikamar dan dilarang mengikuti pertandingan judo tingkat daerah- akhirnya waktu itu aku bisa mengikuti turmanen yang sudah kuimpikan itu. Hasilnnya lumayan bagus, aku masuk runner up 2. Kalah dengan seorang pejudo dari sekolah sebelah yang memang setahun lebih tua dariku. Sialnya, kala itu aku mengalami cedera. Tulang belakangku sedikit bergeser dan itu membuat Jung Wol khawatir bukan main dan bahkan melarangku ikut Judo lagi. Waktu itu aku membuatnya menangis untuk kedua kalinya. Tapi apa kata, aku hanya terlalu mencintai judo.

 

“Jung Wol-ah, apa kau tidak sadar kalau aku ini tipe laki-laki setia? Kalau tidak untuk apa aku setia selama 7 tahun denganmu, eoh?”

 

Dan bukannya pujian yang kudapat, tapi malah tempelengan di kepalaku. Cih, gadis ini masih sama tomboy-nya. Kalau saja dia tidak membenci judo, mungkin aku sudah menyuruhnya masuk ke klub yang sama sepertiku. Setidaknya tenaganya itu bisa dipakai untuk membela diri.

 

Harusnya aku senang saat akhirnya Jung Wol dengan segenap hatinya membiarkanku masuk klub judo lagi. Yah, meski dilarag atau tidakpun aku tetap akan ke judo, tapi keputusan gadis itu berpengaruh besar bagiku. Kalau Jung Wol bilang tidak, pasti hatiku akan goyah dan kuda-kudaku akan lemah saat bertanding. Andai lawanku tau kelemahanku satu ini, mungkin tahun lalu aku tidak mungkin menjuarai turnamen judo tingkat daerah yang membuatku masuk tim judo nasional tingkat junior itu.

 

Mestinya semua berjalan baik, hingga Jung Wol tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia tidak jadi masuk ke klub basket, malah masuk ke klub pemandu sorak.

 

Wae?”, tanyaku kala itu dan dia hanya tersenyum samar.

 

“Ternyata sekolah ini tidak punya klub basket putri.”, jawabnya sambil terkekeh pelan.

 

“Lalu kenapa sampai katam ke pemandu sorak, eoh? Itu kan eksul feminim yang semua anggotanya gadis.”, terangku akhirnya dan Jung Wol malah tersenyum penuh arti.

 

“Karena ekskul itu yang paling dekat dengan klub basket, kau tidak tau?”

 

Awalnya aku pikir itu hanya karena Jung Wol hanya terlalu mencintai basket dan ingin melihat lapangan setiap hari. Aku berpikir terlalu polos. Ternyata Jung Wol-ku sudah bukan gadis mungil berkepang dua yang selalu bergantung padaku lagi. Dia sudah berubah terlalu jauh.

 

“Yeol, sepertinya aku jatuh cinta.” Pengakuan gadis itu saat kami pulang bersama untuk kesekian kalinya membuatku terhenyak, bahkan secara otomatis aku menghentikan laju sepeda yang sedari tadi kudorong perlahan di sebelah Jung Wol.

 

“Yeol, aku menyukai seorang anggota klub basket.” Dan ini semakin membuatku kaget . Jadi selama ini Jung Wol ikut klub pemandu sorak agar bisa memperhatikannya dari dekat?

 

“Sejak ka-pan?”, aku bertanya perlahan, bisa kulihat Jung Wol nampak tersipu malu.

 

“Sejak hari pertama MOS. Dia komandan pleton yang selalu berbaris di sebelah kelas kita.” , jawab Jung Wol. Aku melongo. Jadi sudah selama itu? Oh ayolah, ini sudah hampir akhir semester dua dan dia menyukainya sejak MOS? Sudah hampir setahun dan dia belum menyatakan perasaannya sama sekali? Bodoh, dasar Jung Wol bodoh.

 

“Kau harus menyatakan perasaanmu Jung. Kalau tidak dia mungkin tidak akan pernah tau dan kau hanya akan berakhir sakit hati.”, nasihatku bijak akhirnya dan Jung nampaknya mulai menimbang-nimbang usulanku.

 

Tak berselang lama setelah pengakuan Jung Wol padaku, aku mendapat sebuah pesan singkat saat baru saja selesai latihan judo seminggu kemudian.

 

“Yeol, aku berhasil. Sekarang dia sudah menjadi pacarku. Ah, aku bahagia sekali ^^ “

 

Ntah kenapa, aku merasa meringis saat membaca pesan dari Jung Wol. Ada perasaan aneh yang menyeruak begitu saja, rasanya benar-benar aneh. Sedikit menyakitkan.

 

“Chanyeol!”

 

Belum selesai aku menatapi layar handphone-ku yang kini sudah berubah gelap, sebuah teriakan khas Jung Wol yang sudah kuhafal mati terdengar. Dengan sigap aku membalikkan badan, kemudian melihat Jung Wol dengan seragam pemandu soraknya yang kini berjalan santai sambil menggandeng seorang … lelaki berseragam basket.

 

“Ah, Jung Wol-ah. Ada apa?”, tanyaku akhirnya berusaha tenang sambil merapikan sabuk hitamku yang sedikit melonggar. Jung Wol yang kini sudah semeter di depanku tersenyum, kemudian menarik tanganku.

 

“Kau sudah membaca pesanku, kan? Ini pacarku, orang yang selalu kuceritakan itu.”, terang Jung Wol sumringah. Tawanya terdengar begitu lepas, bahagia sekali.

 

“Ah, jadi ini orangnya?”, kataku berlagak kikuk, kemudian menyodorkan tanganku ke arah lelaki tinggi di sebelah Jung Wol.

 

“Perkenalkan, aku Park Chanyeol. Teman Jung Wol sejak kecil.”, kataku akhirnya sambil menekan kata teman sejak kecil yang ntah kenapa terasa aneh bagiku sekarang. Lelaki yang belum keketahui namanya itu langsung membalas menjabat tanganku sambil tersenyum canggung.

 

“Ah, kalau begitu salam kenal Chanyeol-ssi. Aku Oh Sehun, pacar Jung Wol.”

 

Dan saat itulah aku sadar apa arti perasaan menggenjolak yang sedari tadi memenuhi hatiku, aku cemburu. Aku baru sadar, ternyata aku mengangap Jung Wol lebih dari sekedar teman, sadar kenapa sulit sekali menyebut Jung Wol hanya sebagai teman sejak kecil. Tenyata, aku yang idiot ini melihat Jung Wol sebagai seorang gadis.

 

 

Kini Jung Wol sudah tidak ada di dekapanku lagi, gadis itu sekarang sudah menyandarkan badannya ke penyangga jembatan sambil menyeka sisa air matanya. Aku menatap Jung Wol sebentar. Gadis itu sudah banyak berubah semenjak bersama Sehun. Menjadi lebih cantik mungkin? Dan sikapnya pun tidak sekasar dulu. Dia sudah berubah menjadi gadis feminim nan modis, seorang gadis ketua klub pemandu sorak yang ramah senyum dan punya banyak fans di sekolah. Bahkan aku tidak yakin kalau Jung Wol yang sekarang adalah gadis berkepang dua dingin yang kukenal sepuluh tahun yang lalu.

 

“Jung Wol!”, beberapa detik setelah lamunanku tentang Jung Wol selesai, seseorang yang masih menggunakan seragam sekolah dengan sebuah tas ransel dipunggungnya nampak berlari ke arah kami, matanya tertuju pada Jung Wol yang kini menatapnya kaget dan setengah tidak percaya.

 

“Jung-ah, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Irene.”, lirih Sehun saat dia sudah semeter di depan Jung Wol yang masih membuang muka. Gadis itu nampak menekuk wajahnya, membuat Sehun tak sabar untuk setidaknya menarik Jung Wol ke dalam pelukannya, tepat di depan mataku.

 

“Maafkan aku.”, lirih Sehun lagi, dan yang kudengar selanjutnya hanya isakan Jung Wol untuk kesekian kalinya hari ini. Gadis itu menangis, sambil membalas pelukan Sehun malu-malu.

 

“Kau tidak marah, kan?”, Tanya Sehun setelah diam di posisi berpelukan selama beberapa menit. Lelaki bermarga Oh yang sudah menjadi pacar Jung Wol selama setahun belakangan ini nampak sedikit menunduk sambil menghapus air mata gadisnya.

 

“Asal kau tidak mengulanginya lagi.”, jawab Jung Wol akhirnya yang tentunya membuat Sehun sumringah bukan main. Dia memeluk Jung Wol lagi. Dalam peluknya, Sehun yang tatapannya mengarah padaku itu mengumamkan satu kata tanpa suara lewat gerak bibirnya. Terimakasih. Setidaknya itu yang kubaca dari gerak bibir Sehun yang tersenyum padaku.

 

“Oh iya, bukannya final pertandingan basket antar sekolah se-Seoul itu hari ini?”, Jung Wol bertanya sedetik setelah mereka selesai berpelukan. Sehun mengangguk, membuat Jung Wol menjadi heboh setelahnya.

 

Aish, kalau begitu kita harus pergi secepat mungkin. Ya! Kau itu kapten team basket, kau harus main disana bodoh!”, pekik Jung Wol cerewet bukan main, sementara Sehun kini mencubit kedua pipi Jung Wol gemas.

 

“Lalu, kau ketua team penyorak kenapa ada disini, huh? Seharusnya kau juga ada di pinggir lapangan menyemangati team basket.” Jawab Sehun tak mau kalah, membuat Jung Wol kini mulai mengerucutkan bibirnya.

 

“Makanya sekarang aku mau pergi ke sana dan menyemangati kalian bodoh. Kajja, kita harus cepat kalau tidak ingin terlambat.”

 

Aku mengerjap saat mendengar kata pergi dari mulut Jung Wol. Ah, jadi dia ingin pergi. Meniggalkanku sendirian, begitu kan?

 

“Kalau begitu kami pergi Chanyeol-ssi.”

 

Dan aku hanya tersenyum setengah terpaksa saat Sehun mewakili Jung Wol berpamitan padaku. Tak berselang lama, sepedaku yang kini dikendarai Sehun dengan Jung Wol di boncengannya melesat pesat menuju sekolah. Aku tertawa dalam hati. Akhirnya gadis itu benar-benar meninggalkanku.

 

 

Apa kalian tau bulan?

 

Yah, bulan adalah benda langit yang sangat indah, terang cantik di tengah gelapnya malam yang kelam. Tapi apa kalian tau kalau bulan tidak dapat bersinar sendirian? Menurut astronomi, bulan membutuhkan sinar bintang untuk bersinar, dalam hal ini adalah matahari.

 

Ah, kalian pasti bertanya-tanya apa maksudku kan?

 

Apa kalian tau kalau nama Jung Wol itu artinya bulan? Yah, gadis itu punya kata bulan di nama anehnya. Wol, yang artinya bulan. Sama seperti namanya, Jung Wol adalah bulan bagiku. Dia yang menyinari setiap gelap dan kelam hidupku.

 

Lalu apa kalian pikir aku adalah bintang tempat bulan itu bergantung?

 

Salah, karena nyatanya bintang bagi Jung Wol adalah Sehun, lelaki berparas tampan yang sudah dia idam-idamkan sejak dulu. Sehun yang membuat Jung Wol bersinar semakin terang, semakin cantik dan semakin berharga.

 

Lalu sebenarnya aku ini apa?

 

Berat bagiku untuk menjawab pertanyaan singkat itu. Sebenarnya siapa aku ini? Apa artinya aku bagi Jung Wol?

 

Aku adalah manusia, seorang pengejar bulan, idiot yang terlunta-lunta. Yang kutahu hanya melihat Jung Wol, beharap gadis itu akan berbalik dan menggenggam tanganku seperti biasanya. Bagaikan manusia yang senantiasa mengejar bulan, berharap bisa hinggap di permukaan bulan yang bersinar terlalu cerah. Ingin campur tangan dalam kehidupan bulan yang dikagumi semua orang, sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

 

Tapi ternyata definisiku salah. Aku bukan pengejar bulan. Setidaknya jika aku adalah pengejar bulan, aku akan sedikit berusaha meski itu tidak akan pernah membuahkan hasil. Teorinya begitu. Lalu sebenarnya aku ini apa? Seorang pengecut? Ah, sepertinya begitu. Aku adalah pengecut, karena hanya berani menatap bulan dari kejauhan dan tak pernah berani menggapainya karena takut akan merasakan sakit. Namun, nyatanya sakit karena hanya menatapnya tanpa usaha sedikitpun jauh lebih menyiksa.

 

 

Ting!

 

Aku menatap pesan yang baru saja masuk ke handphone-ku sesampainya aku di rumah. Dengan langkah cepat aku berlari ke kamarku, kemudian membuka jendela dan menatap balkon yang tepat berada di depan kamarku.

 

“Yeol, aku minta maaf. Aku baru ingat kalau ini tanggal 27 November, tapi aku malah meninggalkanmu dan pergi menyemangati Sehun.”

 

Aku menatap nanar pesan yang baru saja ku baca. Hasrat menggebu-gebuku melempar jendela kamar di depan balkonku hilang seketika. Kupikir ini adalah pesan Jung Wol yang biasanya, pesan agar aku segera melempar jendelanya dengan batu sesaat setelah aku sampai dirumah karena dia ingin mengatakan sesuatu yang rahasia dan menakjubkan. Seperti biasa yang sering dia lakukan di 3 hari sebelum November berakhir setiap tahunnya dimana dia akan mengucapakan selamat ulang tahun sambil menari konyol.

 

Aku terduduk lemas, masih dengan seragam yang tidak berniat kuganti dengan baju rumah. Sudah seminggu ayah dan ibu pergi ke luar kota karena urusan bisnis, jadi tidak mungkin ada yang memarahiku meskipun aku tidak mengganti pakaian. Dengan alasan itu, aku mempasrahkan diri di balkon, masih menatap jendela yang sama yang dalam batinku ingin sekali agar benda kaca itu terbuka dan menampakkan raut Jung Wol yang tersenyum sambil melambai-lambai padaku dan memulai aksi dance konyolnya. Namun sudah 2 jam aku tidak bergeming semeter pun, tapi jendela itu tak kunjung terbuka.

 

Frustasi, aku akhirnya mengetikkan sebuah pesan balasan bagi Jung Wol.

 

“Nan Gwenchana.”

 

Kata send sukses kutekan setelah 2 kata itu terketik oleh jemariku, dan tak sampai sedetik sebuah kata ‘terkirim’ sudah muncul di layar handphone yang kugenggam lunglai.

 

Tak sampai 2 menit, sebuah pesan balasan dari Jung Wol muncul. Dengan secepat kilat aku langsung membukanya.

 

“Ah, apakah benar begitu? Cih, aku benar-benar minta maaf Yeol :”v

Kita rayakan lain kali saja, arasseo?😀

Oh iya, team basket Sehun menang, mereka dapat juara 1. Ah, senangnya~

Dan apa kau tau? Sekarang aku sedang kencan dengan Sehun dan dia baru saja menciumku. Yeol, itu ciuman pertamaku. Ah, aku bahagia sekali hari ini ~

Eits, kenapa kau tidak bilang kalau tadi kau mengrim pesan pada Sehun dan mengatakan kalau aku sedang menangis huh? Membuat malu saja -,-

Tapi terimakasih Yeol, berkatmu aku dan Sehun bisa baikan seperti ini. Oh iya, Sehun juga mengucapkan terimakasih atas pesanmu tadi. Dia ada di sebelahku dan sedang terkikik geli saat aku mengetik pesan ini. Wkwk..😄

 

P.S. Happy Birthday uri chingu, Park Chanyeol.”

 

Aku benar-benar meringis saat membacanya. Sungguh, ini melelahkan. Jika Jung Wol menunggu Sehun selama hampir setahun dan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya, kenapa aku yang sudah 10 tahun menunggu ini tidak berani juga? Apa selamanya aku memang hanya ditakdirkan untuk menjadi pengejar bulan yang pengecutnya bukan main?

 

Tangisku akhirnya pecah, mulai ter-isak tipis dengan sesegukan yang kutahan sebisa mungkin. Ini memalukan. Bagaimana bisa seorang lelaki menangis? Bahkan bulan kini mungkin tengah memandangiku sambil terkikik geli kan?

 

Tunggu, benar juga. Itu bulan, yang kini menerangi gelapnya malam dan kelamnya balkon kamarku.

 

Lelah menangis, lantas aku menengadahkan kepala pada bulan di atas sana. Mulai berkeluh-kesah meski aku tau bulan itu tak akan pernah mendengarku.

 

Dear Bulan,

Bisakah aku mengaku padamu saja?

Hari ini 27 November. Ulang tahunku yang ke -18 dan aku benar-benar patah hati.

 

 

FIN

 

 

17 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Moon Chaser (Oneshot) – Shaekiran

  1. Aaaaa sad ending! :’ Kok kejadiannya sama kek aku ya ._. Hanya dapat memandang doi (yang otw jadian) dari kejauhan, walau itu sakit dan pura2 nyemangatin calon (?) pacarnya. Huaaa ngena banget *eh tiba-tiba curhat #abaikan
    I know that feel, CY. Youre not alone *miris (Atau author jangan2 pengalaman ya? hayo ngaku…)
    Anyway, judul ama perumpamannya keren thor! ^^ Pengejar bulan idiot yang tidak berusaha. Entah kenapa aku ngakak bacanya x3 Yaaa~~ pas banget untuk si CY nya sih, wkwkwk
    Gara2 u thor, aku jadi baper. ㅠㅇㅠ Slamat ya thor ㅋㅋㅋ
    Oya, keep writing and mangat terus buat ff-nya author! ^^

    • Uluuu, kok bisa samaan yak? Kok curhatan nya ngena banget yak cem epep ini? Wkwk, jangan” dulu chingu ngirim pesan lewat angin yang isinya ide pembuatan epwp astral ini?/plakk/😂😂
      I know that feel, wkwk chimgu curhat nieee, yg sabar yak cem ceye/plakk/😂😂
      Alamak, ini bukan pengalaman eki kok, wkwkwk, suerrr deh..😂😂
      Ini genrenya gadak komedi lo.chingu kok bisa ngakak..😂😂😂
      Makasih yak pujiannya, gak seberapa kok itu judul ama perumpamaannya ,duh jadi malu/plakk/😂😂
      Salam buat pengejar Bulan idiot yg gak mau berusaha..😂
      Astaga, ceritanya eki dislamatin gegara udah bikin chingu baverr nih?/plakk/😂😂
      Makasih mangatnya, chingu juga mangat bacanya yak/plakk/😂😂
      Thanks for reading chingu, cintakuh padamuh.❤

  2. Helloooo!
    Dear eki, kasian banget nasib mas ceye. Tega amat tu eki..
    Ew, ditunggu next chap rooftop romance ya. Fast update please~ dudududu

    • Eki emang tega sama suami sendiri/plakk/😂
      Kesian yak, syedih jadi ceye/plakk egen..😂
      Dudududu, yg sabar yak chingu, itu masih otewe pembuatan, ceritanya lagi sibuk real life/plakk/😂😂
      Thaanks for reading, ditunggu yak epep eki yg lainyya, cintakuh padamuh.❤

  3. hwa……so sweet tpi menyedihkan juga,knp si oppa ceye itu slalu jdi org pengecut

    Happyceyeoppaday

    author eki kpn sourounded and rooptop romance dilanjutkan nih,aku udah kangen banget ama dua ff itu

    • Monggo ditanya kenapa ceye disini pengecut /plakk/😂😂
      Syedih yak cem ceye, hiks..😂😂
      Hebede ceyekuhhh..😍
      Duduh, pasti dilanjut kok yg itu dua, sabar yak, ceritanya lagi sibuk real life nih/plakk/😂
      Eki juga rindu kok sama 2 epep eki yg kini file terdampar di laptop itu, wk wk wk..😂😂
      Thanks for reading, ditunggu yak epwp eki yg lainnya, cintakuh padamuh.❤❤

  4. Duh kasian amat lg ultah malah patah hati, friendzone niee
    Daripada sama pacar orang mendingan sama aku *dicekek Eki :v
    Yg sabar ya ku tau kok sakitnya gmn, serasa hati ini disantet /flashback/baper/mojok/
    Cari yg baru gih emg cewek cuman dia doang *ea* selamat berjuang maz

    Btw SELAMAT ULANG TAHUN MAZ ALAY NAN NARSIS YANG UNTUNGNYA GANTENG SI KUPING CAPLANG KAYAK YODA YANG SUKA SENYUM PEPSOD*ENT *gagal sensor* YANG TINGGINYA KAYAK MONAS YANG TUKANG KAGETAN YANG SUKA GANGGUIN SUAMI GUE YANG SUARANYA KAYAK KENALPOT BUS YANG SUKA PAMER OTOT TANGAN APALAGI ABS YANG SUKA PAMER JIDAT, SEMOGA MAKIN NARSIS SEMOGA GK SAKIT SAKITAN SEMOGA MAKIN KAYA SEMOGA MAKIN TINGGI DLL

    CIE EKI YG SUAMINYA ULTAH HAHA LANGGENG YA :V
    DITUNGGU FF YG LAIN YA KI APALAGI ROOFTOP ROMANCE, LAGI GREGET TUH AMA BAPAKNYA WENDY SEMOGA CEPET DAPET HIDAYAH KLO GK LANGSUNG MATI AJA :V *salah ff*
    DITUNGGU YA KI, LUV YU EKI 😘💜

    • Tau aja ente kalo eki bakal nge-cekek/plakk/😂😂
      Oalah, ceritanya curhat nih chingu? Wkwkwk..😂
      Iya, banyak cewek di bumi ini yg mau sama ceye, contohnya eki yekan/plakk/😂😂
      WKWK, HABEDE BABANGKUH SAYANG, MAKASIH YA DOA LANGGENGNYA SAMA SUAMI EKI/PLAKK/OPEN YOUR EYES EKI!!!😂😂
      ULUU, INI SALAH LAPAK..😆😆
      LAGI DIUSAHAIN UPDATE YAK ITU EPEP ROOFTOP ROMANCENYA, CERITANYA LAGI SIBUK REAL LIFE/PLAKK/😂
      TENANG, BAOAK WENDY PASTI DAPAT HIDAYAH/PLAKK/IKUTAN SALAH LAPAK.😂😂
      thanks for reading chingu, ditunggu yak epep ekinya, wkwkwk..cintakuh padamuh.❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s