[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Lost Heart – morschek96

lost-heart-morschek96

Lost Heart, by. morschek96

Special Chanyeol’s Birthday Project

Slice of Life –Horror- Riddle || PG/T

Park Chanyeol & Kim Jong In

Others.

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

 

Ini dimulai ketika, jika aku bisa memastikan, bulan Nopember tahun 1937, seorang petugas kereta api menarik koper melewati pintu stasiun yang berada di jantung kota Seoul. Terlihat seorang anak kecil duduk di ujung kursi penumpang, ia berdiri ketika kereta yang ia tumpangi telah berhenti. Embun tipis terlihat saat napasnya membentur jendela kaca.

Anak lelaki itu membawa tas besarnya dibalik punggung dan menarik koper besarnya, berjalan melalui koridor stasiun. Mata lebarnya menyapu keseluruh ruangan.

“Chanyeol-ah?”

Anak itu, berbalik ketika mendengar seseorang memanggil namanya.

“Paman Kim?”

Pamannya itu, jika bisa didiskripsikan, sangat mirip dengan Jung Yunho, seorang pengusaha furniture yang sangat terkenal pada abad tersebut. Seorang sosok yang ramping, tinggi, dan bibir tipis yang akan sangat indah dipandang jika sedang tersenyum.

“Aigoo.. kau sudah besar sekarang. Berapa umurmu, nak?”

Chanyeol tersenyum, lesung pipinya terlihat dengan jelas jika dipandang dengan lekat, “Dua belas tahun, paman.”

“Sudah besar rupanya. Ayo paman bantu angkat barang-barangmu ke dalam mobil.”

Chanyeol mengangguk, dengan dibantu pamannya, lelaki itu hanya tinggal mengangkat tas punggungnya sendiri yang tak terlalu berat. Kemudian mengencangkan jacketnya tatkala udara semakin dingin ketika matahari semakin surut.

Di dalam mobil saat perjalanan, Chanyeol tak terlalu banyak berbicara, anak itu memang bisa dikatakan berbeda dibanding anak lain seusianya. Ketika anak lain merengek karena orang tua mereka melarang bermain sepanjang hari, Chanyeol malah memilih untuk berdiam diri dirumah sambil membaca koleksi-koleksi buku milik ayahnya.

“Apakah rumahnya masih jauh, paman?” Tanya Chanyeol yang mulai bosan berada didalam mobil tanpa melakukan apapun.

“Sebentar lagi, nak.” Paman Kim tersenyum dibalik jacket cokelat yang menutupi sebagian wajahnya. “Apakah kau sudah tidak sabar untuk bertemu Jongin, hm?”

Sepupunya itu, apakah Chanyeol merindukannya? Jawabannya iya.

Karena ia berlibur ke Seoul hanya ingin bertemu sepupunya yang sangat hyperactive itu. Dan karena ayah dan ibu Chanyeol tidak bisa berkunjung saat pemakaman mendiang ibu Jongin pekan lalu karena urusan bisnis, jadi Chanyeollah yang mewakili keluarga mereka.

“Eumm— tentang bibi Kim, apakah kalian sekeluarga baik-baik saja? Orang tuaku ingin mengetahuinya.” Ucap Chanyeol pelan.

“Kami baik-baik saja, nak.”

“Bibi Kim orang yang baik, apakah ia sekarang sudah berada di surga?” ujar lelaki itu polos.

“Tentu Chanyeol-ah, bibi Kim adalah wanita yang selalu diberkati Tuhan. Tapi tetap saja— Jongin sangat terpukul karena musibah ini, jadi jangan ungkit-ungkit kematian ibunya lagi jika didepannya, ya.”

“Oh, ya.” Chanyeol kembali meluruskan pandangannya kedepan, memperhatikan butiran salju tipis itu yang mulai menempel di kaca depan mobil. Wiper kaca kembali dinyalakan untuk membersihkan salju agar tidak menghalangi paman Kim mengemudi.

“Paman lupa mengirim surat ke orangtuamu di Daegu, lagipula kantor pos sedang tidak beroperasi karena badai salju yang diperkirakan akan terjadi minggu-minggu ini.”

“Tidak apa paman, aku akan memberitahu mereka sendiri saat pulang nanti.”

“Ne… baiklah, anak pintar.”

.

.

_oOo_

Setiba di kediaman keluarga Kim, Chanyeol melihat bangunan persegi yang tinggi, dibuat pada era Hong-Jin. Dengan kaca jendela berukuran besar, dan memiliki ornamen bunga lily. Pada sore menjelang petang seperti ini, cahaya lampu besar diujung jalan menyinari bangunan megah tersebut, menambah kesan classic.

Jam dinding tua berdentang nyaring ketika Chanyeol membuka pintu ganda rumah tersebut, menggema di seluruh ruangan seolah mengucapkan selamat datang. Lelaki kecil itu mengeratkan pegangannya pada tali tas punggung, hendak kembali melangkah sebelum suara familiar tertangkap indera pendengarannya.

“Chanyeol hyung?”

“Jongin-ah.”

Anak lelaki yang lebih muda usianya itu berlari kearah Chanyeol dengan kaki mungilnya. “Hyung, aku punya pensil berwarna yang baru.” Ucapnya antusias.

“Yah, kalian mainlah. Chanyeol, paman akan menyiapkan tempat tidur untukmu di kamar Jongin, ya. Kau bisa tidur satu kamar dengannya mulai malam ini.”

“Ne, paman.”

Di ruang tengah, siaran radio menyala yang entah menginfo-kan tentang berita apa, sedangkan kedua anak itu bermain dan mewarnai. Jongin dengan bangga memperlihatkan koleksi-koleksi lukisannya kepada sang sepupu. Juga Chanyeol yang dengan baik hati selalu memuji apapun yang Jongin perlihatkan padanya.

Saat Jongin hendak memperlihatkan miniature piramida dan sphinx yang ayahnya bawa dari liburan ke Mesir tiga bulan lalu, seorang wanita paruh baya yang Chanyeol asumsikan sebagai pembantu di rumah ini datang membawakan dua cangkir teh hangat.

 

“Gomawo ajhumma.”ucap Jongin pelan pada wanita itu.

Sedangkan Chanyeol hanya meliriknya sekilas untuk melihat wajahnya kemudian memalingkan wajahnya lagi, seperti biasa, lelaki itu tak memiliki banyak ketertarikan.

“Wah, ini bagus sekali.” Ucap Chanyeol sambil menyentuh pensil berwarna merah muda itu, “Baekki pasti menyukainya.”

“Eung— Baekki? Siapa hyung?” Tanya Jongin polos.

Sedangkan Chanyeol kini hanya bisa menggeleng pelan dengan pipi yang mulai bersemu.

“Ambil saja jika si Baekku-mu itu suka, aku masih punya yang lain.” Ujar Jongin setelah beberapa saat menimbang-nimbang.

“Ah benarkah?”

“Ne.” sambungnya mantap.

“Aigoo.. anak-anak, sudah malam sekarang, waktunya tidur.” Ujar paman Kim yang telah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.

“Ne appa.”

..

..

..

Chanyeol mengencangkan selimut yang menutupi tubuhnya saat malam semakin larut. Pelipisnya mengeluarkan keringat dingin, ia terbawa jauh ke dalam mimpi yang tak mengenakkan.

Seorang wanita, memakai dress terusan panjang berwarna hitam, terus memandang kearahnya. Bibir tipis wanita itu tersungging samar, dan karena Chanyeol terus memandang sosok itu, erangan hampir tak dapat keluar dan tak dapat terdengar dari bibirnya. Seperti terror pengelihatan.

‘Jongin-aah… tolong eomma.’

Suara itu—

Chanyeol mengenalnya.

Dan saat sosok itu semakin berjalan mendekat, Chanyeol sempat membungkan mulutnya sendiri ketika—

 

“Hyung..? Hyuunggg??” suara Jongin terdengar panik dan tercekat saat menggoyangkan tubuh Chanyeol berulang kali.

Suara pintu kamar terbuka dengan kasar dan paman Kim muncul setelahnya, “Ada apa ini?”

Yang Chanyeol sadari saat membuka mata adalah kakinya yang tak lagi berada di lantai marmer super dingin itu, melainkan di ranjang tempat tidurnya.

“Appa, Chanyeol hyung berkeringat, dan dua menit yang lalu ia sempat kejang… Jongin takut.” Lelaki itu berbicara dengan sangat cepat, hampir tak ada jeda sebelum ia memelankan suaranya dan merasa benar-benar ketakutan.

“Jongin-ah, yang membunuh Ibumu… ajhumma— pembantu.”

.

.

-END-

Author Note:

Oke gw tau ini gaje bgt.. pls jangan bully gw. (v)

Maap juga kalo riddle-nya gagal, horrornya gagal.. huuffttt.. sebenernya ini masih masa-masa gw buat hiatus tapi yah berhubung bang CeYe lagi ultah dan dapet ide ini, akhirnya nulis deh. Wkwkwk

Ada yg masih bingung gk sama ceritanya? Intinya Chanyeol itu punya semacam indera ke6, indigo. Gitu deh.. kan dia gw bikin anak kecil aneh yg punya kemampuan plus plus gt disini.😀

Leave your comment jusseyo~ NO SIDERS!

Silent readers dibalas yang maha kuasa. Wkwkwk. /maksa nih/ /iye!/ /gak suka?/ /sono pergi./

 

Regard.

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

11 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Lost Heart – morschek96

  1. Itu mimpi ya atau semacam meramal tp melalui mimpi gtu??dan biasanya anak indigo tidurnya gc nyenyak karena diganggu mimpi kyak gtu.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s