[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] JATUH — Len K

 

 

 

Laut Bering. Midnight sun.

“Tidak semua jatuh itu sakit, Darl.”

JATUH

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Chanyeol EXO, Wendy RV, etc | Genre : Romance, Drama | Rate : T

WARNING!

Marine biologist!AU, possibly OOC, typo(s)

 


 

Setelah diskusi panjang soal paus, Chanyeol belum bisa tidur juga. Padahal dalam diskusi panjang nan melelahkan―ditambah penyelaman ke Laut Bering selama dua puluh menit yang sama melelahkannya sebelum diskusi―Chanyeol mati-matian berusaha agar kepalanya tidak tersungkur begitu saja di meja beralaskan dokumen-dokumen penting. Tapi justru ketika semua itu sudah selesai, yang ada Chanyeol terjaga penuh dan Chanyeol jadi uring-uringan karenanya.

Insomnianya kambuh.

Ya, oke. Memang jika dibandingkan dulu saat ia pertama kali ikut ekspedisi, terlebih lagi ekspedisi di Laut Bering bersama sekumpulan ahli biologi laut di Exordium―itu nama kapal mereka―insomnianya yang sekarang ini bisa dibilang lebih baik. Dulu juga cicardian  cycle-nya kacau balau. Tapi yang namanya susah tidur itu pasti tetap mengganggu, kan? Coba lihat, sudah melebar berapa senti kantong matanya itu.

Untuk yang kesekian kalinya Chanyeol mengubah posisinya berbaring di ranjang. Berharap sebentar lagi dirinya akan berada dalam perjalanan ke alam mimpi tapi itu sia-sia saja. Suara dengkuran Jhonny Seo si blasteran Korea-Amerika yang tidur di ranjang atas tempat tidur tingkat mereka di salah satu kabin kapal semakin membuat Chanyeol menjauh dari alam mimpi. Jhonny kalau sudah tidur benar-benar mirip seperti orang mati.

Chanyeol menggerutu pelan dan terduduk di samping ranjangnya. Dirinya akan kembali terjaga lagi malam ini. Disusurinya dek tempat ia tidur dengan dua matanya. Berantakan. Itu kesan yang bisa ia dapatkan. Dokumen-dokumen, clearfiles, map-map, dan tetek-bengek berkas dan hal-hal lain yang berhubungan dengan ekspedisi mereka berserakan sekenanya saja. Baju-baju yang tergantung di balik pintu atau ranjang juga tergantung sekenanya tanpa meninggalkan kesan rapi. Tapi toh siapa pula yang peduli?

Pandangan Chanyeol beralih ke luar jendela. Sudah tengah malam tapi matahari masih nampak. Midnight sun. Itu salah satu fenomena alam yang sedari SMA ingin Chanyeol saksikan secara langsung selain aurora borealis. Terima kasih atas undangan ekspedisi ke Laut Bering ini sehingga Chanyeol bisa merasakannya. Bukan hanya sekali-dua kali dan Chanyeol tidak akan pernah bosan akan itu.

Cuaca di luar nampak bagus setelah Chanyeol mengamati. Jadi dia meraih jaket parkanya yang tersampir di tepian ranjang atas dan dijadikan alas tidur oleh Jhonny. Chanyeol sempat kesusahan menariknya karena Jhonny seolah tidak mau dipisahkan dari jaket parka marunnya dan Chanyeol harus menusuk lubang hidung si blasteran agar menyingkir dan bisa mengambil jaketnya. Beruntung tidak ada liur Jhonny di sana. Kalau ada mungkin Chanyeol sudah tanpa segan menjatuhkan Jhonny ke lantai kapal. Atau ke laut sekalian.

Kemudian setelah selesai merapikan rambut yang awut-awutan Chanyeol keluar. Exordium terasa sepi. Mungkin semuanya sudah terlelap di kamar masing-masing. Penyelaman dan diskusi panjang menguras tenaga mereka. Sejujurnya, rasanya aneh juga bagi Chanyeol untuk mendapati Exordium sesunyi ini. Biasanya kapal ini selalu ramai. James Kirkland si tukang pembuat onar. Elizaveta Herdevary si gadis tomboy. Marianne Bonnefoy yang nyentrik. Matthew Edelstein yang suka menggombal. Dong Sichen yang kalem. Lukas Bondevik yang kelewat cerewet. Dan yang lainnya yang mulai malas Chanyeol absen.

Chanyeol lalu membawa tungkainya ke dapur kapal dan desahan kecil keluar begitu melihat betapa kacaunya dapur mereka. Bungkus ini-itu berserakan, peralatan yang dionggokkan begitu saja di tempat cuci, ceceran ini-itu disini dan disitu. Ini pasti ulah Marianne dan James, tebak Chanyeol. Yah, keduanya memang partner-in-crime sih. Tapi Chanyeol masa bodoh. Dia bukan Sichen yang rajin, jadi dia langsung menyeduh dua gelas cappuccino. Tidak jelas juga kenapa dia menyeduh dua gelas di saat insomnia. Hei, tapi kafein dalam segelas cappuccino tidaklah seberapa kan?

Setelah selesai Chanyeol berjalan menyusuri lorong yang sepi hingga ia bisa mendengar langkahnya sendiri menuju dek. Lalu senyumnya tidak kalah cerah dari cuaca di luar ataupun midnight sun di angkasa sana. Bukan tanpa alasan sih Chanyeol bertingkah begitu. Itu semua karena Chanyeol melihat sosok yang ditaksirnya tengah berdiri di dek kapal, menumpukan lengannya yang terlipat di atas pagar besi horizontal setinggi satu meter dari lantai dek. Dengan langkah lebar dan tergesa, Chanyeol menuju ke arah sosok itu.

Namanya Wendy Son kalau kalian penasaran.

“Aku tadi sempat bertanya-tanya kenapa pula aku membuat dua gelas cappuccino. Tapi sekarang aku tahu jawabnya.” Suara bass Chanyeol keluar bersamaan dengan uluran cappuccino  pada Wendy.

Wendy tersenyum tipis. Dia tahu kalau Chanyeol naksir dirinya―semua penghuni Exordium juga tahu, sudah jadi rahasia umum. Tapi dia butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Gumawo.”

Chanyeol mengedikkan bahunya cuek. “Bukan masalah.” Jeda sebentar. “Tapi jujur, aku tidak menyangka akan menemukanmu di dek kapal di saat yang lain terlelap.”

“Tidak bisa tidur dan tidak tahu harus ngapain.”

“Insomnia?”

Giliran Wendy yang mengedik cuek. “Semacam itu. Kurasa.”

“Wow. Kita punya banyak kesamaan! Kita ini jodoh atau apa?”

Wendy terkikik. “Jangan ngawur, Tuan Park. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan.” Satu sesap kopi sebelum lanjut bicara. “Jadi kenapa kau ada di sini?”

“Alasan yang sama sepertimu tadi?” Chanyeol melontar jawabannya dalam nada bertanya. Wendy memutar kedua bola matanya, jengah. “Hei, sungguh. Aku serius. Tubuhku rasanya lelah setelah penyelaman tadi―sangat lelah, otakku masih mengebul karena diskusi panjang yang membuatku mengantuk, dan di kamar … dengkuran Jhonny membuat insomniaku makin parah. Kini punya gagasan untuk tahu seberapa menderitanya aku kan?”

Wendy tertawa. “Ya. Ya, tentu. Tidak banyak, tapi.”

Satu sudut bibir Chanyeol terangkat. “Dasar.”

“Tapi kau juga harus bersyukur saat kita melihat paus Beluga tadi. Setidaknya kalau kau mengingat-ingat itu, penderitaanmu bisa berkurang.”

Tawa Chanyeol lebar. Selalu lebar. “Ya, ya, kau benar. Elizaveta sampai kena hiperventilasi karenanya.”

Tentu, mana bisa Chanyeol melupakan kejadian tadi. Saat dimana seekor paus Beluga menyembul dari dingin dan dalamnya laut Bering, menampakkan diri di antara bongkahan-bongkahan es yang merajai horizon. Paus Beluga itu termasuk jenis paus yang langka. Kau mungkin bisa menjumpai kawanan Bowhead dengan cukup sering di alam bebas, tapi tidak dengan paus Beluga.

“Dan kita tadi terlibat dalam perang argumen yang pelik soal musim kawin dan jadwal migrasi mereka yang makin telat tiap tahunnya,” timpal Wendy.

Lagi-lagi Chanyeol tertawa lebar. Siapa pula yang bisa melupakan perdebatan sengit tadi? Satu-satunya pendapat yang sama dari keduanya adalah bahwa kawanan paus itu menuju ke Arktik. Hanya itu. “Well, kalau aku … aku lebih suka menyebutnya dengan … um, diskusi yang alot, mungkin?”

“Terserah.” Wendy kembali memutar kedua bola matanya. Tapi kali ini disertai senyuman.

Senyum yang jadi salah satu faktor kenapa Chanyeol mulai memusatkan perhatian dan hatinya pada Wendy.

Awalnya hubungan mereka tidak begitu akur. Chanyeol yang terkesan urakan dan nyasar untuk bisa jadi seorang biologis kelautan dipandang sebelah mata oleh Wendy. Pun Wendy yang terkesan angkuh dan suka meremehkan orang lain tidak disukai oleh Chanyeol. Banyak dari sifat mereka yang bertolakbelakang bagaikan kutub utara dan selatan. Namun ketika suatu hari Chanyeol memergoki Wendy tengah membaca salah satu karya Haruki Murakami, semua penilaian berubah. Perlahan-lahan berkembang hingga seperti sekarang ini; Chanyeol sudah memantapkan hatinya untuk Wendy tapi Wendy masih butuh waktu.

Dengar dari Lukas, luka batin Wendy karena kekasihnya yang terdahulu masih belum kering betul. Jadi butuh waktu bagi Wendy untuk mengijinkan seseorang untuk mendapat tempat tersendiri di hatinya. Tapi Chanyeol tidak masalah. Chanyeol yakin seyakin-yakinnya kalau suatu hari, suatu saat, ada waktu dimana Wendy akan jatuh padanya.

Ponsel Chanyeol melantunkan nada notifikasi.

Dan tawa pria jangkung itu pecah ketika melihat siapa yang mengiriminya pesan video. Kakaknya, Park Yoora, yang kini tengah liburan di Andalusia mengiriminya video putranya yang tengah belajar berjalan.

“Kenapa kau tertawa?” Wendy penasaran juga.

“Ah, tidak. Lucu saja melihat keponakanku yang tengah belajar berjalan.”

Wendy ikutan melihat layar ponsel Chanyeol. Dan Chanyeol dengan penuh pengertian menurunkan ponselnya yang sedang memutar video keponakannya yang meski berkali-kali jatuh, tapi masih tetap tertawa-tawa.

“Wah, dia lucu! Tak kusangka dirimu sudah jadi om-om.”

“Hei, jangan sebut aku seperti itu. Konotasinya negatif sekali, sumpah!”

Wendy tertawa. “Aku tidak mau mengatakan ini tapi kalau tidak kukatakan rasanya seperti mengganjal jadi kukatakan saja. Tapi jangan tersinggung, oke?”

“Ya?”

“Kurasa keponakanmu tertular oleh gilamu.”

“Apa?”

“Lihat saja! Meski jatuh berkali-kali dia tetap tertawa. Padahal aku yakin untuk ukuran anak seusianya, jatuh seperti itu sakit juga.”

“Tidak semua jatuh itu sakit, Darl.” Chanyeol mengerling.

Wendy ingin protes soal panggilan yang Chanyeol berikan barusan. Apa? Darl? Darling? Sejenis sayang kan? Tapi Wendy urung melakukannya dan justru bertanya hal lain, setengah mencibir, “Oh ya? Jatuh apa yang tidak sakit?”

“Jatuh hati,” jawab Chanyeol mantap.

“Ugghh!” Wendy menggerutu tidak jelas. “Omong kosong. Itu juga sakit. Kan ada kata ‘jatuh’ di dalamnya.”

“Iya sih …. Tapi semua hal di dunia ini kan seperti koin yang punya dua sisi. Ada baik-buruknya. Ada konsekuensi yang harus siap kau dapatkan tidak peduli kau suka atau tidak suka akan konsekuensi itu. Kalau kau merasa sakit saat ‘jatuh’ pada seseorang, itu artinya kau jatuh di waktu yang tidak tepat atau jatuh pada orang yang tidak tepat atau keduanya.”

Wendy diam. Chanyeol memang sering kelihatan dan bertingkah bodoh. Namun saat sudah bicara hal-hal serius dan sedikit filosofis begini rasanya Chanyeol jadi orang yang berbeda. (Padahal ini masih ‘sedikit filosofis’ lho. Wendy tidak bisa bayangkan kalau Chanyeol masuk filsafat)

Chanyeol berdehem dan kembali menarik perhatian Wendy.

“Nah, makanya …” deheman kecil, lalu melanjutkan, “supaya tidak sakit saat jatuh, jatuhlah di saat yang tepat, dengan orang yang tepat. Contoh sederhananya sih, kau jatuh saja padaku. Aku jamin tidak akan sakit. Soalnya nanti kalau kau jatuh, aku pasti akan menangkapmu.”

Ucapan Chanyeol makin mengecil saja dan hampir tenggelam dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup dan membuat Wendy harus menajamkan pendengarannya. Setelah selesai bicara Chanyeol diam dan meminum kopinya yang sudah dingin dengan gugup dan Wendy masih berusaha mencerna.

“AUW!” Chanyeol berseru ketika pukulan cukup keras mendarat pada tulang keringnya.

Pelakunya siapa lagi kalau bukan Wendy yang sudah berhasil mencerna perkataannya.

 

END

 

A/N        :

Hai! Ketemu lagi ama Len yes.

Ha! Akhirnya epep buat ultahnya bang ceye bisa kelar juga di tengah gempuran tugas yang gencar banget mengapeli diri ini dan malam-malam ane. /lalu teringat dua tugas yang belom kelar dan deadline-nya besok/ lalu Len keuraiii/ Oke, kita abaikan tugas itu.

Fufufufufu, setelah sekian lama menunggu at the end, ane bisa juga bikin epep yang berbau marine biologist!AU😄😄😄 Yah, meski dimari rasa-rasanya marine biologist!AU-nya kurang nendang :3 Bikos risetnya itu nggak segampang nyari berita bias.

Ceritanya ini juga rada-rada plotless gitu kan ye? ._. Maapkeun daku. Di tengah gempuran tugas hanya ini yang bisa ane bikin. Itupun karena kata “So if you fall for me, that won’t be hurt. Because I’ll catch you.” Berulang kali menjerit minta direalisasikan jadi sebuah cerita. Jadi yaaaa … beginilah jadinya.

Eniwei, habede bang ceye. Semoga abs-mu nggak luntur, moga karirnya makin sukses, cepetan cari jodoh biar ga jadi jejaka tua.

Ane Len pamit, adios!

7 thoughts on “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] JATUH — Len K

  1. Anju nais, gak ngerti. Tapi setelah dianalisis, baru agak ngeh, pft, otak ane macet…
    Aduh si chan jadi perayu amat sih, kan wendynya jadi tergoda *diri sendiri kali yang ke goda
    Pake acara jatoh jatohan lagi, kan greget.
    Nice!! Keep writing and fighting^^

  2. abis ini search d google paus apa tdi namanya yg langka, penasaran :’v
    eh ini bgus Len, aplgi endingnya yg Wendy telat loading itu gatau knpa bkin ngakak,,
    duh Ceye berterimakasih bgt krna Len nyelesein epep ultahnya bang Ceye duluan dtengah tugas” numpuk,,
    fighting Len!!! :*

  3. chanwen lagiiiiiiii elah aku lemah bang len aku padamuuuu
    bagus lho settingnya, somehow aku suka krn yg ga terlalu ngefluff banget, bacanya jadi nyante, terus buat plotlessnya iya sih, tapi sebuah cerita plotless ga selalu jelek kok. menurutku ini bagus terus gombalismenya bikin pingin mancal2
    kamu beneran ngeship chanwen nih jadinya?😄
    keep writing!

    • Gombalisme bikin pingin mancal2😄😄 Somehow I like this analogy😄😄 Like it very much, hohohohoho

      Soal ngeship … entahlah😄 Ane nyaman aja pake mereka berdua /selainitumalesmikirinoc/ lol/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s