[EXOFFI FREELANCE] Stay – (Songfic)

STAY (Yeolsoo Ver).jpg

[Songfic] STAY

Author:            Whitelil

Cast:                EXO Park Chanyeol

Black Pink Kim Jisoo

Other Cast:      EXO Byun Baekhyun

TWICE Nayeon

Gfriend Sowon

Genre:             G, Sad, Hurt

Ratting:           PG-15

Note:               Ku lagi baper berat dengerin lagu BP – STAY dan jadilah ff ini:’) And yes, I recommend you to listen to the song during reading this fiction. Btw, ff ini pernah di post di blackpinkfiction. Happy readingJ

Summary:        Don’t ask why it has to be you.. Just stay with me…

***

You take me for granted, but that’s you

But still, stay stay stay with me…

__

“Chanyeol-a…”

Namja bernama Chanyeol itu menghela nafas, “Tto? YAA apa kau tidak mengerti juga? Berhenti menemuiku di rumahku! Kita bisa berbicara di kampus atau bertemu dimanapun tapi tidak disini! Ah jinjja” Chanyeol pun melangkah pelan meninggalkan yeoja itu menuju ke kampus.

Tak lama, menyusul lah seorang namja keluar dari rumah yang sama.

“Oh? Sunbae..” yeoja itu mengangguk pelan seraya tersenyum memandang namja itu.

“Oh? Jisoo-ssi? Mwo haneun geoya?”

“Aniyo”

Namja itu terlihat bingung sesaat, “Geurae, kalau begitu aku pergi dulu” ucap namja itu tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Jisoo juga.

Sementara yeoja itu masih berdiri di tempatnya, memandangi Chanyeol yang berjalan semakin jauh.

“Chanyeol-a…”

***

Rather than forceful conversations with others

I’d rather be in awkward silence with you

__

Beberapa anak terlihat mulai keluar dari kelas. Mata kuliah pagi itu akhirnya berakhir. Jisoo melangkah cepat menuju kelas music di lantai 3, dan yeoja itu menghela nafas berat saat mendapati keadaan kelas tersebut. Kelas disana juga telah berakhir. hanya 1 2 orang yang masih tersisa disana. Ia kembali berjalan mengelilingi gedung. Matanya sibuk mencari seseorang di seluruh sudut gedung kampus ini. Nihil. Kampus ini terlalu besar jiak ia harus menemukan seorang namja kurus seperti dia. Sh*t! Namja itu kabur lagi. Bagaimana mungkin Jisoo bisa berbicara dengannya di kampus sementara namja itu selalu menghindarinya dan menghilang tepat disaat bel istirahat berbunyi. Ini sudah kali ketiga Jisoo kehilangannya saat jam istirahat.

“Jisoo-yaa kenapa buru-buru sekali. Mwo haneun geoya?” Sowon dan Nayeon menemukannya di lantai 1, lalu merangkul kedua tangannya.

“Kajja kita ke kantin” ucap Nayeon menampilkan gigi kelincinya. Jisoo menghela nafas lalu akhirnya menuruti keinginan dua sahabatnya itu. Hatinya akan meledak rasanya. Namja itu benar-benar brengs*k.

Setelah mata kuliah berikutnya berakhir, Jisoo buru-buru berlari menuju kelas music. Namja itu masih disana, kelasnya belum berakhir. Jisoo tersenyum puas lalu menunggu namja itu di depan pintu. Setelah melihat seorang anak keluar dari kelas itu, Jisoo buru-buru menghadang namja itu di depan kelasnya. Chanyeol memandangnya malas.

“Wae?”

“Aku ingin bicara padamu”

“Aku tidak. Pikyeo” Chanyeol hendak melewati Jisoo tapi yeoja itu lagi-lagi menghadangnya.

“Kau melarangku datang ke rumahmu dan menyuruhku untuk bicara padamu di kampus, tapi kenapa kau juga menghindariku di kampus?” Chanyeol menghela nafas. Yeoja ini benar.

“Geurae. Aku akan mengantarmu pulang, bicaralah” ucap Chanyeol lalu berlalu begitu saja.

“Chankanman. Bukankah itu Jisoo? Apa yang sedang ia lakukan?” tanya Sowon mengernyit. Mereka melihat Jisoo yang sedang berbicara dengan Chanyeol. Mereka berdua pun menghampiri Jisoo dengan wajah tak suka.

“Wae geurae?” tanya Sowon menahan langkah Jisoo.

“Aku harus menyelesaikan masalahku. Akan ku ceritakan nanti”

“Geumanhaeraa” ucap Nayeon.

“Andwae. Aku tidak bisa membiarkannya” Jisoo pun meninggalkan kedua sahabatnya dan mengikuti Chanyeol yang sudah berjalan duluan. Sowon dan Nayeon hanya bias geleng-geleng kepala melihat yeoja keras kepala itu.

Jisoo dan Chanyeol berjalan beriringan melewati kompleks perumahan dekat kampus. Halte bus masih lumayan jauh, perlu waktu 10 menit untuk sampai disana. Sebenarnya ada sebuah halte yang berada di samping kampus, tapi entah kenapa Chanyeol memilih halte yang lain.

“Ehem” Jisoo berdeham sesaat.

“Jjaljinaesseo?” ucap Jisoo pada akhirnya. Sejak tadi yeoja itu cukup lama terdiam dan sibuk memilih kata.

“Jjaljinaesseo? Menurutmu?”

“Ah.. itu hanya basa-basi” ucap Jisoo. Chanyeol menampilkan sedikit smirk lalu kembali dengan wajah dinginnya.

“Apa kau.. tinggal bersama Baekhyun sunbae sekarang?” Jisoo mencari basa-basi yang lain.

“Eo”

“Kenapa tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Naega wae?”

Jisoo menelan ludah dan berpikir ulang beberapa kali, “Mianhae… jeongmal mianhae…” yeoja itu akhirnya mengatakannya. Ia siap mendengar apapun jawaban yang akan Chanyeol berikan nantinya.

“Mwoga?”

“Karna aku sudah pernah meninggalkanmu dulu…”

“Ah aku bahkan tak pernah mengingatnya” Jisoo terdiam mendengar jawaban Chanyeol. Ia memikirkannya sampai mau mati, dan namja itu hanya menjawab tak pernah mengingatnya?

“Aku tau kau pasti sangat marah. Aku benar-benar menyesal. Kau harus tau, aku tak berhenti memikirkanmu selama sepuluh tahun terakhir…”

“MWO? Sepuluh… Ah chankamman. Hokshi.. apa kau seseorang dari masa laluku..? Ah ini sedikit membingungkan… pantas saja kau tetap memanggilku dengan nama, tanpa sunbae atau oppa” Jisoo lagi-lagi terdiam. Kali ini yeoja itu menghentikan langkahnya.

“Jangnanjijima..” ucap Jisoo membuat Chanyeol menghentikan langkahnya.

“Jangnan?” Chanyeol berbalik lalu memandang Jisoo.

“YA bukankah kau mau menyatakan perasaanmu? Aku pikir kau hanya ingin menyatakan perasaan, tapi ternyata ini lebih mengejutkan dari yang aku kira. Apa kau..” Chanyeol mulai melangkah menghampiri Jisoo, “benar-benar seseorang dari masa laluku?”

“PARK CHANYEOL JANGNANJIJIMA! Kau bahkan tidak pernah kecelakaan hingga lupa ingatan…..”

“Mengapa kau seyakin itu?” Chanyeol menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

“Sejak ibuku meninggal, aku melupakan semua masa laluku. Aku tidak memiliki ingatan masa kecilku sekarang. Ah mungkin kau salah satu dari ingatan masa kecilku… Mian aku tak bisa mengenalimu” namja itu kembali berjalan meninggalkan Jisoo perlahan.

Jisoo tertegun. Terlalu kaget atas semua kata-kata yang baru saja Chanyeol ucapkan. Mwo?

Seburuk itukah masa lalumu? Tak adakah sedikitpun kenangan indah yang ingin kau ingat? Jisoo berbicara lebih kepada dirinya sendiri.

Jisoo menghela nafas lalu mengejar ketertinggalannya dengan Chanyeol.

“Geurae! Ayo mulai semuanya dari awal. Uri.. chinguhaja” ucap Jisoo ceria seraya mensejajari langkahnya dengan langkah Chanyeol. Mereka telah sampai di halte bus sekarang.

“Shirreo” ucap Chanyeol mengabaikannya, lalu melihat papan rute bus.

“Wae??” tanya Jisoo. Kemudian sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Bus nomor 023.

“Ah apa bus ini yang menuju rumahmu?” tanya Chanyeol tanpa memperdulikan pertanyaan Jisoo. Yeoja itu memandang Chanyeol kesal lalu mengangguk terpaksa.

Chanyeol pun melangkah menaiki bus meninggalkan Jisoo begitu saja. Jisoo menghela nafas kesal untuk yang kesekian kalinya, dan akhirnya menaiki bus itu juga. Mereka duduk di kursi kedua dari baris belakang.

“Wae? Waeyo?” Jisoo masih tak menyerah. Ia kembali mempertanyakan alasan Chanyeol tadi.

Chanyeol memandang Jisoo sangat dekat, membuat yeoja itu tersudut di kaca jendela, “Aku tidak berteman dengan yeoja. Mereka merepotkan, seperti sekarang ini” ucap Chanyeol lalu kembali duduk tenang. Sementara Jisoo tampak shock dengan gerakan tiba-tiba namja itu.

“Cih.. padahal dia yang berkata akan mengantarku pulang” ucap yeoja itu seraya memegangi pipinya yang terasa panas.

***

I don’t expect a lot right now

Just stay with me…

__

Jisoo berjalan menyusuri taman di sepanjang sungai Han. Ia berjanji untuk bertemu seseorang sore itu. Saat melihat sosok yang familiar baginya, yeoja itu melambaikan tangan lalu berlari kecil.

“Sunbae annyeong” ucap Jisoo seraya tersenyum dan mengangguk singkat.

Baekhyun tersenyum hangat, juga mengangguk sekilas, “wae geurae? Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu denganku?”

Mereka pun mulai berjalan pelan, menyusuri sungai Han dengan angin sore yang terasa sejuk.

“Chanyeol neun…”

“Ah geurae, ku dengar kalian adalah teman masa kecil saat kalian tinggal di Gyeongju dulu?” potong Baekhyun cepat. Namja itu sepertinya sudah lama ingin bertanya hal ini pada Jisoo.

“Eottokhae arra?”

“Ey tentu saja Chanyeol yang mengatakannya. Bagaimana mungkin aku tau jika hanya menebak saja”

“Chanyeol… yang mengatakannya..?”

“Nde” Baekhyun mengangguk.

“Tapi kemarin.. dia sangat yakin jika dia…. tidak pernah mengenalku sebelumnya..” ucap Jisoo membuat Baekhyun tersenyum kecil.

“Aku akan mendengarkan ceritamu dulu. Tentang masa kecil kalian. Baru setelah itu aku yang bercerita tentang Chanyeol. Call?” Jisoo memandang Baekhyun yang masih tersenyum hangat. Eye-smile namja ini membuat hati siapapun yang melihatnya tenang.

Call

***

Flashback. Gyeongju, South Korea, 2005.

“Jisoo-ya, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama kita. Apakah tidak apa-apa?” Jisoo kecil memandang seorang ibu dan anak laki-laki di hadapannya sedikit bingung. Detik berikutnya, ia memegang tangan eomma nya lalu memandang eommanya seraya tersenyum.

“Tentu saja, aku senang punya teman” ucap Jisoo ceria.

“Beri salam” ucap eommanya, Jisoo pun melakukan bow lalu mengulurkan tangannya pada ibu itu yang segera disambut dengan hangat.

“Kau anak yang sangat ceria..” ucap ibu itu.

Jisoo kembali mengulurkan tangannya pada anak laki-laki di sebelah sang ibu.

“Annyeonghaseyo. Kim Jisoo imnida. Lalu kau? Siapa namamu?” sedetik.. dua detik.. anak laki-laki itu memandangnya dingin dan mengabaikan tangan Jisoo yang masih menggantung di udara.

“Shirreo” ucap anak laki-laki itu dengan kasar. Jisoo tertegun sejenak, karena namja kecil itu baru saja menolak perkenalannya.

“CHANYEOL-AH! BERSIKAPLAH SOPAN SEDIKIT!” anak laki-laki itu berlari begitu saja menuju ke taman belakang rumah.

“Maaf Jisoo, Chanyeol memang selalu seperti itu” ucap sang ibu meminta maaf.

“Gwenchana.. ahjumma” ucap Jisoo.

Hari-hari berlalu tanpa satu hari pun Jisoo lewati dengan usaha untuk mendekati anak laki-laki dingin itu. Hingga suatu hari, Jisoo menghampirinya yang sedang duduk melamun di taman belakang.

“Kenapa kau sangat sulit ditaklukan?” ucap Jisoo lalu duduk di sebelah Chanyeol.

“Kkeojjeo”

“Berhenti mengucapkan kata itu padaku. Nan sirrheo” ucap Jisoo menegaskan. Sudah berulang kali Chanyeol menyuruhnya pergi. Chanyeol hanya memandangnya sekilas lalu kembali memandangi rumput-rumput di hadapannya.

“Chanyeol-ssi… haengbokhaesseoyo? Yeogi neun?” tanya Jisoo tak menyerah.

“Bahagia? Di rumah ini?” tanya Chanyeol. Jisoo mengangguk penuh harap.

“Ani” jawab anak laki-laki itu singkat membuat yeoja kecil itu mendengus.

Jisoo memandangi Chanyeol dari dekat. Ini pertama kalinya Jisoo memandang Chanyeol sedekat ini. Hingga akhirnya yeoja itu menyadari ada sebuah bekas jahitan di bawah telinga kiri Chanyeol.

“Apakah itu.. tidak apa-apa?” Jisoo mencoba menyentuh bekas jahitan itu, tapi Chanyeol dengan cepat mengelak.

“Ah mian” ucap Jisoo.

“Ini ulah ayahku” ucapnya tiba-tiba.

“Bagaimana.. bisa?”

“Jika kau selama ini bertanya-tanya mengapa aku dan ibuku tinggal disini, itulah alasannya” Jisoo mendengarkan cerita Chanyeol dengan seksama.

“Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun karna aku tak punya siapapun untuk diceritakan. Aku hanya punya ibuku di dunia ini” Jisoo memandang Chanyeol dengan sedih. Anak sekecil ini tidak punya siapapun di dunia ini.

“Ayahku dipecat dari pekerjaannya setengah tahun yang lalu. Dan ia berubah menjadi monster setelah itu. Kerjanya berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan. Jika ia kehabisan uang, ia akan pulang ke rumah untuk memintanya pada ibuku. Jika ibuku tidak memberinya uang ia akan memukuli ibuku, bahkan memukuli aku..” Chanyeol terdiam sesaat. Matanya berkaca mengenang kenangan buruk itu.

“Ah aku sangat membencinya. Mungkin jika aku sudah dewasa, akan ku bunuh orang itu” lanjut anak itu lagi.

“Ibuku akhirnya tidak kuat dan melarikan diri dari rumah.. dan disinilah kami, menumpang di rumahmu” anak itu mengakhiri ceritanya.

Jisoo memanangnya berkaca-kaca, “Kkeokjongma. Kau punya aku sekarang. Aku akan selalu disini bersamamu” ucap Jisoo meyakinkan. Yeoja itu tersenyum cerah.

Chanyeol memandangnya ragu, lalu perlahan senyuman mulai terlihat di wajahnya.

Sejak hari itu, hari demi hari mereka lewati bersama. Mereka berjanji untuk saling mengandalkan satu sama lain. Mereka berjanji untuk selalu bersama apapun yang terjadi. Mereka berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.

Hingga suatu hari, di malam 1 januari 2006, saat mereka baru saja selesai mengadakan pesta barbeque ayah Jisoo menyampaikan sebuah berita buruk…

“Jisoo.. tidak ada yang bisa ayah lakukan…” ayahnya berusaha membujuk Jisoo, tapi yeoja itu menggeleng kuat.

“Hajima.. jebal hajima” Jisoo yakin airmatanya tak bisa berhenti saat ini.

“Jisoo ayolah…”

“Appa.. jebal.. aku tidak ingin pergi..”

“KIM JISOO! Tolong jangan mempersulit keadaan. Ayahmu ini harus pindah ke Seoul. Ayah pun sebenarnya tidak ingin. Ayah lebih ingin tinggal disini. Tapi tidak ada yang bisa ayah lakukan karna kantor pusat yang memerintahkan ayah…” Jisoo menggeleng kuat.

“AKU TIDAK AKAN PERGI KEMANAPUN!!” yeoja itu berlari menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya seraya menangis.

Chanyeol memandanginya dengan sedih dari celah kecil di pintu kamarnya. Jisoo sebentar lagi akan meninggalkannya. Ia akan pergi dari sini.

__

“Ani ani.. kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang apapun. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu..” ucap Jisoo keesokan paginya di taman belakang rumah.

“Aku tau kau pasti pergi..” ucap Chanyeol. Hatinya sesungguhnya sangat sakit saat ini.

“ANINDE! YAKSOK!” ucap Jisoo dengan yakin.

___

Pada akhirnya, yeoja kecil itu memang tetap pergi. Meninggalkan Chanyeol dan ibunya, meninggalkan semua kenangan indah yang telah mereka lakukan dalam waktu singkat. Chanyeol merasa marah. Ia merasa dikhianati karena Jisoo sudah meyakinkannya berkali-kali bahwa ia tidak akan pergi.

“Aku berjanji akan kembali.. aku janji akan menemuimu di usiaku yang ke-15! Aku janji! Tunggu aku kembali, oke?” ucap Jisoo seraya melambai-lambai dengan berat hati dari kaca mobilnya.

“Berhenti membuat janji apapun padaku” ucap Chanyeol lalu berlalu dari sana. Ia tak sanggup melihat wajah Jisoo lagi.

“CHANYEOL-A! CHANYEOL-A AKU JANJI! AKU AKAN LANGSUNG MENEMUIMU JIKA TERJADI SESUATU PADAMU! AKU JANJI PARK CHANYEOL!!!”

End of flashback.

***

Jisoo sudah menitikkan airmatanya. Ia tak dapat menahannya. Inilah yang selalu terjadi setiap kali ia mengingat kenangan itu.

“Jadi.. kalian memiliki hubungan semacam itu sejak kecil? Aku tidak pernah mengerti sebelumnya.. ia selalu menyebut-nyebut seorang gadis setiap ia bercerita tentang masa kecilnya. Cinta pertamaku yang menyakitkan..” Baekhyun tersenyum, “Itu yang selalu ia katakan tentangmu”

“Mwo..?”

“Chanyeol menyebutmu seperti itu hahaha, aku terkadang bingung kenapa ia tidak menyukaimu padahal kau yeoja yang sangat popular di kampus. Tapi sekarang aku mengerti..”

“Lalu sekarang giliranmu sunbae” ucap Jisoo. Air muka Baekhyun seketika berubah serius.

“Ehem geurae. Semua ini dimulai ketika ibunya meninggal..”

“Ayo duduk disini” ucap Baekhyun menunjuk sebuah kursi kayu. Mereka pun duduk disana.

“Chanyeol mengalami banyak hal sulit di dalam hidupnya. Sejak ayahnya sering menyiksa ia dan ibunya, dan hidupnya semakin sulit sejak ibunya meninggal dunia..”

“Apa yang terjadi padanya setelah ibunya meninggal?”

“Ia bertemu ayahnya di pemakaman ibunya, dan ayahnya memohon padanya untuk kembali. Ia sangat marah pada ayahnya dan akhirnya ia kabur”

“Ia menjadi gelandangan di kota besar seperti Los Angeles. Ia berkata jika hidupnya sangat-sangat menyedihkan saat itu” Jisoo tau matanya sudah berlinang saat ini. Ia merasa benar-benar bersalah pada namja itu.

“Ah bagaimana.. kau bisa bertemu dengannya?” tanya Jisoo.

“Ia bertemu ayahku di usianya yang ke 13. Saat itu ia bekerja di sebuah restoran sebagai tukang mencuci. Ayahku meninggalkan ponselnya di atas meja dan Chanyeol menyimpannya hingga ayahku kembali dan ia mengembalikan ponsel milik ayahku. Aku sangat salut padanya. Disaat hidup terasa amat sulit baginya, ia tetap berperilaku jujur dan tidak mau mencuri barang milik orang lain”

“Dia memang anak yang seperti itu sejak kecil” Jisoo tersenyum kecil.

“Ayahku langsung tertarik padanya, dan banyak bertanya tentang kehidupannya. Ayahku pun menawarkan tempat tinggal untuknya, dan mengangkatnya menjadi seorang anak. Ia setuju dan memutuskan untuk mengganti namanya menjadi nama Amerika nya. Ia mengatakan jika ia akan melupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi selama ini. Ia akan memulai hidup barunya dan melupakan masa lalunya”

“Oh  Jisoo-ssi apa kau.. menangis?” Baekhyun menyentuh bahu Jisoo hati-hati.

“Aku merasa sangat buruk padanya.. aku berjanji banyak hal padanya dan aku mengingkari semuanya..” ucap Jisoo terisak. Hatinya sangat sakit mendengar kehidupan Chanyeol setelah ia meninggalkannya.

“Dia sudah baik-baik saja sekarang, jangan merasa buruk pada dirimu sendiri” ucap Baekhyun menenangkan. Jisoo mengangguk lalu menghapus airmatanya.

“Ah geundae.. ceritanya tak selesai sampai disitu. Di tahun-tahun pertamanya sebagai anggota keluargaku, ia sebenarnya masih mengingatmu dan menceritakan banyak hal padaku. Tapi semuanya berubah.. sejak ia bertemu ibunya tahun lalu di Seoul”

“MWOO?? Bukankah ibunya…” Jisoo terbelalak mendengarnya.

“Ndee. Yang ia tau pun ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi kami melihatnya dengan jelas. Memang itu yeoja yang sama persis dengan yang ada di foto keluarga miliknya. Ibunya kini telah berubah menjadi seorang kaya raya dan tinggal di Seoul”

“Eottokhae…” Jisoo kehabisan kata-kata. Bagaimana bisa ahjumma kesayangannya itu tega melakukan hal itu pada Chanyeol?

“Itu yang membuatnya membenci wanita. Yeoja yang paling ia cintai di dunia ini menyakitinya dengan begitu hebatnya. Meninggalkannya dan menelantarkannya hingga ia jadi gelandangan. Dunianya serasa runtuh seketika. Ia kacau selama 3 hari. Ia tak mau makan, tak mau pergi ke sekolah. Hal itu membuat ia tidak bisa percaya pada wanita lagi.. dan ia sangat membenci wanita…”

Jisoo lagi-lagi kehabisan kata-kata. Banyak sekali hal yang mengejutkannya saat ini.

“Mian. Aku tau ini bukan salahmu..”

“Aku.. sangat ingin menjadi tempatnya berbagi beban saat ini, sunbae. Bebannya terlalu berat jika harus ia tanggung sendiri” ucap Jisoo kini mulai menitikkan airmata lagi.

“Uljima.. aku akan membantumu. Kkeokjongma” ucap Baekhyun tersenyum tulus.

“Sunbae.. terimakasih sudah menjaganya hingga akhirnya kami bertemu lagi…” ucap Jisoo tulus. Baekhyun tersenyum mendengarnya lalu mengangguk.

***

Don’t ask why it has to be you,

Just stay with me…

__

Pagi itu Chanyeol baru datang ke kampus. Mulutnya sibuk memakan lollipop kesukaannya. Ia memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak perempuan saja yang kini sedang asik mengobrol. Ia menuju ke mejanya dan duduk begitu saja. Tak lama, ia berjalan menuju lokernya untuk memasukkan beberapa buku di tasnya.

“Oh?” ia melihat sesuatu di lokernya, lalu ia melihat sekeliling. Mencari siapakah yang kira-kira menyimpan itu di lokernya.

Banana bingrae kesukaannya, dan sebuah kertas bertuliskan

“HOKSANG”. –JS.

“JS? Mwoyaaa? Apa orang ini memerintahku untuk pergi ke atap?” gumam Chanyeol.

Chanyeol membawa kertas dan bingrae nya kembali ke kelas, lalu melempar kertas itu keatas meja. Ia kembali duduk seraya meminum bingrae nya santai. Ia tak perduli dengan surat itu, ia tak perduli kalaupun ada seseorang yang sedang menunggunya di atap saat ini. Ia tidak ingin pergi ke atap. Setelah menghabiskan bingrae nya, ia terus memandangi kertas itu. Berpikir berulang kali.

“Ah jinjja” ia mengambil kertas itu kasar, lalu akhirnya pergi ke atap.

Saat membuka pintu atap, ia mendapati seorang yeoja tengah memunggunginya. Ia menghela nafas berat, lalu akhirnya melangkah mendekati yeoja itu.

“Jisoo-ya” yeoja itu menoleh, dan tiba-tiba mendapat sebuah pelukan dengan kasar. Yeoja itu terbelalak kaget. Sedetik.. dua detik.. tiga detik.. hening.

“Aku sangat membenci ayahmu yang telah memisahkan kita… aku juga membenci semua wanita karna ibuku…” ucap namja itu pelan.

“Aku ingin sekali membencimu.. tapi aku tak pernah sanggup melakukannya..” dan seketika itu juga airmata menitik dari mata Jisoo.

“Aku namja yang buruk. Aku kasar dan berpura-pura melupakanmu.. kenapa kau tak pernah menyerah? Kenapa kau tetap memilihku? Aku sudah bertekad untuk benar-benar melupakanmu.. tapi aku tak pernah sanggup..” airmata lagi-lagi mengalir dari mata Jisoo.

Chanyeol melepas pelukannya, lalu memegang kedua belah pipi yeoja itu.

“Uljima.. kau sudah terlalu banyak menangisiku selama ini” ucap namja itu dengan eye-smile nya. Ia menyeka airmata Jisoo dengan ibu jarinya.

“Chanyeol-a..” panggil Jisoo lembut.

“Nae chot sarang Park Chanyeol..” Chanyeol tersenyum mendengarnya.

Don’t ask why it has to be youjust stay with me..” ucap Jisoo memandang mata Chanyeol dalam-dalam.

Chanyeol tersenyum, “I’ll stay with you.. forever” ia pun memandang bibir Jisoo sesaat, lalu akhirnya mengecup bibir itu cukup lama. Jisoo memejamkan matanya dan airmata bahagia lagi-lagi mengalir.

So stay, wherever that may be

Sometimes, when darkness comes, I’ll be your fire

In this world that is a lie, the only truth it’s you

This a letter from me to you

-END-

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Stay – (Songfic)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s