[EXOFFI FREELENCE] PROPOSAL MARRIED (Chapter 8-END)

proposal-merried

PROPOSALMARRIED
Chapter 8

Author             : Rhifaery

Main Cast       :  Sehun EXO  and Irene Red Velved

Genre              : Romance, Comedy, After married!^^

Rate                : NC 17

Warning          : Please join to my blog Rhifaeryworld.wordpress.com

Desclimer        : All of the story based on my imagine ^^

Irene  POV

Pesta kemenangan Red Velved telah dimulai. Aku sangat bersyukur jika single terbaru Red Velved  akhirnya masuk dalam Top List Music. Setidaknya semua kerja keras para member terbayar sudah. Seulgi bahkan tak bisa membendung air matanya takkala tropi kemenangan itu ia pegang. Sementara Yeri terus berteriak-teriak saat lagu kita diputar di studio juga beberapa radio.

Semuanya bergembira, pada saatnya, lagu Red Velved berhasil menduduki puncak pertama pada chart musik Korea.  Kami mengundang manajer, beberapa orang dari agency juga beberapa anggota boy atau girlband se-agency untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Hanya anggota EXO yang tidak datang karena keberadaan mereka yang masih mengadakan tour di Amerika.

Entalah, aku tak mau berpikir itu di tengah kebahagiannku saat ini. Begitu anggur itu dituang di gelas masing-masing, aku pun mengangkat gelas tinggi-tinggi. “Cheeerrrsss!!!”

Dan kami pun bersulang. Membiarkan minuman lezat itu masuk ke kerongkongan. Hanya Yeri yang tidak ikut bergabung bersama kita. Dikaenakan umur yang belum cukup, kami pun menggantinya dengan soda.

“Jangan kira karena dia tak ada, lantas kau bisa minum sepuasnya Irene-yah?” Seseorang baru saja merebut gelas yang hendak kuminum. Donghae Oppa berkedip genit padaku lalu meminum apa yang seharusnya menjadi bagianku.

“Satu atau dia gelas tidak akan membuatku mabuk kok?” Bantahku, berganti mengambil cemilan lalu memakannya.

“Sehun tidak suka jika melihat wanitanya mabuk, kau tahu!” Omelnya yang lantas membuatku memutar bola mata. Peduli apa dia padaku. Mengingat apa yang dilakukannya padaku, tidak seharusnya Donghae Oppa ikut-ikutan melarangku.

“Kau tahu bukan, Sehun akan kembali malam ini?”

Lagi-lagi sebuah kabar mengejutkan tentang Sehun. Aku mengangguk berpura-pura tahu. Padahal aku pun sama sekali tak tahu perihal keberangkatannya ataupun kepulangannya. Rupanya dia sekarang lebih menganggap Donghae Oppa istrinya dari pada aku.

“Jadi… sudahkah kau mempersiapkan apa yang seharusnya dipersiapkan seorang istri?”

Apa-apaan Donghae Oppa ini. Kupandang wajahnya, benar dia sedang mabuk. Sebelum keadaan bertambah parah, aku pun segera berlalu dari tempat itu. Nyatanya tangan ku pun dicekalnya. “Irene-yah, kau mau kemana. Tetaplah disini!”

“Lepaskan Oppa, astaga kau benar-benar mabuk!” Kataku berusaha melepaskan tangannya.

“Kau sangat cantik Irene-yah, sayang sekali bahwa kau adalah istrinya Sehun?”

Astaga apa yang diucapkannya. Apa pula yang harus kuperbuat sekarang? Separuh dari orang yang ada diruangan ini benar-benar mabuk. Bahkan sudah tak kutemui para anggota Red Velved di sini. “Oppa, lepaskan aku!”

“Bagaimana jika aku tidak mau? Ayolah, kita tunggu Sehun bersama-sama disini?” Walaupun mabuk, ternyata cengkramannya sangat kuat. Haruskah aku berteriak, tapi tidakkah itu membuat semuanya bertambah runyam. Bagaimana pun aku masih menganggap Donghae Oppa sebagai seniorku.

Ditengah-tengah kekalutanku, seseorang tiba-tiba muncul. Menarik tanganku yang masih dalam cengkramannya. “Hey Hyung, lepaskan istriku!” Begitulah katanya.

Seperti ilusi. Begitulah saat kata yang sudah lama tak terdengar tiba-tiba terdengar di telingahku. Aku menatapnya tak percaya. Seseorang ini adalah seseorang yang sudah lama aku rindukan. Bagaimana dia ada disini? Pertanyaan itu tidak cukup penting untuk diutarakan.

Yang terpenting adalah, bagaimana dia masih peduli padaku.

“Ayo pergi!” Ajaknya begitu berhasil melepaskan tanganku dari Donghae Oppa. Bukannya mengikuti intruksinya aku malah tak berkutik di tempat kakiku berdiri. Masih tak percaya. Benarkah aku masih berada dalam kesadaran?

“Ayolah Irene-yah?” Dia menarikku lagi. Hingga tak ada jalan lain bagiku untuk menolaknya. Aku mengikuti intruksinya selanjutnya. Berjalan di area parkir dan masuk dalam mobil.

Pada keadaan itulah, semuanya seolah seperti mimpi.

Sehun POV

Keadaan menjadi canggung saat kita berada di jarak yang sedekat ini. Menyadari bahwa seharusnya aku begitu bersyukur  memandang wajah yang sangat kurindukan. Hanya dipisahkan dashboard mobil, jarak antara aku dan dia sangatlah dekat. Walau begitu dirinya lebih memilih menghadap ke depan. Memandang lampu-lampu kota, seiring dengan berjalannya mobil mengikuti intruksiku.

“Ehm… bagaimana kabarmu?” Kataku sedikit basa-basi. Tak bisa kubiarkan keadaan secanggung ini. Salah satu dari kita harus ada yang bicara lebih dulu.

“Baik.” Jawabnya singkat tanpa menatapku. Aku pun tak berharap lebih dari pertanyaan yang aku utarakan karena aku pun seharusnya tidak berhak menanyakan itu.

“Bagaimana dengan comeback Red Velved?” Pertanyaan tolol itu begitu saja melintas di kepalaku. Itulah sebabnya dia hanya menatapku sekilas. Tiga bulan bukanlah waktu singkat, sangat disayangkan jika kita hanya berbicara soal pekerjaan,“Ehm… maksudku apa kau ingin pergi ke suatu tempat, mall atau…-

“Tidak usah!” Jawabnya langsung. Sungguh, lama-lama aku pun capek jika dia tetap mengacuhkan seperti ini.

“Bisahkah kita berhenti  sebentar.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Aku pun mengiyakan. Kutepikan mobil ke sisi jalanan yang agak sepi, tepat dibawah pohon lantas menunggunya bicara.

“Maafkan aku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir kecilnya. Sementara aku menunggunya untuk mengeluarkan suara lebih banyak. “Aku sudah bersalah padamu, untuk semua kebohonganku, semua kesalahan yang kulakukan padamu dan juga untuk Jaehyun.”

Pandanganku mengikutinya. Menatap sorot lampu kota yang kini mulai remang. Berselingan dengan semakin sepinya jalanan kota Seoul. Hanya bis-bis umum yang sesekali masih beroperasi.

“Sudahlah, kau tidak bersalah.” Ungkapku, mengutip perkataan Hyemi yang kemarin baru bicara padaku. Dikatakannya Irene sama sedihnya denganku karena dengan musibah itu. Bahkan yang tidak kuketahui, dia sempat dibawa ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya.

“Sesuatu yang sudah terjadi memang sulit untuk dilupakan.” Ucapannya berubah lirih.

“Maksudmu?”

“Semuanya berbeda Sehun…,  kau bahkan tidak bisa lagi memandangku tanpa kau mengingat kakakmu….” Untuk pertama kalinya dia menatap tajam kepadaku. Dan baru kusadari ucapannya memang benar. Wajahnya mulai merebak saat aku membalas tatapannya. Pandangan berbeda dari aku yang dulu dan aku yang sekarang. Jika dulu aku selalu memandangnya penuh cinta, sekarangpun juga demikian. Cinta itu tetap ada, namun tidak penuh seperti dulu.

“Pada saat itu terjadi, akupun sudah memikirkannya bahwa alangkah baiknya bahwa kita…-

“Cukup!”

“Sehun…?”

“KUBILANG CUKUP!!!” Teriakanku membuat Irene terhenyak. Mata kami yang saling beradu membuat kebencian-kebencian itu kembali muncul.

“Apa, mengapa kau tak mau mendengar? Setelah apa yang kau lakukan kepadaku bukankah kata itu adalah yang terbaik?” Katanya menentangku.

“Aku butuh waktu!”

“Berapa lama lagi, apa kau pikir aku barang yang bisa kau gunakan sepuasnya? Kau pergi tiga bulan tanpa memberi tahuku, kau bahkan pergi bersama seseorang yang sangat ku kenal. Jadi apa lagi yang bisa ku pertahankan jika kau sama sekali tak menganggap…-

“KUBILANG HENTIKAANN!!!” Ucapku yang hampir memecahkan dashboard mobil. Dia terhenyak di tempat duduknya. Air matanya keluar dan semakin deras. Inilah saat-saat dimana kebencian dan juga cinta membaur menjadi satu. Tak bisa diprediksi mana yang lebih dominan terhadap keduanya. Saat aku tak bisa kembali ke diriku yang dulu, tidaklah keharusan untuknya bertahan pada dirinya yang sekarang. Semuanya akan berubah walaupun aku belum siap.

“Baiklah, lakukan sesukamu sekarang!” Ucapan terakhir dari mulutnya sebelum ia mengakhiri pembicaraan kita. Lalu dengan gerakan cepat dia menarik pintu mobil dan keluar.

Tak ada tindakan apapun dari seorang pria brengsek sepertiku. Harusnya sebagai suami, aku berlari mengejarnya, menenangkannya dan tidak membiarkannya berjalan sendiri dalam tengah malam. Tapi yang kulakukan justru hanya duduk dalam mobil mengawasinya hingga bayangannya menghilang. Dia ingin berpisah. Tentu saja aku tahu, tapi bagaimana jika akulah yang tidak mau hal itu terjadi. Karena yang kumau adalah menjadikan satu-satunya orang yang kusalahkan sekaligus orang yang bertahan dalam hubungan ini.

***

Aku masih terdiam. Tertunduk sepi di ujung tangga, tempat yang selama ini sangat aku inginkan kembali. Siapa yang tak menyangkah bahwa tempat yang ada dipinggiran kota yang menjadi saksi atas berjalanlah sebuah hubungan, kini hanyalah berbentuk bangunan kosong tanpa jiwa.

Sudah kuduga, setelah apa yang kulakukan padanya,  Irene tak akan menuju rumah ini. Mungkin dorm atau rumah Wendy jauh membuatnya nyaman atau sedikit membuatnya tenang. Terhitung sejak 4 bulan, aku tak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Tempat yang masih bersih juga rapi. Terbayang Irene yang setiap hari membersikannya karena menolak menyewa seorang pembantu. Kadang pada sela-sela waktu aku mengganggunya, melemparinya dengan kecoak mainan sehingga dia berteriak sampai akhirnya memukulku.

Sedikitnya kenangan yang menyebalkan justru membuatku tertawa. Namun pada akhirnya kenangan itu pulalah yang membuatku menangis. Tangisan yang selama ini kutahan karena aku sikapku yang pantang menangis di depan orang. Tapi pada satu-satunya tempat yang membuatku menangis, aku justru menangisi seseorang.

Sedang apa dia sekarang? Apa keadaannya sama menyedihkannya denganku? Jika dia menangis, aku mohon tuhan jangan memberikannya air mata lagi. Karena mungkin tuhan akan tidak suka jika air mata itu sia-sia.

***

Irene POV

“Apa Irene sudah tidur?” Suara Wendy terdengar dari ujung pintu. Kupastikan dia melihatku tergeletak di kursi tengah, berbaring memalingkan muka sambil dikelilingi para member Red Velved lainnya. Mungkin ia mengirah aku sudah tidur setelah tangisan hebat yang kulakukan tadi.

“Dia menangis lagi?” Suara Yeri menimpali. “Ck-ck-ck, aku penasaran, mungkin jika air mata eonnie dikumpulkan, itu bisa digunakan untuk memandikan gajah sampai cucu-cucu gajah.”

Pernyataan spontan membuat para member tertawa, “Dibanding untuk memandikan gajah, lebih berguna jika digunakan untuk menyiram Si Sehun sialan!”

Ya, aku setuju dengan ucapan Wendy. Bukan hanya menyiram, rasanya aku ingin menenggelamkan dirinya dalam lautan paling dalam.

“Mengapa mereka tidak berpisah saja sih?”

Yeri tidak mengerti. Memang itulah yang kuinginkan dan keinginan itu pulalah yang membuatku menangis.

“Irene eonnie terlalu cinta dengannya, makannya dia tidak ingin berpisah.”

Setengah dari jawaban Seulgi bisa dibenarkan. Aku memang terlalu cinta, namun dia yang menolak berpisah denganku.

“Jika aku tahu ini terjadi, Harusnya dulu aku tak membiarkannya mendekati eonnie.” Lagi-lagi ucapan Si Maknae kecil membuatku terharu. Mungkin kapan-kapan aku harus mentraktirnya ice cream nanti.

“Mungkin faktor usia yang membuat mereka tidak cocok. Di usia seperti itu harusnya Irene Eonnie dulu mendekati Siwon atau Suho saja, para lelaki yang banyak harta.”

Tidak bukan seperti itu. Suara siapa yang mengatakan begitu. Dan perl diingat, aku bukan tipikal wanita matre yang mendekati pria kaya. Jika memang benar, bukankah dulu aku mendekati CEO SM saja?

“Tapi mereka sangat kaya, aku khawatir Irene eonnie tidak bisa berbaur dengan keluarganya.”

Rasanya aku ingin tertawa mendengar obrolan mereka yang semakin nyeleneh dan terdengar tolol.

“Benar juga, kelakuan leader kita kan sedikit…- kampungan?”

“Apa yang kau katakan???” Akhirnya akupun menyudahi akting pura-pura tidurku, sebelum mereka semakin jauh meledekku. Ekspresi terkejut langsung ada di timbul di wajah masing-masing, terutama Joy yang telah mengatakan bahwa aku kampungan.

“Eonnie, ku kira kau sedang tidur?”

“Aku tidak sebegitu bodohnya hingga tak mendengar semua ucapanmu.”Kataku, membuat mereka sedikit bersalah walaupun aku sendiri lebih memilih untuk melupakannya.

“Jadi apa jadwalmu hari ini, aku ingin mengajakmu ke spa, menonton teater lalu shoping seperti biasa.” Tawaran bagus datang dari Wendy. Dia lantas menghambur ke arahku, memamerkan beberapa voucher yang entah ia peroleh dari mana.

“Entahlah, saat ini aku sedang malas.”

“Apa karena Sehun lagi?” Timpal Yeri langsung mendapat pukulan kecil dari Joy.

“Kau ini, sudah kubilang berhenti menyebut namanya di hadapan eonnie, nanti dia jadi menangis.”

Yeri yang mendengarnya langsung memasang ekspresi bersalah. Sudah kubilang anak itu sangat imut. Cukup sebagai penghibur disaat aku sedang sedih atau aku sedang kelelahan.

“Begitukah, apa eonnie sebegitu sedih karenanya?” Tanyanya, yang lagi-lagi mendapat sahutan dari Joy. “Nde, dia benar-benar sedih. Kau tahu?”

“Baiklah, ikut aku eonnie!” Tanpa bisa kupridiksi Yeri menggandeng tanganku, berjalan keluar ruangan. Melewati lorong-lorong kecil dari lantai atas hingga memasuki sebuah ruangan yang kukira cukup tersembunyi.

“Hey, apa yang kau lakukan?” Tanyaku tak mengerti. Diikuti ketiga member lainnya yang berjalan di belakang.

“Kau ingin, memberi dia pelajaran bukan, disinilah tempatnya.”

Akhirnya dia pun membawa kami pada sebuah tempat. Tempat yang kukira sangat rahasia, berisikan beberapa poster idol K-POP laki-laki yang tertempel di beberapa dinding. Termasuk juga, Jungkook BTS, Scoup Seventeen, Taeyong NCT juga Sehun EXO. Anehnya setiap gambar tersebut memiliki coretan-coretan warna merah. Seperti sengaja, gambar itu dilempari sesuatu agar membuat wajah idol itu menjadi jelek.

“Apa ini?”

“Ehm… sebenarnya, ini tempat rahasiaku. Kau tahu kan eonnie, saat kau menikah dengan Sehun Oppa, itu membuatku… um… sedikit kesal. Jadinya aku membuatnya tempat ini sebagai bentuk kekesalanku. Aku bertindak menjadi fangirlnya, melempari wajahnya dengan tomat, atau benda-benda apapun yang pokoknya membuat wajah mereka jelek.”

Sebuah penjelasan panjang yang membuatku sedikit tertawa. Baik aku maupun member red velved lainnya tertawa terbahak-bahak menyadari kelakuan aneh maknae kita. Ya, kecuali Seulgi yang terkejut menyadari gambar kekasihnya Taeyong sudah tercoret-coret dengan warna merah.

“Jadi… jadi kau menyukai Sehun, hahaha…!!!” Tawaku tak bisa reda.

“Sudalah eonnie… itu kan dulu.  Melihat kau yang menangis seperti tadi, hal itu membuat rasa cintaku berubah menjadi benci?”

Sekali lagi aku tak bisa menahan tawanya. Bukan karena gambar Sehun yang sudah berlumpuran warna. Melainkan gambar, Jungkook, Scoups, Taeyong juga tak kalah mengenaskan dengan coreatan tinta dan banyak  lemparan tomat.  Hal itu cukup membuktikan bahwa kisah cinta maknae kita cukup menyedihkan.

“Jika Irene Eonnie tahu akhirnya seperti ini, dia pasti lebih rela kau yang bersanding dengan Sehun Yeri-ah?” Ungkap Joy, yang sedikit kurang kusetujui. Dan mendapat pelototan mata dariku.

“Dan tidak seharusnya kau melempari Taeyongku seperti ini???” Mendengar teriakan Seulgi, Yeri hanya memutar kepalanya.

“Baiklah, demi kebaikan leader kita dan Red Velved, mari kisa musnahkan Sehuuuunnnn…. Plook!! Satu butir tomat mengenai wajah Sehun saat itu.Membuatku mengangah tak percaya, walaupun itu hanya sebuah poster ternyata timbul kesakitan juga saat melihat wajahnya berubah menjadi merah. Sementara itu ketiga memberku malah berteriak kegirangan seolah baru memenangkan lotere.

“Untuk kebahagiaan dan persatuan para wanita, mari kita tumbangkan Sehun… Plokkk! Dua butir tomat sudah mengenai wajahnya. Entah kenapa masih belum kutemui kepuasan itu.

“Eonnie, kau harus lempar. Lihatlah aku.- Ujar Yeri seolah menyontohkan gerakannya, “Dan untuk air mata eonnie dan maknae kita, mari kita bunuhhhh… Sehhhhuuu…-

“AH CUKUP HENTIKAN!!!” Teriakku seketika. Sebelum Yeri melempar tomat ketiganya, aku sudah berlari ke arah gambar Sehun. Mengusap wajahnya yang penuh dengan warna tomat dengan bajuku sendiri, seolah bahwa wujud itu benar-benar wujud nyata Sehun. “Lihat apa yang kalian perbuat, wajah tampannya berubah jadi merah?”

“Eonnie, kau menangis?” Tanya Yeri.

Benarkah, aku sendiripun tak tahu bahwa aku benar-benar menangis karena hal konyol seperti ini. Tapi memang kurasakah pipiku memanas lalu air mata perlahan turun membasahi pipiku.“Tolong jangan berbuat ini lagi Yeri-ah, Aku tidak akan mau menyiapkan sarapan untukmu lagi jika kau seperti ini.”

“Aniyo, eonnie. Kukira kau akan bahagia melihatnya. Tapi kau malah menangis lagi.”

Benar, mengapa aku malah menanggis. Tidakkah ini membuatku puas karena telah membuat pelajaran untuknya. Walau hanya sebatas imajinasiku saja.

“Irene-yah, apa kau tahu apa artinya ini?” Ujar Wendy, menepuk pundakku pelan lalu tersenyum dengan hangat.

“Apa?”

“Kau mencintainya, berhentilah mengatakan bahwa kau ingin berpisah dengannya..”

***

Sehun POV

Sebuah mobil terlihat menepi pada batas pagar. Dikendarai sendiri oleh sosok wanita berkulit pucat dengan balutan pakaian musim dingin juga scraft. Dia lantas keluar, melihatku yang sudah menunggu di kursi taman, membuat langkahnya kian semakin cepat ke arahku.

“Jangan berlari Naomi, nanti kamu jatuh!” Ujarku padanya, menilik pada hells setinggi 10 cm yang dipakainya. Namun dia masih menyunggingkan senyum termanisnya.

“Aku tak percaya kau mengajakku bertemu hari ini Oppa. Lagi pula jarang orang sibuk sepertimu meluangkan waktu untuk seorang gadis?”

Ganti ucapannya yang membuatku tersenyum. Walaupun dia tak bisa melihatnya karena masker yang menutupi wajahku. Aku memang sengaja menyuruh Naomi kesini. Barangkali dia berharap sesuatu yang lebih dari sekedar pertemuan. Walaupun memang benar, ada hal yang lebih dari sekedar penting untuk kukatakan langsung padanya.

“Kau sibuk hari ini?”

“Ya, sedikit. Ada sekitar 2-3 pemotretan majalah hari ini dan lihatlah aku bisa meluangkan waktu untukmu.”

“Terima kasih untuk itu. Dan maaf, aku tak bisa membalasnya.” Kataku tulus.

“Aku tahu, kau sangat sibuk dengan EXO!” Balasnya menyindirku. “But it’s okey, jika kita harus bertemu diam-diam dan  malam-malam seperti ini aku pikir tak ada masalah.”

“Memang benar masalahnya bukan pada kita, tapi pada seseorang.”

“Apa maksudmu?”

“Istriku!” Ekspresinya langsung berubah. Menyadari Irene adalah inti dari semua pembicaraan ini.

“Kau tahu kan, aku sudah mempunyai istri. Harusnya kau bisa menerimanya Naomi?” Sambungku.

“Oppa, bukankah dia…-

“Dia adalah mantan kekasih Hyungku yang saat ini menjadi istriku. Dia masa lalunya, penyebab kematiannya, apapun julukannya aku tak perduli karena dia yang sekarang adalah seorang istri Oh Sehun.”

Perlahan ucapanku membuat air matanya mengalir. Menatapnya begini hampir membuatku tak tega. Manakah wajah ceria yang tadi sempat kulihat. “Apa kau memanggilku kesini hanya untuk mengatakan itu?”

Ya!” Ujarku singkat. “Dan aku meminta tolong agar kau menerimanya sebagai istriku, jangan ganggu dia dan tolong jangan mencari-cari kesalahannya seperti itu.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Maka aku akan terus memohon padamu.”

“Berhentilah mimpi Oh Sehun!”  Katanya sebelum beranjak, namun aku pun berhasil menarik pergelangan tangannya, memeluknya walaupun tangannya memberontak memukuli dadaku. Lalu sampai kusadari, bajuku basah oleh air mata. Dia pun menangis.

“Pria jahat! Brengsek! Hanya kau satu-satunya pria yang kucintai, tapi mengapa kau perlakukan aku seperti ini?” Cecarnya. Tak peduli seberapa sakit dia memukulku asal dia tidak melakukannya pada Irene.

“Untuk itulah, aku tidak pantas kau cintai sebesar itu!”

“Lepaskan aku!” Intruksinya, menyuruhku agar aku melepaskan dekapannya. Ia memandang alas kakinya, sepatu kaca hak tingginya, ia arahkan ke bangku taman hingga terbela menjadi dua. Kemudian, satu bagian runcingnya, ia arahkan ke tangannya. Berniat menyakiti dirinya sendiri.

“ Kau lihat ini, jika kau kembali lagi ke istrimu, aku bersumpah akan menghabisi diriku sendiri. Untuk apa aku hidup jika tak bisa memilikimu?”

“Kalau begitu tunggu sampai aku melakukan hal yang sama denganmu?”

“Mengapa… MENGAPAAA???”

“Karena tak ada gunanya aku hidup jika tak bisa membuat orang disekitarku bahagia?” Jawabku tulus. Ungkapan dari hati yang terdalam yang justru membuat tangisnya semakin hebat.

“Kau mencoba memprovokasiku bukan? Kau ingin aku melihatmu bahagia sementara aku menangis sendiri?” Dia tersenyum sinis.

“Tidak ada gunanya melakukan itu. Kau tahu, Jaehyun Hyung bahkan mengatakanku agar tidak boleh membuatku menangis.” Kataku mengusap air matanya. “Naomi, katakanlah kita menikah dan kita hidup bersama. Maka hanya kau yang akan merasa bahagia dan kau pun tak akan bisa memilikiku seutuhnya. Tapi dengan menikah dengannya, aku merasa bahagia, dan aku pun merasa diriku utuh!”

“Naomi, aku hanya ingin meyakinkanmu. Meyakinkanmu sebagai satu-satunya orang yang dekat denganku dan megerti aku. Kita sudah bersama sejak lama, sebenarnya tanpa bersama pun, kau sudah memiliku.”

“Apa kau masih tak percaya aku? Jika aku bukan milikmu tentu aku tidak akan mau bertemu denganmu, mengajakmu malam-malam disini, membuat kue bersama, bertemu di luar negeri, semua itu kulakukan semata-mata karena aku adalah milikmu?”

Kata-kataku membuatnya terdiam cukup lama. Masih kugenggam serta tangannya memohon untuk kepengertian yang akan diberikan padaku nanti. Bagaimanapun aku sangat mengenalnya. Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh terutama untuk menyakiti orang lain.

Perlahan ia melepaskan potongan sepatunya lantas berpaling menjauhiku. “Kau milikku bukan?” Ucapnya sangat parau.

“Tentu.”

“Jika kau benar milikku tentu kau akan menuruti kataku bukan?” Katanya lagi. Membuatku curiga bilamana dia menyalahgunakan ucapanku tadi.

“Tolong bawa Irene kesini, karena aku belum memberi kado untuk pernikahan kalian?”  Begitu terkejut dengan apa yang dia ucapkan sehingga tanganku respek menariknya dan memeluknya. Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Naomi akan mengerti atas apa yang seharusnya dia lakukan walaupun melepaskanku bukanlah hal yang mudah.

“Oppa lepaskan aku, jika kau tidak ingin bersalah karena mencampakkanku.” Ucapnya menyuruhku segera melepaskan pelukanku. “Pertemukan kami segera.”

“Pasti.”

“Dan juga…- ucapannya sedikit terpotong dan terlihat malu-malu- “Kenalkan aku pada Chanyeol Oppa?”

“Wae, kau menyukainya?” Ujarku terkejut.

“Karena kukira hanya dia yang mirip denganmu?”

“Tidak akan kucarikan pria yang lebih baik. Tolong jangan dari EXO, Aku sudah mengetahui sifat brengsek mereka dan…-

“Oppa?” Tiba-tiba dia memotong ucapanku

“Wae?”

“Bolehkah aku memelukmu sekali lagi dan untuk yang terakhir kali?” Menatapnya sejenak, aku pun mengangguk.

“Pasti. Kapan pun kau membutuhkanmu.”

Dan diapun langsung menghamburkan diri ke pelukanku. Untuk yang terakhir. Benar mudah-mudahan untuk yang terakhir.

***

“Sehunnah, kau tidak pulang?” Suara eomma mendekat. Berdiri dari atas balkon rumah yang sejejar disampingku. Setelah malam-malam panjang, aku memutuskan pulang sejenak ke rumahku. Rumah yang kuhuni bersama eomma daan juga keluargaku. Walaupun ada sedikit keterkejutan karena aku kemari tak membawa Irene.

“Bukankah ini juga rumahku eomma?” Jawabku yang langsung membentuk senyum di bibirnya. Tentu saja pulang yang dimaksud adalah ke rumah yang aku huni dengan Irene. Mungkin ia berpikir bahwa aku hanya mampir atau sekedar datang kemari.

“Wae, apa terjadi masalah kau dengan istrimu?” Lagi-lagi eomma tersenyum. Seperti perasaan seorang ibu yang peka terhadap sesuatu yang menimpa anaknya.

“Memang benar, akulah yang membuat kalian menikah.” Kungganti posisi agar bisa melihat eomma sepenuhnya. Mendengar cerita dari yang bersangkutan akan mungkin lebih baik dari pada melalui orang lain.

“Sebelum Jaehyun menceritakan pada kita, aku sudah mengenal dia lebih dulu. Tanpa sepengetahuannya aku datang menemuinya, memberinya peringatan agar dia menjauhi Jaehyun. Namun dia menolak.” Ucap Eomma berhenti, mengambil napas sejenak.

“Sebagai gantinya eomma menyuruhnya berjanji agar tidak sampai menikah dengannya. Dengan begitu kesempatan mereka hanyalah sampai batas Jaehyun menikah dengan  orang lain.” Air mata perlahan turun dari matanya. Namun hal itu tak menghentikanku untuk tetap mendengarkan ceritanya.

“Malam itu, adalah malam dimana aku menyuruhnya menikah dengan orang lain. Kakakmu menolak, keluar dari rumah untuk membawa Irene pada kita. Namun semuanya tidaklah berubah. Irene menepati janjinya untuk menolaknya dan segalahnya telah berak…”

“Eomma, sudalah!”  Kataku, tak ingin eommaku sakit lagi atas beban yang dideritanya.

“Maafkan eomma Sehun…!!” Kali ini eomma berlutut. Sesuatu yang pada dasarnya tak boleh dilakukan seorang ibi terhadap anaknya. “Eomma tidak pernah memaksanya menikah denganmu, ini adalah pilihannya sendiri.”

“Eomma sudalah, kumohon berdirilah, aku tak suka melihatmu begini.”

“Jika boleh eomma memohon, jangan hancurkan hatinya untuk kedua kalinya. Kau harus berjanji untuk membuatnya bahagia. Demi eomma dan demi kakakmu.”

“Eomma, aku…- Ucapku terputus.

“Tolong berjanjilah pada eomma.”

Dengan perlahan, akupun menganggukan kepala. Sebuah keputusan besar yang aku ambil hari ini dan berlaku untuk selamanya. Menjaga dia dan tidak menyakitinya.

“Eomma yakin, kalian berdua sebenarnya sangat mencintai. Tolong jangan buat keputusan ini sia-sia Sehun…” Lagi-lagi aku mengangguk. Membuat eomma perlahan-lahan melepas genggamannya dan membelai pipiku. Kuhapus air matanya balik karena tak ingin wanita yang kucintai mengeluarkan air mata untukku lagi.

Bersamaan itu, ponselku berdering. Sebuah panggilan dari Chanyeol Hyung yang kurasa tidak begitu penting dan merusak suasana haru yang kubangun bersama eommaku. “Yoeboseo?”

“Apa kau tahu dimana Irene sekarang?” Bukannya menjawab salamku dulu, Chanyeol Hyung malah menanyakan hal yang benar-benar menyebalkan.

“Ya, dia sedang bersamaku sekarang.” Jawabku berbohong.

“Kau bohong!”

“Apa?”

“Apa kau tahu apa yang dilakukan istrimu sekarang, dia sedang bersama staff SM juga member EXO lainnya, dia mabuk dan para Hyung disini mempermainkannya.”

“ Ap-apa maksudmu?” Api seolah bergejolak di kepalaku. Kuambil posisi menjauh dari eomma, agar pembicaraan ini sekiranya tidak menimbulkan masalah. “Hyung, bicaralah yang jelas!”

Chanyeol Hyung mengambil nafas. “Dengarkan aku. Istrimu tadi minum terlalu banyak, dia mabuk. Tidak hanya istrimu, semua yang ada di tempat ini pun mabuk kecuali aku tentunya. Dan tahukah apa yang diperbuat orang-orang terhadap istrimu?”

“Apa-apa?” Kataku tak sabar.

“Orang-orang itu mengincinya di kamar bersama Suho Hyung!”

“MWO???” Pekikku setengah menjerit. Seketika tanganku mengepal, ingin menghantam siapapun yang tega macam-macam kepada Irene. “Katakan padaku, dimana mereka sekarang?”

“Di tempat biasa. Cepatlah kesini sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi.”

“Hyung, bukankah kau di tempat itu juga, kenapa kau diam saja dan tak mencegah hal itu?”

“Aniyo, jika aku yang mencegah, aku yang akan dihajar massa. Kau saja yang kesini. Palli palli!”

JBLAAAKK! Kubanting pintu mobil itu keras-keras dan segera melajukannya ke tempat itu. Apa-apaan ini, mereyakan kemenangan dengan mabuk-mabukan sekaligus mengunci istri orang dengan pria lain. Apa itu waras? Jika terjadi apa-apa dengan istriku bahkan jika hal yang tidak diinginkan tiba-tiba terjadi padanya, aku bersumpah akan menggugat SM beserta orang-orang di dalamnya.

Saking khawatirnya aku hampir saja menabrak pembatas jalan sebelum mobil kuberhentikan di tempat yang tepat. Apa ini? Sisa-sisa makanan juga bau alkhohol yang menyengat. Semua staff SM, personil Red Velved, Taemin Shinne, Amber dan Luna f(x) juga para personil EXO turut berkumpul di tempat ini. Mereka berkumpul di pojok ruangan dan terlihat sama-sama mabuk. Baekhyun, Chanyeol, Lay, Xiumin, Chen, Kyungsoo dan minus Suho Hyung. Astaga apa aku benar-benar terlambat?

“Dimana Irene Hyung, Dimana???” Geramku mencengkram kerah baju Chanyeol Hyung yang sudah hilang kesadaran.

“Oh, Sehunnah? Apa itu kau? Istrimu sudah berada di tempat yang aman….” Ucapannya benar-benar menyerupai orang mabuk. Mana yang katanya hanya dia yang tidak mabuk?

“DIMANA???”

Setengah sadar, Chanyeol Hyung memberiku kunci dan menunjuk salah satu kamar yang digunakan untuk menyergap Irene. Segera aku berlari kesana sebelum hal buruk benar-benar terjadi.

JBLAAAKK!! Pintu akhirnya terbuka lebar. Didalamnya ada dua sejoli yang saling berpanggutan mesra. Bukannya merasa kaget, justru akulah yang kaget disini bercampur rasa malu karena menyadari bahwa pasangan yang tersekap dan menikmatinya adalah… Jongin dan Krystal.

Sambil meminta maaf, akupun kembali menutup pintu dan menguncinya dari luar. Baru kusadari semua member tertawa dihadapanku. Entah itu untuk menertawakanku atau Jongin yang baru saja kupermalukan. Terpenting dari itu adalah bahwasahnya aku melihat Suho Hyung disini. Tidak mabuk dan justru meminum obat-obatan herbal. Chanyeol Hyung tiba-tiba menunjuk kamar samping, kamar yang sepertinya harus dimasuki.

Seorang gadis tergeletak diatas tempat tidur. Membuatku bersyukur karena gadis itu masih berpakaian lengkap dan kelihatannya sedikit mabuk. Dengan wajah yang sedikit berantakan, Irene berjalan ke arahku. Meraba wajahku dan menangis.

“Sehun, kau kah itu?” Ujarnya sengau. Seolah menyadari bahwa ini benar aku, dia mencengkram bajuku kuat-kuat dan memelukku.

“Pria jahat! Pria brengsek! Penjahat Sialan!!!” Tak sampai semenit pelukannya diapun memukul dadaku keras-keras.  “Tidakkah kau sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu? Mengapa kau perlakukan aku seperti ini? Mengapa???”

Kuputuskan untuk diam terhadap apapun yang dikatakannya kali ini. Dia sedang mabuk, dan orang mabuk cenderung berkata kebenaran terhadap apa yang selama ini terjadi dengannya.

“Apa kau merindukanku?” Tanyaku kemudian.

“Sangat. Aku sangat merindukanmu bodoh! Tapi kau Si Bodoh malah berkencan dengan gadis lain yang sama bodohnya denganmu. Bagus, kalian pasangan serasi yang sama-sama bodoh. Sedangkan aku adalah orang pandai. Sehun kau tak cocok untukku!”

Ucapannya yang sedikit nyeleneh membuatku sedikit tertawa, “Aku tidak bodoh, aku pandai, sama sepertimu.”

“Tidak! Kau bodoh. Hanya orang bodoh yang sampai sekarang tidak tahu bahwa aku mencintaimu.”

Pernyataan yang sangat menusukku walaupun itu keluar di alam bawah sadarnya. Jika benar begitu, aku adalah orang yang paling bodoh sedunia yang tega-teganya mengabaikan seorang yang begitu mencintaiku.

Kutarik tubuhnya untuk mendekapnya erat. Tapi sekali lagi Irene menolak dengan beberapa pukulan yang dia berikan kepadaku, “Jangan memelukku brengsek! Nanti Jaehyun marah. Arwahnya nanti akan menghantuimu.”

“Tidak, dia tidak akan marah. Kupastikan itu padamu!” Ucapku. Agak bodoh memang jika aku menanggapi ocehan orang mabuk.

“Benarkah Sehun?”

“Karena kau mencintaiku, dia tidak akan marah!”

“Kau mencintaiku, benarkah itu?” Irene mendekatiku, wajahnya yang seinci dariku benar-benar membuatku ingin…

“Aku mencintaimu, apa kau perlu bukti?”

“Nde, berikan aku bukti proposal dengan materai lengkap yang bertuliskan kau mencintaiku.”

Tak perlu kuanggap serius apa yang baru ia utarakan. Aku beranjak mendekat ke pintu lantas menguncinya. Kembali kutatap wajah yang benar-benar kurindukan, meskipun bau alkohol benar-benar menggangguku.

“Tidak perlu proposal Irene-yah? Aku akan membuktikannya malam ini.”

***

Irene POV

Pada akhirnya aku tak pernah tidur senyenyak ini. Berbulan-bulan jauh sebelum masalah itu ada. Masalah yang benar-benar membuatku lelah. Penuh peluh dan juga air mata. Sebuah kedamaian seolah-olah mendekapku, memelukku dalam wujud yang tak terdefinisikan. Hanya saja aku tidak sadar bahwa ketenangan yang aku dapat rupanya dalam bentuk seseorang.

Seseorang yang tak berani lagi kubayangkan keberadaannya.

“Kau sudah bangun?” Dia berucap lembut. Mendekapku juga membelai rambutku dengan sepenuh jiwa. Hampir saja aku tak percaya dengan pemandangan yang ada. Aku memberontak sekedar memastikanbahwa dia adalah delusi. Tapi nyatanya sosok itu menolakku.

“Biarkan seperti ini sebentar. Aku merindukanmu?” Pelukannya semakin erat. Membuatku hampir kesulitan bernafas.

“Sehun… apa ini mimpi?”

“Ini mimpi yang sudah menjadi kenyataan.” Ucapnya lembut.

“Lalu dimana kita?” Tanyaku begitu menyadari tempat yang sangat asing.

“Dorm EXO!”

“MWOOO???” Seketika aku menjerit kaget. Benar, ini bukan mimpi. Sehun yang sekarang tertawa jahil terhadapku. Aku tak mengerti apa yang sedang dia tertawai. Tapi melihat keadaan tubuhnya yang free, membuat aku memandang tubuhku sendiri yang ternyata juga tak kalah free tanpa busana. Tentu hal itu membuatku terkejut dua kali lipat.

“Apa yang telah kau lakukaaaannnn???”

“Kenapa bertanya padaku, tanyalah pada dirimu sendiri apa yang sudah kau lakukan terhadapku?” Lagi-lagi tertawa seperti orang licik. Kugunakan kesempatan itu untuk menarik selimut dan menjumputi sebagian pakaianku dan memakainya.

“Katakan padaku apa yang terjadi?”

“Kau mabuk dan melakukan hal itu padaku?”

“Bohong. Kau pasti yang mencuri kesempatan itu terhadapku, benar kan, ayo katakan padaku kebenarannya?” Desakku yang justru membuatnya tertawa.

“Mengapa tertawa?”

“Aku hanya merasa lucu padamu. Bukankah kita sudah pernah melakukannya, lalu kenapa kau sepanik itu…-

BLUKK!!! Kulempar beberapa bantal juga selimut ke arahnya hingga membuat tubuhnya tak terlihat. Begitu sial karena kamar ini tidak mempunyai kamar mandi untuk kupergunakan. Terpaksa di kesempatan kecil itu aku kembali menggunakan pakaianku dan bersiap-siap keluar.

“Kau mau kemana?Ada banyak member yang menjelma menjadi wartawan pagi ini. Kau tak mau kan, tiba-tiba menjawab pertanyaan tolol mereka?” Ujarnya. Setuju dengan apa yang dia katakan. Akupun tak sudi bertemu dengan para member grup sialan itu.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tunggulah sampai mereka pergi, pada situasi aman kita akan keluar bersama-sama.”

Terpaksa ku iyai apa yang dia katakan. Aku pun tidak banyak tahu tentang aktivitas EXO akhir-akhir ini, berbeda dengan Red Velved yang jelas kuketahui karena aku leader. Menilik tentang kejadian malam kemarin, aku benar-benar tidak ingat atas apa yang terjadi. Yang kuingat hanyalah, Chanyeol mengajakku ke sebuah tempat, menyodorkanku minuman dan sudah. Aku tidak mengingat kelanjutannya.

“Kau, apa kau ingat apa yang kita bicarakan kemarin?” Tanyanya pelan. Membuatku memandang sekilas keadaan tubuhnya yang belummemakai baju.

“Aku tidak ingat apapun.”

“Orang bilang, ketika seseorang mabuk dia bisa mengatakan semua kebenaran hidupnya?”

“Benarkah? Memang apa yang ku katakan?”

Dia tak menjawab. Perlahan kakinya mendekat ke arahku. Membuatku bergidik walaupun sudah kesekian kali aku memandangnya dengan kondisi topless seperti ini. “Maafkan aku?” Ucapnya tiba-tiba.

“Untuk?”

“Semua sikapku selama ini. Menyakitimu, membuatmu terluka bahkan menangis.” Kudengar dari nada suaranya dia memang mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

“Aku sudah bersalah selama ini, membohongi perasaanku demi hal yang kupikir sia-sia. Untuk sekarang sudah kumantapkan hatiku untuk mencintaimu, menjagamu juga menghabiskan hidupku sampai kita tua dan rambut kita memutih di usia senja kita.”

Semua perkataannya nyatanya membuatku tersenyum. Apa yang dia pikirkan. Benarkah ini Sehun yang  kukenal. Aku tak tahu apa yang kukatakan semalam, tapi nampaknya kejadian semalam telah merubah segalanya.

“Irene-yah, apa begitu sulit memaafkanku?” Tanyanya lagi.

“Arraseo, aku mengerti.”

“Kau mengerti?”

“Kupikir kar-kar-karna kita sudah melakukannya, bi-bi-bisaka kita melupakan yang lalu?” Rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri. Oh Irene, apa yang barusan ku katakan. Berkata dari kata-kata tololku, Sehun pun akhirnya tersenyum evil. Dengan pandangan yang sama sekali sulit kudefinisikan.

“Apa, mengapa menatapku seperti itu?”

“Aku tak mengerti apa yang kau ucap. Coba ulangi?”

“Aisshhh… tidak mau. Aku tidak akan mengatakannya?”

“Ayo cepat katakan?”

“Sehun, apa yang kau lakukan.” Kataku memekik saat tubuhku ditariknya hingga terlentang di tempat tidur. Sementara kedua tangannya ia gunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak menindihku.

Pada jarak yang sedekat entah kenapa getaran itu masih ada. Rasa yang ku alami saat pertama kali bertemu wajahnya. Untuk sekali lagi menyadarkan diriku bahwa aku benar-benar mencintai makhluk ini. Makhluk yang dikirim tuhan kepadaku. Betapa pun sulit masalah yang kita hadapi tidaklah menghapus perasaan cinta yang kuberikan padanya.

“Apa yang kita lakukan, apa seperti ini?” Perlahan wajahnya itu mendekat ke wajahku. Tentu sulit jika aku harus menolaknya pada posisi yang seperti ini. Maka yang bisa aku lakukan hanyalah memejamkan mataku. Pasrah terhadap apa yang setelah ini Sehun lakukan.

Dan tiba-tiba…

BLAAAKK! Seperti suara pintu yang dibuka secara paksa.

“Sehunah, apa yan kau lakukan?”  Tak bisa kubaangkan bahwa Si Jongin sialan itu ternyata akan membalas Sehun lebih parah dari ini. Aisshhhh!

***

Special Moment With Hunrene Couple

Sehun Irene has a photoshoot for Ivy Club

“Dasar bodoh, apa yang kau lihat dariku sampai-sampai ekspresimu menjadi perbincangan netizen?” Katanya memukul kepala suaminya pelan. Sebelum kepala itu ia sandarkan pada kakinya untuk berselonjor di shofa.

“Aku hanya melihat istriku, apa itu salah?” Jawabnya tanpa rasa bersalah. “Para netizen saja yang berlebihan sampai-sampai menganggapku orang mesum.”

“Tapi kau memang mesum, arraseo!” Bantah Irene tak mau kalah. Karena vidio itu para personil EXO maupun Red Velved meledeknya habis-habisan. Hanya Sehun saja yang tak tahu malu.

“Benarkah?” Giliran Sehun yang berlagak bodoh.

“Apa? Mengapa menatapku seperti itu?”

“Memangnya apa lagi?”

***

            Irene has coming to Concert EXO’rDIUM in Japan

“Sudah kubilang, tak usah datang, mengapa kau keras kepala sekali?” Ucap Sehun sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal namun cukup pusing karena tingkah baru istrinya ini.

“Aku hanya ingin mendukungmu apa itu salah.”  Sementara itu, Irene terlihat tenang-tenang. Tak tahu bahwa kedatangannya di EXO’rDIUMhampir saja menimbulkan skandal. “Lagi pula aku tadi datang bersama Wendy, tapi di ujung acara tiba-tiba diamenghilang.”

“Ck-ck-ck, bukan begitu cara mendukungku.”

“Lalu apa?” Berlagak tidak tahu apa yang akan Sehun lakukan, Irene membiarkan saja saat suaminya merahi tangannya, berusaha mendekat.

“Genggam tanganku, tatap aku, cium kemudian katakanlah, Sehun aku mencintaimu dan aku pastikan aku akan selalu setia disisimu.”

***

Sehun Irene has dating in Hawai

“Ini semua salahmu, bukankah sudah kubilang, jangan keluar sebelum aku keluar. Inilah jadinya, insiden hotel kita menjadi perbincangan lagi!” Irene mendengus kesal. Saat sebuah skandal baru lagi-lagi menimpahnya melalui media onlinne.

“Sebenarnya apa yang kau khawatirkan, lihatlah banyak yang menyimpulkan sekaligus mendukung bahwa kita pasangan serasi!” Tidak sepeti Irene yang tampak shock, Sehun justru semakin tenang-tenang mendengarnya.

“Tapi tak sedikit pula yang ingin membunuhku jika aku memang sehotel denganmu.” Bantahnya tak mau kalah.  “Kau mendapat kamar bersama Suho Oppa tapi kenapa kau malah menukar denganku!”

“Astaga, apa kau tak mengerti, tentu saja karena aku ingin bersama istriku?” Jawaban spontan dari mulut Sehun yang justru membuatnya semakin salah tingkah. Tentu saja pria ini ingin menggodanya lebih jauh,

“Kau sudah bersamaku setiap malam, apa itu kurang?” Alih-alih menggoda, Sehun justru memakan godaannya tersebut. Ditatapnya wajah istrinya dengan pandangan mematikan. Walaupun ia sudah sering menggunakannya di situasi seperti ini nyatanya itu masih membuat istrinya tak berkutik.

“Tentu saja. Aku bahkan ingin bersamamu seumur hidupku!” Ucapannya lagi-lagi membuat pipi Irene memerah.

Aisshhh… Sehun memang begitu.

***

WAAAAAA! Akhirnya dengan menghirup nafas lega Proposal Married selesai sudah! Seneng bgt rasanya bisa ngetik END dia akhir chapter, walau kenapa di bagian ending aku agak kurang puas hhehe Tapi semoga gak ngecewain yah?

Terhitung 6 bulan aku ngerjain FF ini kepotong 1 bulan gegara KKN sama 1 bulan nyempil2 inspirasi yg tiba2 ngilang.. Aku minta maaf bgt kalo part ini nggak sesuai dengan harapan semua orang. Juga banyaknya typo yang bertebaran, juga pembaca2 di bawah umur yg  sering ngirim msg di IG aku. Sejujurnya kalian bikin aku geleng2 kepala. Bikin aku mikir juga buat nulis yg lebih ehmm… dari ini. Tapi ya sudahlah.

Terima kasih juga aku ucapkan pada pembaca setia FF ini yang selalu bilang next next melulu tanpa peduli betapa sibuknya aku dengan dengan tugas kuliah. Tapi nggak papa, sebenarnya aku tipe penulis yg jarang nerusin cerita sampai akhir sih, dan komen 2 n review kalian justru sangat membantu ngasih aku semangat. Dan hasilnya, nih FF selesai deh. Walaupun kadang aku nggak bisa bales2in semua komen kalian, tapi aku tetep baca kok (dan senyam-senyum sendiri kalo dipuji di komen lol). So, makasih banget yaaaa bagi kalian yang namanya aku sebut di bawah ini

 

 

Boo, tya, nabilah nr, Baby Tippa, Dkmuch, Riska,baekbaek, OWL, cecilsien, kpopfictionforfun,  kanaya, nraxoxo, labamz, reghinatissa, immajja, pangpanghuna, XOXO_pcyosh, Kim Vivi, sheryl, lyoungie98, dexdy, annisamelani, PUTRi RAHMA, Alfi, Nani, XOXO, 96looney, Oh Chan Hyun, sehun skin, rere_DeerLu, 말샤mar, Salma, Dexdy, aandreana, fayhunkim 15, andini, khikmah,morimoi, nam jihyun, krystallju, vellafiolisa, realfaker,khwria, vika, nandanandi, sriyulianti21,komozakuhirinko, nnsh, ZHANGPOET9410, Fajmahh Park, realhilda, tiffanysumarly,cnd, gitaranjani 21, Shilu28, tianiexo, devitanitedelf, youngseok, fifofa, oshlove, Fan Fan 61, Geksril21, tyasputri, jeje, nadyaa, Mldya, veehun, hardianti, Sha, FCBexo, geksril 21, rainintheblog, Chanchan, Browni, gitaranjani21, jihyun, Fifafoyez, indri 16, NINA SEPTIANA, nofita_alfiah, manismerahmuda, scrhrosi, nayoghani, ditaindahitata, ByunSoo, Fyaa, diref, adindaputri, lalamaula, riaotomotif,dll.

Sekali lagi terima kasih banyak yah, sampai ketemu di ff aku selanjutnya, Gomawo… J

Rhifaery

 

 

           

 

 

12 thoughts on “[EXOFFI FREELENCE] PROPOSAL MARRIED (Chapter 8-END)

  1. apa itu nama gue?? tapi itu nofita bukan novita
    aaaah gue suka chapter ini😀
    Mungkin sedikit kurang greget karna gak ada adegan kissing yang panjang :V (becanda)
    gue suka moment2 sehun irene didunia nyata dimasukin disini😀
    gue suka semuanya kecuali yang gue sebut tadi, gue tunggu ff hunrene lu lagi thor dimasa depan😀

  2. Feelnya kerasa bgt thor😢 tp untungnya happy ending. Ku kira td ada adegan honey moon lagi, eh ternyata gaada wkwk.
    Dan uwaaaah, nama ku di sebut hihi😁 ku tunggu ffmu selanjutnya thorr, kl bisa castnya tetep sama sehun-irene😄😄
    Sampai jumpa di ffmu selanjutnya thorr😚😚😚

  3. Dia ingin berpisah. Tentu saja aku tahu, tapi bagaimana jika akulah yang tidak mau hal itu terjadi. Karena yang kumau adalah menjadikan satu-satunya orang yang kusalahkan sekaligus orang yang bertahan dalam hubungan ini.
    ini tuh kelihatan banget egois nya loh….trussssss aja kek gtu hun… biar makin jauh tuh cintamu..

    “Genggam tanganku, tatap aku, cium kemudian katakanlah, Sehun aku mencintaimu dan aku pastikan aku akan selalu setia disisimu.”
    ini tuh kata” nemu dari mana…ini tuh kalimat biasa cuma, dampaknya luar biasa buat yg baca atau yg pernah denger dari pujaan hatinya…ahhhhhhhh screammmmmm

    ahhhh udah end yaaa,. aku puas…hahahahah
    wait! veehun! itu veehun yg itu kan… iya veehun ini kan //tunjuk hidung sendiri//
    aa aku jadi tersungging…makasih loh yaa…ahayyyy
    aku jg suka moment hunrene nya heheheh..kocak abisszzzzz
    good job author-nim

  4. waah namaku disebut!! endingnya lucu gitu. gak seperti ekspektasiku sih. tapi ini lebih baikk hehe😀 karya selanjutnya kak*puppyeyes* dibikin sekuel juga oke bangett haha😀 keep writing kak fighting^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s