[EXOFFI FREELANCE] 3 Foolish Girls and Handsome Aliens – (Chapter 8)

3 Foolish Girls and Handsome Aliens (chapter 8)

 PicsArt_03-09-06.20.08.jpg

Title                          : 3 Foolish Girls and Handsome Aliens chapter 8

Author        : Hyun Ra

Genre                  : Romantis, fantasi, school, friendship

Cast              : Park Chanyeol

Xiumin

Oh Sehun

Kim Hyu Ra (OC)

Kim Ha Ni (OC)

Lee Hyun Hae (OC)

Other cast : All member EXO

And many others

Rating          : Semua umur

Length         : chaptered

Disclaimer            : EXO belong to GOD, SM, and their parents. Dan ini adalah cerita murni dari hasil pemikiran kami, jadi mohon maaf apabila ada kesamaan jalan cerita atau latarnya. Don’t PLAGIAT, Don’t be SIDERS and I HOPE YOU LIKE IT. Ff ini juga di publish di wattpad, jika kalian ingin tahu kalian bisa lihat di akunku novitaalfiana dan kalu bisa follow juga ya hehe J

Author note’s : Terima kasih atas komentar dan semangat dari para readers, terutama kepada para readers yang sudah memberi kami saran, kritik dan komentar. Sekali lagi author mengucapkan gamsahamnida ^^

AWAS!!!      Typo bertebaran dimana-mana!!!

***

Setelah gadis itu pergi, ia segera mengambil ramen itu dan mengikuti gadis itu pergi ke kasir. Setelah selesai membayar gadis itu melangkah pergi dan meninggalkan dompetnya.

J-Hope yang melihatnya langsung mengambil dompet itu dan setelah selesai membayar ia segera bergegas pergi untuk mengejar gadis itu, namun sayangnya ketika ia berada di luar ia sudah tak melihat gadis itu lagi.

 

“Aku akan menyimpannya, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali” sambil menyeringai tipis.

.

.

.

.

.

***

Kini mereka semua telah berkumpul di ruang tengah, kecuali Sehun dan Luhan.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” tanya Kris.

“Sebenarnya apa yang membuat Luhan hyung menjadi semarah itu?” tanya Lay.

“Sebenarnya ini semua gara-gara Sehun. Dia hampir saja menyerang manusia dengan menggunakan kekuatannya” jelas Tao.

MWO?! Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa?” tanya Baekhyun.

*flashback on*

Saat ini, Tao dan Luhan berada di taman sekolah. Mereka berdua bercanda gurau sambil menunggu Sehun yang sedang menjalankan misinya.

 

“AKH” keluh Tao.

 

“Ada apa Tao-ya?” Luhan kini mulai panik melihat Tao yang tiba-tiba memegangi kepalanya. “Kau tidak apa-apa?” semburat rasa khawatir muncul di benak Luhan, melihat salah satu adiknya yang merasa kesakitan itu.

 

Sedangkan Tao, ia terus saja mengerang sakit. Di dalam benaknya kini muncul beberapa potongan gambar yang sama sekali tidak ia mengerti.

 

Luhan menyentuh bahu Tao dengan kedua tangannya dan mencoba untuk menenangkannya. “Sekarang coba kau tenang. Tarik napas dan buang” melihat Tao yang sudah lebih baik, ia mencoba untuk berbicara kembali.

 

“Sekarang coba kau konsentrasi dan kendalikan kekuatanmu itu”

 

Dan setelahnya Tao sudah jauh lebih tenang. Seperti yang dikatakan Luhan, ia mencoba untuk menutup matanya lalu berkonsentrasi dan mengendalikan kekuatannya secara perlahan-lahan. Dan akhirnya, potongan-potongan gambar yang sempat terlintas di benaknya muncul kembali, namun sekarang sudah lebih jelas meski agak rancu.

 

Tao langsung membelalakkan matanya ketika melihat semua potongan-potongan gambar itu.

“Ge! Kita harus cepat pergi ke lapangan basket outdoor!” ucap Tao panik.

 

“Ada apa Tao, apa yang terjadi?”

 

“Kita tidak punya banyak waktu lagi ge, kita harus menghentikan Sehun sekarang!” kini Tao mulai gusar, semua pikirannya hanya tertuju pada Sehun yang ada disana.

 

“Apa maksudmu?” Luhan kian penasaran saat melihat sikap Tao yang panik seperti ini.

 

Dan tanpa banyak bicara lagi, Tao langsung menyeret Luhan menuju lapangan basket.

“Hei, hei, hei Tao!” Luhan semakin bingung saat Tao menyeret dirinya.

 

“Nanti saja kujelaskan ge”

 

Alangkah terkejutnya Luhan ketika mereka telah sampai disana. Dilihatnya Sehun sedang mengeluarkan kekuatannya dan akan menyerang seorang gadis yang berdiri mematung disana.

*flashback off*

“Lalu bagaimana dengan keadaan gadis itu?” Tanya Baekhyun.

“Dia baik-baik saja, karena untungnya kami datang tepat waktu” jelas Tao.

“Tapi…. Tadi gege sempat melakukan sesuatu kepada gadis itu” lanjutnya.

“Melakukan apa?” Tanya Suho

“Aku tidak tahu, karena aku diminta untuk membawa Sehun dan aku tidak sempat melihat apa yang dilakukannya”

“Apa mungkin Luhan hyung mencoba untuk menggunakan itu?” gumam D.O

“Maksudmu?” Tanya Chen yang kebetulan berada di sebelahnya.

“Sebenarnya, waktu itu aku pernah berlatih bersama dengan Luhan hyung. Kami mencoba untuk mengembangkan kekuatan kami”

“Lalu?” Tanya Baekhyun yang sedikit penasaran.

“Entahlah. Aku hanya merasa jika dia mungkin menggunakan kekuatan itu. Sebenarnya aku sedikit khawatir, karena menurutku kekuatan itu belum sempurna”

MWO?! Jadi maksudmu, Luhan hyung menggunakan kekuatannya yang belum sempurna itu pada manusia?” ucap Kai terkejut.

“Memang apa kekuatannya?” Tanya Xiumin, yang satu-satunya pria yang tenang disini.

“Mengendalikan pikiran. Luhan hyung berkata padaku jika ia ingin mengendalikan pikiran seseorang, dan bukan hanya membaca pikirannya saja” jelas D.O.

“Lalu, apa alasanmu mengatakan jika kekuatan itu belum sempurna” Tanya Suho.

“Karena…..”

“Apa aku mengganggu perbincangan kalian?”

***

Tampak seorang pria yang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pria itu adalah Luhan. Bak pengemudi yang professional, ia menambah laju kecepatannya dan menyalip kendaraan yang berada di depannya. Suasana di Seoul kini bisa di bilang cukup ramai, karena hari ini adalah malam minggu, jadi tidak heran jika malam ini kota Seoul cukup ramai di banjiri oleh manusia yang sedang menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di malam seperti ini.

Luhan, tanpa ragu membelah ramainya kota Seoul malam ini. Ia semakin menambah laju kendaraannya saat ia sudah terbebas dari padatnya kota Seoul saat ini. Tak terasa mobilnya telah berhenti di suatu tempat.

Luhan mulai menghentikan mobilnya. Melepaskan seatbelt yang melekat pada tubuhnya dan keluar dari mobilnya. Ia menyusuri jalan setapak menjauh dari mobil. Semakin jauh. Semakin jauh sampai akhirnya ia melihat danau yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Danau itu tak kalah indah saat malam hari. Cahaya lampu menjadi alat penerangan Luhan menuju dermaga kecil yang berada disisi danau. Ia duduk ditepi dermaga menatap pantulan dirinya di air. Luhan memejamkan matanya saat  kilasan kilasan muncul memenuhi otaknya.

#flashback

 

Di Exo planet terjadi sebuah kekacauan yang sangat besar, banyak sekali terjadi pertumpahan darah dimana-mana. Di sebuah ruang kerajaan berkumpullah beberapa orang petinggi yang sedang mendiskusikan sesuatu. Terjadi perselisihan pendapat antara mereka disana.

 

Di ruang yang berbeda terdapat sekumpulan anak laki-laki sedang bermain di ruangan itu. Terlihat beberapa anak laki-laki bermain kejar-kejaran, ada yang sibuk mengganggu anak laki-laki lainnya, ada juga yang asyik dengan buku yang dibacanya.

 

Tidak lama kemudian, datanglah orang tua mereka. Mereka menatap anak-anak mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

“Chanyeol-ah, Baekhyun-ah! Kalian jangan seperti itu, bersikaplah selayaknya seorang pangeran” tegur Suho dan seketika orang yang di panggil namanya langsung terdiam dan menundukkan kepalanya.

 

“Kau juga seperti itu” sahut Kris sambil menghampiri Suho.

 

“Hyung, kapan aku bersikap seperti itu?” protes Suho.

 

“Kau pikir aku tidak tahu? Aku, tahu semuanya. Dan jangan bersikap sok dewasa, karena aku jauh lebih dewasa darimu” ucap Kris dengan penuh penekanan di setiap kata yang diucapkannya.

 

“Haha…. Ternyata anakmu sama saja sepertimu” goda Hangeng.

 

“Diam kau!” ucap Ha Na.

 

Di tengah keributan yang terjadi disana, Alastor datang dengan tergesa-gesa.

“Kenapa kalian masih disini? Kenapa belum pergi?” 

 

“Baiklah appa, kami akan bersiap-siap dan pergi” ucap Lee Seul sambil menundukkan kepalanya dan hendak bergegas pergi.

 

“Bukan kalian” lalu matanya beralih ke arah lain “Tapi mereka”

 

“Appa. Apa mereka harus pergi? Mereka masih kecil-” protes Su Min.

 

“Pergi? Kemana? Apa tempatnya bagus? Apa kita akan bertamasya?” tanya Tao antusias.

 

“Tentu saja, tempatnya sangat bagus, kalian pasti akan menyukainya. Jadi kalian harus bersiap-siap sekarang”

 

“Ne, haraboji”

Dengan segera Tao dan yang lainnya langsung pergi menuju kamar masing-masing.

 

“Luhan, kemarilah sebentar” merasa namanya di panggil, anak kecil yang bernama Luhan segera menghampiri seseorang yang memanggilnya.

 

“Ada apa appa?”

 

“Ada yang ingin appa bicarakan denganmu, tapi tidak disini. Ayo ikut appa”

 

Kemudian mereka berdua pergi ke tempat yang lebih sepi.

“Sebelumnya, apa kau mau berjanji pada appa?” ucap sang appa sambil mensejarkan tubuhnya dengan sang anak.

 

“Waeyo?” tanya Luhan penasaran.

 

“Berjanjilah dulu. Kau harus berjanji pada appa dahulu bak seorang ksatria” ucapnya tegas.

 

“Ne appa, aku berjanji” dengan memasang wajah yang polos.

 

“Berjanjilah pada appa, kalau kau akan selalu menjaga adikmu, dan jadilah seorang kakak yang bisa menjadi panutan untuk yang lain” ucap sang appa dengan wajah yang sendu.

 

“Waeyo appa? Kenapa appa berbicara seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Luhan penasaran.

 

Meskipun Luhan masih seorang anak-anak, tapi dia sangat pintar untuk menyeleksi suasana yang ada disekitarnya. Tidak dapat dipungkiri, anak dari Kyuhyun ini sangat cerdas di usia yang masih sangat muda. Di usianya yang sekarang ia sudah bisa mengerti tentang sistem pemerintahan di kerajaannya, dan bahkan tidak jarang jika ia membantu ayahnya untuk memerintah kerajaan.

 

“Apa ini dikarenakan perang yang terjadi disini? Itu sebabnyakah appa berbicara seperti itu padaku? Dan apakah itu masih ada sangkut pautnya  dengan haraboji yang meminta kami pergi?” tanya Luhan berturut-turut, banyak sekali pertanyaan yang melintas di pikirannya dan ingin sekali ia tanyakan kepada sang appa.

 

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan beruntun dari anak sulungnya.

 

“Dengar, sebenarnya appa tidak ingin mengatakannya padamu, tapi karena sudah terlanjur seperti ini maka appa terpaksa mengatakannya padamu-” ia menghela napas begitu dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

 

“Begini, sebenarnya kalian akan dikirim ke bumi dan bersembunyi disana. Tapi kau tidak perlu takut, kalian hanya tinggal disana untuk sementara.  Setelah perang selesai kami semua akan menjemput kalian dan kita akan tinggal bersama lagi” jelas Kyuhyun.

 

“Cha, sekarang kau harus pergi ke kamar dan bersiap-siap” lanjutnya  sambil bangkit berdiri.

 

Kemudian Luhan langsung berjalan meninggalkan sang ayah yang sedang memandangnya dengan tatapan sendu sambil menahan air mata yang berada di pelupuk matanya.

 

“Luhan-ah tunggu sebentar” Kyuhyun dengan segera menghampiri sang anak dan memeluknya dengan sangat erat.

 

“Satu lagi, saat berada di bumi, tolong kau jaga benar-benar adikmu,  jangan sampai dia menyakiti manusia apalagi dengan menggunakan kekuatannya. Setelah adikmu mendapatkan lambang dari kekuatannya kau harus selalu berada disampingnya untuk berjaga-jaga agar dia tidak menggunakan kekuatannya dengan sembarangan karena adikmu itu sangat labil” jelas Kyuhyun

 

“Ne appa aku berjanji. Aku akan selalu berada di dekatnya dan tidak akan pernah meninggalkannya”

 

#flashback off#

“AAARRRGGHH…. AAARRRGGHH” Luhan berteriak dan ia mengeluarkan seluruh emosi yang ada di dirinya.

Mianhae appa, hiks Mianhae. …. hampir saja aku melanggar janji, hiks mianhae aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Sehun” Luhan kini sangat menyesal, hampir saja ia melalaikan janjinya dengan sang appa.

Jujur saja, sebenarnya ia tidak marah dengan Sehun, tapi dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga adiknya. Untung saja Tao membawanya kesana, jika tidak…. entahlah.

Setelah ia menenangkan dirinya, untuk kesekian kalinya Luhan menatap bayangan wajahnya di air.

Appa….. bogoshiposo. Kenapa appa berbohong padaku? Appa berjanji akan segera menemui kami tapi nyatanya?….. appa bahkan tidak pernah mengunjungi kami sama sekali” gumam Luhan.

DDDRRRT DDRRRTTTT

Dengan tidak sabaran, Luhan segera mengambil ponsel yang berada di saku jaketnya dan langsung menerimanya tanpa melihat nama yang tertera disana.

“WAE??” nyatanya ia masih emosi, ia bahkan langsung membentak orang itu, tanpa peduli siapa yang menelponnya.

“Kau berani membentakku?” tanya seseorang yang berada di seberang sana dengan suara yang tidak terlalu keras.

Karena penasaran dengan sosok yang menelponnya, Luhan langsung menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.

Mwo? Xiumin hyung?” gumam Luhan.

“Ya, kenapa diam saja eoh?” tanpa menurunkan nada suaranya.

Anio.Wae?” jawab Luhan malas.

Terdengar suara helaan napas disana “Neo eodiya? Cepatlah pulang, paman ada disini dan ada hal penting yang ingin dikatakannya”

“Ck. Arrasseo aku akan kembali kesana”

Dan dengan langkah yang malas, Luhan langsung berjalan menuju mobilnya dan bergegas kembali ke rumahnya.

***

Ketiga gadis itu kini tengah berjalan-jalan di taman, mereka tengah menikmati suasana indah taman di malam hari. Setelah puas berjalan mereka mencari tempat duduk disana.

“Aaahh lelahnya……” ucap Ha Ni.

Kini mereka tengah menikmati suasana malam yang penuh dengan bintang yang bertaburan, yang memang sangat jarang terlihat di kota Seoul. Keheningan, kini tercipta di antara mereka. Namun, sesaat kemudian Hyun Hae terlonjak kaget dan bangun dari tempat bersandarnya.

“Ya, bicara tentang study wisata, apa kau sudah tahu dimana lokasinya?” tanya Hyun Hae kepada Hyu Ra.

Seketika tatapan Hyu Ra menjadi kosong dan bingung “Aaahh, benar aku melupakan yang satu itu. Bagaimana ini, apa kalian mempunyai ide?”

Kemudian mereka bersama – sama memikirkan lokasi yang pas untuk studi wisata nanti.

“Ha Ni-ya boleh aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi seseorang” tanya Hyu Ra.

Ha Ni kemudian mengeluarkan ponselnya yang ada di saku celana sebelah kiri dan menyerahkannya kepada Hyu Ra. Dan Hyu Ra menerima ponsel itu dengan ceria “Gomapta chingu

Dicarinya nomor telepon yang ada disana, setelah menemukannya ia langsung menekan nomor itu dan mendekatkannya ke arah telinganya.

Tanpa menunggu terlalu lama, seseorang yang ada disana langsung mengangkat telponnya.

“Yeoboseoyo”

“Taehyung-ah, ini aku Hyu Ra. Bagaimana, apa kau sudah tahu dimana lokasi yang cocok untuk study wisata?”

“Tentang itu, kuserahkan semuanya padamu. Tapi, dimana ponselmu sedari tadi aku menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali”

“Hehe mian, ponselku dibawa seseorang sampai sekarang”

“Huft, yasudahlah kalau begitu. Besok aku ingin kau memberikan laporannya padaku di taman dekat sekolah, untuk waktunya aku akan menghubungimu lagi aku masih ada urusan. Sampai jumpa”

PIP

Di serahkannya ponsel itu kepada sang pemilik. Dan setelah terdiam beberapa saat mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.

Di tengah perjalanan mereka melewati kedai tteobokki langganan mereka, dengan segera mereka langsung kembali dan menuju kedai itu.

Ahjumma, tolong bungkus 3 porsi tteobokki ekstra pedas” pesan Ha Ni.

Setelah memesan, mereka langsung mencari tempat duduk yang nyaman.

“Kalian berdua tenang saja, kali ini biar aku yang membayarnya” ucap Ha Ni.

Selang beberapa saat tteobokki pesanan mereka telah selesai.

“Ini, semuanya 9000 won” ucap sang ahjumma sambil menyerahkan sekantung plastik tteobokki.

Setelahnya Ha Ni langsung merogoh dompetnya di saku celananya. Namun hasilnya nihil, Ha Ni sama sekali tidak menemukan dompetnya dimanapun.

Melihat gelagat aneh Ha Ni, mereka langsung mendekat dan bertanya kepada gadis itu. Mereka langsung terkejut setelah mendengar penjelasan dari Ha Ni. Dengan menggunakan isyarat mata Hyun Hae dan Hyu Ra langsung merogoh saku masing-masing dan untungnya mereka menemukan beberapa lembar uang di  saku mereka, lalu menyerahkannya kepada sang ahjumma pemilik kedai.

Selama perjalanan Ha Ni masih gelisah perihal dompetnya yang hilang, Hyun Hae dan Hyu Ra terus berusaha untuk menenangkan temannya itu.

***

Sesampainya di rumah Luhan langsung memarkirkan mobil sport nya ke dalam garasi dan langsung melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah.

Saat berada disana, tak sengaja iris mata Luhan bertemu dengan iris mata Sehun. Selang beberapa saat mereka saling bertatapan, namun hal itu tak berlangsung lama karena Luhan  langsung memutus kontak mata mereka dengan tatapan sinis.

“Baiklah, karena kalian semua sudah berada disini, aku akan langsung ke intinya saja” jelas sang paman.

“Aku ingin kalian menemukan sesuatu” sambil menatap mereka satu persatu dan tatapan itu berhenti ketika melihat sosok Kai yang juga menatapnya intens.

“Tapi sebelumnya, aku ingin kau menghentikan pencarian di istana Kai”

Belum sempat Kai bertanya, ucapannya langsung dipotong oleh Lay.

“Apa itu? Apakah itu adalah sesuatu yang penting?” tanya Lay.

“Sangat. Karena ini menyangkut tentang masa depan kerajaan kalian serta nasib para penduduk desa yang ada disana” jelas sang paman.

“Tenang saja paman” sahut Baekhyun sambil menatap lurus ke depan kemudian membalikkan tubuhnya ke arah kiri menghadap sang paman yang duduk di sofa single di pojok kiri. Kemudian ia menempatkan tangan kanannya ke depan dada sebelah kiri. “Paman percaya padaku kan? Aku pasti akan menemukannya, tidak peduli apapun itu. Aku pasti akan menemukannya dengan mudah” lalu ia membalikkan duduknya ke tempat semula.

“Aku pergi” ucapnya sok percaya diri lalu beranjak dari tempat duduknya.

Baru beberapa langkah berjalan, langkahnya terhenti karena mendengar suara bariton yang memanggilnya.

“Baekhyun-ah”

“Jangan khawatir, aku pasti kembali. Tunggu saja” ucapnya tanpa membalikkan badan dan terus melanjutkan langkahnya.

“Baekhyun-ah” ucap Chanyeol sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Baekhyun.

Jengkel. Akhirnya Baekhyun membalikkan badannya menghadap ke arah Chanyeol.

“Jangan khawatir aku pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku” ucapnya sambil menepuk pundak sebelah Chanyeol.

PLETAK

“Ya, memangnya kau tahu apa yang harus kita temukan?” tanya Chanyeol.

“Tentu saja, itu…..” ucapnya terhenti karena dia ingat jika dia belum menanyakan hal itu.

“Sudahlah, lebih baik kalian berdua kembali ke tempat duduk masing-masing” lerai sang paman.

“Paman, apa kau sama sekali tidak percaya padaku? Aku jauh lebih bisa dipercaya daripada dia” ucapnya penuh penekanan di akhir kata sambil menunjuk ke arah belakang tanpa membalikkan badannya.

Merasa ditunjuk, Chanyeol langsung berjalan beberapa langkah ke samping.

“Maksudmu aku?” ucap orang itu sambil menunjuk dirinya sendiri.

‘Kenapa suaranya berbeda?’ batin Baekhyun.

Karena penasaran ia membalikkan badannya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa orang yang di tunjuknya adalah….

“Kris” gumam Baekhyun pelan dan mungkin hampir tak terdengar.

Ya! Apa Maksudmu yang mengatakan jika aku bukanlah orang dapat dipercaya” geram Kris.

GLEK

‘Aigoo, aku bisa mati di tangan naga tiang ini’ batin Baekhyun.

Dengan gugup, Baekhyun mencoba mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu” ucap Chanyeol dengan memasang wajah pura-pura polos.

“Sudah hentikan. Kalian, kembali ke tempat duduk masing-masing” sahut Luhan dingin.

Takut, akhirnya Baekhyun dan Chanyeol kembali ke tempat mereka masing-masing.

Setelah suasana kembali hening, pamannya langsung melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti. “Aku ingin kalian menemukan sebuah buku”

“Buku? Buku apa itu paman? Dan bagaimana rupanya?” tanya Suho.

“Aku tidak tahu rupanya, karena aku sama sekali belum pernah melihatnya. Hanya orang yang paling dekat dengan kakek kalian lah yang mengetahuinya” jelas paman.

“Lalu…. Dimana kita bisa menemukannya?” tanya D.O

“Aku tidak tahu, tapi aku mendapat informasi dari seseorang jika buku itu…..”

****

Ketiga gadis itu kini sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, lebih tepatnya dua orang sedang menonton tv sedangkan yang satu tengah menatap layar laptop yang ada di hadapannya itu.

“Hey, apa kalian sudah tahu dimana lokasi yang cocok untuk study wisata?” tanya Hyu Ra tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar laptop.

“Entahlah” ucap Hyun Hae sambil memindahkan chanel tv.

“Tunggu, coba kembali ke chanel sebelumnya” perintah Ha Ni.

“Pulau Jeju?” Tanya Hyun yang Hae dan dibalas Ha Ni dengan deheman.

Andwae, kurasa tempat itu tidak cocok untuk studi wisata kita kali ini” jelas Hyun Hae

“Lalu?” Tanya Hyu Ra

“Bagaimana jika….. Pulau Nami?” tawar Ha Ni

Belum sempat Hyu Ra menjawab, ucapannya telah terpotong oleh Hyun Hae “Itu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika kita pergi saat musim panas” ucap Hyun Hae cepat.

Call. Ayo kita pergi saat musim panas nanti” ucap Ha Ni.

Ya, kalian pikir ini liburan pribadi?” ucap Hyu Ra kesal.

“Baiklah, baiklah. Bagaimana jika pergi ke Taman Nasional Bukhansan” tawar Hyun Hae.

“Jika kau ingin merencanakan study wisata bersama dengan klubmu sendiri tidak apa-apa, tapi jika untuk study wisata kita kali ini, maka jawabanku adalah……. Tidak” ucap Ha Ni kesal dan penuh penekanan di akhir kalimat.

“Lalu bagaimana denganmu, apa kau Punya ide?” Tanya Hyun Hae.

“Tentu saja aku punya, bagaimana jika kita pergi ke Seonjin River Train Village?” usul Ha Ni.

Ya, kau pikir kita akan pergi berwisata?” protes Hyun Hae dan dibalas Ha Ni dengan sebuah cengiran polos.

“Haah, kalian berdua sama saja” gerutu Hyu Ra.

“Lalu, bagaimana denganmu Hyu Ra-ya?” Tanya Ha Ni.

“Eeuumm, bagaimana jika pergi ke Oeyeondo island. Disana kita bisa mendaki gunung, menikmati pemandangan alam yang sejuk dan kita bisa memanfaatkan hutan yang ada disana untuk ber-camping” jelas Hyu Ra.

“Itu ide yang bagus, darimana kau tahu?” Tanya Hyun Hae.

“Ini, aku baru saja membacanya dari internet” ucap Hyu Ra tanpa mengalihkan pandangannya seinci pun dari laptop nya.

Mendengar pernyataan dari Hyu Ra, kedua temannya hanya bisa cengo menatapnya.

‘Kenapa tidak dari tadi saja dia mencari di internet. Susah-susah aku memikirkannya’. Kira kira itulah yang ada di pikirannya Hyun Hae dan Ha Ni.

***

Keesokan harinya di saat ketiga gadis itu sedang menikmati hari santai mereka di hari minggu yang indah ini, tiba-tiba ada suara telpon yang mengusik ketentraman mereka. Ha Ni segera berdiri dan berjalan menuju sumber suara.

Yeoboseoyo

“……”

Ne?”

“……”

“Ahh ne, aku akan kesana sekarang”

Setelah selesai menelpon, Ha Ni berjalan ke arah teman-temannya dan mengatakan jika neneknya sekarang berada di halte dan memintanya untuk menjemputnya. Akhirnya Hyun Hae dan Hyu Ra memutuskan untuk pulang saja. Setelah mengunci pintu, mereka pun berjalan ke arah yang berbeda karena arah mereka yang berbeda.

*****

“Kau mau kemana?”

“Aku mau jalan-jalan dulu. Aku bosan di rumah” jelas seseorang.

“Jangan terlalu lama, hari ini kita harus latihan lagi” tutur seseorang.

“Baiklah” setelah itu ia segera turun dari tangga dan berjalan pergi, mengabaikan seseorang yang berdiri di dekat tangga.

“Dia mau kemana?” gumamnya lalu mengendikkan bahunya dan berjalan menaiki tangga.

Dilihatnya seseorang yang sedang serius dengan buku di tangannya.

“Kris ge, apa kau tahu kemana Xiumin hyung pergi?” Tanya nya.

“Entahlah, dia bilang dia ingin pergi jalan-jalan” jelas Kris dan orang itu pun hanya mengangguk anggukan kepalanya pertanda jika ia mengerti.

“Ah, Lay apa kau sedang tidak sibuk? Jika tidak buatkan aku teh” perintah Kris. Karena terlalu lelah naik turun tangga, akhirnya ia berjalan menuju lift yang ada dirumah mereka. Bukankah mereka benar-benar kaya? Bahkan mereka saja memiliki lift di rumah mereka.

***

Setelah sampai, Hyun Hae segera menuju kamarnya, meski semalam ia tidur sangat pulas di rumah Ha Ni, tetap saja ia merindukan kasur yang ada di kamarnya. Baru saja ia hendak menyentuh gagang pintunya, sang adik, Lee Ji Eun menariknya dan mengajaknya pergi jalan-jalan.

Namun karena dasarnya ia sangat malas hari ini, ia begitu bad mood saat diajak untuk pergi keluar ia lalu menghembuskan napasnya perlahan. “Baiklah, kau tunggu disini dulu aku ingin berganti baju”

Setelahnya Hyun Hae melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Bukannya berganti baju, kini ia malah melangkahkan kakinya ke arah kasur dan tiduran di atasnya. Baru hendak pergi ke alam mimpi, sebuah getaran ponsel yang berada di nakas samping ranjangnya membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.

Kau ada di rumah kan? Jangan kemana-mana aku akan kesana.

Oh Sehun.

Mwo ya?” gerutu Hyun Hae setelah mendapatkan pesan itu. ‘Daripada aku harus bertemu dengan orang menyebalkan seperti dia, lebih baik aku pergi saja’ batin Hyun Hae.

Setelah itu ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah lemari. Di ambilnya sebuah kaos berlengan panjang berwarna abu-abu dengan beberapa motif di depannya serta celana selutut. Setelah selesai, ia segera keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, dimana sang adik telah menunggu dengan sangat lama disana.

“Kenapa kau lama sekali?” gerutu Ji Eun.

“Sudahlah, tidak usah banyak bicara ayo kita pergi sekarang”

Setelah itu mereka pergi dan berjalan menuju halte.

****

TING

TING

TING

Suara pedang beradu, memenuhi seluruh tempat yang ada disana. Tempat itu sangat mirip dengan Coloseum yang ada di Roma, jika kalian ingin tahu.

“Kau harus lebih kuat dalam mengayunkan pedangmu. Seperti ini” ucapnya dan mengambil pedang yang ada di tangan orang itu lalu mempraktekkannya. Setelahnya ia mengembalikan pedang itu kepada sang pemilik lalu berjalan ke arah tepi kembali.

“Bagaimana perkembangannya?” kejut seseorang.

Orang itu berjengit kaget dan menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ia kembali terkejut saat matanya melihat sosok rajanya  yang berdiri di sampingnya. Ia membungkuk hormat sebagai tanda menghormati sang raja.

“Untuk sekarang perkembangannya mulai membaik, kemampuan mereka juga mulai meningkat”

“Baiklah, pertahankan seperti itu” lalu ia membalikkan badannya dan kembali melihat ke depan.

Tak lama, seseorang menginterupsi kegiatan mereka

“Darius? Ada apa kau kemari?”

Kemudian Darius memberi hormat kepada Raja Cyrus dan Aristogoras yang berada di samping rajanya.

“Aku kemari karena ingin bertemu Yang Mulia raja” jelasnya.

“Bagus kau ingin bertemu denganku, aku sudah lama menunggu kedatanganmu. Ikutilah denganku”

Setelah beberapa langkah berjalan, ia menghentikan langkahnya “Aku meminjam putramu sebentar” tanpa menolehkan kepalanya. Dan setelahnya ia kembali berjalan tanpa mendengar jawaban dari Aristogoras.

Sebelum pergi, Darius membungkukkan badannya ke arah sang ayah dan berjalan mengikuti sang raja dari belakang.

Saat ia baru saja keluar dari Coloseum, tanpa sengaja Darius bertatap mata dengan seseorang yang hendak berjalan memasuki Coloseum. Selang beberapa saat, orang itu memutuskan tatapan mereka dan kembali berjalan memasuki Coloseum, sedangkan Darius tetap memperhatikan orang itu sampai tak terlihat.

‘Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?”

.

.

.

.

TBC

Mian, Mian, Mian. Karena kami udah ngecewain para readers yang nunggu lama buat  ff yang absurd ini (J, kepedean lu thor) tapi jujur aja ada 2 alasan yang buat kami jadi late update.  Pertama karena gak dapat inspirasi, kalau udah dapet, malah males buat nulis. Kedua karena kami juga udah kelas 3 SMA, jadi kalian ngerti kan gimana sibuk ya kami. By the way Itu aja yang mau kami sampai.in

 

Kiss you all💋 (Huuweek, muntah gue thor)

 

Eh eh satu lagi, kalau kalian punya akun di wattpad, kalian bisa follow aku novitaalfiana. Aku juga nge-share ff nya disana. Udah dulu yaaa bye.

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] 3 Foolish Girls and Handsome Aliens – (Chapter 8)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s