[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (Chapter 4)

poster-promise-%ec%95%bd%ec%86%8d

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast       : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast   : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast. Cast akan bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

 

Disclaimer       : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Sudah pernah saya kirim ke https://exofanfiction.wordpress.com/

Author’s note  : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo.

 

 

Sebelumnya

 

“Cukup, Hikz…hikz… Kenapa kalian tega padaku, kenapa?”, Saera segera berlari keluar. Dia masih dalam keadaan menangis. Dia bahkan tidak menghiraukan ibunya memanggilnya. “Saera-ya tunggu”. Saera terus berlari menjauh dari rumah makan tersebut. Dia hanya berharap semua yang didengarnya tadi tidaklah benar. Dan tiba-tiba, bruk.

 

 

Chapter 4 – (Growing Pains)

 

 

Saera berhenti setelah mendengar suara tersebut. Dia segera membalikkan tubuhnya. Dia melihat ibunya tergeletak tak berdaya di jalan raya. Dia segera berlari menghampiri ibunya. Dia mengangkat kepala ibunya dan menidurkannya di pangkuannya. Saera lalu mengguncang-guncangkan tubuh ibunya.

Eomma gwenchana? Eomma, jawab aku. Eomma ireona. Jebal eomma, ireona”, dia terus mengguncangkan tubuh eommanya. Namun nihil ibunya tetap tak menjawab. Saera hanya bisa memeluk ibunya sambil menangis.

 

***

 

Saera kini tengah duduk di depan ruang operasi. Dia tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk ibunya. Kecelakaan yang menimpa ibunya cukup parah, hingga terjadi pendarahan di otaknya. Yang mengharuskannya untuk operasi.

Eomma mianhae”. Saera mengatakan itu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merasa sangat bersalah dengan ibunya. Dia bahkan terusa menyalahkan dirinya sendiri jika ibunya benar-benar tidak selamat. Suara orang yang memanggilnyalah yang menyadarkannya.

“Saera-ya. Bagaimana keadaan Han ahjumma?”.

Saera menoleh pada orang tersebut. “Baekhyun. Aku belum tahu, operasinya belum selesai”.

Baekhyun duduk disebelah Saera. Dia menepuk-nepuk pungggung Saera untuk menenangkannya. Dia tahu kalau sahabatnya sedang dalam keadaan tidak baik. “Neo gwenchana?”, tanya Baekhyun.

“Baekhyun, semua ini salahku. Kalau saja aku tidak lari tadi. Eomma pasti tidak akan mengalami ini”. Saera menangis dengan menutupi wajahnya.

Baekhyun menarik Saera kedalam pelukannya. “Ssssst, ini bukan salahmu. Tenanglah, Han ahjumma akan baik-baik saja”.

Saera hanya bisa menangis. Sedang Baekhyun hanya bisa mengusap rambut Saera untuk menenangkannya. Tak lama setelah itu, pintu ruang operasi terbuka. Mereka berdua segera berdiri untuk menanyakan keadaan nyonya Han.

“Dokter bagaiamana keadaan eommaku?”, tanya Saera setelah melihat dokter keluar dari ruang operasi.

“Operasinya berhasil nona”, kata dokter tersebut.

“Syukurlah”.

Geundae, dia mengalami kematian otak”.

“Apa?”.

“Kami sudah berusaha semampu kami, semua itu tergantung takdir Tuhan”.

Ne, ghamsamnida dokter”, kata Baekhyun.

Ne, saya permisi dulu”.

Dokter itu segera meninggalkan mereka. “Baekhyun eottokhae?”, kata Saera.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Sebaikya kita pindahkan Han ahjumma ke rumah sakit di Seoul”.

“Kau benar, jika eomma tetap di rumah sakit ini aku pati kesulitan untuk mengunjunginya”.

Saera dan baekhyun sepakat memindahkan nyonya Han ke rumah sakit di Seoul. Hari itu juga mereka memindahkan nyonya Han.

 

***

 

Chanyeol kini telah sampai di depan rumah makan tteobokki di Tongyeong. Dia turun dari mobilnya, setelah memastikan jika alamat yang ditujunya benar. Dia berdiri di depan rumah makan tersebut. dia mengamatinya sejenak. Tempat itu tampak sepi, di pintu rumah makan tersebut tertulis jika toko itu sudah tutup.

Chanyeol melihat jika lampu rumah makan tersebut masih menyala. Detik kemudian lampunya padam. Terlihat seorang ahjumma keluar dari rumah makan tersebut. Dia berjalan mendekati ahjumma itu. Dia telah berdiri tepat di belakang ahjumma itu. Ahjumma itu masih sibuk mengunci rumah makan itu.

Saat menoleh ahjumma itu kaget dengan kehadiran Chanyeol. “Omo!”, ahjumma itu memegang dadanya karean kaget. “Kau mengagetkanku tuan. Dan maaf toko kami sudah tutup”, kata orang itu.

“Apa ahjumma pemilik rumah makan ini?”, tanya Chanyeol.

“Bukan. Pemiliknya mengalami kecelakaan pagi tadi. Karena itu, kami tutup lebih awal hari ini”.

“Kecelakaan?”.

Ne. Dia tertabrak mobil saat mengejar putrinya”.

“Sekarang dia ada dimana?”.

“Rumah sakit”.

Ghamsamnida ahjumma. Jeosonghamnida, sudah mengagetkan ahjumma. Saya pamit dulu, selamat malam”, Chanyeol membungkuk dengan sopan sebelum meninggalkan ahjumma itu.

Dia segera menuju rumah sakit terdekat dengan rumah makan itu. ‘Jika dia kecelakaan karena mengejar putrinya, berati Elena tadi pagi datang kemari’, pikir Chanyeol. Dia hanya berharap jika keadaan nyonya Han tidak parah. Jika sesuatu buruk menimpanya, dia akan kesulitan mencari Nami. Nyonya Han adalah satu-satunya harapannya.

Tak butuh waktu lama, Chanyeol kini telah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, dia segera memasuki rumah sakit tersebut. Dia segera bertanya pada resepsionis. Memang nyonya Han sempat diarawat di rumah sakit itu, namun sayang dia baru saja di pindahkan ke Seoul oleh putrinya.

Dia bernafas pasrah. Sial, dia terlambat. Kalau saja dia datang lebih awal dia pasti bisa bertemu nyonya Han. Dengan langkah lemas Chanyeol memasuki mobilnya kembali. Dia menelfon seseorang setelah memasuki mobilnya. Lalu dia menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu.

 

***

 

Chanyeol berjalan lemas memasuki rumahnya. Hari ini perasaannya sungguh kacau. Bagaimana tidak, dia harus mendengar kejadian yang menyakitkan tentang gadisnya. “Benar kata Minseok hyung, jika nanti kenyataannya tidak sesuai perkiraanku. Akulah yang paling terluka. Eotteokae? Apa aku harus menyerah saja! Andwe, andwe. Aku yakin sekali dia masih hidup. Kau harus semangat Park Chanyeol”, kata Chanyeol pada dirinya sendiri.

Saat itulah ibunya datang. Melihat putranya dalam keadaan berantakan, sang ibu menyapanya. “Sayang, kau kenapa? Kau berantakan sekali”.

Chanyeol memeluk ibunya, “Eomma”.

“Wae? Ada masalah?”, kata ibunya sambil mengusap punggung putranya.

Eomma, hari ini aku benar-benar kacau”.

“Apa ini ada hubungannya dengan temanmu kecilmu itu?”.

Eoh, kau benar eomma”.

“Kau sudah makan?”.

Eopseo”.

“Mandilah, bersihkan dirimu. Aku akan menyiapkan makanan untukmu. Nanti kau bisa menceritakannya pada eomma”.

Chanyeol melepaskan pelukannya. “Emh”, Chanyeol berjalan lemas menuju kamarnya. Sampai dikamarnya dia membuang asal tasnya. Melepas jas dan sepatu, lalu menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, dia telah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubunya dari perut hingga lutut.

Setelah berganti pakaian, dia menemui ibunya. Kini dia rudah rapi dibanding saat dia datang tadi.

“Kau sudah selesai”, tanya ibunya.

“Emh”, kata Chanyeol.

“Duduklah! Kau harus makan, bagaimana mungkin kau melupakan makanmu. Kau bisa sakit”.

Chanyeol hanya bisa mengikuti perkataan ibunya. Dia duduk, lalu menikmati makanannya. Dengan sedikit malas dia memakan makanan yang disiapkan ibunya. Ibunya dengan setia menemaninya makan, meskipun dia tidak memakan makanan tersebut.

Eomma tidak makan”.

Eomma sudah makan tadi. Ini sudah lewat jam makan malam. Kau tahukan”.

Ne”.

“Jadi, apa kau bertemu dengannya? Kau bilang kemarin kau pergi ke Tongyeong”.

Aniyo. Dia sudah tidak tinggal disitu lagi”.

“Berarti dia sudah pindah atau mungkin ada yang sudah mengadopsinya?”.

“Dia sudah diadopsi”.

“Kau tahu siapa yang mengadopsinya?”.

Molla”.

Aigoo, pantas saja putra eomma terlihat begitu kacau”.

“Bukan karena itu eomma”.

“Lalu karena apa? Apa kau baru putus dengan kekasihmu?”.

“Aku bahkan belum memiliki kekasih”.

Aish, gojima”.

“Aku tidak bohong. Aku, aku hanya tidak tahu apakan dia masih hidup atau tidak”.

“Maksudmu?”.

“Beberapa bulan setelah kita pindah ke Amerika, dia diadopsi. Lalu dia diajak pindah ke Seoul. Tapi sayang, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Dan sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Tadi pagi aku mendapat informasi jika dia ditemukan orang. Dengan teganya, orang itu tidak melaporkannya pada polisi, karena memang dia seorang jaksa. Dia baru saja kehilangan salah satu putrinya saat itu. Dia lalu menjadikan Nami sebagai pengganti putrinya yang sudah meninggal. Dan 10 tahun lalu salah satu putrinya bunuh diri. Aku tidak tahu apakan itu Nami atau putri kandung jaksa itu”, Chanyeol mengambil nafas sejenak.

“Kenapa kau tidak bertanya padanya secara langsung”.

“Nah itu masalahnya eomma, jaksa itu meninggal 3 tahun yang lalu setelah menjual putrinya untuk melunasi hutang-hutangnya”.

“Lalu istrinya?”.

“Tadi aku berencana menemuinya, tapi aku tidak berjumpa dengannya. Dia mengalami kecelakaan pagi tadi. Saat aku mengecek ke rumah sakit dia sudah dipindahkan ke Seoul. Aku sedang menunggu kabar dari orang suruhanku, tentang keberadaannya”.

“Kenapa masalahnya serumit itu sayang”.

“Entahlah eomma, aku juga tidak mengerti. Eotteokae?”.

“Semua pasti ada jalan keluarnya sayang. Habiskan makananmu dan tidurlah. Jangan terlalu dipaksakan, nanti kau sakit. Besok kau bisa memikirkannya lagi”.

Ne. Terima kasih eomma”.

“Emh”.

Setelah menghabiskan makanannya, Chanyeol pergi tidur seperti yang disarankan ibunya.

 

***

 

Baekhyun memasuki ruang inap nyonya Han. Ruang itu masih menyala. Dia melihat Saera tengah tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya disandarkan di ranjang ibunya. Baekhyun tersenyum, dan mendekati Saera. Dia mengusap rambut panjang Saera.

“Rasanya baru kemari kita bertemu. Ternyata ini sudah hampir 20 tahun Saera”, kata Baekhyun.

 

Flash back

 

Saera kecil berlari sambil menangis ke taman. Dia duduk disalah satu bangku taman. Dia menangis karena baru saja bertengkar dengan kakaknya. Ditengah isakannya seorang namja kecil mengulurkan sapu tangan untuknya. Saera menoleh ke arah namja tersebut.

“Ini untuk menghapus air matamu”, kata namja itu.

Ghamsamnida”, kata Saera.

“Kenapa kau menangis?”.

“Bukan karena apa-apa”.

Jinjjayo?”.

Saera mengangguk. Dia juga sudah berhenti menangis. Dia kini tengah sibuk mengusap bekas air matanya. Sementara namja kecil itu berniat meninggalkan Saera sendirian.

“Tunggu”, kata Saera. Dan hal itu berhasil menghentikan langkah kaki namja kecil itu.

Ne. Ada apa?”, kata namja kecil itu.

“Siapa namamu?”.

Namja itu menunjuk dirinya sendiri. Saera mengangguk paham dengan maksud namja kecil itu.

“Aku Byun Baekhyun. Kau sendiri?”.

“Aku Han Saera. Senang bertemu denganmu Byun Baekhyun-ssi. Apa kau mau menjadi temanku?”.

“Teman?”.

Ne. Aku baru pindah 3 hari yang lalu ke kota ini. Aku belum punya teman, jadi maukah kau berteman denganku?”.

“Bagaimana jika aku menolak?”.

“Tentu aku akan menganggapmu jahat”.

Waeyo?”.

“Bagaimana mungkin kau mengabaikan orang yang ingin menjadi temanmu. Itu tidak sopan, dan orang yang tidak sopan itu jahat”.

“Baiklah, kita berteman. Tapi jangan pernah memanggilku jahat”.

“Emh. Aku mengerti”.

“Kau harus janji”.

Ne”. Mereka kemudian membuat janji persahabatan dengan mengikatkan kelingking lalu menyatukan ibu jarinya.

“Sebagai bukti, gelang ini untukmu”, kata Saera. Dia memakaikan gelang itu ditangan Baekhyun.

“Gelang apa ini?”.

“Ini gelang keberuntungan dari halmoniku. Lihatlah, bukankah ini sama denganku”, Saera menunjukkan gelang yang dipakainya.

“Iya, ini memang sama. Tapi mengapa kau memberikan gelang keberuntungan ini”.

Halmoni menyuruhku memberikan salah satunya untuk teman baikku. Karena kau adalah teman pertamaku, maka ku berikan ini padamu. Dan aku berharap kau akan jadi teman baikku”.

“Iya, pasti aku akan jadi teman baikmu”.

 

Flash back end

 

Baekhyun menatap gelang yang dipakainya. “Sesuai janji kita dulu, aku akan selalu menjadi teman baikmu Saera”, kata Baekhyun. Tentu hal itu tidak didengar Saera.

Baekhyun merasa kasihan dengan Saera. Pasti tidak enak tidur dengan posisi seperti itu. Dia lalu mengangkat tubuh Saera dan membaringkannya di tempat tidur untuk penjaga pasien. Bekhyun juga menutupi tubuh Saera dengan selimut. Dia menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kapan penderitaanmu akan berhenti Saera. Semoga Tuhan memberi kebahagian untukmu kelak. Mianhae, karena tidak bisa membantumu. Aku hanya bisa mendampingimu”.

Baekhyun kemudian mencium kening Saera. Berjalan meninggalkan kamar tersebut. Mematikan lampu dan menutup pintu ruangan tersebut.

 

***

 

“Minnie, aku harus pergi ke Amerika”, kata seorang anak laki-laki kepada seorang gadis kecil yang tengah duduk di bangku taman. Dia berkata sambil mebelakangi sang gadis. Anak laki-laki tersebut tidak sanggup menatap langsung ke sang gadis. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan gadisnya.

“Tapi kenapa Mikky? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang kau akan pergi? Hikz…hikz”, kata sang gadis sambil menangis. Anak laki-laki itu segera menoleh dan memeluk gadisnya.

Uljima, aku janji saat dewasa nanti aku pasti akan datang kembali kesini dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”, kata anak laki-laki tersebut. Gadis kecil itu segera melepaskan pelukannya.

“Apa kau janji?”, kata sang gadis.

Ne, aku janji. Tunggulah saat dewasa nanti, aku pasti akan menjadi namja yang mengagumkan untukmu”, kata sang namja. Dia menghapus air mata gadisnya.

“Baiklah. Akan aku pegang janjimu”, gadis itu berkata sambil tersenyum.

Namja kecil itu mengeluarkan sebuah kotak berlapis beludru berwarna hitam. Dia segera membuka kotak tersebut. Dia mengambil benda yang ada dalam kotak tersebut dan memakaikannya ke leher sang gadis. “Kau harus selalu memakai kalung ini. Jika nanti aku kesini, aku pasti akan langsung mengenalimu karena kalung ini. Kau juga harus tumbuh menjadi yeoja yang manis dan baik. Kau ingat itu, jangan pernah melepaskannya apalagi menghilangkannya”, kata sang namja kecil.

“Em. Kalungnya indah sekali”, kata sang gadis.

“Kalung ini hanya ada satu di dunia ini. Dan akulah yang mendesainnya”.

“Benarkah! Tapi kenapa bulannya yang di dalam bintang?”.

“Itu karena kau menyukai bulan dan aku menyukai bintang. Bintang itu akan melindungi sang rembulan seperti aku melindungimu”.

“Ow”.

“Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Minnie. Tunggulah aku pasti akan datang”.

“Em, hati-hati Mikky. Aku pasti akan merindukanmu”.

Namja kecil itu mencium kening sang gadis sebelum dia berlalu meninggalkannya. Gadis kecil itu hanya termangu menatap kepergian namja kecilnya.

Saera terbangun dari mempi yang selalu datang menghampirinya. Entah sudah berapa kali dia berpimpi hal yang sama. Dan hal paling dibencinya adalah dia tidak ingat pernah mengalami kejadian itu. Dia juga tidak mengenal siapa namja kecil yang dipanggil Mikky olehnya.

“Sebenarnya siapa Mikky? Kenapa mimpi itu selalu datang. Dan itu terlalu nyata untuk bisa dikatakan sebagai mimpi”, kata Saera entah pada siapa.

Saera memeriksa sekeliling tempatnya terbangun. Dia berada di atas ranjang samping ibunya terbaring. “Bukankah semalam aku duduk  di samping eomma? Kenapa sekarang aku sudah di atas ranjang. Ah sudahlah, mungkin aku lupa”. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Saera kini sudah rapi dengan penampilannya. Dia mendekati ibunya, lalu mencium kening sang ibu. “Saera berangkat kerja dulu eomma, nanti Saera akan kembali kemari”, kata Saera. Dia mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan ibunya.

Setelah perjalanan sekitar 10 menit Saera sampai di rumah sakit Haneul. Dia berjalan seperti biasa, namun tiba-tiba ponselnya berdering.

Yeobseyo”.

“Kau ada dimana sekarang?”.

“Aku di rumah sakit tempatku kerja ahjussi. Waeyo?”.

“Kau akan masuk hari ini?”.

Ne”.

“Apa ibumu sudah baikkan?”.

Eopseumnida. Dia masih belum sadarkan diri”.

“Kau yakin akan meninggalkan ibumu sendirian”.

“Tidak ada pilihan ahjussi. Kau juga tidak akan membiarkanku tak bekerja bukan. Kau tak perlu khawatir”.

“Baguslah kalau kau tahu”.

“Aku harus bekerja ahjussi. Mianhamnida”.

“Eoh, pergilah”.

Saera menutup telfonnya. “Tua bangka itu benar-benar. Ahh…”. Saera melanjutkan perjalannya menuju ruang kerjanya. Dia menaruh tasnya di meja kerjanya. Mengenakan pakaian dokternya. Memeriksa daftar pasien yang akan diperiksanya hari ini. Dari arah luar, terdengar ketukan pintu ruangannya. Dia mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu.

“Ow, Joonmyun sunbaenim”, kata Saera.

“Bolehkan aku masuk?”.

Ne, masuklah”. Orang itu segera masuk, dan mendekati Saera. “Ada apa?”.

“Bisakah kau membantuku dokter Han?”.

“Anda butuh bantuan apa?”.

“Apa kau hari ini ada acara selain memeriksa pasienmu?”.

Eopseumnida. Kenapa, katakan saja sunbaenim”.

“Sebenarnya hari ini aku ada seminar di Inha University. Tapi aku juga harus pulang ke Busan, karena nenekku meninggal”.

“Jadi kau menyuruhku menggantikan seminarmu?”.

Orang itu tersenyum. “Kau benar”.

Ne. Jam berapa seminarnya?”.

“Jam 2 siang”.

“Materinya?”.

Ige”, Joonmyun memberikan tab miliknya. “Semuanya sudah ada disini”.

Saera menerima tab tersebut dan memeriksanya. “Baiklah aku akan menggantikanmu. Tapi, ini tidak gratis”.

Yak, sejak kapan kau menjadi pamrih”.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis sunbaenim”.

Arrayo. Honornya kau ambil saja”.

“Bukan itu maksudku”.

“Lalu apa?”.

“Bagaimana kalau kapan-kapan kau mentraktirku makan atau kau mengajakku nonton film”.

Yak, kau mengajakku berkencan”.

“Kalau kau menyebutnya begitu, boleh juga”.

Aniya, aniya. Seohyun bisa membunuhku. Kau tahu bagaimana dia?”.

Mollayo”.

Yak, Han Saera”.

Saera malah tertawa.

“Kenapa kau malah tertawa”.

“Aku hanya bercanda sunbaenim. Jangan diambil hati”.

“Kau ini”.

“Aku akan menggantikanmu, tenang saja. Aku juga tidak meminta apapun. Pergilah, bukankah kau harus menghadiri pemakaman nenekmu”.

Ne. Gomapseumnida dokter Han. Aku pergi dulu, annyeong”.

“Hati-hati, sunbaenim”.

 

 

— TBC —

 

 

Gimana readers, Makin seru atau tambah ancur? Janga lupa komennya ea. Semoga gak bosen dengan ff ini. Terima kasih.

 

Salam hangat: Dwi Lestari….

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (Chapter 4)

  1. jadi ibunya yang tertabrak, ku kira Saera…
    kasian bang CY gk bertemu ibunya Saera,…
    jadi seperti itu awal hubungan Saera dengan Baekhyun, pantesan mereka sangat lengket…
    Saera, kenapa jadi genit ya…

    Next thor, jadi penasaran….keep writing…
    fighthing…🙂🙂🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s