[EXOFFI FREELANCE] Blind – (Chapter 5)

FF BLIND.jpg

Title : BLIND

Author : BanHana Chance

Cast :

-Park Chanyeol {EXO K}

-Jang Nina {OC}

Support cast :

-Jang Nara {OC}

-Bobby {IKON}

Genre : Sad, Romance, Schooll life

Length : Chaptered

Rating : PG17

 

WARNING!!!

(((DISINI BANYAK SEKALI TYPO TENTANG ALAT-ALAT MEDIS. MESKIPUN SAYA ANAK IPA TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN PELAJARAN BIOLOGI SAYA SANGAT AMBURADUL)))

 

Disclaimer : FF INI MURNI DARI IMAGINASI AUTHOR. DILARANG KERAS PLAGIAT

 

Summary : Impian Park Chanyeol sebagai pemain basket tingkat internasional kandas di tengah jalan akibat penyakit yang di derita-nya dan juga pengorbanan-nya untuk memperjuangkan cinta-nya. Akankah sang dokter bisa menyelamatkan-nya? atau justru Chanyeol harus menggantung semua harapan terbesar-nya.

{Rumah sakit}

 

Chanyeol kali ini tengah berada diruang UGD. Seperti-nya penyakit Chanyeol semakin serius. Nara menyarankan kepada kedua orang tua Chanyeol untuk melakukan ronsen untuk kepala-nya.

 

“Apa-pun dokter, tolong lakukan apa saja agar anak kita sembuh.” Ucap eomma Chanyeol itu tak kuasa menahan tangis-nya.

“Tenang saja ahgasi, saya pasti akan menyelamat-kan Chanyeol.” Ucap Nara menenangkan kedua orang tua Chanyeol.

 

Kemudian Nara memasuki ruangan UGD dan memeriksa keadaan Chanyeol. Nara juga mulai meronsen kepala Chanyeol apakah dia mengalami masalah yang cukup serius atau tidak.

.

.

Sebalik-nya dengan Nina, dia terlihat sangat sedih di atap gedung. Dia menangis meringkuk sendirian disana. Tidak ada lagi senyum Park Chanyeol yang menghiasi hari-hari nya saat ini.

Chanyeol begitu berubah semenjak dia memutuskan hubungan-nya dengan Nina. Chanyeol jarang sekali tersenyum kepada-nya. Bahkan tidak ada lagi senyum yang terukir dibibir-nya.

 

“Chanyeol-ah….neomu-neomu bogosipheo…hiks.” ucap Nina sambil menangis.

.

.

Dirumah sakit tempat dimana Chanyeol sekarang tengah dirawat dihinggapi berbagai rasa kesedihan baik dari keluarga-nya maupun dengan Nara. Tunggu dulu, Nara? Kenapa dia juga ikut sedih.

“Maldho andwe…..tidak mungkin Chanyeol mengidap penyakit seperti ini.” Ucap Nara tak kuasa menahan tangis-nya.

Tok..tok..tok….

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nara. Ternyata kedua orang tua Chanyeol yang datang.

 

“Ah…silahkan masuk.” Suruh Nara sambil menyeka air mata-nya dengan cepat.

“Bagaimana dokter hasil ronsen-nya? Apa Park Chanyeol mengidap penyakit yang cukup serius?” tanya ibu Chanyeol dengan sedih.

“Mianhae ahgasi, dari hasil ronsen Park Chanyeol, dia positive mengidap penyakit kanker mata. Jeongmall mianhae.” Ucap Nara tidak enak.

“Mwo….kanker mata?” teriak ibu Chanyeol dan diri-nya dibanjiri dengan air mata kepedihan.

“Hiks….tidak mungkin anak-ku mengidap penyakit seperti itu, tidak mungkin….!!!” teriak ibu Chanyeol tak kuasa menahan kesedihan-nya.

“Jeongmall mianhae….” ucap Nara dan dia juga ikut menitihkan air mata.

.

.

Tak disangka dari luar ruangan itu seorang yeoja berparas cantik tengah menangis mendengar-kan perbincangan mereka.

“Kanker mata?” ucap Nina sambil menangis menahan kepedihan yang ia rasakan.

Nina berlari menuju ruangan Chanyeol dengan cepat dan air mata yang membanjiri pipi-nya.

 

“Hiks…..kenapa kau menyembunyikan penyakit ini dariku Chanyeol-ah waeyeo…..?” teriak Nina sambil memeluk Chanyeol yang tengah terbaring lemah dirumah sakit itu.

Nina tidak menyangka Chanyeol begitu membenci-nya sampai penyakit sebesar ini tidak diketahui oleh-nya.

“Kenapa kau tidak mengatakan semua ini dari awal eo? Apa kau begitu membenci diriku Chanyeol-ah? Hiks….”

 

Ditengah tangis-nya, tiba-tiba Chanyeol mulai sadar dan memegang puncak kepala Nina. Nina begitu terkejut melihat Chanyeol yang sudah sadar dari pingsan-nya.

“Chanyeol-ah kau sudah sadar?” tanya Nina cemas.

“Kau menangis?” tanya Chanyeol dengan suara parau-nya.

“Kau baik-baik saja Chanyeol-ah?” tanya Nina sambil menyeka air mata-nya.

“Nan gwaenchana… Nina-ah, mianhae.” Ucap Chanyeol merasa bersalah. “Jeongmall mianhae.” Sambung-nya.

“Gwaenchana….melihat-mu sadar aku sudah senang.” Ucap Nina tersenyum.

“Aniyo…gara-gara diriku kau merasa tersakiti. Aku benar-benar bodoh.”

.

.

~oOo~

“Aku tidak menyangka Chanyeol bisa mengidap penyakit mengerikan seperti itu.” Nina dan Nara kini tengah berjalan menuju tempat parkir yang berada dirumah sakit tersebut.

“Tenangkan dirimu Nina-ah. Eonni yakin Chanyeol pasti akan sembuh. Dengan menjalankan terapi mungkin penyakit-nya akan cepat sembuh.” Ucap Nina sambil menepuk bahu Nina.

“Eonni tolong jaga Chanyeol selagi dia masih dirumah sakit neh? Aku tidak ingin dia merasa kesepian.” ucap Nina kepada Nara.

“Neh…sekarang kau pulang dulu, eonni masih sibuk.” Suruh Nara kepada Nina.

“Baiklah eonni. Aku pulang dulu neh?  Bye…” ucap Nina lalu masuk kedalam mobil.

Nara tersenyum kearah Nina yang tengah melambaikan tangan kepada-nya.

.

.

Melihat mobil Nina yang semakin menjauh membuat Nara merasa menanggung beban yang amat besar. Dia berjanji akan menjaga Park Chanyeol. Ah yang benar saja. Apakah Nara sanggup? Justru itu membuat Nara semakin tersiksa dengan perasaan-nya sendiri.

 

~oOo~

Saat ini Nara tengah menuju ke ruangan rawat Chanyeol untuk mengecek keadaan-nya. Tiba-tiba langkah kaki Nara berhenti sejenak ketika mendapati Chanyeol dalam keadaan tidur pulas.

Mata Nara tidak berhenti berkedip karena kagum betapa tampan-nya sosok namja yang berada di depan-nya saat ini.

Perlahan Nara mulai mendekati Chanyeol yang tengah tertidur pulas.

 

“Kenapa kau begitu jahat, mencuri hati-ku seperti ini Chanyeol-ah.” Ucap Nara tersenyum.

Kemudian dengan berani-nya Nara memegang tangan Park Chanyeol dan mulai mendekat-kan kepala-nya hingga hidung mereka bersentuhan.

Dengan cepat Nara langsung mengecup ringan bibir Chanyeol yang tengah tertidur itu.

Degup jantung Nara tak berhenti-nya berdetak. Bahkan pipi-nya terasa sangat panas.

 

“Huhhh….eottokaeh….kenapa aku mencium-nya.” Ucap Nara sambil mengatur nafas-nya perlahan.

Namun bibir Nara kembali tersenyum dan tiba-tiba dia kembali menempelkan bibir-nya dengan bibir Chanyeol. Tidak hanya sedetik atau dua detik, kali ini Nara menempelkan bibir-nya sangat lama. Bahkan Nara sampai memejamkan mata-nya segala.

 

‘Seperti inikah rasa-nya berciuman.’ Ucap Nara dalam hati-nya sembari membayangkan Chanyeol akan membalas ciuman-nya itu.

 

Namun tiba-tiba mata Chanyeol terbuka sangat lebar. Dia begitu terkejut mengetahui kakak dari kekasih-nya itu tengah mencium-nya.Dengan sigap Chanyeol langsung mendorong Nara hingga terjatuh ke lantai.

“Yak…!!! noona neo micheosyeo…???” teriak Chanyeol sambil mengusap bibir-nya kasar.

“M…Mi…Mianhae Chanyeol-ah…aku tidak bermaksud…” ucapan Nara terhenti.

“Seharus-nya kau tidak melakukan ini kepada-ku, aku benar-benar kecewa kepada-mu noona.” Ucap Chanyeol lalu menyambar jaket milik-nya dan segera pergi meninggalkan rumah sakit.

“CHANYEOL-AH….CHANYEOL-AH…..MIANHAE….!!!!!” teriak Nara namun Chanyeol tetap berjalan dengan langkah kaki lebar agar cepat pergi dari tempat yang menurut-nya sangat menjijik-kan.

Nara terlihat sangat ketakutan. Dia takut kalau Chanyeol berkata kepada Nina kalau dia barusaja mencium Chanyeol. Bahkan kali ini tubuh-nya benar-benar menggigil sampai terperosot ke lantai yang dingin.

“Ohh ottokaeh…..” resah Nara sambil mengacak rambut-nya kesal.

.

.

~oOo~

Hari ini Chanyeol masuk ke sekolah seperti biasa. Keadaan-nya sudah membaik. Saat melewati lorong sekolah-nya tiba-tiba ditengah jalan dia bertemu dengan Nina.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Nina dan dibalas senyuman oleh Chanyeol. Jantung Nina terasa berdebar tak karuan. Namun dia urungkan niat-nya untuk kembali bertanya kepada Chanyeol hanya sekedar basa-basi. Toh dipikiran Nina saat ini adalah ‘Chanyeol hanya memberikan jawaban berupa senyuman saja’ bagi-nya. kemudian Nina langsung berlalu meninggalkan Chanyeol.

“Mau ke kantin bersama?” tiba-tiba suara Chanyeol menginterupsi membuat Nina menghentikan langkah kaki-nya.

Nina pun mengangguk-kan kepala-nya pertanda menerima ajakan Park Chanyeol.

.

.

~oOo~

@Kantin

 

“Bagaimana keadaan-mu? Apa kau sudah sembuh?” tanya Nina memulai pembicaraan.

“Yah seperti yang kau lihat sekarang ini.” Jawab Chanyeol.

Namun tiba-tiba mata Nina tertuju pada benda kecil yang dikenakan di mata Chanyeol itu.

“Kau memakai kacamata?” tanya Nina.

“Ahh ini, Nara Noona menyarankan-ku untuk memakai-nya karena akhir-akhir ini mata-ku sering sekali merasa buram.” Jawab Chanyeol menjelaskan. Dia tidak tahu kalau sebenar-nya dia mengidap penyakit kanker mata.

Nina merasa sangat sedih. Sebenar-nya dia sudah mengetahui penyakit Chanyeol sesungguh-nya. Tapi dia memilih untuk diam daripada membuat Chanyeol merasa terpukul.

‘Sebenar-nya kau ini menyembunyikan penyakit-mu atau memang kau belum mengetahui penyakit-mu Chanyeol-ah’ ucap Nina dalam hati-nya.

 

Makanan dan minuman yang mereka pesan-pun sudah datang.

“Cha…cepat makan-lah. Kau terlihat sangat kurus.” Suruh Chanyeol sambil mengacak rambut Nina gemas.

“Yak…kau ini tetap saja usil.” Ucap Nina kesal. Bukan kesal sih, melainkan dia merasa sangat senang karena Chanyeol sudah mau bertegur sapa dengan-nya setelah sekian lama mereka putus.

.

.

~oOo~

“Apa kau yakin akan bertanding basket lagi dengan Bobby hari ini?” tanya Nina khawatir.

“Neh…pertandingan kemarin belum selesai, jadi aku harus menyelesaikan-nya sekarang.” Jawab Chanyeol sambil memakai sepatu basket-nya di pinggir lapangan.

Tiba-tiba Nina memegang bahu Chanyeol memberikan senyuman manis kepada-nya.

“Semoga beruntung. Jaga dirimu baik-baik.” Ucap Nina manis dan Chanyeol langsung berdiri di hadapan-nya mendaratkan ciuman singkat di pipi gadis itu. chu…

Jantung Nina berdebar tak karuan sampai-sampai keringat dingin bercucuran. “Gomawo Nina-ah…” ucap Chanyeol selanjut-nya.

 

Saat tengah berbincang-bincang dengan Chanyeol, tiba-tiba segerombolan yeoja-yeoja penggemar Chanyeol datang mengerumuni mereka berdua.

“Yak…Jang Nina cepat katakan. Apa maksud semua ini hah…!!!” bentak salah satu yeoja bernama Irene itu.

“Kau bilang kalian berdua sudah putus, kenapa kalian masih bersama?” tanya Mo Yeon sedikit kesal.

“Apa ini hanya alasan kalian berdua saja agar kita tidak mengganggu hubungan kalian berdua. Cepat jawab…!!!” bentak Hyuna dengan keras.

 

Karena merasa terpojok-kan, Nina langsung berdiri namun ditahan oleh Park Chanyeol.

“Kita belum putus, apa kalian puas?” tanya Chanyeol kepada para yeoja itu membuat Nina sontak kaget dan membelalak-kan mata-nya.

“Yakk…!!! oppa…!!! kenapa kau menyakiti kita begitu dalam eoh? Hiks….” ucap yeoja-yeoja itu lalu menangis berlari meninggalkan Chanyeol dan Nina.

 

“Apa yang kau katakan eoh? Kita kan….” ucap Nina namun terputus oleh Chanyeol.

“Hussttt…..aku hanya ingin melindungi-mu.” Jawab Chanyeol enteng lalu berlari ke tengah lapangan.

Nina begitu tersipu malu dengan apa yang barusaja dilakukan Chanyeol kepada-nya. apalagi dia tidak berhenti memegang pipi-nya, bekas ciuman dari Chanyeol. Orang yang sangat dia rindukan beberapa hari ini.

.

.

~oOo~

Pertandingan basket antara tim Bobby dan tim Chanyeol kali ini berlangsung sangat panas. Berulang kali Chanyeol melakukan penyerangan yang membuat tim Bobby kewalahan.

 

“Haishhh….sialll….kenapa dia begitu cepat dalam melakukan penyerangan eoh?” kesal Bobby sambil berusaha mencuri bola Chanyeol namun tetap saja gagal. Bahkan Chanyeol berhasil memasuk-kan bola berkali-kali.

 

Pertandingan semakin memanas. Bahkan skor sekarang {Chanyeol -81:54-Bobby}. Benar-benar skor yang terlampau jauh antara Chanyeol dan Bobby.

“Aku yakin kau pasti bisa mengalahkan Bobby Chanyeol-ah.” Ucap Nina dalam hati-nya.

 

Waktu pertandingan kurang 10 menit lagi, namun Bobby tetap saja belum bisa menyamakan skor-nya dengan Park Chanyeol.

Disaat skor Chanyeol hampir mencapai target, tiba-tiba rasa pening di kepala-nya kembali terasa. Sangat sakit…itulah yang dirasakan Park Chanyeol saat ini.

Chanyeol berusaha mengambil bola sekuat tenaga yang ia miliki. Namun mata-nya kini kembali buram.

“Apa yang kau lakukan Park Chanyeol, kau harus kuat.” Ucap Chanyeol menyemangati diri-nya sendiri.

 

Tiba-tiba suara teriakan dari yeoja yang sangat Chanyeol cintai terdengar dari telinga lebar-nya itu.

“Chanyeol-ah…..!!!!! Hwaitting….!!!!!” teriak Nina dari kejauhan.

Chanyeol menoleh ke arah Nina dan tersenyum kepada-nya. Dengan kedipan mata kanan-nya, Chanyeol langsung berlari merebut Bola yang berada di tangan Bobby dan….

 

Priittt…..prittt…..pritttt…….

 

Suara tepuk tangan dan hiruk pikuk meramaikan kemenangan Park Chanyeol hari ini. Benar-benar mustahil. Dalam keadaan seperti ini Chanyeol bisa mengalahkan tim Bobby. Nina berlari ke arah Chanyeol dan memeluk-nya dengan erat.

“Aku tahu chagiya kau pasti menang.” Ucap Nina sambil mempererat pelukan-nya dan Chanyeol pun membalas-nya. meskipun banyak pasang yang menatap mereka tidak suka tapi Nina tidak menghiraukan-nya karena perasaan senang saat ini lebih besar daripada rasa gengsi-nya.

 

Sesaat setelah itu Chanyeol memegang kedua pipi Nina dan menatap kedua mata-nya intens. Membuat Nina merasa gugup sekalipun pipi-nya berubah menjadi memerah. Tatapan Chanyeol benar-benar menjadi candu bagi Nina. Nina tidak bisa dan tidak mau mengalihkan pandangan itu dari mata-nya. benar-benar memabuk-kan.

“Nina-ah….maukah kau menjadi yeojachingu-ku?” tanya Chanyeol tersenyum. Berbeda dengan Nina. Dia tekejut sekaligus senang dengan penuturan Chanyeol barusan. Apakah ini mimpi? Siapapun diluar sana tolong cubit Nina sekuat mungkin agar dia terbangun dari mimpi indah-nya siang ini.

“Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Chanyeol sekali lagi.

Nina pun mengangguk-kan kepala-nya pertanda bahwa dia mau menjadi kekasih Park Chanyeol dan mereka berdua saling berpelukan ditengah lapangan. Ditengah hiruk-pikuk nya suara teriakan penuh kemenangan.

.

.

~oOo~

Malam itu Nina terlihat sangat sibuk mencari baju yang pas untuk diri-nya. dari dulu Nina memang tidak bisa memadu padan-kan baju yang pas untuk diri-nya. Karena merasa sangat kesal, akhir-nya Nina memanggil Nara untuk memilihkan baju yang cocok untuk-nya.

 

“Eonni…apakah baju ini cocok unuk-ku?” tanya Nina namun Nara malah asik memainkan ponsel-nya.

“Huh….eonni cepatlah…waktu ku tidak banyak lagi.” Kesal Nina dan akhir-nya Nara berdiri menuju lemari baju milik Nina.

Nara mengambilkan baju dress berwarna coklat dan sepatu wedges berwarna hitam yang sangat lucu.

“Kau pakai ini saja, lalu kau beri pita di rambut-mu. Pasti kau akan terlihat sangat cantik.” Ucap Nara dan kembali memainkan ponsel-nya.

“Jinjja eonni? Woahh pasti Chanyeol akan senang melihat-ku tampil cantik malam ini.” Ucap Nina membuat Nara berhenti memainkan ponsel-nya.

 

“Memang-nya kau mau kemana?” tanya Nara tiba-tiba.

“Aku akan berkencan dengan Park Chanyeol eonni.” Jawab Nina sambil mencoba baju yang dipilihkan oleh Nara tadi.

“Oh….yasudah eonni ke kamar dulu, kalau butuh apa-apa panggil saja nde?” ucap Nara lalu pergi meninggalkan Nina.

.

.

~oOo~

Brem…brem…brem…..

 

Suara mobil Chanyeol sudah terdengar di depan rumah dan dengan cepat Nina langsung berlari keluar.

“Hai chagiya….” sapa Nina dengan senyum manis terurai di bibir-nya.

“Kajja kita berangkat sekarang chagi.” Ajak Chanyeol namun tiba-tiba Nina menghentikan langkah kaki-nya saat Nara berteriak memanggil-nya.

 

“Nina-ah….” panggil Nara dari dalam rumah.

“Kenapa eonni memanggilku?” ucap Nina heran. “Iyaaa eonni….ada apa?” tanya Nina.

Nara mulai mendekat dan mengatur nafas-nya.

“Huhh….kau ini selalu saja ceroboh. Kau melupakan ponsel-mu.” Omel  Nara dan seketika tatapan nya tertuju pada Chanyeol. Namun Chanyeol membuang muka begitu saja kepada Nara dengan tatapan sinis.

“Baiklah eonni aku berangkat sekarang, gomawo eonni.” Ucap Nina seketika membuyarkan lamunan Nara.

“Ah neh.”

.

.

Mobil Chanyeol mulai melaju meninggalkan Nara sendirian.

“Aku tahu kau membenciku Park Chanyeol, tapi aku akan tetap menyembuhkan-mu sampai penyakit-mu itu benar-benar menghilang.” Ucap Nara sambil melihat mobil Chanyeol yang mulai menghilang dari hadapan-nya.

.

.

~oOo~

Sementara itu Bobby merasa sangat kesal karena barusan Appa kandung-nya menelepon dia.

“Ck dasar tua bangka. Siapa yang mau tinggal dengan-nya? tinggal dengan Park Chanyeol dan wanita jalang itu. tidak akan.” Umpat Bobby kesal.

 

{FLASHBACK}

“Apa kau bilang? Kau ingin hidup dengan-ku setelah kau menyakiti eomma? Kau memang benar-benar seorang appa yang tidak tahu malu.” Bentak Bobby kepada appa kandung-nya itu.

“Tapi kau bisa tinggal bersama kami Bobby-ah, kau juga bisa bersaudara dengan Park Chanyeol. Dia membutuhkan seorang teman.” Ucap sang ayah kepada Bobby.

“Cih….bahkan aku tidak sudi mendengar nama itu. Lebih baik aku hidup dikandang buaya daripada harus hidup dengan kalian semua.” Bentak Bobby.

Tut….tut….tut…..

Bobby mematikan ponsel-nya dengan kesal.

“Cihh enak saja mau membawaku hidup bersama wanita itu. Melihat-nya saja aku sudah muak.” Ucap Bobby dalam hati-nya.

{FLASHBACK END}

.

.

~oOo~

@Taman.

 

Duduk ditengah taman di bawah bintang bertaburan memang sangat menyenangkan bagi kedua sejoli yang tengah kasmaran ini.

“Kenapa kau membawaku ke taman ini lagi chagi?” tanya Nina.

“Aku menyukai tempat ini chagi.” Jawab Chanyeol.

“Aku benar-benar senang bisa kembali bersama-mu lagi chagi.” Ucap Nina tersenyum kearah Chanyeol.

.

Tiba-tiba Nina memegang tangan Chanyeol dan menatap kedua mata Chanyeol dengan intens.

“Chagiya, jika suatu saat nanti aku telah tiada apa kau akan mencari wanita lain dariku?” tanya Nina serius.

“Haha kau ini bicara apa chagi? Kau dan aku sudah ditakdirkan bersama.” Jawab Chanyeol enteng.

“Aku serius chagi.” Ucap Nina meyakinkan Chanyeol.

“HMM…entahlah. aku belum memikirkan hal seperti itu chagi. Lagian kenapa juga kau berkata seperti itu.” Ucap Chanyeol sedikit kesal.

“Meskipun orang itu adalah Nara eonni? Apa kau tidak ingin bersama-nya jika aku tiada suatu saat nanti dan…..”

“Yak….!!! Jang Nina…!!!” bentak Chanyeol memotong perkataan Nina barusan membuat Nina sedikit tersentak. Baru kali ini Nina melihat Chanyeol terlihat sangat marah. Bahkan kemarahan Chanyeol kepada Nina saat dia berciuman dengan Bobby dulu tidak ditunjuk-kan sama sekali dengan cara kekerasan. Bahkan dengan bentakan sekalipun.

“Aku tidak akan berpaling dari-mu meskipun kau tiada sekalipun, arraseo?” ucap Chanyeol meyakinkan Nina sambil memegang kedua pipi Nina.

“Meskipun aku yang menyuruh-nya? Apa kau tetap tidak mau?” tanya Nina lirih dan terlihat air mata Nina sudah mulai menggenang di pelupuk mata-nya.

“Sampai kapan-pun kau adalah yeojachingu ku Nina-ah, arra….?” ucap Chanyeol membuat Nina meneteskan air mata-nya.

 

Entah itu air mata kepedihan atau air mata bahagia. Yang jelas malam itu Chanyeol berhasil membuat hati Nina tersentuh.

Namun sesaat setelah itu tiba-tiba mata Chanyeol kembali buram. Bahkan dia tidak bisa melihat wajah Nina dengan jelas.

 

“Neo gwaenchana chagi?” tanya Nina khawatir karena Chanyeol berkali-kali mengedip-kedipkan mata-nya.

“Aku tidak bisa melihat wajah-mu dengan jelas chagi.” Jawab Chanyeol ketakutan.

“Chagi kajja kita ke dokter sekarang.” Suruh Nina dan akhir-nya mereka berdua pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan mata Chanyeol.

.

.

“Hati-hati chagi.” Ucap Nina sambil menuntun Chanyeol menuju mobil.

“Kau bisa menyetir kan chagi?” tanya Chanyeol.

“Bisa, cepat masuklah.” Suruh Nina dan akhir-nya mereka berdua pun pergi menuju kerumah sakit.

.

.

~oOo~

@Rumah Sakit.

 

“Bagaimana keadaan-nya dokter?” tanya Nina cemas.

“Seperti-nya kanker mata-nya sudah mulai parah. Dia harus membutuhkan pendonor mata segera. Kalau tidak, dia bisa mengalami buta permanent.” Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan Nina sendirian.

 

Tubuh Nina terasa sangat lemah, dia tak kuasa menahan tangis karena orang yang dia cintai tidak bisa melihat wajah-nya lagi apabila dia tidak memiliki pendonor mata segera.

Nina mulai menyeka air mata-nya dan berjalan menghampiri Chanyeol.

 

“Chagiya….apa penyakit-ku segitu parah-nya?” tanya Chanyeol kepada Nina.

“Aniyo chagi, kau baik-baik saja. Kau hanya kecapek-an saja.” Jawab Nina bohong.

“Kajja kita pulang sekarang.” Ajak Nina.

“Tunggu dulu chagi, apa aku boleh menginap dirumah-mu?” tanya Nina.

“Mwo…? apa kau yakin chagi?” tanya Chanyeol heran.

“Neh chagi, tapi biarkan saja aku yang menyetir neh?” ucap Nina karena dia takut terjadi apa-apa kepada Chanyeol.

“Baiklah chagi, kajja kita pulang sekarang.” Ucap Chanyeol lalu mereka berdua berjalan menuju mobil.

.

.

~oOo~

“Mwo….??? kau menginap dirumah Chanyeol?” teriak Nara karena begitu terkejut-nya mendengar pernyataan sang adik yang tengah menginap dirumah kekasih-nya itu.

“Haishhh eonni aku tidak tidur bersama Chanyeol. Aku tidur dikamar tamu. Lagipula kedua orang tua Chanyeol juga berada dirumah semua. Eonni jangan khawatir neh? Bye-bye….”

tut… tut… tut…. ucap Nina langsung menutup telepon-nya.

“Haish dasar anak nakal.” Resah Nara.

.

.

Sementara itu dikediaman Chanyeol terlihat Nina tengah membantu ibu Chanyeol mempersiapkan makanan untuk makan malam bersama keluarga Chanyeol.

Saat di meja makan Nina terlihat begitu canggung bertemu dengan kedua orang tua Chanyeol meskipun dia sudah akrab dengan ibu Chanyeol. Seketika mata Nina tertuju pada seorang namja yang tak lain adalah ayah Chanyeol.

‘Tunggu dulu, ayah Chanyeol? Bahkan itu bisa dinamakan dengan ayah tiri Chanyeol. Yang tak lain dan tidak bukan adalah ayah kandung dari Bobby.’ Ucap Nina dalam hati-nya.

“Ohh jadi ini Appa kandung Bobby?” ucap Nina dalam hati-nya.

 

“Nina-ah. Mari kita makan bersama?” ucap eomma Chanyeol membuyarkan lamunan Nina seketika.

“Ahh neh eommonim.” Jawab Nina terkekeh.

.

.

~oOo~

“Aku kekamar dulu ya chagi, kalau kau butuh apa-apa kau tinggal ketuk pintu kamar-ku saja.” Ucap Chanyeol sambil meninggalkan Nina yang tengah membantu membereskan makanan ke dapur.

“Neh chagi.” Jawab Nina singkat.

Namun sesaat itu mata Nina tertuju kepada Appa Chanyeol yang tengah berjalan menuju luar rumah. Nina pun mengikuti-nya.

.

.

Nina berdehem kecil dan berdiri di samping ayah Chanyeol sekarang.

“Ehemm…..” ucap Nina membuat ayah Chanyeol terkejut dan melihat Nina kaget.

“Oh…kau rupa-nya Nina-ssi? Kenapa belum tidur?” tanya Ayah Chanyeol.

“Ahh aku belum mengantuk ahjusi.” Jawab Nina enteng.

“Apa kau satu kelas dengan Chanyeol?” tanya ayah Chanyeol memulai pembicaraan.

“Neh ahjusi, aku satu kelas dengan Park Chanyeol dan aku juga satu kelas dengan Bobby, anak kandung-mu.” Jawab nina dan saat itu juga membuat ayah Chanyeol sontak kaget dan membelalak-kan kedua mata-nya.

“Maksud-mu?” tanya ayah Chanyeol basa-basi.

 

Nina mulai menatap mata ayah Chanyeol.

“Kalau memang anda ingin Chanyeol selamat, tolong…. bicaralah kepada Bobby agar dia mau memaafkan kesalahan anda terdahulu. Karena apa? Karena Bobby ingin menghancurkan Park Chanyeol dan kehidupan anda dengan keluarga anda.” Jelas Nina meyakinkan lalu pergi meninggalkan ayah Chanyeol begitu saja.

“Maksud-mu…..”

“Aku hanya mengatakan ini sekali saja dan kuharap anda memahami-nya.” jawab Nina kemudian memegang kedua tangan ayah Chanyeol. Terlihat air mata Nina sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Aku sangat mencintai Chanyeol dan aku tidak ingin kehilangan-nya. hanya anda yang bisa menyelamat-kan nya karena satu-satu nya orang yang bisa menghentikan kejahatan Bobby adalah anda Ahjusi. Kumohon…” kemudian Nina melepaskan tangan-nya dan pergi ke dalam rumah.

 

Ayah Chanyeol tertunduk lemah mendengar ucapan Nina barusan.

“Ini semua memang kesalahan-ku. Aku memang bodoh….” sesal ayah Chanyeol.

.

.

.

.

TBC…..

NOTE’ hay semua-nya. saya akan kasih tau satu hal dan jangan kaget yaaa. Saya akan bilang kalau….

Hana…..

 

Dul….

 

Set….

 

 

Besok sudah chapter terakhir…….dan besok ada adegan NC nya. apa kah perlu di proteksi atau tidak itu semua tergantung reader.

Bye-bye………

Semoga kalian suka di chapter ini dan jangan lupa RCL YAAAAA

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Blind – (Chapter 5)

  1. 😥 😥 kasian chanyeol,, semoga setelah ini boby sadar dan berhenti ganggu chanyeol lagi
    .. nara nekat banget, sampai berani nyium chanyeol..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s