[EXOFFI FREELANCE] Hold Me Tight – (Chapter 20B-END)

artwork-72.jpg

Hold Me Tight #20B

RahayK

Byun Baek Hyun | Park Ae Ri |Song Yun Hyeong

Jackson Wang|Kim Da Hyun

Chapter-

PG-15

AU-Dark|Married-Life|Romance|Sad|Slice of Life

The Inspiration from one track from BTS -In The Mood of Love pt.1 (Hold me Tight). All storyline and the plot just my own.

No-Copas – No- reblog – No Plagiarism!! -Not For who siders – RCL Juseyoo~^^

Chaerim on IFA thx for poster~~

|In The Summary|

“Menurutmu ini tidak benar, lalu sampai kapan?Aku lelah denganmu.”

[][][]

Baekhyun dan Jackson menunggu didepan Ruang Operasi, Jackson enggan bertanya pada Baekhyun tentang kehadiran Ae Ri yang tak ada disaat genting seperti ini.

Sementara Da Hyun, entah kemana. Katanya ada sesuatu yang harus ia urus sehingga ia kembali ke rumah atapnya dulu namun hingga 3 jam berlalu ia belum juga kembali.

Baekhyun hanya merapatkan kedua tangannya dan menundukkan kepala seraya memejamkan mata. Begitu melihat Da Hyun dari kejauhan, Jackson segera menghampiri Da Hyun.

 

Mata gadis itu tampak membengkak, hidungnya juga memerah.

“Apa kau habis menangis?” tanya Jackson. “Tidak –udara di luar hanya dingin. Dan, pemanas di Rumah atapku sedang diperbaiki jadi, aku harus pulang ke rumah untuk memberikan upah pada petugasnya.” ujar Da Hyun berdusta. Tak seharusnya Jackson tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Benar kau baik-baik saja?”

“Tentu saja, bagaimana operasi Joo eun?” ujar Dahyun lalu berjalan meninggalkan Jackson dan duduk agak jauh dari Baekhyun.

“Belum juga.” jawab Jackson pelan.

“Bagaimana dengan wanita itu?” bisik Da hyun.

“Aku sudah mengiriminya pesan teks hingga 80 kali.Tapi –belum ada balasan.”

Da hyun hanya memutar matanya.

*

*

*

 

dokter Ji keluar dari ruang Operasi. “Bagaimana operasinya, dokter Ji?”

Di saat yang sama, Ae Ri baru tiba bersama Yun Hyeong.

dokter Ji menitikkan air mata. “Maafkan kami –kami sudah melakukan semampu kami.”

Baekhyun hanya mengusap wajahnya, ia kemudian menoleh kebelakang. Ae Ri membeku ditempatnya. Namun, gadis itu kemudian melangkah dengan gontai ke arahnya.

“dokter Ji!apa operasi Joo Eun berhasil?” tanya Ae Ri seraya memegang lengan baju dokter Ji.

“Maafkan kami –kami sudah melakukan yang terbaik. Ini adalah jalan terbaik yang diberikan oleh Tuhan.”

“Apa?maksudmu –Joo Eun –ku, tak tertolong begitu?”

“Sekali lagi aku meminta maaf padamu..” dokter Ji membungkukkan badannya.

“Aniyeo!Joo Eun –putriku pasti masih hidup.’ ujar Ae Ri nada bicaranya naik satu tingkat.

“–Baek!!katakan sesuatu!Joo Eun -ku pasti hanya tidur ‘kan?Jawab aku!!!” Ae Ri menarik lengan baju Baekhyun hingga tertinggal kusut disana.

Ae Ri histeris, ia memukuli Baekhyun keras -keras. Namun, suaminya itu tak menjawab.Ia hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Ae Ri.

Inilah konsekuensi yang ia terima.

“Tidak mungkin!Tuhan tak mungkin mengambil putriku secepat ini!Baekhyun kau ayahnya!kenapa kau tak melakukan apapun?!Eoh?!” Ae Ri mendorong Baekhyun hingga lelaki itu terjatuh. Da Hyun segera membawa Baekhyun pergi, sementara Jackson menahan Ae Ri agar tak lepas kendali.

Baekhyun hanya melihat Yun Hyeong berdiri di kejauhan, menonton semua itu. Tanpa rasa bersalah.

“Tidak!Baekhyun!kemana kau akan pergi!kau seharusnya menghubungiku lebih cepat!” teriak Ae Ri dengan terisak.

Da hyun kemudian menyela karena tak tahan lagi dengan perkataan Ae Ri, seolah Baekhyun bersalah sepenuhnya

“Ibayeo!Ae Ri -ssi!Baekhyun –” Da hyun bersuara namun Baekhyun segera mencengkram lengannya agar ia tak usah menjelaskan apapun.

“Sudahlah, Da Hyun. Aku tak ingin membahas itu.Dokter Ji –bolehkah aku menyiapkan rumah duka untuk Joo Eun sekarang?” tanya Baekhyun, dokter Ji hanya menepuk bahu Baekhyun pelan lalu mengangguk, air mata juga tak henti mengalir dipipinya.

“Baek!kau gila!Joo Eun belum mati!Baekhyun!Joo Eun masih hidup!Ini semua karenamu!” teriak Ae Ri sementara Baekhyun sudah berjalan menjauh untuk menuju rumah duka bersama Da Hyun.

Kemudian, saking histerisnya, wanita itu jatuh dan tak sadarkan diri.

“Noona! Noona!” teriak Jackson lalu membawa gadis itu ke ruang UGD.

*

*

*

Jackson Side’s

 

Ae Ri langsung pergi ke rumah duka begitu ia sadar dari pingsannya. Saat aku tiba, Baekhyun -hyung juga hanya berdiri dengan tatapan yang kosong terkadang. Pikirannya pasti diawang-awang. Namun, Baekhyun -hyung terlihat lebih menerima kenyataan dari pada Ae Ri.

Baekhyun sudah berdiri rapih dengan jas dan celana hitam dengan tali putih dilengan jasnya sebagai lambang berduka.

“Noona?” panggilku, Ae Ri hanya menoleh, “Pakai ini..” ujar ku lalu memberikan pita putih untuk digunakan di kepalanya.

“Ini bukan penghormatan terakhir untuk putriku.Untuk apa aku memakai itu.” ujar Ae Ri dengan pandangan datar, ia mengusap air matanya sendiri.

Kini, dua orang ini seperti orang asing. Tak saling menyapa bahkan untuk menguatkan satu sama lain, juga tak mereka lakukan.

“Noona, ini adalah kenyataannya.Ini jalan terbaik untuk Joo Eun. Ia pasti bahagia di Surga.” ujarku meyakinkan Ae Ri. Namun, mata gadis itu kembali berair dan berkaca-kaca. Ia lalu memegang tanganku. “Jika menurutmu begitu, antarkan aku untuk melihat Joo Eun, untuk yang terakhir.. jebal..”

Ketika gadis itu memejamkan mata, seluruh air matanya tumpah ruah. Akupun mengantarnya ke Ruang Jenazah.

“Joo Eun -i?ini ibu..” ujar Ae Ri. Aku hanya berdiri dibelakang Ae Ri. “Joo Eun..kenapa kau sangat dingin?apa kau tak rindu pada rumah?atau pada Ibu?atau pada Appa..”

“..kenapa kau harus pergi ke tempat lain secepat ini..kau tahu?ibu baru saja mendapat pekerjaan.Joo Eun -ah..ibu mohon, ibu ingin melihat matamu terbuka untuk yang terakhir kalinya.” ujar Ae Ri lalu memeluk putrinya itu.

*

*

*

“Aku turut berduka, Baekhyun -ssi..” ujar Seul Gi yang datang bersama sang suami. Baekhyun hanya tersenyum sakit dan membungkukkan badannya.

“Tuhan pasti akan memberikan kalian kebahagiaan setelah ini, percayalah, Baekhyun -ah..” ujar Yeol yang juga datang begitu juga dengan ketua Jung dan beberapa rekan lainnya. “Bersabarlah..aku tidak akan memecatmu dari pekerjaan.” ujar Ketua Jung, membuat Baekhyun hanya menundukkan kepala “Gamsahamnida, Ketua Jung..silahkan nikmati suguhannya..” ujar Baekhyun.

“Semoga Joo Eun mendapat tempat terbaik disana, kalian sudah menjadi orang tua yang baik untuknya..” ujar Ibu Baekhyun yang baru saja datang. Baekhyun segera memeluk ibunya, ia terisak dalam dekapan ibunya. “Terimakasih sudah datang,bu..”

 

“Jangan merasa bersalah atas kejadian ini, semuanya sudah diatur oleh Tuhan..” ujar Yi Xing yang baru saja datang, ia kemudian memeluk Baekhyun seraya mengusap punggung Baekhyun memberi semangat. “Maaf terlambat.” kata Yi Xing lagi. “Tak masalah, terimakasih sudah datang..” ujar Baekhyun.

 

“Joo Eun selalu ada untuk kalian, Hyung.” ujar Kyung Soo yang datang dengan pakaian jas kedokterannya. “Maafkan pihak rumah sakit yang tak dapat menolong Joo Eun..” ujar Kyung Soo. Baekhyun hanya menggeleng. “Tidak, baik kau ataupun tim medis sudah berusaha yang terbaik, ini konsekuensi yang ku dapat atas keputusan yang aku ambil.” ujar Baekhyun.

 

“Maaf kami datang terlambat, Baekhyun -ssi.” ujar Seung Wan dan Jin Hwan. “Semoga Joo Eun tenang disana.Jangan bersedih, Joo Eun tidak ingin melihat orang tuanya menangis lebih banyak lagi kau tahu?” tanya Jin Hwan. Baekhyun hanya mengulas senyum kecil.  “Ya, aku tahu. Terimakasih sudah datang, Seung Wan-ssi, Jin Hwan -sunbae..”

“Ae Ri dimana?” tanya Seung Wan. Baekhyun menyapu pandang. Ia baru melihatnya bersama Jackson sejak terakhir tadi di depan ruang Operasi. “Ia kelelahan, sepertinya ia baru bisa meyapa tamu sekarang.” ujar Baekhyun. Seung Wan hanya mengangguk lalu berjalan menemui Ae Ri.

“Jin Hwan -sunbae?” panggil Baekhyun. “Ya?”

“Bilang pada Ae Ri untuk istirahat saja, dan datang ketika upacara pemakaman dimulai. Aku tak ingin, ia jatuh sakit.”ujar Baekhyun.

“Baiklah, aku tahu.” ujar Jin Hwan.

*

*

*

Musim gugur hampir tiba pada puncaknya, semesta tampak terus menujukkan dukanya sejak terakhir kali lelaki itu berdiri ditepi sungai untuk melarung abu putri yang ia cinta. Awan menggulung yang seketika menjadi abu-abu menjadi bercampur kehitaman, seperti badai besar akan datang.

Tak lama, buliran air garam jatuh menghujani bumi, membasahi aspal yang tampak kering, tak ada lagi daun yang dipenuhi embun, kini semuanya telah meranggas dan meninggalkan dahan dan rantingnya. Membuat semut kembali pada persembunyian yang hangat dibawah tanah.

Keadaan dua orang itu sama seperti semesta dan bumi yang dibasahi oleh air hujan.

Tampak asing,menyedihkan dan begitu kelam.

Seperti kembali pada satu tahun silam, dimana lelaki itu hanya memandang langit luar dengan pandangan tak menerawang.

Jika hari lalu yang satu datang, yang lainnya menghindari. Namun, tidak untuk hari ini. Lelaki itu kali ini tidak menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, ini adalah akhir pekan, ia kembali ke rumahnya. Yang sangat dingin dan gelap.

Dan, ia tak menghindar. Ia tak pergi lebih dulu. Kali ini, ia tak bersembunyi. Bahkan, sebetulnya sama sekali ia tak pernah sekalipun ia melakukan itu. Ia selalu berada ditempat yang sama.

Menunggu wanita itu kembali, pulang ke rumahnya. Yang tak bisa ia lakukan hanyalah memanggil namanya secara tegas. Pita suaranya seakan diputus oleh angin dingin yang berhembus.

Suara hujan langsung masuk kedalam panca inderanya begitu seseorang membuka pintu, derap langkah terdengar beberapa meter dibelakangnya. Namun, kemudian terhenti. Langkah itu tak mendekat lagi. Ia hanya berdiri disana. Di tempatnya. Jika lelaki itu menolehkan kepalanya, ia akan melihat bagaimana rupa wanita itu, kemudian ia berjalan ke kamar mereka dan kembali pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Untuk kali ini, ia tak mau hal seperti itu terjadi. Ia harus bicara pada wanita itu tak perduli bagaimana sulitnya ia membahas ini.

“Ae Ri -ah..bicara denganku sebentar.” ujar lelaki itu lalu menahan tangan gadis itu agar tidak pergi. “Apalagi yang mau kau bicarakan? –apa kau tak puas melihatku menderita seperti ini,eoh?” tanya wanita itu lalu menyingkap rambutnya yang terurai.

“Tidak hanya kau yang menderita, aku juga.Tidak seharusnya kau seperti ini. Apa kau kira Joo Eun tak melihat kita?” Baekhyun masih menahan tangan gadis itu.

“Joo Eun mati karenamu!Karena keputusan sepihakmu, kau tahu! Aah, menderita katamu?Kau?Kau bahkan masih bisa bekerja dengan baik sedangkan aku tidak!Aku ibunya –tapi, bagaimana bisa kau tak membiarkan aku untuk melihat Joo Eun sebelum operasi dimulai?Eoh?” Ae Ri membentak Baekhyun dengan air mata yang membahasahi pipinya. Baekhyun berbicara dengan nada naik satu tingkat.

“Aku sudah menghubungimu berulang kali!bahkan puluhan kali tapi kau tak menjawab panggilanku!Saat itu kau dimana?Apa yang kau lakukan!Aku bahkan sudah menyuruh Jackson dan Dahyun untuk menghubungimu tapi kau tak ada jawaban sama sekali!”

“Jika aku tak menjawab,atau ponselku tak aktif seharusnya kau menjemputku ke kantor!Apa kau melakukannya atau tidak?!Ya atau tidak?!”

Lelaki itu terdiam mematung, seharusnya ia membela diri. Tentu saja ia sudah melakukannya. Tapi, mengapa ia tak dapat menjawab itu?

“Lihatlah,kau tak melakukannya ya ‘kan? —sampai kapan kau akan seperti ini?–Aku ingin cerai denganmu.”

Baekhyun hanya menghela nafas panjang,beruntung suara hujan begitu keras, sehingga pertengkaran mereka tak akan didengar oleh orang lain. “Ini tidak benar, Ae Ri..” suara Baekhyun melunak.

“Menurutmu ini tidak benar, lalu sampai kapan?Aku lelah denganmu.” wanita itu masih terisak.

“Bukan seperti ini penyelesaian masalahnya. Tetap tinggal disisiku, genggamlah tangan ini..” ujar Baekhyun memohon, bagaimanapun perceraian bukan jalan keluar terbaik.

“Jika melepas genggaman tanganmu adalah pilihan yang terbaik, Apa yang akan kau lakukan?—apa kau bisa untuk tidak membuat semua ini jadi tak sesulit sekarang?apa kau bisa mengembalikan Joo Eun padaku?Apa kau bisa mengembalikan waktu dimana kau seharusnya memanggilku untuk datang ke rumah sakit lebih cepat?–huh?!Lihat!kau tidak bisa ‘kan?” Ae Ri menepis tangan Baekhyun yang menahan lengannya.

“Aku bosan hidup seperti ini denganmu!Kau tahu! —‘ bentaknya lagi.

“…sampai kapan aku harus menderita karenamu?–Aku mohon, begitu surat cerai datang, tanda tanganilah dengan segera.” Ae Ri kemudian melangkah pergi dari sana. Pergi tanpa perduli lagi dengan Baekhyun.

Deg!

Baekhyun tak dapat menjawab apapun. Hatinya terasa tercambuk begitu tangan itu menepis genggaman tangannya. Ia melangkah tanpa berat hati,tanpa beban dan tanpa rasa bersalah bahkan ia sama sekali tak menoleh pada lelaki yang masih berharap wanita itu kembali ke sisinya.

Hari itu, dimusim gugur dibawah hujan lebat, ia meninggalkan seseorang yang dulu ia cinta. Biarkan lelaki itu tersakiti di hari ini, agar ia tak merasakan sakit yang sama dihari esok. Bagaimanapun, Ae Ri masih berharap Baekhyun masih punya secercah kebahagiaan. Orang lain yang lebih baik darinya lebih berhak berbahagia bersama Baekhyun,daripada dirinya yang sudah mengkhianati Baekhyun.

Flashback~

“Sudah dua minggu, Joo Eun meninggalkan ibunya..” Ae Ri berujar seraya menyesap kopinya. Ia sudah kembali bekerja,namun terkadang tatapannya masih tak menerawang  kemanapun. Angin berhembus cukup kencang, rambutnya tersibak kebelakang dan membuat wajah putih susunya terpampang jelas.

“Putrimu bahagia disana bagaimanapun. Dulu, ketika aku berada di SMA, kadang terbesit dibenakku untuk membiarkan ayahku mati –aku, hanya tak ingin melihatnya begitu menderita lebih banyak lagi.Jahat ‘kan?” Yun Hyeong terkekeh.

“Sedikit sih —lalu, kenapa kau tak melakukannya?” tanya Ae Ri seraya menatap Yun Hyeong. Ia tersenyum simpul. Yun Hyeong hanya tertawa lalu bersedekap.

“Sisi benci dan sisi baikku tak sebanding.Semenderitanya Ayahku saat itu –aku tetap ingat bagaimana sulitnya ia merawatku dan juga Noona ketika kami sakit.Jika aku hanya merelakan ayahku seperti itu —sangat tak sebanding sekali dengan apa yang ia korbankan. Jadi —aku hanya membiarkannya seperti itu.”

“Terimakasih sudah menghiburku. Aku sedikit lega —hanya sedikit.”

“Apa kau mau minum bersamaku?” tanya Yun Hyeong seraya tersenyum lebar, Ae Ri hanya mengangguk lalu tersenyum simpul juga. “Nde!Uri Bosseu!Song Yun Hyeong -ssi.”

*

*

*

Yun Hyeong memasuki pelataran parkir bawah tanah. Ae Ri hanya melihat sekeliling. “Kita bukan minum di kedai saja?atau di club?” tanya Ae Ri.

Yun Hyeong hanya tersenyum penuh arti. Mesin mobilnya tak lagi menyala, ia kemudian membuka seat-belt dan membuka punya Ae Ri juga. “Aku punya wine, sudah lama beli bersama Ayahku. Tadinya, aku berencana untuk mengajak Ayah dan kau untuk makan malam disini. Tapi, rencanaku gagal. Ini adalah apartemenku.” jelas Yun hyeong kemudian mereka turun dari sana.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba didepan pintu apartement. Kemudian, lelaki itu mempersilahkan masuk. “Sekarang jam berapa?” tanya Yun Hyeong. Ae ri mengangkat lengan kemejanya. “Jam 18.21”

“Duduklah –kau mau spaghetti?” tawar Yun Hyeong. “Tidak usah –terimakasih.” ujar Ae Ri menolak tawaran Yun Hyeong. “Karena kau sudah disini, temani aku makan malam –call?” Yun Hyeong menunjuk Ae Ri mengisyaratkan agar ia setuju dengan ajakannya. Ae Ri hanya setuju dan membalasnya dengan senyuman.

“Baiklah –Yun Hyeong -ssi. Call!”

“Apa aku bisa minta tolong padamu untuk membukakan winenya? Ada dilemari samping kulkas.”

Yun Hyeong masih sibuk memasak, Ae Ri kemudian berjalan dan mengambil pembuka botol. Lalu, Yun Hyeong mulai memasak. Ia melihat Ae Ri kesusahan membuka wine nya, lelaki itu segera mengambil alih dan membukanya. Ae Ri tiba -tiba saja tertawa, lalu segera mengambil gelas. “Jujur –aku selalu meminta Jackson untuk membuka botol wine jika ada pelanggan.”  ujar Ae Ri seraya meneguk wine nya.

*

*

*

“Benarkah? –kalau begitu, bantu aku untuk membuat saus pastanya. Kau bisa?” tanya Yun Hyeong. “Hng..geurae!” Ae Ri menaruh gelas wine nya dan mulai memasak. Ae Ri mencari sesuatu, namun ia tak juga menemukannya. Kemudian Yun Hyeong berdiri dibelakangnya,membuat Ae Ri berbalik dan pergerakannya terkunci.

Hening.

Dua insan itu hanya saling bertatapan, saling menyelami pandangan. Hingga hanya terdengar salah satu degupan jantung diantara mereka. “Aku menyukaimu! Ae Ri –ssi.” sontak Yun Hyeong. Ae Ri segera menghindar dan berjalan kekompor. Ia mematikan pematiknya. “Ooh!sudah matang. Sepertinya over -cook, Yun Hyeong -ssi.” ujarnya terbata-bata. Ia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. “Aku kurang suka dengan over -ccok, jadi biarkan saja. Ayo, kita minum wine saja.” ajak Yun Hyeong lalu membawa gelas wine mereka dan sebotol wine kemudian duduk disofa panjang. Ae Ri hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.Apa yang baru Yun Hyeong katakan itu dalam keadaan sadar atau tidak?

Beberapa waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 8 malam. Yun Hyeong bercerita panjang lebar sementara Ae Ri hanya mendengarkan. Ae Ri tak begitu terpengaruh terhadap alkohol wine, terkecuali arak beras atau maekju.

Lelaki itu tiba -tiba saja, memegang tangan Ae Ri, menggenggamnya erat. Walaupun pandangannya sudah sayup -sayup ia masih bersuara. “Itu fakta. Itu juga bukan kesalahan. Aku sangat menyukaimu —Ae Ri -ssi.. Aku selalu merindukanmu, tapi –tak perduli seberapa banyak aku mencoba untuk menepismu dari pikiranku, kau tetap ada.”

Ae Ri masih terdiam. “Yun Hyeong -ssi..”

“Sungguh!jika aku harus membawamu ke dunia lain, jauh dari sini tak apa. Mengapa hatiku harus jatuh untukmu?Mengapa kau harus menikah dan mencintai lelaki itu?Mengapa harus dia?!Eoh?”

Ae Ri ingin beranjak, namun lelaki itu malah mencium bibir Ae Ri.Mengunci pergerakan gadis itu hingga ia tak bergerak.Lelaki itu melumat bibir Ae Ri perlahan. Detik pertama ia terdiam, lalu melepas paksa ciuman itu. Ae Ri memandang Yun Hyeong tak percaya. Ae Ri beranjak dan mengambil tasnya, namun Ae Ri kembali ditarik oleh Yun Hyeong.

“Ini tidak benar.. aku harus –” omongan Ae Ri dipotong lagi oleh Yun Hyeong. Ciuman itu menjadi lebih memaksa lagi, perlahan Ae Ri mulai menerima dan membalas lumatan dari Yun Hyeong. Yun Hyeong meraba punggung Ae Ri dari luar,kemudian  Ae Ri melingkarkan tangannya dileher Yun Hyeong. Kedua insan itu mulai menikmati permainan masing -masing.

Lelaki itu melepaskan cumbunya dan memandang Ae Ri, ia kemudian melakukan hal yang sama lagi, lalu beralih pada leher jenjang Ae Ri, meraba punggung Ae Ri, waktu berikutnya, hanya terdengar resleting yang diturunkan,desahan -desahan tertahan yang membuat permainan itu semakin panas.

 

||Hold Me Tight ||

Dahyun mengacak rambutnya frustasi, melihat keadaan Baekhyun sekarang ia benar-benar tak bisa lagi mengampuni seseorang yang bernama PARK AE RI.

Tentu. Yang Baekhyun lakukan hanya mabuk saja lalu kembali tertidur dan bangun lalu melakukan hal yang sama lagi. Ia melakukan itu setiap kali ia punya cuti dipekerjaannya.

“Ini tidak bisa dibiarkan, seseorang harus meluruskan jalan pikirannya!” ujar Da Hyun.

“Oppa!berhentilah memikirkan hal yang tidak berguna.” Ia menarik lengan Baekhyun, memaksa lelaki itu untuk bangkit dari tempatnya. Namun, Baekhyun malah memberontak dan membentak Da hyun.

“Da Hyun, kau berisik. Aku sedang tidak memikirkan apapun!” teriaknya lalu menenggak minuman beralkohol untuk yang sekian kalinya.

“Kau ditinggalkan, Oppa!—kau adalah orang yang dicampakkan, bagaimana bisa kau mengharapkan dia kembali?!Kembalilah kealam sadarmu!” Da Hyun mengguncang Baekhyun sementara Jackson hanya memerhatikan mereka dari jauh, karena bagaimanapun, apa yang Da hyun katakan memang benar.

“Aku terlalu mencintainya.Ini semua salahku sehingga ia harus merasakan penderitaan seperti ini.”

“Ini adalah keinginannya, Oppa. Aku mohon —tanda tanganilah surat cerai itu. Kau hanya menjadi orang paling menyedihkan didunia jika kau hanya hidup seperti ini  kau tahu?!”

“Aku harus pergi —sampai nanti, Da Hyun -ah, Jackson.”

Sepeninggal Baekhyun, Da Hyun hanya terdiam ia menundukkan kepala. Menahan tangis yang sejak tadi ia tahan.

Jackson menghampiri Da Hyun dan memeluk gadis itu, barulah ia menangis didekapan Jackson. Bagaimanapun, Baekhyun adalah seseorang yang pernah ia suka, dan sudah menganggapnya sebagai kakanya sendiri.Jika Baekhyun seperti ini, dan kesakitan begitu juga dengannya.

“Apa yang harus kita lakukan?!Aku tidak bisa membiarkan dia begitu menderita.”

“…Wang —mengapa hidupnya harus sesulit ini?”

*

*

*

Baekhyun hanya berdiri diatas jembatan sungai Han. Ia begitu hancur, bukan karena Joo Eun melainkan Ae Ri. Bagaimana bisa, dengan mudahnya ia melepas tangannya dan pergi meninggalkannya begitu saja.

“Joo Eun!!!Apa ayah harus bersamamu?!!Eoh?!!!”

 

Hold Me Tight is FINISH.

 

cuap^^Author!

Halo~~ Hold Me tight Finish. Dan akan berlanjut ke Sequel karena ini bukanlah akhir.

Harapannya akan banyak mendapat dukungan dan respon positif. Bagi yang mau bertanya silahkan aja. Bakal aku jawab tapi aku gak bakal kasih spoiler oke?

Untuk sequel diusahakan lebih sering update kalo responnya bagus. Terutama, aku butuh komentar kalian. Bukan masalah views yang banyak tapi kebanyakan siders.

Aku butuh apresiasi, penilaian, gimana fanfic aku sebenarnya. Apa masih abal, typo banget atau kurang gimana aku pengen kritik dan saran yang membangun.

Karena, aku dilema untuk membuat sequel takut banyak yang gak suka untuk itu, ayo dong semangat baca, semangat juga beri komentar huehehehe

Oiya, sedikit aja nih kalimat manis buat kalian, siapa tahu bisa jadi pemanis hidup kekeke

Trims

 

 

Jika kau dihadapi oleh dua pilihan dalam hidup, maka harus memilih salah satu dan tinggalkan yang lain dibelakang. Jika kau serakah, maka Tuhan akan mengambil semuanya darimu__RahayK

*

*

*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Hold Me Tight – (Chapter 20B-END)

  1. Sekuelnya judulnya apa?
    aku nangis loh baca part ini. Huhuhu. Katanya happy :((
    bagus, baekhyun gak usah sama ae ri lagi. Orang ae ri nya aja udah begituan ama si yun hyeong. Baekhyunku yang malang. :((. Sini sama dedek >.< wkwkkwkwk
    ditunggu loh thor sekuelnya. Fighting!!!

  2. Tolong sadarkan aeri!!!
    harapan aku sih si baek tetap ama aeri. tapi aeri jahat bgt!! kasian baekhyun😦
    sudah la, batalkan perceraian – buat anak lagi – jdi keluarga bahagia ^^ hehehe

    • tenang tunggu aja sequelnya yaa thankyouu… btw ini adalah akhir hold me tight tapi bukan akhir dari baekhyun dan aeri bakal ada orang baru yang dateng dan ikutan kisruh dalam kisah mereka so, staytune aja terus~^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s