[EXOFFI FACEBOOK] Moonlight (chapter3)

15036636_1141804522603597_397977974421531705_n

 

Title : Moonlight
Author : loudia3424
Cast : Park Chanyeol, Im Nayeon, Kim Jongin
OC : Tiffany Hwang & Member EXO, others.
Genre : General

Annyeonghaseyo *bow* , author bawa fanfic absurb lagi nih hahahaa.. Author masih setia sama PCY jadi ya cast nya dia lagi dia lagi *plis jangan bosen ya* hehe.. Author nulis fanfic ini terinspirasi dari salah satu web drama dan author bikin versi EXO nya, jadi kalo pas kalian baca agak mirip jangan bully author >,<
Oiya, author juga masih baru dalam menulis fanfic, so mian kalo kata-katanya kurang dapet feelnya or banyak typo ^o^)v

Happy Reading!

-Chapter 3-

oOoOOoOo

“Oh, sunbae! Annyeonghaseyo. Kau ikut akan ikut syuting iklan nanti bukan?” Nayeon yang sedang membaca beberapa berkas di meja kerjanya mendongakkan kepalanya kearah sumber suara. Manik matanya menangkap sosok namja manis dengan eyes smile-nya. Nayeon memundurkan kursinya beberapa centi untuk menjauhi wajah Baekhyun yang terlalu dekat.

“Uh? Ne. Aku akan ikut.”

“Bagus. Sepertinya syuting kali ini akan memakan waktu yang lama. Nanti malam makan malam bersamaku ya sunbae. Aku tahu tempat yang enak disekitar tempat itu.” Nayeon mengrenyitkan alisnya mendengar ajakan Baekhyun. Yang ia tahu Baekhyun dekat dengan Ji He Ran, salah satu juniornya juga sama seperti Baekhyun. “Baiklah, sampai nanti sunbae.” Lanjut Baekhyun kemudian duduk dimeja kerjanya.

“Mwo??? Byun Baekhyun?? Mengajakmu makan malam? Yak! Kau harus menerimanya. Kau harus makan malam dengannya. Wah, daebak soerang idol menyukaimu, Im Nayeon.” Celoteh Tiffany saat Nayeon menceritakan kejadian barusan di kantin kantor.

“Kenapa?? Aku tidak suka dengan namja imut seperti itu. Dia benar-benar bukan style-ku.” Nayeon menolak semua saran yang diberikan oleh Tifanny.

“Kau sudah tidak waras. Kau bisa berkencan dengan Baekhyun itu luar biasa. Kalau aku di posisimu sudah aku terima bahkan bukan makan malam, makan siang saat ini pun aku akan mengatakan iya.” Kesal Tiffany. Baekhyun adalah namja paling charming dan mempesona diantara tim A dan tim B. Dia adalah idol para yeoja dikantor ini karena ia memang masih muda. Hanya saja dia sedikit terlihat playboy karena terlalu murah senyum terhadap semua yeoja. Jika idol namja di kantor ini adalah Baekhyun, idol yeoja disandang oleh Ji He Ran. Mereka mirip bukan?

“Jadi menurut unni, aku harus menyanggupinya?” Ucap Nayeon dengan raut wajah yang berubah serius kali ini. Tiffany mengangguk mantap.

“Ayo semua bersiap-siap!” teriak Xiumin sebagai PD-nim di proyek iklan kali ini. Nayeon masih berdiri disamping artis sambil merapikan kostumnya yang sedikit berantakan tertiup angin. Ya, sekarang mereka sedang berada di pantai untuk menjalankan syuting iklan. Angin berhembus semakin kencang dan dingin karena hari memang sudah menjelang sore. “Kita akan selesaikan dalam satu take. Oke, action!” Lanjut Xiumin memberi aba-aba pada semua staff dan artis tersebut.

****

“Sup kimchi??” Nayeon melirik mangkuk yang masih panas di hadapannya setelah seorang pelayan meletakkannya di meja makan. Baekhyun yang duduk didepannya mengangguk dan meyakinkan Nayeon kalau makanan itu sangat enak.

“Cobalah, sunbae. Ini sangat enak. Aku khawatir kalau kedai ini sudah tidak ada. Ternyata masih. Aku sudah lama tidak makan disini.” Nayeon tidak bisa menolak karena ini adalah sebuah kencan, sepertinya. Ia menyendok sup kimchi yang masih panas dan memasukkannya ke mulut.

“Wah, ini benar-benar enak. Pantas saja antriannya begitu ramai diluar.”

“Benar kan? Ayo, habiskan.” Baekhyun tersenyum karena Nayeon menyukai sup kimchi yang ia rekomendasikan sedari tadi.

“Malam ini dingin. Ayo kita masuk dan beristirahat.” Mereka berdua saat ini tengah berjalan dipinggir pantai hendak kembali ke penginapan.

“Kenapa? Pantai dimalam hari sangat indah.” Baekhyun tiba-tiba menggandeng tangan Nayeon. Sontak Nayeon kaget dan menghentikan langkahnya. Ia mencoba melepas genggaman Baekhyun, namun seimut apapun wajah Baekhyun ia tetaplah namja yang kekuatannya lebih kuat darinya.

“Sunbae, kenapa kau selalu terlihat imut bahkan saat kaget seperti ini? Kau tidak menyadarinya?” Baekhyun terkekeh geli saat melihat raut wajah Nayeon.

“Jangan becanda, Byun Baekhyun.”

“Kenapa? Kau tahu bagaimana perasaanku kan Sunbae?” Nayeon hanya membalas dengan napas berat dan mendengus kesal dengan bocah satu ini.

“Ayo kita kembali, Park Timjangnim pasti akan marah-marah kalau kita tidak segera kembali.”

“Bukankah Park Timjangnim sudah bukan atasanmu lagi, sunbae? Kau sudah pindah ke tim B bukan?”

“Mau dimanapun aku berada di tim A atau tim B, dia tetaplah Timjangnim-ku. Dari pertama aku masuk ke kantor ini dia adalah atasanku. Jadi, dia bisa menyuruhku ini dan itu.”

“Aku iri dengan hubungan kalian. Sunbae, kau sangat terlihat imut malam ini.”

“Iri? Aku sangat menderita selama empat tahun ini, kau tahu? Dan berhenti menganggapku imut, Byun Baekhyun.” Nayeon berlari menjauhi Baekhyun yang terus saja menggodanya dengan kata-kata playboynya itu. “Ahh, sunbae. Kenapa kau tidak bisa melihat bagaimana perasaanku, hah?” Nayeon semakin berusaha berlari menjauhi Baekhyun.

****

“Apa? Sup Kimchi? Kau yakin kalian makan sup kimchi diacara kencan?” Tiffany melongo saat Nayeon menceritakan kejadian kemarin. Entahlah, itu dapat dikatakan kencan atau bukan. Yang Nayeon akui hanyalah sup kimchi itu sungguh sangat enak bahkan melebihi buatan ibunya dirumah.

“Ah, unni sudah lupakan saja. Jangan membahas itu lagi.” Nayeon kembali merapikan beberapa berkas di meja kerjanya. Tiffany kembali ke posisi mejanya setelah mendengar cerita yang ia harapkan berjalan dengan bahagia namun realitanya, tidak.

“Im Nayeon. Ayo ikut denganku. Kita akan bertemu dengan klien.” Ketua Direksi Junmyeon memang sering mengajak Nayeon untuk menemui beberapa klien untuk bekerjasama dalam sebuah iklan. Ketua Kim menganggap Nayeon adalah orang yang ramah dan dapat bergaul dengan mudah sehingga banyak klien yang suka terhadapnya.

Namun Nayeon sering merasa jika Ketua Kim sangat berlebihan terhadapnya. Setiap selesai bertemu dengan klien, ia pasti mengajak Nayeon makan disebuah restoran mahal. Ya alasannya adalah ini sudah jam makan siang. Tetep saja, Nayeon merasa diperlakukan bukan seperti karyawan melainkan seperti seorang wanita. Hampir semua orang dikantor sangat menghormati Ketua Kim karena kebaikannya tersebut.

“Aku menolak. Aku masih baru disini dan aku membutuhkan Nayeon di timku.” Kim Jongin masih terus ingin mempertahankan Nayeon di dalam timnya. Park Chanyeol menatapnya tajam dan aura dingin mulai menyerebak ke seluruh ruangan. Dua namja tinggi itu tengah berdebat mengenai proyek iklan baru yang cukup besar.

“Ada sedikit masalah dengan proyek ini, Nayeon butuh belajar lebih banyak. Jadi-“

“Aku yang akan mengajarinya.” Potong Kim Jongin saat Chanyeol membalas ucapannya tadi. “Karena kau menyinggung proyek ini aku jadi ingin bertanya padamu. Im Nayeon adalah anggota tim-ku tapi kenapa ia harus selalu lapor kepadamu, Park Timjang?” Lanjutnya.

“Karena sejak awal aku sudah bertanggung jawab atas proyek ini.”

“Itu dulu saat dia masih berada di tim-mu. Sekarang dia milikku.” Chanyeol mengepalkan tangannya saat mendengar jawaban dari Kim Jongin. Keduanya saling bertatapan beberapa detik dan kemudian Jongin meninggalkan Chanyeol diruang rapat tersebut.

****

Bisa lebih cepat membacanya dan segeralah pergi dari sini – batin Nayeon saat sedang menunggu Kim Jongin membaca berkas yang ia laporkan padanya.

“Sebagai anak buahmu, apa saya boleh mengatakan sesuatu? Atau Timjangnim ingin mengatakan sesuatu pada saya?” Kim Jongin mengalihkan pandangannya ke arah Nayeon yang duduk didepannya.

“Aku selalu mengikuti apa katamu.” Jawab Jongin datar tanpa ekspresi begitu berarti. Nayeon memutar bola matanya malas dengan jawaban Jongin barusan.

“Kalau begitu saya yang bicara. Terus terang saja saya merasa tidak nyaman berada di tim ini. Saya tidak bisa bersama anda, Kim Jongin Timjangnim.”

“Aku tidak pernah tidak memikirkanmu.”

“Jadi kalau begitu, beri saya kesempatan untuk pindah ke tim lain.”

“Kenapa kau tidak memikirkanku? Kenapa aku harus mengirim tim-ku kepada tim lain tanpa suatu alasan?” Jongin kembali menatap berkas-berkas yang belum selesai ia baca. Nayeon memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut sebelum ruang kerja Kim Timjangnim menjadi kapal pecah.

Nayeon terhenti disebuah balkon. Menepuk-nepukkan dadanya dan mengatur pernapasannya seusai keluar dari ruangan tadi. “Untung saja aku masih mengatur emosiku.” Gumamnya lirih. Setelah dirasa cukup melepas ketegangannya, ia berbalik namun langkahnya terhenti saat mendapati tubuh namja tinggi yang menghalangi jalannya. Nayeon mendongakkan kepalanya dan menangkap sosok Park Chanyeol.

“Sedang apa?” Park Chanyeol tak bergeming dari posisinya walaupun kepala Nayeon sempat terbentur oleh tubuhnya. “Apa kau lihat-lihat? Menunduk.” Perintah Chanyeol melihat Nayeon dengan wajah masih terkejutnya. Segera Nayeon mematuhi perintah atasannya.

“Kau tidak menjawab? Ini sudah lebih dari tiga detik.” Chanyeol menghela napasnya berat sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal menghadapi bawahannya satu ini. “Bagaimana iklan sepatu itu?” Lanjutnya.

“Sepertinya semua sudah menyerah. Artis yang di konfirmasi begitu sibuk. Kami sudah menghubungi manager-nya namun belum ada tanggapan pasti.” Kali ini Nayeon yang menghela napasnya berat memasang wajah lesunya.

“Apa ini yang aku ajarkan padamu?”

“Saya sudah berusaha sejak minggu lalu. Kalau saya tahu alamat rumahnya, saya akan segera kesana dan berlutut memohon padanya. Tapi dia adalah Hallyu Star. Tentu saja alamat rumahnya adalah rahasia yang sangat dijaga. Benar kan, Timjangnim?” Chanyeol hanya memandangi dengan wajah datarnya dan menyilangkan tangannya di dada. Mendengar ocehan Nayeon yang justru panjang lebar.

“Apa anda mendengar saya, Park Timjangnim? Kalau tidak ingin membantu ya sudah” Memang percuma saja menceritakan hal seperti ini kepada Park Chanyeol. Toh dia adalah atasan yang seharusnya hanya memerintahkan saja. Nayeon sudah terlanjur kesal.

“Sepertinya kau tidak perlu nomor telepon Oh Sehun artis itu kan?”

“Tidak perlu.”

“Oh, begitu. Ya sudah.” Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresinya berjalan hendak meninggalkan Nayeon. Namun baru beberapa langkah, Nayeon menahan lengan Chanyeol dan membuatnya sedikit terkejut.

“Sebentar! Anda bilang nomor telepon Oh Sehun? Nomor pribadinya, bukan nomor manager-nya? Nomor yang kalau saya hubungi dia sendiri yang akan menjawabnya? Nomor yang bisa saya tanyakan soal syuting iklan ini? Benarkan Park Timjangnim?”

“I-Iya nomor itu.” Chanyeol mencoba melepas tangan Nayeon dari lengannya yang sedari ia pegang untuk menahannya. “Tentu saja saya butuh. Park Timjangnim, saya mohon.” Lanjut Nayeon yang justru kali ini memegang kedua tangannya. Chanyeol merasa tidak bisa bergerak karena Nayeon terus saja merengek dan menyudutkannya secara perlahan hingga punggungnya terhenti oleh pagar balkon.

****

“Saya mohon hubungi saya segera. Baiklah, terimakasih.” Kim Jongin menutup sambungan teleponnya dengan wajah lesu dan lelah. Hal ini sangat menguras pikiran Jongin.

“Kim Jongin Timjangnim!!!!!!!” Nayeon berlari dengan berteriak sambil tersenyum lebar ke arah meja kerja Kim Jongin. Sontak Jongin kaget dengan suara yang begitu lantang dari ujung lorong.

Ekspresi wajah Nayeon seketika berubah saat melihat wajah Kim Jongin yang sedikit kaget karena ulahnya. Seketika Nayeon menurunkan tangannya dan mencoba bersikap normal. Nayeon menyerahkan kertas kecil berisi nomor telepon kepada Kim Jongin dengan wajah dan senyum penuh kemenangan.

“Saya mendapatkan nomor pribadi Oh Sehun.” Ucap Nayeon dengan penuh percaya diri.

“Apa?” Segera Jongin meraih kertas tersebut dan tersenyum melihat Nayeon sekilas. Ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor tersebut. Dan, berhasil. Oh Sehun sendiri yang menjawab sambungan telepon tersebut. Nayeon memperhatikan obrolan Jongin dengan artis tersebut dari meja kerjanya.

“Kau sedang apa, sunbae?” Nayeon segera memundurkan kursinya menjauhi Baekhyun yang duduk santai di samping meja kerjanya. Nayeon mengontrol napasnya karena terkejut dan perlahan kembali ke posisi meja kerjanya.

“Kau terlihat pucat, sunbae? Kau tidak apa-apa?” Baekhyun menempelkan punggung tangannya di dahi Nayeon. “Sepertinya kau sedikit demam, sunbae. Sini biar aku pijat.” Baekhyun beralih ke belakang Nayeon dan memijat bahunya. Sejujurnya Nayeon sangat berterimakasih kepada Baekhyun, karena hal inilah yang ia butuhkan ditengah kesibukannya sampai-sampai sakit seperti ini.

Tiba-tiba Park Chanyeol muncul dan memegang tangan Baekhyun agar segera menghentikan aksinya barusan. Chanyeol menatap tajam kearah Baekhyun namun Baekhyun justru menatap bingung ke arahnya. Jongin yang telah selesai bertelepon mendapati Nayeon sedang berada di antara dua namja yang terlihat seperti sedang memperebutkan sesuatu? Mungkin.

“Nayeon-ssi, ayo ikut denganku bertemu dengan Oh Sehun. Ia meminta kita segera memberikan kontraknya hari ini juga.” Jongin segera menarik tangan Nayeon menjauh dari dua namja tersebut.

****

“Aku minta maaf telah membuat kalian khawatir. Aku memiliki jadwal yang begitu padat. Sekali lagi aku minta maaf.” Oh Sehun tersenyum ramah sambil membungkukkan tubuhnya. Kim Jongin dan Nayeon merasa senang karena ia bersedia syuting iklan dengan mereka.

“Tidak. Tidak sama sekali.” Balas Kim Jongin. “Kami percaya pada anda, Oh Sehun-ssi.” Sambung Nayeon. “Benar. Kami tidak pernah meragukkan anda.” Timpal Kim Jongin lagi. Nayeon mengangguk dengan ucapan Kim Jongin barusan. Sehun hanya memperhatikan mereka berdua yang terlihat begitu senang sambil terkekeh kecil.

“Wah, kalian begitu kompak dan serasi. Kalian sangat imut.” Sehun kembali tertawa ringan didepan Jongin dan Nayeon. Sehun meraih masing-masing tangan Jongin dan Nayeon. “Aku akan melakukan yang terbaik di iklan ini.” Sehun tertawa sambil memegang tangan Jongin dan Nayeon yang tanpa Sehun sadari, tangan Nayeon dan Jongin bertautan satu sama lain. Jongin melirik sekilas ke arah Nayeon sambil ikut tertawa canggung.

“Kerja bagus, Nayeon-ah.” Jongin mendekati mobilnya dan membukakan pintu untuk Nayeon. Nayeon yang masih berada didepan pintu pagar milik Sehun enggan masuk ke mobil. “Ayo kita kembali bersama.” Lanjut Jongin.

“Tidak. Saya ada keperluan lain, Kim Timjangnim.”

“Tidak perlu formal saat hanya kita berdua.” Nayeon menggeleng sebagai jawabannya. “Seperti ini lebih nyaman bagi saya.” Balas Nayeon.

Saat mereka masih berdebat, mobil hitam melaju dan berhenti didepan mereka. Park Chanyeol keluar dari mobil tersebut segera meraih tangan Nayeon dan menuntunnya untuk masuk ke mobilnya. Dan kemudian melaju kembali meninggalkan Kim Jongin yang masih berdiri disana.

“Kenapa kau tidak segera kembali?” Tanya Chanyeol memecah keheningan sedari tadi.

“Saya minta maaf Timjangnim. Saya tidak ada maksud mengulur waktu. Hanya saja tadi saya berniat membeli obat dulu.” balas Nayeon sambil terus menatap kedepan enggan melihat Chanyeol yang sepertinya sedang marah terhadapnya. Namun Chanyeol justru melirik ke arah Nayeon. Kali ini keheningan berganti dengan suara Nayeon yang terus saja bersin di dalam mobil. “Maaf Timjangnim sepertinya saya flu karena iklan dipantai waktu itu.” Nayeon menyumbat hidungnya dengan beberapa tisu. Segera Chanyeol meminggirkan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan.

“Keluar.” Ucap Chanyeol dingin. Nayeon menoleh kearah Chanyeol. Kenapa, dia menurunkan Nayeon dipinggir jalan padahal Nayeon sedang sakit seperti ini? “Ne?” Tanya Nayeon kebingungan.

“Aku sedang sangat sibuk dengan kerjaan dikantor. Kalau aku tertular flu-mu itu bagaiamana? Harusnya kau bilang dari tadi. Sudah turun, pulang sana. Kapan kau belajar jadi manusia? Keluar.” Chanyeol kembali menyuruh Nayeon keluar dari mobilnya dengan usiran tangannya. Nayeon hanya memandang wajah Chanyeol seolah tidak percaya.

Nayeon keluar dari mobil dengan wajah dan perasaan yang sangat kesal. Begitu keluar dari mobil Nayeon menutup pintunya dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, dengan cepat Chanyeol melajukan mobilnya pergi.

“Dasar tidak berperasaan. Ada yang sedang terkena flu, kau malah memikirkan dirimu sendiri. Wah daebak! Benar-benar luar biasa. Justru kau yang sifatnya jauh dari manusia!” Nayeon mengomel dipinggir jalan sambil menunjuk arah mobil Chanyeol yang sudah menghilang sedari tadi. “Tapi, ada hal yang tidak kau ketahui, Park Chanyeol. Ini adalah daerah apartemenku.” Lanjut Nayeon sambil berjalan santai menuju apartemennya.

Apa yang dikatakan Nayeon barusan salah besar. Chanyeol bukan sesorang yang menurunkan Nayeon tanpa sebab. Bukan karena flu itu. Chanyeol memang sengaja ingin mengantarnya pulang walau secara tidak langsung dengan menurunkannya di depan gang area apartemennya. Ia tahu bahwa Nayeon memang sedang tidak sehat sejak pagi tadi saat dikantor, dimana Baekhyun memijat bahunya.

“Beristirahatlah, Nayeon.” Ucap Chanyeol lirih.

-TBC-

Maafkan author yang membuat Oh Sehun dan Ji He Ran hanya menjadi cameo disini wkkkk. Terimakasih yang sudah memberikan saran di fanfic chapter sebelumnya. Dan sepertinya kali ini author benar-benar membutuhkan saran kalian hehehe..

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] Moonlight (chapter3)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s