[EXOFFI FACEBOOK] Life and Money (chapter15)

15079027_1143662759084440_3680149883952130354_n

Title : Life and Money (Chapter 15)

Author : Sellafeb (@sellafeb)

Main Cast (School) : Park Raena (OC) | Kim Kai (EXO) | Oh Sehun (EXO) | Park Jiyeon (T-ARA) | Son Wendy (Red Velvet) | Kim Suho (EXO) | Oh Hayoung (Apink) | Byun Baekhyun (EXO) | Shin Hyejeong (AOA) | Ahn Hani (EXID) | Lee Saem (Kyunghee’s Teacher) | Choi Saem (Kyunghee’s Teacher)
Support Cast (Fams) : Park Chanyeol (EXO/Jiyeon’s Brother) | Yoon Riah (Raena’s Mom) | Park Joosung (Raena’s Father) | Lee Sora (Raena’s Grandma) | Park Geumjoo (Raena’s Grandpa) | Jung Jihyun (Jiyeon’s Mom) | Park Kwonjoo (Jiyeon’s Father) | Jung Haein (Suho’s Mom) | Oh Jaebum (Sehun’s Father)

Genre : Romance, School life, Family life, Angst, Little bit comedy, Friendship.

Rating : PG-13

Length : Chaptered.

*NB : Ff ini terinspirasi dari drama/film tentang Tahta dan Sekolah.

 

Chapter sebelumnya:
Chap 1: https://web.facebook.com/notes/exo-…
Chap 2: https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 3: https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 4: https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 5 : https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 6 : https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 7 : https://www.facebook.com/notes/exo-...
Chap 8 : https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 9 : https://web.facebook.com/notes/exo-…
Chap 10 : https://www.facebook.com/notes/exo-...
Chap 11 : https://www.facebook.com/notes/exo-...
Chap 12 : https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 13 : https://www.facebook.com/notes/exo-…
Chap 14 : https://www.facebook.com/notes/exo-…

Happy Reading~

Life and Money – One and Only

“Yak, Jiyeon! Hentikan!” Raena menyadari ada mobil yang mendekat ke arah mereka, Raena langsung mendorong Jiyeon ke pinggir jalan, sedangkan Raena sendiri masih disana.

“Park Raena!” Kai dan Sehun meneriakan nama yang sama.
Raena menatap mobil yang hanya berjarak 3 meter darinya itu, Kai menarik tangannya, kemudian memeluknya.

“Aku selamat…” Raena meneteskan air matanya.
Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil berkecepatan tinggi yang mengarah pada mereka. Sehun membelalakan matanya, “Yak! Menyingkir dari sana!” Teriak Sehun.

Mobil itu menabrak Kai dari belakang, Kai dan Raena terguling-guling di jalan. Kai melindungi kepala Raena dengan lengannya sampai-sampai jaket kulitnya terkelupas dan lengannya berdarah. Raena bangun dan melihat Kai yang tak sadarkan diri dengan darah di kepalanya.
Raena gemetar, “Kai-ya… Kai… Kim Kai! Yak, Kim Kai! Bangunlah, aku mohon! Aku mohon!” Raena mengguncang-guncangkan tubuh Kai.

Jiyeon masih terduduk di trotoar karena Raena mendorongnya tadi. Tubuh dinginnya gemetar seketika. Air mata terus keluar dari matanya. Gadis itu menutup mulutnya yang terus mengeluarkan isakan.
Sehun langsung berlari menghampiri mereka, “Kai-ya! Yak, bangunlah!” Panik Sehun, “Tolong panggil ambulan, tolong!” Teriak Sehun.

Tak lama kemudian, ambulan datang dan para petugas membawa tubuh Kai ke dalam ambulan itu. Lalu ambulan itu melaju. Ambulan itu berpas-pasan dengan motor Baekhyun.

“Apa ada kecelakaan?” Gumamnya.

Motor Baekhyun berhenti didepan Restoran milik Appa Raena yang merupakan tempat kerja Appa-nya. Baekhyun masuk ke dalam sana dan mengambil barang Appa-nya yang tertinggal. Baekhyun langsung keluar dari sana setelah mengambil barang itu.

Baekhyun hendak memakai helm-nya, tapi ia melihat Jiyeon yang meringkuk lemah didepan halte. Semua orang hanya menatapnya, kemudian lalu-lalang tak peduli. Baekhyun langsung menghampirinya.

Baekhyun berjongkok didepan Jiyeon hingga tatapan mereka sejajar, “Kau kenapa?” Baekhyun menatap khawatir Jiyeon.

Jiyeon menatap Baekhyun dengan air mata yang terus keluar dari sana. Tangisan parau milik Jiyeon membuat Baekhyun bingung setengah mati.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini?” Baekhyun menggenggam erat bahu Jiyeon sambil menatapnya.

“Karena aku… Karena aku…” Tangis Jiyeon.

Jiyeon terus menangis, kemudian meremas ujung mantel Baekhyun, “Semua karena aku…” Lirih Jiyeon.

Baekhyun semakin bingung dibuatnya. Tubuh Jiyeon terus saja gemetar, Baekhyun melepas mantelnya, kemudian memakaikannya ditubuh kecil Jiyeon. Lelaki itu memegang erat kedua lengan Jiyeon, sehingga Jiyeon menatapnya, dua pasang mata itu saling menatap, “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tenangkan dirimu! Pertama-tama ayo hangatkan tubuhmu! Kita masuk saja ke dalam Restoran

Pamanmu dan bicara disana. Ayo!” Baekhyun membantu Jiyeon berdiri.

Tubuh Jiyeon siap jatuh kapan saja, maka dari itu Baekhyun terus memapahnya. Sesekali Baekhyun menatap Jiyeon.

Ada apa denganmu, Park Jiyeon? Kau bukanlah tipe gadis dengan tubuh gemetar dan pucat tanpa kata-kata seperti ini. –Batin Baekhyun.

Baekhyun dan Jiyeon sudah sampai di dalam Restoran, Baekhyun mendudukan Jiyeon disalah satu kursi. Baekhyun menyalakan penghangat ruangan dan memberikan hot pack pada Jiyeon. Jiyeon menatapnya.

“Genggam erat-erat hot pack itu!” Ujar Baekhyun.

Jiyeon kembali menundukan kepalanya, Baekhyun menatapnya, “Sebenarnya ada apa denganmu?Kenapa kau meringkuk disana tadi? Apa hal buruk terjadi?” Baekhyun menyerang Jiyeon dengan pertanyaan.

Jiyeon diam. Setelah mengingat kejadian itu lagi, tubuhnya kembali bergetar. Baekhyun merutuki dirinya yang menanyakan hal itu.

“Maaf. Tidak perlu kau jawab.” Ujar Baekhyun.

 

Sementara itu, ambulan yang membawa Kai sudah sampai di RS, Raena dan Sehun membantu petugas RS mendorong ranjang roda yang di tiduri oleh Kai.

Raena terus menangis, “Maafkan aku, sungguh. Kai-ya, aku mohon bangunlah. Kai-ya…” Lirihnya.
Tanpa sadar Sehun juga mengeluarkan air matanya. Dengan cepat ia menghapus air mata itu. Lelaki itu menatap iba Raena.

 

 

Life and Money – One and Only

 

 

Baekhyun dan Jiyeon keluar dari Restoran milik Appa Raena. Jiyeon melepas mantel Baekhyun yang masih bertengger manis di tubuhnya, kemudian memberikannya pada sang pemilik. Baekhyun menatapnya.

“Kenapa di kembalikan? Kita akan naik motor, udaranya sangat dingin. Pakailah!” Ujar Baekhyun.
Jiyeon menggeleng, “Kau yang pakai!” Balas Jiyeon.

“Kenapa?” Tanya Baekhyun.

“Aku tidak mau membuat orang sakit lagi. Pakailah, cepat!” Ujar Jiyeon yang masih dengan suara lemahnya.

Baekhyun menatap bingung Jiyeon, kemudian mengambil mantelnya dan memakainya. Baekhyun memberikan helm pada Jiyeon. Jiyeon memakai helm itu, tapi dia tidak mengaitkan tali pengait helm.

Baekhyun menghela napasnya, “Kalau seperti ini, helm-nya bisa terlepas.” Baekhyun mengaitkan tali pengait helm itu.

Tanpa sadar jarak mereka menjadi sangat dekat. Mata mereka bertemu, dengan cepat Jiyeon mengalihkan pandangannya. Keadaan canggung tiba-tiba saja menyelimuti mereka. Baekhyun dengan cepatnya memakai helm-nya dan naik ke atas motornya.

Baekhyun menatap Jiyeon yang tak kunjung naik, “Kenapa tak naik? Kau takut karena ini pertama kalinya kau naik motor? Pantas saja, orang kaya sepertimu tidak mungkin pernah naik motor yang seburuk ini ‘kan?”

Jiyeon langsung naik ke atas motor, awalnya dia ragu-ragu karena ini pertama kalinya ia naik motor. Baekhyun tertawa kecil, “Ayo berangkat~” Baekhyun menggas motornya terlalu tiba-tiba dan membuat Jiyeon mengalungkan tangannya di pinggang Baekhyun.

Baekhyun yang sempat kaget, akhirnya sadar kembali. Dengan cepat Jiyeon melepas pelukan tak sengaja itu, tapi Baekhyun menahan tangannya. Baekhyun memasukan telapak tangan Jiyeon ke dalam saku mantelnya, “Dingin, kau bisa sakit nanti.” Ujar Baekhyun.
Jiyeon merasa panas di pipinya yang pucat. Kenapa hatiku bergetar? Kau pasti sudah gila, Park Jiyeon. –Batin Jiyeon.

 

Life and Money – One and Only

 

Raena terus menangis di kursi tunggu RS. Sehun yang ada disampingnya hanya bisa diam, tak ada yang bisa ia lakukan untuk Raena. Raena menatap telapak tangannya yang penuh darah. Air matanya semakin deras.

“Ini karena aku, dia menyelamatkanku. Ini karena aku.” Lirih Raena.
Sehun menghela napasnya, “Raena-ya…”

“Kai-ya, maafkan aku. Ini salahku, maaf.” Tangis Raena.

Sehun menggenggam erat kedua lengan Raena dan membuat Raena menatapnya, “Jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja.” Sehun menenangkan.

“Apa yang harus aku lakukan? Dia menyelamatkanku, dia mempertaruhkan nyawanya demi aku. Dia seperti ini karena aku. Aku!” Racau Raena.

“Ini bukan karenamu!” Sehun meninggikan suaranya, kemudian menghela napasnya, “Ini bukan karenamu, Park Raena. Jangan salahkan dirimu!” Sehun menatap Raena.
Raena terus menangis, Sehun membawanya ke dalam dekapannya, lelaki itu menepuk-nepuk bahu Raena pelan, “Tak apa. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Sehun lembut.

“Sehun-ah, bagaimana ini? Aku merasa sesak, sungguh.” Isak Raena.

Sehun menghela napasnya, “Tak apa. Tenanglah!” Sehun melepaskan pelukannya, “Lihat aku!” Raena menatap Sehun, “Ini bukan karenamu. Kai… Dia melakukan ini atas kemauannya sendiri. Jangan menyalahkan dirimu!” Ujar Sehun.

“Tapi… Jika dia tidak melakukannya, dia tidak akan seperti ini.”

“Kau… Kau tahu ‘kan bahwa dia sangat mencintaimu? Dia pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Tetap tenang, Raena-ya. Aku yakin dia akan baik-baik saja.” Ujar Sehun menenangkan.

Raena mengangguk. Dan dari lift, Suho dan Hayoung keluar dari sana. Mereka langsung menatap Raena dan Sehun. Suho dan Hayoung langsung menghampiri mereka, “Raena-ya, Sehun-ah.” Ujar Suho.

Hayoung menatap iba tubuh dan wajah kacau Raena. Raena berdiri didepan Hayoung. Hayoung langsung memeluknya erat, “Tak apa. Semuanya akan baik-baik saja.” Hayoung menepuk-nepuk bahu Raena pelan.

Raena kembali menjatuhkan air matanya, “Hayoung-ah, Kai menyelamatkanku. Dia seperti ini karena aku. Bagaimana ini?” Tangisnya.

“Tidak. Jangan pernah berpikir seperti itu!” Hayoung melepas pelukannya dan menatap Raena,

“Raena-ya, dengarkan aku! Kau tidak salah, sama sekali tidak. Jadi jangan salahkan dirimu! Aku yakin Kai juga berpikir seperti itu.” Sambungnya.

Hayoung menatap darah yang sudah kering di telapak tangan Raena. Hayoung mengambil tisu basah dari dalam tasnya, kemudian membersihkan darah itu dari telapak tangan Raena.

“Jangan khawatir! Kai akan baik-baik saja. Dia tidak akan mungkin meninggalkanmu. Kau segalanya baginya, Raena-ya. Percayalah padaku!” Hayoung tersenyum pada Raena.

 

Life and Money – One and Only

 

Jiyeon sudah sampai rumah sejak dua jam yang lalu. Jiyeon kembali mengingat kejadian itu. Jiyeon meringkuk dilantai kamarnya. Badannya gemetar, wajahnya pucat dan pipinya penuh dengan air mata.

Gadis itu memeluk kakinya yang ia lipat itu. Ia menenggelamkan wajahnya di lututnya.
“Bagaimana ini? Karena aku… Kai-ya, maaf.” Lirih Jiyeon.

Sementara itu, diluar kamarnya semuanya berkumpul. Chanyeol berlari ke arah mereka semua, “Raena bilang dia ada di RS sekarang.” Ujar Chanyeol.

“RS? Kenapa?” Kaget Eomma Raena.

“Kai tertabrak mobil.” Semua orang kaget karena ucapan Chanyeol ini.

“Bukannya Kai pergi bersama Jiyeon tadi?” Ujar Appa Jiyeon.

“Apa karena ini Jiyeon mengurung dirinya di kamar? Suamiku, bagaimana ini?” Panik Eomma Jiyeon.

“Jiyeon-ah! Buka pintunya, nak!” Eomma Raena mengetuk pintu kamar Jiyeon, “Bibi ingin bicara.

Jangan mengurung diri seperti ini! Jiyeon-ah, ayo bicara!” Ujar Eomma Raena.

Tidak ada jawaban. Jiyeon masih meringkuk lemah di lantai kamarnya.

“Kai-ya, apa yang harus aku lakukan?” Lirih Jiyeon.

Kembali pada Chanyeol, dia langsung bergegas keluar dari rumahnya dan melesat dengan mobilnya. Dia sampai di RS dan keluar dari mobilnya. Dia melihat seorang gadis yang tak asing hendak memasuki RS. Chanyeol mempercepat langkahnya.

“Kau adiknya Won ‘kan?” Chanyeol menatap punggung gadis itu.
Gadis itu berbalik dan menatap Chanyeol, “Oh, Bos Oppa-ku ternyata. Selamat malam!” Gadis itumembungkuk.

“Wendy, namamu Wendy ‘kan?” Tanya Chanyeol.

“Ya, Anda benar.” Balasnya.

“Sepertinya kau ke sini karena tujuan yang sama denganku.” Raut wajah sedih Chanyeol kembalinampak.
Wendy mengangguk.

“Ayo masuk!” Chanyeol mendahului Wendy yang mengekorinya di belakang.

Saat sampai disana mereka menatap Raena yang dengan lemahnya memasuki kamar inap Kai. Tatapan lemah dan tubuh kacau Raena membuat Chanyeol dan Wendy iba.

“Aku rasa kita tidak bisa menemuinya, dia tidak akan bisa menahan tangisnya.” Ujar Wendy.

“Kau benar. Ayo pergi!” Mereka berdua sampai di luar RS, “Masuklah!” Chanyeol melirik mobilnya.
Wendy menatapnya, “Ya?” Kaget Wendy.

“Akan aku antar kau pulang.” Ujar Chanyeol.

“Tak apa. Aku bisa pulang sendiri.” Balas Wendy.

“Masuklah! Mana mungkin aku meninggalkan adik temanku di malam hari seperti ini? Apa kau pikir aku gila?” Chanyeol membuka pintu mobilnya, “Masuklah! Disini dingin.” Perintahnya.

Wendy yang awalnya ragu-ragu, kemudian masuk ke dalam mobil Chanyeol. Setelah Wendy masuk, Chanyeol bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju. Hening, tak ada yang memulai pembicaraan.

Mereka berdua saling melirik satu sama lain karena keadaan terlalu canggung.

Chanyeol mendehem, “Kau sekelas dengan mereka ‘kan?” Wendy menatap Chanyeol yang bertanya, “Maksudku Raena dan Kai, dan juga adikku, Park Jiyeon.” Chanyeol memperjelas.
Wendy mengangguk.

“Apa kau dekat dengan mereka?” Tanya Chanyeol.

“Dulu kami sama sekali tidak dekat karena aku pembuat onar. Tapi Raena mengubah segalanya. Dia menjadi teman terdekatku sekarang, hubunganku dengan teman sekelas yang tadinya tidak dekat jadi lebih dekat karenanya.” Tutur Wendy sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan Jiyeon?” Tanya Chanyeol penasaran.

Wendy hanya menatap Chanyeol, dia ragu-ragu. Chanyeol tertawa kecil, “Jadi kau tidak dekat dengannya ‘ya? Aku juga seperti itu, tapi aku tetap menyayanginya. Entahlah seberapa banyak aku menyayanginya, tapi dia semakin jauh. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan adikku yang dingin itu.” Chanyeol tersenyum kecut.

“Kami pernah bertengkar dulu, aku mengatakan hal sangat kasar padanya dan begitupun sebaliknya. Sampai sekarang kami tidak pernah bicara lagi, aku merasa menyesal padanya.” Wendy menundukan kepalanya.

“Dia pasti mengatakan hal yang sangat buruk ‘kan? Aku minta maaf atas namanya.” Ujar Chanyeol.

“Tak apa. Aku juga mengatakan hal sangat mengerikan padanya, kita impas.” Wendy tersenyum sambil menatap Chanyeol dan begitupun sebaliknya.

 

Life and Money – One and Only

 

Raena duduk di samping ranjang tidur Kai. Kepala Kai terbalut perban, begitu pun juga dengan tangannya yang di gips.

Raena menatap tangan kirinya yang terbalut gips juga, “Aku baik-baik saja. Maka dari itu kau juga harus baik-baik saja, Kai-ya. Ini sudah 2 jam, kenapa kau tidak kunjung bangun?” Raena terus menatap Kai yang masih setia menutup matanya.

Raena menggenggam erat telapak tangan Kai, “Kenapa kau tak bangun juga padahal Dokter bilang kau baik-baik saja? Kai-ya, apa kau sedang berpura-pura? Tidak ‘kan? Bangunlah! Kalau tidak aku bisa gila, sungguh.” Raena kembali meneteskan air matanya.

Raena menempelkan dahinya di punggung tangan Kai yang ia genggam erat, “Kai-ya, aku mohon. Bukalah matamu! Harus!” Lirihnya.

Sehun menatapnya dari luar. Bisa ia lihat dengan jelas kesedihan Raena. Terlihat begitu jelas betapa Raena berharap untuk kesembuhan Kai. Dan juga terlihat dengan jelas bahwa Raena sangat mencintai Kai.

Sehun menghela napasnya, “Apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua? Disaat seperti ini aku tidak mungkin bisa memisahkan kalian, tapi disisi lain aku sangat ingin kalian berpisah. Kau adalah satu-satunya sainganku untuk mendapatkan Raena, Kim Kai. Tapi kenapa aku tidak merasa baik saat melihatmu seperti ini? Kenapa aku merasa khawatir dan sedih? Katakan padaku apa yang terjadi padaku! Jelaskan apa yang sebenarnya aku inginkan, Kai-ya! Aku bingung.” Sehun menatap nanar tubuh lemah Kai yang terbaring didalam sana.

Sehun duduk di kursi tunggu. Tak lama kemudian, Appa Kai datang. Sehun berdiri dan membungkuk pada Appa Kai.

“Sehun-ah, apa yang terjadi?” Panik Appa Kai sambil melihat ke dalam kamar inap Kai dari kaca pintu kamar itu.

“Jangan khawatir, Paman! Kai baik-baik saja.” Sehun menenangkan Appa Kai.

“Bukankah itu Raena? Bagaimana dia ada disini? Bukankah Kai bersama Jiyeon?” Heran Appa Kai.

“Sebenarnya…” Sehun menceritakan semuanya, termasuk fakta bahwa Kai dan Raena berkencan.
Appa Kai tak bisa berkata-kata, kemudian kembali menatap mereka. Dia menatap Raena yang menidurkan kepalanya di ranjang Kai sambil menggenggam tangan Kai erat.

“Jadi selama ini… Aku membuat mereka berpisah, begitu?” Appa Kai menatap Sehun.

“Sebenarnya aku mencintai Raena, tapi mereka tidak bisa terpisahkan. Sekarang aku baru sadar sedalam apa cinta mereka. Kai… Dia melakukan itu pasti karena ia sangat mencintai Raena.” Tutur Sehun.

“Sehun-ah… Aku benar-benar tidak berguna sebagai seorang Appa untuk Kai.” Appa Kai menghela napasnya.

“Itu tidak benar, Paman. Akulah orang yang paling tidak berguna untuk hidupnya. Aku teman yang jahat untuknya.” Sehun menundukan kepalanya.

“Tidak, itu tidak benar. Kau adalah teman yang sangat berarti untuk Kai. Asal kau tahu, semua bingkai foto di kamar Kai pasti ada dirimu didalamnya. Kai, Hyeji dan juga kau. Kalian begitu dekat, persahabatan kalian benar-benar menakjubkan.”

 

Life and Money – One and Only

 

Sudah pagi, Raena masih tertidur di samping Kai. Sehun menatapnya, “Raena-ya, bangunlah! Sudah pagi.” Sehun menepuk-nepuk bahu Raena.

Raena mengerejapkan matanya dan menatap jendela yang sudah terbuka. Kemudian dia menatap Sehun yang sudah rapih dengan seragam sekolah.

“Kau ingin ke sekolah hari ini atau absen?” Tanya Sehun.
Raena menatap Kai, “Kai tidak akan pergi kemana-mana, lagipula banyak yang menjaganya disini. Apa kau tidak tahu RS ini milik Kyunghee Group? Huh, sepertinya kau harus banyak belajar dariku.” Ujar Sehun.

“Benarkah? Aku tidak tahu tentang itu.” Ucap Raena.

“Apa kau mau istirahat saja?” Sehun menatap lengan Raena yang di balut gips.

“Aku tidak apa-apa. Minggu depan adalah pekan ujian, aku tidak boleh bolos. Kalau aku bolos, aku tidak akan bisa mengajar kalian berdua.” Ujar Raena.

“Kau… Mau mengajarkanku?”

“Yak! Aku itu orang yang baik, tahu. Asal kalian penurut dan serius, aku akan dengan semangat mengajar kalian.” Ujar Raena sambil tersenyum.

Sehun memberikan sebuah paper bag berukuran besar pada Raena, “Ini seragammu. Pakailah!”

“Apa aku harus mandi disini?” Raena kelihatan tidak yakin.

“Lalu apa kau mau badanmu beraroma buruk seperti ini di sekolah? Basuh saja badanmu, karenatanganmu masih di gips.” Ujar Sehun.

Raena mengangguk, kemudian masuk ke toilet. Tak lama kemudian, dia keluar dari sana lengkap dengan seragamnya.

“Wah, aku benar-benar terkesan. Itu toilet RS atau Hotel? Kenapa bagus sekali?” Heran Raena.

“Ini kamar inap VVIP di RS ini. Wajar saja toiletnya bagus seperti itu.” Balas Sehun.

“Wah, Kyunghee Group memang benar-benar kaya.” Raena menggeleng-gelengkan kepalanya saking takjubnya.

“Yak! Apa kau pikir Geum Group yang merupakan keluargamu itu tidak kaya? Mereka jauh diatas kami semua, tahu.” Sehun mendecak kesal.

“Begitukah? Aku tidak tahu.” Raena langsung menghampiri ranjang Kai dan menatapnya, “Kai-ya, aku pergi sekolah dulu. Kau harus bangun saat aku kembali ke sini nanti. Aku pergi.” Pamit Raena, “Ayo!” Raena menatap Sehun dan pergi mendahuluinya.
Mereka sampai di tempat parkir RS Kyunghee, Raena dan Sehun masuk ke dalam mobil Sehun.
“Kemarin Appa Kai datang.” Ucap Sehun.

Raena langsung menatap Sehun, “Benarkah? Kapan? Kenapa aku tidak melihatnya? Apa saat aku tertidur? Kenapa kau tak membangunkanku?” Raena menjadi cerewet seketika.

“Yak! Tanya satu-satu!” Keluh Sehun, “Aku… Aku sudah ceritakan semuanya padanya.” Lanjut Sehun.
Raena menghela napasnya, “Pasti Beliau mengutukku ‘kan? Itu pasti, karena aku sudah mencelakai putra satu-satunya.” Raena menundukan kepalanya.

“Salah!”

Raena menatap Sehun, “Apa maksudmu?” Heran Raena.

“Beliau bahkan mengutuk dirinya sendiri, karena… Karena sudah hampir memisahkan kalian.” Ujar Sehun.

Raena membelalakan matanya, “Apa? Beliau sudah tahu? Bagaimana bisa…” Raena menatap curiga pada Sehun, “Kau…” Raena masih menatap Sehun.

“Kau benar. Aku yang mengatakan padanya.” Balas Sehun.

“Kenapa?” Tanya Raena.

“Karena itu faktanya.” Balas Sehun.

“Kau… Bukankah kau…”

“Diamlah sebelum aku mengubah pikiranku lagi!” Ujar Sehun dengan cool-nya sambil mengendarai mobilnya.

Raena malah tertawa, “Aigoo… Jangan terlalu keren seperti itu! Aku tidak tahan melihatnya.”
“Yak! Aku memang keren, tahu.”

 

Life and Money – One and Only

 

Mobil Sehun terparkir dengan baik. Sehun langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Raena. Ia membantu Raena yang kesusahan karena tangannya di gips. Raena tersenyum pada Sehun. Raena akhirnya keluar dari mobil Sehun.

Sehun mengambil tas Raena yang baru saja ingin ia kalungkan di bahunya. Raena menatap Sehun kaget, “Ini terlalu berat. Biar aku saja!” Ujar Sehun, kemudian pergi mendahului Raena.
Raena tertawa kecil, “Dia terlalu baik pada gadis yang sudah menolaknya. Huh, dasar Oh Sehun!” Gumamnya.

Raena menghampiri Sehun dan berjalan beriringan dengannya. Sedangkan didalam kelas 11-1, Jiyeon duduk terdiam seorang diri. Dia terus menatap kosong ke arah depan. Baekhyun menatapnya.

Kenapa dia kembali diam seperti semalam? –Batin Baekhyun.
Dan di kelas yang sama, Wendy menghampiri Suho dan Hayoung, “Sebenarnya ada apa? Setelah aku dapat kabar aku langsung pergi ke RS. Aku tidak berani menemuinya karena keadaannya pasti tak baik. Kenapa? Kalian tahu apa yang terjadi?” Wendy penasaran.

Jiyeon sedikit melirik ke arah mereka. Kemudian menghela napasnya pelan dan menundukan kepalanya dalam.

“Aku juga tidak tahu. Saat aku sampai disana, keadaan Raena benar-benar buruk. Wajahnya kacau, begitupun juga dengan tangannya. Saat aku tanya pada Sehun, dia tidak mau menjawab.” Tutur Suho.

“Telapak tangannya penuh darah yang sudah kering, dia terus menangis disana. Jadi kami tidak bisa bertanya lebih.” Hayoung menghela napasnya.

Jiyeon gemetar karena mendengar itu. Seorang siswi ber-name tag Kang Jiwon menghampiri Suho dan yang lain.

“Apa kalian penasaran apa yang terjadi tadi malam?” Ujar Jiwon.
Semua mata tertuju pada Jiwon, termasuk Jiyeon.

“Kalian penasaran ‘kan kenapa Kai bisa tertabrak mobil?”

“Kau melihatnya? Apa yang terjadi, Jiwon-ah?” Tanya Hayoung.

Jiwon menatap Jiyeon, mata mereka bertemu, “Kenapa kalian tidak bertanya padanya? Dia juga ada disana. Iya ‘kan, Park Jiyeon?” Semua mata tertuju pada Jiyeon.

“Apa? Kau ada disana, Park Jiyeon?” Kaget Suho.

“Tentu saja. Dan dialah penyebab hal itu terjadi.” Jiyeon diam seribu kata karena perkataan Jiwon ini.

“Apa katamu?” Kaget Hayoung, “Yak! Apa itu benar?” Hayoung menatap Jiyeon.
Bibir Jiyeon bergetar. Jiwon menghampiri Jiyeon dan menatapnya, “Kalau saja kau tidak menyerang Raena di tengah jalan, hal itu tidak akan terjadi.” Jiwon menatap tajam Jiyeon.

“Menyerang? Apa maksudmu?” Kaget Wendy.

“Dia menampar dan menyerang Raena sampai ke tengah jalan. Saat Raena menyadari ada mobil yang mendekat, Raena malah menyelamatkan gadis ini dengan mendorongnya ke pinggir jalan. Dan setelah itu

Kai menyelamatkan Raena, mereka tertabrak mobil, tapi hanya Kai yang tak sadarkan diri, dia melindungi kepala Raena dengan lengannya.” Tutur Jiwon.

“Maka dari itu Raena hanya terluka di tangan saja?” Ujar Suho.

Jiwon mengangguk, “Keadaannya juga tak baik. Dan gadis ini, Park Jiyeon malah diam tak bersuara. Huh, sungguh menjengkelkan.” Kesal Jiwon.
Baekhyun menatap Jiyeon yang gemetar di kursinya. Dia melakukan itu? Karena itu dia meringkuk disana? –Batin Baekhyun.

“Yak! Apa itu benar? Kenapa kau harus melakukan itu?” Kesal Hayoung.
Suho menenangkan kekasihnya itu. Wendy menghampiri Jiyeon dan meremas kerah seragam Jiyeon.

Wendy menatap tajam Jiyeon yang berdiri didepannya.

“Sebegitu bencinya kah kau pada Raena? Kenapa kau tega melakukan ini pada sepupumu sendiri, huh?” Emosi Wendy sudah sampai di ujung tanduk.

 
TBC
KOMEN JUSEYO~ KRITIK&SARANNYA JUSEYO~ DON’T BE SILENT READERS~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s