[EXOFFI Facebook] Fuchūina on’nanoko (Chapter 4-END)

10846193_683632191754168_5058397886521199799_n

 

Judul : Fuchūina on’nanoko
Author : Akane Narita
Cast : Do Kyungsoo(EXO),Kim Nara(my OC),and other
cast.
Genre: comedy-romance
Length : Chaptered/End.

READ,LIKE,COMMENT,PLEASE JANGAN BOSEN YAH BACANYA HAPPY READING!!🙂
Yang belum baca ceita seblumnya:

Chap 1: https://www.facebook.com/notes/akane-narita/fuch%C5%ABina-onnanoko/1476316469306815

Chap 2: https://www.facebook.com/notes/akane-narita/fuch%C5%ABina-onnanoko-chap-2/1480037908934671

Chap 3 : https://www.facebook.com/notes/akane-narita/fuch%C5%ABina-onnanoko-chap-3/1491993351072460

Kyungsoo mengambil waffle mereka dan meletakkannya di meja dapur. Nara melihat wafflenya yang sebentar lagi selesai. Dia membantu laki-laki itu mengambil buah strawberry yang sudah dipotong juga ice cream di dalam lemari es.

“Soo-ah,aku akan memberikan waffleku lebih banyak strawberry dan juga ice creamnya, bagaimana? Apa boleh?” tanyanya pada Kyungsoo yang sedang mengambil cup ice cream, dia tersenyum mendengar pertanyaan Nara dan mengangguk. Kyungsoo tahu Nara adalah penggila Strawberry.
“Ini cupnya. Silahkan kau hias wafflemu. Hias semenarik mungkin.” Kyungsoo menyerahkan cup ice cream yang dia ambil tadi lalu mulai menghias waffle miliknya. Nara mencoba menumpuk ice cream di atas waffle itu menjadi tiga tumpuk,seperti yang dia dan Kyungsoo beli kemarin saat di bandara. Tapi saat Nara meletakkan ice cream di tumpukan ke tiga,ice cream itu malah jatuh ke bagian waffle yang lain dan itu membuat Kyungsoo tertawa terlebih saat dia melihat wajah Nara.

Gadis itu berdecak sebal saat melihat wafflenya menjadi berantakan,dia menaruh asal buah strawberry di atas wafflenya. Dia melihat waffle milik Kyungsoo. Waffel Kyungsoo terlihat jauh lebih baik dari miliknya. Biar bagaimanapun Kyungsoo itu seorang laki-laki yang tekun. Sering kali Nara merasa iri terhadap semua yang laki-laki ini lakukan berkat kerapihannya.

Pernah suatu kali Kyungsoo bercerita tentang keinginannya. Keinginannya untuk menjadi seorang penyanyi atau pettisier. Jika dia diminta untuk memilih menjadi seorang penyanyi atau pettisier maka dia akan memilih menjadi pettiser. Terdapat perbedaan yang besar di antara kedua keinginannya itu. Bagi Kyungsoo saat memasak maka dia dapat melihat dan merasakan jati dirinya. Dengan memasak dia menemukan perasaan lengkap yang melekat pada dirinya.

Apapun itu, lebih dari sekedar bernyanyi, maka laki-laki ini akan memilih menjadi seoang pettisier dengan perasaan penuh yang akan dia rasakan nanti selama ia menjadi seseorang yang ahli dalam bidang membuat kue. Lagi pula sekarang ini menjadi laki-lai yang pandai memasak bukanlah menjadi hal yang tabu lagi, kan? Justru semua orang akan menunjukkan ketertarikan mereka kepada orang yang pandai memasak. Apalagi jika mereka melihat bagaimana cara pemrosesan cake seperti macaroon atau red velvet dan dessert lain secara langsung.

Kyungsoo melihat gadis itu melamun dengan tatapan terfokus pada waffle miliknya berusaha mengacaukan pikiran gadis itu. Dai mengambil sedikit ice cream di jarinya dan menempelkannya di pipi gadis itu. Nara terkejut dan menyadari apa yang laki-laki itu perbuat terhadapnya,dia menatap sebal laki-laki itu. Kyungsoo tertawa dan berjalan meninggalkan dapur. Meninggalkan dapur berarti meninggalkan gadis itu juga.

**
Besok hari pernikahan bibi dan bibi meminta Nara juga Kyungsoo untuk datang ke pernikahannya. Umma Nara sudah ada di rumah dan mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Kyungsoo sedang berada di dalam kamar Nara sementara gadis itu masih berada di dalam kamar mandi. Kyungsoo membaca komik yang ia bawa dari kamarnya. Dia sangat bosan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya di kamar.
Pintu kamar mandi terbuka, Nara keluar dengan rambut yang dililit dengan handuk.

“Omo!(Astaga!) Ya! Kau membuatku terkejut.” Kyungsoo menurunkan komiknya dan tertawa melihat reaksi Nara.
“Mian,aku hanya bosan di kamarku jadi aku ke sini. Kau keramas? Tidakkah ini terlalu malam?”

Nara berjalan ke meja nakas dan mengambil sisir dari sana. Dia duduk di tepian kasur dan mulai menyisir rambutnya yang sudah tidak terlalu terasa basah. Kyungsoo mengubah posisi membacanya menjadi tengkurap. Gadis itu sesekali melihat Kyungsoo yang kembali membaca komiknya. Kyungsoo melihat ke arah Nara saat dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari gadis itu. Nara masih terus menyisir rambutnya dengan kepala yang dia tundukkan ke bawah. Kyungsoo kembali merubah posisinya menjadi duduk menghadap Nara. Dia meletakkan komiknya setelah memberi tanda pada halaman terakhir yang dia baca. Kyungsoo mengambil sisir dari tangan Nara,membuat gadis itu mengangkat kepalanya. Sekarang penampilan gadis itu seperti hantu dengan rambut yang terurai ke depan membuat laki-laki di depannya tertawa.

Nara merengek dan mencoba mengambil sisir itu kembali dari tangan Kyungsoo tapi Kyungsoo malah menjauhkan sisir itu dari tangan Nara. “Kyungsoo-ah,kemarikan ppali(cepat) kepalaku pegal.” Nara masih berusaha mengambil sisir di tangan Kyungsoo sementara Kyungsoo terus tertawa dan berpindah posisi menjadi di belakang Nara.

“Biarkan aku yang menyisirmu,” Nara menegakan kepalanya kembali dan merapikan rambutnya ke arah belakang. Membiarkan laki-laki di belakangnya ini untuk menyisir rambutnya. “Kenapa tak menjawab pertanyaanku?” tanya Kyungsoo.
“Apa? Pertanyaan yang mana? “ Kyungsoo berhenti menyisir sebentar dan menghela napasnya pelan,”Pertanyaanku yang tadi. Kenapa keramas saat malam? Kenapa tidak sejak sore tadi?”

“Oh itu.” kening Kyungsoo mengernyit mendengar jawaban gadis itu.
“Ya,itu. Kenapa?”
“Soo-ah lukaku belum seberapa kering, tadi saja aku harus melakukannya secara perlahan-lahan.” Kyungsoo terkejut mendengar perkataan gadis ini dan segara membalikkan posisi Nara menjadi menghadap ke arahnya. Dia tidak melihat plester yang ia tempel tadi. Apa Nara sudah melepasnya? Lagi pula kenapa gadis itu keramas sementara dia sendiri yang berkata bahwa lukanya belum kering?

“Kenapa plesternya tak ada? Kau melepasnya? Siapa yang menyuruhmu untuk melepasnya? Kau tunggu sebentar, aku ke kamarku dulu.” Kyungsoo melangkah keluar kamar Nara. Dia melewati kamar Umma Nara yang tertutup. Laki-laki itu masuk ke kamarnya mengambil kotak obat dari laci lalu kembali ke kamar Nara setelah mendapatkan kotak obatnya.

“Kenapa kau main pergi saja? Bahkan kau belum selesai menyisir rambutku, katamu kau yang ingin menyisirkannya.” Nara menggerutu setelah melihat Kyungsoo sudah kembali ke kamarnya, dia melihat Kyungsoo membawa kotak obatnya. Luka itu memang belum sembuh,tapi kenapa diobati lagi? Setidaknya luka itu sudah diobati sejak awal, jadi dia pikir tidak perlu mengobatinya lagi.

“Aku akan melanjutkannya setelah selesai mengobatimu.” Kyungsoo duduk berhadapan dengan Nara dan membuka kotak obat itu. Dia mengambil obat merah dan mulai memberikan obat itu di luka Nara. Gadis itu meringis, sudah tidak terlalu perih tapi masih terasa sedikit perih. Hanya sedikit.

Kyungsoo yang mendengar Nara meringis juga ikut meringis,seolah merasakan apa yang gadis itu rasakan sekarang,”Apa masih terasa perih?”
Nara tersenyum,”Sedikit,tidak seperih saat kau mengobatinya tadi siang. Lagi pula kenapa kau mengobatinya lagi? Nan gwaenchana(aku akan baik-baik saja).”

Kyungsoo menggeleng,”Supaya lukamu lebih cepat sembuh. Kemarikan sisirnya, aku akan menyisirmu kembali.” Nara memutar sedikit badannya dan mengambil sisir yang diletakkan Kyungsoo di belakangnya. Gadis itu membiarkan Kyungsoo menyisir rambutnya dari arah depan,membuat dia bisa melihat wajah Kyungsoo dari jarak dekat juga hembusan napas hangat Kyungsoo yang menerpa wajahnya.

Kyungsoo dengan perlahan kembali menyisir rambut gadis itu. Berusah menenangkan degup jantungnya saat dia berdekatan dengan gadis ini. Sampai ketika pikiran “kapan aku dapat memiliknya” berputar di otaknya. Ya, sampai kapan Kyungsoo dapat menemukan waktu yang tepat untuk menjadikan Nara sebagai miliknya. Dia tidak ingin membebani pikiran Nara sementara gadis itu harus menghadapai ujiannya lusa besok, juga dirinya. Hanya saja Kyungsoo akan mengatakannya saat waktu telah dirasa tepat.

“Sudah. Kau harus tidur sekarang, sudah terlalu malam. Kita tidak boleh telat datang ke pernikahan Ahjuma(bibi) besok. Aku akan mematikan lampunya.” Kyungsoo meletakkan sisir itu kembali ke meja nakas dan membenarkan letak selimut gadis itu. Kyungsoo menunduk dan mengecup dahi Nara singkat lalu berjalan ke pintu kamar. “Jalja.” Kata Kyungsoo dengan tangan memegang saklar lampu—mematikan lampu itu.

**

Kyungsoo menghentikan langkah kakinya saat akan pergi ke dapur. Dia melihat seseorang keluar dari sebuah kamar. Seorang gadis dengan balutan dress berwarna biru yang semakin gelap ke bawahnya itu keluar dari kamar. Nara terlihat sangat cantik dengan gaun yang sedikit panjang juga high heels perak. Membuat mata Kyungsoo sedikit melebar.

Nara terlonjak kaget saat melihat Kyungsoo yang tak jauh di depannya, laki-laki itu terlihat tampan dengan jas putihnya. Pipinya merona melihat bagaimana penampilan Kyungsoo saat ini. Kyungsoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suasana saat itu sedikit canggung. Kyungsoo dan Nara berdiri berhadapan dengan canggung dan pikiran yang berkelana sampai Ibu Nara tersenyum penuh arti melihat anaknya juga Kyungsoo yang saling berhadapan.

“Mau sampai kapan kalian terus bertatapan seperti itu? Lebih baik kita bergegas. Aku tidak ingin melewatkan acara pernikahan Bibi Nara dan ‘calon’ Bibi Kyungsoo.” Umma Nara melenggang pergi dengan tawa yang dia tahan. Kyungsoo dan Nara tersentak dan menyadari apa yang Ibu gadis itu katakan.
**

Acara pernikahan Bibi Nara sudah selesai dan sekarang keluarga Nara sedang berkumpul, plus Kyungsoo. Laki-laki itu berdiri tepat di sebelah Nara. Kyungsoo terus bergerak gelisah, menanti kapan waktu yang tepat untuk mengucapkan apa yang dia pendam selama ini. Dia rasa, sudah cukup. Mungkin sekarang adalah waktunya, dia harap semua berjalan dengan lancar.
“Nara-ah, bisa kita bicara?” Nara menoleh ke arah Kyungsoo, entah kenapa dia merasa bahwa semua tidak akan sama setelah ini.

Kyungsoo dan Nara berhenti di taman belakang rumah Bibi Jung. Taman itu terlihat sedikit lenggang, dan Kyungsoo berterimakasih akan hal itu. Dia menarik napas dalam-dalam berusaha membuat segalanya menjadi tenang.
“Nara-ah, aku tahu mungkin bagimu ini terlalu cepat tapi entah kenapa hatiku tak bisa menahan ini lebih lama lagi,jadi…” Kyungsoo memejamkan matanya sejenak, menarik napasnya pelan sebelum akhirnya membuka matanya kembali,”Maukah kau menjadi kekasihku?”

Mata Nara melebar kaget, sebenarnya dia tahu akan ada sesuatu yang terjadi tapi dia juga tidak menyangka akan mendapatkan hal yang sangat mengejutkannya. Dia terus menatap Kyungsoo tanpa menjawab pertanyaan laki-laki ini. Biar bagaimanapun Kyungsoo adalah orang yang mengajarkannya cinta. Keringat muncul di dahi laki-laki ini. Hatinya sedikit tertawa melihatnya, tapi tegakah dia jika tertawa di saat Kyungsoo seperti ini? Bahkan mungkin laki-laki ini kesulitan untuk bernapas. Nara memantapkan hatinya untuk menjawab. “Bagaimana jika aku menolakmu Soo-ah?”
Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar jawaban gadis itu. Apakah ini hasil dari penantiannya? Apakah dia tidak bisa mendapatkan hal lebih dari ini? Dari sekian hal yang membuatnya sakit hati, mungkin di sinilah dia merasakan puncaknya. Kyungsoo mendundukkan kepalanya saat merasakan air mata memenuhi pelupuk matanya, dia menghembuskan napasnya pelan. Semua tak sesuai seperti yang dia harapkan. Mungkin Nara memang sudah memiliki orang lain yang lebih istimewa dibandingkan dengannya. Tapi tidak bisakah gadis itu melihat perjuangannya selama ini? Bukan dia menuntut balasan, tapi dia merasa semua ini percuma.

“Kenapa menunduk? Kau tak senang aku menerimamu? Secepat itukah kau melupakan perasaanmu?” kyungsoo mengangkat kepalanya cepat, matanya berkedip beberapa kali, membiarkan air mata yang hendak jatuh itu meluncur keluar. Dia tidak salah dengar,kan? “Ya, kau tak salah dengar Kyungsoo. Aku senang akhirnya kau mau mengungkapkan perasaanmu.” Kyungsoo kaget saat gadis itu menjawab pertanyaan yang hendak dia katakan.

Nara menitikkan air mata di tengah kebahagiaannya, membuat Kyungsoo dengan cepat menghapus air mata itu lembut.

END

EPILOG:
Nara tersenyum dengan rona merah menyebar di pipinya. Kyungsoo yang melihat Nara tersenyum sendiri membuatnya ikut tersenyum.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau sepertinya senang sekali?”

Nara terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan,“Aninde(tidak kok).” Kyungsoo terus memandangi gadis yang ada di depannya ini, bagaimana bisa gadis itu tersenyum bahkan nyaris seperti orang yang kehilangan akal-astaga-tanpa ada alasan yang jelas.“Lalu kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu? Kau membuat orang di kafe ini merinding melihatmu.”

“Ya! Kau mau yahu apa yang sedang aku pikrkan saat ini?” Nara mendelik menatap Kyungsoo, bagaimana bisa ‘kekasihnya’ ini berbicara seperti itu padanya?

“Hmm-mm,kira-kira apa yang sedang ada dalam pikiran gadis ceroboh ini?” Nara lagi-lagi tersenyum, memperlihatkan dua gigi lebih besar di bagian paling depan,“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku akan bertanya padamu lebih dulu dan kau harus menjawabnya.”

“Wae? Kenapa seperti itu? Kan aku yang lebih dulu bertanya padamu.” Kyungsoo menatap Nara tak suka. Keningnya berkerut. Bukankah dia duluan yang bertanya tapi kenapa gadis itu berkata seperti itu?

“Wae? Kau tak suka? Yasudah tak jadi.”

“Baik.” Kyungsoo mengangkat bahunya, berpura-pura untuk tidak perduli. Dia penasaran seperti apa reaksi yang akan diberikan Nara. Pasti gadis itu akan memasang wajah cemberut.
Nara kaget mendengar jawaban Kyungsoo. Biasanya Kyungsoo akan mengalah,“Ya! Kenapa tak berusaha membujukkku?”

“ Arra,apa yang ingin kau tanyakan?” Kyungsoo tertawa mendengar perkataan gadis itu, benarkan wajah Nara cemberut. Mungkin gadis itu tidak sadar bagaimana wajahnya sekarang.

“Selama aku tinggal denganmu yang aku tahu kau selalu menyebutku gadis bodoh. Selama itu pula kau yang akan mengobatiku saat aku terluka, berusaha menenangkanku saat aku menangis. Berkali-kali kau lakukan itu apa kau tak lelah?” Kali ini gadis itu bebicara dengan nada serius, sungguh dia ingin mendengar jawaban apa yang akan diberikan Kyungsoo.
“Tentu saja aku lelah.”

Nara tersentak kaget mendengarnya,“Lalu kenapa tak meninggalkanku saja?”
“Haruskah aku melakukan itu? Seandainya aku tak ada di sini,mungkin kau akan mengobati lukamu sendiri dan membuat dirimu tenang sendiri dan kau akan melakukan semua itu dengan tanganmu sendiri, tidakkah itu membuatmu merasa menyedihkan? Kau seolah membuat dirimu tak memiliki siapapun di dunia ini.”

Nara mengerutkan keningnya tak mengerti, apa memang seperti itu? “Apa aku akan terlihat seperti itu?”
“Geure. Lagi pula ada aku di sini saja kau masih terlihat menyedihkan saat terjatuh lalu bagaimana keadanmu saat aku tak ada?”

Nara mengeructkan bibirnya, dia tak suka mendengar jawaban Kyungsoo kali ini “Kenapa kau mengatakkannya seolah aku ini sangat bergantung padamu?”
“Karena aku ingin kau menganggapku sebagai satu-satunya orang yang bisa kau andalkan saat kau terjatuh. Karena aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa kau peluk saat kau menangis dan karena aku ingin menjadi satu-satunya orang yang mendengarkan cerita saat kau senang, dan dalam keadaan apapun itu.” Jawaban laki-laki ini membuatnya tertegun, bahkan dia tidak memikirkan sampai ke situ.

“…”

“Kenapa diam?”

“Ani(tidak), aku hanya bingung harus menjawab bagaimana lagi. Itu terdengar seperti kau terlahir unuk mencintaiku Soo-ah.” Ya, Kyungsoo. Kau membuat keberadaan Nara semakin nyata, dan merasa semakin beruntung bertemu dengan pria sepertimu.

“Ya,aku memang terlahir untuk mencintaimu dan selalu ada untukmu. Di saat kau sedih atau pun di saat kau senang. Lalu jawablah pertanyaanku tadi.” Kyungsoo hanya ingin Nara bersender hanya padanya.
“Pertanyaan yang mana?”

“Apa kau punya penyakit pikun? Atau kau berpura-pura?”

Lag-lagi perkataan Kyungsoo membuatnya sebal. “Ya! Kenapa bicara seperti itu? Aku sedang memikirkan tentang apa yang aku rasakan sekarang ini.”
“Hmm? Memang apa yang sedang kau rasakan?”

“Kau tahu saat pada akhirnya kau menyatakan bagaimana perasaanmu padaku saat itu? Aku merasa bahwa aku adalah satu-satunya orang yang beruntung di dunia ini karena pada akhirnya kau mengungkapkan perasaanmu padaku. Apa kau juga tahu bahwa aku sangat menantikan itu? Saat ketika aku dapat mengetahui perasaanmu padaku. Aku sangat penasaran dengan apa yang ada di hatimu selama ini terhadapku. Aku selalu berusaha menahan diriku untuk mengatakan apa yang juga aku rasakan selama ini padamu karena jika aku benar-benar mengatakannya maka aku akan sangat malu. Terlebih jika perasaanku itu tidak berarti apa-apa terhadapmu.” Kyungsoo memang benar tidak tahu apa yang Nara rasakan saat itu, dia tidak tahu betapa Nara ingin memiliki Kyungsoo. Lelaki yang sangat perhatian padanya.

“Aku juga menahan diriku untuk itu,rasanya menunggu saat yang tepat itu sangat sulit dan saat itu aku menemukan saat yang tepat, jika kau mengatakan kau adalah satu-satunya orang yang beruntung maka akan mengubah pernyataan itu menjadi aku yang paling beruntung di dunia ini karena telah berhasil memilikimu.” kata Kyungsoo lirih.

Kyungsoo kepada Nara :
Aku tahu biar bagaimanapun kau tak bisa menghilangkan sifatmu itu, kan? Lalu apa kau pikir jika kau seperti itu terus aku akan meninggalkanmu? Jika aku benar-benar pergi dari sisimu bagaimana tanggapanmu? Aku sedikit penasaran tentang hal itu. Bagaimana jika tak ada aku yang selalu mengobatimu saat kau terluka akibat kecerobohanmu sendiri sejak kau tinggal di sini? Bagaimana jika kau ingin memakan sesuatu tapi kau tak bisa mengolahnya? Bukankah kau merasa berterimakasih karena ibu kita adalah teman dekat? Jadi kau bisa tinggal di apartemenku. Apa kau pernah berpikir jika aku keberatan kalau kau tinggal di sini? Lagi-lagi aku mendapati diriku penasaran dengan hal ini. Aku juga berpikir entah bagaimana, kau pasti merasa bersalah saat kau terluka akibat kecerobohanmu sendiri. Tapi aku tidak tahu apakah itu hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Mungkin saat aku mengatakan ini kau akan marah padaku, tapi ketika kau terluka aku selalu senang, bukan senang karena melihatmu menderita. Karena tak bisa aku pungkiri rasa khawatir yang aku rasakan saat melihatmu terluka. Aku mempunyai satu alasan untuk itu. Jika kau terluka, maka aku yang akan mengobatimu. Jika kau sampai menangis maka aku akan datang memelukmu dan membisikkan kata-kata untuk membuatmu sedikit tenang. Entah apa yang salah dalam diriku, karena sebelum saat kita bertemu aku tak terlalu suka mendengar tangisan perempuan. Tapi saat Tuhan mempertemukan kita dan sampai saat aku tahu sifat aslimu, aku selalu suka apapun itu yang ada dalam dirimu. Bahkan ketika pada akhirnya aku mendengar tangisanmu. Maaf jika selama ini aku mengganggumu, aku hanya mencoba menjadi yang terbaik di depanmu. Aku ingin kita tetap seperti ini. Aku dengan sifat jahilku dan kau dengan cerobohmu.

Nara kepada Kyungsoo :
Mungkin kau akan merasa aneh setelah mendengar ini, tapi seperti inilah yang aku rasakan saat pertama kali kita bertemu. Saat aku bertemu denganmu aku tahu ada yang berbeda darimu. Aku tahu aku akan menemukan sosok yang berbeda dari teman-temanku selama ini. Dugaanku memang benar, kau sungguh berbeda dengan mereka. Ketika aku terjatuh dan membuat mereka malu maka mereka akan terus mengomeliku. Tidakkah mereka tahu aku juga malu? Ketika aku terjatuh saat bersamamu kau memang mengomeliku, tapi kau tak sampai membuat hatiku sakit. Salah satu sisi yang aku suka darimu, dan aku akan memberitahukanmu sisi lainnya. Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau dengan telaten menenangkanku. Mencoba membuat tangisku berhenti dan mengobatiku. Hatiku rasanya sperti orang yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Di saat orang lain mengaku malu dengan sifat cerobohku ada kau yang selalu menasehatiku untuk behati-hati, kau tahu betapa beruntungnya aku menemukan sosok pria yang sangat perhatian sepertimu? Mungkin kau tidak akan mengerti. Tapi aku sangat senang dan sangat bersyukur kepada Tuhan karena dengan baik hati-Nya membuatku bertemu denganmu. Aku ingin sifat perhatianmu ini akan terus dapat kurasakan sampai aku mati.

Cuap-cuap author : Akhirnya ff ini selesai juga meskipun jauh dari kata sempurna dengan EYD yang masih perlu diperbaiki aku bisa nyelesain satu FF ini. FF yang absurd dan lama banget lanjutnya :3 trimakasih buat yang bersedia baca dan kasih masukan. aku nyuri waktu buat negdit di waktu uji blok. walaupun masih banyak typo :’) dan sesuai janji aku aku bakal kasih tahu apa arti dari judul ff ini, artinya tuh gadis ceroboh mengingat topik pembahasannya tentang Nara yang sangat ceroboh. pengen deh jadi Nara, walaupun ceroboh tapi ada Kyungsoo yang perhatian🙂

One thought on “[EXOFFI Facebook] Fuchūina on’nanoko (Chapter 4-END)

  1. pengen deh jadi nara walaupun cum satu part aja,yehet akhirx final juga,ku kira dipart 1 Itu mereka udah nikah,dasar makhluk pikun,bian authornim bian,wah judulx sesuai banget bwahahaha😛😛😛😛😛 ,see you di ff y lain authornim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s