[EXOFFI FACEBOOK] Backstage (chapter1)

15151346_1159722480748913_1967957907_n

Judul : Backstage (1)

Genre : Romance

Rating : PG-18

Length : Chaptered

Penulis : Wiwin Sb

————————

Sinopsis :

Kim Sara memang artis yang cantik. Tak ada yang mampu membantah kenyataan itu.

Bahkan para haters pun harus bertekuk lutut jika sudah membicarakan tentang kelebihan fisiknya.

Dianugerahi wajah rupawan sejak kecil, tanpa operasi plastik, ditambah dengan tubuh tinggi semampai dan sepasang kaki jenjang yang cantik, ia bisa saja menimbulkan rasa iri pada sesama kaum perempuan.

Namun Sara sadar diri, untuk bisa bertahan di dunia entertainment, cantik saja tidak cukup. Harus berbakat, tentunya. Dan sayangnya ia tak punya.

Sara tak bisa berakting dengan baik, ia tak bisa bernyanyi, tak mampu pula menari. Wajahnya memang sering nampang sebagai model di majalah-majalah fashion dan kecantikan. Sesekali pula ia muncul di reality show yang tayang bukan di jam prime time.

Dan Sara tahu, itu saja tidak cukup.

Satu-satunya cara agar ia bisa terkenal, ia harus menjadi sosok yang kontroversial.

Ia menciptakan banyak skandal demi mendongkrak namanya di dunia keartisan.

Namun apa jadinya jika ternyata ada orang lain yang justeru ingin menciptakan skandal dengannya?

————–

 

Chapter 1

 

 

Sara menghempaskan pantatnya ke sofa. Sofa tua satu-satunya yang berada di ruang tengah, yang berada tepat di depan televisi. Sara terbiasa menggunakan sofa itu untuk bermalas-malasan dan terkadang malah ketiduran di sana. Sebenarnya sofa itu sudah waktunya ganti. Sayang, keuangannya mepet. Alhasil, ia harus berpuas diri dengan sofa yang terkadang mengeluarkan bunyi tak nyaman ketika ia melemparkan tubuhnya ke sana.

 

“Jadi, bagaimana uncle John?” Perempuan cantik berpakaian kasual itu membuka suara.

Sementara tuan Lee Joon, manajernya, menarik kursi kecil yang berada di dekat dapur lalu meletakkannya di depan sofa tempat Sara berada.

“Well …,” ia terdengar ragu. Lelaki berkeluarga yang sudah berumur setengah abad itu duduk di kursi yang tadi di seretnya, lantas meletakkan tumpukan map di tangannya ke atas pangkuan.

Tatapan matanya singgah pada Sara dengan sorot bingung.

 

Dan Sara sadar ada yang tidak pas.

Ia sudah menghabiskan waktu bersama dan hidup berdampingan dengan lelaki itu selama sekian tahun. Ia sudah menganggapnya sebagai keluarga. Ia bahkan punya panggilan kesayangan padanya : uncle John.

Jadi, walau ia tak membuka suara, Sara tahu bahwa sesuatu tak berjalan sebagaiman mestinya.

 

“Jadi … apakah bulan ini aku tak mendapat tawaran pekerjaan? Iklan? Pemotretan? Drama? Reality show? Atau apapun itu?” Sara tak kalah frustasi.

 

Dan si uncle John hanya menggeleng.

Tamat sudah, Sara membatin.

Ia menyandarkan punggungnya di bantalan sofa, sembari mendongak ia berkata, “Aku benar-benar akan bangkrut, uncle. Aku tak dapat tawaran pekerjaan sama sekali, dan tabunganku menipis. Aku mungkin bahkan tidak mampu menggajimu bulan ini. Ah, aku harus bagaimana, uncle?” Suaranya berat.

 

Uncle John menatap gadis itu dengan prihatin. “Lupakan dulu soal gajiku, yang penting kau punya uang untuk memenuhi kebutuhanmu,” selanya.

“Sebenarnya aku sudah berusaha agar kau bisa ikut kasting sebuah drama. Tapi mereka bilang mereka butuh pemain laki-laki,”

“Aku bisa menyamar sebagai laki-laki!” cetus Sara. Segera yang ia terima adalah pelototan dari uncle John, tanda bahwa itu tidak mungkin ia lakukan.

 

“Lalu aku harus bagaimana, uncle? Publik tahunya aku sibuk syuting. Kalau mereka tahu aku hanya diam menganggur di apartemen, para haters pasti kembali menghujatku. Aku mungkin terbiasa dihujat karena ulahku, tapi setidaknya jangan sampai mereka tahu kalau aku sepi job,” tubuh Sara melorot di sofa. “Ah, sudahlah, uncle. Aku terbiasa kok dihujat,” ralatnya.

 

“Sebenarnya ada satu tawaran kontrak untukmu,”

Kalimat uncle John sukses membuat Sara terkesiap.

“Benarkah?” Ia bangkit seketika lalu berjengit ke arah manajernya tersebut.

“Kontrak apa? Iklan? Drama? Reality show? Atau … MC mungkin?” kalimatnya penuh antusiasme tinggi.

 

Uncle John menarik nafas sesaat lalu membuka map di pangkuannya kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Baca baik-baik dan pahamilah,” ia menyodorkan kertas-kertas itu ke arah Sara.

 

Sara menyambarnya lalu mulai membaca deret kalimat di kertas tersebut tanpa banyak bertanya lagi pada uncle John.

Menghabiskan beberapa menit membaca dan memahami isi kontrak, perempuan itu terpana.

Beberapa kali matanya mengerjap tak percaya dengan apa yang ia baca.

“Ya.Tu.han.”  desisnya syok.

 

Tertulis dengan jelas di sana bahwa Suho, artis papan atas di Korea Selatan sedang menawarkan kontrak eksklusif dengannya dengan bayaran selangit.

Yang perlu Sara lakukan dengan lelaki itu terbilang sederhana : menciptakan skandal dengan lelaki itu lalu berpura-pura menjadi pacarnya.

 

WHAT??

 

“Uncle, apa ini benar? Ini benar-benar Suho yang itu? Aktor terkenal, penyanyi, the king of hallyu wave? Aku sedang tidak salah baca ‘kan?” Suara Sara bahkan sedikit bergetar karena saking kagetnya.

 

Uncle John mengangguk lembut.

“Itu memang dia,” jawabnya.

“T-tapi … kenapa? Kenapa ia ingin punya skandal berpacaran dan … aku? Kenapa harus aku?”

 

“Well,” uncle John membenahi letak duduknya dan mulai menjelaskan.

“Aku sudah bertemu dengan manajer Suho dan kami sudah bicara. Mungkin kau pernah dengar kalau Suho sedang ditimpa isu ..  gay,”

“Aku pernah baca berita itu,” sahut Sara.

Uncle John mengangguk.

“Begitulah. Saat ini Suho sedang ditimpa isu gay karena beberapa kali ia kepergok menghabiskan waktu bersama lelaki dan mereka terlihat intim.”

“Bisa saja mereka teman ‘kan?” sahut Sara lagi.

Uncle John mengangkat bahu.

“Entah, yang jelas publik sudah terlanjur berspekulasi kalau Suho gay. Karena mengingat bahwa selama menjadi artis, tak pernah sekalipun terdengar kabar bahwa ia terlibat hubungan spesial dengan wanita manapun. Masa lalunya juga bersih dari yang namanya teman wanita,”

Sara manggut-manggut.

“Lalu?” ia bertanya tak sabar.

“Jadi … demi meredam isu bahwa ia gay, atau mungkin ia ingin menyembunyikan kenyataan bahwa ia memang benar-benar gay, entahlah, aku tak tahu dan tak mau tahu juga, ia menawarimu kontrak untuk jadi pacarnya. Tentunya, imbalannya mahal,”

 

Sara manggut-manggut sembari mengulum senyum. Ia sempat melirik ke arah nilai kontrak di tangannya. Wow, jumlahnya fantastis! Ia bisa membeli rumah mewah dan mobil baru dengan jumlah uang sebanyak ini.

 

“Lalu kenapa harus aku, uncle? Apa ia tak takut namanya akan hancur? Aku ‘kan bukan artis baik-baik. Publik mengenalku sebagai selebritis murahan tanpa bakat yang hobi memamerkan foto sensualnya di instragam,” satir perempuan tersebut.

 

Uncle John terkikik geli.

“Aku sudah membicarakan ini dengan manajernya. Kenapa ia memilihmu, karena, yaah — seperti yang kau ungkapkan tadi. Kau terkenal kontroversial dan penuh skandal. Publik mengenalmu sebagai artis yang doyan ke club malam, mabuk, dan juga berpenampilan seksi. Faktanya, kau memang begitu, cantik dan juga seksi. Jadi akan sangat wajar jika lelaki normal tertarik padamu.”

 

Sara manggut-manggut.

“Lelaki normal,” desisnya. Teringat akan skandal yang menimpa Suho bahwa lelaki itu gay. Masuk akal juga caranya, ia membatin.

 

“Tapi aku berencana menolak kontrak ini,” kata-kata uncle John membuat Sara mendelik seketika.

“Kenapa?” ia menatap lelaki itu tak mengerti.

 

Uncle John mendesah pelan. “Ini, terdengar tidak adil bagimu, Sara. Memintamu berpura-pura jadi pacarnya, ini terkesan jahat. Kau seperti tak punya harga diri sebagai perempuan. Jika kabar kalian berkencan tersebar, aku takut reaksi publik akan lebih menakutkan dari biasanya. Kau kan tahu ia artis terkenal, digilai banyak fans wanita, bagaimana jika kau dihujat? Dicaci maki? Dibenci?”

 

Sara terkekeh tenang mendengar ucapan manajernya.

“Uncle, sejak kapan sih aku tak dihujat? Sejak kapan sih aku tak dicaci maki? Aku bernafas saja mungkin juga dikritik. Haterku sudah terlanjur bejibun, uncle. Dan aku sudah kebal,” jawabnya.

“Anggap saja ini kesempatan bagus. Aku bisa mendompleng nama Suho dan makin terkenal. Siapa tahu dari sini aku bisa mendapatkan kontrak lain. Walau tak di drama dan dunia tarik suara, mungkin di iklan bisa,” lanjutnya tak pasti.

“Dan lihatlah ini uncle,” Ia menunjukkan kertas di tangannya. “Imbalannya fantastis!” Perempuan itu nyaris berteriak girang, mengabaikan tatapan protes dari manajernya.

 

“Tenang saja, uncle. Aku tahu kau khawatir padaku. Tapi aku akan baik-baik saja, oke? Jadi kapan dan dimana aku bisa bertemu langsung dengan orang ini?” Bibir Sara tersenyum manis. Ada binar senang di kedua matanya yang indah.

 

Merasa tak ingin merusak kebahagiaan perempuan tersebut, uncle John mengeluarkan sebuah kartu yang menunjukkan alamat apartemen Suho.

 

***

 

to be continued

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] Backstage (chapter1)

  1. Syg jg ya cantik tp gk brbakat,,,tuhan emng bnr2 adil hehehehe
    wah wah apa bnr Suho gay??? Jd pnsaran ama klnjutan critanya,,,,
    fighting,,,,,

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s