[EXOFFI FREELANCE] Sunflower – (Chapter 9)

sunflower-bridal-bouquet.jpg

Judul                        : Sunflower Chapter 9

Author                    : Himawari

Length                    : Chapter

Genre                      : Sad Romance

Rating                     : PG-17

Main Cast             : Xi Luhan, Lee Dae Ah

Oh Sehun

Disclaimer           : Ini fanfiction murni dari pemikiran saya sendiri terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Note                         : Terimakasih ya, buat para readers yang udah nunggu FF ini, semoga kalian tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya. Happy Reading J

“Sehun-ah apa yang terjadi?” Tanya gadis itu khawatir.

“Luhan tadi terpeleset dan kepalanya membentur batu, aku harus segera mengobatinya.”

“Omo! Baiklah aku akan membantumu.”

“Tidak perlu, kau lanjutkan saja pekerjaanmu.” Tolak Sehun dengan halus yang kemudian meninggalkan Dae Ah yang berdiri dengan rasa khawatir.

Selang beberapa menit kemudian Sehun kembali ke kantornya dan melihat Dae Ah sedang melamun. Ia lalu mendekati gadis itu dan menepuk bahunya. “Kau tidak perlu khawatir, dia hanya perlu beberapa jahitan di kepalanya. Dokter Lin belum masuk hari ini jadi aku yang harus menanganinya, lagipula hanya operasi kecil kok.” Ucap Sehun membuat gadis itu tenang. “Syukurlah kalau begitu.” Jawab Dae Ah lega mendengar penuturan Sehun tadi. “Kau sudah makan siang?” Tanya Sehun yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Dae Ah. Tanpa basa-basi namja itupun segera menarik tangan Dae Ah mengajaknya makan bersama di sebuah desa dekat tempat itu.

Luhan bangkit dari tidurnya merasakan pusing yang teramat di kepalanya. “Dimana aku?” ucapnya sambil mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya barusan. “Omo, kenapa aku bisa seceroboh ini.” gumamnya pada dirinya sendiri yang sudah menyadari hal apa yang baru saja terjadi padanya. Merasa sudah baikan ia pun turun dari ranjang ruang kesehatan itu dengan perban di kepalanya. Ia berniat untuk keluar mencari Sehun, ia mencari namja itu ke kantornya tapi yang ia dapati hanyalah sebuah ruangan kosong dengan meja, kursi dan barang lainnya yang tertata rapi di dalam tanpa adanya makhluk hidup di sana. Kemudian ia merogoh ponsel yang berada di saku celananya untuk menghubungi namja tersebut.

Tut tut tut

“Kau sudah sadar sekarang? Bagaimana keadaanmu?”ucap seseorang di sana

“Aku sudah lebih baik, tapi masih sedikit pusing sih. Kau di mana sekarang?” jawab Luhan

“Aku? Aku sedang dalam perjalanan ke rumah makan bersama Dae Ah.” Gumam Sehun di telepon sambil melirik kea rah gadis di sampingnya.

“Apa aku mengganggu kalian sekarang?”

“Ah tidak kok, Apa kau mau pesan sesuatu sepertinya kami akan membungkus makananna saja. Lebih baik kalau kita makan bertiga kan?”

“Kau tidak perlu melakukannya.” Ucap Luhan merasa tidak enak pada Sehun.

“Tidak apa-apa, sepertinya Dae Ah sudah tidak sabar ingin melihatmu.” Ucap Sehun yang langsung saja mendapat tatapan heran dari gadis di sampingnya karena merasa terpanggil.

“Ya sudahlah terserah kalian. Cepat pulang ya, aku sudah lapar sekali.” Gumam Luhan yang langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia lalu kembali ke kamarnya untuk beristirahal sambil menunggu Sehun dan Dae Ah.

***

Sehun turun dari mobil dan di ikuti oleh Dae Ah, merekapun berjalan memasuki kedai tersebut. “Kau mau makan apa?” Tanya Sehun pada Dae Ah yang sedang membaca menu. “Aku pesan salad kentang.” Jawab Dae Ah.” 1 potato salad and two shrimp currys.” Pesan Sehun pada pelayan di depannya. Tak lama kemudian pelayan itupun datang dengan dua kantung plastic di tangannya. Sehun mengambil uang di dompetnya dan membayar pesanan itu, sedangkan Dae Ah mengambil kantung plastik tersebut. Merekapun segera kembali ke mobil untuk segera pulang.

Luhan terlihat sedang memainkan ponselnya di dalam kamar sambil bersandar di atas tempat tidurnya menghilangkan rasa bosan yang sedang menggelayutinya. Bagaimana tidak, semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing dan hanya ia yang duduk sendiri di kamar karena tidak ada tugas, apalagi setelah ia mengalami insiden itu, semua orang menyuruhnya beristirahat dahulu dan melimpahkan tugasnya ke orang lain. Namun, tak lama kemudian ia menoleh kearah jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman setelah ia mendengar suara mobil memasuki campnya tersebut. Ia pun segera berdiri dan beranjak dari kamarnya untuk menemui dua insan yang keluar dari mobil itu.” Lama menunggu ya?” Tanya seorang namja pada sahabatnnya. “Tidak juga sih.” Jawab namja dengan perban di kepala itu yang langsung mengambil tempat duduk di meja makan. Sedangkan Dae Ah terlihat sedang sibuk mengeluarkan makanan dari dalam kantung plastic putih itu dan membagikannya ke kedua namja di depannya.”Yah Sehun-ah, kita tidak seharusnya memesan makanan yang sama. Jadinya kita kan tidak bisa saling berbagi nanti.” Ucap Luhan yang membuat Dae Ah menggelengkan kepala. “Kau bisa mencoba punyaku nanti.” Gumam gadis itu yang mendapat gelengan dari Luhan. “Aku tidak terlalu suka kentang.” Jawabnya.”Aku ambilkan sendok terlebih dahulu.” Ucap gadis itu yang langsung pergi meninggalkan dua namja tersebut. Beberapa saat kemudian yeoja itupun kembali dengan membawa tiga sendok, tiga gelas serta satu ceret air putih di atas nampan. “Gomawo, Dae Ah ya,” ucap namja dengan perban di kepala itu. Kemudian mereka bertiga memulai untuk makan bersama. Dae Ah duduk di samping Sehun sedangkan Luhan di hadapan mereka berdua. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya gadis berambut hitam tersebut kepada namja di depannya. “Aku tidak apa-apa, lagipula ini hanya luka kecil.” Dae Ah pun mengangguk mendengar jawaban dari Luhan. Sungguh, ia sangat khawatir tadi saat melihat Luhan tidak sadarkan diri dan di bopong oleh rekan-rekannya.Ternyata firasatnya tadi itu benar.”Tapi meskipun begitu kau harus tetap memeriksakannya lagi ke rumah sakit. Mungkin saja ada gejala lain yang timbul.” Saran Dae Ah yang hanya mendapat anggukan oleh Luhan. “Terima kasih sudah memperhatikanku.”balas namja tersebut. ‘Drrtt drrtt’ Dae Ah merasakan ponsel di sakunya bergetar, iapun segera merogohnya lalu mengambil ponsel tersebut, dahinya berkerut melihat nama yang tertera dalam ponsel tersebut. Iapun segera melangkah menjauhi ruangan tersebut untuk mengangkat teleponnya.

“Ada apa Nyonya Huang menelpon saya?” Ucap gadis itu dengan sopan.

“Tidak ada, hanya ingin menanyakan kabarmu saja. Bagaimana apa kau merasa baik-baik saja di sana?” gumam seseorang di seberang telepon membuat gadis itu terkekeh pelan.

“Untuk apa Nyonya repot-repot menanyakan keadaan saya? Saya bahkan lebih bersemangat di sini karena ada dua teman lama saya yang sangat saya ridukan selama ini. Terima kasih kepada Nyonya karena sudah mengirimku ke sini.”

“Benarkah? Baguslah, kalau kau betah tinggal di sana. Setidaknya kau tidak akan mengganggu putraku lagi karena dia akan segera bertunangan.” Dae Ah mengerutkan dahinya mendengar ucapan Nyonya Huang tadi. ‘Apa ia berusaha memameriku?’ batin gadis itu.

“Baiklah, aku ucapkan selamat untuk putramu Nyonya semoga ia mendapatkan perempuan yang lebih baik dari pada aku.”

“Tentu saja dia jauh lebih baik dari pada kamu.”

“Kalau begitu apa sudah tidak ada lagi yang ingin Nyonya bicarakan? Jika tidak aku akan menutup teleponnya.” Ucap gadis itu dengan nada sedikit menyindir.

“Tidak ada.”

PIP

Dae Ah pun segera kembali ke meja makan menaruh ponselnya di atas meja dengan kesal, membuat kedua namja di dekatnya menoleh heran padanya. “Dari siapa? Apa dari mantan calon mertuamu?” Tanya Luhan yang membuat Dae Ah terkejut. ‘Kenapa ia bisa tau?’ batin gadis itu. “Kau menguping ya?” tuduh Dae Ah kepada namja berperban itu. “Tidak kok.” Jawab namja tersebut. “ Apa ia membuatmu kesal?” tanya Sehun.”Ya, sepertinya begitu.” Gumam Dae Ah menanggapi Sehun. Setelah itu, merakapun kembali menyantap makanannya.

“Biar aku saja yang membersihkan. Kau istirahatlah di kamar, aku tau kau masih pusing.” Ucap Sehun yang melihat Luhan akan membersikan meja makan dari bungkus makan siang mereka tadi. Luhan pun menuruti permintaan sahabatnya itu dan segera pergi ke kamar. “Dae Ah-ya, kita masih punya pekerjaan lagi.” ucap Sehun kepada gadis yang sedang meneguk air putih di sampingnya. “Baiklah.”

***

Sehun masuk ke kandang rusa tadi yang sedang tergulai lemas, sepertinya kaki rusa itu masih belum bisa untuk berjalan. “Kasihan sekali, kenapa bisa seperti itu.” Gumam Dae Ah pada Sehun yang sedang menyuntikkan sesuatu pada rusa tersebut. “Hal seperti ini sudah biasa terjadi di alam bebas.” Jawab Sehun yang masih sibuk memeriksa keadaan hewan malang tersebut. “Apa kita tidak menaruhnya ke ruang pengobatan saja? Dia sepertinya butuh infus.” Saran Dae Ah. “Iya, kau benar. Aku akan menyuruh paman Jack untuk memindahkannya.” Ucap Sehun yang langsung keluar dari kandang tersebut dan di ikuti oleh Dae Ah. “Kita ke Jackson sekarang?” Tanya Dae Ah dengan semangat. Sehun pun mengangguk.”Sepertinya kau bersemangat sekali.” Ucap namja itu yang mendapat cengiran dari Dae Ah.”Hehehe, ini karena pertama kalinya aku akan memeriksa harimau sungguhan.” Gumam Dae Ah.

Merekapun sampai ke kandang Jackson dan mendapati seorang pria paruh baya bertubuh besar dan kekar berada di dalam kandang tersebut, ia dalah paman Jack seorang pawang harimau, sekarang ia sedang memberi makan harimau itu. “ Hai Doctor Oh and Doctor Lee.” Sapa pria itu setelah menyadari kehadiran mereka. “Hai Uncle!” Sehun balas menyapanya. “I want to inject antibody to him. Can you help me to hold him?”( Aku akan menyuntikan antibody padanya. Maukah kau membantuku untuk memeganginya?”) ucap Sehun pada paman Jack. “Of course. (Tentu saja)” jawab paman Jack dengan senang hati karena itu memang adalah tugasnya. Sedangkan Dae Ah hanya memandangi mereka tanpa berani mendekat, karena ia tau bahwa harimau itu agresif dengan orang yang belum kenal dengannya. Ia bergidik ngeri melihat harimau bernama Jackson tersebut meraung setelah Sehun menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Sehun kembali berdiri setelah menyelesaikan tugasnya. Ia lalu mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala binatang buas tersebut. “Kau kemarilah.” Perintah Sehun kepada gadis yang sedang berdiri di dekat pintu kandang. Gadis itu pun melangkahkan kakinya dengan hati-hati mendekat ke harimau tersebut. “Tadi kau bersemangat sekali tapi sekarang malah jadi penakut.” Ejek Sehun melihat tingkah gadis itu yang sedikit takut untuk mendeket kea rah harimau tersebut. “Aku hanya belum terbiasa tau.” Ucap gadis itu membela dirinya. Sehunpun segera menarik lengan yeoja tersebut membuat sang pemilik kaget dan namja itupun langsung menaruh lengan cantik itu ke puncak kepala Jackson, Sehun membimbing tangan Dae Ah untuk mengelus kepala harimau itu. Awalnya gadis itu sedikit takut tapi setelah terbiasa dengannya ia jadi menikmati lembutnya bulu-bulu binatang buas yang lembut itu. “Jackson, This is Doctor Lee Dae Ah your new friend.” Bicara Sehun pada hewan tersebut. ‘Awwrrr’ Dae Ah sedikit menggeserkan tubuhnya menjauhi binatang tersebut setelah ia mendapat raungan dari hewan buas itu. Sehun dan paman Jack yang melihatnya malah tertawa dan membuat Dae Ah malu. “Itu artinya dia bilang halo padamu.” Ucap Sehun. “hehe iya Halo Jackson.” Ucap Dae Ah padanya sambil mengangkat telapak tangannya. “Oh ya, Uncle. I want you to move the deer to the treat room.” Pinta Sehun pada paman Jack. “Ok.” Jawab pria itu.

Sehun dan Dae Ah membunggukkan kepalanya memberi salam pada paman Jack, kemudian mereka meninggalkan pria paruh baya tersebut. Sehun mengajak Dae Ah ke sebuah bangku yang menghadap langsung ke pegunungan di belakang kantor mereka. Dae Ah terlihat menikmati pemandangan alam tersebut, sedangkan Sehun berusaha menenangkan hatinya, ia akan berbicara serius pada gadis di sampingnya ini. “Dae Ah-ya,” Panggil Sehun dengan nada serius yang langsung mendapatkan tatapan dari gadis di sampingnya itu. “Nde?” Tanya Dae Ah penasaran kenapa Sehun berubah menjadi serius seperti ini. Sehun menghela nafas sebentar sebelum melontarkan kata-kata yang tadi sudah ia persiapkan dengan matang. “Ekhm. Sebenarnya sudah lama aku ingin membiritahumu tentang ini, tapi aku tidak mau karena aku tau ada seseorang di hatimu.” Dae Ah mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud dari perkataan Sehun. “Tapi, sekarang aku ingin mengatakannya karena jika aku pikir-pikir kita pasti akan berpisah lagi sewaktu-waktu. Aku takut tidak mempunyai kesempatan lagi untuk ini.” Dae Ah masih dengan setia menunggu stiap kata yang akan keluar dari mulut Oh Sehun. “ Aku menyukaimu, dari dulu sampai sekarang parasaanku tidak berubah.” Gadis itu terkejut memandangi mata namja itu mencari kebohongan yang terpancar dari namja tersebut, ia berharap bahwa apa yang Sehun katakana barusan hanyalah joke semata tapi ia gagal menemukan pancaran kebohongan dari mata namja tersebut kemudian ia menundukkan kepalanya, lidahnya kelu ia tidak tau harus berkata apa pada namja di sampingnya ini. “ Aku tau kau masih menyimpan perasaan pada orang lain, tidak apa kalau kau menolakku aku hanya ingin memberitahumu saja dan itu membuatku lega.” Sehun melihat Dae Ah sedang menunduk, ia tau pasti gadis di sampingnya ini merasa tidak enak padanya apalagi orang yang ia sukai adalah sahabatnya sendiri, pasti itu sulit bagi Dae Ah. “Aku tau kau menyukai sahabatku.” Deg Gadis itu kembali terkejut oleh perkataan namja di sampingnya, ia tidak menyangka perasaan yang selama ini ia sembunyikan dan yang ia pikir hanya Tuhan dan dirinya yang tahu malah telah di ketahui oleh orang terdekat dari orang yang di sukainya apalagi orang ini malah menaruh hatinya pada gadis itu. “Tapi, Bisakah kau memberiku kesempatan untuk mendapatkan hatimu?” Lanjut Sehun. Dae Ah hanya diam bingung harus menjawab apa agar tidak melukai hati namja di sampingnya ini apalagi sampai menghancurkan persahabatan mereka. “Baiklah, kau tidak perlu memaksakan diri.” Ucap Sehun sebelum ia beranjak dari bangku itu. Menyimpan luka yang baru saja gadis itu torehkan pada hatinya yang bahkan belum pernah di lukai oleh siapapun. Ya mungkin inilah pertama kalinya seorang namja tampan yang penuh karisma yang hampir bisa menaklukkan semua hati yeoja tapi tidak berlaku pada gadis di sampingnya ini.

‘GREP’

“Mianhae, Sehun-ah”

TBC

 

 

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Sunflower – (Chapter 9)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s