[EXOFFI FREELANCE] Princess Of Drama – (Chapter 2)

PicsArt_11-13-06.24.38.png

Princess of Drama

 

Cast                 :

  • Alice Kim
  • Byun Baekhyun
  • Bella Kim
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol

Author                        : AL

Genre              : Romance, Family

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Disclaimer       : This is Mine. Ide cerita ini murni hasil pemikiran Al. Apabila ada unsur yang sama dengan karya lain, itu murni ketidaksengajaan. Jangan plagiat yaa, hargai karya orang lain. Tidak mudah buat ff. So, jadilah pembaca yang baik..

 

Happy Reading

 

**Chapter 2**

Begitu pintu itu terbuka, tanganku tak henti-hentinya memegang erat lengan ayahku. Ini pertama kalinya aku memegang erat tangan ayahku seperti ini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menggenggamnya. Tangan hangat yang selalu aku rindukan untuk ku sentuh, sekarang bisa kembali ku rasakan di saat-saat pernikahanku ini. Hanya sebentar, aku sempat berharap, waktu tiba-tiba saja berhenti saat ini juga, berhenti tepat ketika aku menggenggam tangan ayahku, dan ketika aku masih berdiri dan belum mulai memasuki ruangan. Ya, rasanya hangat ketika aku bisa kembali menyentuh tangah ayahku seperti ini.

Kakiku mulai berjalan perlahan mencoba menyetarakan langkahku dengan ayahku diiringi dengan lagu pernikahan yang khas. Jangan salahkan aku kalau saat ini aku berjalan dengan posisi tertunduk. Aku lebih memilih melakukan ini dibandingkan jika aku harus terjatuh ketika berjalan menuju altar saat ini. Ya, jujur, ini pertama kalinya aku memakai sepatu hak tinggi seperti ini. Sebenarnya tidak masalah bagiku jika ini hanya menahanku beberapa centi saja, tapi untuk hari ini aku memakai hak yang tingginya hampir sepuluh centi. Setelah pertemuanku dengan beast kemarin, aku langsung membeli sepatu ini dan berniat untuk memakainya pada hari pernikahanku. Jangan tanya padaku alasannya, kalian bisa menebak itu sendiri.

“Alice, maaf aku tidak pernah melakukan hal yang kebanyakan ayah lakukan pada anak perempuannya. Maaf karena ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah selama ini,” ayahku tiba-tiba bersuara dengan bahasa koreanya yang kacau ketika langkah kami hampir sampai didepan altar.

Aku hanya terdiam mendengarnya sambil menggigit ujung bibirku mencoba memperkuat pertahananku supaya tidak menangis. Aku tidak ingin terlihat jelek pada pernikahanku didepan ayah hanya karena aku menangis.

Ayah menyerahkan tanganku pada calon suamiku. Aku bisa merasakan genggaman tanganku sekarang berubah, meskipun masih tetap hangat aku rasakan. Samar-samar aku mendengar ayahku membisikkan sesuatu seperti untuk menjaga diriku selalu pada calon suamiku. Hanya setetes, aku tidak bisa menahan air mataku untuk keluar. Saat ini aku masih tertunduk, tidak akan ada yang menyadari jika aku sempat menangis. Bahkan aku belum sempat melihat wajah calon suamiku seperti apa karena posisiku saat ini.

“Perhatikan langkahmu,”

Itu suara calon suamiku. Ia baru saja bicara padaku, tapi rasanya, suaranya itu sungguh tidak asing. Jangan katakan kalau yang akan menjadi suamiku adalah….

Beast?

Aku mengucapkan kalimatku setalah aku mengangkat kepalaku dan memandang laki-laki yang ada dihadapanku lekat-lekat. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin itu dirinya? Mengapa mesti dirinya? Apa aku sedang bermimpi? Ini pasti mimpi buruk, ayolah, cepat bangun Alice.

“Jadi benar kau yang akan menjadi istriku?” ucap beast sambil menaruh tanganku pada lengannya, jelas agar aku merangkulnya. Ia kemudian menyetarakan posisinya untuk berada disampingku, menghadap ke arah pendeta bersama-sama didepan altar seperti ini. “Aku sebelumnya hanya melihatmu lewat foto. Bahkan ketika aku bertemu kemarin denganmu, aku sama sekali tidak menyadari itu kau. Hari ini pun sama, jika kau tidak memanggilku beast, mungkin aku juga tidak akan menyadarinya. Ternyata, aku akan menakahi anak kecil ya.”

Aku menoleh ke arahnya begitu ia menyelesaikan ucapannya. Jelas aku sedang menatapnya tidak suka. Ceroboh, seharusnya aku juga melihat foto calon suamiku sebelumnya. Tapi aku menolaknya karena sikap tidak peduliku, dan sekarang, karena sikapku itu, nampaknya ini akan menjadi hal yang sulit buatku.

“Ehm, Alice. Sebaiknya kita teruskan pembicaraan kita setelah ini. Setelah kita mengucapkan janji suci kita, huh? Semua orang sudah menunggunya,” bisik beast padaku begitu aku ingin membalas kata-katanya. Jarak kami terlalu dekat, bagaimana mungkin dia melakukan ini padaku.

“Apa kalian sudah siap?”

Suara pendeta membuyarkan semua pikiranku. Sekarang, pandanganku fokus ke depan. Bisakah aku mengucapkan janji suci itu? Mengapa harus dengan pria seperti ini?

“Aku, Byun Baekhyun, menyatakan dengan tulus dan ikhlas, bahwa Kim Alice yang berada disini mulai sekarang menjadi istriku. Aku berjanji setia padanya dalam senang maupun susah, dan akan mencintainya seumur hidupku.”

Aku menoleh ke arahnya begitu ia menyelesaikan ikrarnya itu. Satu hal baru yang ku ketahui tentangnya, ternyata beast memiliki nama. Dia Baekhyun.

“Aku Kim Alice, menyatakan dengan tulus dan ikhlas, bahwa Byun Baekhyun yang berada disini mulai sekarang menjadi suamiku. Aku berjanji setia padanya dalam senang maupun susah, dan akan mencintainya seumur hidupku.”

Tak kusangka aku akan mengucapkan itu. Semoga ini bukanlah pilihan yang salah. Sedetik kemudian kami saling bertukar cincin begitu pendeta mengucapkan kalimat yang menurutku sangat tidak penting. Tidak penting karena orang yang ada dihadapanku saat ini adalah seorang beast.

“Kalian akan saling menghormati, menghibur dan membantu. Juga akan tetap setia pada prinsip kalian. Pengantin laki-laki, kau boleh membuka cadar pendampingmu. Kalian boleh berciuman sekarang.”

Huh? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa pendeta itu mengucapkan hal-hal tidak masuk akal seperti itu? Aah, ayolah Alice, bagaimana mungkin kau melupakan urutan acara pernikahan. Aku tau hal ini akan terjadi, tapi ini tiba-tiba saja menjadi hal yang sangat mengejutkan bagiku begitu tau siapa yang akan menciumku.

“Aku tidak menyangka aku akan mencium anak kecil dipernikahanku,” ucap beast sambil membuka cadarku. Ia lalu memamerkan senyumannya, tidak itu bahkan tidak terlihat seperti senyuman yang tulus. Bisakah aku menyebutnya smirk? Omo, apa yang sebenarnya dia rencanakan?

Dengan sekali gerakan, ia menarikku dan membuatku benar-benar berada dijarak yang sangat dekat dengan dirinya. Aku melihatnya memandangi bibirku penuh nafsu, aku tau, bibirku ini memang manis, tapi tidak bisakah ia bersikap biasa saja saat ini. Bahkan ini…

Dia langsung menciumku. Tanpa menunggu waktu lama, ia melumat bibirku lembut. Bagaimana aku harus merespon ini? Apa aku harus diam saja? Atau aku harus membalasnya? Ya, Alice, kau terlalu banyak berpikir.

***

‘Tentu saja pernikahanmu tidak seperti milikku. Ini milikmu dan aku berjanji, kalau aku akan membuat pernikahanmu menjadi jauh lebih hebat dari pernikahanku sebelumnya. Anggap saja itu hadiah dari kakakmu ini, Al’

Itu perkataan Bella. Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya?

‘Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sayang. Bukankah aku sudah pernah katakan, aku akan membuat pernikahanmu menjadi lebih hebat dari milikku. Jaga ucapanku baik-baik, Al. Aku tidak pernah berbohong padamu kan? Percayalah padaku.’

Entah kenapa, ucapan-ucapan Bella beberapa waktu yang lalu muncul secara terus menurus dalam pikiranku. Aku tau sekarang aku sedang bermimpi, tapi untuk apa suara Bella muncul dalam mimpiku seperti ini? Begitu seriuskah aku memikirkan pernikahanku sehingga sampai terbawa mimpi seperti ini? Aah, benar-benar membuatku khawatir.

Seberkas cahaya matahari terpantul ke wajahku. Ya, meskipun mataku terpejam, aku masih bisa merasakannya, dan itu sangat menggangguku. Jangan tanyakan apa yang aku lakukan karena sinar matahari itu, sudah kebiasaan aku akan menggeliat dan memeluk apapun yang ada didekatku sambil menguap. Tapi, untuk saat ini, rasanya berbeda, kepalaku benar-benar terasa pusing ketika aku ingin membuka mataku. Apa yang terjadi sebenarnya?

Ditambah lagi ke anehan yang aku rasakan saat ini? Sebenarnya apa yang saat ini sedang ku peluk? Kenapa rasanya sangat tidak asing? Jangan bilang kalau…

Aku ingin berteriak ketika mataku telah terbuka secara sempurna. Namun aku malah memilih diam, aku bahkan sudah sadar dan mulai mengerti dengan situasi yang aku alami. Tapi, entah kenapa, aku malah melakukan hal gila ini.

Dia benar-benar berbeda ketika sedang tertidur..

Tanpa sadar, senyumanku tiba-tiba terbentuk memperhatikan lekuk wajah beast dari jarak sedekat ini. Bahkan aku bisa merasakan hangat nafasnya, hidung kami juga bersentuhan, bukankah ini jarak yang sangat dekat? Juga bukankah aku sudah gila karena tetap mempertahankan posisi seperti ini?

“Sampai kapan kau akan melihatku seperti itu?”

Aku membulatkan mataku begitu suara itu muncul tiba-tiba darinya. Tanpa membuang waktu aku langsung menjaga jarak darinya dan berusaha terlihat setenang mungkin saat ini. Benar-benar tidak beruntung, bagaimana mungkin aku ketahuan secepat ini?

Aku tersenyum canggung ke arahnya dan mencoba bangun dari posisiku. Saat aku ingin menggaruk tengkukku, tiba-tiba aku baru menyadari keanehan lain yang saat ini aku alami.

“Ya, ada apa dengan tanganku?” ucapku tak percaya. “Bagaimana mungkin ada borgol ditanganku? Apa kau yang melakukannya, beast? Cepat lepaskan.”

Aku melihat beast ikut bangun dari posisinya sambil mengucek matanya perlahan. Ia kemudian memperhatikanku dalam-dalam. Sedetik kemudian, ia memperlihatkan tangannya yang lain. “Kau ternyata bodoh ya. Lihat ini,” ucapnya mengangkat tangannya yang membuatku secara tidak langsung juga mengangkat tanganku. “Tangan kiriku dan tangan kananmu diborgol secara bersamaan. Mana mungkin aku melakukannya, untuk apa aku melakukan hal konyol seperti ini?”

Benar juga apa yang dikatakan manusia satu ini. Alasannya masuk akal. Tapi tunggu dulu, refleks aku langsung mengecek tubuhku, memastikan jika tidak ada yang kurang dari penampilanku. Syukurlah, semua masih utuh.

Sedetik kemudian aku langsung menatap pria satu ini dengan tatapan tidak suka. “Lalu bagaimana mungkin kau bisa ada di kamarku, huh? Untuk apa kau ada diranjangku? Bagaimana mungkin kita bisa tidur bersama semalam, huh?” ucapku mengajukan pertanyaan tanpa jeda. “Kau tidak melakukan apapun padaku kan, beast?”

“Berhentilang memanggilku beast. Jika kau terus memanggilku seperti itu, aku benar-benar akan berubah menjadi beast dan akan menerkammu sekarang juga. Apa itu yang kau inginkan?”

Refleks aku langsung menutupi tubuhku dengan selimut. “Bagaimana kau bisa bicara seperti itu beas, eh maksudku Baek? Jadi kau yang membawaku kemari, huh?”

“Kemari? Maksudmu kamarmu?”

Aku memperhatikan sekelilingku. Tunggu, aku baru sadar, ini bahkan bukan kamarku. “Ini dimana?”

“Bukankah kau bilang ini kamarmu?”

“Tidak, aku salah. Aku tadi salah bicara karena terkejut. Jadi, dimana kita sekarang?”

“Hey, jangan bercanda seperti itu, sama sekali tidak lucu. Bagaimana mungkin kau bisa melupakan kamarmu sendiri?”

“Tapi ini bukan kamarku,” ucapku meninggikan suara beberapa oktaf. Bagaimana mungkin aku melupakan bentuk dan rupa kamarku sendiri. Tapi, jika ini bukan kamarku, “Apakah ini kamarmu?”

Aku melihat Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, ini bukan kamarku. Kamarku tidak seluas ini,” ucapnya yang kurasa ia berkata jujur. Lagipula untuk apa ia berbohong.

“Lalu apakah ini mungkin…”

“Hotel,” ucap Baekhyun melengkapi kalimat yang tidak ingin ku teruskan. “Tidak, menurutku bukan. Ku pikir, tidak ada hotel yang terlihat seperti ini. Lihatlah sekelilingmu, apa kau pernah melihat hotel seperti ini?”

“Daripada disebut hotel menurutku ini lebih mirip seperti vila. Tapi, kenapa kita disini? Kenapa tangan kita..”

Baekhyun sekarang mengangkat tangannya yang bebas. “Ingat baik-baik kejadian semalam, Alice. Sepertinya ada yang merencanakan ini semua.”

Aku mengikuti perkataan Baekhyun. Menyadari kepalaku sangat pusing pagi ini, dan bau alkohol yang sangat tercium dari mulutku, bisa dipastikan kalau aku mabuk berat semalam. Pasti ada yang memanfaatkan keadaanku saat itu. Tapi kalau bukan Baekhyun, siapa yang melakukan ini semua?

“Bella?”

“Chan Hyeong?”

Kami mengucapkan itu dalam waktu yang bersamaan. Benar, dugaan kami benar. Mereka yang merencanakan ini semua. Aku ingat sekarang. Bagaimana mereka mengajak kami untuk double date di hari setelah pernikahan kami dan setelah itu mereka malah mengajak kami untuk minum-minum, lalu sekarang, apa maksudnya kita harus berakhir ditempat ini? Sebenarnya dimana ini? Apa yang mereka rencanakan?

***

‘Tidak ada yang akan mengetahui hal itu baik atau pun buruk sebelum melihatnya lebih dekat. Berani mencoba itu berarti berani untuk meraih kebahagian lebih awal juga resikonya. Aku saat ini sudah mulai memberanikan diriku untuk mencoba untuk memulai ini semua? Akankah aku akan bahagia?atau hanya akan mendapatkan resikonya?’

**to be continue**

 

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Princess Of Drama – (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s