[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 1)

cats.jpg

Superplayboy

#1 [The End]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Kim Hyein. Byun Baekhyun. Park Chanyeol. Other cast.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

.

.

.

.

.

.

Lelaki itu berjalan santai, sesekali menggerling pada gadis-gadis bodoh yang berdiri di koridor hanya berniat untuk melihat lelaki itu berjalan menuju kelas pagi ini. mereka gadis-gadis bodoh, walaupun beberapa terlihat berparas cantik, mereka tetaplah gadis bodoh. Ya, tentu saja. Mana mungkin mereka mengidolakan seorang lelaki berkulit tan dengan gelar superplayboy ini. Dia Kim Jongin. Siswa kelas akhir sekolah menengah atas ini mendapatkan gelar itu selama tiga tahun berturut-turut. Sejak ia masih menjadi murid baru.

Para senior yang dulu sedang memberikan orientasi padanya pun jatuh hati dengan mudahnya. Hanya dengan sekali kedipan mata dan senyuman miring menawannya, hanya dengan itu, mereka sudah berlutut padanya. Tak terkecuali Shin-saem, sang guru bahasa yang terkenal killer di mata semua siswa, jatuh hati padanya. Membuat Jongin sangat beruntung dipelajaran bahasa, karena Shin-saem dengan mudahnya memberi bonus untuk pekerjaan rumah. Hanya untuk Jongin.

Oleh karena itu pula, tak sedikit yang membencinya. Mayoritas lelaki, yang merasa iri dengannya. sebagian lagi para gadis yang merasa apa yang dilakukan Jongin itu sebuah kesalahan besar, seperti memainkan sejumlah gadis di sekolah itu. mereka bilang, Jongin hanya bisa merendahkan derajat seorang gadis dengan hanya menganggapnya sebagai boneka. Dan seperti biasa, jongin tak gentar dengan pendapat-pendapat itu. ia tak mudah berubah. Ia tetaplah Kim Jongin, si superplayboy dengan beribu pesona.

“Hei, bro!” Jongin menoleh ke balik tubuhnya, lalu tersenyum. Park Chanyeol−teman sekelas Jongin− baru saja menepuk pundak Jongin saat lelaki itu sampai di ambang pintu kelas. Lalu berhighfive ala lelaki.

“Mana Sehun?” Jongin berucap setelah matanya memandang seluruh isi kelas dan tak menemukan si pucat, Oh Sehun. Teman sebangkunya. Chanyeol ikut mengedarkan pandangan, mengikuti Jongin, lalu menggidikkan bahu tanda tak tau. Lelaki tiang itu kembali menepuk bahu Jongin.

“Kenapa kau mengkhawatirkan Sehun? Bukannya lebih baik kau khawatirkan dirimu dulu, ha?” Jongin tersenyum miring sebagai balasan dari ucapan Chanyeol. Dan itu membuat Chanyeol sekali menepukkan tangannya dengan keras sambil ber’ooo’ ria.

“Tentu saja, untuk apa seorang Kim Jongin bersedih setelah diputuskan seorang gadis?” giliran Jongin menepuk bahu Chanyeol.

“Kau sudah tau itu, hyung” Jongin menyingsingkan kedua lengan seragamnya−kebiasaannya memakai seragam yang dilipat bagian lengannya− lalu berjalan menjauh dari pintu kelas. Namun dihentikan oleh pertanyaan Chanyeol saat Jongin baru saja dua kali melangkahkan kakinya.

“Mau kemana kau?”

“Mencari Sehun, aku ada perlu dengannya” Chanyeol mengagguk lalu membiarkan Jongin berjalan menjauh, tentunya dengan dirinya di samping Jongin. “Hyung, kenapa kau megikutiku? Apa kau juga sedang ada perlu dengan Sehun?” Jongin memutar tubuhnya, menghadap Chanyeol.

“Tidak, aku juga akan mencari Baekhyun. Aku tidak menemukannya dari tadi” Jongin terkekeh kecil, lalu menyenggol lengan Chanyeol dengan sikunya. “Mencari kekasihmu, ha?” setelah kata terakhir yang Jongin ucapkan pada Chanyeol −yang menatapnya dengan mata yang hampir keluar− ia berlari menjauh. Meninggalkan tawa nyaring sepanjang koridor.

“Ya! Superplayboy! Kemari kau!”

Suasana kantin siang ini cukup tenang sebelum Jongin datang dan membuat banyak kebisingan, bisik-bisik para gadis yang membicarakannya, walau itu hanya bisikan, Jongin masih sangat jelas mendengarnya.

“Jongin-sunbae tampan sekali”

“Dia keren!”

“Aku ingin menjadi sepatunya”

Daebak! Dia bukan manusia! Dia malaikat!” sekiranya itu yang terdengar olehnya. Membuatnya tersenyum miring. Teriakan kecil terdengar setelahnya.

Lelaki itu duduk dengan perasaan senang, tentunya karena bisikan para gadis tadi yang membuatnya mood up. Diliriknya Chanyeol dan Baekhyun yang duduk berhadapan dengannya. Sesekali kedua orang itu−yang dianggap aneh oleh Jongin− tertawa keras setelah bercakap kecil. Jongin sempat penasaran dengan apa yang keduanya sedang bicarakan, namun seketika lenyap saat mengingat kalau itu akan memberi dampak buruk baginya. Mungkin ia akan tertular ke-aneh-an dari mereka. Jongin tentunya tidak menginginkan itu. dan ia hanya bisa memilih untuk diam sambil sesekali melirik sekeliling kantin, berharap menemukan Sehun.

Dan benar saja, ia menemukan Oh Sehun yang sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis di bangku kantin yang tak jauh darinya, Chanyeol, dan Baekhyun duduk. Jongin berniat mendekat, tapi wajah si gadis membuatnya mengurungkan niat. Ia sama sekali belum pernah melihat gadis itu. Apa mungkin itu kekasih Sehun? Kenapa ia tak memberitahukanku?! Batin Jongin geram. Baru saja tubuhnya bangkit untuk melangkah ke arah Sehun dan gadis itu duduk, tangan Baekhyun dengan cepat menangkap lengannya.

He, bocah! Makanan kita sudah sampai, mau kemana kau?” Jongin menoleh ke arah meja, tiga piring kue coklat dan cola dengan jumlah yang sama sudah tersaji di sana. Jongin ingin sekali mendekat pada sehun dan gadis itu, ia juga ingin mengisi perutnya yang sudah mengaum sejak pagi karena ia meninggalkan sarapan. Memanggil Sehun dengan berteriak juga bukan pilihan yang bagus, tentu saja Sehun tak akan dengar. Suaranya terkalahkan oleh suara bising dari para gadis yang juga disebabkan olehnya sendiri. Dan ia harus memilih duduk dan menjadi sebuah bayangan yang duduk diantara kedua orang aneh yang melupakan kalau Jongin ada di sana.

Seusai dari kantin, Jongin memilih menunggu Sehun di tempat duduknya. Sesekali memainkan ponsel karena bosan, atau menggerling pada para gadis adik kelasnya yang mengintip-intip dari jendela kelas.

Suara pintu kelas yang bergeser sampai di telinga Jongin. Lelaki itu menoleh ke arah pintu lalu mendengus kasar. Oh Sehun muncul dari sana, dengan mata yang langsung mengarah pada Jongin kemudian mendekat ke arahnya. Setelah Sehun benar-benar sampai di depan bangku Jongin−sekaligus miliknya−, lelaki itu dengan keras menggebrak permukaan meja. Membuat beberapa penghuni kelas yang sedang serius melakukan kegiatan mereka, menatap Sehun tajam. Namun sepertinya lelaki pucat itu tak menggubris dan malah menarik Jongin keluar kelas. Membuat yang ditarik hanya menatap Sehun dengan bingung. Tarikan Sehun berhenti di dekat pintu kelas adik Jongin, Kim Hye In.

“Kau ini kenapa?” tanpa basa-basi, Jongin dengan cepat melontarkan pertanyaan. Bukannya menjawab, lelaki pucat itu menengok ke dalam kelas lewat pintu yang tak jauh dari mereka berdiri, mengedar pandangan sejenak lalu melambaikan tangan. Memanggil seseorang. Hye In muncul dengan wajah tak beda jauh dengan kakaknya.

“Hei, Ada apa? Kenapa kalian ada di sini sekarang−”

“Mana murid baru itu?” pertanyaan cepat Sehun sekaligus pertanyaan yang membuat Hye In ingin membunuhnya karena menyela ucapannya. Hye In mendesis pelan dengan tangan mengepal pada Sehun.

“Murid baru?” Jongin bergumam pelan.

“Kau ingin menjadikannya korban namja hitam ini lagi?” Hye In bertanya penuh penekanan pada Sehun dengan satu telunjuk yang mengarah pada Jongin.

“Ya! Kim Hye In!” Jongin memekik keras. Sekilas seperti ada sebuah sengatan listrik yang terhubung antara tatapan tajam kakan beradik ini. Sehun mendesis pelan lalu satu langkah maju, membuatnya berdiri di antara Jongin dan Hye In. Lelaki pucat ini berhasil memutus perang mata antara keduanya. Sehun menolehkan kepalanya ke kiri. Ke arah Hye In tepatnya.

“Tidak, aku hanya ingin memperlihatkan gadis itu pada Jongin” Hye In menolehkan wajahnya kesal ke arah lain sekilas.

Murid baru itu seorang gadis?

“Hei!” Hye In mendorong kecil bahu Sehun dengan ujung jarinya. “Memperlihatkannya pada Jongin, sama saja menjadikannya korban”

Hoho, padahal aku tidak mengatakan kalau gadis itu akan jadi salah satu korban Jongin, tapi jika itu yang kau pikirkan. Aku rasa itu bukan hal yang sulit bagi Jongin, benarkan Jongin?” Sehun beralih menoleh pada Jongin, membuat Hye In ikut menatap kakaknya. Lelaki itu terlihat memijat keningnya sebentar, bukannya bingung dengan jawaban yang akan ia berikan pada Sehun. Tapi bingung dengan Sehun dan Hye In yang selalu berceloteh tak henti jika mereka bertemu dalam satu waktu seperti ini.

“Apa kalian tidak bisa berhenti bertengkar huh?!” Jongin membentak keduanya. Namun tak berdampak sedikitpun, pada Sehun maupun Hye In. Keduanya tetap pada mimik wajah yang sama dengan ketika menoleh pada Jongin. Sehun kembali menoleh Hye In.

“Baiklah, walau Jongin tak bisa memberi jawaban sekarang..” Sehun mendengus ringan sambil tersenyum miring. Membuat Hye In melotot ke arahnya. “..tapi aku yakin, Jongin dengan mudah akan menaklukannya” Sehun balas melotot.

“Kau yakin? Impossible” Hye In melipat kedua tangannya di depan dada. Jongin hanya bisa diam tanpa memikirkan cara untuk menghentikan pertengkaran di hadapannya ini, sia-sia juga ia menghentikannya. Mungkin juga hasilnya akan sama dengan apa yang ia lakukan saat membentak keduanya tadi.

“Kalau begitu kau harus menuruti apa yang kuminta jika Jongin benar-benar mendapatkannya!” Sehun menuding telunjuknya pada Hye In.

Oho! Kau ingin taruhan? Baiklah, aku akan melakukan hal yang sama jika Jongin tak berhasil mendapatkannya” Hye In menepis telunjuk Sehun. Lalu tersenyum miring dengan kekehan kecil. berjabat tangan dengan Sehun sekilas setelahnya.

“Hei! Apa kalian sudah gila?! Aku baru saja dijadikan bahan taruhan disini!” dengan geram, Jongin melangkah muncul di antara posisi Sehun dan Hye In. Amarahanya benar-benar sudah memuncak. Sudah Jongin duga sebelumnya. Sehun dan Hyein hanya diam sambil tetap saling membunuh lewat tatapan masing-masing.

Ash! Aku tidak mau ikut campur! Sekarang tunjukan murid baru itu!” Sehun dan Hye In menghentikan perang tatapan mereka. Hyein menarik Jongin menuju pintu, lalu menunjuk seorang gadis yang sedang duduk membaca buku di kursi pojok belakang.

Jongin terdiam sejenak. dirinya yang sebenarnya telah kembali lalu bibirnya menyunggingkan senyum miring.

.

.

.

.

.

.

END

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 1)

  1. Lah mentang2 Kai seorang Playboy dia di jdiin bhn taruhan sm tmn n skligus adiknya sndri hehehe,,, apkh gdis bru itu bkln kesemsem ap gk ya???

  2. Chapter kok end? Kalo masih ada lanjutannya seharusnya tbc aja chingu^^ dan kata menggerling itu kayaknya salah, harusnya mengerling, atau itu typos kah? Maaf kalo aku cerewet😀
    Btw, nice story thor!!! Keep writing and fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s