[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 9)

hxf

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism!

Really nice poster Art by Kak IRISH @ Poster Channel

(Previous Chapter)

#CHAPTER 9

-oOo-

Entah mengapa cuaca malam itu terbilang sangat indah. Kerlap-kerlip bintang tidak begitu jelas terlihat tapi samar-samar rasanya cukup nampak. Walaupun terang bulan tidak seterang lampu-lampu yang menerangi Seoul, namun itu cukup indah dibanding malam-malam biasanya. Sungguh berbeda dengan suasana hati Krystal yang jauh dari kata baik.

Masih dengan piyama inapnya, Krystal duduk termenung di salah satu kursi taman rumah sakit. Matanya yang terpaku pada layar ponsel terus bergerak gelisah. Artikel buruk tentangnya benar-benar memenuhi berbagai situs di internet. Bahkan situs perusahaan mengalami gangguan akibat banyaknya akses yang digunakan hanya untuk melontarkan protes. Belum lagi komentar-komentar buruk yang terus netizen layangkan untuknya.

“Pingsan di depan banyak wartawan? Heol! Dia pasti hanya berpura-pura sakit demi menghindari pertanyaan.”

Krystal menelan ludahnya paksa. Dadanya teras sesak sekarang.

“Apa mereka benar-benar sepasang kekasih? Wah, bagaimana bisa Kai kita berpacaran dengan gadis buruk seperti dirinya?”

“Aku dengar dia jarang mengunjungi ayahnya dirumah sakit. Apakah itu karna ia menginginkan posisi presdir? Wah, dia pasti gadis yang sangat jahat.”

“Kai menang dalam kasusnya berkat gadis itu? Kalau begitu, sebagai fans Kai aku sangat berterima kasih. Tapi sebaiknya dia lebih menggunakan otak daripada hatinya. Bukankah itu terlalu jahat? Meskipun dalam keadaan koma pasti ayahnya merasa sakit.”

Mata Krystal memanas. komentar yang dilontarkan orang-orang begitu menohok hatinya. Semua pernyataan bahkan hanya menyalahkannya. Ia merasa marah dan kesal, membuat air matanya lolos tanpa ia minta. Mengapa hanya dirinya yang menanggung kesakitan ini?

Seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk tepat disebelah gadis itu, membuatnya terpaksa segera menyeka air matanya. Ia menoleh dan mendapati Victoria tengah tersenyum hangat dengan dua gelas coklat panas ditangannya. Krystal mengambil salah satu gelas yang disodorkan dan bergumam terima kasih.

“Sebaiknya tidak usah membaca komentar-komentar buruk yang mereka katakan. Itu hanya akan membuatmu semakin terbebani. Dan jangan terlalu dipikirkan, mereka bahkan tidak mengenalmu.” Victoria menyemangati.

Krystal tersenyum lemah menatap kosong pada isi gelasnya. “Tidak masalah, aku baik-baik saja.” Ujarnya bohong.

Victoria tertawa samar. “Kau sudah jadi penipu rupanya.” Ejek gadis itu, membuat Krystal kembali menatapnya dan menyunggingkan senyum. “Akan lebih baik jika terus seperti itu.” Lanjut Victoria.

Krystal membuang pandangannya ke depan, sedikit menyeruput coklat panasnya. ia tertunduk, kembali menatap kosong pada coklat panas yang terlihat sedikit mengepul di tangannya. Ia menghela nafas sebelum akhirnya bersuara. “Bukankah semua yang terjadi padaku sangat keterlaluan?” Ujarnya lirih.

Victoria tak bersuara, ia tahu mungkin inilah saatnya bagi gadis itu meluapkan segala sesuatu yang selama ini ia pendam. Jadi kali ini ia hanya akan berusaha menjadi pendengar.

“Laki-laki itu.. Kim Kai. Aku benar-benar penasaran dengan orang itu. Ini hanya terhitung dua bulan tapi.. tidakkah kau merasa begitu banyak yang ia lakukan padaku dan ayahku? Sebenarnya apa yang membuat dia melakukan semua ini?” Krystal menatap Victoria seolah ia akan mendapat jawaban dengan melakukan itu. Yang sebenarnya pertanyaan itu lebih ia tunjukkan pada dirinya sendiri.

Krystal beralih menatap awan-awan yang nampak bergerak dengan perlahan lalu kembali berujar.

“Aku selalu memikirkan ini, aku pikir Kai sangat membenci ayahku. Aku juga ingat, matanya begitu memancarkan kebencian saat membicarakan ibuku. Dia bilang, dia mengetahui keluargaku lebih dari ekspektasiku sendiri. Dia mencelakai ayahku, juga melakukan apapun secara sepihak. Dan itu membuatku begitu marah padanya karena dia tidak pernah memberiku alasan.” Krystal kembali menolehkan pandangannya ke depan.

Victoria mengalihkan pandangannya dari wajah Krystal. Ia ikut menatap ke depan, pada rerumputan juga pada lampu-lampu taman yang menyala. Ia menelengkan kepalanya seolah sedang berfikir.

“Dia membenci ayahmu, dia mengetahui keluargamu, dia juga membuat banyak masalah. Dan apa kau masih ingat saat kau bilang padaku tentang apa yang Kai katakan saat ia menyeretmu ke sungai Han? Bukankah dia mengatakan ‘Aku hanya memberi apa yang aku dapatkan’? Aku selalu ingat kalimatnya yang satu itu dan jawabanku selalu sama. Ada sesuatu di masa lalu antara keluargamu dan Kai. Dan.. ‘memberi apa yang ia dapatkan’..” Kalimat Victoria terhenti, sepertinya ia masih perlu berfikir untuk menyelesaikan perkataannya.

Krystal hanya diam mematung, mencerna kembali semua kalimat yang Victoria ucapkan. Ia tidak terlalu yakin dengan kesimpulan yang ia dapatkan tapi tiba-tiba saja semua memori tentang Kai terasa kembali berputar di ingatannya. Semua ucapan penuh amarah dan kebencian pria itu bergantian berdengung di kepalanya.

“Balas dendam?” Lirih Krystal.

-oOo-

Musik klasik yang mengalun di seluruh ruangan terdengar seperti sedang mendukung kegiatan Kai yang tengah mengancingkan lengan kemejanya di depan cermin setinggi tubuhnya. kemeja putih yang ia kenakan nampak sempurna melekat di tubuh tingginya. Ia mengambil tuxedo hitamnya yang tergantung rapi disamping cermin lalu memakainya dengan hati-hati seakan kain itu sangat rapuh. Pandangannya masih berfokus pada dirinya di cermin sampai akhirnya seseorang membuka ruangan itu secara paksa.

Oh, Hyung! Kau juga akan datang?” Ujar Kai saat dirinya masih sibuk mematut diri.

Dengan langkah cepat manager Shim menghampiri Kai. “Berhentilah. Lupakan konferensi pers atau apapun itu yang berkaitan dengan JStal.” Nada bicaranya terdengar cukup serius kali ini.

Kai hanya tertawa seraya memandang managernya lewat pantulan cermin. “Ada apa? kenapa serius sekali?”

Manager Shim menghela nafas. “Aku pikir semuanya sudah cukup. bisakah kau berhenti bermain-main dengan hidup seseorang?” Kalimat yang satu ini berhasil membuat Kai menghentikan aktifitasnya.

“Bicaralah yang jelas hyung, jangan berbelit-belit” Kai kembai tersenyum. Ia melangkah menuju sebuah nakas di ujung ruangan dan mengambil sebuah jam tangan disana.

“Kau mengerti apa yang aku maksud. Krystal Jung, berhentilah mengganggunya. Aku pikir Jung Jaewon sudah cukup. Jadi sudah sangat keterlaluan jika aku membiarkanmu menyentuh gadis itu juga.” Jelasnya tak sabaran.

Kai kembali menghentikan aktifitasnya, namun kali ini raut wajahnya lebih tenang. ia tersenyum samar. “Aku benar-benar tidak mengerti. memangnya kapan aku mengganggunya? Dan Jung Jaewon? Hm, bahkan aku tak membuatnya mati.” Ia menatap managernya tanpa raut bersalah lalu tersenyum miring. Kai merapikan tatanan rambutnya dengan hati-hati.

Manager Shim yang merasa kesal melempar sebuah map cokelat ke atas meja di tengah ruangan itu. “Rumor itu. kau yang menyewa seorang jurnalis untuk mengambil gambarmu dan Krystal malam itu. Kau membuatnya dalam keadaan yang sangat buruk. Kau tahu kan serangan masyarakat lebih menakutkan? belum lagi netizen dan para wartawan yang terus menghakimi. Dan lihatlah berita yang kau ciptakan! kekacauan yang kau buat!” Ujar Manager Shim penuh emosi.

Kai masih terlihat cukup tenang di tempatnya. Ia justru sedang menyeleksi botol parfum yang akan ia gunakan hari ini.

“Kau tidak mengaktifkan ponsel dan tidak membuka e-mailmu sejak kemarin. Kau pasti tidak tahu jika gadis itu berada di rumah sakit sekarang.” Setelah mengucapkan itu manager Shim meninggalkan ruangan itu. meninggalkan Kai yang membeku di tempatnya.

-oOo-

Kystal duduk termenung di tepian ranjang dengan tubuh yang masih berbalut piyama khas rumah sakit. Cuaca cerah pagi itu bahkan tak sedikitpun menarik perhatian Krystal. Ia menggigit kuku-kuku jarinya gelisah. Otaknya masih terus terasa berputar-putar mengingat bagaimana keadaannya saat ini, dan bagaimana ia bisa keluar dari semua permasalahan ini. Belum lagi percakapaannya dengan Luhan beberapa saat lalu masih saja terngiang.

“Konferensi Pers hari ini akan tetap berlangsung. Launching dan rumor, aku akan menyelesaikan semuanya. Yang perlu kau lakukan hanya tetap disini dan persiapkan saja dirimu untuk nanti malam. Acara ulang tahunmu juga tetap dilaksanakan.” Ujar pria bermata indah yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.

“Apa kau waras?” Ujar Krystal sarkatis, bahkan kedua alisnya hampir saja bertabrakan. Luhan baru sampai dan yang diucapkan pria itu kedengarannya cukup gila di telinga Krystal.

“Menyelesaikan dua perkara yang bertolak belakang sekaligus dalam satu pers? Dan juga.. Astaga, tidak bisakah kau batalkan saja acara ulang tahun itu? Aku pikir–”

“Jika aku hanya mengangkat topik launching produk kita, apa itu akan berhasil? Kau pikir apa yang diinginkan oleh media saat ini? Tentu saja rumor kencanmu dengan idol itu. Dan..” Luhan berkacak pinggang di samping tempat gadis itu berbaring, menatap Krystal seolah ia adalah putrinya.

“Acara ulang tahunmu tidak bisa dibatalkan.” Luhan menatap Krystal tepat di matanya. Gadis itu baru saja akan membuka mulutnya untuk membantah tetapi ia kalah cepat.

“Sebagian tamu undangan adalah rekan-rekan ayahmu, para pemegang saham, dan tentu saja calon-calon investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan. Jadi, turuti saja perkataanku dan jangan membantah. Okay?” Luhan masih menatap gadis itu dengan tatapan memerintah sebelum akhirnya melangkah ke dekat jendela dan menyingkap gorden yang membuat ruangan itu seketika menjadi sangat terang.

Krystal yang masih termangu di tempatnya hanya memperhatikan pergerakan Luhan. “Aku pikir ini ulang tahunku.” Ujar Krystal sarkatis yang entah ia lontarkan pada siapa karna Luhan sama sekali tidak menanggapi.

“Cuaca sangat cerah. Kau bisa bersantai sampai Victoria datang. Perhatikan penampilanmu untuk nanti malam. Aku akan menjemputmu jam 7.” Setelah selesai dengan segala keputusannya yang sepihak, Luhan meninggalkan ruangan itu.

Krystal menggeram frustasi di tempatnya. Luhan melakukan semua rencana bahkan tanpa mendengar pendapatnya. Bagaimana bisa dua topik yang bertolak belakang itu diangkat dalam satu pers? Yang mana yang akan Luhan dahulukan? Dan apakah dirinya tidak perlu hadir disana? Apa pendapat media dan masyarakat jika ia tidak berada disana dan justru tiba-tiba muncul di acara pesta ulang tahun. Oh, ia sendiri bahkan merasa seperti pecundang hanya dengan memikirkan hal itu.

Krystal mengusap wajahnya frustasi. Ia pikir ia akan segera berhadapan dengan psikiater jika terus seperti ini. Tapi tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya.

Haruskah ia..?

Krystal bangkit dan melangkah dari tempatnya, meraih gagang telepon rumah sakit di atas nakas kecil disamping sofa ruangan itu. Setelah menekan beberapa digit angka, ia menunggu sambungan telepon itu dijawab oleh si pemilik nomor. Tidak lama setelahnya, terdengar suara seseorang menjawab telepon dari seberang.

“Yeobse–”

“Vic, untuk kali ini saja.. kau harus membantuku.” Potong Krystal terburu-buru.

“Memangnya kapan aku tidak membantumu, huh? katakan.” Suara dari seberang sana terdengar lebih santai.

“Aku harus kabur!”

-oOo-

-oOo-

Lobi gedung JStal telah dipenuhi oleh puluhan wartawan yang sudah siap dengan peralatan media mereka untuk sesuatu yang telah ditunggu-tunggu, konferensi pers. Seperti yang telah Luhan perkirakan, keinginan wartawan saat ini bukanlah penjelasan mengenai launching yang rencananya akan diselenggarakan hari ini. Melainkan penjelasan berbagai rumor buruk yang telah menimpa CEO perusahaan.

Jika boleh jujur rasanya kepala Luhan bisa meledak kapan saja hanya untuk memikirkan bagaimana caranya agar Launching dan acara ulang tahun tetap berjalan hari ini sebagaimana mestinya tanpa ada hambatan sedikitpun. Tapi yang menjadi masalah adalah rumor buruk tentang Krystal kemarin malah merambat pada perusahaan. benar-benar berdampak pada perusahaan. Kekuatan media saat ini memang sangat mengerikan.

Untung saja otaknya cemerlang, sehingga inilah cara terbaik yang setengah mati telah ia pikirkan matang-matang. Menyusun jadwal baru.

Luhan menduduki salah satu kursi di balik meja panjang yang sudah ditata rapi dengan dekorasi elegan. Kursi di samping kanan yang seharusnya untuk Krystal, dibiarkan kosong. Luhan tersenyum pada puluhan wartawan yang telah duduk rapi di hadapannya, sebelum akhirnya ia membuka suara.

“Saya selaku perwakilan JStal Company mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman media yang bersedia untuk datang hari ini.” Luhan kembali tersenyum, membiarkan para reporter mengambil gambarnya untuk sejenak.

“Hari ini adalah hari dimana seharusnya JStal melakukan kegiatan launching untuk proyek terbaru yang telah kami selesaikan dengan baik. Tetapi karena adanya sedikit masalah, kami telah merubah rencana. Rencana seperti yang telah kalian dengar, jika pagi ini saya akan mengklarifikasi berbagai rumor tidak menyenangkan yang beberapa waktu lalu media publikasikan. Rumor buruk yang menyangkut perusahaan dan CEO kami, nona Krystal Jung.” Luhan berucap serius, membuat suasana menjadi sedikit tegang setelahnya. Orang-orang berlomba memasang kuping mereka demi apa yang akan Luhan katakan.

“Pertama, Sehubungan dengan adanya musibah yang menimpa Tuan CEO Jung Jaewon beberapa waktu lalu, kami mengangkat nona Krystal Jung sebagai CEO sementara yang akan mendukung kinerja perusahaan untuk lebih baik lagi. Keputusan ini kami ambil berdasarkan rapat direksi dan atas surat perintah yang menyatakan jika Krystal Jung berhak atas kekuasaan JStal jika, Jung Jaewon tidak mampu menangani perusahaan.” Tegas Luhan. Suara papan keyboard laptop terdengar saling bersautan dari kursi dihadapannya.

“Kedua, gosip yang beredar menyatakan tentang adanya hubungan khusus antara nona Krystal Jung dengan idol yang belum lama ini bekerja sama dengan kami, Kim Kai. Dan jawaban yang kami berikan adalah berita itu tidak benar adanya.” Suasana yang tadinya cukup hening kini berubah menjadi gaduh. Nampaknya pernyataan yang Luhan katakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Terakhir,” Luhan menatap serius para wartawan yang sudah bersiap menyalin kalimat yang akan ia nyatakan. “Semua rumor mengenai kencan, sidang kasus kecelakaan CEO Jung Jaewon, Idol Kim Kai, CEO Krytal Jung, dan Jabatan, tidak satupun saling berkaitan seperti yang media beritakan.” Suasana kembali jadi riuh.

“Jadi saya akan menegaskan, bagi media ataupun orang-orang yang terus memberi pernyataan buruk tentang beberapa hal yang saya telah sebutkan, pihak kami tidak segan-segan untuk mengambil jalur hukum.” Luhan berujar dengan sangat lantang.

Setelahnya pria itu berdiri dari kursinya lalu tersenyum sopan. “Karna kami tidak menerima pertanyaan, kami ucapkan terima–” Tiba-tiba saja ucapannya terhenti, senyumnya memudar kala matanya menangkap sosok yang baru saja muncul dari pintu masuk dengan nafas terengah-engah.

“Itu nona Krystal! Itu Krystal Jung!” Ucap salah seorang repoter yang menyadari kemana arah pandang Luhan. Dan saat itu juga reporter lain berbondong-bondong berlarian seraya mengarahkan kamera mereka seakan takut jika Krystal akan segera menghilang dari sana.

Luhan yang masih sangat terkejut tak mampu bergerak dari tempatnya. Luhan memejamkan matanya lalu menghela nafas menenangkan diri, takut-takut jika ia akan berteriak setelah ini. “Harusnya tadi aku memberinya obat bius.” Setelah itu Luhan segera berlari ke arah Krystal.

-oOo-

“Maksudmu dia datang sendirian saat itu hampir selesai?” Ujar Kai pada seseorang lewat telepon. Ia berdiri di depan kaca ruang tamunya memandang langit yang sudah terlihat secerah kemeja putihnya. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

“Ya, dia datang saat seseorang bernama Luhan itu baru saja akan mengucap kalimat penutup. Dan sepertinya dia berada dirumah sakit itu benar, wajahnya sangat pucat dan ada plester di lengannya. Aku pikir itu bekas infusan.” Jelas seseorang dari seberang telponnya.

Kai diam tak mengeluarkan suara, pikirannya melayang pada apa yang manager Shim katakan sebelumnya tentang Krystal berada di rumah sakit. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya saat mendengar jika kabar itu benar. Dan–hey, tunggu dulu. Apa ia khawatir? Bukan, mungkin itu hanya rasa penasarannya saja.

“Baiklah, aku akan segera mentransfer bayaranmu. Dispatch memang memukau.” Puji Kai diselingi tawanya.

“Tidak masalah, senang bisa membantumu. Tapi ngomong-ngomong, kau tidak akan menanyakan apa yang dikatakan nona presdir itu?”

Kai terdiam untuk beberapa saat tapi kemudian ia kembali bersuara. “Memang apa yang dia katakan?”

Tepat saat itu ia mendengar seseorang membuka pintu apartementnya. Itu manager Shim yang tengah menatapnya lurus.

“Dia bilang–”

“Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Setelah Kai memutuskan panggilannya, ia beralih menatap manager Shim yang masih tak bergerak di tempatnya. Kai memasukkan ponsel ke dalam saku celananya lalu berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin lalu membuka satu minuman kaleng. Sebelum merasakan segarnya minuman soda yang ia pilih, Kai melihat manager Shim masuk ke dalam ruang ganti dan keluar dengan map cokelat yang sempat dilemparkannya pagi tadi.

Kai melangkah ke arah sofa, menyandarkan tubuhnya pada sofa di hadapan manager Shim. “Aku pikir kau sedang marah.” Ujar Kai sarkatis.

Manager Shim menatap tajam Kai. “Iya aku marah. Sangat marah!” Kemudian tangannya yang berada di dalam map cokelat kembali bergerak-gerak.

“Lalu?” Balas Kai santai melipat tangannya di depan dada seraya menyilangkan kakinya.

Manager Shim tak langsung menjawab, ia mengeluarkan isi dari map cokelat itu ke atas meja membuatnya jadi berantakan. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia mengangkatnya ke udara. “Voucher belanjaku tertinggal.”

Kai tersenyum simpul. Ia menatap beberapa kertas di atas meja, tanda bukti transfer dan beberapa foto dirinya saat bersama dengan seorang reporter. Lalu tiba-tiba ia teringat dengan apa yang manager Shim katakan padanya pagi tadi. “Gadis itu, apa dia benar-benar sakit?”

Manager Shim menatap Kai skeptis. “Kau masih bertanya? Aku pikir seseorang sudah memberitahumu.” Ia melipat tangannya di depan dada. “Ya, dia masih sakit. Tapi seperti yang telah seseorang katakan padamu, dia meninggalkan rumah sakit lalu datang ke konferensi pers.”

“Jadi, aku pikir dia tidak benar-benar sakit.” Kini giliran Kai yang menatap manangernya skeptis, lalu kembali menegak minumannya.

Manager Shim menghela nafas kasar, tapi kali ini tatapanya berubah menjadi serius. “Dia mengidap Agoraphobia. Kau sudah dengar?”

Kai membeku bahkan saat ia sedang menenggak kaleng minumannya. Ia menurunkan tangannya seraya menelan sisa soda didalam mulutnya yang entah mengapa rasanya jadi begitu kuat sampai-sampai membuat tenggorokannya sakit.

ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap sang manager. “Agoraphobia? Jadi maksudmu, Dia seorang master fansite dan mengidap phobia keramaian?” Kai balik menatap managernya serius. “Kau sedang menipuku? Jangan bercanda!” Kai tertawa tak percaya, lebih tepatnya adalah ia sedang meyakinkan diri.

“Aku serius, bodoh.” Manager Shim tersenyum simpul. “Dan kau tahu? Itu semua karna dirimu.”

-oOo-

Krystal duduk di kursi ruang kerjanya dengan gelisah. Mengingat apa yang telah ia lakukan pagi ini rasanya ia mau gila saja. Astaga, ia bersumpah ia merasa malu setengah mati.

“Tolong jangan mengambil gambar!” Teriak Luhan saat ia berlari lalu menutupi tubuh Krystal dari para reporter. Beberapa penjaga ikut berdiri mengitari mereka berdua, memberi jarak pada para reporter agar tidak terlalu dekat.

Luhan sedikit menoleh, melirik Krystal lewat bahunya. “Apa yang kau lakukan? Astaga, tadi itu hampir selesai.” Pria itu berbicara setengah berbisik dengan nada kesalnya.

Krystal yang masih terengah menatap Luhan tak percaya. “Sudah selesai? Kenapa cepat sekali? Padahal aku sudah berlari.”

“Karna Persnya hanya membahas masalahmu saja. Tck! Sudah aku katakan jangan pergi kemana-mana.” Luhan mendesis.

Krystal menatap Luhan kesal. “Bagaimana bisa aku diam saja saat pikiranku berada disini? Saat seseorang sedang menyelesaikan masalah yang seharusnya jadi tanggung jawabku?”

Luhan yang menatap ke depan kembali menoleh, “Wow~ itu sangat keren. Tapi silahkan pikirkan apa yang akan kau lakukan sekarang.”

“Aku–”

“Nona Krystal! Apa yang dinyatakan sebelumnya oleh sekretaris anda benar?” Ujar salah satu reporter yang otomatis memotong percakapannya dengan Luhan.

“Nona Krystal! Kami pikir anda tidak akan datang. Lalu mengapa sekarang anda muncul?” Timpal reporter lain.

“Nona! Tolong katakan sesuatu!” kembali timpal seorang reporter. Setelahnya suasana menjadi gaduh dengan suara-suara yang saling berlomba mengajukan pertanyaan.

Jujur saja Krystal jadi merasa sangat gugup, tangannya yang saling bertautan berkeringat. Belum lagi lampu blitz dari banyak kamera yang menyorotnya membuatnya merasa risih. Sedikit takut lebih tepatnya.

Luhan berdecak kesal dengan suasana yang berubah diluar kendali. “Sudah kami tegaskan sebelumnya, tidak ada sesi tanya–” Ia menghentikan kalimatnya saat menyadari Krystal menyentuh lengannya. Kemudian gadis itu melangkah ke depan Luhan, membuat suara blitz semakin terdengar saling menyaut.

“Aku akan memberikan jawaban jika kalian berhenti mengambil gambar.” Ujar Krystal tenang. Dan benar saja, setelah itu tidak lagi terdengar suara kamera. Para reporter nampak serius menunggu kalimat apa yang akan Krystal ucapkan.

Krystal tersenyum, “Pertama-tama, aku meminta maaf karna datang sangat terlambat. Aku berharap Sekertarisku akan menunggu tapi sepertinya itu bukanlah hal terpuji membuat para reporter menunggu.” Semua orang disana nampak terkejut dengan apa yang Krystal ucapkan. Secara tidak langsung itu adalah penghormatan bagi para reporter.

“Aku juga berterima kasih karna kalian bersedia hadir disini.” Krystal menatap Luhan sebelum ia melanjutkan perkataannya. “Semua yang dikatakan sekretarisku adalah benar. Bahwa semua rumor yang beredar di media tidak satupun benar.”

Krystal menundukkan kepalanya. “Aku ingin meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan dengan adanya rumor buruk ini. Rumor tentangku yang menyebabkan ayah, bahkan orang-orang di perusahaan menjadi kesulitan. Semua orang menjadi sulit karna aku.” ia semakin menundukkan kepalanya, tangan disamping tubuhnya yang mengepal bergetar.

Untuk beberapa saat, Krystal tetap pada posisinya sebelum ia menegakkan kembali kepalnya. Namun ada yang berbeda, kali ini air mata sudah membasahi pipi gadis itu. Semua orang disana nampak sangat terkejut. “Aku benar-benar merasa bersalah untuk semua orang yang disulitkan. Aku juga meminta maaf kepada orang-orang yang menyimpan kebencian untuk hal ini. Ini semua kesalahanku. Aku berjanji akan lebih banyak belajar dan berusaha agar tidak mengecewakan lagi.” Setelah itu Krystal tersenyum lalu membungkuk 90 derajat yang mana membuat semua orang terpukau dengan apa yang dilakukannya.

Dan setelah itu yang ia tahu adalah Luhan meraih bahunya dan membawanya menjauh dari tempat itu.

Krystal menjatuhkan kepalanya ke atas meja seraya menutup matanya dalam-dalam. “Itu benar-benar bukan gayamu, nona Jung.”

“Yang tadi itu sangat keren.” Suara seseorang membuat Krystal dengan gerakan cepat menegakkan tubuhnya. Tapi sedetik kemudian ia memutar bola matanya malas.

“Kau sudah mengatakan itu berkali-kali. Aku akan segera mencekikmu jika kau mengatakan itu lagi, Vic.” Krystal menghampiri Victoria yang sudah memandanginya dengan senyum mengejek dari sofa.

“Serius, rahangku hampir lepas melihatmu tadi.” Kembali puji Victoria. ia meletakkan dua gelas minuman dan ponselnya ke atas meja.

“Terserah.” Balas Krystal malas setelah meraih salah satu gelas lalu menyeruput isinya. Tapi setelah itu Krystal nampak terkejut dengan rasa minuman yang menyapa lidahnya. Caramel macchiato dengan mint. Ia menatap Victoria aneh.

“Kenapa? ada yang salah?” Tanya Victoria

“Tidak. Hanya saja, rasanya sudah sangat lama aku tidak meminum ini.” Setelahnya ia kembali meneguk minumannya. Victoria hanya tersenyum samar memandangi tingkah sahabatnya itu.

“Aku pikir Park Chanyeol akan pingsan jika mendengar pidatomu tadi.” Ucapan Victoria yang satu itu berhasil membuat Krystal tersedak. Dengan tawa jahilnya ia menyodorkan beberapa lembar tisu.

“Kapan kita bersiap? Bukankah ini sudah sore? Dimana gaunku?” Krystal mengalihkan topik. ia berujar tanpa menatap Victoria yang masih tersenyum geli. Tangannya masih sibuk membersihkan bajunya yang terkena cipratan minumannya.

“Hubungi dia, Krys. Kau tak pernah mengangkat telponnya, bahkan tidak pernah membalas pesannya. Kau sudah terlalu mengabaikannya.” Nasihat Victoria dengan nada yang begitu tenang.

Krystal menghentikan kegiatannya lalu menatap Victoria malas. “Aku harus memeriksa gaunku.” Setelah mengatakan itu ia bangkit, melangkah kesal menuju pintu.

“Iya aku tau, kau pasti sangat merindukannya!” Teriak Victoria dengan tawa jahilnya.

Victoria termenung beberapa saat, tertawa lewat hidung saat menatap ponselnya di atas meja. Ia segera meraih dan menempelkan benda itu pada telinganya. “Kau dengar sendiri kan, Park idiot? Pulang atau kau tidak akan pernah punya tempat.”

Terdengar tawa renyah dari seberang. “She got me, you know? She always got me going crazy. Aku akan pulang, segera.”

.

.

.

-TBC-

Hai teman-teman! ^^ long time no see hehe

Adakah yang nunggu chapter ini? Buat yang nunggu aku minta maaf banget ya kalo kelamaan😄 whahaa /lah siapa yang nungguin emang?/ aku udah mulai bimbel, nyiapin buat ujian praktek dan bla bla bla intinya pergi sunrise pulang sunset gituu :’ sedih kalo diceritain mah :’) ?perasaan gak ada yang nanya dah/ yaudah gapapa, apa atuh akumah :3 wkwkwk

Ngomong-ngomong ini chapternya panjang banget menurut aku jadi maapkeun kalo bacanya pegel :3 whahahaa

Yaudahlah jadi intinya gimana chapter ini? Wkwkwk komentar kritik saran diterimaa~

See you~

Makasih banyak banyak banyak buat yang udah baca cerita aku sejauh ini terutama yang udah ninggalin jejak-jejak semangat /eh? Apaan ini/ komentar maksudnya😄

Thankisseu :*

19 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 9)

  1. Jahat gimana toh nak? Wkwk
    Seperti kamuh? /huek/ /lalu disambit/ whahaa
    Iyadong park chanyeol mau bikin reader kelepek2 B-) whehee
    Chanyeol sibuk nak, wkwk

    Aku usahain yaaa :))
    Novel? Segini aja mabok :’3 wkwkwk
    Iya dear thankyouu😉 :*

  2. Aku nggk ngerasa kepanjangan ini, blum puas. Kalo di pikir2, Kai keterlaluan jg ya… Moga si Krystal nggk benci sm dia. Aku lebih suka Kaistal drpd Chanstal. Kenapa? Si Chan munculnya di hape mulu sih. Jd feel Chanstal kurang dpt. Trus akhirnya Chan bener2 niatan pulang. Hore*lemparconfeti🎉🎊
    Maaf komen ku yg terkesan egois. Kak Choco ttp semangat nulisnya n bimbel buat ujian praktek. Fighting!!!😃😃😃💪💪💪

    • Apa hanya aku yang anggap ini kepanjangan :’D hahaha
      Belum ada chapter chanstal. Aku bakal bikin kamu kejang2 karna mereka :3 whahahaaa /lalu disiram/
      Aku juga seneng chanyeol pulang :3 wkwkwk
      Egois apanya? Ngga kok^^ malah aku suka kalo dikoment panjang begini😀 hehee
      Okee, thanks dear😉

  3. Aku nggk ngerasa kepanjangan ini, blum puas. Kalo di pikir2, Kai keterlaluan jg ya… Moga si Krystal nggk benci sm dia. Aku lebih suka Kaistal drpd Chanstal. Kenapa? Si Chan munculnya di hape mulu sih. Jd feel Chanstal kurang dpt. Trus akhirnya Chan bener2 niatan pulang. Hore*lemparconfeti🎉🎊
    Maaf komen ku yg terkesan egois. Kak Choco ttp semangat nulisnya n bimbel buat ujian praktek. Fighting!!😃😃😃💪💪💪

  4. Aaaa kak chocho… kenapa kai jadi jahat gitu.. 😢
    tapi suka aku sama gaya krys yang ruar biasa keren macam dirikuh ini wkwk /ditabok kak chocho
    park chanchan mulai timbul ke permukaan yeeee… 😁😁😁
    dari kemaren cuma modal hp buat sms sama missed call doang… 😝

    Kak cepetan ya updatenya… gak sabar sudah ini pengen baca lanjutannya…
    kalo bisa macam novel novel itu… jadi ku bisa baca seharian wkwkwk 😂
    semangat ya kakak 😍

    • Sumpah wordpress aku kenapa sih ya begini mulu kalo koment berantakan :””

      Jahat gimana toh nak? Wkwk
      Seperti kamuh? /huek/ /lalu disambit/ whahaa
      Iyadong park chanyeol mau bikin reader kelepek2 B-) whehee
      Chanyeol sibuk nak, wkwk

      Aku usahain yaaa :))
      Novel? Segini aja mabok :’3 wkwkwk
      Iya dear thankyouu :*

  5. Kyaaaa~
    akhirnya update jg, lumutan thor nunggunya haha
    Cie kai khawatir? Chanyeol muncul lewat telpon doang:( chap slnjtnya chanyeol harus plg pkoknya *plak
    semangat chap selanjutnyaaaa🙂

    • Ciee lumutaaaan.. Belom jadi tempe kan?😄 hahaa
      Iya ditunggu aja yaaa, nanti juga dia pulang kok😄 whehe
      Iyaa, thanks dear😉

  6. kurang panjang?? ngeditnya berasa sampe mata perih tauuuu😄 wkwkwkwk
    Chanyeol? itu dia muncul dikit lewat telpon😄 /lalu disambit/ tenang, dia bakalan muncul dalam waktu dekat😄 hahahaa Chanstal? wait dear, i’ll make it sure B-)
    okee, makasih! :))

  7. Iya . ini malah kurang panjangang . Tpi tetap .keren .tpi sekali lgi chanyeolnya mana ? aku nunggu banget partnya chanstal . Terus semangat ya nulisnya .figthing .💜💜💜

    • Ini wordpress kenapa yaak? Suka jadi aneh ihh :’3
      kurang panjang?? ngeditnya berasasampe mata perih tauuuu wkwkwkwk
      Chanyeol? itu dia muncul dikit lewat telpon /lalu disambit/ tenang, dia bakalan muncul dalam waktu dekat
      hahahaa Chanstal? wait dear, i’ll make it sure B-)
      okee, makasih! :))

  8. Omg, finally update juga. Ni g panjang, kurang panjang malah. G ada kaistal momen juga 😢😢😢
    Tapi g papalah yg penting udah update. Si ceye nongol donk chap depan??
    Btw, si kai kayanya hatinya uda tumbuh benih buat krys *ngomong apa sih gua*
    Good luck buat ujiannya, semangat buat lanjutin ff nya. Ditunggu pokoknya 👍👍👍👍👍👍👍

    • Iya nih baru sempet😀 hehe kurang pangjang? aku ngeditnya aja berasa mual :3 wkwkwk
      kaistal momen? hmm.. kayaknya hal itu bakalan langka mulai chapter2 selanjutnya😄 *eh
      duhh ini yang nungguin ceyeee😄 haruskah aku bilang sabar(lagi)? nanti juga dia muncul kok :)) hehee
      iya makasiiiih! :))

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s