[EXOFFI FREELANCE] To Love You More (Chapter 1)

to-love-you-more

Tittle/judul fanfic: To Love You More

Author: Leehaera17

Length: Chapter

Genre: Romance, Psychology, sad, Self Hurt, Family

Rating: PG-19

Main Cast & Additional Cast:

Main Cast :

Park Chanyeol(EXO), Kim Hana (OC), Xi Luhan (Singer), Jung Junmyeon (SUHO EXO)

Supporting Cast :

EXO member, Jessica Jung (SNSD)

Disclaimer :

FF ini hasil kerja sendiri yang sudah pernah di publish di Wattpat author, bisa baca di sana, ID : Leehaera17 ( www.wattpad.com/leehaera17 ), semua tokoh hanya sebagai aktor protagonist dan antagonist, tidak ada maksut untuk melecehkan fandom manapun

jangan lupa Comment dan Vote di wattpad Author

add BBM author untuk perkenalan, pertanyaan, dan password (jika di perlukan) : 5C482AF1

“ apa ini punyamu ? ” Hana mencoba untuk membuka percakapan antara dirinya dan laki – laki ini,

laki – laki itu tidak menjawab dan mengambil pensil itu dari tangan Hana dan berjalan ke sudut ruangan, ia bersandar di sana dan mulai memperhatikan gambar yang sepertinya baru saja ia buat,

Hana memperhatikan setiap perilaku laki – laki yang katanya adalah Tuan muda dari SM CORP. itu dengan seksama, rambutnya tersisir rapih dan wajahnya bersih, badannya yang terlihat atletis menunjukan bahwa dirinya masih bisa berolah raga dengan baik, pakaian yang ia gunakan berada tepat pada tempatnya,

Jadi, apa yang salah ?

Yang salah adalah laki – laki itu sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Hana di tempat yang begitu luas ini.

Hana berjalan pelan kearah laki – laki itu, begitu pelan tanpa suara sedikitpun, ia tak ingin membuat laki – laki itu terkejut,

Hana hanya duduk di samping laki – laki yang posturnya lebih besar darinya itu dalam diam, ia berharap cepat atau lambat laki – laki itu akan mulai membuka suara,

“ siapa namamu ? ” Hana memulai pertanyaan,

Seperti yang Hana kira, laki – laki itu benar – benar tidak peduli dengan adanya dan tidak adanya Hana di sisinya,

Laki – laki itu hanya terus menggambar dengan pensilnya, sepertinya ia menggambar sebuah pohon dan mobil yang terlihat seperti mobil mahal dari tempat Hana memandang,

Sesekali ia akan berjalan kearah sebuah nakas kecil tempat ia menyimpan pensil – pensilnya untuk menggambar,

Tidak ada peruncing pensil yang terlihat, hanya pensil – pensil yang tidak terlalu tajam berada tepat di laci nomor satu dan laci nomor dua adalah kertas – kertas berwarna putih bersih juga beberapa buku gambar besar dan perekat kertas,

beberapa jam setelah itu, laki – laki itu keluar dari ruangan besar dan beralih ke ruangan lain yang berada sekitar 1 menit dari ruangan tadi, ternyata ruangan itu adalah Gym atau yang lebih tepatnya adalah tempat untuk si Tuan muda untuk berolah raga,

Hana yang bingung dengan keadaan hanya bisa terus membuntuti laki – laki itu kemanapun ia pergi,

Mata Hana terbelalak saat laki – laki itu mulai membuka pakaiannya di depan Hana tanpa rasa malu sedikitpun, Hana yang kaget menutup wajahnya dan berjalan keluar dari ruang kecil yang berada di dalam Gym tersebut,

Setelah beberapa saat laki – laki itu keluar dengan pakain untuk berolah raga, terlihat otot tangan dan kakinya yang kekar dan terlatih,

Hana duduk di sebuah kursi panjang di dekat jendela, memastikan bahwa laki – laki itu tidak melakukan sesuatu yang bodoh atau menyakiti dirinya sendiri,

Menurut analisa Hana, ayah dari laki – laki itu bersedia membayar sejumlah uang yang tidak sedikit hanya untuk mengawasi seseorang yang pastinya pernah melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, karena itu, Hana hanya memperhatikan laki – laki itu dari jauh,

Waktu berlalu kini saatnya ia untuk makan siang, laki – laki itu berjalan ke ruang makan dengan rambutnya yang masih basah dan belum di tata, ia duduk di kursi makan dan menunggu para pelayan menyiapkan makanan, makanan yang di buat semuanya berwarna redup, tidak ada warna warna terang yang terlihat juga alat makanan yang di siapkan hanya sendok tanpa garpu,sumpit dan pisau roti,

Sepertinya rumah ini ingin menjauhkan laki – laki itu dari berbagai macam benda tajam yang bisa melukai seseorang, tidak ada sedikitpun barang pecah belah yang terlihat, semua terbuat dari plastik dan kain termasuk guci juga vas bunga yang ada di sekitar rumah,

“ apa dulu ia pernah melukai seseorang dengan benda tajam ? apa ia melukai dirinya sendiri ? ” semua pertanyaan itu masih menjadi misteri di otak Hana

Setelah makan siang terlewati jadwal selajutnya adalah laki – laki itu menaiki tangga kearah sebuah ruangan besar,

di dalam ruangan itu terdapat beratus buku juga permainan catur,

Laki – laki itu menghabiskan sepanjang siangnya hanya untuk membaca,

Saat sore tiba, laki – laki itu menghabiskannya untuk berenang di kolam berenang indoor yang ada di rumahnya dan setelah berenang ia akan menyantap makan malamnya yang hanya berupa soup cream dan roti bakar,

Setelah makan malam, ia akan berjalan ke kamarnya dan memandang langit malam di balkon kamar luasnya,

Beberapa jam kemudia ia akan berbaring di atas tempat tidur dan menutup rapat matanya, menandakan bahwa tugas Hana hari ini sudah selesai,

Setelah melihat tuan mudanya tertidur, Hana akan kembali ke ruang Suho dan melaporkan keadaan laki – laki itu pada Suho yang berada di kantornya,

“ apa anda sudah berkenalan dengan tuan muda ? ” Suho membuka suara,

“ ia sama sekali tidak memberikan respond pada setiap pertanyaan yang saya ajukan ”

“ aku tidak heran, dokter sebelumnya tidak pernah mengetahui nama tuan muda sampai ia meninggalkan pekerjaannya ”

“ apa ? ”

“ ini adalah bayaranmu untuk satu bulan kedepan ” Suho memberikan amplop coklat yang tadi pagi Hana lihat,

Hana mengambil amplop itu dan melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah,

“ mari nyonya saya antar ” seorang laki – laki menawarkan,

terlihat mobil mewah terpampang di lobby rumah besar ini,

“ ah.. tidak perlu ” Hana kembali mengucap,

“ sudah menjadi tugas kami ” Laki – laki itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Hana masuk,

di sisi lain, Suho sedang sibuk menjawab telponnya yang berasal dari Tuan Park, ayah dari tuan muda rumah besar itu,

[ bagaimana apa sudah ada kemajuan ? ] laki – laki tua itu mencoba untuk berbicara sepelan mungkin,

“ maafkan saya, tapi sekarang keadaan masih sama ” Suho terduduk di meja kerjanya,

[ aku harap ini semua akan berakhir sebelum aku mati ] laki – laki itu kembali mengucap,

“ tuan… jangan berbicara seperti itu, tuan harus terus bersemangat ”

[ dengar Suho-yaa, umurku tidak akan panjang lagi, kau harus bisa membuatnya kembali ke posisinya sebelum pria itu mengambil alih, kau lah satu – satunya harapan yang aku punya ] suara laki – laki itu bergetar hebat,

“ jangan khawatir tuan, aku harap aku bisa menyampaikan berita baik secepatnya ”

Suho atau Suho memutus saluran telponnya,

ia menutup kedua matanya denga telapak tangannya, kepalanya seakan hampir meledak mendengar kakek tua yang baru saja menelponnya tadi menyampaikan hal – hal seperti ini dengan suara bergetar,

PRANG!

“ AAARRGG!!! ” suara erangan terdengar dari kamar tuan mudanya,

laki – laki yang kaget dengan suara besar itu segerah beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar tidur tuan mudanya,

“ CHANYEOL-AA, HENTIKAN ! ” laki – laki itu berlari untuk menghentikan tangan Chanyeol yang memegang serpihan kaca dari jendelanya yang terlihat pecah,

“ HENTIKAN ! ” Suho mencoba untuk menghentikan tubuh Chanyeol yang terus mengerang,

“ XIUMIN!!! ” Suho terus berteriak,

seorang laki – laki dengan masuk terburu – buru,

“ YA!! CEPAT ! ” Suho hanya terus berteriak,

laki – laki itu tegagap – gagap berjalan ke sebuah lemari dan di dekat dinding dan membuka kuncinya, tangan laki – laki dengan mata yang ujungnya tajam itu terus bergetar,

ia berlari dengan sebuah benda kecil dan tajam di tangannya,

“ CEPAT! ” Suho kembali berteriak,

Xiumin menahan tangan Chanyeol dengan erat dan menusukan jarum kecil di tangannya di nadi Chanyeol,

Dalam beberapa detik tubuh Chanyeol berhenti bergerak,

Dan jika kalian semua bingung dengan keadaan ini, Xiumin adalah seorang dokter umum yang selalu berada di rumah benar itu,

Apa yang ia lakukan ?

Yang ia lakukan adalah mengecek keadaan Chanyeol setiap malam, suhu tubuh, tekanan darah dan menangani luka di tubuh Chanyeol, yang terpenting dari semua ini adalah Xiumin akan menyuntikan obat bius di tubuh Chanyeol saat Chanyeol hilang kendali,

Ini bukan kali pertama bagi Suho menyaksikan kegilaan Chanyeol saat pikirannya berada di situasi yang tidak benar, kerap kali Suho mencoba untuk menenangkan Chanyeol tanpa menggunakan obat bius, tapi keadaan Chanyeol semakin lama semakin parah, menurut yang di katakan oleh dokter yang menangani Chanyeol, kejadian ini di sebabkan karena Post – Traumatic yang Chanyeol derita, dalam kata lain Chanyeol terus memimpikan kejadian paling kelam dalam hidupnya dan terus menyalahkan dirinya atas apapun yang terjadi,

“ sudah selesai ” suara Xiumin membangunkan Suho yang berbicara dengan pikirannya sendiri,

“ oo.. terimakasih banyak.. ” Suho memandang tangan Chanyeol yang di perban dan beberapa luka kecil yang di plester,

Xiumin berjalan keluar dari ruangan dan hanya Suho yang kini memandang Chanyeol dengan intents,

“ Chanyeol-aa, wae ireoke ? ” Suho mendesah pelan,

    ~To Love You More~

Di pagi hari yang indah Hana harus di kagetkan dengan keadaan Chanyeol yang terluka di sana – sini, walalupun lukanya tidak terlalu parah, tapi Hana menatap laki – laki itu dengan sejuta pertanyaan,

“ apa kau baik – baik saja ? ” Hana bertanya saat ia berhasil mengikis jarak antara dirinya dan tuan mudanya,

laki – laki itu memandang tangannya kanannya sendiri yang di perban,

“ apa masih terasa sakit ? ” Hana kembali bertanya,

tapi laki – laki itu tidak terusik untuk menjawab sama sekali,

Hana melempas nafas panjangnnya, ia berharap hari ini akan berlalu dengan sangat tenang seperti kemarin.

Laki – laki itu berjalan kearah nakas kecil tempat ia menyimpan barang – barang seperti biasa dan Hana hanya membuntutinya dari belakang,

Terlihat bahwa laki – laki itu berusaha keras untuk menarik gagang kecil nakas itu dengan sekuat tenaga, tapi kedua tangannya yang terluka tidak punya kekuatan untuk menarik nakas itu,

Hana menjulurkan tangannya dan membantu laki – laki itu menarik nakas kecil yang berada di depannya,

Tangan mereka bersentuhan dan mata laki – laki itu sedikit terperajat, biasanya Chanyeol tidak akan tinggal diam dan langsung membunuh siapa saja yang berani menyentuhnya, tapi kali ini tidak, ia sama sekali tidak takut, ia ingin moment yang berjalan selama 1 menit ini di perpanjang beberapa detik saja,

tidak.. aku tidak bisa..

aku tidak bisa membuka hatiku untuk siapapun…

aku…

mata itu.. pandangan itu..

“ ARG! ” Chanyeol memegang kepalanya,

“ tuan muda ada apa ? ” Hana bertanya

tiba – tiba mata Chanyeol yang tajam menatap Hana dalam, Chanyeol mendorong tubuh Hana dan mengunci tubuh wanita itu di dinding yang berada di belakangnya,

“ w-w-wae.. ” Hana terintimidasi dengan tatapan Chanyeol yang begitu dalam dan semenit kemudia pandangan Chanyeol berubah menjadi sayu dan tubuhnya melemas, ia terjatuh ke lantai dengan tangan menutup wajahnya, sedangkan detak jantung Hana masih berpacu dengan waktu,

apa itu ?

apa yang aku rasakan tadi ?

seperdetik pandangan itu membuat jantungku berdetak sangat cepat.

Setelah kejadian itu, dirinya maupun tuan mudanya tidak sama sekali bersentuhan atau berpandangannya atau lebih tepatnya tuan mudanya sama sekali menghindari tatapan Hana, terkadang Hana akan berusaha terus menerus berbicara pada tuan mudanya dan berharap ia bisa mendengar sebuah kata atau perkenalan di antara mereka,

Hana yang setiap hari harus melaporkan keadaan Tuan mudannya pada Suho mulai menerima berbagai nasihat mencekam,

“ Hana-sshi, aku harap kau mengerti bahwa pekerjaanmu ini sangat penting dan bukan untuk bersantai ”

“ maaf Tuan, tapi aku juga tidak bisa memaksa Tuan muda untuk berkomunikasi denganku secara langsung ” Hana menjawab,

“ bukankah kau seorang ahli psychologies ? Bagaimana mungkin kau tidak bisa sama sekali melakukan sesuatu pada pasienmu ? ” Suho terlihat frustasi,

“ tuan, aku harap tuan bisa tenang dulu, aku berusaha semampuku tapi  semua ini membutuhkan proses yang cukup panjang ” Hana menjawab,

Suho melepas nafas panjangnya dan meletakan kepalan tangannya di kepalanya, ia berharap tuan muda-nya bisa berkomunikasi walau sedikit, begitu banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan, begitu banyak perihal yang harus ia selesaikan dan keadaan ini sudah berlangsung cukup lama dan ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.

“ baiklah, aku harap kau bisa memberi berita bahagia secepatnya ” Suho mempersilahkan Hana untuk keluar dari ruangannya,

Seperti hari – hari sebelumnya, Hana kini sudah berada di dalam ruang tempat tuan mudanya menggambar,

Dengan hati – hati Hana kembali duduk tepat di sebelah kanan laki – laki itu, Ia hanya menyadarkan kepalanya kearah tembok, ia memandang layar ponselnya, sudah 1 minggu berlalu tanpa adanya kemajuan,

Jadi apa yang sebenarnya terjadi 5 hari lalu saat tuan mudanya membuatnya bingung dengan aksi brutalnya…

Apa benar ini adalah pekerjaan yang ia pilih ?, pekerjaan yang sepertinya bisa di kerjakan siapa saja dengan mudahnya dan langsung di pecat dalam waktu 1 bulan,

Hana menghempaskan nafas panjangnya,

“ Sepertinya sebentar lagi kau akan mendapat teman baru di sini ” Hana berbicara sendiri berharap laki – laki yang ada di sebelahnya mengerti tentang apa yang ia katakan,

“ Tuan Kim sepertinya tidak suka menunggu, lagi pula pekerjaan seperti ini bukan pekerjaan yang bisa kau petik hasilnya setelah 1 hari ” Hana kembali mengoceh sendiri dengan pikirannya,

“ aku melakukan yang terbaik dan aku tidak berbohong tentang keadaanmu, aku mengatakan sejujurnya pada tuan Kim, tapi sepertinya ia benar – benar kecewa ”

Hana melepas nafas panjangnya, ia benar – benar tidak bisa menahan rasa penat di kepalanya saat ini, ia harus mengeluarkan semua kata – kata yang lewat di otaknya saat ini,

“ Benar… aku juga akan kecewa jika aku yang mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membayar seseorang yang tidak berguna ”

Hana menundukan kepalanya, apa ia salah untuk mengambil pekerjaan ini, jika ia di pecat dari pekerjaan ini, tidak ada lagi tempat baginya untuk mencari uang dengan jumlah yang sama,

SOMEONE CALL THE DOCTOR..

Ponsel Hana berdering,

“yeoboseyo.. Jimin-aa ”

“ keude.. Noona akan membayar secepatnya, kirimkan saja nomor akunya, sepulang kerja Noona akan membayarnya ”

“ aniaa JImin-aa, kau harus terus melanjutkan sekolahmu ”

“ apa yang kau katakan, Noona punya pekerjaan yang layak ”

“ aku akan menelponmu lagi, jaga dirimu baik – baik Jimin-aa ”

itulah berita pertama yang Hana terima minggu ini dari adiknya, Jimin, adik Hana masih berada di sekolah tingkat atas dalam setahun ini Hana terus meminjam uang ke sana dan sini hanya untuk membayar uang sekolah adiknya dan uang bulanan yang selalu ia kirimkan untuk Jimin setiap awal bulan dan uang yang ia terima dari Tuan Kim sudah habis terpakai untuk membayar hutang – hutangnya yang terus bertambah hari ke hari,

tiba – tiba laki – laki itu memberikan sebuah kertas pada Hana yang berada tepat di sampingnya,

“ PARK CHANYEOL ” Hana membaca hurup capital yang tertulis di kertas putih itu,

“ apa itu namamu ? ” Hana bertanya,

laki – laki itu masih belum mau membuka suara, seperti berbicara pada sebauh tembok besar, Hana tidak mendapat jawaban apa – apa,

Walaupun demikian, ini adalah titik cerah bagi Hana yang sepertinya mulai putus asa,

“ apa aku bisa memanggilmu Chanyeol ?, ah.. tidak bisa.. aku harus memanggilmu tuan muda ” Hana menjawab,

Hana mengambil pensil dari tangan Chanyeol dan menulis namanya sendiri,

“ namaku Kim Hana, kau bisa memanggilku Hana ” kata Hana sambil memberikan kertas yang baru saja ia tulis,

Chanyeol menerima kertas itu dan pergi ke nakas kecil tempat ia menyimpan alat tulisnya, ia mengambil sebuah plester untuk menempelkan kertas itu ke salah satu dinding yang terlihat masih kosong,

“ apa kau menyukainya ? ” Hana bertanya saat ia berhasil menyamai langkahnya dengan laki – laki yang jauh lebih tinggi darinya itu,

Chanyeol hanya terus memandang tulisan tangan Hana dan dirinya di dinding besar dan putih itu,

“ kita bisa menggambar bersama jika kau mau ” Hana menawarkan,

tidak ada respon dari Chanyeol, laki – laki itu malah pergi meninggalkan Hana sendirian  dan beranjak ke tempat olah raganya seperti biasa,

“ ah… jam 11 ” hana berkata saat melihat Chanyeol keluar dari ruangannya dengan terburu – buru,

Hana mencari keberadaan Chanyeol yang tidak bisa ia temukan di mana – mana,

“ Tuan muda.. apa kau di sini ? ” Hana bertanya pada ruang kosong di depannya,

“ oo ? Hana-sshi, apa yang kau lakukan di sini ? ” terlihat Suho yang sepertinya sedang berolah raga,

tangan kekarnya membuah Hana tertegun sedikit, di balik jas hitam yang selalu ia kenakan, laki – laki itu benar – benar tampan,

“ apa.. anda melihat Tuan muda ? ” Hana bertanya saat ia tersadar dari lamunannya,

“ tidak, mungkin ia ke kamar mandi atau ke ruang makan untuk minum, kau bisa menunggunya di sini, sekarang adalah waktu untuk dirinya berolahraga ” Suho mendekatkan jarak antara dirinya dan Hana,

“ begitu ?, baiklah, terimakasih Tuan ”

“ tidak usah gugup, panggil saja aku Suho ” Suho kembali mengucap,

“ oh ? ”

“ sampai jumpa Hana-sshi, aku harus kembali bekerja ” Suho meninggalkan Hana sendirian di gym besar itu,

pintu gym tertutup meninggalkan Hana sendirian di ruang besar dengan alat – alat olah raga yang terlihat baru,

BRUG!

Tiba – tiba pintu masuk besar di belakang Hana terbuka lebar,

“ oo… Tuan muda, aku mencarimu ” Hana memandang Chanyeol yang berjalan masuk kedalam ruangan dengan keadaan marah,

Chanyeol hanya terus berjalan dan memasuki ruangan tanpa memandang Hana sedikitpun,

“ sepertinya moodnya berubah, apa ia baru saja menerima kabar buruk ? ” Hana bertanya – tanya pada dirinya sendiri,

seperti hari – hari sebelumnya laki – laki itu berolah raga dengan giat membuat tubuhnya terlihat lebih atletis setiap harinya, sesekali ia akan mengangkat undershirt yang ia gunakan memperlihatkan sixpac-nya yang membuat semua mata terperajat termasuk Hana,

“ apa rumah ini penuh dengan model ? semua orang punya tubuh indah dan wajah menawan ” Hana berfikir sendiri,

Melihat Chanyeol yang sepertinya akan menyelesaikan olah raganya, Hana berjalan kearah ruang makan, walaupun Hana tidak bisa makan siang bersama – sama dengan Chanyeol, tapi Hana selalu duduk di sebelah Chanyeol menunggu laki – laki itu untuk selesai makan siang,

Hana yang sedang menyantap makan siang di ruangan terpisah sambil melihat – lihat berita yang ada di social media terkejut dengan kedatang Chanyeol yang tiba – tiba,

“ tuan muda ” Hana berusaha untuk tidak mengeluarkan semua makanan yang ada di mulutnya saat berbicara,

Chanyeol hanya memandang Hana dengan mata tajamnya, ia terus memberikan sejuta pertanyaan pada wanita yang sepertinya begitu menikmati makanan yang di siapkan oleh para pelayan,

“ apa kau butuh sesuatu ? ” Hana bertanya pada Chanyeol dengan wajah bingung,

tiba – tiba Chanyeol memberikan sebungkus mie instan dengan gambar Jjajjangmyeon (noodle with soy saus) di depannya,

“ apa kau ingin aku memasak ini ? ” Hana bertanya,

Chanyeol tidak menjawab dan membuang pandangannya, ia hanya terus menggaruk rambutnya yang sepertinya tidak gatal,

Hana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah dapur dan mulai mencari panci kecil untuk memasak mie instan di tangannya,

Chanyeol berdiri di belakan Hana, memperhatikan setiap gerak – gerik wanita itu, dari jarak sedekat ini, matanya terus mengikuti pergerakan yang wanita itu buat, semuanya terlihat indah di mata laki – laki jangkung itu, kecerian wanita itu membuah sedikit bagian dari hati Chanyeol kembali hangat,

Walaupun Chanyeol belum bisa berkata apa – apa pada siapapun tapi ia sedikit berharap wanita ini tidak akan meninggalkannya begitu saja, apa ia harus membatu wanita itu dengan memberikannya kemudahan ?

Entahlah, di sisi lain, ia tidak ingin wanita ini di pecat hanya karena dirinya yang masih tidak mau membuka diri dan di sisi lain, ia tau bahwa jika ia membuka suara sekarang, maka peperangan akan benar – benar terjadi antara dirinya dan laki – laki yang menjadi musuh utamanya, ia tidak ingin menghancurkan semua misi yang sudah ia masak sematang mungkin,

“ Chachan… ” Hana memberikan semangkuk Mie instan di depan wajah Chanyeol,

Hana membawa mangkuk itu ke meja makan yang sudah menjadi tempat biasa untuk Chanyeol makan,

“ silahkan di nikmati ” Hana memberikan senyum manisnya,

Chanyeol menatap makanan yang ada di meja, beberapa mangkuk yang terlihat menjadi sajian untuknya dari para pelayan,

Chanyeol mendorong makanan yang di sajika pelayan kearah Hana,

“ ah terimakasih banyak, tapi aku sudah makan tadi ” Hana menolak tawaran Chanyeol,

Hana hanya terus memandang laki – laki yang sedang menyantap mie instant di depannya, Hana baru menyaradai bahwa laki – laki itu mempunyai alis yang cukup tebal dan bibir yang tipis, matanya begitu indah saat ia menatap seseorang, lesung pipitnya terbentuk saat ia tersenyum, telinganya cukup besar dan rambutnya tebal,

Andai saja Hana tidak takut untuk jatuh cinta, Hana pasti sudah jatuh cinta pada setiap laki – laki yang ia temui di rumah besar ini.

Minggu ke minggu kini menjadi lebih baik, setiap harinya Cheonyeol mulai terbuka sedikit – demi sedikit pada Hana yang mencoba mendekati Chanyeol dengan gambar – gambar yang ia gambar sendiri bersama Chanyeol, walalupun Hana sama sekali tidak bisa menggambar dan semua gambarnya terlihat hancur, tapi Chanyeol tidak pernah berkomentar sedikitpun,

“ Tuan muda, apa kau ingin aku menggambar sesuatu ? ” Hana bertanya

Chanyeol hanya menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri,

“ benarkah? Ah… aku akan menggambar bunga tulip untukmu ” Hana berkata dan mulai menggambar,

suara tawa tiba – tiba terdengar,

“ o ? apa kau tertawa ? ” Hana bertanya,

“ apa kau baru saja tertawa ” Hana bertanya untuk ke sekian kalinya,

Chanyeol hanya terus memasang wajah datarnya dan menutup wajahnya yang hampir memberikan senyumnya pada wanita itu,

“ tsk.. tidak terlalu buruk ” Hana menangkat gambarnya sendiri dan memuji karyanya sendiri,

kini Chanyeol menunjukan sedikit perasaanya pada Hana, apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, sedikit banyak Hana bisa mengerti,

lagi pula, di akhir cerita Hana hanyalah seorang wanita dengan latar belakang Psycologies yang di sewa keluarga Park untuk menjaga Tuan muda keluarga kaya itu dan mengembalikan keadaanya seperti semula,

di balik status itu, detakan jantung Hana terkadang tidak bisa ia kendalikan, saat mata Chanyeol menatap matanya dan saat Senyum manis yang jarang terlihat mengarah kearahnya, Jantung Hana akan berdetak tidak pada kecepatan normal,

Tapi Hana benar – benar takut jika perasaan yang ia rasakan benar – benar rasa suka,

Kenapa ?

Karena saat ini Hana hanya tau satu hal,

Jika kau bersedia untuk jatuh cinta, kau juga bersedia menanggung semua kesakitannya, keperihan, air matanya dan semua perasaan yang mungkin tidak bisa di gambarkan dengan kata – kata,

Sedangkan Hana belum siap untuk melakukan semua ini, ia masih tidak bisa menerima keadaan kelamnya sendiri,

“ Hana-sshi, kau benar – benar wanita yang hebat ” Suho membuka pembicaraan saat memberikan sebuah amplop coklat untuk Hana dan berhasil membuat Hana sedikit terperajat,

“ ini adalah gaji bulan keduamu, aku harap aku bisa mendengar kabar baik lagi darimu ” Suho memberikan hormat terakhirnya sebelum mengirim Hana pulang dengan mobil yang sudah terparkir di depan rumah Chanyeol seperti biasa,

Hana memberi senyum manisnya pada Suho dan masuk ke dalam mobil yang membawanya pulang hari ini,

Senyum tak pudar dari wajah Hana mengingat tingkah lucu Chanyeol yang terjadi di hari – hari kehidupannya bulan ini, semuanya lancar – lancar saja, tidak ada tanda – tanda bahwa Chanyeol adalah orang yang berbahaya bagi siapapun, tidak ada juga tanda – tanda bahwa laki – laki itu merencanankan rencana gila untuk dirinya dan orang – orang di sekitarnya, semuanya begitu aman dan damai,

Sepenggal suara tawa kadang terdengar dari bibir Hana saat mengingat Chanyeol selalu mengajak Hana untuk berkeliling taman luas di belakang rumahnya di sore hari, memandang bintang bersama – sama dan meminum beer kaleng yang Chanyeol inginkan dari peti pendingin dapur saat semua orang berada di ruang istirahat di malam hari setelah menelesaikan makan malamnya,

“ Tuan muda, apa yang kau lakukan ? ”

Chanyeol menutup mulut Hana dengan telapak tangannya dan kembali mengendap – denpa menuju Dapur,

“ tuan muda, sebenarnya apa yang kau inginkan ? ”

“ sstt ” Chanyeol hanya meletakan jadi telunjuknya di depan bibirnya menandakan bahwa Hana tidak boleh berbicara sedikitpun,

Chanyeol menggenggam tangan Hana pelan dan menyuruh Hana untuk mengikuti langkahnya,

Pelan – pelan mereka berdua memasuki dapur besar yang jarang Hana lihat, Chanyeol membuka pintu peti pendingin dengan hati – hati sedangkan Hana terus menahan diri untuk tidak bersuara dan terus menatap pintu ruang istirahat para pelayan, jika seseorang melihatnya di keadaan seperti ini, masalah besar akan menimpa dirinya dan hanya dirinya, walaupun sebenarnya ini adalah kemauan Chanyeol,

Chanyeol masih terus menggenggam tangan Hana dan mengambil dua kaleng beer dari peti pendingin dan memberikan satu pada Hana,

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan kini Chanyeol keluar dari ruangan secara pelan – pelan dan berjalan menuju ke kamarnya,

Jam menunjukan pukul 8 malam, langit pekat menyelimuti kota Seoul dan dari balkon kamar Chanyeol, angin dingin berhembus manis,

Chanyeol membuka satu kaleng beer di tangannya dan menyodorkannya pada Hana,

“ untukku ? ” Hana beratanya dan Chanyeol mengangguk pelan,

“ ah.. terimakasih ” Hana kembali berbicara,

“ kau benar – benar hebat, aku rasa meraka tau.. tidak mungkin Beer di rumah ini tidak pernah habis ” Hana kembali mengucap,

malam itu mereka habiskan dengan meminum sekaleng beer sambil menatap bintang terang.

Hari ke hari berjalan mulus, tak terasa sudah hampir 1 bulan Hana bekerja di rumah itu tanpa ada hari libur sedikitpun, tapi sepertinya Hana benar – benar tidak keberatan dengan keadaan itu,

Malah sebenarnya ia sedikit senang dan menantikan hari berganti untuk melakukan kegiatan baru dengan tuan mudanya,

Seperti biasa kini mereka berjalan kearah Taman belakang untuk berjalan – jalan dan menyiram bunga – bunga yang ada,

tiba – tiba Chanyeol menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang berjalan ke arahnya,

sekujur tubuh laki – laki itu bergetar, pupil matanya terasa terbakar

“ Tuan muda ? ” Hana bertanya melihat Chanyeol yang terpaku,

“ ada apa ? ” Hana kembali bertanya,

Hana muncul dari balik tubuh Chanyeol dan matanya juga ikut terbelalak,

Seorang laki – laki dengan rambut warna kunignya berjalan kearah Chanyeol juga Hana dengan penuh kepercayaan dirinya,

“ oo… Chanyeol-aa!! ” laki – laki itu menyapa Chanyeol,

“ o ? Hana-yaa ? bagaimana kau ada di sini” laki – laki itu juga ikut menyapa Hana,

– TBC-

13 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] To Love You More (Chapter 1)

  1. Wait ?? Itunpasti Luhan deh. Eh ko Luhan (sotoy lu vel 😅😅) ah kayanya dulu Luhan niou Hana deh. Oh ya iti Chanyeol udah nyiapin rencana buat perang sama musuhnya. Siapa musuhnya ? Luhan kah ?? Ahh entahlah banyak pertanyaan jadi bikin penasaran.
    Ok thor aku jatuh cintrong ama ff ini. Ditunggu next chapnya ya.. kalo boleh riquest fast update yah hehehe..
    Keep writing thor

  2. Waah lanjut lanjut ka, nggak sabar nih, penasaran sama laki laki berambut kuning itu. musuh utamanya chanyeol kah? Tapi kok bisa kenal sama hana ya?

  3. ???? siapa yg datang.. apa dia yg telah mmbuat chanyeol jadi sperti ini??? apa hana mengenal laki” itu???
    lanjut kak.. aq penasarn bangt

  4. wah,oh my god,knp tuh si ceye ky gitu,apa penyebab dan alasannya ya,trus tuh laki2 y dtng sva,wha…..penasaran banget nih authornim

  5. chanyeol mogok bicara aneh liatnya, tapi lucu juga. geregetan wkwkwk ditunggu chapter berikutnya ka… makasih 👏👏👏❤❤❤❤💪💪💪💪

  6. Rasanya gk kebayang klo ceye bneran gth, diakan petakilan bgt orgnya :V ah but aku suka karakter chanyeol ama hana uunncchh gth Wk.

  7. Akhirnya chanyeol memberikan respon pada hana. Siapa kah laki-laki yang menemui chanyeol, apakah itu luhan kalo memang luhan berarti luhan adalah musuh chanyeol. Uh makin buat penasaran aja nih kak sama ceritanya. Lanjut kakak dan Fighting terus

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s