[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 7)

Poster secret wife1.jpg

Tittle    : SECRET WIFE

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note    : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 7 (Searching Place)

“Kau sedang tidak bercanda kan Mr. Wu?”, tanya Junghae kembali memastikan. Entah sudah berapa kali dia bertanya seperti itu, dan jawaban dari orang yang berbicara lewat ponselnya selalu sama. Dia tidak pernah bercanda dengan ucapannya.

“Kau tahukan jika ini sudah memasuki bulan desember. Bahkan sekarang sudah tanggal 5. Dan kau hanya memberiku waktu 26 hari untuk mempersiapkannya. Kau pikir ini akan sesuai harapan?”, Junghae kembali melayangkan protesnya.

“Tidak ada yang tidak bisa kau lakukan Miss Alissa. Aku hanya punya waktu 3 hari, sehari sebelum sampai hari kedua di tahun baru. Aku akan membiayai semua kebutuhan untuk fashion show mu. Ayolah, bukankan ini sudah lama sejak kau mengenalkan desain barumu. Aku yakin sekarangpun kau sudah punya banyak desain baru. Dan ini akan menjadi fashion show pertamamu di Korea. Bukankan ini ide yang bagus?”, Mr. Wu kembali memohon pada Junghae.

Junghae yang kini tengah menikmati secangkir tehnya di taman belakang rumahnya terpaksa berdiri. “Ow, please Mr. Wu. I know, it’s a good idea. But, itu terlalu terburu-buru. Aku memang berencana mengadakan fashion show di Korea, for spring. Bukan tahun baru”, protes Junghae kembali. Dia kini bahkan berjalan kesana kemari saat membicarakannya tadi. Dia bahkan membuang nafas kesalnya. Ini pertama kalinya Mr. Wu bersi keras dengan pendapatnya, selama kurang lebih 5 tahun dia mengenal pria blasteran China-Amerika tersebut.

“Aku juga memohon padamu Miss Alissa. Untuk kali ini saja, setelah itu aku tak akan memaksamu lagi. Hanya ini satu-satunya alasanku agar bisa berkunjung ke Korea. Kau sudah tahu alasankukan, please”, pria itu kembali memohon.

Junghae hanya bisa membuang nafas beratnya. Ya, dia cukup mengenal pria itu. Pria yang selalu ingin pergi ke Korea, namun tak pernah mendapat izin orang tuanya. Dia bisa saja pergi tanpa harus berpamitan, tapi dia tak pernah melakukannya karena sangat menghargai orang tuanya. “Okay. Dengan syarat aku yang akan mengatur semuanya. Begin place, time, models, and other”, kata Junghae akhirnya menyerah.

Okay, deal. Call me if you have finish”, nada bicara pria itu terdengar senang.

Okay”.

See you Miss Alissa. Bye”, itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Mr. Wu sebelum memutuskan sambungannya.

“Hahh”, Junghae kembali membuang nafas beratnya. Dia memilih duduk kemudian, mengambil cangkirnya untuk meminum kembali tehnya.

Junghae berfikir sejenak, menimang sesuatu yang harus ia lakukan pertama kali. Sepertinya dia sudat tahu apa yang harus ia lakukan, karena dia terlihat mengutak-atik ponselnya mencari nomor ponsel seseorang. Dia menghubunginya setelah menemukan nomornya.

Hello, Mrs. Wilson. How are you? Can you help me?”.

***

“Ow, oppa. Kau ada dimana sekarang?”, tanya Junghae pada seseorang diseberang sana. Ya, Junghae yang duduk di mobil penumpang kini tengah menghubungi seseorang. Dia sengaja meminta Lee ahjussi untuk mengantarkannya, karena memang dia akan sibuk menelfon orang-orang yang akan membantunya.

“Baiklah aku akan segera kesana”, kata Junghae mengakhiri pembicaraannya. Dia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas cantiknya. “Antar aku ke Grand Blue Hotel ahjussi”, pinta Junghae pada supirnya.

Ye”.

Grand Blue Hotel adalah salah satu dari sekian banyak hotel mewah yang ada di Seoul. Hotel yang baru berdiri sekitar 5 tahun ini, mampu bersaing dengan hotel-hotel yang sudah cukup lama berdiri. Hotel yang didirikan oleh kakak kedua Junghae yang saat itu masih berada di bangku kuliah, itu memang benar-benar tidak bisa dipandang remeh. Selain desainnya yang indah, pemilihan lokasi yang strategis juga fasilitasnya yang lengkap mampu membuatnya menjadi salah satu hotel mewah di negara tersebut. Bahkan sekarang sudah mendirikan beberapa cabang di berbagai daerah di negara tersebut. Juga kabarnya akan membuka cabang di berbagai negara.

Setelah sekitar 15 menit menyusuri jalan kota Seoul yang cukup padat siang itu, Junghae sampai di tempat tujuannya. Setelah mengucapkan terima kasih pada supirnya, Junghae melangkahkan kakinya memasuki hotel. Dengan langkah hati-hati dia memasuki lift menuju ruang sang CEO. Junghae disambut ramah oleh sekretaris kakaknya sebelum masuk ke ruangan.

Junghae yang sudah memasuki ruang sang CEO berjalan mendekati meja dimana sang pemilik masih sibuk dengan berkas-berkasnya. “Oppa, kau sedang sibuk?”, tanya Junghae yang sudah berdiri di hadapan sang CEO.

Merasa dipanggil sang CEO menoleh. Dia tersenyum saat tahu siapa yang datng mengunjunginya. “Sedikit. Duduklah?”, kata CEO itu.

Sesuai perintah Junghae menarik kursi disebelahnya dan segera mendudukinya.

“Sebenarnya ada perlu apa sampai kau mengunjungiku kemari?”, namja itu kembali memberikan pertanyaan pada Junghae. Ini memang sedikit aneh, seharusnya Junghae dapat memberitahukannya di rumah tak perlu sampai repot mengunjunginya ke hotel.

“Sebenarnya, aku perlu sedikit bantuanmu oppa?”, jawab Junghae. Dia sedikit tak enak dengan kakaknya itu, ini jam sibuknya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera mendapat tempat untuk fashion shownya.

Mwonde?”, tanya namja itu kembali. Dia tahu jika adiknya merasa tak enak dengannya, terlihat jelas dari sikapnya. “Katakanlah!”, lanjut namja itu.

“Aku ingin mengadakan fashion show untuk tahun baru nanti, tapi aku belum mendapatkan tempat”, Junghae bahkan tak mengatakan secara langsung maksud kedatangannya.

“Jadi, pada intinya kau mau menyewa hotelku?”, jawab kakaknya yang mengerti maksud Junghae.

Junghae tersenyum hingga menampakkan giginya yang tersusun rapi nan putih itu.

“Astaga Junghae. Kenapa kau tak mengatakannya secara langsung”, kata kakaknya sedikit protes.

“Aku hanya merasa tak enak karena sudah mengganggumu oppa”, jelas Junghae.

“Tentu saja tidak sayang. Bagaimana mungkin aku akan mengabaikan permintaan adikku”. Jongin kemudian menekan tombol telfon di meja kerjanya. Dia menghubungi sekretarisnya. “Sekretaris Nam bisakah kau ke ruanganku sebentar, sekalian bawa daftar penyewa hotel kita bulan depan”. Setelahnya Jongin kembali menatap adiknya.

Gomawo oppa”, kata Junghae.

Tak lama setelahnya terdengar suara ketukan pintu tersebut. Lalu masuklah seorang gadis dengan map di tangannya. Dia berjalan mendekati mereka. “Ini data yang anda minta”, gadis itu memberikan mapanya pada Jongin.

Jongin segera menerimanya, dan memeriksa isi map tersebut. “Tanggal berapa kau akan mengadakannya?”, pertanyaan itu Jongin ajukan untuk adiknya.

“Tepat ketika malam tahun baru. Sekalian merayakan tahun baru”, jawab Junghae.

“Sepertinya tidak bisa sajangnim. Hari itu masih rentan waktu pameran. Anda ingatkan jika natal sampai tanggal 3 januari nanti, hotel kita terpilih sebagai tepat pameran budaya oleh Menteri Kebudayaan”, sela sang sekretaris.

“Ah, iya”, Jongin menghela nafasnya sebentar. “Maafkan aku sayang, aku tak mungkin membatalkannya kan?”, lanjutnya.

Junghae juga menggela nafas pasrahnya. “Mau bagaimana lagi. Bukankah janji di awal lebih penting”, kata Junghae pasrah. Usaha pertamanya gagal, mungkin memang dia harus mencari tempat lain.

“Sayang sekali, aku tak dapat memberikan tempat untuk fashion show pertama adikku di Korea”, Jongin menutup kembali mapnya dan memberikat map itu pada sekretarisnya. “Terima kasih sekretaris Nam, kau bisa kembali ke tempatmu”, perintah Jongin pada sekretarisnya.

Ye”, gadis itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan sang CEO.

Tepat setelah pintu ruangannya tertutup Jongin kembali melanjutkan obrolannya dengan Junghae. “Apa tak ada hari lain? Kau bisa mengadakan setelah pameran itu. Disini free seminggu setelahnya”, Jongin memberikan sarannya. Dia merasa tak enak tak dapat membatu adikknya.

“Tidak bisa oppa. Jika memang harus di undur, itu hanya hari kedua di tahun baru. Dia hanya punya waktu tiga hari, sehari sebelum tahun baru, sampai tanggal 2 januari”, Junghae kembali menjelaskan.

“Dia? Siapa maksudmu?”, tanya Jongin yang penasaran dengan kata dia yang tadi adiknya katakan.

“Dia yang selalu mensponsori fashion show ku lima tahun terakhir. Dia bahkan sering mengajakku berlibur di waktu senggangnya”, terlihat wajah berbinar Junghae saat menceritakannya.

Namja atau yeoja?”, Jongin kembali bertanya.

Namja”, jawab Junghae singkat.

“Pantas saja. Bilang saja kalau dia kekasihmu”, kata Jongin asal. Tapi bukan tnpa alasan dia mengatakannya, melihat bagaimana raut wajah adiknya yang terlihat senang saat menceritakannya.

Ne~”, kata Junghae sedikit kaget. “Bukan, dia bukan kekasihku? Dia hanya rekan kerja, oppa. Dan lagi dia sudah bertunangan. Dan aku berlibur dengannya juga bersama tunangannya”, jelas Junghae kemudian.

“Ah. Lalu siapa kekasihmu sebenarnya? Sehun kah?”.

“Kenapa semua orang menganggap aku berkencan dengan Oh Sehun”.

“Karena memang itu yang tertulis di sebuah artikel di internet. Dan kalian memang terlihat cocok”.

Jeongmalyo?”.

Jongin hanya mengagguk sebagai jawaban.

“Ah, molla”.

“Aku akan menganggap berita itu benar”.

Op~pa”, kata Junghae dengan nada protesnya.

Wae? Apa aku tak boleh tahu siapa kekasih dari adikku ini”.

Okay. Sebenarnya kami hanya berpura-pura berkencan”, jelas Junghae akhirnya.

Mwo?”, Jongin sedikit kaget mendengar pernyataan adiknya.

“Dia mencintai gadis lain, oppa”.

“Jungra maksudmu?”.

“Jadi oppa sudah tahu?”.

“Sejak dulu Sehun memang menyukai Jungra. Hanya saja Jungra yang terlalu bodoh tak menyadari perasaannya”.

“Ah, bukankah eonni memang seperti itu?”.

“Kakakmu memang seperti itu? Tapi bagaimana mungkin kau berpura-pura kencan dengannya? Sehun bukan tipe orang yang mudah dekat dengan seorang yeoja”.

“Bagaimana mungkin dia tak mudah dekat dengan seorang gadis, dia bahkan pandai merayu oppa. Dia itu sebelas dua belas dengan Baekhyun oppa”.

Mwo?”, Jongin tertawa mendengar penuturan adiknya. “Lalu mengapa kau menerimanya saat dia meminta menjadi kekasih pura-puranya?”.

“Entahlah! Aku hanya tak tega melihatnya memohon padaku. Dia bilang jika aku mau menjadi kekasih pura-puranya gadis yang selalu mengejarnya akan berhenti”.

“Dan itu terjadi?”.

“Emh. Gadis itu memang berhenti mengejarnya”.

Jongin mengangguk paham. “Ah, kenapa kita jadi membahas itu?”.

Oppa yang memulainya”.

“Kau benar, memang aku yang memulainya. Kau sudah makan siang?”.

Eopseo”.

“Kau mau makan siang denganku?”.

Okay”.

***

Mobil Lexus hitam itu meninggalkan Grand Blue hotel. Dengan kecepatan sedang mobil itu melaju dan bergabung dengan mobil-mobil di jalanan kota Seoul yang cukup padat siang itu. Ya, mobil itu adalah mobil yang membawa Junghae. Dia kini menuju hotel Baekhyun setelah makan siang dengan kakaknya. Tak butuh waktu lama mobil itu berhenti di halaman Zeus Hotel.

Gamshamnida ahjussi”, setelah mengucapkannya Junghae melangkah kakinya memasuki hotel tersebut. Dengan langkah anggunnya dia menuju tempat resepsionis. “Apakah aku bisa bertemu dengan tuan Byun?”, tanya Junghae ramah.

“Apakah anda sudah membuat janji?”, tanya salah seorang resepsionis perempuan.

Ne, tadi aku sudah menelfonnya”, jawab Junghae.

“Sebentar, saya akan bertanya pada sekretarisnya. Dan siapa nama anda?”, tanya resepsionis kembali.

“Kim Junghae imnida”, jawab Junghae singkat.

Resepsionis tersebut menekan beberapa nomor di telfon diatas mejanya. Terlihat dia tengah sibuk berbicara. “Ye, algeuseumnida”, kata resepsionis tersebut mengakhiri pembicaraan telfonnya. “Anda dapat langsung menuju ruangannya nona”.

Ne. Di lantai berapa ruangannya?”, tanya Junghae kembali.

“Di lantai 13”.

Gamshamnida”, Junghae menunduk hormat sebelum meninggalkan meja resepsionis.

Ye”, jawab resepsionis itu sambil membungkukkan badannya juga, dia bahkan tersenyum manis pada Junghae.

Dengan langkah hati-hati Junghae berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 13. Junghae menekan tombol sebelum memasuki lift. Sambil menunggu lift terbuka dia memainkan ponselnya. Dia mendapat pesan line dariSehun. ‘Alice, I Miss You. What are you doing?’, Junghae tersenyum saat membacanya. ‘Bagaimana dia bisa merindukanku, bahkan kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu’, pikir Junghae.

Tak lama setelahnya pintu lift tersebut terbuka. Junghae berjalan memasuki lift sambil terus memainkan ponselnya. Dia begitu asyik, hingga dia menabrak seseorang yang keluar dari lift tersebut, dan alhasil membuat ponselnya terjatuh sebelum dia menyelesaikan pesan yang akan ia balas untuk Sehun.

Jeoseonghamnida”, kata Junghae sambil membungkuk untuk mengambil ponselnya. Namun orang itu justru lebih dulu mengambil ponsel Junghae yang tergeletak manis di lantai.

Gwenchanayo?”, tanya namja yang Junghae tabrak, setelah mereka benar-benar berdiri.

Ne”, sesaat setelah mengakatan kata itu, pandangan mereka bertemu. “Oppa”, tanpa sadar Junghae mengucapkan kata tersebut.

“Ini”, namja itu memberikan ponsel kepada Junghae. “Kau benar-benar baik-baik saja kan?”, lanjutnya.

Ne, gamshamnida”, ucap Junghae sambil menerima ponselnya.

“Kau akan menemui Baekhyun?”, tanya namja itu kembali.

Ne, ada beberapa hal yang aku perlukan dengannya. Apa yang oppa lakukan disini?”, Junghae balik bertanya setelah ia menjawab pertanyaan namja tersebut.

“Aku juga baru menyelesaikan beberapa hal dengannya”, namja itu berkata sambil tersenyum, senyum khas yang akan selalu Junghae ingat.

Oppa sudah akan pergi?”, Junghae kembali bertanya.

Ne, aku ada meeting sebentar lagi”.

“Ah”, Junghae berkata sambil menganggukkan kepala karena paham.

“Aku pergi dulu”, kata namja itu kemudian.

Ne, hati-hati di jalan”.

Ne”, namja itu kembali tersenyum. Dia segera berlalu meninggalkan Junghae.

Junghae hanya termangu menatap kepergiannya. ‘Dia pasti benar-benar sibuk’, pikirnya. Dia membuang nafasnya sebentar sebelum memasuki lift. Junghae memasukan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Karena bertemu namja tadi, Junghae lupa dengan pesan line yang Sehun kirim.

Junghae tersenyum ramah pada sekretaris Baekhyun, saat dia telah sampai di depan ruang Baekhyun.

“Nona Junghae?”, tanya sekretaris tersebut.

Ne”, jawab Junghae singkat.

Sajangnim telah menunggu anda. Silahkan masuk?”.

Junghae segera membuka pintu kamar ruang tersebut. Dia melihat Baekhyun sibuk dengan berkas-berkasnya. Namun dia menoleh saat Junghae berjalan mendekatinya.

“Kau sudah datang”, katanya kemudian merapikan berkas-berkasnya.

“Apa aku mengganggumu oppa?”, tanya Junghae yang sedikit sungkan dengannya.

Aniyo. Duduklah”.

Junghae menuruti perintah sepupunya itu. Dia menarik kursi yang terletak di depan meja Baekhyun dan mendudukinya.

“Ah, coba kau datang sepuluh menit lebih awal. Kau pasti akan bertemu dengannya”, kata Bekhyun yang membuat Junghae tak paham.

“Maksud oppa”, tanya Junghae minta penjelasan.

“Dia belum lama keluar. Apa kau tak bertemu dengannya?”, Baekhyun kembali memberikan pertanyaan yang membuat Junghae bingung.

Junghae hanya terdiam dengan wajah bingungnya. Sangat lucu, hingga membuat Baekhyun ingin tertawa. Dia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Ya, itu semua karena ucapan Baekhyun yang memang tak Junghae mengerti.

“Chanyeol”, lanjut Bekhyun kemudian.

“Ah”, Junghae mengangguk paham mendengarnya. “Aku bertemu dengannya tadi”, lanjut Junghae.

“Ya, seharusnya begitu. Ini memang belum lama sejak dia keluar dari ini”.

Eoh, dia tampak sibuk”.

“Dia memang selalu sibuk”.

Nuguya?”, tanya seseorang dari arah lain.

Junghae segera menoleh ke asal suara. Terlihat kakak perempuannya yang berjalan ke arahnya. Dia datang dari arah kamar mandi. “Eonni, sejak kapan kau disini?”, tanya Junghae yang terheran dengan kehadirannya.

“Dia sudah ada sejak tadi Junghae, sekitar sejam yang lalu”, sahut Baekhyun.

Ye~”, kata Junghae dengan nada tak percayanya.

Eoh, dia benar. Ada beberapa hal yang aku perlukan dengannya”, Jungra menunjuk ke arah Bekhyun. “Siapa yang tadi kalian bicarakan?”, tanyanya kemudian. Dia mengambil kursi di sebelah Junghae.

“Kau mendengar semuanya?”, tanya Junghae.

Aniyo. Aku hanya mendengar Baekhyun mengatakan jika dia memang selalu sibuk”, jawab Jungra kembali.

Dan hal itu membuat Junghae bernafas lega. Setidaknya apa yang dia bicarakan dengan Baekhyun tadi tak membuat kakaknya curiga.

“Park Chanyeol”, jelas Baekhyun.

“Ah”, Jungra mengangguk paham. “Itu wajar saat dia sudah menjadi CEO bahkan sebelum dia lulus dari universitas”, lanjut Jungra kemudian.

“Ayahnya tiada saat dia berada di tahun kedua setelah masuk universitas. Dia menjadi penggantinya sejak saat itu. Dan itulah sebabnya mengapa dia tak pernah bisa menolak kinginan ibunya”, jelas Baekhyun yang seolah tahu apa yang Junghae fikirkan.

“Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?”, tanya Jungra kemudian.

Junghae bahkan lupa niat awalnya datang kesitu, jika Jungra tak menanyakannya. “Sebenarnya aku ingin menyewa tempat di Hotel mu oppa”, jelas Junghae pada Baekhyun.

“Kapan?”, tanya Baekhyun.

“Malam tahun baru”, jawab Junghae.

“Untuk apa?”, Jungra yang kini bertanya.

“Untuk fashion showku”, jawab Junghae.

“Kau terlambat sayang. Kakakmu baru saja menyewanya”, jelas Baekhyun.

“Lalu dimana lagi aku harus mendapatkannya? Aku sudah pergi ke tempat Jongin oppa, tapi disana juga sudah ada yang menyewa”, keluh Junghae. Dia tampak kecewa mendengarnya.

“Bukankah itu tinggal beberapa hari lagi, kenapa kamu baru mencari tempat?”, tanya Jungra yang heran.

“Jungra benar. Bagaimana mungkin kau baru mencari tempat, bukan ini terlalu mendesak”, Baekhyun kini ikut bertanya.

“Ya, ini memang terlalu mendesak. Sebenarnya aku tak berencana mengadakan fashion show untuk tahun baru, hanya saja ini permintaan salah satu klienku. Aku tak bisa menolaknya, karena memang kami sudah kenal lama”, jelas Junghae.

“Kau yakin bisa menyelesaikannya?”, tanya Jungra yang sedikit mengkhawatirkan adiknya.

Ne, aku hanya perlu tempat untuk mengadakannya”, jawab Junghae mantap.

“Sayang sekali aku tak dapat membantumu menyediakan tempat”, kata Bekhyun dengan nada menyesalnya.

“Apa kalian dapat memberitahuku tempat yang mungkin cocok untukku?”, pinta Junghae.

“Kenapa kau menyewa di tempat Chanyeol oppa. Hotelnya juga bagus”, saran Jungra.

“Chanyeol oppa!”, Junghae berfikir sejenak setelah mengatakannya. “Ah, kau benar eonni, kenapa aku tak memikirkannya”, Junghae tersenyum senang.

Kajja. Aku juga akan kesana”, ajak Jungra.

Ne, jawab Junghae pada Jungra. “Oppa, kami pergi dulu”, Junghae kini berkata untuk Baekhyun.

“Emh. Hati-hati”, jawab Baekhyun.

***

“Nona Jungra, apa anda ingin bertemu sajangnim?”, tanya sekretaris Chanyeol ramah.

Ne, apa dia ada?”, tanya Jungra.

Ne, silahkan masuk. Siapa yang bersama anda nona?”, namja itu kembali bertanya pada Jungra.

“Dia adikku”, Jungra kemudian berlalu meninggalkan namja itu. Junghae tersenyum pada namja itu dan berlalu menyusul kakaknya.

“Adik! Apa nona Jungra punya adik? Setahuku tidak? Entahlah! Tapi sepertinya wajahnya tak asing?”, namja itu berbicara sendiri setelah Jungra memasuki ruang kerja Chanyeol.

Ya, Junghae dan Jungra kini berada di hotel Chanyeol setelah kepergiannya dari tempat Baekhyun. Terlihat Chanyeol juga sibuk dengan berkas-berkasnya. Dia menoleh ketika pintu ruangannya tertutup. Dia tersenyum melihat mereka berdua datang.

“Kau sudah datang?”, tanya Chanyeol kemudian. “Kau bersama Junghae?”, tanya Chanyeol lagi ketika melihat Junghae.

Ne, dia ada perlu denganmu oppa”, jelas Jungra.

“Apa itu?”, tanya lagi. “Duduklah!”, lanjut Chanyeol.

Mereka segera mengambil kursi dan duduk. “Kau tak akan mengatakannya?”, tanya Jungra yang melihat Junghae masih terdiam.

“Ah, ne. Aku ingin meminjam tempat untuk fashion showku, semoga masih ada”, jelas Junghae.

“Kapan?”, tanya Chanyeol lagi.

“Malam tahun baru”, jawab Junghae.

Ne, berapa lama?”.

“Hanya hari itu saja”.

“Dia sudah pergi ke tempat Jongin dan juga Baekhyun, tapi dia tak mendapat tempat”, jelas Jungra.

Jinjayo?”, tanya Chanyeol.

Jungra hanya menjawab dengan anggukan.

“Jangan bilang disini juga penuh?”, tanya Junghae kembali.

Aniyo, tak ada yang menyewa untuk tahun baru. Kau bisa menggunakannya”, jelas Chanyeol.

“Ah, syukurlah. Aku tak tahu harus kemana lagi jika aku juga tak mendapatkan tempat disini”, Junghae dapat bernafas lega mendengarnya.

“Bukankah ini terlalu mendesak?”, tanya Chanyeol kembali.

“Ya, aku juga berfikir begitu. Dia bilang jika dia tak bisa mengecewakan kliennya”, sela Jungra. “Siapa sebenarnya klienmu itu sampai kau tak bisa menolak permintaannya?”, Jungra kini bertanya pada Junghae. Dia sedikit penasaran dengan klien Junghae.

“Kris Wu, namja blasteran China-Amerika. Namja baik hati yang selalu punya waktu untukku. Dan juga dia yang selalu mensponsori fashion showku lima tahun terakhir ini. Dia selalu ingin pergi ke Korea, namun tak pernah disetujui orang tuanya. Jadi dia memintaku mengadakan fashion show ini untuk memberinya alasan bisa datang kemari”, jelas Junghae. Dia bahkan terlihat bersemangat menceritakannya.

“Bilang saja kalau kau berkencan dengan”, sahut Jungra kemudian.

Aniyo. Kenapa aku harus berkencan dengannya?”, bantah Junghae.

“Bukankah tadi kau bilang jika dia baik hati. Dan kau juga sudah lama mengenalnya. Kau bahkan terlihat bersemangat saat mengatakannya”, jelas Jungra.

“Apa aku harus berkencan dengan semua namja yang baik hati? Baekhyun oppa juga sangat baik padaku, jadi apa aku juga harus berkencan dengannya?”, ucap Junghae lagi.

Yak, dia itu sepupumu. Mana ada orang yang berkencan dengan sepupunya sendiri”, Jungra kembali menanggapi ucapan Junghae. Mereka bahkan kini mengabaikan Chanyeol yang ada dihadapan mereka.

“Sehun oppa juga baik padaku, apa aku juga harus berkencan dengannya? Lalu Chanyeol oppa, jika dia baik terhadapku apa aku juga harus berkencan dengannya?”, Junghae kini melirik ke arah Chanyeol.

“Bukan begitu, aku hanya melihat kau terlalu bersemangat saat menceritakannya, jadi aku hanya menyimpulkannya”, jelas Jungra.

Aniyo, aku tak berkencan dengannya. Dia sudah bertunangan eonni. Dia bahkan akan menikan musim semi mendatang”.

“Jadi, apa kau ingin melihat tempatnya dulu atau tidak?”, sela Chanyeol, dia merasa diabaikan oleh mereka.

“Ah, aku jadi melupakannya. Ne, aku akan melihatnya dulu”, jawab Junghae. “Ini karena kau eonni. Aku jadi lupa dengan tujuanku datang kemari”, Junghae berkata pada kakaknya.

“Kenapa karena aku?”, tanya Jungra.

“Karena kau menanyakannya”, jawab Junghae.

“Aku akan panggilkan sekretaris Kim sebentar”, sela Chanyeol. Dia beralih ke telfon yang ada di mejanya. “Sekretaris Kim bisakah anda ke ruanganku sebentar?”, dia berkata setelah menekan tombol di telfonnya.

Tak lama setelahnya, datang namja yang tadi berbicara dengan Jungra sebelum mereka masuk ke ruangan Chanyeol. Namja itu membungkuk hormat. “Sajangnim memanggilku?”, tanya namja itu.

Ne, Junghae akan menyewa tempat untuk fashion shownya. Bisakah kau mengantar Junghae melihat tempatnya?”, pinta Chanyeol pada sekretarisnya.

Ne. Mari ikut saya nona”, jawab namja itu.

Mereka segera berlalu meninggalkan ruangan Chanyeol. Mereka menuju hallroom hotel itu. Junghae meneliti setiap inchi ruangan tersebut. Dia mengangguk senang jika melihat sesutau yang menurutnya indah. Dia bahkan menuju balkon ruang tersebut. Dia disuguhi pemandangn indah setelah menginjakkan kakinya disana.

“Apa kau menyukainya nona?”, tanya namja yang sedari tadi menemaninya.

Ne”, jawab Junghae singkat. Dia melihat ke bawah dari tempatnya berdiri. Dia begitu terpesona dengan halaman belakang hotel tersebut. Dengan rumput hijau yang terawat serta beberapa tanaman hias yang ditata sedemikian apik. Juga air mancur yang menjadi pusat taman tersebut. “Bisakah kita melihat kesana?”, Junghae menunjuk ke arah taman tersebut.

Ne. Mari”, ajak namja itu.

Mereka melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tersebut. Junghae terfikirkan ide, setelah melihat taman tersebut. Jika taman tersebut sesuai dengan apa yang ia inginkan, dia kan menjalankan idenya tersebut.

“Sepertinya wajah anda tak asing. Apa anda pernah kemari sebelumnya?”, tanya namja itu disela-sela perjalanannya.

Ne”, jawab Junghae singkat.

“Ah, aku ingat. Anda yang memberikan bekal makan siang waktu itukan?”.

Ne. Anda mengingatnya?”, jawab Junghae dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Sebenarnya apa hubungan kalian? Kalian tidak sedang berkencankan?”, tanya namja itu kembali yang membuat Junghae sedikit kaget.

Ye~”, Junghae bahkan tak bisa menjawabnya. Junghae hanya bisa menelan salivanya, dia tak tahu harus menjawab apa.

“Jangan bilang jika anda adalah istrinya!”, namja itu kembali bertanya.

Namun kalimat itu justru membuat Junghae semakin terkejut. Dia hanya bisa terdiam mendengarnya. Dia bahkan membulatkan matanya tak percaya.

Sajangnim bilang jika nama nada Junghae. Hah”, namja itu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. “Jadi benar anda istrinya!”, lanjutnya.

“Ssst”, Junghae mutup mulutnya dengan jari telunjuknya, yang mengisyaratkan menyuruh diam pada namja itu. “Bagaimana anda bisa tahu?”, tanya Junghae yang terheran.

“Tidak ada yang tidak aku ketahui darinya”.

“Itu wajar. Karena memang orang paling dekat dalam dunia bisnis pasti seorang sekretaris. Juga mereka yang bisa dipercaya dan juga diandalkan, serta selalu ada untuk kita”.

“Ya, itu juga salah satu tugas sekretaris”.

Setelah itu tak ada percakapan serius lagi diantara mereka. Hanya ada obrolan seputar  tentang tempat yang Junghae periksa bersama namja itu.

Perfect. Aku akan menyewa tempat ini”, kata Junghae mengakhiri kegiatannya meneliti tiap inchi tempat tersebut.

“Jadi nona akan mengadakannya disini, bukan di hallroom?”, tanya namja itu.

Ne. Aku selalu mengadakannya fashion show indoor, kali ini aku mengadakan outdoor. Tempat ini sangat sempurna, hanya perlu beberapa hiasan nantinya”.

Ne. Katakan apapun yang bisa kami bantu nantinya”.

“Tentu saja. Aku akan memerlukan bantuan kalian nantinya”.

Mereka memutuskan kembali ke ruang Chanyeol setelah cukup lama berkeliling. Junghae dipersilahkan masuh terlebih dulu, setelah namja itu membukakan pintu.

“Kau menyukainya?”, tanya Jungra langsung pada intinya.

Junghae mengangguk, “Perfect”, satu kata yang dia gunakan untuk menggambarkan tempat tersebut. “Aku akan segera membuat permintaan tertulisnya, oppa”, lanjut Junghae yang ditujukan pada Chanyeol.

“Apa itu diperlukan?”, tanya Chanyeol kemudian.

“Tentu, aku yang memerlukannya. Karena memang aku harus membawanya ke Amerika nanti, sebagai bukti yang akan kuberikan pada Mr. Wu”, jelas Junghae.

“Nona Junghae memilih taman belakang sebagai tempat untuk fashion shownya, sajangnim”, sela namja yang kini berdiri di dekat tempat Chanyeol duduk.

“Kau tidak menggunakan hallroom?”, Chanyeol kembali bertanya.

Aniyo. Kali ini dengan konsep outdoot”, jelas Junghae kemudian.

“Baiklah! Katakan apapun yang kau perlukan, kami akan membantunya”, kata Chanyeol.

“Tentu”, jawab Junghae singkat dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

“Kau sudah selesaikan. Kita harus segera pergi. Ada hal lain yang harus aku urus”, sela Jungra. Ya, Junghae memutuskan menumpang mobil kakaknya setelah dari hotel Baekhyun tadi. Karena memang kakaknya juga yang menawarkan diri mengantarnya.

Ne”, cukup singkat dan jelas ucapan Junghae. Mereka segera berdiri.

“Kami pamit dulu oppa”, kata Jungra.

“Ne, hati-hati di jalan”, jawab Chanyeol.

Mereka menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan itu, yang dibalas oleh Chanyeol dan juga sekretasisnya. Tepat setelah pintu tertutup, sekretaris Chanyeol membuka pembicaraan.

“Jadi dia orangnya, sajangnim?”.

Eoh. Bagaimana menurutmu?”, tanya Chanyeol yang pahan dengan arah pembicaraan sekretarisnya.

Yepeo, dan juga dia gadis yang menarik. Meskipun hanya sebentar mengorol dengannya, aku tahu jika dia gadis yang baik. Good”, kata namja itu dengan mengacungkan kedua ibu jarinya. Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya.

“Aku akan kembali ke tempatku”, namja itu berjalan keluar ruangan. Dia mengacungkan ibu jarinya kembali pada Chanyeol sebelum menutup pintu.

— TBC —

Annyeong semuanya. Chapter 7 is up. Wah, nggak nyangka sudah sampai chapter 7. Padahal kukira ini akan berakhir sampai chapter ini, berubung banyak peminatnya mungkin ini akan menjadi lebih panjang. Semoga tetep suka dengan ff abal-abal ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

Baca juga ffku yang berjudul PROMISE (약속), yang juga ku kirim ke blog ini.

20 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 7)

  1. Next…. Maaf banget loh thor. Dari awal chapter aku baru komen sekarang. Tapi dichapter2 selanjutnya aku bakal usahain untuk komen. Seribu maaf author yang ketjehhhh…. 😊😆😆😆

    • Iya, mereka memang cocok, sayangnya belum da waktu yang tepat buat ngunggkapin,..
      tapi sebenarnya jika mereka segera bilang ma ortu gak bakalan seru, jadi kapan-kapan saja ya bilangnya……
      Sekretarisnya mang orang yang paling deket ma Chanyeol, jadi dia gak bakalan bisa nyimpen rahasia dari tu orang…..

      sedang diusahakan tidak lama…
      Thanks ya…🙂

  2. suka bgt sama ff ini ♡♡♡
    ^_^ bakal kutungguin nih… next ya.
    klo bisa jgn lama2.

    thor….
    klo aq pikir jangan diungkapin sekarang deh,
    mungkin lebih seru klo dibuat sweet momentnya chanyeol-junghae secara umpet2an…. lgi seru2nya nih. kalo diungkapin sekarang ntar rasa penasarannya hilang (gk penasaran lgi). – itu saran aq. boleh diambil, boleh juga nggak. hehe😉

    fighting!!! keep writing.

    • terima kasih sudah menyukainya…
      sedang diusahakan tidak lama….
      tapi gak bisa janji, soalnya sedang banyak tugas kuliah…..

      rencana memang terungkap nanti, dan memang benar gak bakalan seru jika langsung terungkap….
      terima kasih sarannya…..
      fighthing!!!!…🙂

    • Nanti saja ya terungkapnya…
      Bukan Kim Minseok, kan itu sekretarisnya Kim Jongdae, dianya lagi wajib militer makanya Junghae yang gantiin posisinya…
      untuk namanya aku belum mikirin, nanti tak carikan sebuah nama yang pas untuk sekretarisnya Chanyeol….
      Thanks ya…🙂

  3. cepet terungkap dong rahasia chanyeol sama junghae, cocok banget mereka berdua. gak sabar ngeliat mereka jalan terang-terangan. ditunggu cerita berikutmya ka ❤❤❤❤👏👏👏👏💪💪💪💪💪

  4. gimana kabar perasaan chanyeol stlh denger cerita junghae ttg kris wu…wahh panas pasti…
    trnyta skretaris chanyeol udh tau…woahhhh cepet” deh chan blng ke eomma mu ttg junghae sblm sehun bner” suka sama junghae
    ngomong” sehun kok blng kangennya ke junghae, klo dia suka sma jungra setidaknya ngomongin ttg jungra dong…ahhh molla hun
    kkk…..

    • butuh air setelah mendengarnya, buat mendinginkan hati, hihihi…
      ya, dia memang paling gak bisa nyembunyiin rahasia ma satu orang tu…
      Sehun emang suka ma Jungra, cuman gak pernah ditanggapi serius dianya….
      dan anggap saja Junghae penyembuh hatinya selama dia di Amerika, karena memang mereka sangatlah dekat…
      Thanks ya…🙂

    • iya, orang pertama yang tahu tentang bosnya pastilah sekretarisnya…
      itu seperti teman deket gitu… hahaha…
      thanks ya…🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s