[EXOFFI FREELANCE] MOONLIGHT (Chapter 1)

photogrid_1467265427151

Title        : Monnlight

Author    : tianisheaven

Length        : Chapter

Genre        : AU, Friendship, Soft Romance

Cast        : EXO’s Chanyeol, OC’s Anna Jung, and EXO member and other OC

Disclaimer    : also publishing in wattpad

Ia Anna Jung. Sepupu dari Jung Seoyeong atau Jessica Jung, member Girls Generation. Dan Jung Soojung yang umurnya hanya terpaut beberapa bulan dibawahnya.

Berbeda dengan kedua sepupunya yang memiliki wajah khas Asia. Ia memiliki rambut dan mata yang berbeda. Rambutnya kecoklatan alami, dan bola mata berwarna biru laut.

Ia berbakat. Dance, acting, modelling, vocal, dan piano. Juga orang yang fleksibel. Cepat akrab dengan para senior dan sesama traine lainnya. Ia memulai masa trainenya saat masih berumur 10 tahun. Debut pertamanya sebagai model majalah anak-anak.

Hanya sementara, dua tahun ia menjalani masa trainenya. Lalu ia kembali ke California dan sekolah disana. Orang tuanya menentang dunia enterntainer. Meski keluarganya yang lain mendukung jalannya karena buktinya, toh Jessica berhasil. Tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Menyebalkan.

Setelah ia pindah, ia mendapat kabar sepupunya Soojung juga menjadi traine disana. Dan setelah itu, tak lama ia mendengar kabar lagi Soojung sudah akan debut. Wah, waktu berjalan begitu cepat. Soojung boleh, Soojung bisa, Soojung akhirnya debut, dan ia tidak. Menyebalkan. Bukannya iri bagaimana, tapi ia muak dikekang orang tuanya. Dan mulai saat itu, ia menjadi pemberontak.

.:.

2012

Dunia KPOP memang selalu berulah, begitulah pendapat Anna. Terlalu banyak group yang didebutkan. Ntah mereka berbakat atau tidak, mereka berlomba-lomba menjadi yang tebraik. Cih.

California, AS

Anna bersama teman-temannya bersenang-senang entah dimana. Kedua orang tuanya sudah cemas menunggu dirumah sejak jam 11 malam ia belum juga pulang.

Hampir jam 12 tengah malam. Anna pulang dan melenggang masuk kerumahnya tanpa peduli keberadaan kedua orang tuanya yang menunggunya sedari tadi diruang tamu.

Anna stop there.” Seru ayahnya menahan amarah. Ibunya hanya mengelus lengan sang suami agar bisa bersabar menahan amarah.

Anna berhenti, mengendikkan bahu dan berbalik dengan wajah tanpa dosanya menunggu alasan mengapa ia disuruh berhenti.

“Anna, ini hampir jam 12 malam. Itu diluar batas waktu keluar malam. Jika kau terus-terusan—”

Belum selesai ibunya berbicara, Anna memotong. “apa?” lagi, dengan wajah tanpa dosanya. “ah, ayolah. Aku hanya bersenang-senang dengan teman-temanku. Bukannya itu hal normal yang dilakukan remaja jaman sekarang? Dari pada menjadi-entertainer-yang-nantinya-juga-akan-menimbulkan-masalah-atau-jadwal-tak-kenal-lelah.” Ujar lancar lalu mendengus geli setelahnya. Well, ini bukan pertama kali.

Ibunya memejamkan mata menahan amarah. Ini bukan pertama kali, okay. “Anna, tapi jam 12 itu tengah malam. Kau tau itu. Bisakah kau mendengar jika ada yang dikatakan orang tuamu?”

Cih, Anna paling tidak suka bagian ini. “mendengar? Lalu kenapa aku bisa ada disini jika bukan karena mendengarkan perintah kalian? Berhenti menjadi trainer dan pindah kesini, okay? Dan cukup sampai disana. Aku tidak mau dikekang!” seru Anna nyaris histeris lalu kembali keluar dari rumah.

Ayahnya membuang nafas kasar sedangkan ibunya nyaris menangis. “seharusnya kita biarkan ia tetap didunianya. Lagi pula kekampuannya memang disana. Itu lebih baik dari pada tinggal disini menjadi liar dan membuang-buang bakatnya.” Lirih ibunya.

.

Satu-satunya tempat yang bisa dijangkau dan memungkinkan Anna untuk mengungsi sebentar adalah rumah temannya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mereka tidak terlalu dekat tapi cukup berteman sejak lama. Rumah Jane selalu terbuka untuk siapapun.

Jane dengan senang membuka pintu lebar-lebar mengetahui siapa yang datang, “masuklah, aku senang ada teman untuk menemaniku.” Ujarnya ramah.

Mereka menuju kamar Jane yang berada dilantai dua. Kamar yang cukup luas tapi percayalah, rasanya sama saja dengan kamar sempit. Bagaimana tidak? Ranjang, lemari, dan meja belajar anggap normal saja, hanya yang menjadi masalah adalah dinding yang dipenuhi poster-poster boyband Korea, banyak sekali K-Stuff dan semacamnya, belum lagi poster terbesar yang terlihat seperti spanduk yang menampilkan 12 lelaki dengan wajah yang nyaris sulit dibedakan satu sama lain.

Jane langsung duduk menghadap laptopnya yang entah sedang menampilkan apa. “Anna come here.” Panggilnya riang.

Anna masih melongo memperhatikan kamar sumpek Jane dan sadar ketika Jane memanggilnya. “kamarmu… Ugh, kau menyebut ini kamar?” tanya Anna masih tak percaya.

Jane hanya tersenyum. Terbiasa. “ada kasur, lemari, meja belajar, jendela, pintu. Well, ini masih tergolong kamar, you know.” Ia memberi space agar Anna bisa duduk disebelahnya dan Anna duduk dengan baik walau masih melongo—Jane mengabaikannya karena terbiasa. “lebih baik kau ikut menonton denganku, MAMA 2012! Aku tidak bisa melewatkan ini. dan mungkin, kau juga akan suka!” serinya antusias.

Anna baru duduk beberapa detik ketika nama Girls Generation disebutkan menang entah dalam kategori apa. Hatinya kembali panas melihat 9 gadis tersebut. Matanya memicing tak suka, Jessica. Mungkin dulu ia sangat menyukai dan mengagumi sosok kakaknya tersebut. Orang yang dulu mendukungnya dijalan yang sama. Tapi tidak sekarang. Ia membenci semua yang bersangkutan dengan dunia KPOP, peridolan, dance, menyanyi, segalanya, termasuk Jessica member Girls Generation itu.

Anna langsung bangkit menuju kasur dan merebahkan dirinya disana. “aku numpang tidur disini. Aku lelah dan malas pulang kerumah.” Ia memejamkan matanya setelah mendapat gumaman ‘ya’, ‘terserah’, atau apalah tanda persetujuan dari temannya yang sibuk dengan tontonannya itu.

.:.

Anna dan teman-temannya masih asyik mengobrol dalam sebuah café. Mereka duduk disamping kaca lebar yang langsung memaparkan jalanan diluar sana. Mungkin ini pagi yang cerah. Masyarakat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Suasana begitu baik melingkupi Anna dan teman-temannya yang mengobrol ria saat truk itu menghantam café secara tiba-tiba. Tidak ada yang menyadari sampai kaca itu pecah dan truk tersebut telah berhenti setelah setengah badan truk itu berhasil masuk ke café. Sebagian pengunjung berhasil melarikan diri, beberapa masih tercekam melihat kejadian naas tersebut, terlebih lagi beberapa gadis remaja yang tidak sempat melarikan diri.

.:.

“ia akan baik-baik saja, lukanya yang lain juga tidak begitu buruk. Tapi akan berat baginya, dengan kondisinya yang sekarang ini. Maaf karena tidak bisa berbuat banyak. Saya permisi Mr. Jung, Mrs. Jung.” Ujar dokter tersebut sebelum melenggang pergi.

Kedua pasangan suami-istri tersebut sama-sama cemas. Tidak mungkin ini akan baik-baik saja. Tapi, apapun, apapun akan mereka lakukan demi membuatnya kembali baik.

.

Tidak ada lagi impian, hobby, bakat dan semacamnya. Hobby dan bakatnya dulu ditentang dan sekarang, meski dibiarkan, bakatnya itu memang ada untuk disia-siakan.

Kegelapan semakin merengkuhnya kuat kedalam keabadian. Semuanya hitam, gelap. Ia…buta. Tidak tertolong, karena syarafnya yang bermasalah. Hebat bukan?

.:.

2016

California, AS

“sayang, ini minumanmu. Mom membuat jus jeruk kesukaanmu tadi.” tidak ada jawaban. Gadis itu hanya duduk termenung dengan tatapan kosong, persis seperti patung. Ibunya menghela nafas sejenak.

eom-ma…” lirih gadis tersebut tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun, wajahnya juga masih sama datarnya.

Ibunya berbalik, masih bersyukur anaknya masih mau menyahutinya, apalagi dengan panggilan lama itu. “hm? Kau mau apa sayang? Eomma bantu. Atau kau mau sesuatu? Eomma akan berikan.”

Jeda sejenak. “aku…mau pulang.” Ada jeda lagi setelahnya. Pulang? Yah. Mereka memang berada ditempat rehabilitasi karena kakinya belum sembuh betul, bukan dirumah apalagi rumah sakit. Tapi sebelum ibunya membuka suara bahwa ia akan pulang sesuai keinginanya, ia menambahkan. “Seoul.”

.:.

Kasak-kusuk dan ribut tidak lepas dari tempat ramai tersebut. Gadis itu hanya mematung, menggenggam tongkatnya erat-erat.

“Anna sayang, ayo.” Lalu sebuah rangkulan menuntunnya memasuki pesawat. Pesawat yang akan membawanya pulang…ke Seoul.

.:.

Incheon Airpot, South Korea

eomma…kita langsung kerumah.” Tuturnya. Jangan salah paham dengan wajah datar minim ekspresinya, tatapan kosongnya dan tutur kata seadanya. Sejak tragedy 4 tahun lalu yang merenggut pengelihatannya, semuanya semakin merubahnya menjadi sedemikian rupa. Bahkan masih baru-baru ini ia bisa berjalan dengan cukup baik.

Dulu impiannya, dan sekarang pengelihatannya. Memang tidak ada harapan.

.

“nah, Anna pelan-pelan.” Ibunya kini menuntun Anna masuk kerumah. Rumah yang sama yang pernah mereka tinggali kira-kira 12 tahun yang lalu.

“nyonya, kamarnya sudah saya siapkan.” Lapor seorang wanita paruh baya yang terlihat jauh lebih tua dari ibu Anna. Ia tersenyum lantas membantu membawa barang-barang Anna dan ibunya masuk kerumah.

Anna didudukkan ibunya disofa ruang tengah. Setelah memastikan semuanya sudah siap, ibu Anna dan kembali duduk disebelah Anna. “Anna, jika kau butuh bantuan, panggil eomma atau Kim ajumma. Ia yang akan membantu keperluan kita disini. Dan, kamarmu, ruang tempatmu main piano dulu eomma jadikan kamarmu yang sekarang.” Kening Anna mengerut mendengarnya. “eomma tidak mau mengambil resiko kau naik turun tangga karena kamar lamamu berada dilantai dua. Dan, dengan begitu kau juga akan lebih mudah menjangkau eomma karena kamar kita tidak berjauhan lagi.” jelas ibu Anna.

“aku tidak mau. Aku mau kamar lamaku.” Ketus Anna. “aku benci ruang piano itu.” tambahnya.

Yah, rumah lama itu bertingkat dua. Lantai pertama memiliki tiga ruangan, satu kamar orang tua Anna, ruang tempat Anna selalu main piano dulu, dan ruang kerja. Sedangkan lantai dua memiliki dua ruangan, kamar lama Anna dan gudang.

Ibu Anna sedikit ragu, tapi mau bagaimana lagi? “A-Anna sayang, tapi kamarmu sudah disiapkan sebelumnya, dan pianonya…pianonya sudah dipindahkan kekamar lamamu.” Jelas ibu Anna.

.

Malamnya, Anna hanya duduk termenung dihadapan TV yang entah sedang menyayangkan apa. Ibunya pergi menyusul ayahnya yang mengurus kepindahan kerja diperusahaan cabang.

Kim ajumma datang membawa jjajjamyeon kehadapan Anna. “nona Anna, ini jjajjamyeon yang kau pesan tadi.” Kim ajumma lalu memosisikan jjajjamyeon tersebut dipangkuan Anna serta sumpit ditangan kanan Anna.

.

Sudah larut. Gadis itu baru saja selesai bekerja dan pulang.

Ada yang aneh.

Gadis tersebut melihat petugas delivery? Atau apalah, mengantar sesuatu…kerumah yang berada tepat disamping rumahnya. Oh, tunggu. Bukankah rumah itu kosong? Gadis itu sudah penasaran lantas ia melangkah kerumah tersebut dan menghampiri pengantar makanan tadi.

“permisi…” sapanya. “anda, baru saja mengantar makanan kerumah itu?” tanya gadis tersebut menunjuk kearah rumah yang berada tepat disamping rumahnya tersebut.

ne.

“ada orang disana?”

ne.

eoh…” gadis itu melirik lagi rumah tersebut. “ah, kalau begitu terimakasih.” Ucapnya membungkuk dan membiarkan orang tadi kembali ketugasnya.

Aneh. Lantas gadis tersebut masuk kerumahnya sendiri.

eomma!” panggilnya sesampainya diruang keluarga tempat dimana ibunya berada. “eomma ada yang tinggal dirumah sebelah? Rumah Yena?” tanyanya to the point.

“yah, kemarin-kemarin eomma liat memang banyak pengantar barang, jadi mungkin memang ada meninggali rumah itu. Memangnya kenapa?”

Gadis itu terkesiap sejenak. “ah, itu, aku tidak sengaja melihat pengantar makan dari sana.”

.:.

eomma aku pergi.” Sahut gadis tersebut setelah menyelesaikan sarapannya.

Baru hendak beranjak, ibunya sudah menghampiri dengan kotak makanan. “ini, bawakan ketetangga baru kita.”

Gadis itu mengangkat sebelah alis, “yeah, aku pergi.” Jawabnya lalu mengambil kotak makanan tersebut dan pergi.

.

Anna tengah duduk dihadapan TV yang menyala. Tangannya aktif mengaduk-aduk susu cokelat yang sudah tak hangat. Ayah dan ibunya masih sibuk mengurus kepindahan tempat kerja dan Kim ajumma—pembantu atau pengurus rumah—tengah membersihkan dilantai dua.

Ting tong…

“…”

Anna masih pada aktivitas awalnya dan mengabaikan bel rumah yang berbunyi.

Ting tong…

“…”

Ting tong…

“…”

Selang beberapa detik, Anna membuang nafas kasar. “apasih yang dikerja ajumma itu?” gerutunya. Ia meletakkan susu cokelatnya yang sudah dingin di meja yang memang berada dihadapannya lantas berjalan dengan hati-hati membuka pintu.

“ah…annyeonghaseyo.” Sapa seorang gadis pelaku pemencetan bel rumah Anna.

Yeah, taulah bagaimana Anna. Wajahnya masih sama datarnya dan tatapannya lurus-lurus kedepan membuat gadis tersebut sedikit tidak nyaman. “ne, ada yang bisa saya bantu?” tanya Anna dingin.

eum, aku tetanggamu, dirumah sebelah. Aku membawakan ini untukmu.” jelasnya sambil memperlihatkan kotak makanan yang sedari tadi ia tenteng.

Kening Anna mengerut. “rumah sebelah?” gadis tadi terlihat mengangkat alisnya sebelah. “yoora…eh…” gumamnya sendiri.

“aku Yoora, Park Yoora. Kau…” gadis tadi—Yoora—menelisik setiap lekuk wajah Anna. “Yena?”

Anna sedikit terkesiap, auranya yang memang dingin dari awal semakin terasa menguat. “aku Anna Jung.” Sahutnya membenarkan lantas ia berbalik untuk masuk kembali.

Yoora kaget dengan Anna yang tiba-tiba masuk. “tu-tunggu. Ini!” well, ia belum menyerahkan titipan ibunya dan Anna sudah main pergi saja.

“Kim ajumma! Ada tamu!” teriaknya tanpa berbalik kembali ke Yoora sedikitpun.

Yoora sedikit tertegun. Sikap Anna benar-benar tidak sopan. Lantas seorang wanita paruh baya—Kim ajumma—yang tadi diteriaki Anna datang menghampiri Yoora dengan tergopoh-gopoh.

ne, maaf menyusahkan. Dan, juga sikap nona Anna.” Ujar Kim ajumma ramah dengan seulas senyum lebar.

ne, tidak apa-apa.” Yoora balas tersenyum lantas memberikan titipan ibunya kepada Kim ajumma. “Ini. eommaku menyuruh membawakan ini.”

Kim ajumma menerimanya, “ne kamsahamnida, mau mampir dulu? Saya buatkan minuman.” Tawarnya ramah.

Yoora tersenyum, “tidak usah, saya harus pergi bekerja.”

.:.

Ditempat lain, gerombolan pemuda terlihat mengemas barang-barang mereka.

“tidak berniat kemana-mana?” tanya pria jangkung tersebut yang sudah hendak keluar bersama seseorang disampingnya.

Pria yang tadinya menonton sambil minum itu mendongak. “besok. Aku masih lelah hyung. Kalian?”

“pulang, kerumah. Aku hanya rindu keluarga.” Jawabnya dilanjutkan kekehan.

Lalu mereka berpisah.

.:.

TBC

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s