Beauty and The Beast Chapter 10 – HyeKim

 

beautyandthebeast1

Beauty and The Beast Chapter 10

└ Do I Love Him?┘

 A fanfiction Written by HyeKim ©2016

 

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || V BTS as Kim Taehyung || Nara Hello Venus as Kwon Nara

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


 “Kau resmi jatuh cinta pada orang itu,”


REVIOUS :

Teaser ||  Chapter 1 [Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marriage?!] || Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] || Chapter 4 [Honeymoon Bab II] || Chapter 5 [It’s Not A Marriage] || Chapter 6 [She Is (not) My Wife] || Chapter 7 [The Beast’s Past Love Story] ||Chapter 8 [Like Beauty And The Beast]  || Chapter 9 [He is Really a Monster]|| (NOW) Chapter 10  [Do I Love Him?]

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Gorden yang sedikit tersibak mengakibatkan sinar mentari yang mulai muncul ke permukaan masuk ke dalam kamar dan dengan nakalnya mengusik Kim Hyerim dari tidur nyenyaknya. Mata gadis itu perlahan terbuka dan menyipit seketika. Kedua matanya menatap celah yang membiarkan sinar nakal yang mengganggu tidurnya. Dengan langkah perlahan, Hyerim mendudukan diri di atas ranjang dan memegang samping kepalanya yang entah kenapa terasa sangat pening.

“Agh! Padahal aku tidak minum alkohol tadi malam, kenapa kepalaku jadi pusing begini?” erang Hyerim lalu matanya menelisik tempat yang ia tiduri.

Sebuah selimut tebal berwarna putih membaluti tubuhnya yang terduduk di ranjang. Tunggu, ranjang? Dengan cepat Hyerim menolehkan kepala ke samping, mulutnya langsung terbuka lebar mendapati Luhan tertidur memunggungi tempatnya, tepat di sebelahnya. Jadi selama semalaman, Hyerim tertidur satu ranjang dengan lelaki itu. Memikirkannya membuat Hyerim menghela napas dan menggigit bibir bawah sebentar, padahal bukan kali pertama keduanya tidur di ranjang yang sama.

“Bagaimana bisa aku tertidur di sini? Bersama makhluk ini pula?” ujar Hyerim sambil memandang Luhan dengan tatapan penuh bencinya.

Ketika Hyerim hendak turun, sisi ranjang di sebelahnya bergoyang menandakan Luhan terbangun dan mulai bergerak. Kepala Hyerim tertoleh kembali memperhatikan Luhan yang sudah bangun dan mengacak-acak rambutnya, penampilan lelaki itu yang baru bangun tidur mengakibatkan Hyerim membuka mulut memperhatikannya. Lalu Luhan pun menatapnya dengan mata setengah terpejam dan rambut acak-acakan menggoda.

“Kenapa? Baru menyadari mempunyai suami setampan aku?” ujar Luhan dengan tatapan menggoda Hyerim dan lantas gadis itu langsung salah tingkah serta melayangkan pandang ke arah lain.

“Kenapa aku bisa ada di ranjang? Kamu tidak melakukan apa-apa kan padaku?” Hyerim langsung membuka halu pembicaraan yang lain sambil sesekali melirik Luhan.

Dirasakan kembali ranjang di sebelahnya bergoyang, Hyerim pun kembali melirik Luhan di sebelahnya dan sialannya ketika Hyerim menengokan kepala, wajah Luhan sudah berjarak beberapa senti didepan wajahnya. Napas lelaki itu berhembus beberapa jengkal diwajahnya, Hyerim jadi merinding dan sedikit menjauhkan wajah apalagi Luhan menatapnya lekat dengan jarak yang dekat ini.

“Aku memang tadinya mengharapkan terjadi sesuatu pada kita berdua tadi malam,” bisik Luhan sensual membuat Hyerim merinding dan mendesiskan kata ‘mesum’ dengan jengkelnya. Namun Luhan malah menarik ujung bibirnya melihatkan senyum miring tatkala mendengar kata tersebut dari bibir Hyerim. “Aku benar-benar ingin melakukannya langsung ketika kamu dengan konyolnya berjalan sambil tidur dan tidur di ranjang bersamaku.”

Mata Hyerim melebar mendengar penuturan Luhan. Berjalan sambil tidur? Yang benar dirinya seperti itu? Sungguh konyol sekali. Dengan salah tingkah karena malu atas ucapan Luhan, Hyerim mengangkat sedikit lalu menurunkan dagunya dengan gerakan canggung.

“Aku tidak berjalan sambil tidur,” elak Hyerim penuh akan rasa malu, Luhan hanya menyipitkan matanya sambil mengangguk-angguk dan bergumam pelan. “Aku mana mungkin─”

‘Cup’

Luhan mendekatkan wajahnya yang sejengkal dari Hyerim, mengakibatkan bibir keduanya bersentuhan hingga perkataan Hyerim terhenti, gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali dengan raut wajah tanpa ekspresi sangking terkejutnya. Namun Luhan hanya menatapnya santai.

“Apa yang kamu laku─”

‘Cup’

Sialan. Luhan kembali mengecup bibirnya dengan manis. Setelah melakukannya, Luhan hanya menampilkan senyum tanpa dosanya yang sangat sekali ingin Hyerim tampar. Hyerim melayangkan tatapan bengis tapi Luhan hanya memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan air wajah polosnya.

“Suami-istri biasanya memberikan morning kiss. Terimakasih atas morning kissnya, sayang.” kata Luhan dengan wajah gemas sambil mencubit pipi kanan Hyerim dan akibatnya gadis itu jadi merintih atas cubitannya. “Aku ingin mandi. Tunggu di sini dengan manis, bila tidak mau mandi bersama. Kalau mandi bersama juga tidak apa-apa, aku bisa memandikanmu.” Luhan berkata dengan senyum sok polosnya dan nada menggoda, lalu dirinya beranjak dari ranjang dan mengambil handuknya sebelum menghilang masuk ke kamar mandi.

Hyerim menatapnya sambil membuka mulut lalu menghembuskan napas dengan jengkelnya, dirinya menatap tak percaya punggung Luhan yang mulai menghilang masuk ke kamar mandi. “Lelaki itu kenapa jadi mesum sekali. Dasar gila.” gerutu Hyerim lalu otaknya langsung dipenuhi adegan ciuman panas di dapur. Mengingat hal itu, membuat Hyerim memejamkan mata dengan raut frustasi dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kepalan tangan seakan menghapus adegan itu dalam otaknya.

“Lelaki itu membuatku gila, sialan.”

 

Sementara di kamar mandi, Luhan sedang menggosok giginya dengan busa pasta gigi yang belepotan dibibirnya. Setelah selesai, Luhan langsung mengambil gelas berisi air keran dan mulai berkumur, lalu dirinya mengelap sisa busa yang ada dibibirnya menggunakan telapak tangan. Lelaki itu menatap tampilan wajahnya di cermin, kemudian dirinya pun terkekeh geli mengingat Hyerim.

“Berjalan sambil tidur apanya? Wanita itu kelewat dungu, tentu saja aku yang menggendongnya untuk tidur di ranjang. Bila dirinya berjalan sambil tidur, aku sudah memukul kepalanya saat bangun tadi agar ia mengingat dirinya seperti itu. Membayangkan Si Kambing Dungu berjalan sambil tidur saja membuatku ingin terbahak,” gumam Luhan sambil geleng-geleng dengan bibir tersenyum paksa menahan tawa, lalu dirinya meletakan sikat berserta pasta giginya ke tempat semula.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Huah, setidaknya waktu liburmu kemarin tidak sia-sia mengerjakan tugas apalagi hasilnya bagus seperti itu. Presentasimu juga lancar, Hyerim-ah. Bahasa Inggrismu tidak perlu ditanyai lagi, ya.” suara Nara menggelegar sambil melirik-lirik hasil tugas Hyerim yang mendapat nilai a plus, namun gadis itu malah menutup lembaran tugasnya tanpa gairah menjolak bak seorang yang mendapatkan nilai sempurna.

Simple, kekesalan Hyerim masih diubun-ubun akan pengerjaan tugasnya yang diusik terus oleh Luhan dan berakhir kiamat karena ciuman tidak masuk akal. Lidah Hyerim menjilat setengah bibir atasnya diiringi bola mata memutar jengah, ingatannya akan ciuman kemarin yang berakhir akan hancurnya tugas miliknya yang harus dibuat ulang oleh Luhan─dimana dirinya menyuruh Manager Park, membuat Hyerim jengkel setengah mati. Kenapa akhir-akhir ini mereka selalu berciuman tidak waras seperti itu, otak Luhan memang sudah terkontaminasi dengan film blue ray atau semacamnya.

“Kamu kenapa? Seperti tidak senang nilaimu sempurna.” Nara berkata lagi sambil menatap Hyerim dari samping dengan heran. Keduanya sedang berjalan di koridor kampus sedaritadi, namun Hyerim belum juga mengeluarkan sepatah ayatpun pada Nara.

“Aku lapar,” Hyerim menjawab sekenanya dengan raut lesu, bukan karena lapar namun lantaran bayangan wajah tengil Luhan berseliweran diotaknya layaknya hantu penunggu.

“Tumben sekali kamu lapar, biasanya seperti orang diet setiap hari. Jangan-jangan perutmu sudah ada isinya ya,” kata Nara dengan intonasi agak antusias dan menatap Hyerim sedikit berbinar.

Apa pula sahabatnya ini, membahas hal seperti itu terus. Dengan amarah yang sebenarnya terkhususkan untuk Luhan, Hyerim melayangkan tugas beberapa lembarnya yang dilaminating untuk memukul belakang kepala Nara. Sahabatnya yang mempunyai marga Kwon itu mengaduh kesakitan dengan wajah memelas dan tangan mengusap-usap lokasi korban pukulan tugas Hyerim.

“Iya, perutku sudah ada isinya karena ciuman empat kali berturut-turut selama tiga hari ini,” ucap Hyerim nyaris berseru dengan pandangan jengkel, lalu dengan gerakan memutar tubuh yang kentara sebal, Hyerim berjalan duluan meninggalkan Nara oleh langkah lebarnya.

“Serius? Banyak sekali kalian berciuman,” seru Nara setengah berteriak sambil menatap punggung Hyerim dengan antusiasnismenya. Namun gadis itu keburu menghilang dari jarak pandang Nara yang sudah ditatap oleh beribu pasang mata di koridor disertai bisikan-bisikan karena seruannya tadi tentang ciuman Hyerim.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Di dalam sebuah mobil terdapat kedua pria layaknya adik serta kakak, yang satu menyupir dengan santainya, yang satunya lagi menatap heran lelaki yang sedang menyupir itu. Keheningan menyapa keduanya, hanya suara mesin mobil yang menjadi penengah keheningan tersebut.

Hyung, kau seperti penculik saja main menggeretku bersamamu,” Taehyung pun buka suara pada final keheningan yang menyelimuti. Ya, Luhan lagi-lagi datang ke sekolah Taehyung dan menjemputnya lalu menggeret Taehyung ikut bersamanya.

“Aku hari ini free dan aku ingin mengajarkanmu tugas matematika serta fisikamu yang pernah aku kerjakan.” Luhan menjawab sambil menatap Taehyung sekilas dan kembali menatap jalanan, mengingat betapa bahayanya bila fokus kita terganti penuh ke arah lain ketika menyupir.

“Ah, malasnya,” desah Taehyung sambil menyenderkan punggung ke kursi penumpang dengan pipi mengembung. Luhan hanya menatapnya datar dari ujung mata melihat reaksi Taehyung.

Akhirnya mobil Luhan sampai di pinggiran distrik Namsan, keduanya langsung menampakan kaki turun dan seperkian detiknya sudah berada di dalam cafe tersebut. Setelah memesan dua cangkir kopi dengan tipe berbeda─satu americano dan satu cappuccino, Luhan dan Taehyung mulai berkuat dengan buku dan alat tulis. Taehyung mendengarkan penjelasan Luhan dengan malas ketika lelaki itu menunjuk-menunjuk ujung pensilnya kepada penjelasan yang tertera dibuku tulisnya.

Nah, jadi begitulah caranya. Apa kamu mengerti?” usai penjelasannya, Luhan melayangkan pertanyaan namun Taehyung malah menguap dengan tangan kanannya menutupi mulutnya.

“Ini pesanan anda, selamat menikmati,” kemudian seorang pelayan cafe turut hadir dengan menaruh dua cangkir kopi. Kesempatan itu diambil Taehyung untuk mengambil kopi miliknya dan meminumnya. Luhan yang memperhatikan lelaki itu hanya geleng-geleng dengan merengut jengkel.

“Kamu ini benar-benar otak udang,” desis Luhan lalu menaruh pensil yang ia pegang dan meraih cangkir kopi miliknya untuk ia sesapkan kedalam tubuh.

Hyung, aku mohon jangan belajar hari ini. Otakku sudah medidih menerima enam jam pelajaran IPA juga matematika. Kumohon,” Taehyung memelas dengan bibir dimajukan membuat Luhan memandangnya shock akan aksi seorang Kim Taehyung.

“Bila aku tidak mengajarimu hari ini, apa yang menjadi penggantinya?” tantang Luhan sambil menaruh tangan kanannya di atas meja dan tubuh menyamping menatap Taehyung dengan gerlingan matanya.

Taehyung tersenyum misterius dan mencodongkan tubuh ke depan, lalu menjawab. “Aku akan menjawab apapun tentang Hyerim nuna dengan jujur dan melihatkan padamu foto masa kecil kakakku itu.”

Kali ini Taehyung yang mengerlingkan mata atas penawarannya. Luhan langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi blank dan tatapan ke bawah seakan menimang-nimang. Namun penawaran Taehyung itu terdengar sangat menggoda ditelinga Luhan. Akhirnya Luhan menatap Taehyung kembali diiringi anggukan kepalanya.

“Baiklah, deal,” jawaban Luhan membuat Taehyung tersenyum puas.

“Oke, apa pertanyaan pertamamu?” Taehyung mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya kembali.

Luhan tampak mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya dan bola mata menerawang ke atas, dirinya sedang berpikir. Kemudian dengan tatapan penasaran, Luhan menatap Taehyung ketika menggetahui hal apa yang ingin ia tanyakan.

“Apa Hyerim sudah pernah berpacaran sebelumnya?”

Taehyung hampir meledakan tawanya ditandai dengusannya yang sangat keras, senyum geli terpatri dicurva bibir miliknya. “Berciuman saja kakaku tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi berpacaran,”

Ah jadi ciuman terpanas dan pertama Hyerim itu bersama Luhan, lelaki itu menarik ujung bibirnya ketika mengetahui fakta tersebut. “Aku yakin dirinya belum berpacaran karena setiap lelaki yang berani mendekatinya apalagi menggodanya, selalu aku hajar habis-habisan.” lanjut Taehyung dengan cueknya meminum kembali kopi miliknya.

“Kamu ini overprotektif sekali pada kakakmu,” decak Luhan sambil geleng-geleng namun respon Taehyung hanya mengangkat bahu dengan wajah tidak peduli. “Apa kamu tahu lelaki mana yang pernah Hyerim sukai? Dan bagaimana lelaki itu?” Luhan bertanya lagi dengan raut kelewat penasaran.

Taehyung tampak mengelus ujung dagunya dengan mata menewarang, mengingat-ingat lelaki tipe apa yang kakaknya sukai. “Mungkin lelaki berhati lembut, penuh perhatian, tidak semena-mena, dan mengerti akan dirinya. Entahlah, karena dirinya mendapatkan suami yang berbanding balik dengan semua sikap sempurna itu,” jawab Taehyung dengan cengiran tanpa dosa akan kefrontalannya membuat Luhan mendadak akan naik pitam bila tidak bisa menahannya.

“Ah ya sudah.” desah Luhan lalu meminum americanonya dengan perasaan jengkel dan hal itu membuat Taehyung terkikik tanpa suara dengan gelinya. “Lihatkan saja foto kakakmu yang kamu janjikan.”

Taehyung mengangguk-angguk tapi perkataan yang keluar dari mulutnya selanjutnya bukanlah yang angan-angan Luhan harapkan. “Fotonya aku simpan di account google foto milikku, jadi aku harus sign in dulu. Dan aku malas mengotak-atik dunia maya ketika sedang lapar, jadi spaghetti bolognase sepertinya tidak masalah.” Taehyung kembali menampilkan cengirannya membuat Luhan menatapnya datar dengan mulut bergerak-gerak layaknya berkomat-kamit. Bocah satu ini memang banyak minta.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Setelah melewati hari yang panjang baginya, Hyerim akhirnya dapat menyelesaikan jam kuliahnya. Dengan langkah lesu tanpa gairah, Hyerim keluar dari komplek universitas Chung-Ang. Hari ini dirinya pulang sendiri karena Nara harus menjemput Seoyoung yang entah kenapa tiba-tiba merengek untuk dijemput seperti anak TK. Hyerim melangkah menuju bus dan duduk di salah satu kursi yang beruntungnya ia dapatkan, ketika larut akan pikirannya sendiri, bus yang membawanya berhenti membuat Hyerim tersadar.

“Sial,” umpat Hyerim ketika menelisik kembali bahwa halte tempat seharusnya dirinya turun sudah terlewat, entah apa yang mengusik pikiran Hyerim kali ini.

Dengan langkah berat, Hyerim menekan bell turun di salah satu tiang bus. Hal ini menyebabkan bus kembali memberhentikan penggerakannya, dikesempatan itulah Hyerim meloncat turun dari bus. Dengan menghembuskan napasnya, Hyerim kembali menggeret langkah dengan lesu serta pikiran melayang jauh. Luhan, Luhan, Luhan. Benaknya hanya teracuni nama pria brengsek yang main mengguncang hidupnya sekarang. Sangking frustasinya, Hyerim menjambak surai hitam panjang miliknya dengan kedua tangan dan mengesampingkan tatapan heran para pejalan kaki teruntuk dirinya.

“Ahhh, ada apa denganku?” desah Hyerim sambil mendongakan kepala ke atas dengan mata terpejam. Karena morning kiss yang Luhan berikan membuat otak Hyerim teracuni oleh lelaki itu.

Dengan kepala menunduk, Hyerim kembali melanjutkan jalannya, tapi seperkian detiknya melayangkan kembali pandangan ke sekitarnya. Dan mulut Hyerim seketika terbuka dengan menjentikan jari saat mengingat tempat dirinya berdiri sekon ini.

“Restoran Kyuhyun di dekat sini, aku lebih baik ke sana,” raut Hyerim yang semula lesu langsung berubah riang dengan langkah ceria menuju tempat yang ia sebutkan tadi.

Raut Hyerim berubah lebih berbinar ketika mencapai restoran dengan nama Spanyol itu. Dengan semangat Hyerim mendorong pintu dan langsung disambut ucapan selamat datang dari pelayan restoran berpolesan lipstick merah menyala yang membuat Hyerim hilang selera melihat wajah hasil operasi plastik itu. Mencoba melupakan wajah pelayan yang bersikap ramah saat dirinya masuk, Hyerim mulai menjajah Perla Restaurante untuk mencari keberadaan Kyuhyun. Akhirnya dirinya menemukan objek pencariannya. Hyerim langsung melangkah lebar-lebar agar cepat sampai ke kasir.

“Kyuhyun-ssi,” sapa Hyerim ceria ketika di hadapan pria itu yang sibuk dengan mesin penghitung di depannya. Kyuhyun mengangkat wajah dan langsung disuguhi wajah Hyerim yang tersenyum ceria.

“Hyerim? Akhirnya kamu ke sini juga,” sahut Kyuhyun senang.

“Ya, pasti kamu merindukanku,” goda Hyerim dengan senyum lebarnya. Kyuhyun hanya tertawa walau realita tersebut tepat pada sasaran.

“Tidak juga,” sahut Kyuhyun jahil dan Hyerim jadi mengembungkan kedua pipinya. “Sudahlah, lebih baik kita menuju ruang pribadiku saja di lantai atas.”

Ajakan Kyuhyun itu diterima senang hati oleh Hyerim. Keduanya menelusuri tangga sambil bercengkrama ketika menuju ruangan yang dimaksud. Hyerim langsung menduduki sofa berludru hitam dan putih ketika menginjaki ruangan Kyuhyun itu, tentu saja setelah dipersilahkan oleh lelaki Cho itu.

“Ini minumanmu Nona cantik,” ucap Kyuhyun yang kembali menampakan diri di depan Hyerim sambil menaruh gelas berisi lemon di atas meja.

Hyerim tersenyum manis sambil mengatakan terimakasih, lalu dirinya mulai meminum lemonnya. Kyuhyun pun ikut duduk di samping Hyerim sambil meminum jus jambunya. Hening beberapa saat hingga minuman keduanya habis disertai kedua gelas kotor itu tertaruh di meja.

“Rumahmu sudah beres ya? Luhan tidak memberitahu apapun padaku,” Hyerim membuka suara juga sembari menatap Kyuhyun dari samping. Kyuhyun balas menatapnya dan mengangguk.

“Nenek dan Bibi Lu memang yang terbaik dalam urusan apapun, walau sikap mereka terkadang berlebihan,” Kyuhyun terkikik sebentar sambil menundukan kepalanya ketika mengingat nenek dan bibinya. Hyerim juga ikut terkekeh pelan mengingat dua wanita paruh baya itu. “Maaf telah menumpang di rumah kalian pasti kalian terganggu.”

Hyerim langsung menggeleng dengan air wajah menenangkan. “Tidak, tidak. Lagipula Luhan sepupumu, jangan tidak enak seperti itu.”

Kyuhyun memandangi Hyerim penuh arti ketika gadis itu menggeleng dan melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya. Hyerim yang dipandangi menjadi salah tingkah sendiri. “Beruntung sekali Luhan menikah dengan gadis sebaik dirimu, dan syukurlah dirinya mau membuka hati lagi,” ucapan Kyuhyun membuat Hyerim menautkan alis dengan rasa penasaran menjulang hingga langit ketujuh.

“Memang bagaimana sih kisah cinta Luhan? Aku ingin mengetahuinya,” tanya Hyerim sedikit kikuk sambil memiringkan kepalanya dan menggaruk belakang kepala.

Kyuhyun lagi-lagi memandangnya penuh arti, lalu menjawab. “Kisahnya pilu. Gadis manis yang sering berada didekatnya itu hanya memanfaatkan dirinya untuk dekat dengan seseorang, memberikan sebuah cinta dan harapan palsu.”

Hyerim sudah menggeser duduknya lebih dekat pada Kyuhyun tanpa sadar, dirinya sudah kepalang penasaran saat ini. “Mendekati siapa memangnya?” Hyerim bertanya lagi walau memang bukan haknya mengetahui masa lalu Luhan, tapi selama Kyuhyun mengira Hyerim adalah istri Luhan maka tak jadi masalah.

“Diriku,” jawab Kyuhyun dengan senyum nanar membuat tubuh Hyerim menegang seketika. “Gadis pujaan Luhan menyukaiku dan malah menyakiti Luhan. Ironi sekalikan.” nanar Kyuhyun melalui intonasi suara dan tatapan matanya, membuat Hyerim terdiam tanpa tahu harus berfrasa bagaimana. Bola mata gadis itu bergerak menuju arah bawah sangking bingung dan terkejutnya, dirinya tak berani menatap Kyuhyun yang mungkin membuka perasaan bersalah yang masih setia bersarang dalam dirinya.

“Aku benar-benar merasa bersalah padanya dan berjanji untuk masalah wanita ataupun cinta, aku akan mengalah untuknya kedepannya.” Kyuhyun bersuara lagi dan Hyerim kembali menatapnya, keduanya saling melempar senyum simpul.

“Maaf membuatmu jadi teringat atas kesalahanmu itu,” kata Hyerim tak enak.

Kyuhyun menggeleng tanda tidak masalah, “Tidak apa-apa, itu masa lalu,” mendengarnya membuat Hyerim merasa lega, namun seketika Kyuhyun teringat sesuatu dan menatap Hyerim menyipit seakan menyelidik. “Hyerim, apakah kamu dan Luhan menikah secara murni tanpa perjanjian apapun?” tanya Kyuhyun penasaran.

Jantung Hyerim hampir mencelos keluar mendengar pertanyaan tepat sasaran akan kejadian yang sebenarnya. Hyerim langsung menatap penuh manik Kyuhyun yang sangat kentara menuntut jawaban dari Hyerim. Jari-jari gadis manis itu bergerak-gerak gelisah diatas pahanya karena gugup.

 

“Ingat kontrak kita, dasar idiot!”

Kyuhyun yang sedang berjalan menuju dapur mendengar seruan yang mutlak berasal dari Hyerim. Dahinya berkedut bingung mendengar kata kontrak itu. Ditangannya terdapat plester dan obat merah. Dengan perlahan dirinya mulai berjalan ke tempat Hyerim memasak bersamanya.

 “KAU INI APA-APAAN!?” teriak Hyerim kemudian beberapa detik kedepannya terdengar gadis itu mengaduh kesakitan. Dari jaraknya yang masih lumayan jauh, Kyuhyun melihat Luhan membisikan sesuatu pada Hyerim yang langsung bungkam. Dibenaknya penuh akan pertanyaan akan apa yang ia dengar.

 

Kyuhyun menatap dalam Hyerim ketika sekelebat percakapan antara Hyerim dan Luhan di dapur saat dirinya menumpang di rumah pasangan itu terputar diotaknya. Hyerim tampak menggerakan bola mata ke sana-ke sini dengan gugupnya dan kepala terarah ke depan menghindari Kyuhyun.

“Kita murni menikah dan mulai berkencan ketika aku sering menjemput ayahku di tempat kerja,” jawab Hyerim tanpa menatap Kyuhyun yang malah menatapnya tambah dalam dengan kepala sedikit miring. Hyerim menggigit ujung lidahnya, lalu mulai beranjak. ”Aku harus pergi.” kemudian punggung gadis itu menghilang dari ruangan Kyuhyun dengan pandangan mata Kyuhyun terfokus pada gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Akhirnya Hyerim tiba di rumah tempat dirinya tinggal bersama Luhan. Sungguh hatinya menjadi was-was karena pertanyaan Kyuhyun. Gadis itu langsung melepas alas kakinya dan berlari menuju kamar mandi, dengan gusarnya Hyerim membasuh wajah serta menatap pantulan parasnya di cermin dengan raut frustasi.

“Bagaimana bisa Kyuhyun tahu?” desah Hyerim diiringi cengkraman eratnya di ujung wastafel. “Ini benar-benar gawat, apa aku cerai saja langsung dengan monster itu ya?” gumam Hyerim sambil menggigit bibir bawahnya, detik kedepannya gadis itu mengerang frustasi sambil mendongakan kepalanya menatap langit-langit.

Setelah membasuh wajahnya, kaki Hyerim digeret olehnya keluar kamar mandi. Kepala Hyerim hari ini pening seharian dan sebab akibatnya adalah Luhan. Dengan langkah gusar, Hyerim berjalan menuju dapur dan langsung meneguk air mineral hingga habis dalam sekali tegukan. Satu tangannya tampak berkacak pinggang dengan pikirannya yang ke mana-mana dan dipenuhi  oleh Kyuhyun yang sepertinya mulai tahu hubungannya dengan Luhan.

“Kalau aku bercerai dengannya, yang lain malah akan curiga karena saat menikah kita berdua sangat memaksa. Tapi…” Hyerim berhenti bergumam dengan raut lesu dan bibir dimajukan.

“Oh, jadi kamu ingin bercerai sekarang kambing dungu?” Hyerim hampir terlonjak kaget ketika mendengar suara Luhan dan mendapati lelaki itu sedang berkacak pinggang dengan santainya di jarak beberapa meter di depannya.

“Emmm…” Hyerim hanya bergumam bingung dengan bola mata bergerak-gerak. Melihat respon Hyerim, Luhan hanya geleng-geleng kepala.

Lalu Luhan melangkah mendekat kepada Hyerim dan gadis itu langsung menelan ludah gugup, hingga lelaki itu pun sudah berada di depannya dan menatapnya sekilas namun Hyerim tidak berani balas menatapnya langsung. Kemudian Luhan makin mendekat membuat Hyerim memundurkan badan yang sialannya malah membentur counter, pertanda dirinya tidak bisa menghindari Luhan. Tapi dengan santainya, Luhan mengangkat tangan dan kepalanya ke atas kepala Hyerim, setelah itu tangannya membuka lemari diatas kepala istrinya itu. Dengan lagak santainya Luhan mengambil satu buah gelas dari sana, tak mengetahui Hyerim yang sudah mati kutu karena badan keduanya nyaris menempel. Kenapa pula lelaki ini tidak menyuruh Hyerim menyingkir dulu daripada tubuh keduanya jadi berdekatan begini.

“Jadi…” tubuh Luhan yang semula sedikit terjulur ke atas langsung kembali keposisi semula dengan kepala yang langsung menunduk menatap Hyerim yang kentara menghindari kontak mata dengan Luhan. “Kamu ingin bercerai dengan alasan apa? Kekerasan rumah tangga? Ah tidak, nama baikku bisa tercoreng,” ucap Luhan dan dirinya pun menggeleng akan usulan darinya sendiri, sementara Hyerim masih bergeming dan malah terfokus pada adam apple milik lelaki itu yang naik turun. Gila, Hyerim benar-benar gila karena hampir menyerukan kata tampan serta manly pada lelaki di depannya.

“Atau karena kamu berselingkuh saja?” kata Luhan lagi disertai tatapan yang jatuh kembali pada Hyerim ketika sebelumnya kepalanya mendongak seraya berpikir, wajah Luhan terbilang cukup sangat dekat dengan wajah Hyerim dan gadis itu malah memperhatikan lekuk wajahnya tanpa berkedip. Apalagi pada bibirnya yang tadi pagi memberikan ciuman padanya, Hyerim benar-benar sudah gila sekarang. Sementara Luhan masih menatapnya meminta persetujuan.

“Hai,” desis Luhan dengan raut kesalnya dan menyentil dahi Hyerim, sebab gadis ini belum juga merespon usulannya tadi.

“Aduh,” ringis Hyerim yang akhirnya tersadar setelah dirinya menggila gara-gara lelaki yang menyentilnya ini, Hyerim pun mengelus-ngelus dahinya sambil menatap Luhan dengan bibir merengut. Luhan juga menatapnya dengan jengkel. “Dua-duanya itu mencoreng nama baik kita. Lebih baik tidak usah bercerai,” ucap Hyerim dengan raut sebalnya membuat dahi Luhan mengkerut.

“Katanya kamu ingin bercerai tadi, aneh sekali.” kata Luhan dengan raut herannya. “Kamu ini sedang pre menstruation syndrome atau bagaimana? Plin-plan sekali juga tidak fokus dari tadi,” mata Luhan sedikit memicing menatap Hyerim.

“Aa…ku..” seketika Hyerim tergagap padahal tadi dirinya ingin membalas ucapan Luhan, namun teringat dirinya tidak fokus karena pesona lelaki di depannya, membuat Hyerim jadi membungkam mulutnya. Luhan sekarang sudah menatapnya penuh tanda tanya. “… ingin ke kamar mandi.” Hyerim melanjutkan ucapan gagapnya tadi dan langsung mendorong bahu Luhan untuk memberikannya jalan.

Tatapan mata Luhan mengikuti arah pergi Hyerim, kemudian dirinya menggeleng ketika punggung gadis itu resmi hilang dari pandangannya. Luhan pun melanjutkan kegiatannya dengan mengambil air mineral dari gelas yang ia pegang sedaritadi lalu meminumnya dengan nikmat.

 

Sementara itu, Hyerim menghentikan langkahnya dan memukuli kepalanya sendiri dengan raut frustasi. Kenapa otaknya jadi error seperti tadi? Ada apa dengannya ini? Sangking pusingnya dengan otaknya yang error, Hyerim bahkan menjambak-jambak rambutnya agar delusinya tentang Luhan saat di dapur hilang.

“Lelaki ini, akh! Pasti gara-gara morning kiss sialan itu, pasti!” geram Hyerim lalu kembali memukul kepalanya bahkan sangat keras sampai dirinya jadi mengaduh kesakitan.

Ketika Hyerim membalikan badannya, matanya menangkap suatu objek di ujung lorong. Sebuah pintu berwarna coklat tua. Keningnya mengkerut  penasaran dengan tatapan ingin tahu. Walau bisa dipastikan pintu itu hanyalah sebuah gudang, tapi entah hasrat dari mana Hyerim jadi penasaran akan isi ruangan tersebut. Langkah Hyerim sudah membawanya ke depan pintu coklat itu, lalu tangannya terangkat memutar kenop pintu.

‘Klek’

Kenop pintu terputar diiringi decitan pintu yang Hyerim dorong untuk terbuka. Kepalanya mendongak penasaran ke dalam dengan gerakan mata liar menyapu seluruh ruangan yang gelap gulita, lalu tangannya terulur ke dalam tepat di samping letaknya pintu terdapatlah saklar lampu yang langsung Hyerim nyalakan. Mulut Hyerim langsung terbuka lebar karena ruangan ini bukanlah gudang, melainkan sebuah ruangan yang cukup luas dengan banyaknya lemari serta laci terbuat dari kayu jati Belanda. Hyerim pun sudah melangkah masuk ke dalam dengan mata berbinar dan mulut melebar takjub.

“Kukira ini gudang yang kumuh, rumah orang kaya memang berbeda,” decakan kagum Hyerim terdengar kemudian dirinya mulai mengelilingi ruangan apik tersebut sambil melihat-lihat, hingga netranya menangkap sesuatu di atas sebuah laci panjang yang terbuat dari kayu di pojok ruangan sebelah kanan.

Hyerim pun langsung menangkap bahwa barang yang menyita perhatiannya itu sampai membuat matanya memicing tajam untuk melihatnya adalah sebuah bingkai foto Luhan semasa kecil. Lalu dengan langkah tergesa dan melirik pintu keluar sebentar─takut-takut Luhan tiba-tiba muncul, Hyerim pun langsung menuju depan meja itu dan mengambil bingkai berwarna coklat yang berisikan foto Luhan saat sekitar berusia sepuluh tahun. Senyum gemas terparti dicurva bibir Hyerim melihat senyuman Luhan kecil.

“Dulu saja imut, sekarang benar-benar amit,” gerutu Hyerim lalu menyentil-nyentil wajah Luhan difoto itu dengan jarinya disertai raut sebalnya. Hyerim pun kembali menaruh bingkai tersebut namun karena kecerobohannya, Hyerim malah menyenggol album tebal berwarna cream yang berada di atas laci kayu itu juga.

Dengan malasnya dikarenakan beberapa foto yang berserakan keluar, Hyerim berjongkok dan mulai membereskan foto-foto yang keluar dari album. Tapi ada satu foto yang membuat Hyerim tertarik, dengan penasaran, Hyerim melebarkan mata guna menjernihkan pandangannya. Foto yang berada ditangan kanannya itu adalah foto Luhan yang berumur sepuluh tahun bersama seorang gadis manis yang dirangkul olehnya di sekeliling taman bunga berwarna-warni. Hyerim bergeming memperhatikan wajah manis gadis itu.

“Pasti cinta pertamanya,” gumam Hyerim dengan senyum tipis.

Lalu dibukalah olehnya album yang Hyerim jatuhkan tadi. Ketika membedah isinya, Hyerim disuguhkan beberapa foto yang dibentuk-bentuk menyerupai bintang, hati, lingkaran, dan yang lainnya. Dan foto-foto itu adalah foto-foto Luhan bersama gadis yang sama dengan beberapa pose lucu dan latar berbeda, dilengkapi oleh tulisan-tulisan tangan yang terterta dikertas berwarna yang ditempelkan di dekat foto, ya tulisan dikertas berwarna itu tertulis cerita-cerita dalam berbagai foto.

‘Prince Lu and Princess Im’

‘Tidak boleh ada yang menyentuh putri cantikku’

‘Selain ibu dan nenek, perempuan yang dipeluk olehku adalah salah satu perempuan  tercantik dalam hidupku’

‘Luhan menyayangi Jinah selamanya’

Hyerim terpaku menatap foto demi foto tersebut serta tulisan tangan Luhan yang sedikit acak-acakan diusianya itu. Foto pertama menampilkan keduanya memakai setelan hanbok lucu. Lalu foto kedua melihatkan Luhan mencubit gemas pipi anak perempuan yang membuka mulut lebar dengan mata terpejam─seakan berlakon dirinya berteriak kesakitan. Foto selanjutnya melihatkan Luhan memeluk anak perempuan yang ia sebut salah satu perempuan tercantik dihidupnya. Foto terakhir melihatkan keduanya yang dikirakan berusia enam belas tahun dan sedang duduk di kursi taman yang di belakangnya melihatkan pohon maple yang daunnya sedang berguguran. Hyerim menatap lekat figur gadis di sebelah Luhan pada foto terakhir ketika keduanya remaja, gadis itu tersenyum manis dan sangat cantik dengan rambut gelombang kecoklatannya diikat dan disampirkan dibahu kirinya. Tampak Luhan juga tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit─mungkin karena sangking bahagianya, dan tangannya merangkul bahu gadisnya itu. Jinah. Itulah nama gadis yang mungkin masih Luhan klaim sebagai cinta satu-satunya yang ia miliki.

“Dia cantik. Pantas monster itu tidak bisa melupakannya,” desis Hyerim dengan raut masamnya lalu meletakan asal foto Luhan dan Jinah yang tercecer tadi kealbum dengan asal.

Dirinya tidak suka melihat senyum lebar Luhan disetiap foto dialbum itu, dengan kesal Hyerim mengembalikan album itu ke tempat semula dengan mebantingnya. Dirinya menatap geram album itu, lalu dengan perasaan jengkelnya, Hyerim mengangkat kepala untuk berhenti memandang album menyebalkan itu. Tatkala dirinya mengangkat wajahnya, Hyerim langsung disuguhkan oleh cermin yang melihatkan bayangan dirinya. Lagi-lagi Hyerim bergeming melihat setiap lekuk wajahnya yang telah Tuhan lukiskan untuknya. Dan untuk pertama kalinya, Hyerim merasa tidak suka dengan wajahnya ketika mengingat wajah Jinah yang lebih cantik daripada dirinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Ketika aku melihat bintang, aku memikirkanmu. Lalu aku selalu mendoakanmu, dan aku pun tahu hatiku diciptakan untuk apa. Untuk mencintaimu, lebih dari selamanya. Ketika aku merasakanmu dihatiku, lalu aku mendengar suaramu dari matamu. Aku selalu mencintaimu dan aku menunggumu sampai waktu berakhir. Inilah jalanku untukmu, aku harap kamu menyadarinya suatu hari nanti…” Hyerim menggumam dengan earphone dikedua telinga yang mengumandangan suara merdu Dosen Song yang menyanyikan sepenggal lagu Inggris untuk dijadikan bahan tugas listening yang harus diterjemahkan.

Seketika Hyerim memberhentikan gerakan menulisnya, fokusnya langsung terbelah ke mana-mana ketika bait demi bait lagu romantis ini malah membuat otaknya mengingat Luhan. Hyerim mengerang kesal, lalu mulai menulis kembali terjemahannya sambil memasang telinga lebih tajam.

“We are meant to be inlove enternally…

Penggalan bait lagu selanjutnya membuat Hyerim membatu kembali dan mencengkram erat pena miliknya. Benaknya langsung dipenuhi wajah Jinah yang tersenyum manis dan sedang dirangkul oleh Luhan di kursi taman bernuansa musim gugur, juga tulisan tangan Luhan yang bertajuk ‘Luhan menyayangi Jinah selamanya’ untuk foto tersebut langsung bermunculan dibenaknya hanya karena bait lagu yang dinyanyikan Dosen Song sebagai bahan tugas.

“Ah! Gila!” erang Hyerim keras diiringi pukulan disamping kanan kepalanya sangat keras agar bayang-bayang Luhan lenyap. Lalu dengan pikiran kacau, Hyerim pun mengerjakan kembali tugasnya dan membereskannya.

Tugasnya pun beres, Hyerim mengembuskan napas berat lantaran lega dan menutup buku tulisnya. Dirinya kemudian menopang dagunya lalu melamun. Namun yang muncul dalam lamunannya adalah lekuk wajah Luhan yang berjarak beberapa jengkal dari wajahnya ketika di dapur tadi. Hyerim langsung memejamkan mata frustasi.

“Ada apa denganku?” geram Hyerim dengan tangan kanan terkepal lalu sedikit mengebrak meja belajarnya dengan kepalan itu. “Mungkin google tahu aku kenapa,” gumam Hyerim sambil mengangguk-angguk lalu meraih ponsel silver miliknya yang tergeletak beberapa meter di depannya.

Setelah itu Hyerim mulai menelusuri dunia maya sambil mengetikan beberapa kata di kolom pencarian. “Apa maksud dari terdiam ketika melihat lekuk wajah lelaki, lalu marah ketika melihat fotonya bersama dengan cinta pertamanya, dan mengingat terus wajah menyebalkannya ketika mendengar lagu cinta.” Hyerim menggumam seraya menuliskan kata-kata tersebut dilayar sentuh ponselnya.

Ketika beres mengetik, Hyerim langsung menekan tombol enter untuk ponselnya mulai meloading apa yang ia cari.  Kemudian Hyerim mengklik pada suatu halaman, matanya bergerak-gerak dengan serius membaca tulisan pada halaman yang ia pilih. Detik demi detik dirinya membaca, Hyerim makin melebarkan mata dengan wajah cengonya, kemudian dirinya menscroll kebawah artikel tersebut yang menampilkan tulisan….

“Kau resmi jatuh cinta pada orang itu,” pekik Hyerim tidak percaya bahkan dirinya hampir melempar ponselnya. Dengan raut tak percaya sambil geleng-geleng, Hyerim kembali menaruh intensi pada ponselnya untuk membaca lagi artikel yang belum beres ia baca itu. “Jika kau ingin membuktikannya. Coba saja bersentuhan dengannya, apa kau merasakan jantungmu bergetar atau tidak. Biasanya cara ini gagal, lebih baik kau mencoba berciuman dengannya untuk memastikan apa jantungmu berdetak keras ketika kalian bersentuhan melalui ciuman itu, bila ya, berarti kau resmi jatuh cinta padanya.”

Hyerim langsung menjengit seram dan melempar ponselnya ke meja dengan kerasnya. Dirinya menatap ponselnya dengan ngeri seakan benda mati itu adalah serangga menjijikan. Tubuhnya merinding seketika. Berciuman. Jantung berdetak keras. Gila. Hyerim benar-benar akan gila sekarang, ketika larut akan kepusingan yang dibuatnya sendiri, pintu kamarnya terdengar terbuka. Dengan gerakan gelisah Hyerim menoleh dan mendapati Luhan yang menggunakan jubah mandi berjalan ke arah lemari dengan santainya. Tanpa sadar Hyerim memperhatikan langkah lelaki itu dengan matanya.

“Ini hanya untuk pembuktian,” Hyerim memejamkan mata sambil mengangguk-angguk ketika menggumamkan kata-kata tersebut dengan pelan.

Ternyata Luhan sudah selesai mengenakan pakaiannya karena gerakan cepatnya, dirinya memperhatikan Hyerim yang masih memejamkan mata dan berkomat-kamit tidak jelas dengan mengangguk-angguk. Luhan tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya dan membuka kuncinya, langsunglah ponselnya itu melihatkan wallpaper Hyerim ketika berumur tujuh tahun sedang duduk di bawah pohon sakura dengan rok hitam pendek berenda motif bunga-bunga berwarna kuning serta baju putih berlengan panjang dengan renda-renda dibagian lehernya. Dirinya mendapatkan foto itu dari Taehyung. Luhan sekarang tersenyum-senyum membandingkan foto Hyerim yang menjadi wallpapernya itu serta sosok Hyerim sungguhan yang masih berperilaku konyol.

“Dirinya tidak berubah. Wajahnya tetap sama,” gumam Luhan dengan senyuman lebarnya lalu menaruh ponselnya disaku piyamanya dan menggeleng pelan melihat tingkah aneh Hyerim. Dirinya pun mulai melangkah menuju ranjang.

“Oke,” Hyerim membuka matanya sambil menghela napas untuk mencari kekuatan, lalu dirinya mengangguk mantap. “Sekarang!” serunya pelan lalu langsung melayangkan tatapan kepada Luhan yang dengan santai memainkan ponselnya di atas ranjang dengan posisi duduk menyender ke kepala ranjang.

Akhirnya Hyerim sudah mendekat ke ranjang dan duduk di sebelah Luhan yang masih sibuk dengan ponselnya. Dengan ragu Hyerim menaikan seluruh tubuhnya duduk ke atas ranjang, menimbulkan sisi ranjang tempatnya bergoyang hingga Luhan menatapnya heran dan mengkerutkan dahi.

“Kenapa?” Luhan bertanya dan Hyerim tampak menelan ludahnya membuat Luhan tambah menatapnya dalam, Hyerim jadi salah tingkah ditatap begitu dan tatapannya malah tertuju pada bibir lelaki di depannya.

Hyerim langsung memejamkan mata lalu menggeleng, hal itu tambah membuat Luhan dilanda rasa kebingungan. “Kamu kerasukan sesuatu?” tanya Luhan dengan alis terangkat dan Hyerim kembali membuka mata menatapnya, lantas Hyerim pun menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Luhan.

“Emmm… Luhan….” ucap Hyerim mengatung lantas membuat Luhan jadi gemas sendiri melihat gadis di depannya ini.  Lalu Hyerim menggigit bibir bawahnya, bukan tanpa alasan, namun inilah kode apa yang ingin dia lakukan untuk mencari jawaban atas pernyataan konyol dirinya jatuh cinta pada monster tak punya hati ini.

“Kamu ingin melukai bibirmu sendiri dan melaporkan bahwa kamu terkena kekerasan rumah tangga? Dan lalu kita pun bercerai?” ujar Luhan dengan satu alis terangkat dengan bingungnya. Mendengarnya membuat Hyerim menghentikan acara menggigit bibir bawahnya, lalu dirinya menggeleng dengan kikuk.

“Tidak, hanya bibirku ini emm…” ucapan Hyerim terhenti lagi dan jari tangan gadis itu bergerak-gerak resah diatas pahanya yang tertekuk ketika duduk saat ini.

“… lebih baik kau mencoba berciuman dengannya untuk memastikan apa jantungmu berdetak keras ketika kalian bersentuhan melalui ciuman itu, bila ya, berarti kau resmi jatuh cinta padanya.”

Tulisan diforum sialan itu kembali terlintas dibenak Hyerim dan membuatnya mencengkram erat ujung piyamanya. Berciuman untuk memastikan apa jantungnya berdetak keras atau tidak. Dan Hyerim rasanya kehilangan akal sehatnya karena panasaran akan hal tersebut. Luhan masih setia menatapnya dengan penuh tanda tanya yang tersirat dari bola mata miliknya. Ketika Luhan hendak kembali sibuk pada ponselnya, Hyerim langsung berusaha mencegahnya.

“Luhan…” Hyerim memanggil dengan nada sedikit gugup.

“Apa?” respon Luhan sambil menatapnya jengah dan memberhentikan aksi dirinya hendak mengambil kembali ponselnya di naskas sebelah ranjang. Hyerim mengerak-gerakan bola matanya mencari cara namun menimbulkan Luhan yang jadi menatapnya bosan karena gadis ini belum juga mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan sedaritadi. “Bibirmu terkantuk meja atau bagaimana? Daritadi kamu terus menggigitnya.” Hyerim langsung mengalihkan fokus matanya kepada Luhan kembali dan langsung menghentikan aksi menggigit bibir bawahnya yang kali ini tidak ia sadari juga sengaja.

“Bukan, aku hanya…” ujar Hyerim sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Luhan pun menatapnya sambil menggeleng pelan dan melipat tangan didepan dada.

Kemudian Hyerim menatapnya lekat dan menjilat bibir atasnya dengan ujung lidahnya berniat menggoda lelaki di depannya ini. Karena biasanya tanpa digodapun, Luhan sudah main menciumnya kan? Tapi berbeda dengan sekarang, Luhan malah bengong melihat aksi Hyerim tadi.

“Bibirmu bengkak terkena tiang listrik ya?” ujar Luhan menerka-nerka namun terkaannya membuat Hyerim diambang frustasi dan gadis itu menggeleng sambil menahan rengekan yang nyaris keluar dari bibirnya.

“Ah lupakan, aku akan tidur di lantai,” kata Hyerim sambil membuang muka dengan sebalnya disertai pipi sedikit mengembung.

Kenapa lelaki ini tidak peka? Disaat Hyerim tidak menggodanya atau apapun, Luhan main menciumnya bahkan sangat panas. Namun ketika Hyerim menggodanya hanya untuk pembuktian, Luhan malah tidak peka sama sekali. Hyerim mulai bergerak untuk beranjak turun, namun tanpa sepengetahuannya, Luhan menyunggingkan senyum tipis. Lalu ketika Hyerim mulai menurunkan kakinya dari ranjang, dengan gerakan cepat Luhan menarik tangan Hyerim membuat gadis Kim itu kembali menghadapnya.

Setelah itu, Luhan langsung mendekatkan wajahnya hingga membuat bibirnya dan bibir milik Hyerim bersentuhan. Pupil mata Hyerim melebar seketika tatkala Luhan melayangkan ciuman dadakan seperti ini. Hyerim benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika Luhan makin memajukan wajahnya untuk memperdalam ciuman mereka berdua. Hyerim mengerjapkan matanya beberapa kali dan Hyerim pun merasakan jantungnya berdetak sangat keras karena ciuman ini apalagi sekarang Luhan mulai melumat lembut bibir atas dan bawahnya bergantian.

─To Be Continued─


Hallo, udah lama/bentar aku ngilang ahahaha -_- di  chapter ini sepertinya Hyerim udah…..

Lihat sajalah siapa yang mengukapkan perasaan duluan dan btw di sini Kyuhyun gak jadi PHO kok ya tapi dia ternyata denger percakapan Luhan-Hyerim pas itu, nah loh.

Bakal ada cast baru yang datang nih nanti, siapa hayok ;v /teka-teki/

Aku anaknya suka males edit lagi ya, paling cuman sekali doang jadi kalo ada typo harap maklum aja wkwkwk =___=

Btw, kelanjutan mereka ciuman menurut kalian akan gimana LOL😄 di atas ranjang loh itu😄 dan tadi serius gak mau ada morning kiss atau kissing di sini, tapi otak astral ini malah menginginkannya😄

Komen kalian kutunggu ya❤

P.S : Chapter 11-12 sudah bisa dibaca di http://www.hyekim16world.wordpress.com

—Luv, HyeKim— 

8 thoughts on “Beauty and The Beast Chapter 10 – HyeKim

  1. Kenapa tiap hyerim sama luhan ciuman aku jadi degdegan banget, panas dingin jadinya wkwk. Berharapnya kelanjutannya mereka ngelakuin itu wkwk. Biar mereka makin deket dan sadar mereka saling jatuh cinta haha. Pasti yang datang itu jinah, cinta pertamanya luhan. Luhan sama hyerim bakalan berantem kalo jinah yang datang lagi kekehidupan luhan..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s