Job’s Goal : Finding Love [Chapter 3] -anneandreas

Finding Love-anneandreas

JOB’S GOAL : FINDING LOVE

.

.

a chaptered fiction with Romance feel in Family and Works life rated by T

staring by

EXO’s Byun Baekhyun, Kim Minseok, Kim Jongdae and Do Kyungsoo

INFINITE’s Lee Howon and Nam Woohyun

OC’s Do Kyungrin and Do Ahrin

.

.

thanks for this cute Poster >> l18hee <<

I own the plot

all cast except OC belong to their real life

.

.

⇓⇓ PREVIOUS CHAPTER ⇓⇓

Teaser – Chapter 1 – Chapter 2

.

.

-3-

LAPORAN KEUANGAN

.

©anneandreas2016

 

Aroma roti bakar dari arah dapur terasa menyejukkan di hidung Reen. Ia keluar dari kamar sambil merapihkan kemeja kerjanya lalu menggigit sepotong roti keemasan yang sudah tersaji di atas meja makan tanpa permisi.

Noona, itu isi selai nanas!” kata Kyungsoo membuat Reen menghentikan aktivitas mengunyahnya sementara Arin yang baru keluar dari kamar memandang heran pada kembarnya yang kini berdiri membatu, “Dia kenapa, Kyung?”

“Dia makan roti isi selai nanas. Kau ‘kan tahu, selain mentimun dia juga sangat membenci nanas.” ungkap Kyungsoo pada Arin. “Kyung, aku mau memuntahkan roti yang ada di mulutku ini. Boleh ‘kan?” Reen berusaha berbicara dengan jelas, mengabaikan bau selai nanas yang mulai menyeruak di dalam mulutnya.

“Ternyata dia masih pilih-pilih makanan sampai sekarang.” gumam Arin membuat Reen menoleh tajam ke arahnya, lalu kembali menatap Kyungsoo dengan pandangan memelas.

“Ya ya ya. Buang yang ada di mulutmu dan letakkan lagi roti yang masih di tanganmu itu. Ini aku buatkan roti isi selai strawberry untukmu. Lain kali tanya dahulu sebelum mengunyah sesuatu.” omel Kyungsoo. Reen hanya mengangguk pasrah lalu berjalan menuju wastafel dan memuntahkan lagi roti selai nanas yang ada di mulutnya.

.

.

.

“Kau pergi ke kantor sama siapa?” tanya Arin memecah keheningan di dapur, Reen menoleh ke arah Arin lalu menjawab mantap, “Naik bus seperti biasa, kenapa?”

“Pergi bersamaku dan Jongdae saja. Aku juga mau pergi test wawancara hari ini dan katanya Jongdae mau mengantarku. Kau ikut bersama kami saja.”

“Oke. Kau, semangat test! Semoga diterima di rumah sakit yang keren itu. Fighting!” Reen mengepalkan tangan di depan Arin disambut Arin yang langsung membuat gerakan serupa, “Fighting!

Kyungsoo hanya menggeleng pelan melihat kelakuan kedua kakak kembarnya.

“Kyung, kenapa Sungjong tidak datang kemari lagi? Dia tidak takut dengan kami ‘kan? Suruh ia main kemari.” kata Reen pada Kyungsoo yang hanya dibalas dengan anggukan ringan. “Ia takut suasana akan seperti kanebo kering lagi jika ia datang kemari.”

“Sungjong siapa?” potong Arin tidak mengerti.

“Itu temannya si Kyungsoo, aku bertemu dengannya saat pertama kali da…”

“Ah, Jongdae sudah sampai di bawah. Kyung, kami pergi dulu!” Arin memotong penjelasan Reen dan langsung menarik pergelangan tangan gadis kembarannya itu. “Oke, aku ambil tas dulu. Kyung annyeong!”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Annyeong Jongin, kau datang lebih pagi hari ini.” sapa Reen yang baru masuk ke dalam ruangan kerja sementara yang disapa tersenyum masam, “Laporan masih jauh dari selesai, sedangkan besok sudah deadline. Kalau tidak mau lembur, ya aku harus datang lebih pagi. Laporanmu sudah selesai?”

Reen menggeleng sambil memberikan cengiran terbaiknya, “Belum sih. Makanya hari ini juga aku datang lebih pagi.”

“Apa ada yang kau masih tidak mengerti? Tanyakan saja padaku, jangan sampai besok kau dimarahi Baekhyun hyung jika sialnya moodnya sedang tidak baik.” tutur Jongin tulus membuat Reen tertawa, “Tenang saja, jika aku tidak mengerti aku pasti akan merecokimu.”

Beberapa sekon berlalu setelah saling melempar salam, Reen menyalakan CPU komputernya dan mulai membuka file laporan keuangannya. Reen memang baru bekerja selama seminggu lebih dua hari namun deadline laporan keuangan tidak pernah mengenal dispensasi pada karyawan baru, tepat per tanggal 10 setiap bulan setiap staff accounting yang bekerja di Byun Electrics wajib menyerahkan laporan keuangan, satu lembar Laporan Laba Rugi dan satu lembar Neraca berisi susunan angka yang sedikit banyak mencerminkan masa depan perusahaan.

Setelah layar komputernya menampilkan Microsoft Excel, jemari Reen pun siap menari dan bekerja di atas keyboard. Mengerjakan laporan keuangan mungkin memang tidak serumit yang tampak pada drama-drama yang tampil di televisi tapi juga tidak semudah yang orang-orang suka remehkan, buktinya lihat saja Reen saat ini yang benar-benar fokus menatap angka-angka di layar komputernya, sesekali menatap ke atas kertas-kertas penuh angka dan coretan di sana sini hingga melupakan segelas cappucino buatan Myungsoo yang kini sudah mendingin di mejanya. Bahkan Reen juga tidak peduli ketika si anak CEO menyebalkan yang juga merangkap sebagai bos di ruangannya datang dan duduk di mejanya, sesekali melemparkan tatapan tanpa ragu-ragu tepat ke wajahnya.

Waktu masih terus berlalu, sebagian dari lembaran kertas itu kini sudah berubah menjadi gumpalan di dalam kotak sampah dan sebagian lagi masih menunggu untuk diperlakukan serupa. Pun Reen masih setia bertatapan dengan layar komputernya hingga tiba-tiba layar itu berubah hitam disertai bunyi dengungan singkat di seluruh ruangan. Listrik padam. Reen memekik tertahan lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja hingga menghasilkan sedikit bunyi gedebuk. “Aku belum save.”

Noona, komputermu mati?” Jongin yang pertama kali membuka suara. Reen mengangkat wajahnya lalu mengangguk lesu. “Sudah disave?” tanya Jongin lagi, kali ini Reen menggeleng dengan sama lesunya.

“Komputermu belum disambungkan ke UPS? Salah kau sendiri kenapa tidak save.” Komentar dari anak CEO paling menyebalkan sedunia pun terdengar, membuat Reen harus benar-benar menahan dirinya untuk tidak mengumpat.

“Aku akan telepon Minseok hyung, mungkin ia masih punya persediaan UPS di gudang, atau mungkin dia juga bisa merecovery datamu yang belum disave.” kata Jongin lantas mengambil gagang telepon di meja Reen lalu menekan beberapa tombol di sana, Reen mengangguk namun sebagian dirinya sangat yakin bahwa orang yang tadi ia sebut Minseok hyung itu tidak bisa mengembalikan datanya yang belum sempat disimpan sebelum listrik padam.

Tidak lama kemudian seorang laki-laki putih dengan senyum dan mata yang khas masuk ke ruangan mereka lalu menghampiri Jongin yang masih berdiri di sisi meja Reen, “Ada komputer yang belum dipasang UPS?” tanya si lelaki dengan suara renyah, mungkin laki-laki ini yang tadi ditelepon Jongin.

“Ya, Minseok hyung. Komputer Reen noona belum dipasang UPS jadi tadi komputernya mati waktu listrik padam.” jelas Jongin.

“Kau sudah save?” tanya laki-laki yang ternyata benar bernama Minseok itu.

Reen menggeleng.

“Komputermu disetting auto save?”

Reen menggeleng lagi.

“Sudah banyak yang dikerjakan?”

Reen mengangguk sementara Minseok menghela napas.

“Datanya sudah pasti tidak bisa dikembalikan.” komentar Minseok membuat Reen kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.

“Sebentar, aku ambilkan persediaan UPS di gudang, jadi jika lain kali listrik padam lagi, komputermu tidak akan mati mendadak.” Setelah menyuarakan kalimat itu, Minseok keluar. Tinggalah Jongin yang masih berdiri di sisi Reen, menatap gadis itu lesu –jelas sekali ia tahu apa yang Reen rasakan saat ini. Sementara Byun Baekhyun tampak sama sekali tidak memberikan ekspresi iba, justru lantas berkomentar “Besok deadline laporan tetap tidak diundur. Jadi hari ini kau harus menyelesaikannya.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Sekon terus berjalan tanpa memerdulikan Reen yang kini masih setia menahan kesal sambil mengerjakan ulang laporan yang belum sempat ia save sebelum listrik padam. Bahkan ia sampai melewatkan jam makan siangnya, hanya pergi sebentar ke kantin yang berada di lantai bawah untuk membeli segelas jus pengganjal lapar.

“Kau benar-benar akan lembur hari ini?” Sebuah tanya dengan nada bersahabat menyambangi rungu Reen, dan ia nyaris saja melonjak dari kursinya kala mendapati orang yang baru saja menanyakan hal tersebut adalah orang yang selama ini ia anggap sebagai manusia paling menyebalkan sedunia, anak CEO Byun, Baekhyun.

Reen mengangguk, ia masih kehilangan kata-kata akibat sedikit kepedulian yang ia dapatkan dari si orang menyebalkan.

“Kenapa tidak kau kerjakan di rumah saja?”

“Di rumah ataupun di kantor sama saja.” jawab Reen singkat.

“Baiklah. Jangan lupa matikan UPSnya saat pulang agar komputermu tidak cepat rusak.” kata Baekhyun lagi sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan.

“Jong, dia salah minum obat?” Reen berkomentar pada Jongin yang juga sedang menyiapkan diri untuk pulang. Jongin tertawa lantas berkomentar, “Kan sudah pernah kubilang kalo Baekhyun hyung itu sebenarnya baik. Dia hanya suka tempramen tanpa mengenal tempat dan waktu. Kau lihat sendiri ‘kan kalau dia itu baik dan perhatian pada staff.”

Reen mengangkat bahu, masih sedikit belum menerima kenyataan.

“Omong-omong aku pulang duluan, tidak apa-apa? Sepertinya aku lihat beberapa staff accounting di sana juga sedang lembur. Atau mungkin Myungsoo hyung juga belum pulang. Kau bisa memintanya membuatkanmu kopi supaya tidak mengantuk.” Jongin memperlihatkan nada khawatir di dalam kalimatnya.

“Tidak apa-apa, pulanglah. Aku berani kok, kantor ini tidak menyimpan cerita horror ‘kan?” sahut Reen sambil tertawa yang menular pada lawan bicaranya.

“Baiklah, Reen noona semangat! Aku pulang dulu.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Akhirnya kita berkenalan juga, salam kenal dariku, lembur!” ucap Reen pada dirinya sendiri selepas pulangnya Baekhyun dan Jongin.

Reen kembali berkutat dengan laporan keuangan sialan yang harus selesai besok itu. Sesekali ia pergi ke pantry untuk menyeduh cappucino sachet yang tersedia di sana sambil berbincang dengan Myungsoo sebelum office boy tampan itu pulang. Pun ia mencoba melawan rasa kantuk dan lelahnya dengan menelepon Kyungsoo kemudian Woohyun hanya untuk mengungkapkan kekesalannya pada UPS sialan yang membuat dirinya kini harus lembur. Setelah mendapat kalimat “Fighting” dari kedua lelaki itu, ia merasa kembali mendapatkan suntikan energi untuk melanjutkan laporan yang sebenarnya sudah hampir selesai itu.

“Kau masih lembur?”

Adalah kalimat biasa yang entah mengapa membuat Reen terlonjak dari kursinya. Bagaimana tidak, mengingat ini sudah jam setengah sembilan malam maka Reen pikir dirinyalah satu-satunya yang tersisa di kantor ini atau setidaknya di lantai ini. Sementara berusaha mengendalikan jantungnya yang masih berdegub tak beraturan, ia menoleh untuk mendapati Minseok yang sedang berdiri di pintu ruangan mereka.

“Ya, sebentar lagi selesai lalu aku akan pulang.” jawab Reen berusaha terlihat santai.

“Aku temani.” Minseok mengucapkan kalimat singkat dengan nada pasti sembari berjalan mantap dan mendudukkan dirinya di kursi samping Reen.

“Tak perlu. Aku berani kok.” jawab Reen, namun ada sedikit rasa senang yang timbul di hatinya.

“Tidak apa-apa. Sebagai IT di kantor ini, aku harus memastikan semua komputer mati dengan benar sebelum pulang. Lagipula tidak baik seorang gadis malam-malam sendirian di kantor. Eh, atau kau sudah punya suami?” tanya Minseok membuat Reen tertawa sambil menggeleng, “Tidak.”

“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu.” sambung Minseok lagi.

.

.

.

“Selesai! Maafkan aku terlalu lama ya?” tanya Reen sambil menatap Minseok yang ternyata sedari dari menjejalkan kepalanya dibalik lipatan tangannya di atas meja.

“Ah tidak.” jawab Minseok menoleh ke arah Reen. “Sudah mau pulang?” lanjutnya.

Reen mengangguk.

“Omong-omong aku baru sadar bahwa kita belum benar-benar berkenalan. Aku hanya tahu namamu karena tadi Jongin memanggilmu Reen noona dan aku yakin kau pun mengetahui namaku hanya karena tadi Jongin memanggilku Minseok hyung. Ya ‘kan?” tanya Minseok panjang membuat Reen tertawa sambil mengangguk.

“Terimakasih Minseok-ssi, sudah menemani karyawan baru yang lupa save laporan keuangan ini lembur. Namaku Do Kyung Rin, namun aku lebih suka dipanggil Reen, senang berkenalan denganmu.” Reen mengulurkan tangannya yang disambut Minseok mantap.

“Aku tidak keberatan jika lain kali juga harus menemanimu lembur. Namaku Kim Minseok, senang juga berkenalan denganmu Reen-ssi. Omong-omong dimana rumahmu? Apa sudah dijemput?”

“Ah. Aku pulang naik bis. Aku tinggal di apartemen Mokdong. Tidak terlalu jauh dari sini.” sahut Reen sementara Minseok membelalakkan matanya, “Jadi ternyata kita bertetangga? Aku juga tinggal di sana di lantai 14 B.”

Kali ini ganti Reen yang menganga, “Oh, God. Aku dan saudara-saudaraku tinggal di 14 E. Ternyata kita benar bertetangga.” Mereka tertawa.

“Kalau begitu pulang bersamaku saja.” tawar Minseok.

“Lagi-lagi aku merepotkanmu.” jawab Reen disambut gelengan Minseok, “Tidak apa. Supaya aku ada teman di perjalanan pulang. Ayo pulang, mobilku diparkir di basement.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Minseok-ssi terima kasih sekali lagi, kita baru benar-benar kenal hari ini namun aku sudah banyak sekali merepotkanmu. Besok aku akan mentraktirmu makan siang di kantin.” Reen mengucap tulus di depan pintu lift lantai 14 apartemen mereka.

Minseok tersenyum lantas menjawab, “Aku tidak mau ditraktir kalau alasannya karena kau hari ini merepotkanku, tapi aku mau jika besok kau mengajakku makan siang bersama di kantin. Dan omong-omong jika kau lebih muda dariku panggil saja aku oppa. Entah mengapa aku merasa sangat tua jika mendengar diriku dipanggil Minseok-ssi.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan tawa renyah yang terdengar bersahabat.

“Eummh, baiklah. Minseok.. Oppa..” ucap Reen sedikit ragu sementara Minseok tersenyum cerah.

Araso. Apakah besok kau mau berangkat ke kantor bersamaku? Aku tidak keberatan.” Tawar Minseok lagi yang langsung disambut Reen dengan gelengan cepat, “Tidak perlu, besok aku akan diantar saja. Sekali lagi terima kasih Minseok oppa, sampai jumpa besok di kantor.” Reen membungkuk sebentar lalu pergi menuju apartemennya yang berlawanan arah dengan apartemen Minseok.

.

.

.

Reen membuka pintu apartemennya dengan lesu lalu berjalan gontai ke arah sofa di ruang tengah, melemparkan tas sembarang lalu merebahkan diri di atas sofa kosong itu. Kedua saudaranya yang sedang berada di dapur terdengar berbisik-bisik meskipun Reen sendiri tak yakin apa yang sedang mereka berdua bicarakan dan ia berusaha tidak menggubrisnya.

Namun bisikan-bisikan itu tak juga menjadi hening meski bersekon-sekon telah berlalu, Reen yang merasa tak nyaman langsung mengangkat tubuhnya dari sofa lalu menatap kedua saudaranya tajam sementara kedua orang itu balas menatap Reen dengan pandangan yang sulir dicerna maksudnya.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Reen akhirnya angkat bicara.

“Kau tampak mengenaskan, noona.” Kyungsoo berani berkomentar sementara Arin lebih memilih menyimak dalam diam.

“Seperti inilah seharusnya seorang karyawan terlihat!” pekik Reen lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, tidak mengacuhkan kedua saudaranya yang kini saling melempar pandangan iba untuk dirinya.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Pagi datang tanpa memerdulikan Reen yang masih tergeletak di atas ranjang dengan keadaan yang bisa dibilang mengenaskan. Biasanya ia akan bersemangat keluar dari kamar jika wangi roti bakar buatan adik kesayangannya itu menyambangi penciuman, namun tidak hari ini. Reen memilih untuk berbaring sebentar lagi dan sebentar lagi.

Noona, kau tidak ke kantor?” panggil Kyungsoo dari depan pintu.

“Sebentar lagi.” Jawab Reen masih menyembunyikan dirinya di balik bantal.

“Setengah jam yang lalu kau juga sudah bilang kalimat itu. Woohyun hyung akan mengantarmu hari ini, tadi aku telepon hyung dan dia kasihan padamu yang mengenaskan itu…” Sebuah bantal mendarat di wajah Kyungsoo bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

“Aku mandi.” lanjut Reen singkat dan tanpa beban, seolah dirinya bukanlah pelaku pelemparan bantal ke wajah sang adik beberapa detik yang lalu.

.

.

.

Reen kini sudah berdiri di lobby, menekan ibu jarinya di mesin absen sampai terdengar bunyi ‘nit’ dan lampu hijau kecil di atas mesin itu menyala. Setelah memakan sandwich buatan Kyungsoo di dalam mobil Woohyun tadi, Reen merasa mendapatkan cukup energi lagi untuk menyetorkan laporan keuangannya hari ini.

Noona, tadi ada telepon untukmu.” sapa Jongin pada Reen yang baru saja masuk ke dalam ruangan mereka.

Reen mengernyitkan dahinya, “Untukku? Dari siapa?”

“Dari kepala pabrik di Busan. Tadi Seulgi menelepon dari ground katanya Kim Junmyeon, staff kepala pabrik di Busan, sedang mencarimu. Coba kau telepon Seulgi, pinta ia sambungkan telepon ke pabrik di Busan.” tutur Jongin sementara Reen mengangguk.

Reen mengangkat gagang telepon di meja kerjanya lalu menekan beberapa tombol yang menyambungkan dirinya dengan telepon general di ground. Setelah mendapatkan konfirmasi dari Seulgi, Reen pun meminta sambungan telepon ke pabrik di Busan.

Annyeonghaseiyo. Ya, benar saya Do Kyung Rin staff accounting pabrik. Tadi saya mendapat informasi kalau Kim Junmyeon-ssi mencari saya…. Ah? Ya.. Ya.. Laporan catatan fisik yang kemarin saya terima? Ya… Oh? Jadi laporannya keliru? Revisinya sudah dikirimkan ke email kantor? Baiklah.. Akan saya lihat dan perbaiki.” Reen menutup sambungan telepon sambil menjaga ekspresi wajahnya tetap lurus. Segera ia mengecek email perusahaan dan benar saja ada email masuk jam sembilan kemarin malam. Ia sungguh berharap ia bisa mengumpat sekarang.

“Ada apa noona?” tanya Jongin yang menyadari perubahan ekspresi Reen.

“Dia bilang laporan fisik ada revisi.”

“Apa? Artinya laporanmu juga revisi?”

“Begitulah.”

“Mengapa revisinya mendadak sekali. Hari ini ‘kan deadline.” komentar Jongin setelah beberapa saat kebisuan menyelimuti mereka. Reen hanya menghela napas panjang sambil mendownload laporan revisi yang terlambat itu lantas melamun sampai bunyi telepon di mejanya berdering.

Annyeonghaseiyo. Ah, ya Kim Junmyeon-ssi, ya laporannya sedang kudownload. Tidak apa-apa, aku harap masih ada waktu untukku menyelesaikannya hari ini.. Tidak perlu meminta maaf.. Ah? Nomor handphoneku? Aaah, supaya jika lain kali ada revisi kau bisa langsung menghubungiku? Boleh, silahkan catat nomor handphoneku…”

Sambungan telepon dimatikan setelah acara bertukar nomor handphone dilakukan. Sebenarnya Reen bukan tipe orang yang rela memberikan nomor handphonenya secara bebas, apalagi pada orang yang ia belum pernah lihat wajahnya. Namun karena ini untuk urusan pekejaan, Reen pikir ia akan memberikan pengecualian. Ia kembali berkutat dengan laporan revisi yang baru saja selesai diunduh dan menghela napas lega karena ternyata tidak terlalu banyak angka yang harus direvisi. Mungkin ia akan selesai sebelum jam makan siang.

Baru saja Reen membuka Microsoft Excell di komputernya untuk mengerjakan laporan revisi, Byun Baekhyun datang dan langsung menyuarakan kalimat interupsi bahkan sebelum dirinya mendudukkan diri. “Satu jam lagi laporan keuangan diletakkan di mejaku.” lalu membalikkan badannya dan berjalan keluar ruangan.

“Oh. Laporan keuangan sialan!”

.

.

.

to be continued.

\.0./ Belajar Akuntansi \.0./
Laporan Keuangan

= Catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi
yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut.
Laporan keuangan lengkap biasanya meliputi:
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
(https://id.wikipedia.org/wiki/Laporan_keuangan)

Biasanya Laporan Keuangan wajib yang dikumpulkan perbulan adalah
Neraca dan Laba Rugi. Laporan Neraca berisi tentang kondisi
asset, kewajiban, dan ekuitas (Harta, Utang, Rincian Modal),
sedangkan Laporan Laba Rugi merangkum penjualan, pembelian dan
harga produksi jika perusahaan tersebut merupakan
perusahaan pembuat barang. Sedangkan untuk Laporan Perubahan Ekuitas,
Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan biasanya dibuat untuk
keperluan khusus, misalnya Audit, Pemeriksaan Pajak, dll.

Dalam pengerjaan Laporan Keuangan, ada beberapa perusahaan yang sudah
menggunakan software khusus, namun ada juga yang manual menggunakan
Microsoft Excell dengan memanfaatkan fitur-fitur rumus di dalamnya.
Dalam pengerjaannya seorang staff accounting harus berkoordinasi
dengan divisi Finance (untuk pencocokan kas dan bank),
divisi Marketing (untuk pencocokan penjualan dan pembelian),
divisi gudang/pabrik (untuk pencocokan dengan stok real yang tersedia).
Jadi mudahnya, divisi-divisi yang berkaitan dengan accounting
harus menyerahkan laporan mereka untuk diolah oleh accounting dan
menghasilkan laporan keuangan utuh.

Author Tjurhat + Cuap-cuap Bahagia:

Seorang karyawan baru yang mengalami listrik padam, tanpa UPS dan lupa save
sehingga harus mengerjakan ulang laporan keuangan itu benar-benar terjadi,
nyata apa adanya. Saya, iya itu saya.

Dan seorang karyawan yang sudah menyelesaikan laporan keuangan
mendapatkan telepon dari bagian pabrik
bahwa laporan fisik dari pabrik mengalami revisi di hari H deadline
juga benar-benar terjadi, nyata apa adanya. Iya, itu juga saya.

Tapi itulah pahit manisnya karyawan.
*sok manis soalnya ngetiknya diliatin bos /plak /boong

Dan akhirnya setelah bermusim-musim dilewati /alay
akhirnya Chapter 3 nongol juga,
yeaaayy!!
*orang-orang udah keburu lupa chap sebelumnya
*baca lagi aja /plak

Pas bikin chapter ini, aku ada revisi ke chapter 2 juga
Aku bikin bagian “Belajar Akuntansi” di bagian bawah
Biar paham sedikit sama dunianya si Reen dan kawan-kawan
Untuk selanjutnya juga aku akan bikin bagian “Belajar Akuntansi”
Ihiy~

Seperti biasa makasih buat semua yang udah komen, ya.
Kalo belom komen, komen dong!
*dibalang*

Tunggu chapter selanjutnya yaaa
Nomu-nomu kamsahamnida
*bow*

2 thoughts on “Job’s Goal : Finding Love [Chapter 3] -anneandreas

  1. kasian reen,baru aj mau santai,eh terxata hasil kerjax hrus direvisi kasian,tuh bacon juga kejam banget gitu ya kyakx aj si,tpi salut sm jongin,biasax dia sllu di bri krakter playboy atau namja brengsek,kyakx cuma di ff in aj deh krakter jongin bagus dan luar biasa disiplinnya hahaha😀😀😀😀😀😀😀

    • iyaaah.. si reen kasiaan, aku pernah begitu jugaa.. cedih.. /pukpuk-in diri sendiri /plak
      wkwkwk
      bacon anak bos mah bebas bhaaakkss..
      iyaaah, pada dasarnya aku kasian sama jongen yang selalu jadi pleiboi eperiwer.. makanya di sini aku pengen nunjukin sisi pekerja kerasnya jongen. sip. mantav pake telor. wkwk..
      makasih lagi ya udah komeeennn.. >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s