[EXOFFI FREELANCE] Princess of Drama – (Chapter 1)

PicsArt_11-13-06.24.38.png

 

Princess of Drama

 

Cast                 :

  • Alice Kim
  • Bella Kim
  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Author             : AL

Genre              : Romance

Length             : Chapter

Rating             : PG15

Disclaimer       : This is Mine. Ide cerita ini murni hasil pemikiran Al. Apabila ada unsur yang sama dengan karya lain, itu murni ketidaksengajaan. Jangan plagiat yaa, hargai karya orang lain. Tidak mudah buat ff. Jadi, jadilah pembaca yang baik..

 

Happy Reading

 

**Chapter 1**

 

Aku tidak pernah menyalahkan takdir yang aku jalani saat ini. Aku paham betul, kalau hidupku memang tidak akan pernah bisa mencapai kebahagian seperti dalam kebanyakan drama yang sering ku tonton di televisi. Tidak, mungkin kisahku bisa mirip dengan drama yang kutonton, namun pasti itu akan menjadi sad ending. Ya, kebanyakan sih begitu.

Besok padahal hari pernikahanku, bukankah itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi kebanyakan wanita? Tapi, itu sama sekali bukan yang ku alami saat ini. Pernikahanku besok hanya sebuah alat. Dimana hanya untuk kepentingan segelintir orang yang terlibat, termasuk keluargaku dan calon keluargaku. Aku memang tidak mengerti dunia politik ataupun bisnis yang saat ini dikelola ayahku, tapi yang kulihat, dunia itu nampak kejam dengan aku sebagai taruhannya.

Sayangnya aku tidak begitu memperdulikannya…

Bagiamana mungkin aku tidak peduli? Alasannya sederhana, I just want it simple. Aku tidak ingin membuat masalah besar jika aku menolak perjodohan itu. Ambil positifnya saja, ya aku bisa tetap hidup sebagai tuan putri dan aku juga bisa menikmati kemewahan itu hingga hari tuaku nanti. Bisa dipastikan kalau hidupku pasti akan menjadi sangat membosankan. Padahal, aku selalu membayangkan, kalau akan ada saatnya, dimasa depan, aku dan juga suamiku pergi berlibur bersama ke hawai, lalu aku akan membuat masakan kesukaannya setiap pagi, memakaikan dasinya, tidur lalu mendapatkan pelukan hangat darinya dan hal-hal manis lainnya. Tapi, nampaknya itu hal yang mustahil ku dapatkan. Semua itu hanya ada didalam drama.

“Al, kudengar calon suamimu itu sangat tampan. Benar-benar membuat iri semua wanita, kalian pasti akan menjadi pasangan yang serasi nantinya.”

Aku menoleh memperhatikan seorang gadis berambut merah sebahu yang tiba-tiba memasuki kamarku sambil berkata perkataan aneh yang baru saja ia lontarkan. Wajahnya nampak lebih tirus dari yang terakhir kali kulihat, mungkin dia sedang melaksanakan program diet yang selalu dibicarakannya. “Bel, berhentilah bicara seperti itu,” ucapku sambil memamerkan seulas senyuman dingin. “Pernikahanku tidak akan seperti milikmu. Jelas kau tau itu, aku sama sekali tidak mencintai pria itu. Bahkan, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya, melihatnya pun tidak. Bagaimana mungkin kami akan menjadi pasangan yang serasi?”

Ya, aku berkata jujur. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan calon suamiku. Terdengar konyol bukan? Tapi, itulah yang terjadi. Bahkan rencana pernikahanku baru ku ketahui seminggu yang lalu, tepatnya saat keluargaku berkumpul secara keseluruhan untuk makan malam. Ada kebiasaan yang keluargaku sering lakukan, tepatnya setiap satu bulan sekali, seluruh keluarga Kim, dari mulai kakekku akan berkumpul untuk makan malam dan membahas topik-topik tertentu. Kalian bisa bayangkan, betapa terkejutnya aku ketika mengetahui, makan malam bulan ini menjadikan aku sebagai topik pembicaraan utama.

“Tentu saja pernikahanmu tidak seperti milikku. Ini milikmu dan aku berjanji, kalau aku akan membuat pernikahanmu menjadi jauh lebih hebat dari pernikahanku sebelumnya. Anggap saja itu hadiah dari kakakmu ini, Al,” ucap Bella, ya, dia kakakku sambil membelai lembut puncak kepalaku. Ia memerkan senyuman  menawan, yang membuat hampir semua laki-laki luluh hanya dengan melihat senyumannya.

Aku mendecakkan lidah. “Aku tidak butuh hadiah seperti itu Bella. Dari awal pernikahanku ini hanyalah sebuah alat, sudah pasti ini akan menjadi hal yang hebat. Dengan pernikahanku sudah dipastikan ayah bisa leluasa membuka cabang barunya di seluruh pelosok Korea. Dengan aku menikahi putra dari perdana menteri Korea Selatan, hal-hal hebat sudah pasti menunggu keberhasilan bisnis keluarga kita,” ucapku sambil membayangkan bagaimana ayahku akan meraup banyak keuntungan dari pernikahanku. “Aku tidak berharap banyak dari pernikahanku. Hanya cukup melakukannya saja dan setelah itu selesai.”

Bella menatapku prihatin. Ia kemudian meremas tanganku lembut. “Kau tau, pernikahanku juga awalnya hanya dijadikan alat oleh keluarga kita. Kau tau itu kan, bagaimana aku dan Park Chanyeol bisa menikah,” ucapnya lembut. “Tapi pada akhirnya, aku berhasil mengubah alat itu menjadi jalan kebahagianku, aku benar-benar bahagia bisa ada di samping Chanyeol saat ini. Aku yakin, kau juga bisa sepertiku.”

“Semuanya tidak semudah yang kau katakan Bel.”

“Aku akan membantumu.”

“Itu tidak perlu. Jika kau ingin membantuku, cukup berikan aku banyak DVD drama terbaru dari Itali ya Bel. Ku dengar, minggu depan kau dan Chan akan berlibur ke sana kan. Jadi bawakan itu sebagai oleh-oleh, Oke?”

Aku melihat Bella mengubah ekspresinya dan menatapku tajam. Ia kemudian mendesah kesal. “Berhentilah menonton banyak drama Al. Jalani hidupmu dengan baik, apa kau tidak bosan hanya duduk manis sambil menonton drama selama bertahun-tahun belakangan ini. Tidak ada yang berubah jika kau hanya diam saja dan cuma menonton. Kau harus membuat cerita dramamu sendiri, Alice,” ucapnya. Hanya seperti itu, setelah mengucapkan kalimatnya, Bella pergi meninggalkanku seorang diri dikamar.

Sebenarnya aku paham betul tentang apa yang diucapkan Bella barusan. Hanya tidak yakin, apakah bisa aku membuat drama ku sendiri? Bagaimana jika ini akan berakhir buruk? Aku hanya takut memulainya.

***

Entah apa yang sedang ku lakukan saat ini. Aku juga tidak mengerti…

Apa ini bisa disebut melarikan diri? Aah, tidak, ku pikir itu terlalu berlebihan. Aku hanya ingin mencari udara segar sebelum pernikahan berlangsung besok. Berjalan sendirian di tengah kota seperti ini sungguh menyenangkan, butuh usaha yang ekstra untuk membuatku bisa keluar rumah seperti sekarang ini. Kalau bukan karena bantuan Bella, mungkin sekarang aku masih duduk manis dikamar menunggu detik-detik pernikahanku. Aku hanya ingin mengisi waktu berakhirnya masa lajangku dengan kegiatan yang menyenangkan. Sebelum gelar tuan putri kembali ku dapatkan kembali.

Sebaiknya aku pergi ke mana yaa? Apa aku harus membeli es krim? Coklat panas? Roti? Atau pudding? Sepertinya aku harus membeli semuanya, tapi dimana aku bisa membelinya. Aku tidak pernah pergi keluar rumah sendirian, seharusnya aku mengajak Bella hari ini. Bodoh sekali.

“Apa kau sedang tersesat nona?”

Aku menoleh ke belakang. Memperhatikan dengan teliti siapa yang baru saja berbicara padaku, atau untuk sekedar memastikan kalau dia benar-benar bicara padaku. Tanpa sadar, aku memasang senyumanku begitu melihat siapa yang baru saja bicara. Tidak, itu bukan karena aku mengenalnya, tapi karena wajah orang itu mengingatkanku pada karakter pemeran utama dari drama yang baru saja ku tonton minggu lalu. Sangat manis dan menawan.

“Ya, kupikir seperti itu. Ini pertama kalinya aku pergi ke tempat ini sendirian,” ucapku sambil menggaruk leherku yang tidak gatal. Tapi, tetap saja aku masih memamerkan senyumanku, mungkin saja ia akan terpesona padaku, eh, apa yang baru saja kupikirkan. Ingatlah, besok aku akan segera menikah. Lagipula, mana mungkin laki-laki seperti dia akan terpesona padaku.

Aku melihat laki-laki dihadapanku tertawa kecil. Benar-benar manis. “Mungkin aku bisa membantumu, nona. Ke mana kau akan pergi? Aku akan menunjukkan jalannya untukmu,” ucapnya.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau tunjukkan dimana aku bisa membeli makanan manis di daerah ini? Aku ingin sekali makan es krim dan kue,” ucapku senang merasa terbantu dengan tindakannya. Tidak lucu kan kalau seandainya aku tersesat tepat sehari sebelum pernikahanku.

Sekarang aku melihat pria dihadapanku terkekeh pelan mendengar perkataanku. Apa aku salah bicara ya, sepertinya tidak. “Kau lucu sekali, nona,” ucapnya sambil memiringkan kepalanya. setelah itu ia menoleh memperhatikan Chandelier –nama tempat yang ada dibelakangku tepat- dan diriku secara bergantian. “Bagaimana mungkin kau bertanya tempat padahal kau ada didepan tempat itu persis. Kau mengerti kan maksudku, tempat yang kau cari ada dibelakangmu saat ini.”

Aku membulatkan mataku mendengar ucapannya. Ini memalukan, benar-benar melakukan.

“Sepertinya kau baru berada ditempat ini ya? Wajahmu juga tidak tampak seperti wanita korea pada umunya,” ucapnya lembut. Ia tiba-tiba saja menarik lenganku cepat sambil membawaku memasuki café. Ia kemudian tersenyum kecil melihat ekspresi kebingunganku. “Kita bisa bicara banyak hal didalam. Café ini biasanya sangat penuh dijam-jam seperti ini, tapi aku bisa membantumu mencarikan tempat duduk didalam. Lagipula aku punya janji dengan temanku di café ini, jadi sebaiknya kau masuk bersamaku jika ingin mendapatkan tempat.”

Aku menganggukkan kepalaku menuruti tindakannya. Terlihat atau tidak, aku tersenyum kecil begitu pria itu masih tetap mempertahankan tangannya yang menarik lenganku sambil terus membawaku menuju lantai atas untuk mencari tempat duduk setelah ia bicara pada beberapa pelayan. Benar apa yang dikatakan pria itu, café ini benar-benar terlihat ramai, aku ragu jika aku bisa mendapatkan tempat duduk jika aku datang sendiri ke café ini. Pria itu bahkan dengan mudah mendapatkan tempat duduk ditempat yang menurutku paling strategis di café ini.

“Aku kenal baik dengan pemilik café ini. Jadi ya bisa kau lihat sendiri, terkadang ini terasa menyenangkan memiliki teman-teman yang bisa diandalkan seperti ini,” ucapnya begitu ia mulai duduk di kursinya. Aku memilih untuk duduk dihadapan pria itu agar bisa memandang wajahnya dengan jelas. Eh, apa yang kupikirkan? Tidak boleh seperti itu, Alice.

“Jadi, bisa kita lanjutkan obrolan kita sebelumnya?” ucap pria itu memulai percakapan begitu makanan yang beberapa menit lalu kami pesan telah tertata rapih dimeja kami saat ini.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Kau berasal dari mana? Bukan dari Korea kan?” tanyanya penasaran, wajahnya sangat lucu ketika menanyakan hal itu.

“Aku adalah warga Korea. Apa aku harus menunjukkan tanda pengenalku?” ucapku begitu aku menyendokkan es krim coklat ke mulutku. “Tapi tidak sepenuhnya Korea sih. Ayahku berasal dari Ingris, ibuku dari Jepang dan aku lahir di Korea. Jadi, menurutmu aku berasal dari mana?”

Laki-laki itu tertawa kecil mendengar jawabanku. “Bagaimana bisa kau lahir di Korea sementara orang tuamu orang asing?” tanyanya antusias, ia sepertinya sangat tertarik dengan silsilah keluargaku yang sebenarnya menurutku cukup membingungkan untuk ku ceritakan.

Aku berdeham pelan. “Ehm, singkatnya ini karena urusan bisnis keluargaku yang mengharuskan mereka berpindah tempat kebanyak negara. Kebetulan sekali aku lahir ketika mereka melakukan bisnis di Korea, jadi bagaimana aku harus menjelaskannya yaa, itu seperti,”

“Ya, Oh Sehun. Bagaimana mungkin kau datang lebih awal dari janji kita?”

Perkataanku terpotong ketika sesosok pria paruh baya mulai medekat ke meja kami dan duduk disamping, ehm, jadi namanya Oh Sehun. Ya, pria yang baru datang itu langsung duduk disamping Sehun dan tiba-tiba saja memakan kue milikku dengan sekali gigitan. Padahal aku menyisakan kue itu untuk nanti, bagaimana mungkin dia datang begitu saja dan langsung memakannya, benar-benar tidak sopan.

“Aku datang tepat waktu. Kau saja yang datang terlambat,” ucap Sehun menanggapi pria itu sambil menunjukkan senyumannya.

Aku melihat pria itu memiringkan kepalanya. “Benarkah? Jadi, aku yang terlambat ya,” ucapnya sambil terkekeh pelan. “Aku sepertinya terlalu sibuk dengan urusanku, jadi sampai lupa waktu seperti ini.”

Sehun juga ikut terkekeh pelan menanggapi pria itu.

Sedetik kemudian aku melihat pria itu melihatku dengan tatapan berlebihan. Sepertinya dia baru sadar, sejak tadi aku mengamatinya dingin. Tentu saja harus seperti itu, dia baru saja mencuri kue kesukaanku. Mana mungkin aku tidak bersikap seperti ini.

“Sehun, siapa anak kecil berambut pirang ini? Kau menemukan gadis ini dimana? Apa kau menemukannya dijalan saat ia tersesat jauh dari ibunya?”

Apa-apaan pertanyaan pria itu? Meskipun ada benarnya, tapi aku kan bukan anak kecil.

“Ooh, jadi kau bukan anak kecil. Tapi bagiku kau nampak seperti itu.”

Aku membulatkan mataku begitu mendengar ucapannya. Apa mungkin aku mengatakan apa yang sedang ku pikirkan saat ini? Aku bahkan tidak ingat dengan jelas. Bodoh sekali kau, Alice.

“Dasar tidak sopan,” ucapku memandang tajam pria itu. “Kau juga pencuri. Benar-benar lengkap sudah karakter burukmu itu. Like a beast.”

Beast? Pencuri?” ucap pria itu memandangku tak kalah tajam. Tapi dengan wajahnya itu, bagiku tatapannya sama sekali tidak menyeramkan. “Memangnya apa yang aku curi darimu?”

“Kue milikku,” ucapku meninggikan suara. “Kau baru saja mencuri kue ku. Benar-benar tidak sopan, sangat sangat sangat tidak sopan.”

“Apaa?”

Sehun berdeham pelan melihat apa yang telah kami lakukan. Ya, ampun aku bahkan sampai lupa untuk menujukkan sisi manisku saja pada Sehun, tapi aku malah bertingkah seperti ini. Ini semua karena pria menyebalkan ini. Gagal sudah rencanaku untuk membuat Sehun terpesona padaku.

“Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini? Sudahlah, hentikan saja, bahkan kalian baru saja bertemu. Tidakkah kalian malu, semua orang sedang melihat ke arah kita,” ucap Sehun sambil mengamatiku dan temannya bergantian. Setelah mendengar perkataan Sehun dan melihat keadaan sekitar, aku baru menyadarinya. Mungkin karena aku sempat berteriak tadi, jadi semua mata mengarah padaku. Ini pertama kalinya aku jadi bahan perhatian orang-orang hanya karena masalah seperti ini, sedikit memalukan.

Setelah menghembuskan nafas panjang, aku mencoba untuk membuat diriku kembali tenang. Tapi itu sulit, hanya dengan melihat wajahnya saja benar-benar membuatku kesal. Ini karena dia memanggilku anak kecil, yang benar saja, dari semua panggilan yang ku dapatkan, aku paling benci jika ada yang menyebutku anak kecil.

Tiba-tiba saja ponselku berdering, tanpa membuang waktu aku segera mengangkatnya.

“Hey, Bella. Ada apa?”

Betapa terkejutnya aku begitu mengetahui kalau ayahku sudah kembali dari kantor dan sekarang tengah mencari keberadaanku. Bagaimana bisa begitu? Kenapa ayah pulang lebih awal hari ini? Aah, benar-benar situasi yang menyebalkan. Kalau seandainya ayah tau aku keluar rumah diam-diam seperti ini, tidak menutup kemungkinan diriku akan terkena dampak besar dari amarah ayahku nantinya. Dia benar-benar orang yang keras.

“Bagaimana ini Bella? Bagaimana mungkin aku bisa sampai dirumah hanya dalam waktu beberapa menit?” tanyaku panik.

“Kau pergilah ke atap gedung disekitarmu. Setelah itu kirim lokasi pastimu padaku. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu. Sementara itu, aku akan mengulur waktu untukmu disini. Jadi cepatlah, oke?”

Aku tersenyum kecil mendengar suara Bella diujung sana. Dia benar-benar kakak yang bisa diandalkan.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sehun padaku. Sepertinya ia nampak bingung dengan perubahan ekspresi ku. Jelas saja, aku benar-benar nampak sangat aneh ketika terkejut tadi.

“Ehm, bisakah kau menunjukkan padaku dimana gedung yang memiliki atap yang bisa digunakan untuk mendaratkat sejenis helikopter disekitar sini? Ini benar-benar mendesak.”

 

***

Akhirnya hari ini tiba..

Ya, benar, ini hari pernikahanku. Sebuah gaun putih sudah terpasang cantik ditubuhku. Ini gaun pilihan kakakku, dia yang menemaniku memilih gaun pernikahanku.

Saat ini aku sedang melihat bayanganku sendiri dihadapan cermin dengan tatapan menerawang.

Sejenak, aku memikirkan, tentang ‘apakah ini diriku?’, ‘bagaimana bisa berbeda 180 seperti ini?’ atau ‘apakah ini pilihan yang tepat untukku? Apakah tidak apa?’. Banyak yang aku pikirkan saat ini, awalnya aku hanya ingin ini semua selesai dengan sederhana. Tapi, sejak pertemuanku dengan Sehun kemarin, aku jadi berpikir kembali, mungkin rasanya akan menyenangkan, jika aku menemukan pasangan hidupku dengan usahaku sendiri. Bertemu dengannya di tengah kota secara kebetulan, berbincang manis sambil menikmati segelas coklat panas, ya, hal-hal seperti itu yang aku impikan. Tapi, rasa-rasa itu tidak mungkin untuk ku dapatkan.

“Lihat adikku sekarang. Benar-benar cantik sekali dengan gaun pilihanku. Aku benar-benar memilih gaun yang bagus, benar kan yeobo?” ucap Bella pada suaminya. Aku bisa melihat jelas dari balik cermin kalu mereka saling bertukar senyum sambil bergandengan tangan mesra seperti itu. Akankah aku juga akan memiliki waktu seperti itu dengan suamiku kelak? Benar-benar membuatku khawatir.

“Kau memang berbakat, Bel,” balas kakak iparku itu sambil mencubit pipi Bella gemas. Apa-apaan mereka itu, kenapa melakukan adegan seperti itu dihadapan calon mempelai wanita sepertiku. Benar-benar membuatku merasa… iri.

“Al, kenapa kau diam saja? Sebentar lagi acara utama akan dimulai, bahkan ayah sudah menunggumu di depan. Sebaiknya kau menemaninya sambil menunggu detik-detik kau berjalan di atas altar dan bertemu calon suamimu untuk pertama kalinya,” ucap Bella begitu ia mendekat ke arahku. Sedetik kemudian, ia menepuk bahuku pelan dan membuatku menoleh ke arahnya. “Berhentilah memandangi cermin seperti itu. Kau benar-benar cantik saat ini, Alice. Jangan menghawatirkan hal-hal yang tidak perlu, oke?”

Aku menatap Bella lekat-lekat. Entah kenapa, aku tiba-tiba saja langsung memeluk kakak perempuanku itu erat-erat. Tidak, jelas aku mengetahui alasan atas tindakanku saat ini. “Bel, aku takut. Aku benar-benar takut,” ucapku bergetar. Mempertahankan diriku saat ini untuk tidak menangis ternyata sangat sulit. “Bel, bagaimana jika pernikahanku ini berakhir buruk? Bagaimana jika aku sama sekali tidak bisa tersenyum ketika aku bersamanya? Bagaimana jika keputusanku ini salah? Bagaimana jika aku, aku, aku, tidak bisa menjalani pernikahan sepertimu?”

“Tenanglah, Al,” ucap Bella sambil menepuk punggungku pelan. Ia kemudian melepas pelukanku dan sekarang menatapku dalam-dalam. Ia juga sempat menghapus air mataku yang hampir saja jatuh membasahi wajahku dan mungkin saja itu bisa merusak penampilanku saat ini jika aku tidak bisa mempertahankan tangisanku supaya tidak pecah. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sayang. Bukankah aku sudah pernah katakan, aku akan membuat pernikahanmu menjadi lebih hebat dari milikku. Jaga ucapanku baik-baik, Al. Aku tidak pernah berbohong padamu kan? Percayalah padaku.”

Bella benar. Dia sama sekali tidak pernah membohongiku, dia selalu berusaha untuk membuatku bahagia, dia selalu menemaniku. Haruskah aku mempercayai ucapannya? Haruskah aku melakukannya? Ya, Alice, kenapa aku harus ragu. Bella tidak pernah menghianatiku, jika aku sudah memulainya, aku juga harus melihat akhirnya. Jika ini pilihan yang buruk, dan jika ini hanya alat saja, aku akan berusaha merubah ini semua menjadi sebuah jembatan kebahagiaan untuk diriku. Kisah drama milikku haruskah ku mulai? Tentu saja iya, kenapa aku masih bertanya..

***

Hanya dengan memulailah kita akan mengetahui akhirnya. Aku ingin berubah, aku ingin menjadi orang yang berbeda. Jika tidak dimulai dari hari ini, jika aku terus menundanya, apakah kisah hidupku akan berganti dengan sendirinya? Aku hanya akan melakukan apa yang ingin ku lakukan.”

** to be continue**

 

Hay, salam kenal semuanya. Aku baru disini, panggil ajah Al yaa, tapi bukan Al nama Oc yang ada di ff ini *aku bukan alice*. Hehehe…

 Mencoba kirim ff aku kesini, semoga banyak yang suka yaa.

Untuk chapter pertama ini, Al mau ngajak main tebak-tebak kan niih. Siapa yaa yang akan menjadi calon suami Alice nantinya?Udah ada yang bisa nebak?

Sok, atuh tulis pendapat kalian dan juga masukan buat ff ini, pujiannya juga boleh*apadeh* hihihi.. Sampai ketemu lagi di update ff ini minggu depan..

∆∆∆

 

 

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Princess of Drama – (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s