[EXOFFI FREELANCE] One Mistake (CHapter 1)

ONE MISTAKE.jpg

Tittle/judul fanfic: One Mistake

Author: Baekbby

Length: Chaptered

Genre: romance, action, misteri

Rating: PG-17

Main Cast & Additional Cast: Byun Baekhyun, other EXO member, OC 

 Summary: one mistake destroy everything

Disclaimer : cerita ini hanya fiksi belaka. Cerita ini murni hasil karya author dan dilarang mengambil

dan mempublikasikan cerita ini tanpa seizin author. 

Author’s note: (kemungkinan akan di post di beberapa social media milik saya yang lain)

 

 

 

“aku pergi dulu ya kak, nanti aku pulang jam 4”

 

Aku memandang nayeon, adik ku, berjalan keluar dari pintu apartemen sederhana kami. Setelah pintu kembali ditutup, aku beranjak dari tempat ku duduk dan berjalan menuju dapur. Aku menghela nafas sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan selama nayeon  pergi. ugh, kanapa sih nayeon harus pergi ketika aku sedang sangat bosan seperti ini ?

 

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil beberapa makanan ringan dan minuman bersoda untuk menemani ku menonton acara TV favorit ku, Pretty Little Liars. Tidak terasa waktu berjalan dan Sekarang sudah menunjukkan jam 8 malam tapi nayeon belum juga pulang, kemana anak itu ? dia bilang akan pulang jam 4. Aku sudah menelponnya berkali-kali tapi tidak pernah diangkat. Ah sudahlah, pasti dia sedang bersama teman-temannya dan lupa waktu untuk pulang, tipe anak SMA.

 

 

Aku terbangun dengan suara ketukkan pintu. Mungkin itu nayeon. Aku melirik jam yang sedang menunjukkan jam 12 tengah malam. Astaga nayeon baru pulang jam segini ? aku berjalan cepat menuju pintu dan siap untu melontarkan omelan kepada nayeon. Tapi setelah aku membuka pintu, bukan nayeon yang aku temui tapi hanya selembar kertas yang tergeletak didepan pintu. Aku mengambil kertas itu dan membaca tulisan didalamnya.

 

‘Carilah adik mu jika kamu masih ingin melihatnya, ups maksud ku melihat jasadnya’

-G

 

Tiba-tiba suara sirine polisi terdengar dari luar apartemen. Lalu selang beberapa menit, beberapa polisi berlari kearah ku.

 

“apakah anda yang bernama Park Heyon ?” Tanya salah satu polisi

 

“i-iya”

 

“adik anda yang Bernama Park Nayeon ditemukan tewas di tebing dekat sungai Han” ucap salah seorang polisi.

 

kaki ku seketika melemas setelah mendengar kalimat itu. Seakan aku tidak bisa berdiri dan aku pun terjatuh.

 

Bayangan nayeon yang sedang disiksa muncul dibenakku. Teriakan minta tolong yang dilontarkan nayeon seakan tertelan angina malam.

 

“HAYEON!!!! TOLONG!!!!”

 

 

Setitik cahaya terang menyilaukan berhasil membangunkan hayeon dari mimpi buruk itu, lagi. Semenjak kematian nayeon 1 bulan yang lalu, hayeon terus memimpikan tentang malam itu, malam yang telah menjadi malam terburuk dalam hidupnya. Adegan malam itu terus menghampiri mimpinya setiap malam, bahkan tidak jarang mimpi itu berlanjut ke adegan dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan tubuh Nayeon pada saat ia ditemukan. Adegan itu berhasil membuat hayeon terbangun dengan jantung yang berdebar sangat kencang dan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Malamnya tidak pernah tenang semenjak kejadian itu.

 

Hayeon menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan langsung menuju kamar mandi. Setelah melakukan rutinitas pagi, hayeon memutuskan untuk membuat sarapan dan bekal makan siang yang nanti akan ia bawa ke kampus. Di dinding koridor menuju dapur, foto nayeon yang sedang tersenyum lebar terpajang. Setiap pagi hayeon akan melihat foto ini dan perasaan bersalah itupun akan muncul lagi. Ia tau kematian adiknya bukanlah sebuah kecelakaan. Terlebih surat yang ia temukan didepan pintu sebelum polisi datang semakin menguatkan dugaan bahwa ini adalah sebuah pembunuhan berencana.  Dan ia yakin bahwa pembunuhan ini memiliki sangkut paut dengan dirinya. Tanpa disadari, air mata hayeon pun terjatuh.

 

“apa yang sebenarnya terjadi nayeoh-ah ?” ucapnya sambil mengelus figura foto nayeon. “maafkan aku yang tidak bisa melindungimu. Aku tau ini semua salahku, aku hanya tidak tau apa sebenarnya kesalahan itu yang aku perbuat”

 

Bahkan polisi tidak bisa memecahkan kasus ini. Dengan hanya satu barang bukti berupa selembar kertas, polisi tidak akan bisa memecahkan kasus ini. Tidak ada bukti lain yang bisa menuntun polisi kepada sih pembunuh. Seperti hanyeon, polisi juga percaya bahwa kasus ini adalah kasus pembunuhan, terbukti dengan beberapa lukan lebam yang terdaoat di badan nayeon. Tapi tetap saja polisi tidak bisa mengetahui siapa dalang pembunuhan ini. Karna taka ada satu jejak pun yang ditinggalkan oleh sih pembunuh. Nayeon dibunuh oleh seorang pembunuh alhi.

 

 

3 bulan setelah itu, kejadian semula kembali terulang. Kali ini menimpa lelaki yang sedang hayeon kencani dan lelaki yang menjadi teman dekat heyeon. Semuanya sama. Persis dengan kejadian yang menimpa nayeon. Tengah mala mina mendapati pintu apartemennya diketok lalu menemukan selembar kertas dengan pesan yang selalu sama.

 

‘Carilah pacar mu jika kamu masih ingin melihatnya, ups maksud ku melihat jasadnya’

-G

‘Carilah sahabat mu jika kamu masih ingin melihatnya, ups maksud ku melihat jasadnya’

-G

 

Tidak lama terdengarlah sirene polisi. Kali ini belum sempat polisi memberikan kabar, hayeon telah terlebih dahulu terjatuh lemas. Seluruh badannya bergetar hebat. Air mata tak henti berjatuhan ke pipinya.

 

Mulai saat itu hayeon mengerti. Siapaun yang berada dibalik semua ini tidak menginginkan hayeon memiliki seseorang disampinya. Saat itu juga hayeon memutuskan untuk berhenti menghubungi keluarganya dan teman-temannya. Ia memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan siapapun. Ia akan sendiri. Seperti yang diinginkan oleh seseorang yang menyebut dirinya G. tak sanggup rasanya jika ia harus kembali menyaksikan seseorang harus kehilangan nyawa hanya karna memiliki hubungan dengannya.

 

“if this is what you want, then fine, I’ll be alone for the rest of my life”

 

 

 

 

-skip-

 

 

Hayeon berjalan menuju kelas matematika. Ia akui Seoul University bukanlah sekolah yang kecil, terkadang ia harus berkeliling sekolah untuk menuju kelas per kelas yang harus ia hadiri hampir setiap hari. Sebenarnya Hayeon sangat tidak menyukai matematika dan pernah berencana untuk tidak mengambil kelas matematika ketika ia berada di University,tapi keadaan mengharuskannya untuk mempelajari kembali subjek yang paling ia benci itu, jujur ini sedikit memalukan untuk dibicarakan, tapi kedua orang tuanya adalah guru matematika berprestasi, dan disinilah hayeon, yang hanya mengerti pertambahan, pengurangan, dan perkalian, pembagian saja terkadang ia masih sidikit memerlukan bantuan.

 

“Hayeon-ah!”

 

Hayeon menoleh setelah mendengar seseorang meneriakan namanya. Kim JoonHee. Gadis pemilik rambut merah itu sedang melambaikan tangannya kearah hayeon. Hanyeon membalas lambaian itu dengan membuang muka dan mulai berjalan lagi ketujuan awalnya. Bisa terdengar langkah joonhee yang semakin cepat berjalan kearahnya. hayeon pun juga mempercepat langkahnya untuk memberi tahu bahwa ia tidak ingin diganggu sekarang, atau selamanya.

 

Joonhee selalu mencoba untuk berteman dengan hayeon dari awal mereka masuk ke universitas ini, tapi hanyeon tidak menginginkan teman atau siapa pun didalam hidupnya. Ia  hanya ingin sendiri. Semenjak kejadian mengerikan itu terjadi kepada 3 orang dekatnya, ia memutuskan untuk tidak akan membiarkan seorangpun memasuki kehidupannya lagi.

 

“selamat pagi Mr. Jung” sapa hayeon kepada guru matematikanya yang bisa dikatakan tidak terlalu menyukai hayeon tapi tetap berusaha menyukai karena pekerjaan orang tuanya.

 

“selamat pagi, hayeon-ssi”

 

Hayeon berjalan menuju bangkunya yang terletak di deretan paling belakang.

 

“eh, katanya hari ini ada anak baru yang akan masuk kelas kita lho” hayeon mendengar sekumpulan gadis yang sedang bergosip berbicara. Anak baru ? bukanya sekarang sedang pertengahan semester ? siapa yang masuk kuliah dipertengahan semester ?

 

“yang benar ? cewek apa cowok ?” ucap gadis yang lain. “cowok. Dan katanya dia cute lho” lalu mereka mengeluarkan suara-suara genit yang berhasil membuat Hayeon ingin mengeluarkan semua sarapan yang ia makan pagi ini.

 

“baiklah, sesuai yang janji saya, hari ini kita akan mempresentasikan tentang projek pribadi yang telah kalian selesaikan minggu lalu” suara Mr. Jung terdengar menggelegar diruangan kelas yang berbentuk persegi empat ini. Mr. Jung mulai memanggil satu per satu nama kami ketika pintu terbuka dan masukalah seorang laki-laki mengenakan baju kemeja putih, celana jeans hitam, serta sepatu nike berwarna ungu.

 

“maaf, saya terlambat” ucap laki-laki itu.

 

“oh, kamu pasti baekhyun, bukan ?” Tanya Mr. Pitz

 

“iya, saya baekhyun pak”

 

“alright, karna hari ini hari pertama kamu, kamu saya bebasakan dari hukuman. Sekarang kamu boleh duduk”

 

“terima kasih”

 

Lalu laki-laki yang bernama Baekhyun itu berjalan kearah satu-satunya bangku kosong disini, disebelah bangku Hayeon. Laki-laki itu tersenyum kearahnya dan dan yang mendapatkan senyuman hanya membalas dengan tatapan datar.

 

“hey, aku baekhyun” ucap baekhyun sambil meliri hayeon

 

Hayeon membuang muka dan membalas. “aku tidak perduli”

 

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] One Mistake (CHapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s