[EXOFFI Facebook]EXO the Series (Lu Han Story)

10858572_692599664190754_1836623805196213948_n

 

EXO the Series (Lu Han Story)

Author: AiYuki

Cast: Exo Member
Xi Lu Han – Shin Je Hee
Byun Baek Hyun – Kim Ai Rae
Kim Jong In – Lee Hyun Mi
Oh Se Hun – Shin Dae Yong
Do Kyung Soo – Shin Seul Yong
Park Chan Yeol – Jung Hye Kyo
Kim Min Seok – Park Yong Hwa
Huang Zi Tao – Park Hye Bi

Genre: Romance (maybe), family life (maybe), friendship (maybe)

Length: Series

Ini storyku yang ketujuh dan korbannya si pria cantik Lu Han dan entahlahlah apa ini bisa disebut Lu Han story atau gak, karena saya sendiri juga bingung. Wakakakakak… Biar gak bingung nih aku kasih link sebelumnya

Link Se Hun Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-se-hun-story-aiyuki/620945021356219

Link D.O Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-do-story-part-1-aiyuki/640068672777187
https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-do-story-part-2-aiyuki/640129136104474

Link Kai Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-kai-story-aiyuki/645705732213481

Link Chan Yeol Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-chan-yeol-story-aiyuki/659286694188718

Link Xiu Min Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-exo-the-series-xiu-min-story-aiyuki/670433153074072

Link Tao Story

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/series-exo-the-series-tao-story-aiyuki/680112595439461

***

Aset terbesar bagi seorang artis idol adalah tubuh mereka. Akan tetapi jika kita tidak bisa menjaga kesehatan, itu sama saja kita merusak aset yang sangat berharga. Xi Lu Han seorang member Exo yang berasal dari Cina kini sedang terbaring di Rumah Sakit. Dia terlihat begitu kelelahan karena aktivitasnya yang banyak dan padat. Saat ini dia sedang berada di Cina untuk rekaman film yang dibintanginya, akan tetapi syuting tertunda sementara karena kondisi tubuh Lu Han yang kurang sehat.

Cina terkenal sebagai negara tirai bambu dan juga beberapa pepatah juga menyebutkan Gapailah ilmu sampai ke negeri Cina. Selain itu juga terdapat objek wisata yang selalu didatangi oleh para turis yaitu Tembok Besar Cina. Entah apa yang membuat banyak orang begitu tertarik untuk mengunjungi negara tersebut.

Ai Rae kini tengah berada di Beijing Airport. Yah, kepergian Ai Rae yang begitu mendadak karena dia masih ingin menyendiri setelah kemarin tanpa sengaja bertemu dengan kekasihnya, Byun Baek Hyun. Kekasih? Entahlah pria itu masih pantas disebut kekasihnya atau bukan. Mereka berdua hanya berpisah tanpa ada pengucapan putus atau break sebentar.

Ai Rae mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok perempuan yang selama ini dia rindukan, mama kandungnya.

“Nona Lim Ai Rin?” Sapa seorang pria paruh baya

Ai Rae menolehkan kepalanya karena ada yang memanggil nama Cinanya “Ahjussi.” Teriak Ai Rae senang

“Nona masih mengingat saya?.” Ucap pria itu dengan Bahasa Korea yang lancar

“Tentu saja, mana mungkin aku lupa sama ahjussi. Hehehe… Ahjussi sendirian? Dimana Mamaku?.”

“Nyonya sekarang berada di Rumah Sakit menjenguk anak dari kliennya dan saya disuruh untuk menjemput Nona Lim dan mengantar Nona kesana.” Jawab ahjussi

“Oh Begitu. Yasudahlah.”

“Mari Nona, saya bantu.” Tawar ahjussi

Ai Rae pun mengikuti ahjussi tersebut menuju mobil yang sudah siap untuk mengantarnya ke rumah Mama kandungnya. Selama perjalanan Ai Rae hanya memandang keluar jendela, melihat pemandangan Kota Beijing yang sudah lama tidak dia kunjungi semenjak orang tuanya bercerai. Dia hanya mempunyai sedikit kenangan dengan Kota Beijing ini, dan itu hanya beberapa saja yang dia ingat selebihnya tidak.

“Ahjussi bagaimana kabar putrimu sekarang?”

“Dia baik-baik saja Nona. Ah, Je Hee sekarang bekerja di Korea sebagai Dokter di Rumah Sakit Myung Woo.”

“Benarkah? Sejak kapan ahjussi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Sebenarnya itu adalah Rumah Sakit Ibu Tiriku.”

“Benarkah Nona?”

Ai Rae hanya menganggukan kepalanya dan ahjussi Shim hanya melihat dari pantulan spion yang berada di depan. Tanpa terasa mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit Beijing, Ai Rae pun langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Rumah Sakit untuk menemui Mamanya. Sebelumnya dia sudah menerima telepon dari Mamanya untuk menemuinya di Ruang VIP yang terletak di lantai 4.

“Ai Rin.” Panggil sosok wanita setengah baya yang berada di koridor lantai 4

Ai Rin adalah nama Cina Ai Rae, karena dia adalah keturunan Cina-Korea jadi dia memiliki 2 nama. Jika di Korea namanya Kim Ai Rae, sedangkan di Cina namanya Lim Ai Rin. Ai Rin merasa kenal dengan suara yang memanggilnya, lantas dia langsung menghampiri sosok wanita yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Ai Rin langsung memeluk erat wanita tersebut karena dia sudah lama tidak bertemu dengannya “Mama.”

Wanita yang dipanggil Mama oleh Ai Rin membalas pelukan dari putrinya dan memberikan sedikit sentuhan di kepala Ai Rin “Kau sehat? Kenapa begitu mendadak memberitahu Mama jika kau mau datang kesini?”

Ai Rin menggelengkan kepalanya yang berada di pelukan Mamanya dan dia semakin erat memeluk erat Mamanya “Aku ingin memberikan kejutan untuk Mama.” Ucap Ai Rin berbohong, karena sesungguhnya dia hanya ingin bersembunyi kembali dari semua orang yang berada di Korea

Nyonya Ma mengendurkan pelukannya untuk bisa melihat wajah putrinya yang sedari tadi dia sembunyikan di pelukannya “Kau berbohong. Mama sudah dapat telepon dari Ayahmu, bahwa kau sedang ada masalah. Ceritakan pada Mama.”

“Nanti saja aku ceritakan kepada Mama.”

Pintu ruangan 4210 terbuka dan menampakkan sosok seorang pria paruh baya dari dalam, Pria tersebut berjalan ke arah dimana Ai Rin dan Mamanya berdiri dan tersenyum ke arah Mama Ai Rin dan Ai Rin “Apakah ini putrimu, sayang?”

“Ai Rin, kenalkan ini Tuan Xi Lu Yuan.” Mama Ai Rin memperkenalkan seorang pria yang kini berada di samping dirinya *Aku gak tahu nama Ayah Lu Han, jadi maaf ya*

Ai Rin masih terdiam untuk membetulkan pendengarannya dahulu “Tunggu sebentar. Aku tidak salah dengarkan? Tadi Tuan memanggil Mamaku apa? Sayang?”

“Apakah ada yang salah Nona manis jika aku memanggil calon istriku sayang?” Tanya Tuan Xi

“Calon istri?” Ai Rin membulatkan matanya

“Sayang, mama akan menikah dengan Tuan Xi akhir bulan ini.”

“Menikah?”

“Iya sayang. Kau mau merestui pernikahan mama dengannya?”

“Nona manis tenang saja, paman tidak akan jahat kepada mamamu dan dirimu, karena paman sendiri punya anak laki-laki.” Jelas Tuan Xi ke Ai Rin yang hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari mamanya

“Aku pergi dulu.” Pamit Ai Rin secara tiba-tiba dan berhasil membuat semua orang yang berada disitu hanya bisa memanggil namanya terus-menerus. Akan tetapi, Ai Rin tetap tidak menghiraukannya dan dia lebih memilih pergi dari Rumah Sakit tersebut.

***

Butuh beberapa hari untuk Ai Rin untuk bisa menerima kenyataan bahwa mamanya akan segera menikah dengan pria pilihan mamanya. Kenapa Ai Rin begitu cepat menerima Ayah tirinya? Kenapa Ai Rin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menerima Hye Kyo dan Ibu tirinya? Yah, jawabannya adalah karena situasi mereka berbeda. Tuan Xi menikahi mamanya ketika sudah berstatus janda sedangkan Ibu tirinya menikah dengan ayahnya ketika status ayahnya masih sebagai suami mamanya. Bisa dibilang jika ayah Ai Rin berselingkuh atau Ibu tirinya yang telah merayu ayah Ai Rin. Selain itu, Ibu tirinya jugalah yang telah membuat kakak perempuan satu-satunya yang dimiliki oleh Ai Rin meninggal dunia.

Saat ini Ai Rin dan mamanya sedang makan malam bersama keluarga Xi. Semua telah berkumpul di Ruang Makan, akan tetapi mereka masih menunggu satu anggota lagi, putra dari Tuan Xi. Akhirnya putra Tuan Xi turun dari kamarnya dan segera bergabung bersama orang-orang yang sudah menunggunya sedari tadi

“Maaf menunggu terlalu lama.” Sesal putra Tuan Xi

“Tidak apa-apa.” Jawab Mama Ai Rin

“Ai Rin perkenalkan ini putra paman, Xi Lu Han.”

Merasa namanya dipanggil, Ai Rin mengangkat kepalanya yang sedari tadi dia tundukkan hanya untuk memainkan handphonenya “Lu Han-ge.” Ai Rin begitu terkejut melihat sosok pria yang berada di depannya

“Ai Rae?” Lu Han sendiri juga terkejut begitu melihat Ai Rae yang ada di depannya

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya mama Ai Rin

“Iya. Ai Rae adalah designer costume kami.” Jawab Lu Han

“Jangan panggil dia Ai Rae jika sedang berada di Cina, panggil dia Ai Rin, Lu Han.” Suruh Tuan Xi

“Baiklah.”

Makan malam keluarga berjalan dengan lancar. Kini Ai Rin dan Lu Han mengobrol di dalam kamar Lu Han karena kedua orang tua mereka juga sedang mengobrol di ruang tengah untuk membicarakan masalah pernikahan kedua mereka, dan tentu saja itu akan sangat membosankan. Ai Rin melihat sekeliling kamar Lu Han yang terlihat sedikit rapih. Terlihat jejeran rubik di meja yang berada di sudut ruangan, bingkai-bingkai foto Lu Han ketika kecil dan beberapa bola sepak begitu juga dengan alat musik gitar yang terletak tidak jauh dari sana.

“Ai Rin.” Panggil Lu Han

“Iya.” Ai Rin menoleh ke arah Lu Han

Lu Han berjalan ke arah Ai Rin yang kini sedang duduk di pinggiran meja belajar Lu Han. Lu Han mengangkat sebelah tangannya untuk membelai kepala Ai Rin “Kau tidak akan membenciku kan?” Tanya Lu Han sambil menatap Ai Rin

Ai Rin tersenyum “Tentu saja tidak. Untuk apa aku membencimu?”

“Bukankah sekarang aku kakak tirimu?”

“Kau memang kakak tiriku, tapi aku tidak akan membenci dirimu dan juga papa Xi.”

“Kenapa?”

“Karena aku menyukai keluargamu.”

“Tapi kenapa kau begitu membenci kakak perempuan tirimu dan ibu tirimu?”

“Itu karena situasinya berbeda Lu Han-ge.”

“Panggil aku Lu-ge. Mengerti?”

“Tidak mau. Aku mau memanggilmu Xi-ge saja.”

“Kau berani melawan perintah gegemu ini ya?” Lu Han menggelitiki pinggang Ai Rin dengan cepat

“YAAKKK!!! XI-GE HENTIKAN.” Ai Rin begitu sensitif jika ada yang menggelitiki pinggangnya

Lu Han tetap saja menggelitiki pinggang Ai Rin meskipun Ai Rin sudah marah-marah karena dia begitu senang bisa mempunyai seorang adik perempuan yang manis meskipun Ai Rin bukanlah adik kandungnya, tetapi Lu Han akan terus menjaga dan menyayangi adik perempuan satu-satunya itu. Mereka berdua pun masih asik bercanda dan tanpa disadari terdengar lagu Exo-XoXo berkumandang di kamar Luhan. Suara itu berasal dari handphone Ai Rin yang berbunyi. Ai Rin mencari handphonenya yang dia sendiri lupa menaruhnya dimana.

“Xi-ge dimana handphoneku?” Tanya Ai Rin

Lu Han ikut membantu Ai Rin mencari handphonenya. Ternyata handphone Ai Rin tergeletak di atas kasur Lu Han. Lu Han pun mengambilkannya untuk Ai Rin, tapi sebelum itu dia melihat siapa yang memanggil Ai Rin di malam hari. Tertulis di layar handphone Ai Rin dengan nama Joonnie calling.

“Xi-ge cepat berikan kepadaku.”

Lu Han pun segera memberi handphone ke Ai Rin dan Ai Rin langsung merampasnya dan mengangkat panggilan tersebut

“Yeoboseyo.” Ucap Ai Rae

“Ai Rae?”

“Ya, ini aku.”

“Kenapa kau menghilang lagi?”

“Tidak. Aku tidak menghilang. Aku hanya pergi sebentar karena ada urusan mendadak.”

“Sekarang kau di mana?”

“Aku di Cina.”

“Cina? Sedang apa kau di sana?”

“Aku hanya rindu kepada mamaku saja.”

“Jangan membuatku khawatir. Kenapa kau sering sekali seperti itu?” Nada suara Joon Myeon terdengar kesal

“Kau cerewet sekali.”

“Kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Baiklah. Jaga kesehatanmu, jangan sampai lelah. Ingat kondisi jantungmu.”

“Isshhh… Kau ini sudah seperti kekasihku yang mengkhawatirkan pasangannya.” Ai Rae mendesis kesal

“Kenapa? Tidak bolehkah aku mengkhawatirkan mantanku?”

Ai Rae terdiam sebentar untuk menjawab pertanyaan Joon Myeon “Sudahlah, aku mau istirahat dulu. Aku tutup ya.” Dan panggilan pun terputus

Lu Han yang sedari atdi menguping obrolan Ai Rin hanya bisa memicingkan matanya ke arah Ai Rin “Joonnie? Siapa dia?” Tanya Lu Han penuh selidik

“Temanku.” Jawab Ai Rin enteng

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

“Kau berselingkuh?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia terdengar begitu khawatir kepadamu?”

“Xi-ge kau cerewet sekali? Sudahlah aku keluar dahulu.”

“YAAKKK!!! AI RIN AWAS KALAU KAU BERSELINGKUH, AKU AKAN MENENDANG SELINGKUHANMU.”

“XI-GE CEREWEETTT!!!.”

***

Pernikahan orang tua Ai Rin dan Lu Han berjalan dengan lancar. Kini mereka berdua sedang berbulan madu kedua mereka. Ai Rin dan Lu Han memutuskan untuk balik ke Korea karena urusan mereka sudah selesai di Cina. Lu Han balik ke dorm Exo dan Ai Rin balik ke Apartementnya yang sudah lama dia tinggal.

Sebelum itu Ai Rae memutuskan untuk berbelok ke supermarket untuk membeli bahan makanan karena persediaan makanan di apartementnya sudah habis. Ai Rae memilih belanjaan sendirian sambil mendorong troli yang sudah terisi berberapa cemilan yang disukainya. Tanpa sengaja troli yang dibawanya menabrak perempuan yang kebetulan sedang berhenti di depannya

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

“Je Hee?” Tanya Ai Rae kepada perempuan yang dia tabrak

“Ai Rae?”

Mereka berdua tersenyum karena tidak menyangka akan bertemu di supermarket. Ai Rae mengajak Je Hee ke apartementnya untuk sekadar mengobrol sekaligus melepas rindu karena selama ini mereka tidak pernah bertemu.

“Bagaimana keadaanmu Ai Rae?” Tanya Je Hee

“Aku baik-baik saja. Lalu dirimu?” Ai Rae kini duduk di sebelah Je Hee yang menunggunya di ruang tv

“Aku juga sama. Ah, bagaimana dengan kondisi jantungmu?”

“Jantungku baik-baik saja, hanya saja aku tidak boleh terlalu lelah karena pekerjaan.”

“Kau harus berhati-hati terhadap jantungmu. Jika sampai kau sakit lagi, siapa yang akan mendonorkan jantung untukmu?”

“Tentu saja kau yang akan mendonorkan untukku. Hahahaha…” Ucap Ai Rae dengan sedikit bercanda

“Ai Rae aku serius. Aku mengucapkan ini bukan sebagai temanmu tapi sebagai dokter pribadimu.”

“Dokter pribadi?”

“Iya. Ibu tirimu telah menyuruhku untuk mengawasi perkembangan kesehatanmu karena kau sudah lama tidak pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kondisimu.”

Ai Rae hanya mendesis kesal karena Ibu tirinya selalu saja mengganggu urusan pribadinya “Baiklah Ibu Dokter, aku mengerti.”

“Besok kau harus mengunjungiku. Aku sudah membuatkan jadwal untukmu.”

“YAAKKK!!! Tidak bisakah kita tidak membahas masalah kesehatan disini?”

“Baiklah baiklah. Kau mau membahas apa sayangku?”

***

Hari ini Ai Rae memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Myung Woo, karena sedari tadi pagi Je Hee terus menghubunginya. Sungguh sangat merepotkan jika mempunyai teman seorang Dokter, pasti dia akan terus menerus mengawasi semua aktivitas pasiennya. Ai Rae melangkahkan kakinya ke Ruangan praktek Je Hee. Selama di koridor Rumah Sakit, Ai Rae selalu disambut oleh beberapa Dokter dan perawat disana karena semua pegawai di Rumah Sakit itu tahu kalau Ai Rae adalah anak pemilik dari Rumah Sakit Myung Woo sekaligus Dokter bedah jantung terkenal di Rumah Sakit itu.

“Baby.” Teriak seorang laki-laki yang sedang menunggu di tempat obat

“Xi-ge?” Ai Rae memutuskan untuk menemui gegenya terlebih dahulu “Gege sakit?” Tanya Ai Rae

“Tidak, hanya cek up kesehatan saja. Kau sendiri?”

“Sama. Gege sudah selesai? Mau menemaniku?”

“Tunggu sebentar.” Lu Han pun menghampiri managernya yang sedang menunggu panggilan untuk mengambil obat dan dia berpamitan bahwa dia akan menemani Ai Rae untuk cek up. Manager Lu Han melihat Ai Rae sebentar dan tersenyum kepadanya. Manager Lu Han tentu saja sudah mengenal Ai Rae karena mereka sudah pernah berjumpa beberapa kali.

“Ayo, gege temani.” Ajak Lu Han yang sudah selesai dengan urusannya dan dia langsung menggandeng tangan Ai Rae

Dokter Je Hee terlihat sedang berbicara dengan asistennya di depan ruangannya. Ai Rae dan Lu Han pun langsung menghampiri Je Hee.

“Je Hee-a.” Panggil Ai Rae

Je Hee menengok ke Ai Rae “Kau sudah datang?”

Ai Rae hanya menganggukan kepalanya. Je Hee akhirnya mengakhiri obrolannya dengan asistennya dan Je Hee menyuruh asistennya untuk mengambil data kesehatan Ai Rae selama ini “Ayo masuk ke ruanganku dulu sebelum kau masuk ke ruang periksa.” Je Hee mempersilahkan Ai Rae dan Lu Han untuk masuk ke dalam ruangannya

“Kau datang bersama siapa? Kekasihmu?” Tanya Je Hee setelah mereka duduk di sofa yang terdapat di dalam ruangan

Ai Rae menunjuk Lu Han yang berada disampingnya “Dia bukan kekasihku. Kenalkan dia adalah gegeku, Xi Lu Han.” Ai Rae memperkenalkan Lu Han ke Je Hee

Lu Han mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri ke Je Hee “Xi Lu Han.”

Je Hee menyambut uluran tangan Lu Han dan memberikan sedikit senyuman “Shin Je Hee. Kau pria yang cantik.” Je Hee tertawa dengan begitu keras

“JANGAN SEBUT AKU PRIA CANTIK.” Lu Han memasang wajah marah ketika ada yang bilang bahwa dia pria cantik

“Maaf Lu Han-ssi, aku hanya bercanda.”

“Hei Je Hee, kau harus memanggilnya gege karena dia lebih tua darimu.”

“Benarkah? Tapi dia terlihat begitu muda dari diriku.” Je Hee begitu heran dengan wajah Lu Han yang sedikit baby face

“Itu karena kau yang terlalu serius dalam bekerja, sehingga kau memiliki kerutan di keningmu. Hahahaha…” Ai Rae meledek Je Hee yang terlihat sedikit tua dari umur aslinya

Je Hee hanya bisa berdecak kesal “ Jika dia bukan kekasihmu, berarti kau masih bersama Joon Myeon? Wah kau awet sekali bersamanya.” Ucap Je Hee dengan ceplas ceplos

Mendengar kata Joon Myeon, Ai Rae langsung membekap mulut Je Hee karena selama ini tidak ada yang mengetahui bahwa Joon Myeon adalah mantan kekasih Ai Rae. Ai Rae menaruh jari telunjuknya di bibirnya memberi isyarat kepada Je Hee untuk tidak asal berbicara di depan orang asing. Ai Rae melirik sekilas ke arah Lu Han, dan Lu Han memasang wajah bingung begitu melihat Ai Rae yang langsung loncat ke arah Je Hee untuk membekap mulut Je Hee.

Tak lama kemudian asisten Je Hee datang masuk ke dalam ruangan untuk memberikan berkas data kesehatan Ai Rae. Je Hee menerima berkas tersebut dan membacanya sebentar. Sebelumnya Ai Rae sudah berpindah tempat ke sebelah Lu Han lagi. Ai Rae melirik takut-takut ke arah Lu Han. Lu han yang melihat gerak-gerik Ai Rae yang aneh hanya bisa membisikkan sesutau ke telinga Ai Rae “Kau harus menjelaskan ini semua kepadaku.”

“Menjelaskan apa, ge?” Tanya Ai Rae dengan suara yang seperti sedang berbisik

“Siapa itu Joon Myeon.” Jawab Lu Han

Setelah memebaca semua data kesehatan Ai Rae, Je Hee menyuruh Ai Rae untuk masuk ke ruang periksa bersama dirinya dan asistennya. Lu Han tentu saja tidak boleh masuk karena ruangan itu hanya diperbolehkan untuk pasien dan dokter saja. Akhirnya Lu Han hanya bisa menunggu di luar ruang periksa.

2 Jam Lu Han menunggu Ai Rae dan akhirnya Ai Rae keluar dari ruangan dan dia sudah berada di atas kasur dan harus segera masuk ke ruang rawat. Lu Han pun menghampiri Ai Rae untuk bertanya kondisi Ai Rae “Kau kenapa terbaring disini?”

“Gege tanya saja ke Je Hee. Aku sendiri tidak tahu padahal aku merasa sehat tapi harus di taruh di kasur bahkan aku harus di rawat.” Ai Rae terlihat kesal dengan Je Hee yang memaksanya untuk di rawat beberapa hari di ruamh sakit

Je Hee yang mendengar obrolan kakak beradik itu pun akhirnya angkat bicara “Kondisi fisik dan jantung Ai Rae lemah, jadi dia harus benar-benar beristirahat jika tidak mau terjadi sesutau yang membahayakan.” Jelas Je Hee panjang lebar ke kakak beradik tersebut

“Tapi aku sehat-sehat saja Je Hee-a. Aku bahkan masih bisa melakukan aktivitasku seperti biasa.” Elak Ai Rae

“Kau mungkin merasa baik-baik saja tapi lambat laun jantungmu akan lelah dan iu bisa membuat jantungmu berhenti berdetak secara tiba-tiba. Kau tidak mau koam seperti dulu lagi kan? Kau tidak merasa kasihan terhadap jantung Rae Neul?” Je Hee juga terlihat kesal melihat sifat Ai Rae yang susah diatur

“Sudahlah Ai Rae turuti apa perkataan Je Hee. Toh, itu buat keselamatanmu juga.” Lu Han berusaha memberi pengertian kepada Ai Rae dengan perlahan

“Baiklah.” Ai Rae hanya bisa pasrah karena dia tidak mau membuat kakak kandungnya bersedih karena sudah merelakan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari ambang kematian dulu.

Lu Han mengelus pucuk kepala Ai Rae penuh sayang “Kau tenang saja, gege akan menemanimu setiap hari disini.”

“Bawa pasien ini ke ruang VIP.” Je Hee menyuruh para perawat untuk segera membawa Ai Rae ke ruangan VIP

“Berapa hari Ai Rae akan dirawat? Apakah tidak bisa dirawat di rumah saja?” Tanya Lu Han ke Je Hee setelah sepeninggalan Ai Rae

“Itu tergantung dengan kelakuan Ai Rae. Jika dia menuruti semua perintah dariku hanya satu minggu dia bisa pulih kembali. Dan untuk rawat di rumah itu tidak mungkin, karena tidak ada yang mengawasi dirinya dan lagi pula, kau tahu sifat dan kelakuan Ai Rae yang sangat keras kepala. Jadi aku tidak mengizinkan dia untuk dirawat di rumah.”

“Baiklah. Aku menyerahkan semuanya kepada dirimu.” Lu han menepuk bahu Je Hee pelan dan dia pun meninggalkan Je Hee

***

Sudah 3 hari Ai Rae dirawat di rumah sakit dan hanya keluarganya sajalah yang mengetahui bahwa Ai Rae sedang dirawat. Lu Han, Jong In dan Hye Kyo datang bersama untuk menjenguk Ai Rae, mereka bertiga dengan susah payah menutupi kebenaran yang ada dari member Exo dan teman-teman pasangan Exo.

“NUNNAAA!!!” Teriak Jong In setiba di dalam ruangan Ai Rae

“Jong In-a tidak bisakah kau tidak berteriak?”

Jong In hanya bisa menyengir begitu mendapatkan teguran dari Ai Rae “Maaf nuna.”

“Ai Rae bagaimana keadaanmu?” Tanya Hye Kyo

‘Yah seperti yang kau lihat.” Jawab Ai Rae cuek

“Baby, lihat apa yang gege bawa.” Ucap Lu Han sambil menyodorkan satu bungkus plastik berwarna putih di hadapan Ai Rae

“Ice cream?” Jawab Ai Rae semangat

“Kau mau?”

Ai Rae menganggukan kepalanya dengan semangat karena dia begitu mencintai ice cream dan selama dia dirawat di rumah sakit, dia tidak boleh sama sekali memakan ice cream. Lu Han pun mengeluarkan ice cream dari plastik dan mulai menyuapi Ai Rae dengan pelan-pelan.

‘Enak?” Tanya Lu Han

Ai Rae menganggukan kepalanya lagi “Gege tahu saja apa yang aku inginkan.”

“Tentu saja gege tahu karena kau adik kesayangan gege.” Lu Han mencubit hidung Ai Rae dengan gemas

“YAAKKK!!! Kalian berdua tidak menghiraukan kami berdua?” Jong In terlihat gerah melihat kelakuan Lu Han dan Ai Rae

“Kai-a kau mau ice cream juga? Ini.” Lu Han menyodorkan sendok ice ceram ke mulut Jong In “Kau mau juga Hye Kyo nuna?” Tanya Lu Han menambahkan

“Bolehkah?” Tanya Hye Kyo

“Tentu saja.” Jawab Lu Han

Kini mereka berempat memakan ice cream bersama di atas kasur Ai Rae. Mereka berempat terlihat bahagia bersama. Entahlah apa ini gara-gara ice cream atau karena mereka sudah lama tidak berkumpul bersama. Meskipun mereka bukanlah saudara kandung tapi perhatian dan kedekatan mereka cukup membuat orang lain yang melihat menjadi iri.

Sreekkk… Pintu ruangan Ai Rae terbuka, ini waktunya Je Hee untuk memeriksa kondisi Ai Rae. Lu Han yang melihat kehadiran Je Hee langsung buru-buru menyembunyikan ice cream di belakang punggungnya, begitupun dengan yang lainnya mereka buru-buru mengelap sisa-sisa ice cream di mulut mereka. Je Hee sedikit heran melihat tingkah laku keempat orang yang berada diruangan Ai Rae

“Kalian sedang apa? Kenapa begitu tegang dan terburu-buru?” Tanya Je Hee penuh penasaran

“Tidak ada.” Jawab Hye Kyo dengan cepat

“Aku mau memeriksa Ai Rae, kalian turun dari kasurnya. Kasur buat pasien malah kalian pakai berempat. Dasar keluarga yang aneh.”

Lu Han, Jong In dan Hye Kyo pun langsung turun dari kasur Ai Rae begitu mendapatkan teguran dari Je Hee. Mereka bertiga pun tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala mereka yang tidak gatal. Je Hee mulai memeriksa keadan Je Hee dengan cermat dan hati-hati dan Je Hee tentu saja selalu dibantu oleh asisten pribadinya yang sudah lama bekerja dengan dirinya.

“Bagaimana kondisi Ai Rae?” tanya Lu Han ke Je Hee yang sudah selesai memeriksa kondisi Ai Rae

“Sudah sedikit membaik.”

“Wah nuna akhirnya kau sebentar lagi bisa pulang ke rumah.” Jong In terlihat bahagia mendengar kondisi Ai Rae yang sudah sedikit membaik

Ai Rae hanya tersenyum mendengar kabar baik dari Je Hee “Ah, Xi-ge bukankah kau juga harus cek up kondisimu juga? Bagaimana kalau kau diperiksa juga dengan Je Hee.”

“Kau sakit?” Tanya Je Hee ke Lu Han

“Tidak. Aku hanya perlu cek up kembali untuk mengetahui bahwa aku sudah boleh beraktivitas berat atau belum.”

“Kalau begitu biar aku periksa. Ikut aku ke ruanganku.” Je Hee menawarkan diri untuk memeriksa kondisi Lu Han

“Tapi aku sudah punya janji dengan dokter yang biasa memeriksa kondisiku.”

“Xi-ge sudah sama Je Hee saja, dia juga dokter jadi gege jangan ragu terhadapnya.”

“Baiklah, my baby.”

***

Lu Han dan Je Hee kini sudah berada di dalam ruang periksa dan hanya ada mereka berdua saja di dalm ruangan tersebut karena asisten Je Hee sedang memeriksa pasien yang lain. Je Hee menyuruh Lu Han untuk berbaring di atas kasur yang sudah tersedia di dalam ruangan. Sebelum itu Je Hee menyuruh Lu han untuk membuka baju karena dia ingin memeriksa detak jantung Lu Han terlebih dahulu.

“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membuka baju?” Je Hee sedikit kesal karena Lu Han masih memakai pakaian yang lengkap

“Untuk apa aku membuka pakaian? Tanganmu saja yang masuk ke dalam kaosku.”

“Astaga ternyata aku juga harus menghadapi pasien yang keras kepala lagi seperti Ai Rae.”

“Keras kepala? Yak, jujur saja kepadaku bahwa kau ingin melihat tubuhku ini kan?” Lu Han dengan percya diri mengucapkannya

“Tubuhmu? Aku bahkan tidak tertarik dengan dirimu Tuan Xi.”

“Benarkah?”

Je Hee tidak menghiraukan perkataan Lu Han. Je Hee pun akhirnya meriksa kondisi Lu Han dengan sedikit susah payah Je Hee memasukkan alat pendetak jantung ke dalam kaos Lu Han. Je Hee pun mendengarkan detak jantung Lu Han dengan teliti.

Pssttt… Lu Han memanggil Je Hee yang masih serius mendengarkan detak jantung Lu Han dan Je Hee hanya bisa memasang wajah datar saja tidak menghiraukan panggilan Lu Han. Karena gemas dengan ekspresi datar Je Hee, Lu Han secara tiba-tiba menarik tubuh Je Hee untuk mendekati dirinya. Je Hee tersentak kaget dengan tindakan Lu Han dan akibatnya kini Je Hee terjatuh di atas tubuuh Lu Han yang terbaring di atas kasur

“YAAKKK!!! Apa yang kau lakukan? Aku sedang memeriksamu?”

“Bisakah kau dengarkan detak jantungku yang berdegup kencang?”

Je Hee mendengarkan kembali degup jantung Lu Han dengan menutupkan kedua matanya. Benar. Degup Jantung Lu Han terdengar begitu cepat dan keras “Lu Han jantungmu bermasalah. Ini tidak normal.”

“Kau itu dokter atau bukan?”

“Tentu aku dokter, kau meragukanku?”

“Kau tidak bisa membedakan degup jantung orang normal dengan degup jantung orang sedang jatuh cinta?”

“Maksudmu?”

Lu Han sedikit gemas dengan ekspresi Je Hee dan Lu Han dengan cepat mencium bibir Je Hee. Chuuppp… “Kau fikir sendiri.” Lu Han langsung bangkit dari tidurnya dan tersenyum ke arah Je Hee, lalu pergi meninggalkan Je Hee yang masih terdiam sambil memegangi bibirnya sendiri.

Hari semakin larut dan malam pun tiba. Jong In, Lu Han dan Hye Kyo mulai berpamitan untuk segera pulang karena besok mereka masih ada pekerjaan yang menunggunya. Sebelum itu mereka sudah berjanji untuk datang kembali besok kesini. Dengan berat hati Ai Rae merelakan kepulangan mereka, sejujurnya Ai Rae masih ingin ditemani oleh mereka tapi karena ini rumah sakit jadi mereka bertiga tidak boleh menginap di sini.

Di luar ruangan Ai Rae, Lu Han menyuruh Jong In da Hye Kyo untuk pulang duluan karena dia masih ada sedikit keperluan di rumah sakit. Sebelum itu Jong In dan Lu han sudah memberi kabar ke semua member bahwa Ai Rae berada di ruamah sakit. Mereka berdua memberi tahu kabar itu secara diam-diam tanpa diketahui oleh Ai Rae. Dan Lu Han telah menyuruh Baek Hyun untuk datang ke rumah sakit pada malam hari jika ingin bertemu dengan Ai Rae.

Sejujurnya Lu Han merasa kasihan dengan Baek Hyun yang sedikit menderita karena tidak bisa sama sekali bertemu dengan kekasihnya itu. Lu Han dan Jong In akhirnya memberikan izin Baek Hyun untuk bertemu dengan Ai Rae. Lu Han masih menunggu kedatangan Baek Hyun di luar ruangan Ai Rae dengan sabar.

3 jam kemudian Baek Hyun pun datang dan segera meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Ai Rae. Setelah mendapatkan izin dari Lu Han, Baek Hyun pun langsung masuk ke dalam ruangan Ai Rae dan Lu Han pun pergi meninggalkan ruangan Ai Rae yang sudah tertutup kembali.

Baek Hyun perlahan-lahan masuk ke dalam. Ai Rae sudah tidak sadarkan diri karena dia begitu lelah dan akhirnya langsung terlelap semenjak Lu Han, Jong In dan Hye kyo pamit pulang. Baek Hyun menatap wajah Ai Rae yang sedikit pucat karena kelelahan dan tubuh Ai Rae sedikit kurus karena dia sangat susah untuk makan.

Baek Hyun menyibakkan poni Ai Rae yang meutupi wajahnya. Ditatapnya wajah Ai Rae yang selama ini dia rindukan. Jujur. Baek Hyun merasa bersalah karena telah membuat Ai Rae sedih dan patah hati. Dia melakukan itu semua karena disuruh oleh CEO mereka. Baek Hyun disuruh untuk berpura-pura berpacaran dengan –nuna yang namanya tidak boleh disebut-. Baek Hyun mengelus-elus pipi Ai Rae yang mulus, Baek Hyun perlahan menurunkan kepalanya mendekatkan diri ke kening Ai Rae.

Chuupp… Baek Hyun mencium kening Ai Rae dengan lama dan penuh kasih sayang. Dia pun membelai rambut Ai Rae dengan perlahan agar Ai Rae tidak terbangun. Semua tindakan Baek Hyun sebenarnya membuat Ai Rae merasa nyaman karena sesungguhnya Ai Rae juga sangat merindukan sentuhan dari Baek Hyun. Perlahan-lahan Baek Hyun menaiki kasur Ai Rae, dia ingin ikut berbaring disamping Ai Rae. Baek Hyun menarik kepala Ai Rae dan menaruhnya di tangannya. Dia menggunakan tangannya menjadi bantal untuk Ai Rae dan bantal yang Ai Rae pakai dia gunakan untuk dirinya.

Baek Hyun memeluk Ai Rae dengan erat, membelai rambut Ai Rae, menciumi pucuk kepala Ai Rae, menelusuri tiap inchi dari wajah Ai Rae dengan jemari telunjuknya. Mata Ai Rae yang selalu memberi kekuatan untuk Baek Hyun, Hidung Ai Rae yang selalu membuat Baek Hyun ingin mencubitnya, Pipi Ai Rae yang selalu terlihat merah jika dia malu dengan semua kelakuan Baek Hyun, dan bibir. Baek Hyun berhenti sebentar di bibir Ai Rae. Bibir Ai Rae yang selalu tersenyum untuknya dan selalu membuat Baek Hyun ketagihan untuk menciuminya setiap hari. Baek Hyun menundukkan kepalanya dan Chuuppp… Baek Hyun mencium bibir Ai Rae hanya mencium tanpa ada lumatan-lumatan kecil. Bibir Ai Rae bagaikan candu bagi Baek Hyun bagaikan obat stamina untuk dirinya.

Di dalam tidurnya yang lelap Ai Rae merasa nyaman, dia seperti bermimpi sedang berpelukan dengan Baek Hyun dan Baek Hyun sedang mencium bibirnya. Ai Rae itu bukanlah mimpi, itu adalah kenyataan. Tanpa sadar Ai Rae membalas pelukan Baek Hyun yang sebelumnya dia mengira Baek Hyun adalah boneka Winnie the pooh yang selama ini dia peluk ketika tidur dan Ai Rae semakin menenggelamkan kepalanya ke dada Baek Hyun. Sungguh itu sangat membuat Ai Rae menjadi nyaman dan semakin terlelap dalam tidurnya. Mendapatkan balasan pelukan dari Ai Rae membuat Baek Hyun semakin mempererat pelukannya dan semakin larut untuk memejamkan matanya untuk beristirahat.

Di luar ruangan Ai Rae terlihat Je Hee yang sedang berjalan menuju ke ruang Ai Rae, Je Hee hendak melihat kondisi Ai Rae pada malam hari. Dengan pelan-pelan Je Hee membuka pintu yang ada di depannya. Je Hee begitu terkejut melihat sosok seorang pria asing yang sedang memeluk Ai Rae di atas kasur. Je Hee hendak berteriak akan tetapi mulut Je Hee secara tiba-tiba disekap oleh sebuah tangan dan dengan cepat menarik tubuhnya dan menghimpit tubuhnya ke tembok.

Je Hee membulatkan matanya begitu melihat sosok Lu Han yang ada di depannya. Tanpa banyak bicara, Lu Han segera menarik Je Hee untuk pergi meninggalkan ruangan Ai Rae. Lu Han membawa Je Hee ke taman rumah sakit untuk memperjelaskan semuanya. Mereka berdua kini sudah duduk di kursi yang disediakan di taman rumah sakit. Merka berdua mengatur nafas masing-masing. Setelah merasa nafasnya teratur Je Hee pun mulai angkat bicara “Siapa pria yang ada didalam ruangan Ai Rae?”

“Dia Baek Hyun, kekasih Ai Rae.”

“Kekasih? Bukankah kekasih Ai Rae, Joon…” Ucapan Je Hee berhenti, dia teringat bahwa dia tidak boleh memeberi tahu siapa pun tentang Joon Myeon

“Iya. Hubungan mereka sedang terkena musibah. Jadi aku sengaja menyuruhnya datang pada malam hari.”

Je Hee hanya mengangguk-anggukan kepalanya pertanda bahwa dia mengerti “Sudah berapa lama mereka berhubungan?”

“Hampir 2 tahun.”

“Kau tidak pulang?”

“Nanti setelah Baek Hyun selesai dengan urusannya disini.”

“Baiklah. Aku pulang duluan.” Je Hee hendak beranjak dari tempat duduknya tetapi tangannya di tahan oleh Lu Han. Je Hee pun menoleh kearah Lu Han “Ada apa?”

“Temani aku disini sebentar.” Pinta Lu Han dengan memasng wajah yang sedikit diimut-imutkan

Je Hee pun hanya bisa pasrah dan kembali duduk di kursi panjang taman. Dengan cepat Lu Han mengambil kesempatan meletakkan kepalanya di atas paha Je Hee. Merebahkan dirinya di atas kursi taman yang keras dan dia menutup kedua matanya untuk beristirahat sebentar.

“Yaakkk!!! Apa yang kau lakukan?” Je Hee begitu terkejut dengan kelakuan Lu Han

“Aku hanya mau beristirahat sebentar saja.”

“Tapi tidak harus seperti ini kan?”

“Kau cerewet sekali.” Lu Han menarik tangan kanan Je Hee dan meletakkan di atas kepalanya “Lebih baik kau mengelus-elus rambutku saja, supaya aku bisa cepat beristirahat.”

Je Hee akhirnya menuruti perintah Lu Han untuk membelai rambutnya. Tangan kiri Je Hee kini digenggam oleh Lu Han dan diletakkan di atas dada Lu Han. Je Hee hanya bisa tersenyum melihat Lu Han yang seperti anak kecil. Lambat laun nafas Lu Han mulai teratur, itu pertanda Lu Han mulai terlelap di atas pangkuan Je Hee. Je Hee menatap wajah Lu Han yang damai ketika sedang terlelap. Je Hee begitu terpesona dengan wajah Lu Han yang sedikit imut bahkan cantik. Dengan gerakan perlahan Je Hee menelusuri setiap wajah Lu Han dari mata, hidung dan bibir. Je Hee berhenti sebentar di bibir Lu Han dan menatapinya sebentar “Bibir ini yang telah mencuri first kiss ku.” Gumam Je Hee dengan pelan

Lu Han merasa sedikit terusik karena ada yang meraba-raba wajahnya. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan melihat Je Hee yang masih terdiam menatap bibir Lu Han “Begitu terpesonakah kau dengan bibirku ini.” Je Hee tidak mengetahui jika Lu Han sudah terbangun dari tidurnya, dia pun terlonjak kaget begitu mendengar suara Lu Han

“Ka… Kau sudah bangun?” Ucapan Je Hee sedikit terbata-terbata

“Bahkan aku sudah terbangun semenjak kau meraba-raba wajahku ini.”

“Benarkah?” Je Hee membulatkan matanya tidak percaya

“Je Hee-a.” Lu Han menatap kedua mata Je Hee semakin dalam. Je Hee hanya bisa terdiam. Perlahan-lahan Lu Han mengangkat tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Je Hee. Chuuppp… Lu Han mencium bibir Je Hee, memberikan sedikit lumatan-lumatan kecil di ciuman mereka. Je Hee hanya bisa mengerjap-erjapkan kedua matanya. Lu Han memegang leher Je Hee untuk memperdalam ciuman mereka. Tanpa Je Hee sadari, kini dia sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Lu Han, dan dia pun mulai membalas setiap sentuhan yang Lu Han berikan. Mereka berdua begitu menikmati sensasi yang begitu menggairahkan.

Lu Han melepaskan tautan mereka yang hampir terjadi selama beberapa menit. Dia menatap kedua mata Je Hee yang kini juga menatapnya. Dia tersenyum puas karen amendapatkan balasan yang tidak terduga dari Je Hee. Lu Han kembali menciumi bibir Je Hee berkali-kali secar cepat dan singkat. Chup chup chup…

“Terima kasih.” Ucap Lu Han dan kemudian pergi meninggalkan Je Hee yang kini terdiam di kursi taman. Je Hee mengira Lu Han akan menyatakan cinta untuknya, akan tetapi Lu Han langsung pergi begitu saja meninggalkan Je Hee.

***

Seorang pria terlihat sedang berdiri di depan pintu ruangan Ai Rae dengan mengepalkan kedua tangannya. Pria tersebut terlihat kesal ketika hendak ingin masuk kedalam ruangan Ai Rae. Dia pun langsung menutup pintu ruangan tersebut dengan kasar sehingga terdengar sura yang sedikit keras dan membuat Baek Hyun terbangun kaget.

Baek Hyun sempat melihat sosok yang ada di depan pintu akan tetapi sososk tersebut hanya seperti bayangan saja “Siapa dia?” Baek Hyun bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Baek Hyun mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas meja, dia melihat angka 03.00 pada layar handphonenya “Aku harus segera pulang.” Baek Hyun segera berpamitan dengan Ai Rae yang masih terlelap di alam tidurnya dan tidak lupa seperti biasa dia memberikan sedikit ciuman yang manis di bibir Ai Rae.

Di lain tempat Lu Han sempat mengintip sosok seorang pria yang berdiri di depan pintu ruangan Ai Rae, akan tetapi sosok pria tersebut tidak mengetahui keberadaan Lu Han yang bersembunyi di balik tembok.

***

~ 7 Oktober

Hari ini adalah ulang tahun salah satu member Exo yang sedikit agak pelupa, Zhang Yi Xing. Pesta ulang tahun Yi Xing dipersiapkan oleh semua member Exo. Mereka memberikan kejutan untuk Yi Xing. Mereka mengadakan pesta yang meriah di dorm Exo. Semua erdatangan untuk memberikan ucapan selamat untuk Yi Xing, hanya saja Ai Rae yang saat ini sedang berada di rumah sakit tidak bisa ikut meriahkan pesta tersebut.

Seusai pesta semua member beserta pasangannya berniat untuk menjenguk Ai Rae di rumah sakit. Mereka juga ingin membagikan kebahagiaan untuk Ai Rae. Kini semua sudah berkumpul di ruangan Ai Rae begitu juga dengan Je Hee dan asistennya karena Ai Rae yang mengajak mereka berdua untuk nerkumpul bersama. Mereka tidak lupa membawa beberapa kue untuk dibagikan ke Ai Rae. Ai Rae begitu bahagia melihat semuanya berkumpul di rumah sakit untuk menjenguknya.

“Yi Xing-a saengil chukae.” Ucap Ai Rae memberikan selamat ke Yi Xing yang kini duduk disebelah kasurnya

“Terima kasih.” Yi Xing tersenyum melihat Ai Rae yang begitu tulus memberikan ucapan selamat untuknya. Selain ucapan yang tulus, senyuman dari Ai Rae membuat Yi Xing mengingat sosok perempuan yang begitu dia cintai tapi sepertinya perempuan itu telah melupakan dirinya.

“Xi-ge. Bisakah kau mengambilkan hadiah untuk Yi Xing.” Tanya Ai Rae ke Lu Han yang kini sedang ikut berbaring dengannya di atas kasur, membiarkan sebelah tangannya menjadi sandaran untuk Ai Rae

“Dimana baby?”

“Di dalam lemari itu.” Tunjuk Ai Rae ke lemari yang ada di samping Jong In

“Hei Kai, ambilkan hadiah untuk Lay yang ada di lemari itu.” Lu Han menyuruh Jong In yang sedang duduk bermesraan dengan Hyun Mi

“Isshhh… Hyung menggangguku saja.” Desis Jong In

“Biar aku saja yang mengambilkannya.” Baek Hyun menawarka dirinya karena dia sedari tadi hanya bisa terdiam berderi dari kejauhan dan kebetualan posisisnya juga dekat dengan lemari yang Ai Rae maksudkan. Baek Hyun segera mengambil hadiah untuk Yi Xing. Sebuah kotak persegi panjang berwarna putih, berhiaskan pita berwarna hijau. Kotak tersebut sama persis seperti kotak hadiah Baek Hyun terdahulu, itu adalah warna kesukaan dari Ai Rae.

Baek Hyun menyerahkan kotak tersebut ke Ai Rae dengan tersenyum kaku “Ini.”

Ai Rae menerima kotak yang di berikan oleh Baek Hyun “Terima kasih.” Ai Rae sama sekali tidak membalas senyuman dari Baek Hyun, dia langsung memalingkan wajahnya ke Yi Xing “Ini hadiahmu Yi Xing, semoga kau suka.” Ai Rae tersenyum manis ke Yi Xing

Baek Hyun hanya bisa tersenyum miris ketika melihat senyuman manis Ai Rae yang seharusnya untuk dirinya, diberikan untuk orang lain. Yi Xing menerima hadiah dari Ai Rae dan segera membukanya. Sebuah syal yang telah Ai Rae rajut sendiri dari dulu sebelum dia sakit dan sebelum hubungan dia dan Baek Hyun bermasalah. Syal berwarna biru dan merah dengan sedikit hiasan yang menjadi ciri khas Ai Rae. “Bagus. Apakah kau yang membuatnya?”

Ai Rae menganggukan kepalanya “Tentu saja. Sini aku lilitkan kelehermu.” Ai Rae pun melilitkan syal tersebut ke leher Yi Xing. Ai Rae tanpa sengaja melihat sebuah kalung yang melingkar di leher Yi Xing “Kalung yang cantik.”

“Terima kasih. Ini bagus sekali.” Ucap Yi Xing dan Chuupp… Yi Xing langsung mencium pipi Ai Rae dengan cepat dan tersenyum ke Ai Rae

Deg.. Deg.. Deg.. Detak jantung Ai Rae menjadi berdegup kencang karena mendapatkan ciuman dari Yi Xing secara tiba-tiba. Ai Rae hanya bisa memegangi dadanya yang sedikit aneh. Dia merasa seperti merindukan sentuhan dari Yi Xing, akan tetapi dia sendiri merasa tidak menegerti dengan ini semua. Semua orang yang berada di dalam ruangan hanya bisa terbengong melihat Yi Xing yang tiba-tiba mencium pipi Ai Rae. Karena selama ini Yi Xing dan Ai Rae tidak pernah berdekatan seperti Ai Rae dengan Baek Hyun, Jong In, Joon Myeon dan Lu Han.

“Ai Rae kau tidak apa-apa?” Tanya Je Hee yang sedari tadi meliahat Ai Rae memegangi dadanya

“Aku tidak apa-apa Je Hee.”

“Kau yakin?”

Ai Rae hanya bisa tersenyum ke Je Hee yang kini terlihat begitu khawatir dengan dirinya.

“Baiklah. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu.”

“Kau mau kemana dokter cantik?” Lu Han menahan tangan Je Hee yang hendak pergi

“Aku harus bekerja Tuan Xi.”

“Kau tidak bisa kemana-mana, karena kekasihmu ada disini.” Lu Han dengan percaya dirinya menyebutkan dirinya adalah kekasih Je Hee

“Maaf?”

“Je Hee-a, maukah kau menjadi dokter cintaku?” Lu Han langsung menyatakan cintanya untuk Je Hee di hadapan member yang lain

“Ya?”

“Kau sudah bilang ‘iya’, berarti sekarang kau kekasihku.”

“Je Hee selamat. Hahaha…” Ai Rae memberikan selamat untuk Je Hee dengan sedikit tertawa “Xi-ge, kau sama sekali tidak romantis.” Ejek Ai Rae ke Luhan

“Buat apa romantis kalau tidak bisa mempertahankan cintanya.”

Ucapan Lu Han sedikit tapi begitu menyakitkan. Sebenarnya Lu Han tidak bermaksud menyindir Baek Hyun, akan tetapi Baek Hyun seperti merasa ucapan Lu Han untuk dirinya. Karena merasa seperti pengganggu, Baek Hyun akhirnya berpamitan untuk keluar mencari angin segar. Ai Rae hanya bisa menatap kepergian Baek Hyun yang secara tiba-tiba. Sebenarnya dia ingin sekali menahan Baek Hyun disini, akan tetapi dia masih sedikit ragu untuk melakukan itu semua.

Ai Rae menatap Lu Han dengan sinis dan sedikit memberikan cubitan kecil di pinggang Lu Han “Kau jahat sekali Xi-ge.”

“Kenapa? Aku tidak bermaksud menyindirnya.” Lu Han dengan cueknya berucap seperti itu

“Aku akan menyusul Baek Hyun hyung.” Kyung Soo akhirnya mengeluarkan suaranya dan dia pergi menyusul Baek Hyun dari belakang

***

Next story

“Kenapa kau jadi sering datang kesini?”

“Siapa yang memberi tahumu berita seperti itu?”

“Aku menghormatimu sebagai leader.”

“Pilihan ada di tanganmu. Ikuti kata hatimu.”

TBC

KYAAA!!!! Gak disangka ternyata story ini masih bisa berlanjut. Wakakakakak… Hmm… Menurut kalian ini story ada konfliknya gk sih? Kira-kira berhubungan sama story-story sebelumnya gk? Ok dh aku tunggu RCL dari kalian saja. Apakah kalian bingung? Luhannya sedikit ya? Kurang banyak? Minta sama Luhan sendiri aja ya… Buahahaha… Oh iya sebenarnya ini mau aku publish pas my unicorn boy ulang tahun, tapi berhubung karena saya sedikit GALAU jadi di undur dh.. KKKKKK… Happy birtLay my unicorn boy. Muaaccchhhh….. Jangan panggil aku author, panggil aku ai. Okokok ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s