[EXOFFI Facebook] Thank you

10849893_692593694191351_2765631312366177946_n

 

Title : Thank you

Author : @sellafeb

Cast : Jung Jijae (OC) | Kim Jongin

Genre : school life, little bit comedy, little bit romance.

Rating : PG-13

Lenght : One-Shoot

Happy Reading^^

Author P.O.V

Seorang yeoja menggeliat kecil di atas tempat tidurnya. Ia terbangun saat cahaya matahari memasuki jendela kamarnya. Saat dia melihat jam di ponselnya yang menunjukan 6 pagi KST. Yeoja itu langsung menghela napasnya pelan. Bukan karena jam ponselnya, tetapi karena wallpaper ponselnya yang memperlihatkan keakraban dua insan di foto tersebut.

Keakraban seorang yeoja dan namja. Keakraban yang membuatnya terus memikirkan namja itu. Memikirkan sedang apa dia, sedang ada dimana dia, itulah yang menghantui pikirannya, pikiran seorang Jung Jijae.

“huh, kapan kau akan mengerti? Aku harap dalam waktu dekat ini.” Gumam Jijae pelan.

Jijae langsung bergegas untuk mandi dan sarapan. Mengingat hari ini ada pelajaran dari guru yang cukup garang. Jung Jijae adalah seorang siswi dari Kyunghee High School. Ia adalah siswi yang terbilang malas belajar. Dan kadang dia juga sedikit telat berfikir dan tidak nyambung jika sedang di ajak bicara.

Dia begitu polos dan jarang berbicara jika tidak penting. Tapi dia menunjukkan sikap yang berbeda pada seseorang. Namja itu adalah seorang namja yang menemaninya berfoto dan di jadikan wallpaper ponsel olehnya. Yang bernama, Kim Jongin.

Kim Jongin adalah sahabatnya dari kecil. Main dan bersenang-senang bersama-sama. Tapi satu yang dapat membuat seorang Jung Jijae jatuh cinta pada Kim Jongin, yaitu ketulusan Jongin.

Jongin adalah namja yang tidak mudah memberikan perhatiannya pada seorang yeoja. Tapi jika dia sudah menyayangi yeoja tersebut, ia akan memberikan ketulusan cintanya pada yeoja tersebut. Lalu apakah Jongin juga merasakan hal yang sama dengan Jijae? Entahlah, hanya dia dan Tuhan-lah yang tahu.

Lupakan masalah Jongin, kini Jung Jijae tengah bergegas pergi ke halte bus. Ini lah kegiatan rutinnya setiap pagi. Dia akan berjalan dari rumahnya lalu menunggu bus datang di halte. Sendirian saja.

Jijae duduk di kursi halte tersebut, ia menunggu bus datang sambil mengayun-ayunkan kakinya. Setelah ia bosan dengan mengayun-ayunkan kakinya, lalu dia beralih menghentak-hentakkan telapak kakinya ditanah.

Setelah menunggu bus terlalu lama, yeoja berambut panjang itu berdiri di depan halte. Berharap saat ia menengok ke arah jalan, ada bus yang segera datang. Tapi hasilnya nihil, dia tidak melihat bus satupun yang lewat dihadapannya.

“huh, kemana busnya? Kenapa sudah jam segini tidak datang juga? Kalau begini caranya aku bisa telat sampai sekolah. Ah, menyebalkan sekali!” gerutu Jijae sambil menghela napasnya kasar.

Setelah lebih dari 10 menit menunggu bus datang, akhirnya dari kejauhan Jijae melihat sebuah bus yang datang mendekat padanya. Tapi sayangnya saat Jijae ingin memasuki bus itu, ternyata sudah penuh.

“huh, ini benar-benar cobaan bagiku. Hari ini adalah hari yang sial bagiku! Huh, menyebalkan!” gerutu Jijae seraya menghentak-hentakkan telapak kakinya ke tanah.
Lalu ia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya agar tidak emosi dengan keadaan ini. Merasa ada suara yang sedikit mengganggunya, dia langsung membuka matanya perlahan. Dan tepat didepan matanya saat ini, tengah ada sebuah motor yang di kendarai oleh seorang namja yang tidak asing dimatanya.

“kenapa kau masih disini? Kau bisa telat masuk sekolah kalau begini caranya. Ayo cepat naik ke motorku! Kita akan pergi bersama ke sekolah!” tutur namja itu.

Jijae masih terperangah dengan penuturan namja di hadapannya itu. Rasanya seperti di jatuhi beribu-ribu bunga di atas kepalanya. Dia malah tersenyum tak jelas tanpa menghiraukan Jongin yang ada di hadapannya itu.

“Jijae-ah? kau kenapa?” tanya Jongin heran.

“eoh? gwenchana. Ayo!”

Selama diperjalanan menuju sekolah Jongin nampak mempercepat laju kecepatan motornya setelah ia sempat menengok jam yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Hingga Jijae harus memegang mantel milik Jongin.

“lingkarkan tanganmu itu di pinggangku! Kalau tidak, kau bisa jatuh!” perintah Jongin.

“aniya, aku tidak perlu melingkarkan tanganku di pinggangmu itu. Lagipula aku tidak akan jatuh. Aku kan sudah memegang mantelmu.”

“kau yakin?”

“ne, aku yakin.”

Jongin menunjukkan smirknya tanpa diketahui oleh Jijae. Tiba-tiba saja Jongin benar-benar menambah laju kecepatan motornya, sampai-sampai Jijae sontak melingkarkan tangannya di pinggang Jongin.

“katamu tidak perlu melingkarkan tanganmu di pinggangku. Tapi mengapa sekarang malah melingkarkannya?” goda Jongin.

“iya sudah kalau tidak mau!” balas Jijae seraya akan melepaskan tangannya dari pinggang Jongin, “yak! Sudahlah, tetaplah seperti ini,” kata Jongin seraya menahan tangan Jijae yang mulai menjauh, “jangan kau lepaskan! Aku sangat nyaman! Sungguh!” sambung Jongin dengan nada serius.

Jijae sedikit kaget dengan ucapan namja yang memboncengnya sekarang ini. Dia tidak menyangka namja itu akan mengatakan hal yang begitu membuat kupu-kupu diperutnya berterbangan tak karuan. Rasanya sangat bahagia sekali.

‘apa kau mempunyai perasaan yang sama denganku, Jongin-ah? kuharap begitu.’ gumamnya dalam hati.

Setelah kira-kira 15 menit dalam perjalanan, akhirnya Jijae dan Jongin sampai di sekolah mereka, Kyunghee High School. Sebuah sekolah terpandang yang tepatnya berada di Ibukota Negara Korea Selatan, Seoul.

Sekolah yang dapat membuat Jijae dan Jongin semakin dekat dan selalu bersama. Mereka memang selalu bersekolah di sekolah yang sama. Ini memang keinginan kedua orangtua mereka. Karena keluarga Kim dan keluarga Jung sudah seperti saudara.

“akan ku antar kau ke kelasmu!” ucap Jongin.

“yak! Kelasmu itu di samping kelasku! Lalu untuk apa kau berlagak mengantarku? Setiap hari kau pasti melewatinya dulu sebelum kau masuk ke kelasmu! Dasar namja pabbo!” ejek Jijae.

“yak! Berani-beraninya kau berkata seperti itu, nona Jung!” geram Jongin seraya mencubit pipi Jijae pelan.

“yak! Appo! Kenapa kau mencubit pipiku?” keluh Jijae.

“biarkan saja! Itu balasan karena kau mengataiku!” timpal Jongin.

“yak! Kim Jongin!” geram Jijae seraya memukul lengan kanan Jongin keras.

“yak! Appo! Kenapa kau memukulku begitu keras, nona Jung? Sebenarnya kau itu yeoja atau namja? Kenapa bisa memukul lengan orang sampai merah seperti ini? Huh?” geram Jongin seraya mengelus-elus lengan kanannya yang merah karena pukulan Jijae.

“kau saja yang terlalu lemah! Aku hanya memukulmu pelan tapi kau berlagak seperti di pukul oleh raksasa saja!” timpal Jijae.

“yak! Seharusnya kau minta maaf karena sudah membuat lenganku menjadi merah seperti ini! Dasar yeoja pabbo!” geram Jongin.

“yak! Kau ini!” geram Jijae seraya memukul lengan kiri Jongin.

“yak! Kenapa kau memukulku lagi? Kau ini sungguh tidak berperasaan!” keluh Jongin.

“biarkan saja! Kau yang memulainya lebih dulu!”

“ah, sudahlah! Belajarlah dengan baik!” ucap Jongin lalu mengacak-acak rambut Jijae pelan, “dengarkan apa yang di katakan songsaenim saat sedang mengajar! Awas saja sampai kau mendapat peringkat bawah lagi di semester ini! Aku akan menghukummu!” ancam Jongin.

“ne. Tapi kan belum tentu kalau aku mendengarkan yang di katakan songsaenim lalu aku akan mengerti. Kau kan tahu sendiri aku tidak mudah mencerna perkataan para songsaenim, terlebih lagi Lee Songsaenim!” keluh Jijae.

“yak! Kenapa kau begitu cepat menyerah? Tetaplah semangat dan jangan pernah menyerah, Jijae-ah! Aku yakin kau dapat mencerna dengan baik perkataan para songsaenim jika kau memperhatikan pola pengajaran mereka. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini! Ingat itu!” tutur Jongin.

“ah, baiklah. Kau juga harus mendapat peringkat tinggi di semester ini, songsaenim!” ledek Jijae dan menekan kata terakhirnya itu.

“yak! Aku memang selalu mendapat peringkat tertinggi di setiap semester. Memangnya kau! Yang hanya bisa mendapat peringkat ke-99 dari 100 siswa Kyunghee.” Ledek Jongin.

“yak! Jadi sekarang kau mengejekku karena peringkatku? Baiklah, lihat saja di semester ini kau akan tertegun dengan peringkatku!” tutur Jijae.

“baiklah. Buktikan padaku!” timpal Jongin.

“ne.” Kata Jijae seraya pergi dari hadapan Jongin.

‘anak itu! Selalu saja bersikap seperti ini.’ Batin Jongin.

Tiba-tiba saja Jijae kembali ke hadapan Jongin. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Dan memasang wajah yang cukup angkuh.

“lihat saja! Aku akan membuktikannya padamu! Kau akan menyesal karena telah mengejekku!” tutur Jijae lalu pergi dari hadapan Jongin untuk kedua kalinya.

Jongin hanya bisa membulatkan matanya dan merasa tak habis fikir dengan sikap Jijae. Mula-mula dia pergi dan lalu kembali hanya untuk mengatakan hal tidak penting seperti itu? Apa dia kurang kerjaan? –pikir Jongin.

—-

Berkali-kali Jongin berpas-pasan dengan Jijae dan berkali-kali juga Jijae menghindari Jongin. Ada apa dengannya? –pikir Jongin.

Dan sekarang tepat di hadapan Jongin, Jijae dengan santai lewat begitu saja seperti orang yang tidak saling kenal. Sombong sekali dia! –pikir Jongin.

“yak! Jijae!” geram Jongin.

“mwo?” tanya Jijae sengit.

“huh, jinjja! Kau ini benar-benar..”

“mwoya? Kau sudah mengejekku, jadi aku tidak bisa diam saja! Dengan cara inilah aku membalasmu! Apa ini sakit untukmu?” tanya Jijae makin sengit.

“yak! Jung Jijae! Aku benar-benar tidak habis fikir denganmu.” Geram Jongin.

“nado! Kau sudah mengejekku sekejam itu, jadi aku akan benar-benar membuktikannya padamu! Aku akan melampauimu! Lihat saja nanti.” Tutur Jijae.

“silahkan saja! Tapi dalam mimpi.” Timpal Jongin seraya meninggalkan Jijae.

Jijae mencoba mencerna kata-kata Jongin, dan dia baru tersadar apa maksud Jongin itu, “yak! Kim Jongin! Berhenti kau! Aku akan membunuhmu!” geram Jijae.

—-

“Eomoni, apa Jijae ada?” tanya Jongin.

“ada, ayo duduk dulu. Eomoni ingin bicara padamu!” tutur Eomma Jijae.

“ne. Ada apa, Eomoni?” tanya Jongin.

“dia sedang belajar sekarang. Aku tidak mengerti kenapa dia jadi sering belajar seperti sekarang ini, ada apa dengannya?” tanya Eomma Jijae bingung.

Jijae memang tipe anak sekolah yang bisa dibilang jarang terlihat memegang buku di rumah. Bahkan jika saja tidak di paksa, dia tidak akan menyentuh buku-buku itu. Dia selalu bilang ‘bukankah ada orang sukses yang tidak pintar alias bodoh, jadi untuk apa pintar? Jika saja kita beruntung, mungkin kita akan sukses. Jadi berhentilah menyuruhku belajar!’. Dan itu adalah kalimat paling memuakkan yang pernah Jongin dan Eomma Jijae dengar selama hidup mereka.

“mungkin karena sudah mendekati ujian semester, Eomoni. Jadi, biarkan saja dia belajar dengan tekun. Siapa tahu saja dia dapat melampaui peringkatku.” Tutur Jongin seraya tersenyum.

“ah, kau benar. Tapi itu sedikit mustahil.” Timpal Eomma Jijae.

“mustahil apa? Eoh?” geram Jijae yang ternyata mendengar percakapan Jongin dan Eommanya.

“ah, aniya. Sudahlah, belajar saja kau sana!” perintah Eomma Jijae.

“untuk apa kau kemari?” tanya Jijae sengit.

“eoh? Aku? Aku ingin bertemu dengan…”

“denganku? Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku!”

“siapa bilang aku ingin bertemu denganmu? Jangan terlalu percaya diri, Jijae-ah! Aku kesini ingin menemui Eomma-mu. Aku ingin memberikan bingkisan ini, karena Eomma-ku baru saja pulang dari Jepang tadi pagi. Ini Eomoni, semoga Eomoni suka dengan bingkisannya.” Tutur Jongin seraya memberikan bingkisan yang ada di tangannya kepada Eomma Jijae.

‘satu-kosong.’ Batin Jongin seraya menunjukan smirknya.

Seorin menghela nafasnya kasar, lalu melipat tangannya di depan dada. Awas saja kau! Aku akan membalasmu. –batin Jijae.

“eoh? Ne, ini pasti lezat. Kamsahamnida, Jongin. Baiklah, tunggu disini! Eomoni akan membuatkanmu minum!” tutur Eomma Jijae.

“sudah tidak usah, Eomma. Dia juga sudah mau pulang, iya ‘kan?” tanya Jijae seraya menunjukan smirk-nya.

Jongin menghela nafasnya pelan, “ne, Eomoni. Aku juga sudah mau pulang, tidak usah repot-repot. Baiklah, annyeong!” ucap Jongin seraya membungkukan tubuhnya dan melempar tatapan sengit kepada Jijae

“ne, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada Eomma-mu!”

“ne.” Timpal Jongin seraya bergegas menaiki motornya.

—-

“sial, apa-apaan dia! Awas saja nanti!” gerutu Jongin saat telah sampai di rumahnya.

Drrt.. drrt..

Message from Jijae

Satu sama! Impas!

Jongin menghela nafasnya kasar saat membaca pesan dari Jijae. Kekanak-kanakan sekali dia. –pikir Jongin.

Message to Jijae

Terserah!

Beralih pada Jijae. Jijae merasa puas telah membuat Jongin bad mood. Bahkan saking senangnya sampai-sampai dia tidak sengaja membentur tiang di hadapannya.

“ah, appo!” lirih Jijae.

Saat dia melihat ke cermin, “omo! Dahiku! Jadi tidak cantik lagi.” Lirih Jijae saat melihat dahinya sedikit membiru karena benturannya dengan tiang tadi.

—-

Jongin tengah berdiri di depan kelas Jijae. Dia sedang menunggung Jijae. Lama sekali dia, sebenarnya dia itu kemana? –pikir Jongin.

Lalu tak lama, Jijae pun sudah terlihat tak jauh dari pandangannya. Tapi Jijae sedikit memegang dahinya. Ada apa dengannya? –pikir Jongin.

“wae? Kau kenapa?” tanya Jongin seraya menyingkirkan telapak tangan Jijae yang ada di dahinya.

“ada apa dengan dahimu?” cemas Jongin.

“karenamu.” Timpal Jijae.

“karena aku?” tanya Jongin bingung.

“sudahlah.” Tutur Jijae seraya berlalu begitu saja.

Saat Jongin ingin menahan Jijae ternyata bel sudah berbunyi dan dia melihat sudah ada songsaenim yang memasuki kelasnya. Sial! –batin Jongin.

—-

Bel pulang berbunyi. Seluruh siswa Kyunghee High School berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Begitupun juga dengan Jongin. Dia bergegas pergi ke kelas Jijae, yang tepat ada di sebelah kelasnya.

Tapi dia malah tidak melihat Jijae, padahal teman-teman sekelasnya baru saja keluar kelas bersamaan dengan kelas Jongin. Tapi kemana Jijae? –pikir Jongin.

“chogiyo, apa kau melihat Jijae?” tanya Jongin pada teman sekelas Jijae.

“dia izin pulang saat pelajaran berlangsung.” Tutur teman sekelas Jijae.

“izin pulang? Waeyo?” tanya Jongin.

“dia sakit. Makanya tadi aku mengantarnya ke ruang kesehatan terlebih dahulu.” Jawab yeoja itu.

“ah, baiklah. Gomawo.” Timpal Jongin.

‘kenapa kau tidak bilang kalau kau izin pulang, Jijae-ah?’ batin Jongin.

Lalu Jongin bergegas pergi ke parkir motor lalu langsung ke rumah Jijae untuk melihat keadaan yeoja itu.

Setelah sampai di rumah Jijae, Jongin langsung memencet bel rumah Jijae. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Jijae.

“annyeong, Ahjumma. Apa Jijae ada di rumah? Aku dengar di izin pulang karena sakit, apa itu benar?” tanya Jongin pada pelayan rumah tangga Jijae.

“ne. Nona Jung ada di kamarnya. Silahkan masuk!” kata pelayan itu mempersilahkan Jongin masuk.

“ne. Kamsahamnida, Ahjumma.” Timpal Jongin.

Jongin menaiki satu-persatu tangga menuju kamar Jijae. Lalu namja itu perlahan membuka knop pintu kamar Jijae. Jongin iba saat melihat Jijae terbaring lemah di atas tempat tidur. Dia memakai es di atas dahinya yang membiru.

“apa kau masih sakit?” tanya Jongin.

“eoh? Untuk apa kau kesini?” tanya Jijae sengit.

“sudahlah, lupakan dulu hal itu. Kenapa kau tidak bilang kalau kau izin pulang?” tanya Jongin.

“karena tidak ada gunanya memberitahumu.” Timpal Jijae.

“lagipula kalau aku memberitahunya, apa kau akan mengantarku pulang? Tidak ‘kan? Kau kan lebih mementingkan pelajaran-pelajaran itu dari pada aku!” lirih Jijae.

“bukan begitu, Jijae-ah. Apa kau tidak mengerti posisiku?” keluh Jongin.

“posisi apa? Posisimu sebagai ketua kelas? Posisimu sebagai ketua klub basket? Posisimu sebagai siswa peringkat satu saat ujian? Atau posisimu sebagai namja yang di gandrungi oleh banyak yeoja di sekolah? Eoh? Kau begitu mempunyai banyak posisi! Apa kau melupakan itu?” tutur Jijae.

“kenapa kau malah menuturkan hal-hal seperti itu. Posisi yang aku maksud adalah sebagai seorang namja.” Timpal Jongin.

“namja? Apa maksudmu?” tanya Jijae.

“namja yang begitu mengkhawatirkanmu, namja yang begitu menyayangimu, namja yang begitu menginginkan yang terbaik untukmu. Itulah yang aku maksud namja.” Tutur Jongin.

“mwoya?” tanya Jijae tertegun.

“aku menyukaimu. Bahkan sekarang aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintaimu! Rasanya di campakkan olehmu kemarin adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupku, kau tahu?” tutur Jongin.

Jijae hanya bisa diam dan termenung dengan penuturan Jongin. Dia berfikir apakah di sedang bermimpi atau tidak. Rasanya memang sedang bermimpi.

‘Apa ini nyata?’ batin Jijae seraya menepuk pipinya.

“appo!” lirih Jijae.

“yak! Kenapa kau menepuk pipimu sendiri?” geram Jongin seraya mengelus pipi Jijae, “apa sakit?” sambung Jongin.

“tidak sama sekali.” Timpal Jijae seraya memegang tangan Jongin yang tengah bertengger di pipinya.

Jongin tersenyum dan di susul oleh Jijae. Mereka tersenyum bahagia karena penuturan Jongin yang begitu manis.

Jongin mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar Jijae. Kamar yang penuh dengan bingkai foto. Dan tak dapat di pungkiri bahwa semua bingkai foto tersebut membuat Jongin tertegun.

“apa kau ini diam-diam adalah penggemarku?” goda Jongin seraya mengambil salah satu bingkai foto yang menampakkan fotonya dengan Jijae.

Bingkai foto di kamar ini hampir 90% adalah fotonya bersama Jongin. Memang Jijae sengaja memajangnya karena itu akan menjadi penyemangat hidupnya.

“yak! Aniya!” elak Jijae.

“jinjja? Tapi kelihatannya kau benar-benar penggemarku!” goda Jongin lagi.

“yak! Itu tidak sama sekali.” Elak Jijae lagi.

“mengaku saja!”

“aniya! Aku bukan penggemarmu!”

“yak! Sekarang ini, aku adalah namjachingu-mu. Jadi jujurlah padaku.”

“siapa bilang kau namjachingu-ku, eoh? Aku tidak bilang seperti itu.” Goda Jijae.

“ah, baiklah. Aku pergi.” Ucap Jongin seraya melangkahkan kakinya untuk pergi.

“jangan pergi!” teriak Jijae.

Jongin tersenyum, “kau bilang aku bukan namjachingu-mu, jadi untuk apa kau menahanku?” goda Jongin.

“kenapa kau begitu cepat marah seperti itu. Huh, menyebalkan!”

Jongin mendekat pada Jijae dan mengacak-acak rambut Jijae pelan, “bagaimana dengan dahimu itu? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Jongin cemas.

“sudah baikan kok. Tak sengaja terbentur tiang.”

“yak! Kenapa kau begitu ceroboh sampai bisa membentur tiang, huh?” geram Jongin.

“salahkan saja tiangnya! Kenapa dia ada di hadapanku lalu aku membenturnya!” timpal Jijae seraya menunjuk tiang yang terlihat di depan kamarnya itu.

“yak! Tiang itu memang sudah ada di situ dari dulu! Memang kau saja yang terlalu ceroboh! Pabbo-ya!” geram Jongin.

“yak! Kenapa kau malah memarahiku? Jahat sekali kau.”

“aku bukan marah, hanya saja aku tidak habis pikir denganmu. Mana bisa namja setampan diriku ini mempunyai yeoja pabbo seperti dirinya?” gerutu Jongin pelan di kalimat terakhirnya.

“apa? Mwoya?”

“aniya!” elak Jongin.

“bagaimana dengan ujian semester?” tanya Jongin.

“bagaimana apanya?” tanya Jijae seraya memakan snack.

“apa kau sudah belajar?” tanya Jongin.

“sudah. Aku lelah bila terus-terusan belajar.” Keluh Jijae.

“lelah? Memang kau belajar berapa jam dalam sehari?” tanya Jongin.

“30 menit.” Jawab Jijae santai.

“30 menit? Bagaimana dengan di sekolah?”

“ya pokoknya itu sudah aku akumulasikan dari belajar di rumah dengan belajar di sekolah.”

“hanya 30 menit? Jadi di sekolah apa yang kau pelajari? Satu mata pelajaran saja bisa 2 sampai 3 jam, sisa waktu mata pelajaran itu bagaimana? Lalu pelajaran yang lain bagaimana? Eottokhe, Jijae-ah?” geram Jongin.

“bagaimana apanya? Ya tidak aku pelajari! Kau ini kenapa cerewet sekali, huh?”

“bukannya cerewet, tapi…. ah sudahlah. Lalu kenapa Eomoni bilang kau jadi rajin belajar? Huh? Eottokhe?” tanya Jongin.

“oh, masalah itu. Saat Eomma-ku masuk ke dalam kamarku, aku hanya pura-pura saja.” Jawab Jijae santai.

“pura-pura apa?” tanya Jongin.

“pura-pura belajar.”

“yak! Kau menipu Eomma-mu sendiri?”

“bukan seperti itu. Tapi aku memang sedang malas belajar saat itu.”

“saat itu? Bukankah memang setiap saat kau malas belajar, huh?” geram Jongin.

“sudahlah, susah bicara dengan siswa peringkat pertama di sekolah!” lirih Jijae.

“maka dari itu. Belajarlah! Kau bilang kau mau melampauiku. Kenapa kau malah malas belajar?” tutur Jongin lembut.

“hanya saja, memang sulit untuk….”

“untuk belajar? Waeyo? Itu karena kau tidak punya niatan sedikitpun untuk belajar! Ayolah, jangan menyia-yiakan waktumu! Cepat belajar! Lusa sudah memasuki hari pertama ujian semester. Hwaiting!”

Jijae tersenyum karena Jongin menyemangatinya. Dia jadi benar-benar semangat sekarang. Dia juga sudah mulai belajar di temani oleh Jongin. Bukan hanya di temani tapi Jijae juga di ajari oleh Jongin.

“apa kau sudah mengerti?” tanya Jongin setelah menjelaskan suatu pelajaran pada Jijae.

“aku masih bingung! Bisakah kau ulang sekali lagi?”

“eum, baiklah.”

Begitu baiknya Jongin dalam menghadapi sikap Jijae yang lumayan menyebalkan. Begitu sabarnya pula Jongin mengajarkan begitu banyak pelajaran yang Jijae tidak mengerti. Bukankah dia namja yang begitu sempurna? Memang iya.

Eomma Jijae yang melihatnya dari balik pintu kamar Jijae pun tersenyum melihat Jongin yang tengah mengajarkan putri kesayangannya itu.

‘belajarlah yang tekun, Jijae-ah. Eomma harap kau bisa meningkatkan peringkatmu! Hwaiting!’ batin Eomma Jijae.

—-

Jijae sukses mengerjakan ujiannya di hari ini. Besok adalah ujian hari terakhirnya. Apalagi besok berjadwal pelajaran yang begitu menyeramkan. Begitu menakutkan, apalagi kalau sudah melihat hasil ujian dari pelajaran itu. Hasilnya akan lebih seram di banding hantu sekali pun.

Jijae belajar dengan sangat tekun sebelum ujian hari terakhirnya. Dia sangat bersemangat kali ini. Karena besok adalah pelajaran yang paling tidak di sukai olehnya, terlebih lagi Songsaenim yang mengajarnya itu.

Baginya, pelajaran ini dan Songsaenim ini adalah keramat baginya. Sangat keramat bahkan. Matematika dan Lee Songsaenim.

“Bukankah itu sangat keramat?” tanya Jijae yang tengah menempelkan ponselnya di telinga kanannya.

“tidak ada yang keramat, Jijae-ah. Besok ujian hari terakhir, jadi kau harus tetap belajar.” Nasehat Jongin yang berbicara di seberang sana.

“baiklah, Songsaenim.”

“baguslah. Selamat belajar, yeojachingu-ku!”

“ne, gomawo. Kau juga ya!”

Jijae menutup sambungan teleponnya dengan namjachingu-nya itu. Lalu menatap buku matematika yang tergeletak di atas meja belajarnya, kemudian yeoja itu menghela nafasnya pelan. Dan duduk di kursi belajarnya itu.

“hwaiting, Jung Jijae!” teriak Jijae.

—-

Ujian semester telah selesai, para siswa tinggal menunggu hasilnya. Hari ini adalah pengumuman hasil ujiannya. Pengumuman itu akan di tempel di papan pengumuman sekolah nanti siang.

Jijae sedikit cemas dengan peringkatnya. Dari tadi dia tidak memakan pesanan yang telah ia pesan dari penjaga kantin. Dia malah terdiam seraya terus menghela napasnya.

“kau kenapa?” tanya Jongin.

“gwenchana.”

“kenapa kau tidak menyentuh makananmu? Ada apa? Kenapa kau…”

“Jongin-ah.” ucap Jijae memotong perkataan Jongin.

“eoh?”

“apa yang akan terjadi dengan peringkatku?” lirih Jijae.

“tentu saja akan naik.”

“naik apanya? Sungguh, aku mencemaskan hal itu.”

“untuk apa cemas? Kau sudah belajar dengan tekun ‘kan? Dan aku juga percaya kalau kau bisa mendapatkan peringkat yang lebih tinggi dari semester sebelumnya. Percayalah!”

Jijae mengangguk dan tersenyum dengan penuturan Jongin. Tapi masih saja dia merasa cemas di hatinya.

“sudahlah, jangan di pikirkan. Makanlah! Aku yang traktir!”

—-

Pengumumannya sudah mulai di tempel oleh Lee Songsaenim. Para siswa juga sudah mulai mengerubungi papan pengumuman itu. Jongin dan Jijae juga sudah mulai bergegas untuk melihat hasilnya.

“chukkae! Kau memang selalu pintar, Jongin!” ucap Lee Songsaenim yang tak sengaja berpas-pasan dengan Jongin dan Jijae.

“kamsahamnida, Lee Songsaenim!” timpal Jongin lalu membungkuk pada Lee Songsaenim.

“kau juga, Jijae! Chukkae! Aku sedikit tidak menyangka. Kau harus meningkatkannya lagi.” Ucap Lee Songsaenim seraya tersenyum.

“aku?” tanya Jijae seraya menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.

“ne. Silahkan lihat hasilnya.” Timpal Lee Songsaenim yang kemudian pergi menjauh.

Jongin dan Jijae saling melempar tatapan. Dari mata mereka tersirat sebuah pertanyaan, ‘apa peringkat Jijae naik?’. Jongin dan Jijae langsung berlari ke arah papan pengumuman itu.

Ekspresi Jongin dan Jijae sama-sama tidak percaya. Terlebih lagi ekspresi teman-teman mereka saat melihat ekspresi dua sejoli itu. Mereka tidak percaya saat nama Jung Jijae ada di peringkat 47 dari 100 siswa.

“apa dia salah mengetik?” tanya Jijae.

“entahlah, tapi mana mungkin.” Timpal Jongin.

“Jijae-ah, kau luar biasa! Lihatlah peringkatmu itu. Kau bahkan mengalahkanku!” ucap salah satu siswa.

“ne, kau luar biasa.” Ucap yang lainnya.

“chukkae!”

“ne, kamsahamnida!” timpal Jijae lalu sedikit membungkuk kepada teman-temannya.

—-

“sudahku bilangkan kalau kau berusaha pasti kau bisa.”

“tapi aku tidak melampauimu.” Lirih Jijae.

“yak! Aku memang terlahir untuk peringkat pertama! Jadi jangan pernah berharap kau bisa melampauiku!” ejek Jongin.

“yak! Dasar sombong kau!”

“aku sudah memberitahu Eomma-mu akan peringkatmu.”

“eoh? Kapan?”

Flashback On.

“jinjja? Dia mendapat peringkat ke 47? Jangan menipuku, Jongin!”

“aku sungguh-sungguh, Eomoni. Bukankah itu luar biasa?”

“ah, baguslah. Terima kasih sudah mengajarinya, Jongin-ah. Kau memang calon menantu idaman!”

Flashback Off.

“mwoya? Eomma-ku bilang kau calon menantu idaman? Kenapa dia bisa berdusta sekejam itu? Aish, jinjja!”

“yak! Aku memang calon menantu idaman untuknya! Dan juga… calon suami idaman untukmu!” ucap Jongin lembut.

Jijae tersenyum akan ucapan Jongin. Dia benar-benar namja yang sangat manis. Manis sekali. Kau lebih manis dari gula sekali pun. –pikir Jijae.

“gomawo. Terima kasih atas segalanya! Aku mencintaimu!” ucap Jijae.

“nado saranghae, Jijae-ah!” timpal Jongin lalu memeluk erat tubuh yeojachingu-nya itu.

Pelukan hangat seorang Kim Jongin. Namja bermarga Kim yang telah berhasil mencuri hatinya. Mencuri perhatiannya selama bertahun-tahun. Namja yang selalu bersikap manis saat Jijae membutuhkannya dan namja yang begitu sabar dalam menghadapi sikap Jijae yang luar biasa menyebalkan itu.

Jongin-ah, terima kasih untuk segalanya. Aku ingin kita selalu bersama sampai maut yang memisahkan kita. Aku harap takdir mempersatukan kita. Aku mencintaimu! Aku mencintai kelebihan dan juga kekurangamu yang bahkan tidak pernah terlihat. Kau memang begitu sempurna untukku. Aku bahkan mungkin hanya setitik dari kelebihanmu dan seluas kekuranganmu. Maka dari itu aku membutuhkanmu! Terima kasih karena telah menjadi namja yang begitu menyayanginku! Cintailah aku walaupun aku tidak sesempurna dirimu! Saranghae, Kim Jongin! –Jung Jijae.

Finish~~~~

Huwaaaa… ini pertama kalinya bisa mem-finishkan one-shoot~ ff ini sebenernya udah berbulan-bulan ada di folder laptop, tapi baru mood buat nyelesainnya sekarang. Oiya buat yang nanyain ff Not you, but him part 7, maaf ya masih dalam tahap pengerjaan. Tapi masih tetep aku lanjutin kok walaupun lagi UASJ maaf yaaaaa^^
Oiya thanks admin EFF yg sudah men-share ff ini😉 jangan lupa RCL ya readersJ *bow* Big Love❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s