[EXOFFI Facebook] No Other

10846007_687999317984122_8331540303011423984_n

 

Tittle : No Other
Cast : Lee Minri || Kim Jongin
Author : K-Writer
—o0o—
Jarum panjang jam menunjukkan angka 12, sedangkan jarum pendeknya berhenti tepat pada angka 10. Gemerlap cahaya yang bergantung di langit tetap ragu-ragu untuk memancarkan sinarnya. Tidak! bintang-bintang tersebut bukannya enggan bersinar di langit malam, namun mereka semua kalah. Kalah melawan cahaya lampu menara tinggi yang menjulang begitu terang dan indah. Sebuah karya tangan manusia yang patut dikagumi karena arsitekturnya. Ya, Menara Eiffel.


Wanita bersurai coklat keemasan itu tengah duduk berbalut selimut Pororo di atas balkon luar kamar hotelnya. Kepalanya menengadah, lalu tubuh kecilnya sedikit menggeliat, membekap tubuhnya sendiri dengan selimut itu lebih erat. Dingin-pun mampu ia kalahkan dengan benda kesayangannya tersebut.
Suara derap langkah terdengar mendekatinya, membuat leher wanita bernama lengkap Lee Minri itu menoleh dengan sendirinya. Ia tersenyum simpul saat melihat sosok yang berjalan ke arahnya membawa dua cangkir putih yang terlihat mengepulkan uap panas di atasnya.
“Mau coklat panas?” tawar seorang pria saat tubuh tegapnya berjongkok di sebelah Lee Minri sembari menyodorkan secangkir coklat panas.
Lee Minri menatap cangkir putih yang memiliki motif hati di tengahnya tersebut. Ia terkikik geli saat mengetahuinya. Perlahan balutan selimut itu merenggang seiring tangan Lee Minri yang mulai menelusup keluar untuk meraih cangkir di genggaman pria tadi.
Sebelum tangan Lee Minri berhasil meraih cangkir berisi coklat panas tersebut, tangan pria tadi tiba-tiba menjauh. Membuat Lee Minri membulatkan matanya dan menatap kejahilan pria di hadapannya sebal. “Yak! Kim Jongin!” seru Lee Minri geram.
Jongin terbahak. “Ini untukku semua, kok.” ujarnya di sela-sela kekehannya yang semakin mereda. Lee Minri tidak menanggapi, ia justru membuang muka, malas menatap wajah yang sesungguhnya adalah candu untuknya.
“Hei, jangan marah.” rayu Jongin setelah tawanya terhenti lalu ikut duduk di samping Lee Minri. “Berbagilah selimut denganku, kau tahu’kan? Di sini dingin. Makanya aku membawa ini untuk kita berdua. Aku tadi hanya bercanda.” jelas Jongin lalu menaruh satu cangkir coklat tepat di ubin depan tubuh Lee Minri yang terbalut selimut.
Lee Minri hanya melirik ke cangkir yang berisi coklat panas tersebut, lalu dengan cekatan mengambilnya dan menyeruputnya. “Hei, pelan-pelan.” sergah Jongin melihat kelakuan wanitanya.
Lee Minri masih diam tak menanggapi keberadaan Jongin, ia sibuk dengan kegiatannya menikmati secangkir coklat panas dengan rakus, atau mungkin berpura-pura rakus. “Mana bayaranku?” tukas Jongin yang hanya membuat ekor mata Lee Minri meliriknya, namun hal itu tak berlangsung lama saat wanita tersebut kembali fokus kepada coklatnya.
Kini Kim Jongin-lah yang dibuat kesal, gilirannya-lah yang membuang muka. Dan kini adalah sesi Lee Minri untuk tertawa terbahak-bahak melihatnya. “Hei, jangan marah.” ucap Lee Minri beralih menatap wajah Jongin yang memandang lurus ke depan.
“Kemarilah!” imbuh Lee Minri membuka selimut Pororo-nya dan memberi ruang kosong. Mengisyaratkan agar tubuh pria di sampingnya lebih mendekat ke arahnya. Ya, berbagi itu adalah hal yang indah.
Perlahan sudut bibir Jongin terangkat membentuk sebuah lengkungan sabit. Tubuhnya mulai bergeser mendekat ke arah Lee Minri. Saat dua tubuh itu telah berada dalam satu ruang yang membuat bahu mereka bersentuhan, selimut Pororo tersebut menghangatkan mereka berdua.
“Bukankah seperti ini lebih nyaman?” tanya Jongin saat merasakan sesuatu bersandar di bahu kanannya. Ia tersenyum saat melirik ke arah bahunya. Kepala itu bersandar tanpa aba-aba, terlihat begitu nyaman dengan ukiran indah yang melengkung di wajah cantiknya.
“Ya. Coklat panas, selimut Pororo, dan keadaan seperti ini membuat udara dingin pergi jauh-jauh dari kita.”
***
Dua insan itu masih bersanding tanpa ada tanda-tanda pergerakan untuk menyudahi momen manis —romantis— tersebut. Terhitung hampir 30 menit mereka berada di balkon, memandangi keajaiban buatan yang begitu menawan di mata mereka.
Sebuah menara lambang cinta dan kasih. Kekaguman itu belum hilang sejak 2 hari yang lalu mereka menginjakkan kaki di tanah Paris dan memutuskan untuk menginap di hotel yang cukup strategis dari letak Menara Eiffel.
Sesekali mereka bersendau-gurau dengan obrolan yang menggelitik perut, membahas tentang masa-masa mereka sekolah, dan momen-momen yang selama ini mereka alami bersama. Atau lebih tepatnya, momen yang mereka buat bersama.
“Kenapa kau selalu membawa selimut Pororo itu kemana-mana?” tanya Jongin lalu menyesap coklat panasnya yang tersisa setengah gelas.
Lee Minri terkikik untuk beberapa saat setelah mendengarnya, lalu cangkir di genggamannya itu ia letakkan di ubin sebelahnya karena isinya sudah tak berbekas.
“Karena aku membutuhkannya.” jawab Lee Minri di bahu Jongin. Dirinya nampak seperti kurcaci di dalam balutan selimut tersebut apabila dibandingkan dengan tubuh Jongin. “Aku tidak bisa tidur tanpa selimut ini.” tambahnya.
“Yak! Apakah kau tidak membutuhkanku saat ingin tidur?” sungut Jongin karena merasa tidak puas akan jawaban wanita di sampingnya. Lee Minri hanya terkekeh mendengar rajukan Jongin.
“Tidak. Aku selalu bisa tidur tanpamu. Asalkan ada selimut ini, aku pasti bisa tidur.” jawab Lee Minri meledek.
Terdengar hembusan napas kasar keluar dari mulut Jongin. Sesudahnya, sedikit ada pergerakan di bibirnya tanpa ada suara. Seperti mencibir dalam bentuk gumaman. Ya, Jongin tengah menggerutu.
“Akan kubuang selimut ini suatu saat.” Gumaman Jongin yang satu itu terdengar di indera pendengaran Lee Minri. Gadis itu bergidik lalu mengangkat kepalanya dari bahu Jongin, segera menoleh dan menatap Jongin tajam.
“Jangan pernah untuk…”
Satu sentuhan lembut dan cepat itu membuat Lee Minri langsung bungkam di dalam balutan selimut. Dirinya yang mungil, bertambah menciut saat menerima kecupan singkat di bibir dari Jongin. Alhasil, ledakan yang ingin keluar dari mulutnya berubah menjadi cibiran karena keterkejutan.
Jongin terkekeh karena berhasil membuat raut wajah Lee Minri menjadi merah padam. Matanya kembali tergerak untuk memandang lurus ke depan. Sebuah pemandangan yang disuguhkan tepat di hadapannya, membuat dirinya tak henti-hentinya memuji dalam hati.
“Menara Eiffel itu indah, ya?” tanya Jongin, tak mengindahkan racauan Lee Minri yang belum mereda. Seperti suara dengungan lebah pikirnya.
Cibiran itu berangsur lenyap, terganti oleh tatapan setuju pada kilatan mata Lee Minri. Ia kembali bersandar di bahu Jongin, ikut memandang ke arah Menara Eiffel berdiri kokoh.
“Ya. Sangat indah.” timpal Lee Minri.
“Tahun depan mau kemana lagi?” celetuk Jongin tiba-tiba.
Mata Lee Minri sedikit membulat diiring reaksi tak percaya dari keningnya yang tiba-tiba mengerut. Ia ingin tersenyum, namun itu terasa sulit saat mendengar ucapan Jongin. “Apa uangmu tidak pernah habis, hm?” tanya Lee Minri khawatir, masih dalam sandarannya di bahu Jongin.
Lee Minri merasakan kepala Jongin menggeleng, mencoba menerka-nerka apakah semuanya itu benar. “Akan kulakukan apapun untukmu.” ucap Jongin. “Lagipula hanya satu tahun sekali.” lanjutnya.
“Tahun pertama adalah Pulau Jeju.” imbuh Jongin lagi, ia tersenyum kecil.
“Tahun kedua adalah Fujiyama. Benar’kan?” tanya Jongin yang beberapa detik kemudian mendapat deheman mengiyakan dari mulut Lee Minri.
“Tahun ketiga adalah Maldives. Aku paling senang di sana. Kau nampak seksi dengan pakaian minim.” tawa itu meledak dan menggelegar dari mulut Jongin. Membuat Lee Minri mendelik dan tanpa bosa-basi memukul kepala Jongin keras. “Aww!!” rintih Jongin memegangi bekas jitakan yang dilayangkan Lee Minri di kepalanya.
“Bersihkan otak kotormu itu!” sungut Lee Minri geram. Menatap wajah polos tersebut dengan tatapan menusuk. Dengan segera, Jongin mengalihkan kontak matanya dan kembali menatap Menara Eiffel.
“Dan untuk pertama kalinya, kita bisa ke Eropa. Ke Menara Eiffel di Paris. Aku pasti benar-benar kaya sekarang.” tukas Jongin diiringi kekehan renyah. Lee Minri hanya memutar bola matanya malas, melenguh panjang dan menyandarkan kepalanya lagi di bahu Jongin.
“Kutanya sekali lagi. Tahun depan….” Jongin mengambil jeda. “Kita ingin berbulan madu kemana? Sudah menjadi momen resmi kita setiap tahun’kan?” imbuhnya.
Entah mengapa, Lee Minri tersenyum lebar saat mendengar perkataan Jongin. Ya, Jongin adalah pria yang mampu memikat hatinya. Seorang pria baik yang bertanggung jawab. Seorang pria yang telah mendampinginya selama 4 tahun terakhir ini. Berawal dari janji suci di atas altar, pria berkulit tan itu akan selalu setia dan menjaga Lee Minri selamanya. Sampai ajal menjemput pasangan suami-istri tersebut.
Setiap tahun, mereka selalu mengambil cuti untuk berbulan madu. Sekitar satu minggu di awal bulan yang memasuki hari ulang tahun pernikahan mereka. Ya, malam ini, tepat 4 tahun mereka bersama. Membuat kenangan indah bersama. Tak ada rasa bosan yang menghampiri mereka selama ini.
“Tahun depan aku ingin ke Bali.” jawab Lee Minri setelah cukup menimang-nimang tempat yang ingin ia datangi. Bali, adalah tempat selanjutnya.
“Bali? Kenapa?” tanya Jongin heran untuk mencari alasan yang kuat dari pemikiran istrinya.
“Karena katanya, Bali itu tempat yang indah. Aku ingin ke sana.” Alasan Lee Minri hanya membuat Jongin jengah dan mendengus bosan. Bagaimana tidak? Pasalnya, setiap wanita yang berstatus sebagai istrinya itu ditanyakan mengapa ingin ke suatu tempat, ia pasti hanya menjawab “karena tempat itu indah”. Tahun-tahun yang lalu alasannya-pun sama, “karena tempatnya indah.”.
“Apakah kau selalu tidak mempunyai alasan yang lain? Aku bosan kau mengatakan itu selama 4 tahun berturut-turut.” cerca Jongin. Lee Minri yang mendengarnya tentu tergelak tak menjawab.
“Karena Bali tempat yang indah, pasti kita juga bisa membuat kenangan indah yang lain saat berada di sana.”
Untuk beberapa saat, keheningan mengisi momen romantis mereka di kala menikmati keindahan kota Paris dan kokohnya Menara Eiffel saat malam hari. Desiran angin yang dingin terasa hangat saat menyentuh kulit wajah mereka, mungkin mereka akan terus betah dalam posisi seperti itu. Mengabaikan waktu yang ternyata sudah begitu larut.
“Aku punya hadiah lain di ulang tahun pernikahan kita yang ke-empat ini.” ucap Jongin tiba-tiba saat mendengar suara Lee Minri yang menguap.
“Apa itu?” tanya Lee Minri menoleh ke arah suaminya dengan mata sayup-sayup yang berkaca-kaca menahan kantuk.
Tubuh Jongin sedikit tergerak untuk menghadap ke arah Lee Minri. Dua wajah itu kini saling berhadapan, kontak mata-pun tidak dapat dihindari. Lee Minri tenggelam bersama tatapan teduh Jongin, rasa kantuknya seketika pergi. Menghilang begitu saja tak menyisakan bekas sepertinya coklat panasnya yang sudah habis.
Jongin menampilkan seringaian penuh arti, memajukan kepalanya pelahan ke wajah istrinya. Dengan insting yang kuat, Lee Minri mundur beberapa jarak menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di belakang. Seketika, bulu halus di kulit tangannya meremang melihat ekspresi… uhm, mesum suaminya.
Alih-alih Jongin terus merangkak ke arah Lee Minri dengan senyuman misterius, wanita itu kini terpojok pada dinding balkon. Tubuh kecilnya membeku ngeri saat kedua tangan Jongin sudah menempel penuh di dinding balkon, mengunci setiap pergerakannya.
“Ma-mau apa?” tanya Lee Minri gugup. Kadar oksigen di sekitarnya terasa menipis begitu cepat, terganti oleh udara hangat yang keluar dari setiap helaan napas milik Jongin.
“Sudah 4 tahun, apakah kau tidak ingin memiliki buah hati yang lucu-lucu.” ujar Jongin dengan nada yang ia buat-buat menggoda.
Jujur, Lee Minri ingin tertawa saat mendengar suara menggelikan tersebut. Namun kenyataannya, keadaan saat ini sangat tidak tepat untuk tertawa. Bisa saja mulutnya nanti dibungkam oleh… Ah! Lupakan. Ia terlalu sering menonton drama.
“Jong-Jongin.” Lee Minri mengeluarkan sisi lembutnya. Ya, memohon dan memelas adalah salah satu jurus jitunya untuk meruntuhkan keinginan terpendam seorang Kim Jongin. “Aku mengantuk.” sambung Lee Minri masih memelas. Ia sudah berusaha menahan detak jantungnya saat wajah itu begitu dekat dengan wajahnya. Sungguh, Jongin bisa membuatnya serangan jantung dalam jarak sedekat itu.
Jongin mulai memundurkan kepalanya lagi dengan mulut yang ia kerucutkan. Alhasil Lee Minri bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya lagi sambil menetralkan detak jantungnya. Jurus andalannya berhasil untuk menggagalkan momen berdurasi dua menit yang menegangkan barusan.
Namun, ketenangan dan kelegaan di hati Lee Minri tidak berangsur lama. Saat wanita itu membuang napas panjang, dengan tiba-tiba Jongin langsung menarik selimut Pororo yang sedari tadi ia pegang erat karena takut Jongin berbuat macam-macam. Tentu, Lee Minri terkejut dan langsung memberikan tatapan heran ke arah Jongin yang mulai berdiri menjuntaikan selimut kesayangannya.
“Bukankah kau bilang tidak bisa tidur tanpa selimut ini?” tandas Jongin kembali menampilkan seringaian penuh arti. Lee Minri mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dapat mencerna perkataan Jongin.
Dengan teganya, Jongin membuang selimut itu ke luar, membuatnya jatuh ke bawah terbawa angin malam yang menerbangkannya menuju tempat perlandasan terakhir. Mata Lee Minri membulat penuh, ia langsung beranjak dari tempatnya terduduk, alih-alih berusaha meraih selimutnya yang sudah jatuh terbawa angin.
“Selimutku!!!” pekik Lee Minri dengan suara tingginya. Ia menatap kepergian selimutnya dari pinggir balkon. Tidak mungkin ia meloncat hanya untuk meraih selimutnya, bukan?
Kesempatan itu dipergunakan Jongin untuk mengangkat tubuh kecil Lee Minri dalam keadaan tidak siap. Menggendong wanita itu ala bridal style menuju ke kamar. Ya, bisa diperjelas. Tepatnya ke sebuah ranjang krim susu dengan seprei merah marun klasik.
“Yak! Kim Jongin! Turunkan aku! Turunkan!” Lee Minri terus berontak dengan suara ketidak-mau-an yang mungkin bisa merusak gendang telinga. Tuhan memang adil, menciptakan sesuatu dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di balik tubuh kecil Lee Minri, terdapat suara yang memiliki frekuensi cukup tinggi ternyata.
“Terima kasih selimut Pororo. Berkat dirimu, malam ini Lee Minri tidak akan tidur.” batin Jongin melayangkan seringaian mesum.



Sebuah cinta yang begitu manis. Mereka saling melengkapi dan memiliki. Sebuah pasangan yang di dasari rasa cinta begitu besar, mewujudkan harapan mereka untuk menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Kita do’akan saja, usaha Jongin malam itu untuk menghadiahi Lee Minri buah hati bisa berhasil, dan kita do’akan juga agar keesokan harinya Lee Minri bisa berjalan dengan benar saat mengitari tempat-tempat indah di Paris.
Final~
Uwooohhh~ sungguh gaje ini fanfic. Membuat fanfic di kala berhiatus ria karena lagi fokus-fokusnya belajar. Kosakata saya serasa berkurang dan rada-rada membosankan sepertinya. Maap :v

Fanfic ini terlahir dan kupersembahkan kepada kawanku yang ber-ultah hari ini. Semoga keinginan terbesarnya agar bisa yad**n*an ama Kai bisa terwujud… ah~ Apa ini? Apa ini? Rate M di sensor!!!😄 *diinjek para pembaca* #JustKiddingWoi

Sudah yaaa… otak mesum kalian tolong hilangkan terlebih dahulu dan kutunggu responnya-___-

#SalamHangat #K-Writer

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s