[EXOFFI Facebook] My Enemy My Love (Chapter 1)

10847970_689513371166050_8990884153997188932_n

 

Part 1

Title : My Enemy My Love
Author : Soyeonkji88 (Cho So Yeon)
FB : Cho So Yeon
Blog : Soyeonkji88fanfic.wordpress.com
Cast : Song Sang In, Byun Baehyun
Length : Series
Gendre : Romance | School Life
Rated :PG-17
Cover by : Taengkerbell

Cerita ini hanya karangan belaka dan ASLI ciptaan author. Kalo ada kesamaan tempat dan karakter itu semua tidak sengaja. Don’t bash, this story is really from my imagine and this is just for fun. Ini sudah pernah saya publish di fb pribadi saya.
RCL Please. Untuk semuanya mohon jadi pembaca yang baik yang pastinya harus meninggalkan jejakterlebih dahulu. Author ga bosen – bosennya buat ngingetin tentang ini.
SIDERnya banyak ini, tapi yang komen bisa diitung pake jari jadi JEBAAAALLL. Authornya jinak kok jadi ga bakal gigit kalo komenannya gimana2 karena komenan kalian juga sebagai penyemangat author.

Hargai kerja keras author yang bikin cerita ini sampe dibantuin begadang jadi NO PLAGIAT.
Mari pertama – tama kita ucapin makasih buat artworker pribadiku *cieilah gaya bener* taengkerbell yang uda bikin cover nan cantik ini, gomawo saeng. Happy reading ^^

My Enemy My Love Part 1..


“Jeileumeun Byun Baekhyun imnida” ujar seorang namja bertubuh kecil yang berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan dirinya yang membuat mataku tak berkedip saat melihat ke arahnya.
“Kau duduk di samping Sang In. Arraseo?” ujar Han Nam saem. ‘Dia duduk di sampingku?’ batinku. Kualihkan pandanganku pada Kai yang sudah memelototkan matanya ke arahku, aku hanya memamerkan deretan gigi putihku.
“Jeileumeun Song Sang In imnida” ujarku sambil mengulurkan tanganku pada Byun Baekhyun. Dia hanya menolehkan kepala sekilas kemudian melanjutkan pandangannya menuju Han Nam saem yang menjelaskan mata pelajaran matematika itu dan mengabaikan uluran tanganku. Aku hanya mendengus kesal dan dibarengi dengan ledekan Kai karena perlakuan namja sombong itu.
“Kau mau ikut kami menuju kantin?” tawarku pada Baekhyun.
“Shireo, aku mau ke perpustakaan” ujarnya singkat.
“Sudahlah, doamu tak terkabulkan untuk mengajaknya. Kajja aku sudah lapar” sahut Kai sambil menarik kerah seragamku dari belakang.

“Ck, aku baru kali ini bertemu dengan namja seperti itu. Mengerikan” dengusku kesal sambil menyeruput banana milk ku.
“Bagaimana penampilannya? Jarang sekali ada namja yang bersikap seperti itu padamu” sahut Luhan di sampingku sambil merebut banana milk dari genggamanku.
“Ne, dia benar – benar sombong” gerutuku lagi.
“Sudahlah, kau tak perlu menghiraukannya Sang In-ah” ujar Kai.

Kulajukan mobilku perlahan ketika kulihat seorang namja tengah berkutat dengan motor sport nya. Kuperhatikan dari dalam mobilku dan dia benar – benar Baekhyun.
“Waegurae?” sapaku padanya.
Dia menoleh padaku sekilas, “Entahlah. Tiba – tiba saja berhenti dan tak mau jalan” jelasnya.
Kucoba memeriksa motornya, “Oh, ini harus diperiksakan” ujarku. “Ahjushi, tolong menuju ke alamat yang akan kuberikan nanti dan bantu aku membawa motor temanku. Oh, gamsahamnida ahjushi” ujarku melalui ponselku ini.
“Aku tak membutuhkan bantuanmu” ujarnya.
“Kajja, kuantar kau pulang” ajakku. “Dan aku tak menerima tolakan darimu” lanjutku sambil mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobilku.
Tak ada kata – kata yang terlontar dari bibir kami berdua, sama – sama terdiam hingga kami tiba di depan rumahnya. “Sang In-ssi..” “Baekhyun-ah..” ujar kami bersamaan yang membuat wajah kami saling tersipu malu.
“Kau dulu..” ujarku.
“Anio, kau dulu”.
‘Namja ini benar – benar suka memaksa’ batinku mengomel. “Besok pagi aku akan menjemputmu karena seperti yang kita tahu, motormu masih tak bisa digunakan. Dan seperti biasa, aku tak menerima penolakan” ucapku.
“Tapi..” dia menjawab pembicaraanku dan langsung kupotong, “Oke, sampai ketemu besok. Bye” sahutku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Baekhyun hanya menatap lurus yeoja yang sudah pergi dari hadapannya.

Keesokan paginya..
“Annyeong Baek..” sapaku ketika melihatnya keluar dari dalam rumahnya. Dia hanya menjawabnya dengan lambaian tangannya sekilas. “Oh, nanti motormu akan diantar oleh ahjushiku” lanjutku.
Setibanya di sekolah..
“Kau bersamanya?” tanya Luhan sambil menunjuk ke arah Baek yang sudah pergi tanpa mengucapkan apapun padaku.
“Ne, namja tak tahu sopan santun itu langsung pergi begitu saja setelah kujemput dia ke rumahnya pagi ini”.
“Yak, apa yang kau lakukan? Mengapa kau menjemputnya?” teriakan Kai tepat di telingaku.
Aku hanya berlalu tanpa menghiraukan Kai yang serasa ingin mencekikku dari belakang. Baekhyun sudah duduk manis di bangku yang sederet denganku. “Baek, ajariku matematika. Kepalaku serasa ingin pecah ketika melihat tumpukan angka – angka ini” bisikku.
“Ssttt, jangan berisik. Perhatikan Han Nam saem menjelaskan pelajaran” ujarnya sambil tetap menatap bukunya.
“Yak Byun Baekhyun..” teriakku. Dan ajaib, sekelas menatap tajam ke arah kami terlebih lagi Han Nam saem memberikan tatapan membunuhnya.
“Song Sang In! Byun Baekhyun! Apa yang kalian ributkan? Kalian mau saya hukum? Sepulang sekolah nanti, temui saya dan jangan macam – macam untuk kabur tanpa menemui saya” ujarnya sambil sedikit berteriak. Dan sekarang aku harus menerima tatapan membunuh dari Baekhyun.

Sepulang sekolah..
Aku dan Baekhyun saling mendorong untuk memasuki ruangan Han Nam saem. ‘bruukk..’ aku terjatuh setelah tubuhku mendapat dorongan ekstra dari Baekhyun. Dia hanya memamerkan evil smirk-nya sekarang.
“Kalian berdua, bersihkan seluruh kantor dan semua sudut. Dan saya akan tahu kalau kalian tidak membersihkannya. Arratchi?” perintah Han Nam saem.
“Tapi saem..”.
“Sang In-ah, kau ingin hukuman kalian kutambah dengan membersihkan gudang?” tanyanya lagi. Aku segera menggelengkan kepalaku cepat menolak tawarannya yang ‘sedikit menggiurkan’ itu.

“Dan ini semua gara – gara kau. Kalau kau tak berisik tadi, kita tak akan dihukum seperti ini” teriak Baekhyun.
“Kau bilang gara – gara aku? Kau yang memulai, kau yang tak menghiraukan permintaanku untuk mengajariku pelajaran matematika” teriakku yang tak ingin kalah darinya.
“Bisakah sehari saja kau tak menggangguku?”.
“Arraseo arraseo, mulai sekarang aku tak akan menggaggumu”.
“Kalian cepat bekerja, jangan hanya bicara saja” ujar Dong Gun ahjushi.
“Arraseo” teriak kami berdua secara bersamaan.

Aku menggeser meja yang lumayan berat sehingga membuat peluhku bercucuran. “Biar kubantu” sahutnya sambil menyenggol tubuhku agar sedikit menjauh.
“Shireo, aku bisa melakukannya sendiri” ujarku seraya mempertahankan posisiku. Lagi – lagi aku harus berdebat dengannya hingga tubuhku sedikit terpental dan harus menabrak meja di sampingku.
“Gwenchana?” tanyanya setelah menyadari kalau tubuhku menyentuh meja dengan kasar.
“Nyawaku benar – benar terancam bila di dekatmu” sahutku.
Kuselonjorkan kakiku di lantai sambil mengusap peluhku, Baekhyun menawarkan sapu tangan untukku. Kutepis tangannya, “Tak perlu berbaik hati padaku Baek” ujarku seraya menjauh darinya.
“Aigoo, berapa lama kantor ini tak dibersihkan? Kotornya minta ampun” ujarku.
Setelah kupikir ruangan ini sudah bersih, aku menyambar tasku dan bermaksud pulang dari sini. “Baek, Baekhyun, sepertinya nasib kita benar – benar buruk” ujarku sambil menarik lengan seragamnya. Dan kini Baekhyun juga menatap lurus ke arah yang kutunjuk. Pintu gerbang sekolah kami sudah terkunci dan yang aku tahu Dong Gun ahjushi tidak tinggal disini. “Omo omo, apa yang harus kita lakukan Baek? Kita tak mungkin tidur disini” rengekku.
“Dan aku tak mungkin terjebak disini bersamamu” sahutnya. Aku meliriknya tajam. Kusandarkan tubuhku di dinding sekolah, sejenak kupikirkan cara bagaimana cara untuk keluar dari sini.
Serasa mendapat ide bagus, Sang In berlari menuju pagar sekolah yang tak rendah. Rupanya Sang In berniat untuk memanjat pagar tinggi itu tapi dengan segera Baekhyun menarik tubuh Sang In dari belakang.
“Yak, apa yang kau lakukan?”.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan? Eoh?” tanyanya.
“Kau tak lihat aku sedang berniat memanjat pagar? Apapun akan kulakukan agar aku tak berada di dekatmu” jawabku.
Baekhyun merogoh ponselnya, sepertinya ingin menghubungi seseorang. ‘Ah sial, ponselku mati’ gumamnya dalam hati. “Hubungi seseorang untuk memberikan pertolongan pada kita” perintah Baekhyun.
Aku segera melakukan apa yang dia minta, namun ternyata ponselku pun mati. “Sepertinya malam ini aku ditakdirkan bersamamu. Ponselku pun mati” ucapku lirih sambil berjalan gontai kembali menuju ke sekolah.
“Aku lapar..” ujarku setelah mendengar cacing – cacing di perutku berdemo mengingat tak ada pasokan makanan apapun ke dalam perutku sejak siang tadi hingga kini. “Baek, kajja ikut aku” ujarku seraya menarik tangannya.
Aku menuju ruangan yang biasa kami gunakan untuk rapat dan benar, harapanku agar ruangan itu tak terkunci benar – benar terkabul. Kulayangkan pandanganku pada kulkas kecil itu, terdapat beberapa bungkus ramyeon. Aku mengambil dua bungkus dan memasaknya.
“Aku bantu kau memasak ramyeon” kata namja di sampingku.
“Tak perlu, biar aku yang memasak ini” sahutku sambil tak memandangnya sama sekali, aku masih merasa jengkel terhadapnya.
“Itadakimasu. Oh maksudku selamat makan” ujarku. “Kau tak makan?” tanyaku pada Baekhyun. Dia menggelengkan kepalanya, “Ini enak, cobalah” aku bermaksud atau lebih tepat dikatakan memaksanya untuk memakan ramyeon buatanku. Dan akhirnya upayaku tak sia – sia, dia menerima suapanku. “Ige, makanlah” kataku sambil memberikan sumpit padanya setelah melihat ekspresinya yang berniat untuk melanjutkan memakan ramyeon.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” desahku kesal. Hawa dingin mulai menyeruak menyerang tubuhku.
Dan tiba – tiba, “Ige pakailah, hari akan semakin malam dan akan semakin dingin” ujarnya. Baekhyun menautkan jaketnya di tubuhku.
“Kau tak membutuhkannya? Karena sepertinya kau kedinginan Baek” tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala.
Kusandarkan tubuhku di dinding, kurasakan Baekhyun yang ikut bersandar di sampingku. “Aku ajari kau matematika sekarang. Eotthe?” tawarnya.
“Tidak untuk malam ini Baek”.
“Bagaimana kalau sekarang kita bermain basket? Eotthe?” tanyaku. Lagi – lagi tanganku langsung menarik tangannya sebelum mendapat persetujuan darinya.
Kuletakkan tas dan jaket Baekhyun di samping lapangan. Aku melakukan sedikit pemanasan untuk meregangkan otot – ototku agar tak kram saat bermain basket nanti. Dan kulirik Baekhyun menuruti permintaanku. “Kau tak gentar untuk melawanku bukan?” ejekku sambil menampakkan senyum meremehkanku.
“Kau salah menantang orang Song Sang In” nadanya tak kalah mengejeknya dariku. Aku mendengus kesal, ‘Aku tak akan kalah darimu Baek’ batinku menyemangati diri sendiri.
Sial, sepertinya aku tak boleh meremehkan lawanku kali ini. Baekhyun merupakan lawanku yang seimbang, dia lihai sekali dalam mengecoh musuhnya. ‘bruukk..’ tubuhku tersungkur di tanah. “Yak, kau curang Byun Baekhyun” teriakku.
“Apa yang kulakukan?” tanyanya dengan menampakkan seringaian nakalnya.
“Kalau kau tak melakukan itu, aku yang menang” teriakku kesal.
“Tapi nyatanya sekarang, akulah yang menang” sahutnya yang tak mau kalah.

Aku berdiri dan meninggalkan dia sendirian di lapangan basket, kusambar tasku dan tak lupa kutendang jaket miliknya. “Song Sang In, kau mau kemana?” teriak Baekhyun mengejar Sang In yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya.
Aku merapikan sofa di ruang rapat tadi untuk kujadikan tempat untukku tidur nanti. “Sang In-ah, kajja kita belajar matematika bersama. Lagipula ada tugas dari Han Nam saem untuk dikumpulkan besok bukan?” tanyanya. Dan ucapannya mampu membuat tubuhku mematung. Kugeser tubuhku untuk lebih dekat padanya dan menyetujui ajakannya untuk belajar bersamanya.
Kalian tahu bukan, matematika adalah pelajaran yang benar – benar ‘meriah’ untukku. Bagaimana tidak, melihat soal yang tersusun dari beberapa angka itu saja sudah membuatku pusing apalagi aku harus mengerjakannya.
‘dugg..’ kepalaku membentur meja di depanku. Dan Baekhyun memukul keningku juga menggunakan pensilnya. “Yak apoo. Apa yang kau lakukan? Eoh?” teriakku sambil menggosok perlahan keningku yang sudah berubah warna menjadi merah itu.
“Dan aku tak menyuruhmu untuk memejamkan mata saat aku menjelaskan tentang rumus trigonometri ini” sahutnya.
“Baek, kita berhenti saja belajarnya. Kau juga percuma menjelaskan padaku yang sudah mengantuk seperti ini. Aku terlalu lelah Baek, tak ingatkah kau siang tadi kita membersihkan ruangan guru?” ucapku yang semakin tak jelas karena sepertinya aku sudah mulai terlelap.
Baekhyun hanya memandang geli pada Sang In yang sudah terlelap dalam tidurnya, dipasangkannya lagi jaket miliknya di pundak Sang In agar yeoja di hadapannya itu tak menggigil kedinginan walaupun sebenarnya dia juga merasakan kedinginan yang teramat sangat.

Keesokan paginya..
Sang In terbangun dengan jaket yang terpasang di tubuhnya. Dia mengalihkan pandangannya mencari Baekhyun dan namja itu tengah tertidur dengan posisi tubuhnya sudah berada di lantai. “Baek, bangunlah. Ini sudah pagi” ujarku. Tapi rupanya belum ada sahutan dari namja itu. Aku bermaksud untuk menggoyang tubuhnya namun kurasakan suhu tubuh yang tak biasa untuk ukuran suhu normal manusia. Aku memberanikan diri untuk menyentuh kening Baekhyun dan kurasakan suhu tubuhnya yang cukup tinggi. “Baekhyun, bangunlah. Kau sakit? Kajja, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Baek, bangunlah” ujarku yang mulai khawatir sambil tetap menggerak – gerakkan tubuhnya. Dan berhasil, dia membuka matanya perlahan.
“Baek, kau sudah sadar? Kau kuat untuk berdiri? Kajja, kubantu kau berdiri” ujarku yang langsung memapah tubuhnya untuk keluar dari sini.

“Yak, Song Sang In. Kau kemana seharian kemarin? Ponselmu tak bisa kuhubungi. Dan apa yang kau lakukan bersama namja itu?” teriak Kai.
“Bisakah kau tak berteriak – teriak seperti itu? Bantu aku membawanya ke mobilku, dia sedang sakit dan aku akan membawanya ke rumah sakit” pintaku. Kai menuruti permintaanku. Aku segera berlari ke sisi kemudi dan pergi menuju rumah sakit.
“Sejak kapan dia peduli dengan namja itu? Dan apa yang telah mereka berdua lakukan? Jangan – jangan namja itu berhasil menarik yeoja yang kau sukai Kai” ujar Luhan yang berdiri di samping Kai setelah mobil Sang In pergi menjauh.
“Jaga bicaramu” ujarnya sambil menjtak keras kepala Luhan.
“Yak apo. Bagaimana bisa kau menjitakku? Kau bahkan lebih muda dariku” teriak Luhan yang tak ditanggapi oleh Kai.

“Kita tak perlu ke rumah sakit” ujar Baek setelah beberapa waktu yang lalu tak bicara sepatah kata pun.
“Mwoya? Kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakan sakitmu. Aku khawatir sakitmu akan semakin parah” jawabku dengan raut wajah khawatir.
“Shireo. Aku bilang tak mau ke rumah sakit. Antar saja aku ke rumah” bentak Baekhyun yang membuatku kaget karena bentakannya. Kubawa mobilku putar balik dan mengganti tujuanku.
Kupapah tubuhnya yang masih lemas untuk masuk ke dalam rumahnya. Tak kutemukan siapapun di rumah ini, hanya seorang ahjushi yang sudah sedikit berumur dan beberapa pembantunya.
“Aigoo, apa yang terjadi pada Tuan Byun?” tanya ahjushi itu.
“Josonghamnida tuan, Baekhyun terkena demam karena semalam menginap di sekolah” ucapku jujur. Ahjushi itu mengambil alih tubuh Baekhyun dan dipapahnya sendiri tentu saja dengan bantuan pembantunya. ‘Rumah sebesar ini apakah tak terlalu mewah untuk ditinggali seorang saja? Dia tinggal bersama siapa disini?’ batinku menggumam. Entah Mengapa aku mulai mengkhawatirkannya, kutepis pikiran macam – macamku itu.
“Nona Song..” panggil ahjushi itu.
“Ne ahjushi?” ujarku sambil membalikkan tubuhku.
“Tuan Byun meminta anda untuk menghampirinya di kamarnya. Mari saya antar nona”.
‘Apa maksudnya ini? Baek memintaku ke kamarnya? Apa yang akan dilakukannya?’ gumamku dengan ribuan spekulasi buruk di otakku. Tanpa banyak tanya lagi, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamarnya. Baru kali ini aku berada di kamar seorang namja kecuali Kai karena memang dia temanku sejak kecil.
“Kemarilah..” pintanya.
“Waegurae? Kau sudah lebih baik?” tanyaku sambil meletakkan tasku di sofa kamar Baekhyun. Dan aku memberanikan diri lagi untuk menyentuh keningnya. “Sepertinya suhu tubuhmu mulai menurun. Mianhnae Baek, ini semua gara – gara aku dan kau sakit juga karenaku” lanjutku.
“Gwenchana, aku sudah jauh lebih baik sekarang” ujarnya. Aku bermaksud membawa tanganku menjauh dari tubuhnya namun tanganku dipegang olehnya.
“Waegurae?” tanyaku bingung.
“Tetaplah seperti ini, sebentar saja” pintanya. Aku menuruti kemauannya dengan tatapan bingung.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi pulang dulu. Aku akan meminta ahjushiku untuk mengantar motormu kemari. Dan kau, kalau besok masih merasa tak enak badan lebih baik tak usah masuk sekolah dulu. Aku akan meminta ijin untukmu pada guru – guru pengajar, tenang saja” ujarku sambil meraih tasku. Aku meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya. Kurasakan kedua pipiku yang memanas entah karena apa.

Kurebahkan tubuhku di kasur dan kulepas sepatuku sembarangan. Di saat kuingin memejamkan mata, suara ketukan pintu terdengar dari luar. “Sang In-ah..” panggil halmeoniku.
Kuberlari kecil menuju pintu kamarku, “Ne halmeoni?” tanyaku.
“Apa terjadi sesuatu padamu? Kau tak pulang semalaman? Halmeoni dan harabeoji benar – benar khawatir tentang keadaanmu chagiya. Dan halmeoni lihat wajahmu benar – benar kusut. Bahkan halmeoni menghubungi Kai juga tak tahu kau dimana” tanya halmeoni.
“Halmeoni, nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Mianhnae , nan jeongmal mianhnae telah membuat kalian khawatir. Aku mandi dulu, nanti aku pasti mendatangi kamar halemoni. Arra?” ujarku sambil menampangkan wajah aegyo ku.
“Arraseo, segeralah mandi agar kau kelihatan lebih segar”.
Aku menyalakan air hangat pada bath up ku dan beranjak untuk mandi. Tak selang beberapa lama, aku sudah merasakan kesegaran kembali di tubuhku. Aku segera menuju ke kamar halmeoni untuk menceritakan kronologinya yang berhasil membuat mereka khawatir.

One thought on “[EXOFFI Facebook] My Enemy My Love (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s